Main

Fiksi Archives

22 februari 2007

Penantian Jodoh

Jika aku disuruh memilih, kapan waktu yang paling kusukai dalam sehari, tidak pernah aku meragu untuk memilih pagi hari, tepatnya antara jam sembilan kurang lima belas, sampai jam sembilan lewat lima belas.

Karena dalam 30 menit itu, pasti akan ada seorang gadis, melintas di luar jendela rumahku. Gadis yang aku yakini adalah jodohku.

Dan siapa bilang menunggu itu adalah pekerjaan yang membosankan? Tidak. Tidak sama sekali. Buktinya, sepanjang 30 menit itu aku merasa lebih hidup. Darahku mengalir lebih deras, jantungku berdenyut lebih cepat.

Menunggu jodoh, si gadis bermata sipit, berkulit putih mulus bagai porselen itu, telah berhasil membuatku sangat bergairah. Hey, buat anda semua yang selalu mencemooh cinta pada pandangan pertama, percayalah - itu ada, bukan sekedar kebohongan publik yang yang dibesar-besarkan. Sumpah! Itu ada.

Aku langsung jatuh cinta begitu melihatnya untuk pertama kali. Hari itu, jam sembilan kurang lima belas - ia melintasi jendela rumahku. Aku terpesona, waktu terasa melambat, dunia berpusat padanya, sedangkan hal-hal lain adalah latar belakang yang bergerak slow motion. Aku melongo bodoh, tidak mampu melepaskan pandangan dari dirinya.

Wajah yang dibingkai oleh rambut lurus mengkilat itu mengintip melalu jendela, menatapku langsung! Iya langsung. Matanya berbinar-binar. Ia menempelkan telapak tangan pada kaca - lalu aku bisa melihat jelas ujung-ujung bibirnya tertarik ke samping, membentuk sesungging senyum. Ah manisnya.

Tapi itu tidak lama, setelah melirik ke arah arloji yang meliliti pergelangan tangan kirinya, ia melangkah menjauh dengan enggan. Enggan meninggalkanku mungkin.

Kupikir itu adalah pertemuan terakhir kami. Tapi aku salah, esoknya, esoknya lagi, esoknya lagi, minggu depannya, minggu depannya lagi, pagi-pagi antara jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas, ia selalu melintas di depan jendela rumahku, berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan penuh cinta bahkan kadang penuh hasrat. Dan berlalu. Kurasa ia pun jatuh cinta padaku.

Pertemuan pandang ini menjadi ritual setiap pagi dan sudah berlangsung selama nyaris tiga minggu. Sejak saat itu, resmilah sudah, aku kecanduan pagi hari, antara jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas. Aku sebut kegiatan ini sebagai : Menunggu Jodoh.

Oh ya, walaupun aku tidak pernah berkenalan langsung dengannya, aku tahu bahwa namanya Mentari, itu tertulis di name tag yang tersemat di dada kiri seragamnya.

Ngomong-ngomong soal seragamnya. Aduh, seragam itu jelek sekali, terdiri dari tiga warna primer, biru, merah dan kuning.

Tiga warna primer yang kuat dalam satu baju? Ah, itu benar-benar hal yang harus dihindari. Di bagian kanan tertera banyak logo provider GSM Nasional serta nama toko telepon seluler [aku menebaknya demikian, karena seperti nama-nama toko telepon seluler lainnya, 3 huruf belakang nama itu juga terdiri dari S, E dan L ‘-sel’] - aku menduga, itu adalah toko tempatnya bekerja sebagai pramuniaga.

Tak apa, walaupun mengenakan seragam jelek, celana jeans dan sepatu datar yang tak kalah jeleknya, ia tetap terlihat cemerlang kok. Ia memang Mentari, mentariku, di jam sembilan kurang lima belas sampai sembilan lewat lima belas dan meninggalkan sinarnya pada sisa hariku.

Sebut aku tolol, karena tidak berani mendekati terlebih dulu. Biarlah, masa bodoh, aku tetap setia menunggunya untuk menghampiriku, menyentuhku, membelaiku serta mencumbuku. Yang kuyakin, kalau ia tak kunjung juga mendekat di minggu ke tiga ini, aku tahu, ada sesuatu yang menghalanginya. Entah apa. Yang jelas ku kan sabar menunggu, sampai ia terlebih dulu mendekat dan meraihku.

Dan sangat yakin bahwa saat itu akan benar-benar terjadi, kami jodoh, ingat?

...

Continue reading "Penantian Jodoh" »

09 april 2007

Jatuh Cinta Pada Sahabat.

Apa yang kamu lakukan jika kamu sedang jatuh cinta? Kalau saya, jelaslah, berusaha memberi clue pada yang saya jatuhi cinta, buat apa coba jatuh cinta tapi membiarkan target tidak tahu perasaan saya?

Pernah jatuh cinta pada sahabat?

Saya pernah. Sedang jatuh cinta malah. Eh salah, selalu jatuh cinta terus dan terus pada Sahabat saya yang ini. Kadang saya bingung, kenapa selalu Dia dan Dia lagi yang ada dalam pikiran saya, sejak kecil.

Continue reading "Jatuh Cinta Pada Sahabat." »

29 mei 2007

Marco dan Tabitha.

Sekitar lima minggu yang lalu, Tabitha, menyampaikan berita ini dengan mata yang berbinar-binar dan wajah sumringah. Sebenarnya ini bukan berita yang mengejutkan - setidaknya buat saya. Kan selama tiga tahun ini, saya sudah menjadi sahabat baginya, tidak ada satu cerita pun yang terlewat.

Marco -abang saya- bermaksud melamarnya. Mereka akan menikah 6 bulan lagi. Sekali lagi, bukan hal yang mengejutkan, ketebak. Mereka sudah berpacaran selama tiga tahun. Yang mengejutkan justru kalau berita yang meluncur dari bibir mungil Tabitha adalah : mereka putus.

Iya, sih, waktu pertama kali Marco membawa Tabitha ke rumah untuk bertemu keluarga kami, sempat terlintas dalam benak saya bahwa hubungan mereka nggak akan bertahan lama.

Tabitha dan Marco berbeda. Bagai langit dan bumi. Abang saya bad boy. Agak liar. pemberontak. Ngeselin. Bikin pusing dan sejuta istilah lain yang saya rasa bisa mendeskripsikan bagaimana Marco itu. Sedangkan Tabitha adalah tipe perempuan rumahan yang manis dan penurut, sangat berbeda dengan mantan-mantan Marco yang sama liarnya dengan abangku.

Continue reading "Marco dan Tabitha." »

17 juni 2007

Dewi Semi Domestik

“Apa?” Nadira, kakakku, nyaris saja menyemburkan kembali Hot Caramel Latte yang baru disesapnya ketika aku menutup kalimat pendekku. Apa yang baru saja kukatakan pasti sangat mengejutkannya.
“Ya itu…” aku mengedikkan bahu.
“La? Kamu yakin akan keputusan kamu?” Nadira, kakakku mendelik.
“Yakin…” aku mengangguk sambil mengaduk Ice Vanilla Latte-ku dengan sedotan.
“Kamu gila…” ia meletakkan mugnya kembali ke atas meja.
“Mungkin..” Kuhempaskan punggung pada sandaran kursi.

Aku menebarkan pandangan ke seluruh penjuru O La La café Plaza Dago, tempat favorit Nadira untuk bertemu selain seluruh warung kopi yang memiliki fasilitas WiFi lainnya. Semua pengunjung tampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang mengobrol, ada yang sibuk browsing dengan laptop masing-masing menggunakan fasilitas wi-fi tempat ini. Di ujung sana ada yang membaca, di ujung situ ada yang sedang bermain ramal-ramalan telapak tangan. Macam-macam.

Continue reading "Dewi Semi Domestik" »

04 november 2007

PBS [Post Break-up Syndrome)

“Jadi, sekarang kenapa lagi?” tanyaku setelah selama sepuluh menit duduk di hadapan Kenny yang berwajah kusut tanpa bersuara. Somehow, aku sudah bisa menduga apa yang terjadi dengannya.

“Gue baru putus dengan Bismo.” Cetusnya perlahan.

Bukan hal yang aneh. Putus dengan pacar adalah cerita yang sangat sering kudengar dari bibir Kenny, sahabatku, sekaligus mantan pacarku.

“Yang mutusin siapa?” tanyaku, lagi-lagi, sebenarnya aku sudah bisa menduga.
“Gue.”

Dan dugaanku pun tepat.

“Kenapa lagi yang sekarang?”
“Musingin..” Kenny menjawab singkat sambil mengangkat bahu. Lalu ia mengambil laptop putih mutiara dari ransel, meletakkannya di atas meja, lalu menghidupkannya.
“Kebiasaan deh lo, kalo ada masalah dikit, pusing dikit, ribet dikit udahan. Nggak pake usaha buat ngertiin, diskusi atau kompromi dulu..” cetusku.
“Sutralah, Cal. Nggak usah bawel. Lo kayak nyokap gue deh, kalo ngomong kayak gitu.” Kenny mencibir.
“Okay. Sorry. Lah, terus – harusnya sekarang lo lega dong, lepas dari cowok yang musingin.”
“Nggak tau, gue tiba-tiba ngerasa kesepian dan sendiri aja. Geblek deh, kemarin-kemarin gue tuh selalu ngerasa kesiksa kalo denger hp gue bunyi, karena pasti itu dari Bismo yang marah-marah karena jealous nggak jelas, tapi sekarang, setelah telepon nggak pernah bunyi lagi – gue ngerasa kehilangan.” Kata Kenny, pandangannya tertuju pada layar monitor laptopnya.

Aku tersenyum-senyum geli sendiri.

“Cengar-cengir aja..” Kenny berseru ketus.
“Emang kapan sih lo putusnya?” tanyaku
“Dua minggu yang lalu.”
“Halah! Baru dua minggu!”
“Udah dua minggu! Bukan baru dua minggu…” Perempuan bertubuh mungil ini memajukan badan sehingga dadanya menyentuh tepian meja. Mata bulatnya semakin membola.

Aku semakin terkekeh geli.

Continue reading "PBS [Post Break-up Syndrome)" »

04 januari 2008

Dilarang Jatuh Cinta.

12. Tidak diperkenankan untuk memiliki hubungan (dan perasaan) yang bersifat personal dengan siapa pun selama masa satu tahun awal kontrak. Bagi yang sudah memiliki pasangan, diharuskan untuk setia pada pasangannya.


“Najis.”
“Ada apa?” Nadine, seorang perempuan berkebangsaan Jerman, mantan relawan tempat aku akan bekerja terlonjak. Ia menurunkan novel yang sedang dibacanya.
“This..” aku membalikkan lembaran kontrak yang harus kupelajari selama 24 jam dan menunjukkan bagian yang kalau disederhanakan berbunyi : dilarang jatuh cinta dan pacaran.
“Oh, itu.” Nadine yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini tersenyum simpul, ia merubah posisi tengkurap di atas tempat tidurnya menjadi posisi duduk.
“Aturan ini melanggar batas personal sekali ya? Saya nggak suka ini… “ Aku mendengus, lalu merebahkan diri di atas tempat tidurku.

Continue reading "Dilarang Jatuh Cinta." »

25 maart 2008

Next Destination : You

“Gue pengen ke Togian. Nyepi. Siapa tau gue jadi lebih baik. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.” Cetusku, ini adalah tujuan ke lima yang berbeda, yang telah kusebutkan dalam tiga puluh menit ini.
“Yakin bakal lebih baik kalau lo pergi-pergi?” Tanya Pay, pria yang baru kutemui Jumat lalu dalam perjalanan.
“Ya nggak juga sih,”
“Tuh kan?”

Aku nyengir. Lalu kami terdiam.

“Mungkin elo selama ini hidup dalam fase denial, Mi. Elo selalu bilang elo baik-baik aja, padahal enggak.” Seru Pay beberapa jenak kemudian.

Aku hanya bersandar pada tembok kamar kostnya sambil bertanya-tanya, kenapa aku sampai kehilangan libido untuk traveling? Tumben. Padahal passionku adalah menjelajah. Pay meledek bahwa aku sedang frigid to travel. Ini gara-gara saat aku menyambangi pantai yang indah, air terjun, padang rumput yang keren, aku hanya bisa menghela nafas sambil berkata “Oh yeah, well. Terus?” – tidak ada rasa meledak-ledak dalam hati, seperti biasanya.

Sumpah aneh. Yang kuinginkan hanya tidur. Bermalas-malasan. Bahkan ada saat di mana aku menyesal terbangun.

Aku hanya mencibir. Denial apa? Aku tidak pernah memungkiri apa pun.

Continue reading "Next Destination : You" »

06 april 2008

Menikmati Bayangan *

“Saya percaya, jika saya menampung dan merawat musafir seperti Nona sekarang, suatu saat nanti, ketika saya menjadi musafir, atau mungkin anak saya, atau cucu saya, atau orang-orang yang saya kasihi menjadi musafir, maka akan ada orang lain yang menampung dan merawat mereka…”

Itu adalah kalimat panjang yang keluar dari bibir hitam kemerahan (kupikir ia terlalu banyak makan siring pinang dan harus masuk rumah sakit ketergantungan sirih pinang) milik seorang laki-laki tua, kepala salah satu desa yang terdapat di kaki gunung Ile Mandiri, Larantuka, bertahun-tahun yang lalu.

Aku tersentuh. Walaupun apa yang dia bilang adalah hukum tabur tuai yang sering disebut-sebut dalam kegiatan religi (siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan atau kurang lebih begitulah), tapi saat itu, aku sangat tersentuh. Kalimatnya kemudian masuk ke dalam otakku. Tanpa sadar, aku tidak pernah berkeberatan menampung dan merawat musafir yang kebetulan bersilangan jalan denganku.

Dan terbukti, apa yang kutabur, kutuai sekarang. Selama lebih dari enam bulan aku di jalan, dengan ajaibnya, setiap berada dalam kesulitan, selalu ada orang-orang yang menampung dan merawatku.

Kemarin, pria gempal berkulit tembaga yang hobi curhat itu telah menampungku. Sebelumnya, entah sudah berapa kali orang-orang yang tak kukenal membantuku.

Sekarang, Prima. Salah seorang sepupu jauh. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ia menelepon saat aku baru menyalakan handphone, satu jam setelah mendarat di Bali dan berpikir keras bagaimana cara tinggal di Bali dengan budget seminim mungkin.

Prima, seorang perempuan Solo, berwajah eksotis, berkulit kecoklatan, berambut panjang lurus dan hitam. Ia menikah dengan Jérémie Bellanger, seorang penulis dari Prancis dan tinggal di Ubud.

Sebuah ketidak sengajaan? Entah.

Dan, mereka memiliki sebuah café mungil dengan fasilitas wifi, tepat saat aku perlu menghubungi Nad, untuk memberikan informasi terakhir tentang next destinationku.

Ketidaksengajaan lagi?

Continue reading "Menikmati Bayangan *" »

About Fiksi

This page contains an archive of all entries posted to blog.sepatumerah.net in the Fiksi category. They are listed from oldest to newest.

cerita visual is the previous category.

ga penting is the next category.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31