Beda kok, Takut?
…sejak kecil manusia telah dibiasakan untuk homogen. Berperilaku seragam. Memiliki pola pikir seragam. Coba deh, kalau ada individu yang berani melenceng dari keseragaman itu, pasti dicap ‘aneh’ dan dicemooh.
Oke, mari kita membincangkan tentang rambut. Oh, bukan tentu bukan tentang rambut saya yang salah potong dan membuat saya diledek ‘Hello,Joan Jett!’ oleh sejuta umat. (Nggak tau Joan Jett? Googling!). Tapi tentang eksperimen saya di bulan Februari lalu.
Jadi suatu hari saya menemukan artikel ini ; dalam artikel ini disebutkan tentang lima orang perempuan yang ditantang untuk tidak memakai shampoo selama 6 minggu. Sebenarnya ‘tidak memakai shampoo’ ini bukan hal baru — ada sebuah metode pembersihan rambut yang disebut ‘no poo‘, yang kebanyakan dijalani dengan pemikiran betapa berbahayanya sodium lauryl sulfate atau laureth sulfate yang terkandung dalam shampoo komersial yang biasa kita pakai, bagi diri kita, maupun lingkungan. Oh ya, tidak memakai shampoo bukan berarti tidak membersihkan rambut ya, tapi bisa menggunakan air saja, bahan-bahan alami atau hanya conditioner saja.
Jujur saja, sebenarnya memikirkan tidak memakai shampoo itu agak mengerikan buat saya. Saya memiliki ketergantungan dengan aktivitas keramas dan bershampoo — Seriously. Saya lebih memilih untuk tidak mandi dibandingkan tidak keramas; pokoknya, nggak bisalah kalau nggak keramas.
Awalnya saya berpikir, nggak mungkin deh,hal tersebut saya lakukan. Tapi justru tepat setelah saya pikir ‘nggak mungkin’, mendadak muncul pertanyaan baru : masa gitu aja nggak bisa sih? Lembek amat?
Karena saya adalah semacam mahluk yang dalam bahasa Prancis-nya mbung elehan (nggak mau kalahan) — sama orang saja saya nggak mau kalah, masa pada benda saya sudi kalah? — maka saya pun memulai tantangan tidak memakai shampoo selama enam minggu. Untuk membuktikan bahwa saya tidak kalah oleh shampoo. Ini sama lah seperti tantangan seminggu tanpa internet.
Dan karena dasarnya saya memiliki jiwa berbagi (memperhalus kata pamer) yang sudah mendarah daging, maka saya pun mentweet tantangan yang saya lakukan dan saya beri hashtag #6wwsc (singkatan dari : 6 weeks without shampoo challenge) bahkan saya buat juga blog-nya di tumblr. Ini URL-nya : http://6wwsc.tumblr.com. Jadi nggak perlulah ya saya ceritakan gimana perkembangannya, baca saja di situ.
Yang mau saya bahas di sini adalah reaksi orang-orang yang membaca tweet tentang #6wwsc. Banyak ragam reaksi yang saya terima - ada yang langsung mengikuti dengan spontan tanpa tanya-tanya, seperti arhcamt, dygbi, nitasellya dan dyanti (Suka gue sama yang impulsif seperti kalian. Nyebur sumur yuuk! *eh?*). Ada yang penasaran; mempertanyakan soal berminyak, soal bau dan lain lain (yang sebenarnya teknis banget ya, bisa ditangani kok), ada yang ingin mengikuti tapi takut tidak bertahan. Dan… ada yang mencemooh.
Ada tuh yang bilang, ntar dekil dan gimbal kayak orang gila,lah. Bikin polusi udara,lah. Ada yang nyebut ‘ih rambutnya pasti banyak kecoak.’ - Ya namanya sudah bertekad bulat nggak mau terkalahkan shampoo, jadi omongan seperti itu nggak ngaruh kali ya.
Oh, nggak, saya nggak mau ngomongin soal tantangan 6 minggu tanpa shampoo itu, itu sih cuma iseng, bukan hal yang penting. Tapi selama menjalani eksperimen iseng itu saya jadi banyak berpikir tentang ‘menjadi/melakukan hal yang berbeda’.
Homogenitas. Bahwa sejak kecil manusia telah dibiasakan untuk homogen. Berperilaku seragam. Memiliki pola pikir seragam. Coba deh, kalau ada individu yang berani melenceng dari keseragaman itu, pasti dicap ‘aneh’ dan dicemooh.
Jaman SD dulu, saya ingat pernah menggambar orang bertangan lima, atau bunga yang sangat besar dan menelan orang yang berani mendekatinya. Dan tahu apa yang saya alami? Saya ditegur guru, katanya ‘Gambar kamu salah, lihat dong, nggak ada orang yang gambarnya kayak kamu…‘ . Dan untuk amannya saya pun menggambar gunung kembar, persawahan, awan-awan dan matahari muncul dari tengah gunung, kadang saya bikin mataharinya memiliki muka, cuma mungkin matahari bermuka tidak seaneh orang bertangan lima kali ya? Jadi saya tidak ditegur.






