Kencan Nonton? Nggak Ada Yang Lain?

Suka heyran deh sama orang yang kencannya ke mall melulu; dan ketebak banget lah di mall ngapain; jalan-jalan, nonton dan dinner. Nggak bosan apa?

Er, komentarnya rese banget yak? Nggak deng, nggak apa-apa mau kencan mall juga. Becandaaa…

Anyway, ya saya dan partner memang bukan penggemar kencan mall, lebih suka jalan-jalan (kaki!) dan ngobrol , sebisa mungkin menjauhi daerah pergaulan *jiye pergaulan* yang terlalu ramai. Dan di satu hari pada minggu lalu, saya dan partner berkencan… mengunjungi almamater! *kriiik*

Ya iseng aja sih.

Biasanya saya selalu membawa kamera saya, tapi berhubung kamera setia saya suka rada-rada nyebelin, kencan kemarin saya tinggal di rumah. Nah, tapi beberapa kali kok ya saya gatal pengin motret. Akhirnya saya memanfaatkan kamera di handphone saya.

Dan mendadak kepikir, saya pengin bikin kategori ‘Bermain dengan camera phone‘ ah, di blog ini. Oh, ini memang terinspirasi dengan facebook groups yang namanya ‘pocketgrapher‘. Hm, walaupun konsistensi pemutakhiran entri untuk kategori ini masih bisa diragukan, tapi nggak apa-apa deh, bikin aja dulu. :)

Oh, ya hasil diedit-edit sikit lah pakai photoshop, main-main curve dan level wajar bukaaan?

Bukan.

12032011014

neng, bangga bener jadi alumni desain

Salah Satu Karya Ibu Rita Widagdo

Salah Satu Karya Ibu Rita Widagdo

Oh Aula Timur, Oh Aula Barat

Oh Aula Timur, Oh Aula Barat. Er, bentar, ini beneran aula timur dan barat kan? *amnesia*

Sok artistik. :))

Sok artistik. :))

Okay, mari masuk ke foto-foto komentar rese.

Continue reading

Dear Papa

….ceritanya ini proyek amal dengan seluruh keuntungan akan diserahkan ke panti jompo di Surabaya

Suatu hari, Lala Purwono meninggalkan pesan via twitter; isinya mengajak saya untuk ikut serta dalam satu project yang bernama Project Dear Papa. Berhubung pesan 140 karakter tersebut sama sekali nggak menjelaskan apa-apa, maka saya memintanya untuk menjelaskan secara detil via e-mail.

Eh, nggak berapa lama, e-mail dengan nama pengirim ‘Lala Purwono’ masuk ke inbox saya. Ini saya cuplik sebagian isinya ya :)

Jadi ceritanya ini proyek amal dengan seluruh keuntungan akan diserahkan ke panti jompo di Surabaya. Pencetakan buku dibantu sama www.nulisbuku.com. Distribusi dibantu secara online, dari pihak penulis maupun nulisbuku. Jenis tulisannya sih seperti surat cinta yang ditujukan buat Ayah. Terserah; mau sedih mau lucu.. Terserah aja.

Waktu itu saya langsung menyetujuinya.

Saya pernah membuat sebuah surat untuk orangtua saya, di tahun 2007, sebagai persyaratan sebelum saya bergabung sebagai relawan The Frontiers, sebuah organisasi yang bergerak di bidang perdamaian. Surat itu semacam persyaratan wajib sih sebenarnya, jadi sebelum saya menandatangani kontrak, mereka meminta saya untuk menulis ‘surat terakhir’ — kata mereka ‘Kita nggak tau akan apa yang terjadi pada kita nanti. Surat ini akan dikirim ke orangtua kalian SEANDAINYA terjadi apa-apa pada kalian.’

Itu males banget nggak siiiiih????

Yang saya ingat ketika saya membuat surat tersebut, saya menangis edan. Ya gimana dong, seolah-olah saya ini penderita penyakit mematikan yang bakal segera mati dan harus menulis semacam surat wasiat.

Nah surat itulah yang saya pakai (tentunya setelah saya sunting kembali). Terus terang, ketika menulis surat tersebut saya sempat merinding. Tidak mudah memperoleh izin ayah untuk menjadi relawan tersebut, namun akhirnya ayah saya mengalah. Iya, ayah saya mengalah. Saking cinta-nya beliau pada saya, beliau mengabaikan perasaan khawatirnya. Memikirkan hal tersebut,  saya jadi ‘menemukan’ kembali cinta saya pada ayah. Bukannya lupa pada rasa sayang/cinta padanya sih, cuma karena terlalu terbiasa hidup berdampingan, saya merasa perasaan saya padanya biasa-biasa saja.

*sungkem sama ayah*

Dua hari kemudian, saya kirimkan draft surat saya pada Lala. Sejujurnya, saya sempat terlupa dengan project ini. Tapi kemarin, via twitter, Lala menunjukkan cover buku Dear Papa, buku ke-6.

Covernya baguuus. Itu siapa sih ilustratornya, La? :)

sumber : http://projectdearpapa.wordpress.com/

sumber : http://projectdearpapa.wordpress.com/

Cuma saya sempat bengong. Buku Ke-enam?? Ternyataaaaa, buku Dear Papa ini ada 6 seri aja gitu. :) Untuk melihat surat siapa saja yang ada di buku 1 sampai 6, sila cek ke : http://projectdearpapa.wordpress.com

Anyway, thank you buat Lala yang sudah mengajak saya ikut project ini. Dan buat teman-teman yang lain, yuk mari membantu dengan membeli seri buku Dear Papa ini!

Caranya :

  1. Kunjungi http://nulisbuku.com
  2. Masukkan kata kunci DearPapa, atau klik aja ini http://nulisbuku.com/books/search?search=dearpapa&pilihan=title
    Ikuti cara pembelian yang berlaku di http://nulisbuku.com, klik ini deh : http://nulisbuku.com/cara-belanja
  3. Beli deeeh :)

Ini Kota Yang Aneh

Tapi aneh sekali, berada di kota ini, seolah candu bagiku.  Kenapa ya?

Jangan meremehkan rasa bosan. Sungguh. Karena ia bisa menjadi sumber kekuatan untuk melakukan apa saja. Well, setidaknya untukku sih. Gara-gara rasa bosan tak kepalang, aku pun mengiyakan seorang kawan untuk pindah ke sebuah kota. Kota yang aneh, tepatnya.

10 April 2009. Aku ingat betul tanggal itu. Hari di mana aku resmi terdaftar di kota tersebut. Eh, iya deh, ngaku, aku nggak inget-inget amat, tapi tanggal tersebut tertulis di rumahku. Joined: 10th Apr 2009; begitu katanya.

“Aku yakin kamu suka kota ini.” itu kata temanku, sewaktu aku masih bingung, tidak tahu apa yang akan kulakukan di kota ini.

“Kenapa?”

“Karena kota ini cocok buat kamu, yang senang berceloteh, yang pikirannya selalu dipenuhi hal-hal absurd, tapi sering tidak punya wadah untuk mengeluarkan pikiran tersebut. Kamu bisa mengeluarkan opinimu dengan bebas.”

Aku, sebagai penghuni baru, sedikit demi sedikit mulai mempelajari tata kehidupan di kota ini; terutama cara bersosialisasi. Ada aturan-aturan tersendiri, ternyata. Dan, tentu saja, sebagai penghuni baru, aku berusaha menyesuaikan diri. Hei, bukannya ada pepatah dari seorang bijak yang berbunyi : ‘beradaptasi lah aku, atau mati’? Eh, siapa ya yang pernah bilang begitu?

Hmm.

Oh, aku ding.

Continue reading

Maw, Sis? : Jangan Ganggu, Ntar Nggak Laku!

…bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang?

“JAH! Kena tag lagi deh sama yang jualan. Hobi amat sih, jualan rusuh. ” ujug-ujug* seorang kawan mengeluh, sambil menatap smartphone-nya. Tanpa perlu bertanya lagi, saya sudah tahu, pasti dia sedang membicarakan online shop di Facebook. Saya yakin, hal begini bukan hal yang aneh, bagi para pengguna Facebook — hayo ngaku, pasti pernah dong ya, ditag foto barang dagangan?

Saya pribadi sih sebal aja kalau ada online shop yang menggunakan cara promosi dengan mentag random nama-nama di friendlist-nya. Yang pertama : belum tentu saya butuh barangnya. Kedua : saya kesal kalau muka saya berubah jadi t-shirt, sepatu, flashdisk, kue kering, piano (iya, piano beneran!) dan macam-macam barang jualan.

Mungkin buat yang menjadi teman saya di facebook beberapa kali melihat saya pasang status mengomeli para online shop yang men-tag saya.

‘Dear online shops, jangan nge-tag. Atau ntar saya bales, saya bikin online shop trus saya tag balik’

Ngaruh? Nggak, tetap saja ada yang nekad men-tag.

‘Dear online shops, yang nge-tag, ditampol’

Teteub dong nggak ngaruh!

Tapi yang menarik bagi saya adalah reaksi/komentar-komentar orang pada status omelan saya pada online-shop. Rata-rata mereka setuju, cara promosi dengan nge-tag foto itu ganggu.

Saya, teman yang baru di-tag tadi dan beberapa teman lainnya kemudian membahas hal yang sama; ternyata yang sama saja, mereka sebal di-tag seperti itu. Rata-rata mereka menilai nge-tag jualan itu cara yang norak, tidak menimbulkan simpati dan membuat barang kesannya murahan.

Saya jadi mikir, bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang? Gimana orang bisa tertarik kalau  sudah antipati duluan, sebelum melihat barang-barang yang dijual?

Ya memang sih, amannya, ya jangan pernah approve permintaan pertemanan online shops, atau jangan pernah meng-add friend online shop. Tapi, masalahnya, kadang-kadang saya (dan beberapa teman yang lain) kadang-kadang suka berbelanja juga secara online. Jadi, kasus ini bak buah simalakama : diadd suka ngetag nyebelin, kalau nggak diadd, kadang-kadang butuh. :)

Pada akhirnya daripada saya ngomel-ngomel di status, saya memilih untuk meninggalkan pesan : jangan ngetag lagi ya, thanks. :). Kalau masih ngetag juga, ya unfriend** dan block — oh tapi tentunya setelah meyakinkan diri bahwa di online shop tersebut nggak ada barang yang saya perlu. :)

Anyway, tapi ada lho online shop yang pemiliknya judes ajaaa. Ketika saya tinggalkan pesan supaya dia tidak men-tag saya, eh dibalasnya dengan cara yang tidak simpatik.

‘Tinggal remove tag aja susah amat sih?’. Uhm, saya jadi pengin bilang : mbak/mas, galak amat sih? PMS yah? Atau lagi punya masalah? Sini, sini curhat sama tante.

‘kalau nggak mau ditag dari sini, di-unfriend aja, lah’. Ya sudah, berhubung saya penurut, ya saya ikuti saja. Anehnya, 15 menit kemudian, muncul notifikasi friend request — dari online shop tersebut. Saya yakin pasti mereka nambah temannya random banget deh, sampai nggak ingat, bahwa orang yang mereka add, adalah orang yang sama yang disuruh ‘unfriend’.

Atau ini yang lebih parah, berdasarkan cerita teman, ada online shop yang bilang : ‘Kalau nggak mau ditag, nggak usah punya FB’. Ini sih, tampol nih ya, tampol!

Tadi sore saya ditag lagi, cuma kali ini pemilik online shop tersebut  meminta maaf, dan bilang, bahwa ini adalah cara mereka promosi, ‘Gimana bisa bikin orang tau kita punya barang kalau nggak ditag Sis?’ itu katanya.

Ih masa sih nggak ada cara lain? Gitu pikir saya. Dan atas nama iseng, saya pun memikirkan beberapa alternatif ide promosi online shop di twitter. Ini saya kumpulkan daripada keburu lupa :

  • #idePromoOLShop ga usah ngetag akbar, kumpulin e-mail temen2 dan org yg kira2 minat, kirim katalog produk. :D
  • #idePromoOLShop ga usah ngetag akbar, kalo udah ada yg beli/skedar nanya, msukin di list buat dikirimin katalog berikutnya.
  • #idePromoOLShop soal list email, jgn lupa tanya, keberatan ga dikirimin katalog? Kalo iya, ya jgn dikirimin.
  • #idePromoOLShop via twitter, twit tautan ke url OLshop/produk, minta temen2 yg followernya byk u/ RT, trus traktir2 lah temen2 mu sikit. :D
  • #idePromoOLShop menghadiahi produkmu pd blogger kondyang, syarat, dia kudu review produkmu.
  • #idePromoOLShop kalo motret, pake temen yg jml org difriendlistnya banyak, pas dipublish, ntar tag aja dia. Gpp dong, org emang modelnya dia
  • #idePromoOLShop rada sering ngetwit ttg produkmu, sehari 3x, pake hestek tertentu.
  • #idePromoOLShop atau share link ke produkmu di fbmu sendiri, 3x sehari juga, pas prime time kalo bs.
  • RT @chocoloveid: Nambahin #idePromoOLShop. Sekali2 bikin #GIVEAWAY buat follower mu biar mrk happy & sounding ke jagad raya :D

Oh, iya, itu bahasanya masih bahasa twitter yang belum saya sunting lagi. Tapi terbiasa dong, baca kalimat 140 karakter gitu? Ini ada beberapa tambahan yang baru kepikir.

  • Posting diblog pribadi-mu.
  • Buat kartu nama, sertakan data kontak di kartu nama tersebut, jadi kalau ketemu orang offline, kamu bisa kasih kartu nama tersebut.

Kalau ada yang punya ide lain, silahkan lho. Ini cuma sekedar ide, daripada saya dituduh ngomel doang nggak ngasih ide, atau daripada dibilang ‘Situ sih nggak ngerasain punya online shop!’ — huh, siapa bilang saya nggak punya? Monggo Sis, dikunjungi : The Wardrobe Porject. *lah, jadi promo colongan* (BTW, nggak kok, saya nggak pernah nyapa pelanggan saya dengan ‘Sis’. Sumpah!)

Dan sukur-sukur, kalau ada online shop yang tertarik mencobanya. Supaya para (calon) pembeli senang, penjual pun senang. Sebab seperti ada tersurat ‘Janganlah ganggu kalau jualan, ntar nggak laku lho’ (Surat Al TokoOnline 34:12)


Ngasih hadiah, dapat hadiah dari GagasMedia? Kenapa nggak bisa? Caranya ikutan Kuis ‘Katakan Cinta Dengan Empat Musim Cinta’. Klik di sini untuk detilnya,

Katakan Cinta Dengan ‘Empat Musim Cinta’

Cinta itu bisa bikin orang mendadak puitis. Cinta juga bisa membuat orang mendadak pemurah bagi yang dicintainya. Mumpung sebentar lagi mau Valentine’s Day, jadikan Empat Musim Cinta sebagai hadiah bagi orang-orang yang kamu cintai—plus, kamu juga berkesempatan mendapatkan hadiah!

Gimana Caranya?

1.Tulis pesan khusus bagi orang yang kamu anggap spesial di halaman pertama buku Empat Musim Cinta.

Misalnya:
Dear X (nama orang yang akan dihadiahi buku tersebut),
You complete me.
Jangan bilang-bilang istri ya? *dikeplak*

2. Berfotolah bareng orang yang kamu beri hadiah Empat Musim Cinta semesra/seunik mungkin.

(foto diperagakan oleh model) We bet you can do better than this, guys! - foto koleksi GagasMedia

(foto diperagakan oleh model) We bet you can do better than this, guys! - foto koleksi GagasMedia

3. Upload di Facebook, kasih caption sesuai dengan pesan khusus yang kamu buat.

4. Tag foto tersebut ke GagasMedia (fanpage).

5. Jangan lupa buat promosi ke teman-teman kamu juga. Kenapa? Yang fotonya paling banyak di-like a.k.a dikasih jempol sama teman-temannya, berhak mendapat hadiah berupa:

- Tiga pemenang beruntung mendapatkan paket buku sebesar Rp 150.000 dari GagasMedia
- Tujuh orang beruntung berikutnya mendapatkan hadiah sepasang mug Empat Musim Cinta (satu buat kamu, satu buat si special someone)

6. Lomba ditutup pada tanggal 12 Februari 2011. Pemenang akan diumumkan di fanpage GagasMedia dan Twitter @gagasmedia pada hari Valentine.

Di Sebuah Krematorium

….abunya ditebar ke pantai-pantai yang asyik buat liburan.Jadi kalau mau ziarah bisa sambil liburan, berenang di pantai

Kemarin klien-ku mengirimkan pesan pendek, yang isinya membatalkan janji bertemu kami untuk membahas sebuah pekerjaan. Katanya, orangtua-nya meninggal. Tadinya begitu menerima pesan tersebut, aku hendak langsung menelepon,  tapi kupikir, mungkin itu bukan saat yang tepat. Maka aku pun mengirimkan ucapan bela-sungkawa melalui SMS, dan kutambahkan pesan ‘kapan pemakamannya?’

Dikremasi di Cikadut. Besok jam 10.

Begitu jawaban yang kuterima, malamnya.

Maka di sinilah aku, di sebuah kompleks pemakaman yang hanya pernah kudengar namanya. Aku datang jam 9.30 WIB. Kupikir jenazah dan keluarganya telah datang; tapi aku salah, krematorium tersebut sangat sepi; hanya ada beberapa penjaga di sana. Kuhampiri salah satunya. Seorang pria setengah baya.

Pak, nanti jam sepuluh bakal ada yang dikremasi,kan? Tanyaku memastikan.

Ada. Neng. Yang dari rumah duka Nana Rohana,kan? ia balik bertanya.

Wah. Karena tidak tahu, aku pun tidak menyahut.

Namanya siapa?

Nah, ini sama saja, aku juga tidak tahu. Mendadak aku merasa tolol, melayat, tanpa membawa informasi apa-apa.

Ya udah deh, Pak, saya tungguin aja, ntar juga pasti pada datang,kan? Kataku. Kupikir, nanti juga aku bakal bertemu klienku.

Aku pun berjalan menjauh, menuju sebuah rumah kecil, di depannya terdapat beberapa kursi plastik kumal. Aku menduduki salah satunya. Kukeluarkan hp, mengintip SMS dari klienku, memastikan bahwa aku datang di jam dan hari yang benar.

Halo, Mbak. Terdengar sebuah suara. Aku mendongak. Seorang wanita berdiri di hadapanku. Rambutnya dibob pendek, matanya sipit, hidungnya bangir, bibirnya kecil, ada tahi lalat di pipi kirinya. Sama sepertiku, ia mengenakan pakaian hitam-hitam, suaranya lembut. Sori, Mbak nungguin kremasi yang jam sepuluh juga?

Iya,Bu. Entah kenapa aku lega, karena kehadiran ibu tersebut membuatku yakin bahwa aku tidak salah waktu, walaupun ia tidak menyebutkan siapa yang dikremasi.

Saya duduk di situ ya? tanyanya sopan sambil menunjuk kursi kosong di sebelahku.

Silakan, bu. Aku tersenyum. Dan ia pun duduk.

Mbak kerabat-nya yang meninggal? tanyanya setelah duduk.

Saya teman anaknya,Bu.

Lalu kami terdiam selama beberapa saat. Ibu tadi tampak memerhatikan sekeliling. Ia melirik ke arah arloji yang melilit di pergelangan tangan kirinya.

Kenapa masih sepi,ya? tanyaku Padahal katanya kremasi jam sepuluh. Sekarang sudah hampir jam sepuluh, tapi belum ada orang.

Masih ada ibadah di rumah duka, Mbak. Jawabnya

Oooo. Aku mengangguk-angguk.

Tadinya saya mau ikutan ibadab , tapi takutnya ibadahnya kelamaan, jadi saya duluan deh ke sini, daripada ketiduran. Ia tertawa, giginya yang putih dan rapi terlihat. Wajahnya sungguh menyenangkan dilihat.Apalagi saat tertawa. Dan kamu tau, ada orang-orang yang jika tersenyum bisa menularkan senyumnya ke orang banyak? Nah ibu ini salah satu orang yang demikian. Aku pun ikut tersenyum.

Kamu pernah datang ke upacara kremasi, Mbak. Lanjut ibu tadi.

Nggak pernah. Ini pengalaman pertama saya, jadi saya datang, antara mau mengucapkan bela sungkawa, sekaligus juga pengen lihat. Jawabku jujur. Sang ibu tertawa.

Habis yang saya tahu semuanya ya bentuknya pemakaman. Kataku.

Aduh, pemakaman. Lahan di Bandung kan makin sempit aja, ngabis-ngabisin tempat. Ibu tersebut mencibir.

Iya sih. Eh, tapi kalau abis kremasi, biasanya abunya dikemanain sih? Tanyaku.

Tergantung, bisa ditebar ke laut, atau disimpan di rumah keluarga atau kerabat.

Aku merinding sendiri mendengarnya. Menyimpan abu jenazah di rumah? Duh, nggak deh. Tanpa sadar aku bergidik.

Ia tertawa melihatku, Kamu pasti mikirnya yang horor deh.

Iya,bu. Aku nyengir malu. Eh tapi, kalau ditebar ke laut, mau ziarah susah dong?

Ya enggak. Datang aja ke pantainya. Seharusnya semua yang meninggal itu kasih pesan, supaya abunya ditebar ke pantai-pantai yang asyik buat liburan.Jadi kalau mau ziarah bisa sambil liburan, berenang di pantai.

Dan kembali aku mengernyit. Berenang di tempat di mana abu ditaburkan? Uh-oh.

Ya pasti abunya udah kebawa arus air lah Mbak. Ia menyahut, seolah tahu apa yang ada di pikiranku. Aku nyengir lagi.

Saya sih sejujurnya lebih setuju dengan buang abu di laut, daripada disimpan-simpan. Atau dimakamkan. Lagipula, sebenarnya buat apa sih ziarah? Maksud saya, yang didatangi kan tubuh kasat mata-nya, belum tentu tubuh itu masih ada di bawah tanah sana. Katanya.

Ya, tapi kan itu semacam mengenang,Bu. jawabku.

Kenangan itu akan selalu hidup, di hati, dan di pikiran orang-orang yang tercinta. Bukan di makam, atau di guci berisi abu. Ia tersenyum.

Tiba-tiba terdengar suara mobil. Aku dan ibu tersebut mendongak.

Rombongan sudah datang. katanya.

Sebuah mobil jenazah, sebuah bis besar dan beberapa mobil beriring-iringan memasuki halaman krematorium. Dalam sekejap, lapangan parkir yang tadinya lengang tersebut penuh. Aku memanjangkan leherku, mencari klien-ku.

Kamu cari anaknya yang meninggal kan? Itu… ibu tadi menunjuk ke arah bis. Dalam sekejap mataku menangkap sosok perempuan yang kukenal. Ia ada di bangku paling belakang bus, kebetulan ia pun sedang menatap ke arahku. Ia melambai, aku bisa melihat matanya bengkak.

Terburu aku menghampiri pintu belakang bus, menyambutnya.

Makasih, Mbaaak. Aduh, aku nggak nyangka Mbak dateng. ia merentangkan tangannya dan memelukku. Aku balas memeluknya.

Yang kuat ya. kataku masih dalam keadaan memeluk.

Iya, Mbak makasih.Yuk, ke sana. Ia mengajakku. Kami berjalan bersisian, menuju ke gedung krematorium. Petugas mobil jenazah tampak sedang mengeluarkan peti mati dari mobil.

Anya, ini, fotonya kamu yang bawa. Sebuah suara memanggil. Aku menoleh, tampak seorang perempuan, entah siapa, mungkin anggota keluarga klien-ku.

Sebentar ya, Mbak. Klien-ku menjauh dari sisiku. Ia mengambil foto berpigura tersebut, menatapnya sesaat. Klienku sungguh tabah dan tegar. Setelah menghela napas beberapa kali, ia membalikkannya, menghadap ke arahku.

Tampak foto seorang perempuan. Wajahnya ramah, senyumnya manis, rambutnya dibob pendek, matanya sipit, hidungnya bangir, bibirnya kecil, ada tahi lalat di pipi kirinya.

Ibu yang tadi menemaniku mengobrol.

Sebuah cerpen yang idenya muncul saat menanti bersama Nita Sellya dan Senny Oktaviani di Krematorium Cikadut.

Untuk Semua Hal : Terima Kasih

okkerico

Hey, kamu.

Untuk kesetiaannya mendengarkan saya : terima kasih. Padahal kadang-kadang saya suka meracau nggak jelas gitu. Sebentar, kamu ngedengerin saya beneran kan?

Untuk ketabahannya saat-saat saya mengalami naik-turun mood, dan merongrongmu dengan tingkah ngeselin, terima kasih.

Untuk kerelaannya dipaksa terjaga padahal sudah ngantuk berat saat saya ingin bercerita, terima kasih.

Untuk kerelaannya saat saya protes karena kamu nguap waktu saya sedang bersemangat bercerita; terima kasih.

Untuk cuma menghela napasnya saat saya terserang penyakit ketus, terima kasih.

Untuk ngecek sejam sekalinya saat saya sakit , terima kasih. Mbok ya kalau nggak sakit dicek juga. HUH. *loh?*

Untuk percaya sepenuhnya pada saya, terima kasih.

Untuk mengajarkan saya agar tidak panikan. Iya memang panik itu nggak guna sih. Tapi gimana dong.

Untuk mengajarkan saya bahwa kamu bukan mind-reader, kelempenganmu membuat saya sadar, bahwa mending ngomong, daripada sok-sok ngambek gitu.

Untuk cekikikan sektoral-nya saat membahas dan mengembangkan topik pak-mujiyo – pak-richard – pak-dokter – kemben – blangkon dan hal-hal nggak jelas lainnya, terima kasih.

Untuk kencan-kencan jalan kakinya, atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota, terima kasih.

Untuk ketidak-ekspresifan dan jarang mengobral ‘I love you‘, ‘I miss you‘ dan kalimat sejenis,terima kasih. Kenapa terima kasih? Karena sekalinya kamu bilang seperti itu, saya tahu kamu serius; dan mbrebes mili-lah saya. #halah.

Untuk larangan-larangannya mengonsumsi terlalu banyak minuman dan makanan berpengawet, supaya sehat. Sekarang masih, tapi sudah berkurang kok *dumdidum*

Untuk selalu bersikap supportif. S-e-l-a-l-u. Terima kasih.

Untuk mengajarkan saya tentang ‘yang sudah lewat dan sudah selesai ya sudah, nggak usah dibahas lagi.’, terima kasih.

Untuk ledekan ‘kurang olahraga sih lu’, setiap saya merasa sakit kepala atau jalan ngos-ngosan. Iya, tahun depan, OKAY? :D

Untuk berbagi cerita yang kamu anggap menarik, terima kasih. Hey, kamu, saya selalu suka mendengarkan kamu bercerita dengan bersemangat dan wajah glowing. That’s kinda cute. :)

Untuk mengajarkan saya agar tidak reaktif  dan menjadi pengamat dalam segala hal, terima kasih. Sekarang sudah berkurang kok, nggak langsung nyamber kalau ketowel dikit.

Untuk mengajarkan saya agar peduli pada sekitar; saya ingat kamu berhenti berjalan saat melihat seekor anjing yang hidungnya tersangkut di kaleng. terima kasih.

Untuk mengajarkan saya agar tidak peduli pada hal-hal yang tidak penting, terima kasih. Yup, hidup lebih ringan, kalau hal-hal yang nggak ada korelasi-nya kita buang sajah pada tempatnya.

Untuk kerelaannya membacakan beberapa bagian menarik dari buku yang sedang kamu baca via telpon, padahal kamu tahu kadang-kadang saya ‘rabu’, alias ‘rada budek’ kalau kuping kelamaan nempel di telepon.

Kamu : Iya gitu ceritanya

Saya : ….

Kamu : pasti tadi nggak kedengeran deh.

Saya : hehe. Iya. Ulangin lagi dong.

Untuk tidak pernah melarang saya dan hanya ketawa sambil geleng-geleng kepala saat saya mengeluarkan becandaan plesetan, srimulatan atau gombal-menggombal malesin.

“Wah, kakiku… mana kakiku?” sewaktu saya duduk  dengan kaki terlipat

atau

“Lu pasti dulu jurusan interior deh, soalnya ruangan jadi indah begitu kamu masuk.”

(Pst, Kamu tahu, kamu adalah sumber inspirasi #anjinggombal yang sekarang kondyang itu.)

You are an amazingly damn good kisser. Enough said. Terima kasih.

Masih banyak sih, hal-hal ajaib yang saya alami bersama kamu, dan saya harus berterima kasih untuk hal-hal tersebut, tapi nggak mungkin saya tulis semua di sini. :)

Pokoknya, ini yang terpenting : untuk 3 tahun ini. Terima kasih, lho… sudah pasti tiada kesan tanpa kehadiran anda. :D

Ya,ya, saya tahu, kamu pasti menganggap perayaan-perayaan tahunan seperti ini jatahnya para ABG. Biarlah, kan saya pernah bilang, bahwa perkembangan mental saya berhenti di umur 18 tahun. :)

Selamat 3 tahunan, ya! :D

I love you, always forever
Near and far, closer together
Everywhere, I will be with you
Everyday, I will devour you
I love you, always forever
Near and far, closer together
Everywhere, I will be with you
Everyday, I will devour you

(I love you Always Forever. Donna Lewis)

Kinder Face Painting : Warming Up.

Sudah tau kan di IBCC Jalan Ahmad Yani 296 ada event bernama Food Addict : 4 Sehat 5 Sempurna 6 Makan Enak? Belum? Ya sudah sini saya kasih tau; jadi event ini sangat cocok untuk semua yang gila makan, karena bakal ada ratusan makanan enak berjejer di sepanjang Boulevard IBCC.

Dan Jumat, Sabtu serta Minggu ini(17, 18 dan 19 Desember 2010), PLUS Jumat, Sabtu dan Minggu depan (24, 25 dan 26 Desember 2010), kinder face painting ada di sana juga, jadi jangan lupa bawa anak sendiri, keponakan, anak tetangga, keponakan tetangga dan semua anak-anak lain untuk dilukis muka-nya dengan gambar yang lucu-lucu.

Oh ya ini hasil warming up hari Jumat ini.

Sponge Bob dan Kupu-kupu :)
Sponge Bob dan Kupu-kupu :)

Yuk mari, kita ketemuan di sana :)

New Project : Looxperiments!

Oh ya, saya memang suka bereksperimen dengan eyeshadow, apalagi setelah palet 120 warna saya sampai dengan selamat di rumah. *pamer*. Dan biasanya, kalau sudah eksperimen, suka saya foto. Dan mungkin karena pada dasarnya saya suka pamer, setelah difoto, NGGAK MUNGKIN banget saya diamkan di harddisk laptop saya, maka saya unggah lah di plixi.com agar tampil di twitter. :D

Rupanya tindakan saya ini menggelitik jiwa gila dandan beberapa orang, sampai pada akhirnya jadi saling pamer hasil eksperimen eye shadow. Lalu pada satu hari, keluarlah ide iseng, untuk membuat tema mingguan dan diwadahi dalam satu blog :

http://looxperiments.blogspot.com

Kalau ada yang mau ikutan boleh lho. Caranya?

  1. Lihat tema yang sedang berlangsung dan bereksperimen-lah menginterpretasikan tema tersebut. Oh ya, nggak harus cuma mata kok, kalau mau dandan keseluruhan dengan tema tersebut juga boleh kok. Kalau sudah jadi di foto ya :)
  2. Submission dilakukan melalu twitter. Upload foto hasil eksperimen tema  di plixi.com atau twitpic.com, kemudian cc ke @sepatumerah, bagusnya sih dikasih hashtag #looxperiments, supaya mudah nyarinya. :)
  3. Setelah saya terima akan saya masukkan ke blog tersebut.

By the way oh by the way, ini dia hasil eksperimen saya. Sunflower untuk minggu lalu, laut untuk tema minggu ini.

sunflower

laut