Dear Good Friends

Seorang kawan baik belakangan ini selalu meng-SMS saya dengan galau-sumalau, gara-gara masalah *uhuk* percintaan, kadang-kadang saya ikut sedih kalau dia sedih, kadang-kadang saya ikut sebal kalau dia sebal, tapi beberapa kali sih saya ketawain saat dia mulai cupu mehek-mehek karena kisah cinta-nya. :D

(Ya, saya sih siap aja diketawain juga kalau misalnya saya mehek-mehek — satu saat nanti, tapi ketok meja ah— karena masalah percintaan saya ntar. Semoga nggak terjadi. Amin)

Pada akhirnya saya pun mengirimkan secuplik SMS, berisi harapan saya buatnya : Semoga lo cepet nemu pasangan yang membuat lo ngerasa jadi perempuan paling beruntung di dunia. Dan semoga pasangan lo ngerasa bahwa lo adalah the most precious gift in his life.

Mendadak saya berpikir, kayaknya saya nggak pernah benar-benar mendoakan kawan-kawan baik saya deh (yak, caci-makilah saya. :D), padahal orang-orang datang dan pergi —- yaa, bukan hal yang aneh dan harus didramatisir sih, pertemanan itu kan proses seleksi untuk menemukan mereka yang cocok dengan kita atau tidak —-  tapi mereka bertahan, walaupun telah melewati naik dan turun seperti roller coaster.

Dari situ, saya mulai memikirkan banyak harapan baik untuk mereka — dan dasar suka pamer, saya pun mengicaukan harapan-harapan baik tersebut di Twitter dengan hashtag : #DearGoodFriends.

Direkap ah!

Dear Good (Single) Friends, semoga kamu dapat pasangan yang bikin kamu ngerasa jadi orang paling beruntung sedunia.

Dear Good (Single) Friends, semoga kamu dapat pasangan yang menganggap kamu adalah the most precious gift.

Dear Good Friends, semoga selalu ada tangis-tangisan bareng saat ngadepin masalah kita, lalu ketika semua hal menyebalkan tersebut lewat, kita bisa ketawa-ketawa histeris, ngetawain kecupuan dan kecengengan kita.

Dear Good Friends, semoga kita selalu punya becandaan sektoral yang orang lain nggak ngerti. Semoga kita bisa mempertahankan cara berkomunikasi kita yang ajaib.

Dear Good Friends, semoga kita selalu punya waktu membahas banyak hal, dari yang penting, sampai yang tidak penting, seperti kenapa sendok dinamakan sendok. Oh, tapi jangan gosip artis ya, kayak ibu-ibu dari RT mana aja.

Dear Good Friends, happily ever after itu sudah di’tek’ oleh Disney, kita nggak bakal dapat yang kayak gitu — tapi biarpun nggak happily ever after, semoga kita selalu baik-baik saja.

Dear Good (traveling) Partners, semoga selalu punya waktu untuk traveling bareng. Atau setidaknya saling cerita pengalaman traveling masing-masing.

Dear Good Friends, semoga senyebelin-nyebelin saya, kamu bisa maklum dan sebaliknya, sengeselin-ngeselinnya kamu saya bisa bilang ‘ya sudahlah’.

Dear Good Friends, semoga selalu ada maaf. Semoga.

Dear Good Friends, semoga selalu sehat, fisik dan mental. Semoga selalu bahagia. Semoga selalu dilindungi.

Anyway, sudahkah kamu menyebutkan harapan-harapan baik untuk teman baikmu? :)

Singkatan Bahasa Indonesia? Kenapa Nggak?

Suatu hari saya ngetweet untuk meledek sahabat saya Ella, saya bilang ‘Kalau ditanya ‘Lagi di mana?’, trus dijawab ‘OTW’, itu ga jelas banget. Bisa jadi OTW dari kamar ke kamar mandi’. Iya, waktu itu saya memang janjian ketemu di kampus tempat kami mengajar. Libur-libur suka susah ketemunya ih. Anyway….

Mendadak kicauan saya disahuti oleh @haspahani, katanya : usul, OTW kita bahasa Indonesiakan, jadi LDJ (Lagi Di Jalan)

Dan @ivanlanin pun menanggapi : kalau begitu LOL kita Indonesiakan jadi KKK (Ketawa Keras-keras) seperti yang diusulkan oleh @wahyuginting.

Sorenya mendadak saya iseng, saya pun mulai mengicaukan berbagai macam singkatan-singkatan berbahasa Inggris yang sudah sering dipakai penduduk internet ke dalam bahasa Indonesia, ada beberapa yang menanggapi sih, ada yang serius, ada yang ngaco-ngacoan.

Ini saya buat list-nya:

  • OTW (On The Way) jadi  LDJ (Lagi Di Jalan) — via @haspahani
  • LOL (Laugh Out Loud) jadi KKK (Ketawa Keras-keras)@wahyuginting via @ivanlanin
  • IMHO (In My Humble Opinion) jadi MHS ( Menurut Hemat Saya)@ivanlanin
  • ROFL (Rolling On Floor Laughing) jadi KGDL (Ketawa Guling-guling di Lantai)
  • LDR (Long Distance Relationship) jadi HJJ (Hubungan Jarak Jauh)
  • CMIIW (Correct Me If I’m Wrong) jadi KKSS (Koreksi Kalau Saya Salah)
  • AFK (Away From Keyboard) jadi JDPK (Jauh dari Papan Kunci) — via @Fido_Dildo
  • MLJ (Muke Lu Jauh), okay, abaikan. :D
  • BTW (By The Way) jadi EOO (Eh Omong-omong)
  • ROFLMAO (Rolling On Floor Laughing My Ass Off) jadi KSNDL (Ketawa Sampai Ngesot Di Lantai)
  • TTYL (Talk To You Later) jadi NTLY (Ngobrol Ntar Lagi Ya) — via @bentarabumi
  • HBD (Happy Birthday) jadi SUT (Selamat Ulang Tahun) — via @ratu__
  • OOT (Out Of Topic) jadi GNT (Ga Nyambung Tau) — via @damitch (bisa juga jadi GNB - Ga Nyambung Beg.. ga jadi ah!)
  • ASAP (As Soon As Possible) jadi SMY (Secepat Mungkin Yee) — via @rannasubhan
  • FYI (For Your Information) jadi ATA (Asal Tau Aja) — via @rerreadysti
  • ILU IMU INU ( I love You, I miss You, I need You) jadi ACK, AKK, ABK (Aku Cinta Kamu, Aku Kangen Kamu, Aku Butuh Kamu) — yak silahkan muntah.
  • ROTFL ((Rolling On The Floor Laughing) jadi NGG (Ngakak Guling Guling) — via @winnadwiarti
  • TGIF (Thank God It’s Friday) jadi MYAIHJ (Makasih Ya Allah Ini Hari Jumat) — via @jonathanend
  • TYSM (Thank You So Much) jadi TKB (Terima Kasih Banyak) — via @ichalissa
  • TIA (Thanks In Advance) jadi TKLS (Terima Kasih Loh Sebelumnya)
  • GTG (Gotta Go) jadi AHP (Aku Harus Pergi) — via @joridho_
  • MILF (Mom I’d Like to F— ah tau lah ya) jadi IIYMS* (Ibu-ibu Yang Mau Saya *sensor) — via @mf_azhari
  • BRB (Be Right Back) jadi BLJB (Bentar Lagi Juga Balik) — via @nizarwijaya

EOO (Eh Omong-omong), komentar orang yang ngeliat singkatan versi Indonesianya itu selalu sama : singkatannya ribet.

Ih, dipikir ROFLMAO nggak ribet apa? Tapi orang-orang tetap ingat, karena sudah terbiasa. Nah gimana kalau dibiasakan untuk memakai bahasa Indonesia untuk singkatan-singkatan ini?

Yeuk.


Dengarkan Anak Papua Ini Berbicara

Dear Orang Dewasa,

Pernahkah mendengar anak-anak berbicara tentang apa yang mereka inginkan? Atau, karena kita sudah dewasa dan mereka masih kecil, kita menganggap bahwa mereka nggak tau apa-apa?

Tulisan ini adalah karya Shafa Annisa Zen, Dari SD Al Ihsan Papua, yang punya cita-cita jadi seorang penulis dan punya hobi menggambar. Shafa adalah salah satu peserta dari Lokalatih Menulis ‘Mendorong Terciptanya Penulis-penulis Papua Masa Depan’ yang berlangsung di Abepura, Jayapura 20 - 29 Juli 2011 kemarin.

TANAH PAPUA

Tanah Papua adalah tempat aku dilahirkan, tempatku dibesarkan. Walau rambutku tidak keriting, tapi aku merasa Tanah Papua adalah kampung halamanku. Aku beruntung tinggal dan dibesarkan di sini. Ada laut dengan ombak yang putih seperti busa. Ada gunung dan bukit yang masih hijau dengan pepohonannya yang rindang, udaranya sejuk dan langitnya biru karena tidak tercemar asap polusi.

Tidak seperti Jakarta yang pernah aku kunjungi, langitnya seperti penuh debu, dan langitnya kelabu. Aku tahun itu terkena polusi.

Aku dengar tanah Papua adalah tanah yang kaya raya. Tanahnya menyimpan hasil tambang yang luar biasa. Ada emas seperti di Tembagapura,ada Nikel di Raja Empat. Saya yakin masih banyak lagi hasil tambang lainnya yang belum sempat diketahui, mudah mudahan generasiku bisa menemukan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Tetapi tetap menjaga kelestarian alamnya ,oh iya satu lagi yang aku suka sumber airnya bersih, jernih dan aku yakin pasti menyehatkan.

Saya berpikir, jika orang-orang dewasa mendengarkan apa yang disampaikan oleh seorang anak, memedulikan keinginan anak terhadap dunia yang mereka tinggali, dunia (mungkin) akan lebih indah lagi, karena anak-anak itu tulus, hanya menginginkan dunia yang indah dan damai bagi mereka (dan anak-anak lain) untuk bermain.

Shafa Annisa Zen (10 tahun) | Foto oleh : Yulian Ardhi

Beberapa berita terkait event ini :
Antara News : 50 Anak SD Papua dilatih Membuat Komik
Alfon Sawayap : Gali Potensi penulis Papua
Aliansi Demokrasi Untuk Papua : 50 Anak Ikut Lokalatih Menulis.
Republika : Anak Papua Berpotensi Samai Gunawan Muhamad (judulnya beraaat!)
The Jakarta Post : Papuan Children Create Comic Book
PT Freeport Indonesia : Melatih Penulis Papua Masa Depan
Journal Bali : Anak Papua Berpeluang Menjadi Penulis Tenar.

Selagi (Masih) Ada.

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Siklus hidup yang pasti akan terjadi. Almarhum seorang kawan, di tengah sekaratnya, pernah berkata bahwa kematian adalah perpisahan sementara, suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi.

Namun kematian tidak pernah menjadi hal yang bisa dihadapi dengan biasa-biasa saja.

Menyebut kata kematian selalu berhasil membuat saya merasa tak berdaya. Apalagi kematian mendadak; satu saat saya dan seseorang masih tertawa-tawa, tiba-tiba di saat yang lain, orang tersebut pergi.

3 berita kematian mendadak dalam dua hari ini, serta masalah lain cukup mempermainkan emosi saya. Naik turun seperti roller coaster. Satu ayah seorang kawan, satu sahabat ayah dan satu lagi, suami seorang kawan.

Konon katanya, ayah seorang kawan ini masih sempat bertemu dengan kawan-kawannya semalam sebelumnya, dalam keadaan bugar.

Konon katanya, sahabat ayah sempat bertelepon beberapa jam sebelumnya.

Dan, suami seorang kawan, sempat menelepon untuk mencandai saya,  ia menodong oleh-oleh. Saya tahu ia hanya meledek, karena ia sudah kenal saya yang suka males jika dimintai oleh-oleh.Oh, tapi ia saya belikan kopi Papua. Besok rencananya saya akan bertemu, untuk menyerahkan titipannya. Tapi barusan saya mendapat kabar bahwa ia meninggal. Serangan jantung mendadak.

Saya tidak bisa berhenti menangis. Bukan hanya menangisi kepergian orang-orang tersebut. Saya menangis karena pikiran saya dipenuhi oleh orang-orang yang saya kasihi. Ayah, Ibu, Adik, Nenek saya, pacar saya, sahabat-sahabat saya.

Bagaimana jika mereka-lah yang meninggal? Bagaimana jika… saya yang meninggal? Bagaimanakah hubungan kami saat saya atau mereka yang meninggal?

Saya teringat pernah menyakiti orang-orang yang saya kasihi, tidak sengaja. Apa jadinya jika saya atau mereka meninggal membawa luka yang saya buat?

Saya teringat pernah membuat orang-orang yang saya kasihi sedih. Apa jadinya jika saya atau mereka pergi dengan kesedihan akibat saya?

Saya teringat, terkadang saya tidak menghargai mereka sebagai anugrah, saya menganggap mereka ada karena memang sudah dari sananya mereka ada. Keberadaan mereka yang seharusnya saya syukuri, malah saya anggap biasa-biasa saja.

Saya teringat, saya jarang mengatakan bahwa saya mengasihi mereka; bagaimana jika mereka atau saya pergi, tanpa tahu, sengeselin-ngeselinnya saya, saya sayang mereka?

Tidak ada yang tahu, berapa lama kita atau orang-orang yang kita kasihi itu hidup. Semua tidak bisa ditebak.

Mendadak muncul banyak keinginan.

Selagi masih ada, saya ingin meminimalkan tindakan-tindakan yang bisa melukai orang-orang yang saya kasihi.

Selagi masih ada, saya ingin mengurangi tindakan-tindakan yang membuat mereka sedih.

Selagi masih ada, saya ingin selalu menunjukkan bahwa saya sayang mereka.

Selagi masih ada……

Rest in Peace, Om Eri, Om Edison dan Aldi. Sampai bertemu kembali.

And you. Forgive me?

Aku Papua

Traveling––it makes you lonely, then gives you a friend.
Traveling––it offers you a hundred roads to adventure, and gives your heart wings.
Traveling––it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.
Traveling––it offers you a hundred roads. How does a holy man know the one you’ll take?
Traveling––it had captured my heart, and now my heart was calling me home.
Traveling––it gives you a home in a thousand strange places, then leaves you a stranger in your own land.
Traveling––all you do is take the first step.

(Ibn Battuta)

Dari tanggal 19 - 30 Juli 2011 kemarin saya dipercaya untuk menjadi salah satu trainer membuat komik untuk 50 anak-anak kelas 5 - 6 SD di Abepura sekitar 1 jam perjalanan dari Jayapura. Seperti kata Ibn Battuta, bahwa perjalanan bisa membuat kita kehabisan kata-kata dan pulang-pulang menjadi pencerita andal.

Iya, saya punya banyak cerita.

Tentang anak-anak yang tidak pede dengan kemampuan menggambarnya dan selalu bilang ‘Tra boleh lihat, gambar saya jelek!’ , padahal gambarnya sudah bagus.

Tentang kekesalan saya pada orang-orang dewasa yang menyuruh anak-anak menggambar dengan standar bagus menurut orang dewasa.

Tentang tim asyik yang rata-rata berusia 30 tahun, tapi kelakuannya kayak anak umur 3 tahun.

Tentang tulisan Syafa yang berhasil membuat berkaca-kaca. (’Walaupun rambutku lurus dan kulitku terang, tapi aku lahir di Papua dan aku mencintai Papua’ tulisnya)

Tentang Michael yang pemalu dan grogian abis.

Tentang Tian yang jahil tapi kalau disuruh ke depan nervous setengah mati, sampai harus memegang lengan kakak trainer-nya.

Tentang Anafi yang kolerik.

Tentang Hendra kecil yang gayanya belagu tapi kocak.

Tentang Syafa yang mimisan.

Tentang Habib yang seperti spons, menyerap materi dengan cepat dan berhasil menjawab pertanyaan setiap review materi.

Tentang Abian yang mencoret gambar Dinda sampai Dinda menangis.

Tentang Boas yang punya banyak koleksi cerita mop (cerita lucu) dan berbakat jadi stand up comedian.

Tentang Bella dan Agil, duo bawel yang pintar yang tampaknya naksir kakak trainer-nya. (*uhuk*)

Tentang Angel yang dewasa dan Angeli yang cantik.

Tentang Evan yang bergaya rapper dan susah menahan ketawa.

Tentang Imran yang ngambek karena komiknya disita.

Tentang Brooklyn yang bercerita tentang pertengkaran buah-buahan sampai Ubi masuk UGD.

Tentang pertanyaan fundamental setiap harinya ‘Hari ini makan apa?’

Tentang badan yang selalu pegal-pegal setiap habis mengajar.

Tentang berat badan yang menaik 2 kilo.

Tentang menguasai lobby setiap malam.

Tentang mengobrol tengah malam.

Tentang pagi-pagi menyiapkan materi dengan rambut basah habis mandi, mata sepet ngantuk dan perut lapar belum sarapan.

Tentang anak-anak yang selalu berebutan memanggil-manggil kami untuk duduk bersama mereka saat makan siang.

Tentang celetukan polos anak-anak yang bikin geli. Tentang tingkah mereka yang bikin terpingkal-pingkal.

Tentang ruangan yang berbau matahari khas kanak-kanak setiap selesai break makan siang.

Tentang salah perkiraan penyampaian materi, sehingga harus memeras otak cari aktivitas baru supaya anak-anak tidak bosan

Tentang pertanyaan-pertanyaan soal umur dari anak-anak (Dan mereka takjub karena sebagian besar dari kami seumur dengan orangtua mereka)

Tentang ketidakpercayaan orang dewasa pada kami dan menyangka bahwa kami hanya mahasiswa sedang kuliah kerja nyata (Gara-gara baju santai, cara bicara, seringnya kami cekikikan dan tampang kami yang *UHUK!* muda)

Tentang kaki yang terinjak sampai bengkak gara-gara mencoba menghentikan anak-anak berlari-larian di kelas.

Tentang anak-anak yang menunggu mobil kami lewat untuk melemparinya dengan bunga liar.

Tentang anak-anak yang mengejar-ngejar mobil kami.

Tentang sunset di Sentani.

Tentang perpisahan yang bikin patah hati, apalagi melihat Bella pura-pura tidak menangis, ia tersenyum sambil melambai-lambai.

Tentang SMS bertubi-tubi yang menceritakan kegiatan harian mereka setelah pelatihan dan mereka bilang mereka kangen. Ini membuat air mata saya tumpah.

Tentang SMS Renza : Oh iya kak, dr hr Jumat malam aku mimpi terus tentang kakak2 fasilitator,lho! Rasax aku nggak mau berhenti ikut pelatihan ini.’

Tentang…. banyak sekali! Terlalu banyak sampai saya bingung mau memulai dari mana.

Sayang, saat saya sedang berusaha untuk menuliskannya, saya menemukan video klip Aku Papua (Franky Sahilatua) yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit, yang membuat saya merinding dan berkaca-kaca, saya kembali speechless.

Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua

Sunsilk Hair Studio : Creambath-lah Kamu Sampai ke Ibukota

Zaman sekolah dulu, sering dong denger pepatah ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’? Nah, untuk kasus saya beberapa saat yang lalu, ada satu pepatah yang cocok banget buat saya : Creambath-lah kamu sampai ke ibu kota. :)

Yup, saya mendapat undangan untuk datang ke Sunsilk Hair Studio yang dibuka di Grand Indonesia Shopping Town, East Mall, Level 2. Thank you, Fashionese Daily.

Awalnya saya pikir ini semacam salon yang bakal buka terus sampai selama-lamanya *alah*, saya baru ngeh ketika diberitahu, ternyata, Sunsilk Hair Studio ini hanya akan ada dari tanggal 1 Juni – 31 Juli 2011. Jahh. Sebentar amat.

Ya sudah, niat menunda-nunda pun, saya batalkan. Ke sanalah saya untuk menjajal Sunsilk Hair Studio tersebut.

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Lanjut membaca.

Rakuten Oh Rakuten *kekep dompet*

Senyebelin-nyebelinnya online shop yang, you know, suka ngetag-ngetag barang jualannya di FB (terus kalau diminta jangan ngetag jawabannya judes. Blah), tapi ya teteub juga lah online shop menjadi salah satu pilihan saya kalau pengin beli barang-barang tertentu; ya gimana nggak, tinggal browsing, pesan, bayar pakai internet banking, terus tinggal duduk manis leyeh-leyeh deh, nungguin pesanan saya datang.

Entah sudah berapa banyak online shop yang saya jelajahi; tapi dari sekian banyak hanya di segelintir online shop saya berani bertransaksi, bisa dihitung dengan jari-lah. Abis, rada ngeri juga kali ya, siapa yang bisa jamin kalau ternyata online shop itu nggak dipakai sebagai kedok penipuan; karena saya juga sering dengar beberapa kawan yang mengaku belanja di online-shop tertentu, uang sudah transfer, tapi barang tak kunjung datang.

Pada akhirnya online shop-online shop yang segelintir tersebut menjadi online shop langganan. Saya nggak berani coba-coba bertransaksi ke online shop lain, kalau belum ada kawan yang beneran saya kenal ngasih rekomendasi bagus.

Sampai satu saat, dua orang di timeline Twitter saya, @OmAbdi dan @Vabyo ribut-ribut soal @rakutenIndo, salah satu online shop yang ada di jagad internet ini. Salahkan rasa penasaran saya, pada akhirnya saya mendarat juga di http://rakuten.co.id

Saat mulai browsing…

*glek*

Items yang dijual variatif sekali! Mulai dari gadget, barang elektronik, fashion, hobbies dan sports, motor & mobil, beauty & health, interior & kitchen, books & stationery, sampai barang-barang langka/unik yang susah ditemui di pasaran.

Oh enggak, Rakuten ini bukan sejenis online shop SD, alias Segala Dijual, tapi konsepnya lebih ke arah mall di dunia maya. Jadi di dalamnya ada berbagai macam toko-toko kecil yang menjual berbagai macam items. Banyak juga brand yang sudah terkenal membuka store di sana.

Saya baru menyadari bahwa Rakuten ini sebenarnya sudah terkenal sebagai tempat belanja online di dunia, bahkan sangat ternama di Jepang. Di Indonesia sendiri, Rakuten ditangani oleh MNC Group. Kemana aja ya si saya?

Terus terang saya tertarik dengan banyak barang di sana, tapi belum berani untuk bertransaksi, jadi kerjaan saya setiap saat hanya browsing dan browsing dan browsing. Ya tapi tau dong, semakin banyak browsing semakin banyak lah barang-barang yang bikin saya tertarik. Dari kamera, palet eyeshadow, sepatu, dan seterusnya dan seterusnya. Duuh.

Akhirnya saya menyerah ketika melihat palet  eyeshadow 25 warna ini. Biasalah, pereu. :D

Saya pun tanya sana dan tanya sini, semua bilang, bertransaksi di sana aman, barang sampai dalam waktu yang relatif cepat.

Untuk berbelanja sendiri, ada tujuh langkah yang mudah banget.

  • Tekan tombol ‘masukkan keranjang belanja’ yang ada pada barang yang anda incar
  • Periksa kuantitas barang.
  • Kalau sudah jadi anggota, silahkan login. Kalau nggak yang mendaftar dulu. Proses pendaftarannya juga nggak rumit, sekedip dua kedip selesai (er, ya nggak juga sih, tapi pokoknya gampang deh)
  • Pilih metode pembayaran, ada transfer bank, ada kartu kredit atau online banking
  • Pilih metode pengiriman
  • Isi alamat pengiriman, ya siapa tau aja mau ngasih ke orang. Kalau nggak ya pakai alamat sendiri saja.
  • Submit deeeh.

Kita tinggal nunggu e-mail konfirmasi, yang sampainya nggak sampai satu jam kemudian. Selanjutnya tinggal bayar deh, sesuai dengan cara pembayaran yang kita pilih waktu memesan. Selesai!

Itu saya lakukan hari Selasa kemarin ya. Eh kok ya, barangnya sudah sampai hari ini Kamis dalam keadaan tidak kurang satu apa pun, padahal itu udah kepotong sama hari libur Rabu kemarin kan? Berhubung barang yang saya pesan adalah eyeshadow, yang kalau packagingnya salah bisa hancur bubar, tadinya sih rada ketar-ketir; Cuma begitu paket dibuka, ternyata utuh, mereka tau banget gimana cara memperlakukan barang.

Palet pesanan sayaaa :)

Palet pesanan sayaaa :)

Agak heran juga, mudah dan aman banget ya bertransaksi di Rakuten? Barang pun sampai dengan cepat.
Mendadak perasaan saya nggak enak nih. *kekep dompet*

Oh iya, di Rakuten suka juga ada penawaran-penawaran menarik nih, mulai dari diskon items tertentu sampai penawaran potongan harga di jam-jam tertentu. Kemarin juga sempat ada games bagi-bagi hadiah barang tertentu di Twitter.

Kayaknya mulai sekarang, saya bakal ngejadiin Rakuten sebagai online shop langganan ah!

Bentar, bentar, perasaan saya kok makin nggak enak ya? :D

Yuk ah, browsingRakuten lagi!

Loh?

Pegang TV Sembuh? Bisa!

…”Gue sih percaya, ada orang yang bisa sembuh, dengan pegang TV.” Dan dia pun melongo.

“Itu omong kosong banget sih, megang TV trus penyakit bisa sembuh?” seorang kawan protes berat ketika melihat sebuah tayangan rohani di salah satu stasiun TV swasta. Tayangan tersebut hampir selesai dan sang pembicara yang bule (beserta translator-nya) berdoa, lalu menyebutkan (kurang lebih) ‘Jika anda sedang sakit, tempelkanlah tangan anda pada layar TV anda, Dalam nama Yesus, maka anda akan sembuh!’

Oh, melenceng dikit nih ya, pembicara bule itu kayaknya sudah cukup lama tinggal di Indonesia, deh, soalnya, dia sudah jadi pembicara di acara tersebut sejak saya SMU (yang mana itu berbelas-belas tahun yang lalu). Belajar bahasa Indonesia kek, biar nggak usah bawa-bawa translator mulu. Hidup di negara orang, kok nggak bisa bahasa setempat. Cih. *diguyur fans-nya*

Oke, balik ke topik.

Nah kawan saya ini rupanya sedang terkena sindroma protestan, alias tukang protes. Jadi, setelah mengeluarkan protes pertama (dan tidak saya tanggapi), eh dia protes lagi.

“Ini pembodohan banget sih!”

Yak, tipikal banget kan? Protes atau nggak suka satu tayangan televisi tapi teteub ditonton, sambil nyela-nyela. Oh, saya juga gitu kok, tapi tayangannya infotainment. :-D

“Ih, gue dicuekin! Kasih respon apa kek!” akhirnya dia mengomel. Saya menanggapi dengan tawa kecil, lalu mengangkat bahu. Tak puas dengan reaksi saya (yang biasanya nyinyir banget kalau mengomentari infotainment), ia bertanya lagi,”Kata lo gimana?”

“Gue sih percaya, ada orang yang bisa sembuh, dengan pegang TV.”

Dan dia pun melongo.

Oh, jangan salah kira, saya juga nggak percaya dengan kesembuhan abrakadabra gara-gara pegang TV. Terserahlah mau dibilang saya nggak percaya mujizat.

Lanjut membaca.

Koleksi Baru The Wardrobe Project.

Untuk detil pemesanan, silahkan kunjungi http://wardrobeproject.wordpress.com

Koleksi Baru The Wardrobe Project

Koleksi Baru The Wardrobe Project

Launching The Journeys

undanganlaunchingthejourneys

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita berisi 12 tulisan perjalanan dari 12 orang penulis yang memiliki latar belakang berbeda. Mulai dari penulis komedi, penulis skenario, novelis, hingga yang memang berprofesi sebagai travel writer.

Latar belakang berbeda ini membuat kisah-kisah yang dihadirkan pun memiliki sudut pandang beragam; yang terasa manis, menyentuh, hingga membuat terbahak. Dari birunya laut Karimunjawa, gemerlap New York City, keriaan sebuah pasar pagi di Lucerne, sudut rumah sakit jiwa di Singapura, damainya Shuili, cantiknya Andalusia, warna-warni Senegal, cerita kepercayaan setempat di Soe, mencari parfum impian di Mekah, kisah sebotol sambel yang harus dibawa sampai Utrecht, upaya melipir ke Tel Aviv, hingga fakta tak disangka di balik free traveling.

Perjalanan adalah sebuah proses menemukan. ‘It’s better to travel well than to arrive,’ kata Buddha. Dan The Journeys mengajak siapa pun menemukan kisahnya sendiri. Sesederhana apa pun itu.

…..

The Journeys a diterbitkan oleh  Gagas Media, saya merasa beruntung mendapat kesempatan menulis bersama dengan penulis-penulis hebat ini : Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Ferdiriva Hamzah, Gama Harjono, Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Handojo, Windy Ariestanty, Winna Efendi

Datang ya, ke acara launching dan book signing-nya! :)