Bersinarlah, Brother Shine
"Waktu itu saya masih kuliah, masih menjadi seorang laki-laki yang ingin selalu pergi jauh dari rumah untuk berpetualang, mencari kegilaan." laki-laki tampan berusia tiga puluhan akhir itu membuka ceritanya.
Saya menyandar pada pintu kayu rumah milik seorang pendeta di daerah Pati sambil memegangi perut saya yang agak kekenyangan akibat memamah kodok sexy ini. Ini pasti akan menjadi cerita yang panjang, karena pria ramah ini senang sekali bercerita - dan semua ceritanya tidak pernah membosankan.
Suara teman-teman yang lain terdengar riuh, saling melempar lelucon dalam bahasa Jawa dan saling mentertawakan. Saya sempat terkikik mendengar guyonan salah seorang dari mereka yang rata-rata masih berumur dua puluhan awal. Mereka adalah sekelompok relawan organisasi lokal yang selalu siap sedia untuk turun ke lapangan kapan pun dibutuhkan,
Laki-laki itu menoleh, tersenyum sekilas walaupun saya tahu beliau tidak mengerti dengan bahasa yang dipergunakan teman- teman saya.