<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>sepatumerah.net</title>
	<atom:link href="http://blog.sepatumerah.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sepatumerah.net</link>
	<description></description>
	<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 08:34:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Salah Saya? Salah Pakaian Saya?</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2012/02/salah-saya-salah-pakaian-say/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2012/02/salah-saya-salah-pakaian-say/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 07:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[tak berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2629</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;.. Ia mengeluarkan pernyataan lain &#8216;Pakaian minim itu merangsang kaum Adam untuk melecehkan kita, kaum Hawa&#8230;.
Dua hari yang lalu, seusai menjalankan ritual jogging pagi, saya menjebakkan diri dalam &#8216;diskusi&#8217; sambil berdiri di depan sebuah supermarket. Iya, saya bilang &#8216;menjebakkan diri&#8217;, karena kalau dipikir-pikir, waktu itu sebenarnya saya bisa menghindar, tapi tokh alih-alih berlalu, saya malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="border: 1px solid black; padding: 8px; float: left; width: 40%; font-size: 1.5em; line-height: 1.2em; margin-top: 15px; margin-bottom: 15px; margin-right: 30px; background-color: whitesmoke; font-weight: bold;">&#8230;.. Ia mengeluarkan pernyataan lain &#8216;Pakaian minim itu merangsang kaum Adam untuk melecehkan kita, kaum Hawa&#8230;.</p>
<p>Dua hari yang lalu, seusai menjalankan ritual <em>jogging</em> pagi, saya menjebakkan diri dalam &#8216;diskusi&#8217; sambil berdiri di depan sebuah supermarket. Iya, saya bilang &#8216;menjebakkan diri&#8217;, karena kalau dipikir-pikir, waktu itu sebenarnya saya bisa menghindar, tapi tokh alih-alih berlalu, saya malah meladeni sang pencetus diskusi.</p>
<p>Waktu itu saya perlu membeli pembalut. Baiklah, ini informasi nggak penting; tapi ini alasan kenapa seusai <em>jogging</em>, masih keringetan dan masih bercelana pendek saya tidak langsung pulang.</p>
<p>Di supermarket, ada seorang perempuan berpakaian serba tertutup. Di tangannya terdapat setumpukan kertas. Ia memerhatikan saya, dari atas lalu ke bawah. Karena merasa diperhatikan, akhirnya saya pun &#8216;menangkap&#8217; tatapan matanya.</p>
<p>Nggak diduga, perempuan tersebut menghampiri saya. Ia menyerahkan selembar dari setumpukan kertas yang ada di tangannya. Ternyata itu selebaran. Ketika saya baca isinya, pada intinya adalah permohonan dukungan terhadap gerakan anti pakaian minim.</p>
<p>Saya kembalikan kertas tersebut sambil berkata &#8216;Nggak, Mbak. Terima kasih.&#8217;</p>
<p>Dan dari situlah &#8216;diskusi&#8217; kami berawal.</p>
<p>Ia mempertanyakan alasan saya menolak mendukung gerakan tersebut.</p>
<p>Yaaa, terus terang saya tidak pernah merasa menjadi orang yang anti pakaian minim. Ya, masa saya mendukung gerakan &#8216;anti&#8217; terhadap sesuatu yang saya tidak &#8216;anti&#8217; ?</p>
<p>Ketika saya kemukakan alasan tersebut, ia kemudian mengeluarkan satu pernyataan, yang menggelitik naluri <em>keminter</em> saya. :D</p>
<p>Menurutnya, gerakan anti pakaian minim ini bertujuan untuk melindungi perempuan dari pelecehan seksual.</p>
<p>Er, kata saya, itu statemen yang Jaka sembung makan lodeh, gak nyambung deh.</p>
<p><span id="more-2629"></span></p>
<p>Ketika saya tanyakan korelasi antara pakaian minim dan pelecehan seksual, ia kemudian mencontohkan beberapa kasus pemerkosaan yang terjadi belakangan ini.</p>
<p>Dan saya tanya &#8216;Memangnya korban-korban itu pakai pakaian minim semua?&#8217;</p>
<p>Bukannya menjawab pertanyaan saya, ia mengeluarkan pernyataan lain &#8216;Pakaian minim itu merangsang kaum Adam untuk melecehkan kita, kaum Hawa. Saya yakin jika semua kaum Hawa tidak berpakaian minim, pelecehan seksual tidak akan terjadi.&#8217;</p>
<p>Kening saya berkerut, teringat dengan beberapa peristiwa yang pernah saya dan kawan-kawan perempuan alami. Kami mengalami pelecehan seksual, padahal kami tidak memakai pakaian minim, bahkan kawan saya yang memakai jilbab pun pernah mengalami!</p>
<p>Kalau memang penyebab pelecehan seksual adalah pakaian, kenapa kasus-kasus ini bisa terjadi, coba?</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Dari dulu saya sama sekali tidak pernah setuju dengan pendapat bahwa penyebab pelecehan seksual (terhadap perempuan) adalah pakaian yang dikenakannya.Alasannya kok ya dangkal bener.</p>
<p>Pelecehan/kekerasan (seksual) itu terjadi karena adanya salah satu pihak (pelaku) yang merasa lebih superior daripada pihak lain (korban). Perasaan superior, atau &#8216;lebih&#8217;, membuat pelaku merasa boleh atau bisa melakukan apapun yang dikehendakinya.</p>
<p>Dan saya tidak melihatnya kasus pelecehan/kekerasaan (seksual) ini sebagai kasus antara laki-laki dan perempuan saja, tapi juga kasus orang dewasa terhadap anak-anak. Bos terhadap anak buahnya. Guru terhadap murid. Majikan terhadap pembantu rumah tangga dan banyak lagi. Selama pelaku memiliki perasaan superior terhadap korban dengan melakukan tindakan-tindakan semena-mena terhadap korban, itulah bentuk pelecehan/kekerasan (seksual).</p>
<p>Saya juga nggak ngerti kenapa ada orang yang merasa superior dari orang lain, padahal sama-sama manusia. Salah didik kayaknya.</p>
<p>Jadi, pakaian sama sekali nggak ngaruh. Ekstrimnya nih, kaum perempuan akan aman berbikini di tengah puluhan pria-pria, kalau tidak ada satu pria pun di sekelilingnya merasa superior dan boleh melakukan apa yang ia mau terhadap perempuan tersebut.</p>
<p>Oh, jangan bilang saya menafikan fakta bahwa baju minim tersebut provokatif ya? Nggak kok. Dari pengakuan beberapa teman laki-laki saya, ya memang ada pakaian, mimik, gesture dan gerakan-gerakan tertentu yang menggoda iman dan imin mereka. (hihi). Bahkan, berdasarkan pengakuan mereka, ada yang kemudian berpikir <em>sing mboten-mboten</em> gara-gara pakaian, mimik, gesture dan gerakan-gerakan tersebut.</p>
<p>Tapi ya, itu, selama pola berpikir mereka &#8216;benar&#8217;, alias tidak menganggap sang perempuan sebagai obyek atau sosok inferior yang boleh diapa-apain sesuka hati, ya pelecehan/kekerasan seksual itu tidak terjadi.</p>
<p>Lagian, biar ajalah, mau mikir yang enggak-enggak kayak apa juga, selama  apa yang mereka pikirkan tentang perempuan berpakaian minim, mimik, gesture dan gerakan-gerakan provokatif tersebut TETAP dalam pikiran mereka.</p>
<p>Ya pada intinya sih, bukannya saya nggak setuju akan upaya melindungi perempuan (dan siapa pun) dari pelecehan/kekerasan seksual, tapi kalau upaya-nya hanya berkutat soal baju, apa itu bukannya sama saja dengan buang garam ke laut, alias percuma?</p>
<p>Karena inti masalahnya bukan itu.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Saya dan perempuan tersebut beradu argumen cukup panjang dan agak melebar sih ya. Maklum, kalau diskusi pakai emosi (ihiy, diskusi pakai emosi - berima!) memang ujung-ujungnya suka bicara jadi ke sana kemari sih.</p>
<p>&#8216;Kalau kucing dikasih ikan, memangnya dia nolak?&#8217; mendadak ia berkata demikian, setelah saya berkeras, bahwa pakaian minim nggak ada hubungannya dengan pelecehan/kekerasan (seksual)</p>
<p>IIIIH! SAYA NGGAK SUKA BANGET ANALOGI ITUUUU! Itu analogi yang melecehkan manusia, tanpa pandang jenis kelamin.</p>
<p>Duh,  siapa pun yang mengamini dengan iman analogi kucing dan ikan, kalau  kaum laki-laki, berarti tanpa sadar menyetujui bahwa kaum-nya adalah  binatang, yang tidak bisa mengontrol perilaku. Lalu, kalau perempuan&#8230;.</p>
<p>&#8216;Saya sih ogah pakai analogi itu. Kalau kaum perempuan memakai analogi tersebut, berarti tanpa sadar, perempuan tersebut menyetujui, bahwa kaumnya adalah obyek,  korban atau mangsa&#8217; Kata saya.</p>
<p>Ia terdiam. Lama.</p>
<p>Dan saya pun merasa sudah waktunya saya pergi. Saya masuk ke dalam supermarket, melanjutkan niat yang tertunda tadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2012/02/salah-saya-salah-pakaian-say/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>52 Wednesdays. Patah Hati Yang Berujung Pameran.</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2012/01/52-wednesdays-patah-hati-yang-berujung-pameran/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2012/01/52-wednesdays-patah-hati-yang-berujung-pameran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 07:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>

		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2654</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, di bulan November tahun lalu, Lioni Beatrik ( @deliriumerotica) mengajak saya ketemuan. &#8220;Pengin ngobrol&#8221; - katanya. Maka berjanjianlah kami di satu Selasa sore yang cerah di Warung Ngebul.
Ternyata dia akan mengadakan pameran foto. 52 Foto Rex.
Oh, buat yang tidak tahu Rex, itu adalah salah satu karakter dari film animasi Toy Story, favoritnya Lioni.
Awalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, di bulan November tahun lalu, Lioni Beatrik ( @<a href="http://twitter.com/deliriumerotica">deliriumerotica</a>) mengajak saya ketemuan. &#8220;Pengin ngobrol&#8221; - katanya. Maka berjanjianlah kami di satu Selasa sore yang cerah di <a href="http://twitter.com/warungngebul">Warung Ngebul</a>.</p>
<p>Ternyata dia akan mengadakan pameran foto. 52 Foto Rex.</p>
<p>Oh, buat yang tidak tahu Rex, itu adalah salah satu karakter dari film animasi Toy Story, favoritnya Lioni.</p>
<p><div id="attachment_2655" class="wp-caption aligncenter" style="width: 292px"><img class="size-full wp-image-2655" title="rex" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2012/01/rex.jpg" alt="sumber gambar : mommyniri.com" width="282" height="300" /><p class="wp-caption-text">sumber gambar : mommyniri.com</p></div></p>
<p>Awalnya saya belum mengerti. Kenapa Rex?</p>
<p>Akhirnya keluarlah cerita tentang Alex. Seorang pria yang berhasil membuat Lioni jatuh cinta dan patah hati pada saat yang bersamaan.</p>
<p>Perasaan kangen yang muncul setelah patah hati memang <em>ngehe</em> banget. Hayo, ngaku deh. Bikin rungsing. Tapi Lioni punya caranya sendiri. Ia memotret boneka Rex ini dengan selembar <em>post-it</em> bertuliskan &#8216;I miss you&#8217;. Foto itu ia kirimkan melalui <em>e-mail</em> di satu hari Rabu, setahun yang lalu.</p>
<p>Ternyata, perasaan kangen tidak berhenti sampai di hari Rabu tersebut. Sejak saat itu, di setiap hari Rabu, untuk mengobati kekangenannya dengan sosok Alex ini,  Lioni memotret dan mengirimkan serial foto boneka Rex dalam berbagai  pose bercerita. Maksudnya hanya sekedar menyapa.</p>
<p>Ada 52 hari Rabu, dengan 52 foto Rex yang akan dipamerkan dalam  52Wednesdays, a photo exhibition by Lioni Beatrik.</p>
<p>Saya ternganga : 52 minggu? Ini anak gilaaaaa&#8230; :D</p>
<p>Satu sisi saya bilang gila, tapi satu sisi saya mengagumi ide dan cara Lioni. Oh, mungkin bagi yang mendengar cerita ini bakal berpikir bahwa apa yang dilakukan Lioni adalah bentuk teror.  Tapi, dari sana pembicaraan berlanjut; bahwa mengirimkan foto setiap hari Rabu ini menjadi semacam terapi-nya untuk mengobati kekangenan dan menyembuhkan patah hati.</p>
<p>Selaras dengan apa yang dituliskan oleh Irma Chantily, kurator pameran ini, bahwa <em>memikirkan foto seperti apa yang dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia (Lioni) bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain, selain perasaannya yang tak berbalas itu, Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya, Tiap hari ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan &#8216;cerita&#8217; Rex.</em></p>
<p>Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengobati patah hati dan perasaan-perasaan marah, kangen, kesal dan lain-lain yang menyertainya. Ada yang menenggelamkan diri dalam kesedihan, ada yang mendadak produktif menulis (ini saya sih), ada yang mendadak senang bersosialisasi di mana saja, ada yang mengikuti macam-macam kegiatan. Ada yang iris-iris nadi. #eh</p>
<p>Pameran ini adalah cara Lioni. Buat yang lagi patah hati sekarang, ini ada alternatif lain dari mengobati patah hati, bisa dicontoh, mungkin, daripada nangis-nangis menghabiskan tissue berkotak-kotak. :D</p>
<p>Caramu bagaimana?</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Oh, semalam saya dan partner mampir melihat pamerannya. Setelah selama sebelum pameran saya hanya mendengar &#8216;cerita verbal&#8217; dari visual foto-fotonya (Ada si Rex lagi kelindes mobil, ada si Rex di pantai, ada si Rex di Dekat Patung Pancoran dan seterusnya), akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, wujud dari foto-fotonya.</p>
<p>Bagus ya boook! :)</p>
<p>Semalam saya bilang pada Lioni, beberapa foto itu harus dibikin postcard. Soalnya keren.</p>
<p>Buat yang pengin lihat 52Wednesdays, a Photo Exhibition by Lioni Beatrik, bisa langsung datang ke CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung. Masih sampai tanggal 21 Januari 2012 ini.</p>
<p>Oh, selain berpameran, Lioni juga mengajak semua orang untuk<span style="text-decoration: line-through;"> curhat galau berjamaah</span> berbagi cerita tentang kehilangan dan patah hati, di sini : <a href="http://52wednesday.blogspot.com/">http://52wednesday.blogspot.com/</a>, siapa saja boleh ikutan, kirim saja ceritamu ke : <a href="mailto:lionibeatrix@gmail.com">lionibeatrix@gmail.com</a></p>
<p>Ih saya agak bego deh, lupa bawa kamera, jadi saya terpaksa memotret dengan kamera hp. Hasilnya gelap-gelap nggak jelas gitu deeh. :(</p>
<p style="text-align: center;">
<p><div id="attachment_2656" class="wp-caption aligncenter" style="width: 404px"><img class="size-full wp-image-2656 " title="liong" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2012/01/liong.jpg" alt="Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)" width="394" height="295" /><p class="wp-caption-text">Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)</p></div></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2012/01/52-wednesdays-patah-hati-yang-berujung-pameran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>(Melewatkan) Perayaan Persahabatan</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2012/01/melewatkan-perayaan-persahabatan/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2012/01/melewatkan-perayaan-persahabatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 14:37:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2639</guid>
		<description><![CDATA[
Yang mana yang terbaik. Kalau mbak Okke ngerasa nggak damai pergi, ya jangan.
Itu bunyi SMS yang saya terima di suatu siang beberapa hari yang lalu. Saya menghela napas, berkali-kali. 
Belum sempat saya membalas, muncul lagi SMS lain, dari orang lain.
Jangan pergi. Kalau hati lo udah ngerasa nggak enak, bisa jadi itu pertanda. Jangan sampai lo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/8LSylJ9tb9Y" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<blockquote><p>Yang mana yang terbaik. Kalau mbak Okke ngerasa nggak damai pergi, ya jangan.</p></blockquote>
<p>Itu bunyi SMS yang saya terima di suatu siang beberapa hari yang lalu. Saya menghela napas, berkali-kali. </p>
<p>Belum sempat saya membalas, muncul lagi SMS lain, dari orang lain.</p>
<blockquote><p>Jangan pergi. Kalau hati lo udah ngerasa nggak enak, bisa jadi itu pertanda. Jangan sampai lo nyesel atau kenapa-kenapa.</p></blockquote>
<p>Ke-dua pesan tersebut datang dari dua sahabat saya. Rencananya kami berjanji bertemu di hari Selasa kemarin, bersama satu orang lagi yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pertemuan berempat seperti ini adalah peristiwa langka. Bisa setahun sekali saja syukur.Kali ini saja susah sekali menentukan jadwal &#8212; salah satu dari kami harus kembali ke Indonesia Timur, sehari setelah pertemuan ini.</p>
<p>Dan saya sangat menantikannya. Kami sangat menantikannya.</p>
<p>Namun, sehari sebelum perjumpaan kami, ibu saya jatuh sakit. Beliau tahu saya akan pergi, untuk bertemu mereka; di tengah sakitnya beliau bilang : &#8216;Pergilah! Kapan lagi?&#8217;. Iya, kapan lagi? Setahun lagi, dua tahun lagi, tiga tahun lagi? Mungkin. Tapi ada rasa mengganjal di hati, yang memberatkan kaki saya untuk melangkah.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Saya percaya pada proses dalam segala hal, termasuk soal persahabatan. Seseorang mungkin bisa langsung merasa &#8216;klik&#8217; dengan orang lain dalam waktu singkat, tapi yang saya tahu, akan selalu ada friksi, ujian persahabatan adalah, apakah setelah melewati segala bentuk gesekan, kecil dan besar, kita masih terus bertahan?</p>
<p>Berawal dari krisis identitas di masa muda (ha!) dan terus menerus mempertanyakan &#8216;Tujuan hidup apa sih? Masa iya cuma lahir-sekolah-lulus-kuliah-kerja-kawin dan beranak?&#8217;, kami sama-sama berakhir di satu organisasi nirlaba yang bergerak di bidang perdamaian, dan bekerja di daerah-daerah pasca konflik dan bencana. Satu keputusan besar yang tidak mudah dan tentunya mendapat banyak tentangan dari orang sekitar.</p>
<p>Tapi <em>passion </em>yang sama tidak berarti membuat persahabatan kami berjalan dengan mulus-mulus saja, banyak banget friksi yang terjadi. Apalagi kami berada di situasi yang tidak nyaman, sehingga sangat memungkinkan terjadi saat-saat masing-masing dari kami &#8216;keluar asli&#8217;nya, dan melukai yang lain.</p>
<p>Teori saya sih, salah satu parameter cocok atau tidaknya seseorang dengan orang yang lain &#8212; selain periode berinteraksi yang intensif dan lama &#8212; juga lokasi yang tidak menyamankan. Kalau bisa bertahan, ke depannya pasti akan baik-baik saja menghadapi apapun.</p>
<p>Pada akhirnya kami bertahan. Menghadapi konflik intern alias satu sama lain. Menghadapi konflik beneran konflik gara-gara daerah yang tak aman. Menikmati hari-hari terpapar sengat matahari. Pantai. Hidup semi nomaden. Mengajar. Berbagi dengan sahabat-sahabat Timur yang luar biasa. Betah. Tidak mau berakhir.</p>
<p>Tapi kami sadar, kami tidak mungkin selamanya seperti ini; satu saat kami harus berhenti. Entah karena umur, atau hal-hal lain. Dan di satu malam gila di loteng rumah sewaan kami, sempat tercetus, kami harus menyempatkan seperti ini, setidaknya setahun sekali, pergi ke daerah berpantai.</p>
<p>Dan memang, kegilaan masa muda di jalan tersebut harus berakhir dengan alasan yang bermacam-macam. Namun persahabatan kami tidak berakhir, tentunya. Walaupun bertemu setahun sekali di daerah berpantai itu semacam ambisius juga kali yaaaa :))</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>Saya memutuskan untuk tidak menemui mereka. Saya cinta mereka, saya mencintai ibu saya. Tapi, hidup itu selalu soal memilih, kan? </p>
<p>Saya berharap, akan ada perayaan lain, di lain waktu. Di mana kami bisa pergi ke tempat berpantai, sejenak &#8216;mengulang&#8217; kegilaan masa muda &#8212; dengan cara yang lebih bijaksana.</p>
<p>Hey, kalian! Kangen kalian! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2012/01/melewatkan-perayaan-persahabatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Ini, Satu, Dua, Tiga, Empat Tahun Yang Lalu.</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/12/hari-ini-satudua-tiga-empat-tahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/12/hari-ini-satudua-tiga-empat-tahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 16:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2631</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini setahun yang lalu.
Hari ini, dua tahun yang lalu.
Hari ini, tiga tahun yang lalu.
Hari ini, empat tahun yang lalu.
Kamu tetap hadiah natal buat saya :)
Terima kasih, karena sudah bertahan selama empat tahun.
(err, &#8216;bertahan&#8217;? Kok kesannya menderita banget ya, bareng saya? :D)


Eh, Selamat natal buat yang merayakannya.
Selamat liburan, semua! ;-)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Hari ini setahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: center;">Hari ini, dua tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: center;">Hari ini, tiga tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: center;">Hari ini, empat tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: center;">Kamu tetap hadiah natal buat saya :)</p>
<p style="text-align: center;">Terima kasih, karena sudah bertahan selama empat tahun.</p>
<p style="text-align: center;">(<em>err, &#8216;bertahan&#8217;? Kok kesannya menderita banget ya, bareng saya</em>? :D)</p>
<p><div id="attachment_2634" class="wp-caption aligncenter" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-2634" title="youme1" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2011/12/youme1.jpg" alt="youme1" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Kamu dan Saya. Di Satu Lampu Merah. Wih, betis saya besar! Salah sudut pengambilan gambar ituuu :D *gapenting*</p></div></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">Eh, Selamat natal buat yang merayakannya.</p>
<p style="text-align: center;">Selamat liburan, semua! ;-)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/12/hari-ini-satudua-tiga-empat-tahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Yang Menyentuh Hati</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/11/hadiah-yang-menyentuh-hati/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/11/hadiah-yang-menyentuh-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 04:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2620</guid>
		<description><![CDATA[Oh, memberi sesuatu ‘dari hati’ itu terjadi hanya ketika kita sayang pada orang yang akan diberi hadiah.Ya iya,dong, kalau tidak sayang, ya ngapain repot-repot.
Nggak tau ya yang lain, tapi kalau saya sih nggak suka hadiah yang terlalu mahal dari toko. Kenapa? Karena saya sering merasa ‘dibeli’ ketika menerimanya; kadang-kadang kalau ada yang memberi saya hadiah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="border: 1px solid black; padding: 8px; float: left; width: 40%; font-size: 1.5em; line-height: 1.2em; margin-top: 15px; margin-bottom: 15px; margin-right: 30px; background-color: whitesmoke; font-weight: bold;"><strong>Oh, memberi sesuatu ‘dari hati’ itu terjadi hanya ketika kita sayang pada orang yang akan diberi hadiah.Ya iya,dong, kalau tidak sayang, ya ngapain repot-repot.</strong></p>
<p>Nggak tau ya yang lain, tapi kalau saya sih nggak suka hadiah yang terlalu mahal dari toko. Kenapa? Karena saya sering merasa ‘dibeli’ ketika menerimanya; kadang-kadang kalau ada yang memberi saya hadiah terlalu mahal, saya sering berpikir ‘Ni orang ada maksud apa sih?’.  Ya, sebut saja saya berpikiran negatif.</p>
<p>Tapi saya suka kok menerima hadiah. Siapa sih yang enggak?</p>
<p>Hadiah-hadiah yang ‘menyentuh’ hati saya adalah hadiah yang diserahkan dengan hati; jadi sang pemberi mencurahkan seluruh usaha dan perhatiannya untuk memberi hadiah tersebut.</p>
<p>Hadiah-hadiah <em>handmade</em>, sering bikin saya terharu, karena artinya, sang pemberi rela menyisihkan waktu untuk membuat hadiah tersebut.</p>
<p>Hadiah-hadiah barang yang saya butuhkan, juga menyentuh hati saya, apalagi kalau sebelumnya saya nggak pernah bilang kalau saya butuh barang tersebut. Artinya, sang pemberi rela meluangkan waktu untuk mencari tahu.</p>
<p>Hadiah-hadiah barang yang saya inginkan/butuhkan yang susah dicari. Iye, kadang-kadang saya suka nganeh-nganehi pengin barang yang susah dicari. Kalau sampai ada orang yang memberikan barang yang susah dicari tersebut, bisa-bisa saya <em>mbrebes mili</em>, soalnya membayangkan, betapa ribetnya sang pemberi memburu barang tersebut. Ya memang saya kadang-kadang cengeng sih :D</p>
<p>Dan, beneran, barang-barang yang diberi dengan hati itu ‘energi’-nya beda. Saya bisa merasakannya (atau mungkin ini saya yang drama). Ketika menerimanya, saya sering merasa merinding.</p>
<p>Kenapa saya menulis tentang hadiah? Karena kemarin, saya baru dapat hadiah dari <a href="http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=1680376489">Yanah </a>yang dikirimkan ke kantor saya. Saya mengenal Yanah ketika ia mengirimkan pesan maya yang mengomentari salah satu novel saya. Sejak saat itu, beberapa kali kami bertukar sapa di kanal cakap maya.</p>
<p>Beberapa hari sebelumnya Yanah memang sempat sih mengirimkan pesan via Facebook, menanyakan alamat. Ketika saya membalas, ia bilang ‘Nanti kalau sudah jadi, saya kirim ya Mbak…’</p>
<p>Heh? Kalau sudah jadi?</p>
<p>Saya penasaran, berarti Yanah membuat sendiri hadiahnya dong? Dan, ketika bingkisan saya buka…..</p>
<p><span id="more-2620"></span></p>
<p><div id="attachment_2621" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2621" title="img_1458" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2011/11/img_1458-300x225.jpg" alt="img_1458" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Hadiah dari Yanah</p></div></p>
<p>Di suratnya, Yanah bilang, ia baru belajar mengkristik (tusuk silang). Baru belajar dan rela memberikan <em>project</em>-nya buat saya?</p>
<p>Terima kasih,ya Yanah. Hadiah dari kamu beneran menyentuh hati.:)</p>
<p>Oh, memberi sesuatu ‘dari hati’ itu terjadi hanya ketika kita sayang pada orang yang akan diberi hadiah.Ya iya,dong, kalau tidak sayang, ya ngapain repot-repot.</p>
<p>Kerasa banget, kan, kalau kita mau memberi hadiah untuk orang yang disayangi, dengan membeli hadiah atas nama formalitas atau balas memberi?</p>
<p>Saat akan memberi hadiah untuk orang yang disayang, kita pasti meluangkan waktu untuk membuatnya, dan kerap berpikir, orang ini suka nggak ya sama hadiah ini? Kalaupun tidak membuat, mungkin saja dibutuhkan waktu berminggu-minggu sampai menemukan hadiah yang tepat – mulai dari survey apa yang diinginkan, mencari barang tersebut di segala tempat, lalu ketika ketemu barang yang diinginkan, eh masih juga mikir ‘Ih suka nggak ya dia? Seneng nggak ya dia?’ – beli-nggak-beli-nggak. Cari yang lain, beli-nggak-beli-nggak. Plin plan abis! :))</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Karena kita pengin orang yang menerima senang.</p>
<p>Dan menerima sesuatu yang diberi dengan hati itu terus terang membuat seseorang merasa disayang. ;-)</p>
<p>Aciyeeeeeeeh.</p>
<p>Oh ini salah satu hadiah dari hati yang saya beri buat <a href="http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=100000932828199">partner</a>, di ulangtahunnya yang ke 32. Okay, silahkan ngetawain, dan emang ini dodol banget, saya aja pas bikinnya ketawa-ketawa, buta alat musik, tapi nekad. Eh, tapi itu saya niat loh bikinnya! :))</p>
<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/Sy8ffJbiAy4" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Anyway, hadiah seperti apa sih yang bisa menyentuh hati kamu? Dan kamu pernah kasih sesuatu dari hati, untuk seseorang yang kamu sayang? Apa itu? :)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/11/hadiah-yang-menyentuh-hati/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan, Hiram Sidharta</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/11/selamat-jalan-hiram-sidharta/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/11/selamat-jalan-hiram-sidharta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 16:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2614</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi saya mendapat pesan pendek dari Ella, sahabat saya, yang mengabarkan bahwa Hiram Sidharta, yang menyebut dirinya SicSid, salah seorang mantan mahasiswa kami meninggal dunia, Sabtu malam. Antara percaya dan tidak percaya.
Malam ini, saya mendaratkan diri di profile Facebook-nya.Membaca ucapan-ucapan kawan-kawan di wall-nya, keterkejutan mereka, kesedihan mereka, rencana-rencana yang belum kesampaian.
Dan pada saat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi pagi saya mendapat pesan pendek dari <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=705523692#!/vrouwenmetal">Ella</a>, sahabat saya, yang mengabarkan bahwa <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=705523692">Hiram Sidharta</a>, yang menyebut dirinya <a href="http://sicsid.blogsome.com/">SicSid</a>, salah seorang mantan mahasiswa kami meninggal dunia, Sabtu malam. Antara percaya dan tidak percaya.</p>
<p>Malam ini, saya mendaratkan diri di profile Facebook-nya.Membaca ucapan-ucapan kawan-kawan di <em>wall</em>-nya, keterkejutan mereka, kesedihan mereka, rencana-rencana yang belum kesampaian.</p>
<p>Dan pada saat yang bersamaan, lagu &#8216;Gone Too Soon&#8217;-nya Michael Jackson terdengar dari MP3 Player  .</p>
<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/IcNamirwTaY" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p style="text-align: center;"><em>Like a comet<br />
Blazing &#8216;cross the evening sky<br />
Gone too soon</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Like a rainbow<br />
Fading in the twinkling of an eye<br />
Gone too soon</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Shiny and sparkly<br />
And splendidly bright<br />
Here one day<br />
Gone one night</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Like the loss of sunlight<br />
On a cloudy afternoon<br />
Gone too soon</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Like a castle<br />
Built upon a sandy beach<br />
Gone too soon</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Like a perfect flower<br />
That is just beyond your reach<br />
Gone too soon</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Born to amuse, to inspire, to delight<br />
Here one day<br />
Gone one night</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Like a sunset<br />
Dying with the rising of the moon<br />
Gone too soon<br />
Gone too soon</em></p>
<p>Rasanya seperti ada yang lepas dari rongga dada saya. Lamanya hidup memang tidak ada yang bisa menebak. Sepertinya memang kita semua harus selalu siap, ditinggalkan dan meninggalkan.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-2615" title="383950_2551143427603_1524409039_2749676_883931862_n" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2011/11/383950_2551143427603_1524409039_2749676_883931862_n-221x300.jpg" alt="383950_2551143427603_1524409039_2749676_883931862_n" width="221" height="300" /></p>
<p>Selamat Jalan, Hiram Sidharta &#8212; SicSid! Kamu pergi terlalu cepat, terima kasih karena pernah bersilangan jalan dengan kami semua, walau cuma sekejap. Kalau ketemu lagi, mungkin <a href="http://blog.sepatumerah.net/2010/08/penantian-jodoh-dan-love-story/">kita bisa bikin film lagi</a>. :)
</p>
<p style="text-align: right;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/11/selamat-jalan-hiram-sidharta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Daripada Nantinya Susah.</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/daripada-nantinya-susah/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/daripada-nantinya-susah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 13:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2600</guid>
		<description><![CDATA[ Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar buruk. Suami kawan saya meninggal mendadak. Umurnya masih muda, 33 tahun, ia lebih muda 6 bulan dari saya. Saat melayat, saya mendengar cerita seorang kawan yang lain, yang menemani suami kawan saya sampai ia meninggal. Katanya, ia meninggal karena sakit, yang disebabkan pola hidup yang nggak beres.
Jujur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w :WordDocument> </w><w :View>Normal</w> <w :Zoom>0</w> <w :TrackMoves /> <w :TrackFormatting /> <w :DoNotShowRevisions /> <w :DoNotPrintRevisions /> <w :DoNotShowMarkup /> <w :DoNotShowComments /> <w :DoNotShowInsertionsAndDeletions /> <w :DoNotShowPropertyChanges /> <w :PunctuationKerning /> <w :ValidateAgainstSchemas /> <w :SaveIfXMLInvalid>false</w> <w :IgnoreMixedContent>false</w> <w :AlwaysShowPlaceholderText>false</w> <w :DoNotPromoteQF /> <w :LidThemeOther>EN-US</w> <w :LidThemeAsian>X-NONE</w> <w :LidThemeComplexScript>X-NONE</w> <w :Compatibility> <w :BreakWrappedTables /> <w :SnapToGridInCell /> <w :WrapTextWithPunct /> <w :UseAsianBreakRules /> <w :DontGrowAutofit /> <w :SplitPgBreakAndParaMark /> <w :DontVertAlignCellWithSp /> <w :DontBreakConstrainedForcedTables /> <w :DontVertAlignInTxbx /> <w :Word11KerningPairs /> <w :CachedColBalance /> </w> <w :BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w> <m :mathPr> <m :mathFont m:val="Cambria Math" /> <m :brkBin m:val="before" /> <m :brkBinSub m:val=" " /> <m :smallFrac m:val="off" /> <m :dispDef /> <m :lMargin m:val="0" /> <m :rMargin m:val="0" /> <m :defJc m:val="centerGroup" /> <m :wrapIndent m:val="1440" /> <m :intLim m:val="subSup" /> <m :naryLim m:val="undOvr" /> </m> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w :LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w :LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w :LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w :LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w> </xml>< ![endif]--><!--[if gte mso 10]> <mce :style>< !<br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-priority:99;<br />
mso-style-qformat:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
mso-para-margin-top:0in;<br />
mso-para-margin-right:0in;<br />
mso-para-margin-bottom:10.0pt;<br />
mso-para-margin-left:0in;<br />
line-height:115%;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:11.0pt;<br />
font-family:"Calibri","sans-serif";<br />
mso-ascii-font-family:Calibri;<br />
mso-ascii-theme-font:minor-latin;<br />
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";<br />
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;<br />
mso-hansi-font-family:Calibri;<br />
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}<br />
--> Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar buruk. <a href="http://blog.sepatumerah.net/2011/08/selagi-masih-ada/">Suami kawan saya meninggal mendadak</a>. Umurnya masih muda, 33 tahun, ia lebih muda 6 bulan dari saya. Saat melayat, saya mendengar cerita seorang kawan yang lain, yang menemani suami kawan saya sampai ia meninggal. Katanya, ia meninggal karena sakit, yang disebabkan pola hidup yang nggak beres.</p>
<p class="MsoNormal">Jujur saja, itu sempat menimbulkan rasa takut dalam diri saya. Iya, pola hidup saya sembarangan banget; olahraga jarang &#8212; oke, ngaku deh, tidak pernah. Tidur selalu lewat tengah malam, bahkan terkadang tidak tidur. Pola makan kacau, empat sehat lima sempurna yang dipelajari semasa SD menjadi hanya teori bagi saya.</p>
<p class="MsoNormal">Saat mendengar cerita tersebut, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah olahraga.</p>
<p class="MsoNormal">Saya memutuskan untuk <em>jogging</em>. Awalnya memang malas, tapi ketakutan rupanya tanpa sadar telah menjadi motivasi bagi saya untuk memaksakan diri <em>jogging </em>tiap sore jelang maghrib seusai beraktivitas harian ( tentu saja karena saya tidak suka bangun pagi. :D)</p>
<p class="MsoNormal">Berhasil. Selama 3 bulan, 4x seminggu saya rutin jogging,</p>
<p class="MsoNormal">Bagi saya saat itu, <em>jogging </em>rutin adalah prestasi. Dari yang olahraganya hanya olahraga jari-jemari (<em>twitteran</em>, gitu maksudnya), ke jogging, Keren dong ya?</p>
<p class="MsoNormal">Saya pun merasa menjadi manusia-paling-sehat-sedunia, biarpun pola makan masih tetap kacau; tapi saya berpikir, kalau sudah jogging, ya sudah sehat. Bahkan saya sempat bertingkah bak anggota MLM <em>Jogging </em>yang mencari <em>downline</em>. Iya, setiap bertemu dengan teman, saya selalu mengajak mereka untuk berolahraga – <em>jogging</em>, tentunya.</p>
<p class="MsoNormal">Cuma, kebelaguan saya terhenti. Di satu sore sekitar sebulan yang lalu, saat saya sedang bersiap untuk <em>jogging</em>, mendadak saya merasa kedua lutut saya nyeri luar biasa. Waktu itu tetap saya paksakan untuk berlari dengan pemikiran, mungkin ini efek belum biasa. Hasilnya, di tengah jalan, lutut saya semakin nyeri. Terpincang-pincang saya pulang. Nyeri itu tidak berkurang, jangankan berlari, bahkan berjalan pun susah. Saya berhenti <em>jogging </em>selama nyaris dua minggu, berharap rasa nyeri berkurang.</p>
<p class="MsoNormal">Minggu ketiga saya menyerah. Saya ke dokter keluarga.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-2600"></span></p>
<p class="MsoNormal">Dokter memeriksa lutut saya dengan seksama. Ia melarang saya untuk melakukan olahraga <a href="http://exercise.about.com/od/cardioworkouts/g/highimpact.htm"><em>high impact </em></a>– saya disarankan untuk jalan kaki, atau berenang. Beliau memberi saya obat penghilang rasa nyeri dan menyarankan saya untuk memperbanyak asupan kalsium juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">…</p>
<p class="MsoNormal">Tanggal 16 Oktober, saya janjian bertemu dengan kawan saya yang berulang tahun. Kami memutuskan untuk ngupi cantik di warung kopi kapitalis yang terdapat di sebuah mal besar di Bandung. Mal sangat ramai – kami datang bertepatan dengan sebuah event bernama #ScanTheNation yang diselenggarakan oleh Anlene. Di event ini, para pengunjung diberi kesempatan untuk memeriksakan kesehatan tulangnya secara gratis.</p>
<p class="MsoNormal">Terdorong oleh nyeri lutut yang saya alami (dan kata kunci gratis deh tentunya), tanpa ragu, saya pun memasuki <em>booth</em> Anlene dan memeriksakan tulang saya. Hasil <em>bone scan density</em> yang saya dapatkan cukup melegakan; katanya risiko saya untuk terkena Osteoporosis rendah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">
<p><div id="attachment_2601" class="wp-caption aligncenter" style="width: 305px"><img class="size-full wp-image-2601 " title="bonedensity" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2011/10/bonedensity.jpg" alt="Bone Scan Density" width="295" height="394" /><p class="wp-caption-text">Bone Scan Density</p></div></p>
<p class="MsoNormal">Di sana saya mendapatkan banyak informasi dari petugas;<span> </span>terutama soal tips untuk menjaga kesehatan tulang :</p>
<ul>
<li>Penuhi kebutuhan kalsium harian dan nutrisi tulang penting lainnya. Asupan kalsium ideal/hari adalah 1000 - 1200 mg.</li>
<li>Hindari kebiasaan merokok, kurangi konsumsi kopi, minuman beralkohol/bir serta garam/makanan asin.</li>
<li>Lakukan olahraga menggunakan beban secara teratur minimal 3x/minggu, masing-masing 30 menit. Misal, berjalan kaki 10000 langkah per hari.</li>
<li>Lakukan pemeriksaan kesehatan tulang secara teratur per tahun.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">Selesai periksa, saya baru menyadari bahwa di <em>booth </em>Anlene juga tersedia Anlene Calcimeter; yakni pemeriksaan asupan kalsium harian. Penasaran, saya pun menjajalnya. Menurut calcimeter, asupan kalsium harian saya 859 mg. Jauh dari jumlah ideal. Selain memang kurang mengkonsumsi makanan yang kaya kalsium, ada beberapa faktor yang ambil peran dalam menghalangi penyerapan kalsium ke dalam tulang saya : minuman bersoda, makanan asin dan merokok.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">
<p><div id="attachment_2602" class="wp-caption aligncenter" style="width: 404px"><img class="size-full wp-image-2602 " title="calci" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2011/10/calci.jpg" alt="Calcimeter" width="394" height="295" /><p class="wp-caption-text">Calcimeter</p></div></p>
<p class="MsoNormal">Ups.</p>
<p class="MsoNormal">Saat saya melakukan serangkaian tes di <em>booth </em>Anlene, lutut saya belum pulih benar, rasa nyerinya mengganggu aktivitas.Ya tapi saya masih (agak) cuek, paling kesal sendiri kalau susah menekuk lutut. Nggak kenapa-kenapa lah, ntar juga sembuh, itu yang saya pikir.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi begitu mendengar banyak penjelasan tentang kesehatan tulang dan apa jadinya kalau saya terkena osteoporosis, saya jadi ngeri sendiri, jangan-jangan nantinya akan semakin parah dan saya…. Tidak bisa melakukan aktivitas yang kini saya lakukan dan saya cintai? Saya bergidik sendiri ketika membayangkan saya tidak mampu lagi berdiri di depan kelas untuk mengajar, tidak mampu untuk jalan-jalan, tidak mampu ngapa-ngapain?</p>
<p class="MsoNormal">Sepulangnya dari sana, saya mulai mencari tahu banyak informasi tentang Osteoporosis; sebuah penyakit yang saya kira hanya bisa menyerang orang lanjut usia saja. Dan saya salah dengan sukses, karena<a href="http://www.tulangsendisehat.com/tips.php?id=14"> Osteoporosis justru menyerang generasi muda, terutama perempuan</a>.</p>
<p class="MsoNormal">Informasi-informasi mengenai kesehatan tulang dan sendi <span> </span>lainnya saya dapatkan dengan lengkap dalam bentuk artikel yang asyik dibaca di <a href="http://www.tulangsendisehat.com/">http://www.tulangsendisehat.com</a> . Dari <a href="http://www.tulangsendisehat.com/tips.php?id=13">makanan untuk tulang sehat dan kuat</a> , <a href="http://www.tulangsendisehat.com/tips.php?id=12">guna <em>stretching </em>dan pemanasan sebelum berolahraga</a>, <a href="http://www.tulangsendisehat.com/tips.php?id=4">gunanya terpapar sinar matahari pagi </a>dan masih banyak lagi.</p>
<p class="MsoNormal">Beneran saya nggak mau jadi susah beraktivitas gara-gara nyeri lutut yang saya alami, jadi selain berolahraga low impact, saya pun mulai menjaga asupan kalsium harian saya. Yang tadinya saya cuek langsung jogging, sekarang saya menyempatkan diri untuk pemanasan dan <em>stretching</em>, yang tadinya berolahraga saat matahari nyaris tenggelam, saya pindah waktunya jadi pagi.</p>
<p class="MsoNormal">Well, sekarang (untungnya) nyeri lutut saya semakin berkurang, sudah beberapa hari ini saya mulai jogging lagi, walau pelan-pelan.Yang jelas, <em>lesson learned</em> : untuk hidup sehat, olahraga saja tidak cukup, harus diimbangi dengan pengaturan pola makan dan pola hidup.</p>
<p class="MsoNormal">Duh, jangaaan deh sampai Osteoporosis (atau terkena penyakit-penyakit lain). Daripada nantinya susah, mending mencegah, kan? :)</p>
<p class="MsoNormal">Oh ya, untuk Surabaya, Bali, Balikpapan dan Makassar, siap-siap ya, Scan The Nation bakal hadir juga bulan November- Desember :)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-2603" title="anl" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2011/10/anl.jpg" alt="anl" width="360" height="376" /></p>
<p></mce></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/daripada-nantinya-susah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fokeus dong! Fokeus!</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/fokeus-dong-fokeus/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/fokeus-dong-fokeus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 13:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<category><![CDATA[dari Twitter]]></category>

		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2590</guid>
		<description><![CDATA[&#8230;katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.
Siang itu saya terpaksa mengantri untuk mengambil uang di butik ATM di sebuah mal. Di depan saya terdapat seorang ibu dan anaknya yang cerewet. Antrian cukup panjang dan tidak maju-maju, tampaknya  orang yang sedang di dalam bilik ATM sedang  sibuk membayar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="border: 1px solid black; padding: 8px; float: left; width: 40%; font-size: 1.5em; line-height: 1.2em; margin-top: 15px; margin-bottom: 15px; margin-right: 30px; background-color: whitesmoke; font-weight: bold;"><strong>&#8230;katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.</strong></p>
<p>Siang itu saya terpaksa mengantri untuk mengambil uang di butik ATM di sebuah mal. Di depan saya terdapat seorang ibu dan anaknya yang cerewet. Antrian cukup panjang dan tidak maju-maju, tampaknya  orang yang sedang di dalam bilik ATM sedang  sibuk membayar seluruh tagihannya dan mungkin tagihan bapak, ibu, nenek, kakek, bude, pakde dan lain-lain. Soalnya lama bianget. Lebih lama dari &#8216;banget&#8217;.</p>
<p>Seperti layaknya anak-anak kecil lain, si anak sibuk bertanya-tanya &#8216;Kok ngantri, Bunda?&#8217;,'Nanti kartunya dimasukin terus uangnya keluar ya,Bunda?&#8217;,'Di dalem mesinnya ada orang, Bunda?&#8217; dan sejuta pertanyaan lain. Sang Bunda hanya menjawab pertanyaan bertubi-tubi tersebut dengan &#8216;Hm&#8217;,'He-eh&#8217;, &#8216;Iya&#8217; dan  - ia tampak asyik dengan telepon genggamnya. Namanya anak kecil, ya tentu saja pertanyaan tak berhenti sampai di situ.</p>
<p>Jawaban finalnya &#8216;Ssst, ah. berisik!&#8217;. Dan ia terus asyik dengan telepon genggamnya.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Suatu hari, sekitar seminggu yang lalu, saya membaca kicauannya <a href="http://twitter.com/benzbara">@benzbara</a> di twitter, saya lupa isi tepatnya seperti apa, pokoknya intinya, <a href="http://twitter.com/benzbara">@benzbara</a> protes dengan tuduhan orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang aktif di media sosial itu tidak punya kehidupan sosial di dunia nyata. Karena saya tidak pernah benar-benar mengenal orang yang saya &#8216;temui&#8217; di dunia maya, ya saya nggak tau juga ya, apa memang benar demikian atau nggak. Lah sama orang yang benar-benar ketemu di dunia nyata aja kita suka salah penilaian, gimana sama yang nggak kenal, nggak pernah sering-sering berinteraksi di luar teks?</p>
<p>Dan saya pun membalas tweet-nya <a href="http://twitter.com/benzbara">@benzbara</a> :  <strong>mungkin bukan nggak punya kehidupan sosial, tapi kalau lagi aktif di dunia maya, dari yg gw perhatiin sih, jadi kurang fokus sama kehidupan nyata.</strong></p>
<p>Pendapat saya memang tidak ditanggapi oleh @benzbara, tapi disambar oleh orang lain, katanya : <strong>Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.</strong></p>
<p>Saya pribadi nggak pernah percaya dengan keterampilan <em>multitasking</em>. Sepiawai-piawai-nya seseorang melakukan banyak hal secara bersamaan, tapi pasti perhatiannya ke banyak hal tersebut tidak maksimal. Ke sana setengah-setengah, ke sini setengah-setengah. Serba nanggung.</p>
<p>Saya pernah memerhatikan seseorang yang memang nggak bisa lepas dari alat telekomunikasi canggihnya. Kamu juga pernah dong ya? Hari gini masa nggak pernah? Perhatikan saja bagaimana orang tersebut memberi respon, saat ia berinteraksi dengan telepon genggam dan saat ia melepas telepon genggamnya.</p>
<p>&#8220;Oh ya? Trus, trus? Trus?&#8221; ini kurang lebih respon saat ia sedang berinteraksi dengan telepon genggam. Pandangannya berpindah-pindah, dari kita ke telepon genggamnya. Saya nggak yakin orang tersebut sepenuhnya mencurahkan perhatian dalam interaksi dunia nyatanya. &#8216;Mengerti&#8217; topik pembicaraan dunia nyata bukan jaminan bahwa ia terlibat dan fokus sepenuhnya. Yang geli nih, di satu waktu mendadak dia bilang &#8216;Ah shit! Gue salah tweet!&#8217;.</p>
<p>Saya tertawa, sudah nggak fokus dengan obrolan di dunia nyata, nggak fokus juga dengan obrolan di dunia maya. :))</p>
<p>Saya <em>nggak</em> memungkiri bahwa ada satu titik di mana dunia maya itu terasa mengasyikkan dan rasanya sayang untuk ditinggalkan; topik tweet yang mendadak seru, misalnya. Rumpian di kanal maya yang heboh. SMS-SMS yang rame. E-mail-email yang panas. *alah panas*.</p>
<p><span id="more-2590"></span></p>
<p>Harus saya akui, saya pernah berada dalam titik nggak bisa lepas dari telepon genggam, laptop dan koneksi internet. Ketemuan orang pun masih harus terkoneksi ke dunia maya. Yang terjadi? Orang-orang merasa terabaikan. Saya? Nggak sepenuhnya menikmati momen, banyak hal yang harusnya bisa dinikmati secara pol-polan *deuh pol*, tapi jadi terasa biasa saja, karena fokus saya nggak sepenuhnya pada hal tersebut.  Eh bukan cuma tidak sepenuhnya menikmati momen, tapi nggak jarang juga kelewat momen. Untung keadaan tersebut nggak berlangsung lama.</p>
<p>Jadinya sudah setahun ini saya melatih diri saya untuk tidak <em>multitasking</em>, antara dunia maya - dunia nyata.  Saya  bikin aturan sendiri : ketika sedang berada bersama teman-teman, telepon genggam, netbook dan koneksi internet disimpan saja. Kecuali kalau memang ketemuannya untuk membahas pekerjaan. SMS tidak akan saya balas &#8212; saya hanya akan mengangkat telepon; kalau telepon kemungkinan besar penting lah ya.</p>
<p>Oh, aturan meminimalisir pemakaian alat telekomunikasi dan internet saat ketemu orang ini saya berlakukan juga ketika saya sedang bepergian. Bahkan tadinya jalau di perjalanan hp saya <em>silent</em> atau matikan sekalian. Cuma mengundang protes, jadinya ya sudah, saya simpan saja hp di tas dan nggak saya keluarkan kalau tidak berdering - tapi seringnya kelewat juga *sungkem sama yang sering frustasi nelepon saya*.</p>
<p>Bayangkan apa yang terjadi kalau tiap pindah tempat <em>check-in</em> di foursquare atau men-twitpic? Atau menge-tweet setiap kejadian yang terlintas di depan mata. Sekali dua kali gapapa lah ya, tapi kalau keseringan, berapa banyak hal menarik yang mungkin terlewat?</p>
<p>Ya gitu deh, dengan <em>multitasking</em> itu kita (kita? saya kali ya?)  tidak bisa menikmati secara maksimal apa yang terjadi di sini- dan kini dengan sepenuhnya,  ribet dan buang waktu  harus menukar-nukar perhatian dari satu hal dan hal lain; eh nggak mudah loh mengumpulkan fokus. Akibatnya,  apapun yang menjadi produk <em>multitasking </em>ya nggak sememuaskan kalau kita lakukan dengan fokus dan sepenuh hati. Ngobrol dengan kawan jadi tidak memuaskan, ngobrol dengan teman-teman maya tidak pol, perjalanan jadi tidak begitu seru.</p>
<p>Dan oh, bukan cuma soal<em> </em>bergaul di dunia nyata-maya, tapi untuk setiap hal loh, <em>multitasking</em> nggak ada bagus-bagusnya.</p>
<p>Etapi kalau sesekali teman-teman membaca tweet saya dengan bunyi <strong>&#8216; <span class="status">kerjaan ga selesai2? Cuma 3 kuncinya : (1) niat ngeberesin (2) lakukan niat ngeberesin n fokus (3) jauhi twitter. <a class="hashtag" rel="external nofollow" href="http://m.dabr.co.uk/hash/asalteori">#asalteori</a> :D&#8217; - </span></strong><span class="status">atau sejenis, itu cara saya memperingati diri untuk tetap fokus pada kerjaan. Karena menghindari multi-tasking dunia maya-nyata dalam soal berinteraksi sosial itu jauh lebih mudah dibandingkan menghindari multitasking dunia twitter dan dunia KERJA! : D  Beda dong ya sama multitasking dunia maya-nyata soal interaksi sosial. </span></p>
<p><span class="status">Dan sejujurnya, hasil kerjaan saya saat tidak terdistraksi twitter itu lebih bagus kualitasnya dibandingkan saat saya bertukar-tukar fokus antara kerjaan dan twitter. *tapi teteub tergoda. Cuma sekarang udah nggak parah kook* :D<br />
</span></p>
<p>BTW, multitasking nggak baik buat kesehatan juga loh. Baca ini deh : <a href="http://www.health.com/health/article/0,,20505051_2,00.html">http://www.health.com/health/article/0,,20505051_2,00.html</a></p>
<p>&#8230;</p>
<p>Perlahan antrian ATM maju. Sang ibu mendongak, lalu maju selangkah. Sesaat sebelum ia kembali sibuk dengan telepon genggamnya, ia celingukan, karena si anak sudah tidak ada di sisinya. Saya lihat sih perginya ke mana, agak melipir sedikit dari ATM, tertutup tiang gedung. Nggak jauh kok.</p>
<p>&#8220;Kakak? Kakak? Kamu ke mana?&#8221; saya melihat kepanikan sang Ibu.</p>
<p>Duh, makanya fokeus dong bu, fokeus! :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/fokeus-dong-fokeus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Belajar&#8217; Agama. Penting?</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/belajar-agama-penting/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/belajar-agama-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 15:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[catatan kecil]]></category>

		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2575</guid>
		<description><![CDATA[Ih ya ampun, saya punya blog ini ya? Keasyikan main-main di project yang ono, sampai lupa punya blog ini. :)) Eh iya, mumpung nyebut-nyebut project yang ono, sekalian yuk, ikutan Make Up Challenge-nya, berhadiah lho! Untuk detil lihat di sini ya : http://looxperiments.blogspot.com/2011/09/make-up-challenge-contest-before-and.html
*sempeeet, pengumuman.*
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
&#8230;biarpun nggak ngerti, nilai agama saya bagus terus loooh! Kan waktu kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ih ya ampun, saya punya <em>blog</em> ini ya? Keasyikan main-main di <a href="http://looxperiments.blogspot.com" target="_blank"><em>project</em> yang <em>ono</em></a>, sampai lupa punya <em>blog</em> ini. :)) Eh iya, mumpung <em>nyebut-nyebut project</em> yang ono, sekalian yuk, ikutan Make Up Challenge-nya, berhadiah lho! Untuk detil lihat di sini ya : <a href="http://looxperiments.blogspot.com/2011/09/make-up-challenge-contest-before-and.html">http://looxperiments.blogspot.com/2011/09/make-up-challenge-contest-before-and.html</a></p>
<p>*sempeeet, pengumuman.*</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="border: 1px solid black; padding: 8px; float: left; width: 40%; font-size: 1.5em; line-height: 1.2em; margin-top: 15px; margin-bottom: 15px; margin-right: 30px; background-color: whitesmoke; font-weight: bold;"><strong>&#8230;biarpun nggak ngerti, nilai agama saya bagus terus loooh! Kan waktu kecil saya jagoan menghapal ;-)</strong></p>
<p>Terus terang, biasanya mau ada tayangan apa pun di TV (setelah ada  satu atau dua hal yang bisa dicela; terutama untuk infotainment dan  sinetron *teteub*) pasti saya akan segera berlalu. Cuma beberapa waktu  yang lalu, ada satu tayangan yang berhasil membuat saya berhenti dan  menonton selama 5 menit. Dan tayangan itu adalah tayangan lomba dakwah  bocah-bocah cilik.</p>
<p>Buat saya, berdakwah itu  bukan  &#8216;jatah&#8217;nya anak kecil; dan  saya  agak serem mendengar isi dakwah mereka.  Maksudnya anak-anak tersebut   menggunakan istilah-istilah orang dewasa.  Target, dosa, keresahan dan   ada beberapa kosa kata lain yang kayak saya  &#8216;keberatan&#8217; kalau dipakai   oleh anak kecil. Sedangkan seingat saya  (koreksi ya kalau salah) para   peserta lomba dakwah tersebut berusia di  bawah 10 tahunan. Kanak-kanak   umur segitu kan belum paham benar dengan  konsep-konsep abstrak?  Target?  Dosa? Keresahan? Abstrak banget.</p>
<p>Jadi ingat, salah satu bocah cilik yang saya kenal, pernah memenangkan lomba mendongeng, bagus banget cara mendongengnya, dan ceritanya pun mengandung kata-kata canggih dan kalimat indah. Ketika ditanya, ternyata dongeng yang membuatnya menang itu dibuatkan oleh gurunya, ia sendiri tidak begitu mengerti soal isinya.</p>
<p>Ya maab kalau saya <em>suudzon</em>, tapi saya jadi berpikir, jangan-jangan di lomba dakwah ini naskah  dibuat oleh orang dewasa (orangtua atau guru), kemudian sang anak  tinggal menghapal. Dan  anak-anak peserta lomba dakwah  tersebut <em>nggak</em> ngerti dengan apa yang mereka khotbahkan.</p>
<p>Lalu ada orang dewasa yang mengomentari dakwah si anak, yang memberi komentar tambahan yang kurang lebih menyatakan, bahwa anak-anak adalah generasi penerus bangsa, lomba dakwah seperti ini baik untuk membina para generasi penerus bangsa supaya menjadi manusia-manusia berakhlak.</p>
<p>Maaf kalau menyinggung, tapi&#8230; apa benar dengan menghapal bisa membentuk seseorang menjadi manusia berakhlak?</p>
<p><span id="more-2575"></span></p>
<p style="text-align: center;">&#8230;</p>
<p><em>Anyway</em>, beberapa waktu yang lalu saya sempat terjebak dalam percakapan yang aneh. Tentang sekolah terbaik buat anak. Iya, aneh, <em>lha wong</em>, punya anak aja nggak, lah kok sudah ngebahas ginian.</p>
<p>Jadi nih ya, waktu itu, saya &#8216;terjebak&#8217; di antara kerumunan para <em>mahmud </em>(mamah muda) yang sudah memiliki anak seusia SD. Ada salah satu dari mereka yang sedang mencari SD terbaik bagi anaknya;  dan yang lain pun membantu memberi masukan pada yang bersangkutan.</p>
<p><em>Ngemeng-ngemeng</em> soal sekolah, biaya sekolah sekarang gila-gilaan ya? Lama-lama beneran ini, orang miskin dilarang sekolah!</p>
<p>Oke, sampai mana tadi?</p>
<p>Oh, nyari sekolah terbaik bagi anak.</p>
<p>Ada yang menyarankan sebuah sekolah berbasis agama. Sang pemberi saran kemudian memberikan beberapa &#8216;bukti&#8217; betapa baiknya sekolah berbasis agama tersebut. Katanya selain belajar agama sesuai dengan kurikulum, ada juga pelajaran-pelajaran agama ekstra. Anak-anak disuruh menghapal ayat-ayat dan apalah di pelajaran ekstra tersebut.</p>
<p>&#8220;Ih ngapain sih diajarin agama banyak-banyak? Aneh banget sih tu sekolah.&#8221; cetus saya spontan.</p>
<p>Dan semua mata pun memandang saya. Dengan takjub. Eh ya maab. Dari dulu memang saya selalu berpikir buat apa kurikulum agama diadakan di sekolah-sekolah, dan mendengar ada ekstra pelajaran agama di sekolah &#8216;bagus&#8217; itu, mau nggak mau kan saya jadi semakin berpikir&#8230; buat apa pelajaran ekstraaaa? Berat amat beban si anak untuk belajar agama?</p>
<p>Orang yang merekomendasikan &#8217;sekolah bagus&#8217; yang saya sebut &#8217;sekolah aneh&#8217; tersebut kemudian mengajukan argumentasinya. Katanya justru sekolah tersebut nggak aneh. Katanya lagi itu justru bagus, membuktikan bahwa sekolah tersebut serius  dalam urusan memperkenalkan agama pada anak sejak dini. Dan kawan saya  ini percaya, sekolah &#8216;bagus&#8217; itu bakal bisa membuat anak-anak menjadi   soleh, berakhlak/bermoral baik di kemudian hari.</p>
<p>Pertanyaannya adalah : apa hubungannya antara menghapal surat di  kitab suci dan teori-teori agama dengan moral? Ada jaminan bahwa ketika seseorang khatam seluruh isi kitab suci dan hapal seluruh teori agama, sudah pasti ia  bermoral baik?</p>
<p>Jawab kawan saya, kitab suci itu memuat aturan-aturan moral yang  baik, dengan mengenal aturan-aturan moral dari kecil, ya sudah pasti  nantinya sang anak akan punya tuntunan dan standar-standar moral yang  baik &#8212; dan standar-standar ini kemudian bisa dipraktikkan dalam  kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Oke deh.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah:  si anak mengerti nggak sih apa yang  dihapalnya? ;-) Nah, gimana mau memraktikkan  aturan (dengan tujuan supaya menjadi anak baik), kalau isi aturannya  saja nggak ngerti? :P</p>
<p>Jadi buat yang tadi pengin protes pada pertanyaan &#8216;buat apa ada pelajaran agama&#8217;, maksud saya gini,lho, belajar agama di sekolah itu kan bentuknya selalu menghapal segala macam teori agama (Sebenarnya pelajaran-pelajaran lain sih gitu juga ya, tapi ya sutralah, ya, topik di <em>blog</em> kali ini tentang pelajaran agama, jadi kita ngomongin yang itu saja), dan setelah itu, hasil hapalan teori tersebut diujikan di UTS/UAS, kan ujung-ujungnya jadi memberatkan si anak dengan satu ekstra pelajaran?</p>
<p>Lalu kalau memang tujuannya belajar agama untuk membuat supaya anak menjadi manusia &#8216;berakhlak baik&#8217;, dengan sistem pengajaran yang mengantarkan sejuta teori untuk dihapalkan (bukan dimengerti) dan diujikan, apa bisa menjamin tujuannya tercapai? Ya nggak janji juga lah yaaa.</p>
<p>Dan kata saya sih, agak aneh juga, belajar supaya menjadi manusia berakhlak, tapi kok dinilai-nya melalui teori, dinilai secara tertulis, dengan ponten berskala 0 - 10. Itu bukannya membuat para peserta pelajaran agama malah jadi berlomba-lomba menghapal (bukan mengerti) teori agama, demi nilai?</p>
<p style="text-align: center;">&#8230;</p>
<p>Dulu saya tinggal di Lhokseumawe, Aceh Utara, yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Ujung-ujungnya ini membuat saya diwajibkan untuk belajar tulisan Arab, menghapal surat-surat, belajar sholat. Eh saya  hapal lho beberapa surat si Al Quran. Dan sampai sekarang ada satu surat yang saya masih hapal sih, surat Al Fathihah.</p>
<p>Kenapa saya menghapal surat-surat tersebut? Ya karena wajib, demi nilai agama, soalnya saat itu tidak ada pelajaran agama saya di sana; memang minoritas banget. Dari kelas 1 - 6 SD, murid yang beragama non Muslim kurang dari 10 orang. Yamasa sih musti mempekerjakan seorang guru agama saya untuk 10 orang doang.</p>
<p>Setiap ujian saya tersiksa menghapal, tanpa tahu maksud dari setiap hal yang saya hapalkan; karena guru saya di SD tidak pernah menceritakan pengertiannya. Etapi, biarpun nggak ngerti, nilai agama saya bagus terus loooh! Kan waktu kecil saya jagoan menghapal! ;-)</p>
<p>Sementara saya juga ikut sekolah minggu, di sekolah minggu ya sama aja, setali tiga uang, sebelas-dua belas, mendengar cerita alkitab, menghapal ayat. Semua yang saya terima serba mengawang-awang; jangan mencuri karena mencuri itu dosa. Okay. Jangan sirik, karena sirik itu begini. Okay, Yesus mati di kayu salib karena menebus dosa manusia. Baiklah. Saya hanya mengangguk-angguk mendengar teori tersebut, padahal dalam benak saya penuh pertanyaan : kenapa mencuri itu dosa? Kenapa ini nggak boleh, kenapa itu nggak boleh?</p>
<p>Beneran deh, yang namanya pelajaran agama itu setipe, terutama dua pelajaran agama yang saya pernah ikuti, teori doang, tanpa diberi contoh nyata. Seperrti ; kalau mencuri berarti mengambil hak orang lain dan orang lain yang diambil haknya bakal susah (atau yang sejenis lah ya)</p>
<p>Nah, apakah dengan pernah mengikuti dua pelajaran agama saya jadi manusia berakhlak baik kuadrat? ya enggak juga. Pada akhirnya soal-soal &#8216;hidup baik&#8217; justru saya dapatkan dari sekeliling saya, bukan dari pelajaran agama malah, saya justru mempelajari hidup baik dari pengajaran yang bisa langsung diterapkan berkaitan dengan tatakrama serta sopan santun.</p>
<p>Lalu, masalah spiritual bagaimana? Ya itu jatahnya orang dewasa sih, kata saya. Jatahnya mereka yang sudah bisa &#8216;berpikir&#8217; secara abstrak &#8212; dan ini masalah pencarian, bukan masalah menelan doktrin.</p>
<p>Jadi, ya gitu deh, buat saya, pelajaran agama dalam kurikulum sekolah nggak lain nggak bukan, ya cuma nambah-nambahin bahan hapalan doang; nggak menjamin bikin anak jadi baik. :)</p>
<p>Dihilangkan saja gitu? Kan kasihan, anak-anak sudah banyak hapalan (bukan pengertian) untuk pelajaran-pelajaran lain? Atau pelajaran-pelajaran lain dihilangkan biar anak-anak nggak usah sekolah aja?</p>
<p>Oke, ini asal.</p>
<p>*melipir sampai ke Raja Ampat*</p>
<p>*Maunya*</p>
<p style="text-align: center;">&#8230;</p>
<p>Mamah muda yang merekomendasikan &#8217;sekolah baik&#8217; yang saya sebut sebagai &#8217;sekolah aneh&#8217; itu masih terus mengemukakan opininya soal &#8216;belajar agama&#8217; di sekolah sejak dini. Biasanya sih saya selalu gatal untuk membuka diskusi panjang lebar, tapi kemarin itu malas. Jadi saya cuma menjawab &#8216;Iya deeeeh.&#8217;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/10/belajar-agama-penting/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>A Little Girl That Grows Bigger</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2011/09/a-little-girl-that-grows-bigger/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2011/09/a-little-girl-that-grows-bigger/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 15:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[keseharian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=2570</guid>
		<description><![CDATA[Saya nggak sadar umur. Mungkin ini karena perkembangan  psikologis saya telah berhenti di umur 18 tahun - iya psikologis, tapi  perkembangan fisik ya emang nggak terelakkan sih, tapi pura-pura nggak tau aja ya :)
Yang bikin saya sadar bahwa saya menua adalah seorang bocah bernama Kinarya Lentik Sukmasalira, anaknya partner in crime saya, Ella. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya <em>nggak</em> sadar umur. Mungkin ini karena perkembangan  psikologis saya telah berhenti di umur 18 tahun - iya psikologis, tapi  perkembangan fisik ya emang nggak terelakkan sih, tapi pura-pura <em>nggak</em> tau aja ya :)</p>
<p>Yang bikin saya sadar bahwa saya menua adalah seorang bocah bernama Kinarya Lentik Sukmasalira, anaknya <em>partner in crime </em>saya, <a href="http://www.facebook.com/#!/vrouwenmetal">Ella</a>. Hari ini dia berulang tahun ke-7. Dan asli ketika dia menyebutkan umurnya saya kaget. Gimana <em>nggak</em>,  perasaan baru kemarin Lentik masih berwujud bayi, yang saya  gendong-gendong dan jadiin mainan, laaah, sudah tujuh tahun lagi! Waktu  cepat berlalu, Lentik sudah tujuh tahun (dan saya menua. :D)</p>
<p>Gila ya? Waktu cepat berlalu, dan Lentik sudah besar. *masih takjub*</p>
<p>Saya jadi teringat seorang kawan yang lain pernah bilang sama anaknya yang batita &#8216;Jangan cepet gede ya?&#8217; &#8212; waktu itu saya sih cuma bingung,&#8217;Kenapa juga jangan cepat gede? Bukannya kalo cepat gede, makin baik, jadi anaknya bisa mandiri?&#8217;.</p>
<p>Alasan kawan saya ini, waktu cepat berlalu dan dia seorang pekerja kantoran penuh waktu yang &#8216;cuma&#8217; punya waktu saat pulang kantor; terkadang ia melewatkan banyak hal selama tumbuh kembang si anak.</p>
<p>&#8216;Gue nggak bisa ngebayangin, banyak hal yang gue lewatin gara-gara gue kerja; trus tau-tau dia harus sekolah, ketemu temen-temen, terus makin gede, makin mandiri dan makin nggak butuh gue&#8230;&#8217; Begitu katanya.</p>
<p>Ya kata saya sih, semandiri-mandiri-nya seorang anak perempuan, sampai kapan pun dia akan selalu membutuhkan Ibunya - walaupun fungsinya kemudian berbeda, waktu kecil sebagai penolong, ketika besar, menjadi <em>best-friend</em>. Setidaknya itu yang saya rasakan.</p>
<p>Dan, suka nggak suka, waktu terus berjalan. <em>A little girl must grow up</em> :)</p>
<p>&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Selamat ulang tahun, Kinarya Lentik Sukmasalira</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Jadi gadis besar dan jadi matahari buat sekeliling ya! </strong></p>
<p style="text-align: center;">:)</p>
<p><iframe width="420" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/1R8_siWeLXc" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Foto : Ella Meilani, saya, Andi Dwiputra dan err, kalo lupa siapa yang ngambil fotonya, gapapa ya? :D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2011/09/a-little-girl-that-grows-bigger/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

