…bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang?
“JAH! Kena tag lagi deh sama yang jualan. Hobi amat sih, jualan rusuh. ” ujug-ujug* seorang kawan mengeluh, sambil menatap smartphone-nya. Tanpa perlu bertanya lagi, saya sudah tahu, pasti dia sedang membicarakan online shop di Facebook. Saya yakin, hal begini bukan hal yang aneh, bagi para pengguna Facebook — hayo ngaku, pasti pernah dong ya, ditag foto barang dagangan?
Saya pribadi sih sebal aja kalau ada online shop yang menggunakan cara promosi dengan mentag random nama-nama di friendlist-nya. Yang pertama : belum tentu saya butuh barangnya. Kedua : saya kesal kalau muka saya berubah jadi t-shirt, sepatu, flashdisk, kue kering, piano (iya, piano beneran!) dan macam-macam barang jualan.
Mungkin buat yang menjadi teman saya di facebook beberapa kali melihat saya pasang status mengomeli para online shop yang men-tag saya.
‘Dear online shops, jangan nge-tag. Atau ntar saya bales, saya bikin online shop trus saya tag balik’
Ngaruh? Nggak, tetap saja ada yang nekad men-tag.
‘Dear online shops, yang nge-tag, ditampol’
Teteub dong nggak ngaruh!
Tapi yang menarik bagi saya adalah reaksi/komentar-komentar orang pada status omelan saya pada online-shop. Rata-rata mereka setuju, cara promosi dengan nge-tag foto itu ganggu.
Saya, teman yang baru di-tag tadi dan beberapa teman lainnya kemudian membahas hal yang sama; ternyata yang sama saja, mereka sebal di-tag seperti itu. Rata-rata mereka menilai nge-tag jualan itu cara yang norak, tidak menimbulkan simpati dan membuat barang kesannya murahan.
Saya jadi mikir, bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang? Gimana orang bisa tertarik kalau sudah antipati duluan, sebelum melihat barang-barang yang dijual?
Ya memang sih, amannya, ya jangan pernah approve permintaan pertemanan online shops, atau jangan pernah meng-add friend online shop. Tapi, masalahnya, kadang-kadang saya (dan beberapa teman yang lain) kadang-kadang suka berbelanja juga secara online. Jadi, kasus ini bak buah simalakama : diadd suka ngetag nyebelin, kalau nggak diadd, kadang-kadang butuh. :)
Pada akhirnya daripada saya ngomel-ngomel di status, saya memilih untuk meninggalkan pesan : jangan ngetag lagi ya, thanks. :). Kalau masih ngetag juga, ya unfriend** dan block — oh tapi tentunya setelah meyakinkan diri bahwa di online shop tersebut nggak ada barang yang saya perlu. :)
Anyway, tapi ada lho online shop yang pemiliknya judes ajaaa. Ketika saya tinggalkan pesan supaya dia tidak men-tag saya, eh dibalasnya dengan cara yang tidak simpatik.
‘Tinggal remove tag aja susah amat sih?’. Uhm, saya jadi pengin bilang : mbak/mas, galak amat sih? PMS yah? Atau lagi punya masalah? Sini, sini curhat sama tante.
‘kalau nggak mau ditag dari sini, di-unfriend aja, lah’. Ya sudah, berhubung saya penurut, ya saya ikuti saja. Anehnya, 15 menit kemudian, muncul notifikasi friend request — dari online shop tersebut. Saya yakin pasti mereka nambah temannya random banget deh, sampai nggak ingat, bahwa orang yang mereka add, adalah orang yang sama yang disuruh ‘unfriend’.
Atau ini yang lebih parah, berdasarkan cerita teman, ada online shop yang bilang : ‘Kalau nggak mau ditag, nggak usah punya FB’. Ini sih, tampol nih ya, tampol!
Tadi sore saya ditag lagi, cuma kali ini pemilik online shop tersebut meminta maaf, dan bilang, bahwa ini adalah cara mereka promosi, ‘Gimana bisa bikin orang tau kita punya barang kalau nggak ditag Sis?’ itu katanya.
Ih masa sih nggak ada cara lain? Gitu pikir saya. Dan atas nama iseng, saya pun memikirkan beberapa alternatif ide promosi online shop di twitter. Ini saya kumpulkan daripada keburu lupa :
- ga usah ngetag akbar, kumpulin e-mail temen2 dan org yg kira2 minat, kirim katalog produk. :D
- ga usah ngetag akbar, kalo udah ada yg beli/skedar nanya, msukin di list buat dikirimin katalog berikutnya.
- soal list email, jgn lupa tanya, keberatan ga dikirimin katalog? Kalo iya, ya jgn dikirimin.
- via twitter, twit tautan ke url OLshop/produk, minta temen2 yg followernya byk u/ RT, trus traktir2 lah temen2 mu sikit. :D
- menghadiahi produkmu pd blogger kondyang, syarat, dia kudu review produkmu.
- kalo motret, pake temen yg jml org difriendlistnya banyak, pas dipublish, ntar tag aja dia. Gpp dong, org emang modelnya dia
- rada sering ngetwit ttg produkmu, sehari 3x, pake hestek tertentu.
- atau share link ke produkmu di fbmu sendiri, 3x sehari juga, pas prime time kalo bs.
- RT @: Nambahin . Sekali2 bikin buat follower mu biar mrk happy & sounding ke jagad raya :D
Oh, iya, itu bahasanya masih bahasa twitter yang belum saya sunting lagi. Tapi terbiasa dong, baca kalimat 140 karakter gitu? Ini ada beberapa tambahan yang baru kepikir.
- Posting diblog pribadi-mu.
- Buat kartu nama, sertakan data kontak di kartu nama tersebut, jadi kalau ketemu orang offline, kamu bisa kasih kartu nama tersebut.
Kalau ada yang punya ide lain, silahkan lho. Ini cuma sekedar ide, daripada saya dituduh ngomel doang nggak ngasih ide, atau daripada dibilang ‘Situ sih nggak ngerasain punya online shop!’ — huh, siapa bilang saya nggak punya? Monggo Sis, dikunjungi : The Wardrobe Porject. *lah, jadi promo colongan* (BTW, nggak kok, saya nggak pernah nyapa pelanggan saya dengan ‘Sis’. Sumpah!)
Dan sukur-sukur, kalau ada online shop yang tertarik mencobanya. Supaya para (calon) pembeli senang, penjual pun senang. Sebab seperti ada tersurat ‘Janganlah ganggu kalau jualan, ntar nggak laku lho’ (Surat Al TokoOnline 34:12)
Ngasih hadiah, dapat hadiah dari GagasMedia? Kenapa nggak bisa? Caranya ikutan Kuis ‘Katakan Cinta Dengan Empat Musim Cinta’. Klik di sini untuk detilnya,