Kartini-Kartini Mendebat Ladies Parking

….bahkan kalau fasilitas valet parking di mal tersebut gratis, saya mau kok memanfaatkannya.

Sebenarnya saya sudah memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kartini. Oh, bukan, bukan karena saya ingin ikut serta untuk mempertanyakan ‘Kenapa Kartini yang dielu-elukan? Kenapa bukan Cut Nyak Dien. HR Rasuna Said, Marta Christina Tiahahu?’– nggak kok, biarpun Kartini nggak ikut perang berkotor-kotor seperti pahlawan-pahlawan perempuan lain, buat saya, apa yang dilakukan Kartini termasuk hal hebat di masanya. :)

Saya tidak merayakan Kartini dengan membicarakan emansipasi, karena sampai sejauh ini emansipasinya masih mentok di urusan genjot becak. Tapi yang lebih krusial lagi, saya tidak merayakan Hari Kartini, karena Hari Kartini, bagi saya, sama dengan hari-hari besar lainnya. Perayaan doang. :) — eh bentar, ngomong-ngomong arti krusial tuh apa sih? *dikeplak massa*

Ya coba saja, apa sih yang dilakukan pada hari Kartini?

Kantor-kantor me’wajib’kan memakai kebaya modern untuk karyawatinya. Atau perempuan-perempuan berjanjian memakai kebaya. Kemana neng? Karnaval? Eh, bukannya saya anti pakai kebaya loh, saya suka kok pakai kebaya, tapi nggak suka rame-rame  :D

Lomba busana daerah; yang menang entah kenapa selalu mereka yang memakai kebaya beludru merah. Alasannya kebaya merah identik dengan Kartini. Padahal coba deh image googling di Google dengan kata kunci ‘Kartini’, yang keluar kebanyakan Kartini berkebaya putih kok. :)

Lomba memasak, lomba pasang dasi suami atau lomba kecakapan berdandan (semacam berlooxperiments sehari. hihi).

Promosi ini itu. Oh, saya dapat informasi dari Maya, kawan saya : tahukah anda bahwa tiket masuk Dunia Fantasi jadi Rp.60.000,- saat hari Kartini? Tapi coba deh dicek lagi syarat-nya, siapa tau ada keharusan pakai kebaya, jarik dan sanggulan.

Coba googling lagi, masukkan kata kunci ‘Diskon Hari Kartini’, banyak loh! Ada tuh peralatan makan diskon 30%

Lalu ramai-ramai pihak korporat membuat kuis, undian dan segala rupa yang berhubungan dengan Kartini.

Dan seperti biasa, semua orang mendadak ngobrolin emansipasi dan perempuan.

Yah, pada akhirnya saya melihat kemiripan Hari Kartini dengan Hari besar-hari besar lain. Bedanya ya, tanggalannya tidak merah (sial!)

Lanjut membaca.

PWCP* : Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H.Djuanda

Yak,  posting PWCP* (Playing With Cameraphone Project) lagi. Tau nggak sih, salah satu tempat favorit saya adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Kenapa? Karena banyak pohon! :D Kerasa banget lah, gimana kalau di Tahura saya bisa bernapas dengan baik dan benar kalau dibanding pas saya jalan-jalan di let’s say Jalan Merdeka. Atau di dalam mall.

Cuma biaya masuknya rada mahal sih, buat saya. Rp. 8000,- /orang untuk WNI, sedangkan WNA Rp.50.000-an kalau nggak salah. Mobil juga dihitung : Rp.10.000/mobil.

Secara administrasi pemerintahan letaknya antara Kecamatan Cicadas dan kecamatan Lembang. Kalau niat, bisa tuh jalan terus sampai ke Maribaya, Lembang. Dulu waktu zaman muda sih pernah tuh, bablas sampai sana, tapi semakin ke sini kok ya mentok di tengah-tengah, terus pengin balik, pulang karena capek. *mm, sebenernya agak ga jelas sih, antara capek, atau males :D*

Beberapa website menyebutkan bahwa objek menarik di Tahura itu adalah tugu, dan gua-gua peninggalan Jepang dan Belanda, tapi percayalah, tugu ya tugu. Gua ya gua. Biasa aja, nggak ada istimewanya.

Ya buat saya, yang bikin betah di sini adalah suasana ‘pura-pura’ hutannya. :) Satu keluhan aja sih, lumayan banyak sampah bungkus penganan ber-MSG di sana. Tsk. Pada nggak pernah diajarin cara buang sampah yang bener, kali ya?

Oh berhubung kali ini jalannya ke hutan, maka kebanyakan yang kefoto adalah… pohon. :D Buat yang nanya saya pakai handphone apa, cuma Nokia E71 saja kok. :)

Pohon *caption yang ga penting, sungguh*

Pohon *caption yang ga penting, sungguh*

Kaki monster! Kaki Dinosaurus! Enggak ding, ini akar pohon.

Kaki monster! Kaki Dinosaurus! Enggak ding, ini akar pohon.

Pohon lagi *caption yang masih ga penting* :))

Pohon lagi *caption yang masih ga penting* :))

Pohon dong! *caption ya masih ga.. ah sudahlah*

Pohon dong! *caption ya masih ga.. ah sudahlah*

sampah yang (sengaja) ketinggalan di salah satu meja.

sampah yang (sengaja) ketinggalan di salah satu meja.

Belajar Dandan Bareng Yuk!

Masih ingat project iseng-isengan looxperiments? Pernah kok saya ceritain di blog ini, liat deh posting yang ini. :) Nah, looxperiments mau bikin acara yang diberi tajuk ‘Dandan Bareng’ nih, hari Sabtu dan Minggu ini, di Bandung. Buat kamu yang berminat, ikutan yuk!

Ini detil acaranya :

Gathering

Tempat : Treehouse Cafe di Jalan Hasanudin No 5, Bandung

Waktu : Tanggal 2 April 2011
Jam : 1 siang (kita sekalian makan siang bareng yuk!)

Siapa aja bisa dateng, kita ngobrol-ngobrol aja, mau ngobrolin make up, mau ngobrolin trik make up, bebas aja kok :)

Make Up Class

Tempat : Kummara Cafe Lt 3 , Jl. Ciumbuleuit 163 R7 Bandung

Waktu : Minggu 3 April 2011

Jam : 3 sore tepat (pukul 15.00 tepat)

Pengajar : Andi Phang (@endi_feng)


Materi :
  • daily make up

  1. koreksi mata pake eyeliner, pemilihan foundation, bedak
  2. basic color chart for warm or cool skin tone
  3. pengenalan produk buat make up sehari-hari
  • night party make up
  1. basic shading
  2. basic fusion make up
  3. apply falshies & koreksi mata pake skot

Apa aja yang harus dibawa :

  • bawa aja semua make up yang kamu punya, nanti kita coba memanfaatkan apa yang kamu punya untuk berdandan ria.
  • Bulu mata palsu dan lem-nya sendiri, untuk Night Party make up.
  • Tentu saja bawa spons dan brush sendiri, ya, nggak sehat kalau saling pakai brush orang
Biayanya Rp. 100.000,-
Keterangan lebih lanjut, hubungi

aphangreenish@gmail.com

Sampai jumpa di sana!

…..Kumaha Aing!

Mobil Aink, Kumaha Aink (Mobil Gue, Gimana/Terserah Gue!)

Mobil Aink, Kumaha Aink (Mobil Gue, Gimana/Terserah Gue!)

Mari berandai-andai, seandainya di koran ada pengumuman lowongan pekerjaan menjadi supir angkot, gimana ya bunyinya?

Dicari : supir angkot. Umur tidak masalah. Memiliki SIM-lah pokoknya. Persyaratan tambahan : berani berhenti di mana pun -termasuk tengah jalan, atau tepat di bawah tanda ‘belok kiri boleh langsung - demi penumpang dan tahan dipisuhi pengendara lain’

Iya, minggu lalu, sepulang dari kantor, (lagi-lagi) saya tertahan oleh sebuah angkot yang dengan lempengnya berhenti tepat di bawah tanda ‘belok kiri boleh langsung’. Nyaris saja saya mengklakson bertubi-tubi, tapi tulisan di stiker yang ada di jendela belakang angkot tersebut membatalkannya.

‘Mobil aink, kumaha aink (Mobil gue, ya gimana/terserah gue).

Ih, itu berasa diledek deh. Dalam imajinasi saya, sang supir angkot berkata, ‘Loh? ya biar aja dong saya menghentikan mobil di mana aja saya mau, kan mobil, mobil saya?’

Dan saya pun merespon imajinasi saya sendiri :  emang itu mobil elu, mau diapa-apain yang terserah elu. Tapi kan elu ada di jalan raya, dan jalan raya itu bukan punya elu.

Ya iyalaah, semua orang juga tau kali, ketika kita melakukan segala sesuatu yang hanya berurusan dengan diri kita, tentu saja kita bisa bersikap ‘kumaha aing! (terserah gue!)’, tapi ketika bersilangan dengan orang banyak dan melakukan hal-hal yang melibatkan orang banyak, ya jelas nggak bisa lah! Memangnya dunia milik kita (yang laing ngekost)? :)

Eh, iya sih, pemikiran saya tentang stiker tersebut hanya berdasarkan imajinasi belaka. Sekali lagi, imajinasi. Belum tentu stiker tersebut memang sengaja ditempel sebagai pembenaran sikap semena-mena sang supir. Siapa tahu itu sekedar hiasan belaka, seperti stiker-stiker 1/3dis, atau ber217an. :)

Eh jadi ingat, tahun lalu  saya pernah baca twitter bio-nya orang deh, bunyinya : tweet aing, kumaha aing. Tapi saya nggak ingat siapa, dari tadi saya cari-cari, nggak ketemu. :D

PWCP* : Seputar Gedung Sate.

Sungguh, saya nggak ngerti, maunya apa sih motret miring-miring :D

Sungguh, saya nggak ngerti, maunya apa sih motret miring-miring :D

Begitu sampai... sudah tutup. *sigh*

Begitu sampai... sudah tutup. *sigh*

Dia, di ujung gang. Ihiw. :D

Dia, di ujung gang. Dalam pencarian sebuah tempat. :D

mana, manaaa kotaknya?

mana, manaaa kotaknya?

*PWCP = Playing With Camera Phone. Project (sok) motret dengan kamera dari handphone . Yuk?

update:

Buat yang nanya-nanya (mulu), saya pakai kamera handphone Nokia E71, katanya sih lens type-nya CMOS, 3.2 Megapixel, dan oh tentu saja mengalami pengeditan melalui photoshop, mengubah   level dan curve sikit wajar lah ya. :D

Kencan Nonton? Nggak Ada Yang Lain?

Suka heyran deh sama orang yang kencannya ke mall melulu; dan ketebak banget lah di mall ngapain; jalan-jalan, nonton dan dinner. Nggak bosan apa?

Er, komentarnya rese banget yak? Nggak deng, nggak apa-apa mau kencan mall juga. Becandaaa…

Anyway, ya saya dan partner memang bukan penggemar kencan mall, lebih suka jalan-jalan (kaki!) dan ngobrol , sebisa mungkin menjauhi daerah pergaulan *jiye pergaulan* yang terlalu ramai. Dan di satu hari pada minggu lalu, saya dan partner berkencan… mengunjungi almamater! *kriiik*

Ya iseng aja sih.

Biasanya saya selalu membawa kamera saya, tapi berhubung kamera setia saya suka rada-rada nyebelin, kencan kemarin saya tinggal di rumah. Nah, tapi beberapa kali kok ya saya gatal pengin motret. Akhirnya saya memanfaatkan kamera di handphone saya.

Dan mendadak kepikir, saya pengin bikin kategori ‘Bermain dengan camera phone‘ ah, di blog ini. Oh, ini memang terinspirasi dengan facebook groups yang namanya ‘pocketgrapher‘. Hm, walaupun konsistensi pemutakhiran entri untuk kategori ini masih bisa diragukan, tapi nggak apa-apa deh, bikin aja dulu. :)

Oh, ya hasil diedit-edit sikit lah pakai photoshop, main-main curve dan level wajar bukaaan?

Bukan.

12032011014

neng, bangga bener jadi alumni desain

Salah Satu Karya Ibu Rita Widagdo

Salah Satu Karya Ibu Rita Widagdo

Oh Aula Timur, Oh Aula Barat

Oh Aula Timur, Oh Aula Barat. Er, bentar, ini beneran aula timur dan barat kan? *amnesia*

Sok artistik. :))

Sok artistik. :))

Okay, mari masuk ke foto-foto komentar rese.

Lanjut membaca.

Apakah Harus Menunggu Hari Istimewa….

..untuk menyatakan perasaan kamu pada si dia?

*alah si diaaa boook, majalah 80-an banget. :)

thankyou
:)

Dear Papa

….ceritanya ini proyek amal dengan seluruh keuntungan akan diserahkan ke panti jompo di Surabaya

Suatu hari, Lala Purwono meninggalkan pesan via twitter; isinya mengajak saya untuk ikut serta dalam satu project yang bernama Project Dear Papa. Berhubung pesan 140 karakter tersebut sama sekali nggak menjelaskan apa-apa, maka saya memintanya untuk menjelaskan secara detil via e-mail.

Eh, nggak berapa lama, e-mail dengan nama pengirim ‘Lala Purwono’ masuk ke inbox saya. Ini saya cuplik sebagian isinya ya :)

Jadi ceritanya ini proyek amal dengan seluruh keuntungan akan diserahkan ke panti jompo di Surabaya. Pencetakan buku dibantu sama www.nulisbuku.com. Distribusi dibantu secara online, dari pihak penulis maupun nulisbuku. Jenis tulisannya sih seperti surat cinta yang ditujukan buat Ayah. Terserah; mau sedih mau lucu.. Terserah aja.

Waktu itu saya langsung menyetujuinya.

Saya pernah membuat sebuah surat untuk orangtua saya, di tahun 2007, sebagai persyaratan sebelum saya bergabung sebagai relawan The Frontiers, sebuah organisasi yang bergerak di bidang perdamaian. Surat itu semacam persyaratan wajib sih sebenarnya, jadi sebelum saya menandatangani kontrak, mereka meminta saya untuk menulis ’surat terakhir’ — kata mereka ‘Kita nggak tau akan apa yang terjadi pada kita nanti. Surat ini akan dikirim ke orangtua kalian SEANDAINYA terjadi apa-apa pada kalian.’

Itu males banget nggak siiiiih????

Yang saya ingat ketika saya membuat surat tersebut, saya menangis edan. Ya gimana dong, seolah-olah saya ini penderita penyakit mematikan yang bakal segera mati dan harus menulis semacam surat wasiat.

Nah surat itulah yang saya pakai (tentunya setelah saya sunting kembali). Terus terang, ketika menulis surat tersebut saya sempat merinding. Tidak mudah memperoleh izin ayah untuk menjadi relawan tersebut, namun akhirnya ayah saya mengalah. Iya, ayah saya mengalah. Saking cinta-nya beliau pada saya, beliau mengabaikan perasaan khawatirnya. Memikirkan hal tersebut,  saya jadi ‘menemukan’ kembali cinta saya pada ayah. Bukannya lupa pada rasa sayang/cinta padanya sih, cuma karena terlalu terbiasa hidup berdampingan, saya merasa perasaan saya padanya biasa-biasa saja.

*sungkem sama ayah*

Dua hari kemudian, saya kirimkan draft surat saya pada Lala. Sejujurnya, saya sempat terlupa dengan project ini. Tapi kemarin, via twitter, Lala menunjukkan cover buku Dear Papa, buku ke-6.

Covernya baguuus. Itu siapa sih ilustratornya, La? :)

sumber : http://projectdearpapa.wordpress.com/

sumber : http://projectdearpapa.wordpress.com/

Cuma saya sempat bengong. Buku Ke-enam?? Ternyataaaaa, buku Dear Papa ini ada 6 seri aja gitu. :) Untuk melihat surat siapa saja yang ada di buku 1 sampai 6, sila cek ke : http://projectdearpapa.wordpress.com

Anyway, thank you buat Lala yang sudah mengajak saya ikut project ini. Dan buat teman-teman yang lain, yuk mari membantu dengan membeli seri buku Dear Papa ini!

Caranya :

  1. Kunjungi http://nulisbuku.com
  2. Masukkan kata kunci DearPapa, atau klik aja ini http://nulisbuku.com/books/search?search=dearpapa&pilihan=title
    Ikuti cara pembelian yang berlaku di http://nulisbuku.com, klik ini deh : http://nulisbuku.com/cara-belanja
  3. Beli deeeh :)

Ini Kota Yang Aneh

Tapi aneh sekali, berada di kota ini, seolah candu bagiku.  Kenapa ya?

Jangan meremehkan rasa bosan. Sungguh. Karena ia bisa menjadi sumber kekuatan untuk melakukan apa saja. Well, setidaknya untukku sih. Gara-gara rasa bosan tak kepalang, aku pun mengiyakan seorang kawan untuk pindah ke sebuah kota. Kota yang aneh, tepatnya.

10 April 2009. Aku ingat betul tanggal itu. Hari di mana aku resmi terdaftar di kota tersebut. Eh, iya deh, ngaku, aku nggak inget-inget amat, tapi tanggal tersebut tertulis di rumahku. Joined: 10th Apr 2009; begitu katanya.

“Aku yakin kamu suka kota ini.” itu kata temanku, sewaktu aku masih bingung, tidak tahu apa yang akan kulakukan di kota ini.

“Kenapa?”

“Karena kota ini cocok buat kamu, yang senang berceloteh, yang pikirannya selalu dipenuhi hal-hal absurd, tapi sering tidak punya wadah untuk mengeluarkan pikiran tersebut. Kamu bisa mengeluarkan opinimu dengan bebas.”

Aku, sebagai penghuni baru, sedikit demi sedikit mulai mempelajari tata kehidupan di kota ini; terutama cara bersosialisasi. Ada aturan-aturan tersendiri, ternyata. Dan, tentu saja, sebagai penghuni baru, aku berusaha menyesuaikan diri. Hei, bukannya ada pepatah dari seorang bijak yang berbunyi : ‘beradaptasi lah aku, atau mati’? Eh, siapa ya yang pernah bilang begitu?

Hmm.

Oh, aku ding.

Lanjut membaca.

Maw, Sis? : Jangan Ganggu, Ntar Nggak Laku!

…bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang?

“JAH! Kena tag lagi deh sama yang jualan. Hobi amat sih, jualan rusuh. ” ujug-ujug* seorang kawan mengeluh, sambil menatap smartphone-nya. Tanpa perlu bertanya lagi, saya sudah tahu, pasti dia sedang membicarakan online shop di Facebook. Saya yakin, hal begini bukan hal yang aneh, bagi para pengguna Facebook — hayo ngaku, pasti pernah dong ya, ditag foto barang dagangan?

Saya pribadi sih sebal aja kalau ada online shop yang menggunakan cara promosi dengan mentag random nama-nama di friendlist-nya. Yang pertama : belum tentu saya butuh barangnya. Kedua : saya kesal kalau muka saya berubah jadi t-shirt, sepatu, flashdisk, kue kering, piano (iya, piano beneran!) dan macam-macam barang jualan.

Mungkin buat yang menjadi teman saya di facebook beberapa kali melihat saya pasang status mengomeli para online shop yang men-tag saya.

‘Dear online shops, jangan nge-tag. Atau ntar saya bales, saya bikin online shop trus saya tag balik’

Ngaruh? Nggak, tetap saja ada yang nekad men-tag.

‘Dear online shops, yang nge-tag, ditampol’

Teteub dong nggak ngaruh!

Tapi yang menarik bagi saya adalah reaksi/komentar-komentar orang pada status omelan saya pada online-shop. Rata-rata mereka setuju, cara promosi dengan nge-tag foto itu ganggu.

Saya, teman yang baru di-tag tadi dan beberapa teman lainnya kemudian membahas hal yang sama; ternyata yang sama saja, mereka sebal di-tag seperti itu. Rata-rata mereka menilai nge-tag jualan itu cara yang norak, tidak menimbulkan simpati dan membuat barang kesannya murahan.

Saya jadi mikir, bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang? Gimana orang bisa tertarik kalau  sudah antipati duluan, sebelum melihat barang-barang yang dijual?

Ya memang sih, amannya, ya jangan pernah approve permintaan pertemanan online shops, atau jangan pernah meng-add friend online shop. Tapi, masalahnya, kadang-kadang saya (dan beberapa teman yang lain) kadang-kadang suka berbelanja juga secara online. Jadi, kasus ini bak buah simalakama : diadd suka ngetag nyebelin, kalau nggak diadd, kadang-kadang butuh. :)

Pada akhirnya daripada saya ngomel-ngomel di status, saya memilih untuk meninggalkan pesan : jangan ngetag lagi ya, thanks. :). Kalau masih ngetag juga, ya unfriend** dan block — oh tapi tentunya setelah meyakinkan diri bahwa di online shop tersebut nggak ada barang yang saya perlu. :)

Anyway, tapi ada lho online shop yang pemiliknya judes ajaaa. Ketika saya tinggalkan pesan supaya dia tidak men-tag saya, eh dibalasnya dengan cara yang tidak simpatik.

‘Tinggal remove tag aja susah amat sih?’. Uhm, saya jadi pengin bilang : mbak/mas, galak amat sih? PMS yah? Atau lagi punya masalah? Sini, sini curhat sama tante.

‘kalau nggak mau ditag dari sini, di-unfriend aja, lah’. Ya sudah, berhubung saya penurut, ya saya ikuti saja. Anehnya, 15 menit kemudian, muncul notifikasi friend request — dari online shop tersebut. Saya yakin pasti mereka nambah temannya random banget deh, sampai nggak ingat, bahwa orang yang mereka add, adalah orang yang sama yang disuruh ‘unfriend’.

Atau ini yang lebih parah, berdasarkan cerita teman, ada online shop yang bilang : ‘Kalau nggak mau ditag, nggak usah punya FB’. Ini sih, tampol nih ya, tampol!

Tadi sore saya ditag lagi, cuma kali ini pemilik online shop tersebut  meminta maaf, dan bilang, bahwa ini adalah cara mereka promosi, ‘Gimana bisa bikin orang tau kita punya barang kalau nggak ditag Sis?’ itu katanya.

Ih masa sih nggak ada cara lain? Gitu pikir saya. Dan atas nama iseng, saya pun memikirkan beberapa alternatif ide promosi online shop di twitter. Ini saya kumpulkan daripada keburu lupa :

  • #idePromoOLShop ga usah ngetag akbar, kumpulin e-mail temen2 dan org yg kira2 minat, kirim katalog produk. :D
  • #idePromoOLShop ga usah ngetag akbar, kalo udah ada yg beli/skedar nanya, msukin di list buat dikirimin katalog berikutnya.
  • #idePromoOLShop soal list email, jgn lupa tanya, keberatan ga dikirimin katalog? Kalo iya, ya jgn dikirimin.
  • #idePromoOLShop via twitter, twit tautan ke url OLshop/produk, minta temen2 yg followernya byk u/ RT, trus traktir2 lah temen2 mu sikit. :D
  • #idePromoOLShop menghadiahi produkmu pd blogger kondyang, syarat, dia kudu review produkmu.
  • #idePromoOLShop kalo motret, pake temen yg jml org difriendlistnya banyak, pas dipublish, ntar tag aja dia. Gpp dong, org emang modelnya dia
  • #idePromoOLShop rada sering ngetwit ttg produkmu, sehari 3x, pake hestek tertentu.
  • #idePromoOLShop atau share link ke produkmu di fbmu sendiri, 3x sehari juga, pas prime time kalo bs.
  • RT @chocoloveid: Nambahin #idePromoOLShop. Sekali2 bikin #GIVEAWAY buat follower mu biar mrk happy & sounding ke jagad raya :D

Oh, iya, itu bahasanya masih bahasa twitter yang belum saya sunting lagi. Tapi terbiasa dong, baca kalimat 140 karakter gitu? Ini ada beberapa tambahan yang baru kepikir.

  • Posting diblog pribadi-mu.
  • Buat kartu nama, sertakan data kontak di kartu nama tersebut, jadi kalau ketemu orang offline, kamu bisa kasih kartu nama tersebut.

Kalau ada yang punya ide lain, silahkan lho. Ini cuma sekedar ide, daripada saya dituduh ngomel doang nggak ngasih ide, atau daripada dibilang ‘Situ sih nggak ngerasain punya online shop!’ — huh, siapa bilang saya nggak punya? Monggo Sis, dikunjungi : The Wardrobe Porject. *lah, jadi promo colongan* (BTW, nggak kok, saya nggak pernah nyapa pelanggan saya dengan ‘Sis’. Sumpah!)

Dan sukur-sukur, kalau ada online shop yang tertarik mencobanya. Supaya para (calon) pembeli senang, penjual pun senang. Sebab seperti ada tersurat ‘Janganlah ganggu kalau jualan, ntar nggak laku lho’ (Surat Al TokoOnline 34:12)


Ngasih hadiah, dapat hadiah dari GagasMedia? Kenapa nggak bisa? Caranya ikutan Kuis ‘Katakan Cinta Dengan Empat Musim Cinta’. Klik di sini untuk detilnya,