Main

Mi, The Wandering Soul Archives

04 januari 2008

Mi, The Wandering Soul : Dilarang Jatuh Cinta.

12. Tidak diperkenankan untuk memiliki hubungan (dan perasaan) yang bersifat personal dengan siapa pun selama masa satu tahun awal kontrak. Bagi yang sudah memiliki pasangan, diharuskan untuk setia pada pasangannya.


“Najis.”
“Ada apa?” Nadine, seorang perempuan berkebangsaan Jerman, mantan relawan tempat aku akan bekerja terlonjak. Ia menurunkan novel yang sedang dibacanya.
“This..” aku membalikkan lembaran kontrak yang harus kupelajari selama 24 jam dan menunjukkan bagian yang kalau disederhanakan berbunyi : dilarang jatuh cinta dan pacaran.
“Oh, itu.” Nadine yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini tersenyum simpul, ia merubah posisi tengkurap di atas tempat tidurnya menjadi posisi duduk.
“Aturan ini melanggar batas personal sekali ya? Saya nggak suka ini… “ Aku mendengus, lalu merebahkan diri di atas tempat tidurku.

Continue reading "Mi, The Wandering Soul : Dilarang Jatuh Cinta." »

25 maart 2008

Mi, The Wandering Soul : Next Destination : You

“Gue pengen ke Togian. Nyepi. Siapa tau gue jadi lebih baik. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.” Cetusku, ini adalah tujuan ke lima yang berbeda, yang telah kusebutkan dalam tiga puluh menit ini.
“Yakin bakal lebih baik kalau lo pergi-pergi?” Tanya Pay, pria yang baru kutemui Jumat lalu dalam perjalanan.
“Ya nggak juga sih,”
“Tuh kan?”

Aku nyengir. Lalu kami terdiam.

“Mungkin elo selama ini hidup dalam fase denial, Mi. Elo selalu bilang elo baik-baik aja, padahal enggak.” Seru Pay beberapa jenak kemudian.

Aku hanya bersandar pada tembok kamar kostnya sambil bertanya-tanya, kenapa aku sampai kehilangan libido untuk traveling? Tumben. Padahal passionku adalah menjelajah. Pay meledek bahwa aku sedang frigid to travel. Ini gara-gara saat aku menyambangi pantai yang indah, air terjun, padang rumput yang keren, aku hanya bisa menghela nafas sambil berkata “Oh yeah, well. Terus?” – tidak ada rasa meledak-ledak dalam hati, seperti biasanya.

Sumpah aneh. Yang kuinginkan hanya tidur. Bermalas-malasan. Bahkan ada saat di mana aku menyesal terbangun.

Aku hanya mencibir. Denial apa? Aku tidak pernah memungkiri apa pun.

Continue reading "Mi, The Wandering Soul : Next Destination : You" »

06 april 2008

Mi, The Wandering Soul : Menikmati Bayangan *

“Saya percaya, jika saya menampung dan merawat musafir seperti Nona sekarang, suatu saat nanti, ketika saya menjadi musafir, atau mungkin anak saya, atau cucu saya, atau orang-orang yang saya kasihi menjadi musafir, maka akan ada orang lain yang menampung dan merawat mereka…”

Itu adalah kalimat panjang yang keluar dari bibir hitam kemerahan (kupikir ia terlalu banyak makan siring pinang dan harus masuk rumah sakit ketergantungan sirih pinang) milik seorang laki-laki tua, kepala salah satu desa yang terdapat di kaki gunung Ile Mandiri, Larantuka, bertahun-tahun yang lalu.

Aku tersentuh. Walaupun apa yang dia bilang adalah hukum tabur tuai yang sering disebut-sebut dalam kegiatan religi (siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan atau kurang lebih begitulah), tapi saat itu, aku sangat tersentuh. Kalimatnya kemudian masuk ke dalam otakku. Tanpa sadar, aku tidak pernah berkeberatan menampung dan merawat musafir yang kebetulan bersilangan jalan denganku.

Dan terbukti, apa yang kutabur, kutuai sekarang. Selama lebih dari enam bulan aku di jalan, dengan ajaibnya, setiap berada dalam kesulitan, selalu ada orang-orang yang menampung dan merawatku.

Kemarin, pria gempal berkulit tembaga yang hobi curhat itu telah menampungku. Sebelumnya, entah sudah berapa kali orang-orang yang tak kukenal membantuku.

Sekarang, Prima. Salah seorang sepupu jauh. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ia menelepon saat aku baru menyalakan handphone, satu jam setelah mendarat di Bali dan berpikir keras bagaimana cara tinggal di Bali dengan budget seminim mungkin.

Prima, seorang perempuan Solo, berwajah eksotis, berkulit kecoklatan, berambut panjang lurus dan hitam. Ia menikah dengan Jérémie Bellanger, seorang penulis dari Prancis dan tinggal di Ubud.

Sebuah ketidak sengajaan? Entah.

Dan, mereka memiliki sebuah café mungil dengan fasilitas wifi, tepat saat aku perlu menghubungi Nad, untuk memberikan informasi terakhir tentang next destinationku.

Ketidaksengajaan lagi?

Continue reading "Mi, The Wandering Soul : Menikmati Bayangan *" »

08 juli 2008

Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS?

Ini sudah bulan ke-lima aku tidak mengetahui keberadaannya. Namun bedanya dengan dulu, aku sama sekali tidak berusaha untuk mencarinya lagi. Sungguh, aku menikmati bayanganku sendiri tentang hubungan aku dan dia. Saking menikmatinya, aku sampai ketakutan untuk menghadapi kenyataan.Bukankah kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan bayangan?

Semua itu membuat aku berusaha berkonsentrasi sepenuhnya pada pekerjaanku, Kucurahkan seluruh perhatianku pada semua murid-murid kelasku. Terkadang, keinginan dan rasa penasaran itu mengusik – tapi selalu, dengan sekuat tenaga kucoba untuk menghilangkannya.

Sampai satu saat, Nadine, sahabatku tiba-tiba memberi tahu bahwa ia akan mengunjungiku.

Dan di sinilah aku, di bandara Comoro, Dili, menjemput Nadine. Aku memicingkan mata mencari sosok sahabatku di antara para penumpang serta penjemput yang berada di mulut pintu keluar bandara. Pesawat yang ditumpangi Nadine sudah mendarat sekitar 30 menit yang lalu, tapi entah kenapa, sosok perempuan ceking itu belum tampak juga.

“Mi! Helloooo?”

Continue reading "Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS?" »

12 september 2008

Mi, The Wandering Soul : Kenyataan Mungkin Menyakitkan, Tapi...

“Terima kasih karena telah terbang bersama kami. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.” Kata-kata lembut tersebut keluar dari bibir bergincu coklat muda mengkilat milik pramugari pesawat yang membawaku mencapai Surabaya.

Aku tersenyum.Kuhela nafas sebelum melangkahkan kaki keluar dari pintu kabin, sambil membopong carrier dan ransel laptopku.

Kulangkahkan kaki terburu, langsung menuju keluar bandara, tidak mengikuti gerombolan penumpang yang akan mengambil bagasi – karena barang bawaanku adalah yang kubawa.

Udara panas tak berangin Surabaya langsung menerpa kulitku. Tujuanku adalah Yogyakarta, di ponsel telah tertera sebuah alamat yang diberikan Nadine, tapi aku belum berhasil memutuskan apa yang akan kupergunakan untuk mencapai kota gudeg tersebut. Beberapa orang pria langsung menghampiriku. Menawarkan jasa transportasi.

“Travel Mbak, ke Malang?” Tanya salah seorang dari mereka.

Aku menggelengkan kepala. Kupicingkan mata, tampak sebuah bus DAMRI yang menuju terminal pasar Turi.

Apa aku naik bis saja ya?

“Travel Mbak? Ke Jogja? Langsung ke tempat tujuan.” Seru pria lainnya.

Hmm… mungkin ini lebih mudah. Aku telah memiliki alamat, tidak perlu memikirkan apa pun, tinggal duduk, dan (mungkin) tertidur, lalu sampailah tujuan.

Tapi….

Continue reading "Mi, The Wandering Soul : Kenyataan Mungkin Menyakitkan, Tapi..." »

26 september 2008

Mi The Wandering Soul : Turn Your Lights Down Low*

Setelah menunda semalam, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menghampirinya. Di sinilah aku. Di depan sebuah tattoo parlor. Walaupun sudah berulang kali aku bertanya pada beberapa orang, dari anak SMU yang sedang menunggu datangnya bis Trans-Jogja, tukang ojek, tukang becak, sampai mbak-mbak berjilbab yang kebetulan berpapasan denganku, tapi aku tak kunjung merasa yakin dengan alamat yang diberikan Nadine padaku.

Oh tunggu. Aku berusaha memikirkan, apa sebenarnya yang membuat aku tidak yakin. Letak tempat yang disebutkan, atau… keberadaan dia di tempat itu?

Mungkin karena yang kedua.Akan sangat tidak lucu jika ternyata ia sudah tak ada di sana.

Kuhempaskan nafas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah sudahlah, kalau aku terus begini, mungkin sampai malam aku akan terus berdiri di luar.

Aku berjalan ragu-ragu masuk.

“Siang, Mbak…” sapa seorang pria tinggi kurus bertattoo.
“Eh, siang…”
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah. Mungkin ia menyangka aku adalah calon klien tattoo parlor ini.
“Uhm… saya…” aku terdiam sejenak,”..nyari Dharma. Ada?”

Pria tersebut mengerutkan kening.”Dharma?”

Oh shit. Kalau pertanyaan selanjutnya adalah: ‘Dharma siapa?’, maka aku hanya bisa memamerkan cengiran terlebarku, karena...sumpah aku tidak tahu nama lengkap orang yang kucari ini. Kami terlalu sibuk mengobrol waktu itu -- oh, berciuman juga...

Continue reading "Mi The Wandering Soul : Turn Your Lights Down Low*" »

About Mi, The Wandering Soul

This page contains an archive of all entries posted to blog.sepatumerah.net in the Mi, The Wandering Soul category. They are listed from oldest to newest.

keseharian is the previous category.

novels is the next category.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31