Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/orangebo/public_html/blog.sepatumerah.net/wp-content/plugins/evergreen-post-tweeter/Include/ept-debug.php on line 57

Notice: Undefined offset: 0 in /home/orangebo/public_html/blog.sepatumerah.net/wp-includes/plugin.php on line 787

Notice: Undefined offset: 0 in /home/orangebo/public_html/blog.sepatumerah.net/wp-includes/plugin.php on line 805

Notice: get_bloginfo was called with an argument that is deprecated since version 2.2! The siteurl option is deprecated for the family of bloginfo() functions. Use the url option instead. in /home/orangebo/public_html/blog.sepatumerah.net/wp-includes/functions.php on line 3006

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/orangebo/public_html/blog.sepatumerah.net/wp-content/plugins/evergreen-post-tweeter/Include/ept-debug.php:57) in /home/orangebo/public_html/blog.sepatumerah.net/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
sepatumerah.net http://blog.sepatumerah.net Fri, 17 Apr 2015 11:00:05 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.8.7 [KESEHARIAN] Misteri Tukang Parkir Siluman. http://blog.sepatumerah.net/2015/04/keseharian-misteri-tukang-parkir-siluman/ http://blog.sepatumerah.net/2015/04/keseharian-misteri-tukang-parkir-siluman/#comments Fri, 03 Apr 2015 06:57:16 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=6088 Continue Reading]]>

Ada hak, ada kewajiban. Sialnya, kadang hak minta dijunjung tinggi tanpa melihat bagaimana kewajiban dijalankan. – Thomas Arie

….Sebagai orang yang bekerja di kantoran, seberapa sering kita menuntut kenaikan gaji/jabatan, atau meminta fasilitas tertentu, tanpa berpikir sudahkah kita melakukan kewajiban-kewajiban yang dijabarkan dalam job description di kantor tersebut?

Wogh! Judulnya kayak judul pelem horor.

Anyway, sebagai orang yang membawa mobil pribadi dan memiliki kontribusi nyata dalam menambah kemacetan jalan raya (HA!), tentu saja saya dipaksa untuk ikrib dengan petugas parkir, baik itu tukang parkir legal yang dimiliki oleh mall mau pun perkantoran, sampai tukang parkir abal-abal. Keberadaan tukang parkir ini sangat membantu dalam urusan perparkiran. Well, bukan berarti saya nggak bisa parkir sendiri ya? Masa sih, 20 tahun nyetir, nggak bisa parkir? Yang bener aje. :D

Peran tukang parkir berasa banget di saat parkiran penuh, dialah yang berjasa dalam mencarikan space kosong di antara sekian banyak kendaraan. Oh plus, membantu juga pas keluar parkiran, terutama kalau di pinggir jalan saat banyak kendaraan yang sama sekali nggak mau berhenti sedikit pun; iya, tukang parkir bakal menghentikan mobil-mobil tersebut.

Namun, nampaknya nggak semua tukang parkir mampu/mau mengerjakan tugasnya dengan baik; saya sebal terutama pada tukang parkir yang pas kita setengah mati mencari space parkir nggak ada, pas kita ribet mundur sedikit-sedikit di jalan raya padat (dengan bonus diklaksonin), nggak ada. Tapi begitu saya memindahkan persneling ke gigi satu dan bersiap maju… tiba-tiba, tadaaa… dia muncul, menengadahkan tangan meminta uang parkir tepat di samping jendela supir. Eh, Pak, lama nggak ketemu, apa kabar? Kemana aja dari tadi? Pfft.

Saya menyebutnya sebagai tukang parkir siluman.

Di zaman muda dulu (tsah), sudah pasti saya akan mengomeli tukang parkir macam itu, bahkan pernah satu kali dengan cueknya saya menolak bayar lalu pergi. Iya, saya tahu, bahwa uang parkir tersebut bukan untuk membayar jasa sang tukang parkir, tapi untuk membayar biaya retribusi, tapi kala itu sih, saya melihat bahwa itu tukang parkir liar, uangnya pasti masuk ke kantung sendiri. Apa yang terjadi setelah saya cabut? Dikejar dong dengan motor (niat ya dia!) lalu mobil saya digedor-gedor. Dasar masih muda ya, demennya berkonflik, saya tetap ngotot beradu argumen dengan sang tukang parkir siluman. Untung nggak digaplok. Kalau sekarang sih, saya cenderung menghindari konflik, serem bok, orang-orang di jalan raya hari gini emosionalnya parah, sampai tidak ragu untuk melukai orang. Demi keselamatan diri sendiri, ya saya kasih juga duit ke tukang parkir siluman tersebut, tapi sambil ngomel nggak rela ngasih *teteub*

Ada jenis tukang parkir favorit, sudah tentu kebalikannya dari tukang parkir siluman. Ini saya temui salah satunya di Setrasari Mall. Kalau ia melihat ada mobil menyalakan lampu sen dan menunjukkan tanda-tanda akan menepi lalu parkir, maka dengan antusias ia melambaikan tangan sembari mencarikan ruang kosong buat mobil tersebut, kemudian ia akan membantu memberi aba-aba agar mobil bisa terparkir dengan benar. Dari yang saya perhatikan, semangatnya ‘membantu’ orang parkir itu konsisten, dari pagi sampai malam. Hari cerah begitu juga, hari hujan, walau tertutup jas hujan, sama semangatnya. Nggak pernah lepas senyum pula, dan selalu menyapa ketika pemilik kendaraan turun.

Nah, ada satu point plus yang saya lihat dari tukang parkir di Setrasari Mall ini. Waktu itu hujan, setelah saya parkir dengan beres, saya nggak langsung turun, karena sibuk mengambil payung yang saya letakkan di kursi belakang. Eh, tahu-tahu kaca saya digedor, tampak muka setengah baya beliau nyengir, di tangannya telah tersedia payung. Aih. Lalu ketika pulang, tangan saya penuh dengan belanjaan, eh dibawain dong, sambil dipayungi. Itu langsung dong, saya dengan sukarela memberi jauh di atas jumlah normal jika parkir. Serius.

Nggak, nggak berarti seharusnya semua tukang parkir harus berperan ganda sebagai ojek payung dan pembawa barang, nggak. Tapi dengan dia bertanggung jawab melaksanakan apa yang harus dia laksanakan saja cukup. Yang lain-lain mah bonus saja. :D

Aaaanyway, dua tipe tukang parkir ini membuat saya berpikir tentang hak dan kewajiban. Saya teringat Thomas Arie, yang kalimatnya saya kutip di atas. Iya, kebanyakan orang menuntut hak sebelum memastikan bahwa segala kewajiban telah dilaksanakan. Ini mungkin termasuk saya juga. Iya, kita semua mungkin bersikap seperti tukang parkir siluman, menuntut agar duit parkir dibayar, tapi lupa bahwa ia belum melakukan apa yang menjadi kewajibannya sebagai tukang parkir.

Sebagai anak kecil – remaja, seberapa sering kita menuntut orangtua untuk memberikan kebebasan, mengizinkan apa pun yang kita mau tanpa memikirkan sudah atau belum kita melakukan kewajiban sebagai anak, misal sekolah yang benar sampai lulus, atau minimal melakukan hal-hal yang membuat mereka bangga?

Sebagai murid atau mahasiswa, seberapa sering kita menuntut dosen atau pihak universitas memberi pemakluman pada tugas yang belum terkumpul, atau nilai jelek, atau jumlah absen kurang, tanpa memikirkan posisi guru/dosen yang terikat aturan-aturan atau deadline mengumpulkan nilai?

Sebagai pasangan, seberapa sering kita minta dimengerti oleh pasangan, tanpa memikirkan apakah kita juga sudah berusaha mengerti pasangan?

Sebagai orang yang bekerja di kantoran, seberapa sering kita menuntut kenaikan gaji/jabatan, atau meminta fasilitas tertentu, tanpa berpikir sudahkah kita melakukan kewajiban-kewajiban yang dijabarkan dalam job description di kantor tersebut?

Dan untuk semua peran lain kita dalam masyarakat, seberapa sering kita menuntut hak sebelum melakukan kewajiban?

Karena kehidupan itu perkara menyeimbangkan apa yang diterima dan apa yang diberi. Adalah tidak adil dan egois ketika kita terus menerus menuntut agar menerima banyak, di luar sana akan ada orang-orang yang dirugikan serta direpotkan oleh perbuatan kita.

Gitu deh. :D

 

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2015/04/keseharian-misteri-tukang-parkir-siluman/feed/ 3
[Media Sosial] Balada Pencitraan http://blog.sepatumerah.net/2015/03/media-sosial-balada-pencitraan/ http://blog.sepatumerah.net/2015/03/media-sosial-balada-pencitraan/#comments Fri, 27 Mar 2015 14:32:14 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=6060 Continue Reading]]>

“How different would people act if they couldn’t show off on social media? Would they still do it?”  - Donna Lynn Hope

….Kita tidak akan pernah tahu ada apa di balik posting media sosial orang lain. Pasangan yang kelihatan mesra, mungkin sering bertengkar sehari-harinya.

Oke. Jadi hampir 3 bulan penuh saya tidak update blog ini. Sibuk adalah alasan basi ya? Lagi pula memang sebenarnya saya nggak (sibuk-) sibuk (amat) sih. Sebenarnya, saya lagi senang menggambar, dibandingkan dengan menulis. Boleh lho lihat Instagram saya : http://instagram.com/okkesepatumerah, follow juga boleh. *promosi*

Walau pun ceritanya saya kuliah di jurusan desain, tapi terus terang saya termasuk jarang menggambar dan merasa nggak terlalu mumpuni di bidang ini. Dulu saya lulusan kriya tekstil, jadi seringnya kalau oret-oretan keluarnya ya ragam hias/motif dan sketsa fashion. Menggambar yang lainnya? Sudahlah, ke laut aja.

Keinginan untuk belajar menggambar selain gambar motif muncul sekitar tahun lalu, kali ini lebih spesifik : cat air, media yang jarang banget saya sentuh. By the way, sebenarnya bukan baru tahun lalu sih keinginan belajar gambar ini ada, sudah sering kok, tapi yaaa, seringnya sebulan bosan. Makanya, tahun lalu itu, saya sempat menahan diri saya sambil berpikir ‘Udahlah, ga usah, ntar lagi juga bosan, terus alat-alat gambar yang sudah dibeli, dikasih-kasihin. Buang-buang duit’

Cuma ya nggak ketahan. Pada akhirnya, waktu itu, saat membeli cat air dan kuas, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk konsisten. Perwujudannya, saya nggak boleh bosan kalau belum membuat 100 gambar apa pun. Syukurlah, lewat. Dan keterusan.

Aaanyway, hari gini sepertinya belum afdol kalau melakukan sesuatu tidak diunggah ke media sosial kan? Makanya, seluruh gambar yang pernah saya buat, ya saya upload di Instagram saya. Kebiasaan menggambar lalu unggah di Instagram kemudian membuat saya berpikir, betapa berbedanya ya, proses melakukan segala sesuatu di zaman media sosial? Sebelum media sosial marak, saat menggambar fokus saya hanya pada gambar, ‘target’ akhir adalah selesainya gambar saya.

Nah, sekarang? Sudah tidak begitu lagi. Target akhir adalah, terunggahnya foto di Instagram. :))

Satu hari, ketika saya usai menggambar, seperti biasa saya pun mulai mengatur-atur meja tempat saya biasa menggambar, menyingkirkan yang nggak perlu, menampilkan yang perlu atas nama ‘biar terlihat keren saat tampil di Instagram’. Kemudian saya foto, saya lihat hasilnya, lalu saya berpikir, ah nggak asik, kemudian saya mengatur kembali tatanan meja, begitu terus sampai pada akhirnya saya anggap foto tersebut layak tampil. Kadang saya tampilkan alatnya, kadang tidak, ya tergantung yang enak dilihat yang mana.

Ini adalah yang tampak di Instagram saya.

A

Gambar yang tampil di Instagram

Tadinya hanya mau menampakkan hasil akhir gambarnya saja, tapi kemudian saya berpikir, lucu juga kalau diberi aksen palet dan dua kuas bekas menggambar saya.

Aslinya? Ya seperti ini, segala peralatan menggambar dan tumpukan tisu bekas mengelap kuas bertebaran di sana-sini. Berantakan pol.

B

Kondisi meja gambar tepat setelah saya menggambar.

Selesai mengunggah, saya jadi tercenung, lalu teringat akan satu istilah yang sering saya lihat sliweran di timeline media sosial saya; terutama beberapa bulan belakangan ini sih, dari masa pilpres. Setiap ada pejabat yang melakukan hal baik, maka akan selalu ada orang yang mengatakannya.

P.e.n.c.i.t.r.a.a.n

Kurang lebih berarti tidak menampilkan diri (di media massa, baik media massa konvensional atau media sosial) apa adanya, untuk menarik perhatian atau mengundang simpati massa. Istilah ini — tentu saja — negatif, melabeli seseorang dengan ‘pencitraan’ berarti sama saja dengan mengatakan ‘Palsu lo!’ atau ‘Munafik, loe!’

‘Ah pejabat ini sih pencitraan aja turun ke lapangan, untuk nyuri hati rakyat, kan mau pemilihan pemimpin.’

‘Ih Si ngAnu, pencitraan tweet-tweet-nya baik hati, bijaksana plus ala-ala motivator gitu, padahal pencitraan, aslinya suka nipu sana-sini.’

Gitu deh. Makanya saya yakin nggak ada orang yang mau dilabeli demikian.

Kemudian saya jadi mikir lagi, apakah ada yang benar-benar apa adanya di media sosial? Adakah orang yang menampilkan seada-adanya di sana? Sekecil apa pun, pasti ada rekayasa di sana.

Misal, ketika akan mengunggah selfie, kita akan memikirkan angle terbaik, bahkan ada yang sampai membedaki wajah dan memakai lipstick lho! Lalu, dari satu foto selfie yang terunggah, ada berapa banyak foto yang dianggap gagal alias tak layak tampil? Pun ketika sudah puas akan hasil satu foto, kita akan menambahkan filter-filter untuk memberi efek tertentu.

Lalu, ada kawan saya yang rajin memfoto makanan, alih-alih memfoto langsung, ia akan menata letak piring, sendok, serbet bahkan vas bunga di restoran tersebut. Bahkan ia sampai berdiri dari kursinya, demi mendapatkan foto yang layak tampil.

Ada juga orang-orang di studio yoga tempat saya berlatih yang rela berjungkir-balik memperagakan asana yang canggih agar bisa tampil dengan pose sempurna di Instagram. Mereka akan menampilkan wajah tenang penuh senyum (Padahal saya dengan sendiri komentar mereka ‘yang bener motretnya, biar gue nggak kudu ngulang lagi, pegel nih! Haha). Dan saya tahu itu mereka unggah di media sosial.

Nggak usahlah di Instagram, media sosial yang berbasis foto, untuk Twitter yang berbasis teks, pasti pernah dong memikirkan konten sebelum memublikasikannya? Ya memang sih ada orang yang jujur ‘lagi makan nih’, atau ‘lagi eek, nih!’, tapi saya yakin, nggak sedikit orang yang mengatur sedemikian rupa teks yang akan ditampilkannya.

Jadi, apakah ada orang yang terbebas dari p.e.n.c.i.t.r.a.a.n ini?

Kamu ? Yakin? Sini coba saya lihat akun-akun media sosialmu. :))

Anyway, buat saya pribadi, pencitraan itu nggak dosa, selain karena memang tak terhindarkan, juga karena untuk kasus-kasus tertentu, pencitraan itu penting. Misal, ada akun personal yang memfokuskan diri hanya untuk kepenulisan, maka ia akan menampilkan seluruh hal yang berhubungan dengan hal tersebut, nggak pernah sekali pun ia menampilkan kehidupan pribadi seada-adanya. Atau ada akun personal yang kheuseus membicarakan healthy lifestyle, ada yang soal cinta-cintaan dan lain-lain. Yup, personal branding. Kurang pencitraan apa coba, personal branding itu? Bagi saya orang yang melakukan personal branding justru cerdas, mereka memanfaatkan media sosial sebagai media marketing diri. Ujung-ujungnya, positioning mereka jadi oke, dianggap menjadi expert di bidang tersebut. Orang-orang itulah yang selalu dicari ketika ada yang membutuhkan ‘keahlian’ mereka.

Bahkan, kata saya sih, yang namanya pencitraan tidak harus selalu menampilkan yang manis, yang indah, yang cantik saja. Sebutlah seseorang yang sering menampilkan kesinisan, buat saya hal tersebut sudah pencitraan; mereka memberi citra bahwa diri mereka sinis. Kayak Jonru tuh. *eh nyebut merek*

Anyway, sebagai penutup, beberapa kali saya membaca komentar ‘Ah, enaknya hidupmu’ di akun Instagram pribadi milik orang, karena memang yang ditampilkan begitu memesona, tempat-tempat traveling yang indah, pakaian-pakaian yang keren dan mahal, makanan-makanan yang enak, anak-anak yang lucu, hubungan yang penuh kemesraan.

Padahal, balik lagi, apa yang ditampilkan di Instagram pasti sudah mengalami rekayasa yang sekiranya dibutuhkan.

Kita tidak akan pernah tahu ada apa di balik posting media sosial orang lain. Pasangan yang kelihatan mesra, mungkin sering bertengkar sehari-harinya. Orang yang terlihat happy hang out bersama teman-temannya di tempat-tempat heits, mungkin saat hang out malah nggak ngobrol sama sekali, karena sibuk dengan smartphone masing-masing. Orang yang menampilkan benda-benda mewah, mungkin lagi dikejar-kejar debt collector, atau mungkin barang yang ditampilkannya malah dapet minjem?

Kita nggak pernah tahu.

:))

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2015/03/media-sosial-balada-pencitraan/feed/ 7
[TAGS!] Yang Bikin Meleleh. http://blog.sepatumerah.net/2014/12/yang-bikin-meleleh/ http://blog.sepatumerah.net/2014/12/yang-bikin-meleleh/#comments Tue, 16 Dec 2014 04:15:31 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=6016 Continue Reading]]>

There is another side to chivalry. If it dispenses leniency, it may with equal justification invoke control.- Freda Adler

….Lagian percuma juga sih kalau punya kebiasaan membukakan pintu atau membawakan tas pasangan, tapi caranya bersikap pada orang dan mahluk hidup lain buruk. Ya nggak? :P

Okeh, ini sepertinya bakal jadi posting tags terakhir di tahun 2014. Buat yang baru mengunjungi blog saya sekarang, posting tag itu semacam tulisan bertema tertentu; jadi saya bakal menuliskan versi saya, kemudian teman-teman kalau mau, menuliskan tema yang sama, versi masing-masing dan tentunya di blog masing-masing. Kalau sudah, sila tinggalkan tautan di commenting system posting ini, nanti tautannya bakal saya masukkan ke dalam tulisan. Beberapa contoh posting kategori tag bisa di baca di : http://blog.sepatumerah.net/category/tags/

Temanya adalah : perlakuan cowok yang bikin kamu meleleh. Ihiy!

Kenapa saya memilih tema ini? Ya karena nggak sengaja baca satu artikel. Jadi, ceritanya di suatu malam yang iseng, tanpa sengaja saya menemukan seseorang membagikan sebuah artikel di wall-nya, artikel ini berjudul 9 Chivalrous Habits Of A True Gentleman That Make A Woman Melt, dengan komentar : Ah! Gara-gara cewek-cewek sok girl power, jadi banyak cowok yang ngelupain sikap gentleman seperti ini!

Biasanya sih saya nggak doyan artikel tentang bagaimana cara berkencan, bagaimana cara memesona lawan jenis dan sejenisnya, tapi salahin komentar orang yang membagi tautan tersebut,  gara-gara itu kan jadinya saya penasaran dan untuk membaca kontennya? Ada sembilan poin, seperti yang telah disebutkan pada judulnya, yaitu : Membukakan pintu, merelakan gigitan terakhir dari makanannya, menghabiskan waktu bersama keluargamu, rela menderita menemani menonton film girly, memberi bunga, berjalan di sebelah luar sidewalk, mencium kening, mengisikan bensin dan yang terakhir memakaikan jaket.

Terus terang, begitu selesai membaca artikel tersebut saya sempat berkerut kening dan berpikir ‘Ahelah, hari gini masih ada cewek yang meleleh-leleh kalo diginiin? Situ princess?’ *Disambit*. Lagipula menurut saya sih, beberapa tindakan di dalam artikel rada berbau  benevolent sexism(Eaa, udah ada yang rolling eyes? :D).

Tapi ya mungkin ini masalah selera sih ya. Bisa jadi beberapa perempuan meleleh-leleh jika dibukakan pintu, dibayari, diberi bunga dan lain sebagainya, tapi ada jenis perempuan lain yang enggak. Orang kan beda-beda. Makanya saya bikin posting tags bertema seperti ini.

Coba, coba, sekalian menulis posting tags dengan tema seperti ini,  sekalian mengingat-ingat hal-hal manis apa yang pernah dilakukan pasangan masing-masing. Buat yang lagi berantem sama pasangan, konon kalau kita ingat hal-hal manis tentang dia, sebelnya jad berkurang. Terus baikan deh. Ihiy!

Yuk ah, ini ini dia.  Versi saya.

 

1. Bisa Berempati.

Seseorang  yang mampu berempati itu mampu memahami perasaan, kebutuhan dan emotional state orang . Yang kayak gini ini sudah pasti berhati lembut dan  bersikap baik pada sesama manusia bahkan pada mahluk-mahluk lain. Bareng-bareng sama laki yang kayak begini perasaan kita bakal selalu merasa aman, adem, ayem dan tenteram.

Lebih meleleh mana, pasangan yang membukakan pintu untuk perempuannya, atau secara adil membukakan pintu bagi semua orang yang terlihat kesusahan? Lebih meleleh mana, tas ringan kita dibawakannya atau sang laki berhenti berjalan untuk membantu seekor anak anjing yang sedang susah payah melepaskan plastik yang tersangkut di mulutnya?

Lagian percuma juga sih kalau punya kebiasaan membukakan pintu tapi nggak perduli ada orang yang sedang kesusahan? Percuma juga membawakan tas pasangan kalau caranya bersikap pada orang (terutama orang-orang ‘kecil’) dan mahluk hidup lain buruk. Ya nggak? :P

2. Meminta Pendapat dan Melibatkan Dalam Keputusan-keputusan.

Entah untuk soal pekerjaan maupun soal lain-lain, meminta pendapat pasangan  itu beneran lho, bikin meleleh. Ini dilakukan bukan karena dia plin plan atau nggak pede, bahkan bisa saja sebenarnya dia sangat ahli  dan sang perempuan skill-nya hanya remah-remah rengginang di bidang tersebut, tapi ya dia tetap share karena pengin mendengar pemikiran pasangannya. Melibatkan pasangan sebelum mengambil keputusan, juga bikin meleleh, artinya opini kita dipertimbangkan.

Dengan begitu, baginya pemikiran dan opini kita, sama pentingnya dengan pemikiran dia. Pada akhirnya, kita dianggap partner yang sepadan, yang bisa mikir juga, bukan cuma obyek yang dibawa-bawa sebagai hiasan pelengkap. Ha.

 3. Mengirim SMS dan Whatsapp Di Tengah Kesibukan.

Bagi beberapa orang, pasangan yang suka mengirim message ‘Udah makan belum? Jangan lupa makan ya’ itu basi. Ngapain juga diingetin, kalau lapar ntar juga makan, begitu katanya. Tapi, hei, kalau berpikir gitu, berarti kita miss the point. Ketika pasangan mengirimkan pesan demikian, apa yang sebenarnya mau disampaikan itu ‘Eh, aku lagi mikirin kamu lho!’. Apalagi kalau kita tahu bahwa saat mengirim pesan demikian kondisinya lagi sibuk berat.

Ya mungkin nggak mesti nanya ‘udah makan’, tapi hal-hal lain, seperti foto workspace-nya yang berantakan, foto kondisi sekitar saat ia sedang melakukan hobinya tanpa kita. Artinya, sesibuk apa pun, dia masih ingat kita.

Manis kan? Iyain aja.

4. Membiarkan pasangan melakukan apa yang dia mau.

Ketika perempuannya pengin selalu bergantian membayar dalam setiap kencan, ia membiarkan. Ketika perempuannya pengin jalan-jalan sendiri, ia membiarkan. Ketika pengin ini, dibiarkan, pengin itu dibiarkan, selama tidak membahayakan diri sendiri, sekitar dan relationship mereka. Pun ketika dia khawatir atau tidak suka, alih-alih melarang, dia hanya memberi pertimbangan,
lalu segala alasan bisa disampaikan secara logis, tidak hanya sekedar ‘Pokoknya aku tidak suka. Period!’ . Dan pada akhirnya ia menyerahkan segala keputusan di tangan si perempuan.

Artinya laki-laki tersebut menganggap keinginan dan perasaan sang perempuan penting, sama pentingnya dengan keinginan dan perasaan dirinya. Awww, ini beneran deh, bikin si perempuan merasa bahwa dirinya bukan gantungan kunci thok. :))

5. Hapal Kebiasaan Sepele Pasangan & Menunjukkannya

Misalnya sang perempuan suka sewot kalau sedang lapar atau ngantuk (ini gue! Hahaha), dia cuma cengar-cengir dan dengan tepat menebak ‘Laper?’ atau ‘Ngantuk?’. Kita punya kebiasaan untuk — misalnya — selalu makan potongan kerupuk setelah seluruh makanannya habis, dia sambil cengar-cengir bilang ‘Kan, pasti dimakan terakhir kerupuknya’.

Hapal kebiasaan-kebiasaan sepele yang ketika dilakukan tidak memberi kontribusi apa-apa terhadap perubahan dunia itu manis, karena artinya dia memerhatikan dengan detail.

6. Ekspresif curi-curi.

Laki yang bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan, termasuk rasa cinta *ahey* itu manis sih, tapi pada saat yang bersamaan, kalau berlebihan itu bikin eneg. Buat saya, ekspresif tak kenal tempat, misalnya rangkul-rangkulan heboh di tempat umum, upload foto-foto tempat tidur di media sosial, itu bikin males, tapi ekspresif yang curi-curi itu awww. Contoh, saat sedang mengantri tiket menonton, tiba-tiba belakang kepala dicium satu detik, atau diendus juga cukup. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba dia menyangkutkan kelingkingnya di kelingking sang perempuan. :D

7. Menguasai Urusan Domestik

Dulu, ibu saya pernah bilang, kalau misalnya laki-laki yang mendekati saya alergi sama urusan domestik, pegat mawon (putus saja). Alasannya adalah, dengan laki-laki yang alergi urusan domestik, setelah menikah, kehidupan perempuan dalam segala kondisi bakal melulu sekitar dapur doang, nggak bisa ke mana-mana. Lagi pula, masih menurut ibu saya, di zaman sekarang, saat perempuannya juga dibutuhkan untuk bekerja, akan sangat melelahkan jika ia harus ngurusin perkara rumah sendirian. Kalau lelakinya bisa dan mau, maka pasangan tersebut bisa bekerja sama ngurusin ini-itu.

Saya setuju, walau pun belum kawin. Eh menikah.

Ya nggak mesti piawai  masak layaknya seorang chef sih, tapi  setidaknya nggak clueless kalau di dapur,  nggak juga bengong di depan mesin cuci dan peralatan rumah tangga lain. Tapi yang terpenting, tidak keberatan melakukannya. . Laki yang model begini nggak bakal ngerepotin lah. Misal, saat traveling bareng, kita dan pasangan bisa bergantian saling mencuci baju. Lalu masak bareng memang nggak bikin meleleh apa? Dia memasak, kita mencuci peralatan atau kita memasak, dia mencuci peralatan bekas memasak. :D

8. Menunjukkan Status Relationship Pada Mbak-mbak Gatel.

Hari gini yah, banyak banget lho, perempuan (dan laki juga sih) yang nggak peduli apakah ‘target’nya sudah punya pasangan atau belum. Kalau mau, ya hajar. Pfft. Sikap yang bikin aww untuk kasus ini bukan sekedar mengabaikan atau menunjukkan bahwa dia sudah tidak available, tapi secara eksplisit bilang kalau dia nggak demen sama si Mbak gatel. Ya kan ada ya, laki-laki yang sudah bilang ‘Aku sudah punya pasangan.’, tapi si mbaknya jalan terus, dia doyan. :)))

Akan lebih aww, kalau misalnya sang laki-laki, tanpa diminta, menunjukkan kita pada si mbak sambil bilang ‘Nih pasangan gue. Minggat lo!’

*pake hati*

Sudah, delapan aja.

Nah, kalau kamu, apa sih hal-hal yang dilakukan cowok yang bikin kamu meleleh?

Sila tulis di blog masing-masing (hayo, siapa yang blog-nya sudah nggak pernah update sejak zaman purbakala?), lalu tinggalkan tautannya di kolom komentar. Ya kalau mau aja sih, kalau enggak nggak apa-apa juga. :D

Yang bikin meleleh blogger-blogger cewek ini apa sih? Baca yuk

 

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/12/yang-bikin-meleleh/feed/ 16
[Keseharian] Filosofi Kecoak http://blog.sepatumerah.net/2014/12/keseharian-filosofi-kecoak/ http://blog.sepatumerah.net/2014/12/keseharian-filosofi-kecoak/#comments Fri, 12 Dec 2014 16:18:26 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=6013 Continue Reading]]>

Philosophy:  A route of many roads leading from nowhere to nothing.  ~Ambrose Bierce, The Enlarged Devil’s Dictionary

….pernah kan mengejar kecoak, baik bersenjatakan sandal mau pun obat pembasmi serangga, tapi ternyata kecoaknya malah balik menyerang dan membuat kamu tunggang langgang ?

Jadi, satu malam, saya terbangun dari tidur gara-gara kebelet pipis. Maka buru-burulah saya keluar dari kamar, dan masuk ke kamar mandi yang jaraknya hanya dua langkah. Karena masih setengah mengantuk, maka saya pun melakukan segala hal dengan setengah sadar, dari membuka pintu kamar mandi, menutupnya, menguncinya, membuka celana dan duduk di toilet.

NAH, kesadaran saya kembali sepenuhnya ketika tanpa sengaja tatapan mata saya jatuh pada sosok kecoak yang merayap di pintu kamar mandi. Sebagai pembenci kecoak, lutut saya mendadak lemas. Entah mengapa sosok yang hanya sebesar jempol kaki tersebut berhasil mengintimidasi sebegitu rupa. Yang ada dalam pikiran saya hanyalah ‘jangan membuat gerakan mendadak, jangan membuat gerakan mendadak, jangan sampai kecoaknya terbang.’

Itu asli saya menyelesaikan hajat saya dengan tidak konsentrasi, mata saya terus menerus mengawasi pergerakan-pergerakan sang kecoak. Untung saja ketika waktunya saya keluar kamar mandi, kecoak tersebut menggeser ke arah tembok, sehingga saya bisa buru-buru melarikan diri dan masuk kembali ke kamar nyaman saya.

Karena baru saja mengalami hal yang menegangkan (lebay, Kke, lebayyyy), rasa kantuk saya pun hilang. Jadinya pikiran saya menerawang ke mana-mana dan membuahkan beberapa pemikiran yang filosofis…. berhubungan dengan kecoak (ALAH!)

Bahwa kita seharusnya selalu waspada dalam melakukan segala sesuatu dalam kondisi apa pun, kerahkan seluruh kemampuan panca indera untuk mengamati sekitar;  karena bahaya bisa ada di mana-mana dan dalam bentuk apa saja. Contohnya, gara-gara saya mengantuk, jadi saya nggak mengecek terlebih dahulu sehingga saya tidak menyadari bahwa ada kecoak di balik pintu. Masih mending kecoak, gimana kalau ular? Atau … yang lainnya? Seberapa sering kita terlalu asyik dengan ponsel masing-masing di tempat umum? Sadar nggak ada apa saja di sekitar kita? Seberapa sering para pelari hari gini memakai earphone dan mendengarkan musik keras-keras saat lari di jalan raya? Sadar nggak ada kendaraan apa saja di belakang mereka?

Ketika saya tahu bahwa di belakang pintu ada kecoak, alih-alih langsung bereaksi heboh, saya memilih untuk diam dan mengamati ke mana kecoak bergeser. Kenapa? Soalnya kalau saya heboh lalu kecoaknya terbang nyamperin malesin nggak sih? Saya bisa menarik satu kesimpulan dari peristiwa ini,  bahwa kita nggak perlu jadi manusia yang reaktif alias gampang kepancing (emosinya); ada apa sedikit, bereaksi lebay. Bukannya lebih mending memerhatikan terlebih dahulu sembari memikirkan strategi atau tindakan apa yang paling tepat dilakukan? Iya, nggak? Sudah, iyain aja. :D

Lalu, kamu pernah kan mengejar kecoak, baik bersenjatakan sandal mau pun obat pembasmi serangga, tapi ternyata kecoaknya malah balik menyerang dan membuat kamu tunggang langgang (sampai lupa bahwa ukuran kamu lebih besar DAN membawa ‘senjata’)? Sama seperti kecoak, dalam kondisi terdesak, biasanya kita punya energi untuk melawan. Misal, mendadak jadi superkreatif saat jelang deadline, ide-ide brilian untuk menyambung hidup bermunculan di akhir bulan karena duit gaji menipis.

Masih soal kecoak yang menyerang kembali manusia yang mau memusnahkannya; kalau dipikir-pikir, kecoak ini berani ambil risiko juga ya? Padahal kan selalu ada kemungkinan orangnya nggak takut kecoak, atau karena terkejut malah latah dan memukulkan sandal? Pejret-lah dia. Mungkin kadang-kadang kita kudu berani ambil risiko juga, jangan main aman saja. Mungkin ini sih.

Kemudian, kita nggak perlu rendah diri dan merasa kecil dibandingkan dengan orang lain. Ah, gue kan nggak kece, ah gue kan nggak pinter, ah gue kan nggak kaya, ah gue kan anu, anu, anu. Belajar dong dari kecoak, mahluk sekecil itu bisa ngebikin manusia kabur ketakutan!

Yang berikutnya berhubungan banget dengan poin sebelumnya; apa yang bikin orang takut kecoak? Kalau bagi saya semuanya! Bentuknya yang jelek nggilani, baunya yang sangit amit-amit, lalu kemampuan terbangnya yang mengancam. Semua itu kayaknya hal-hal buruk ya? Hei, tapi hal-hal tersebut ternyata bisa jadi kelebihan yang menguntungkan bagi kecoak. Nah, alasan kenapa kita nggak usah minder, ya karena nggak mungkinlah yang ada di kita hanya yang kekurangan-kekurangan saja, pasti kita punya kelebihan. Bahkan hal yang kita anggap kekurangan pun bisa jadi kelebihan. Contoh, kekurangan saya : judes. Kata orang ini kekurangan, kata saya kelebihan, untuk memfilter mas-mas iseng supaya tidak berani mendekat :))

Anyway, gitu deh, pencerahan-pencerahan yang saya dapat dari kecoak.

 

 

 

 

Ih! Kalian serius bener sih ngebacanya? :))

Have a great weekend~!

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/12/keseharian-filosofi-kecoak/feed/ 1
[Keseharian] Beratnya Bikin PR Masa Kini http://blog.sepatumerah.net/2014/11/keseharian-beratnya-bikin-pr-masa-kini/ http://blog.sepatumerah.net/2014/11/keseharian-beratnya-bikin-pr-masa-kini/#comments Tue, 18 Nov 2014 16:03:50 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=5999 Continue Reading]]>

The man (or woman) who can make hard things easy is the educator. – Ralph Waldo Emerson

Pokoknya zaman saya SD, yang terjadi pada masa purbakala itu, semua terasa jauh lebih sederhana. Nah, anak SD sekarang kenapa berat banget ya, perasaan pelajarannya?

Lentik, putri sulungnya sahabat saya dua minggu sekali mampir ke kantor sepulang sekolah, karena ia harus les dan tempat lesnya dekat dengan kantor. Oh ya, Lentik ini kelas 3 SD ya? Kalau ia nggak ada PR dan saya tidak harus mengajar, biasanya kami mengobrol iseng, atau bermain. Kadang ada waktu kami tidak sempat berinteraksi sama sekali karena sama-sama sibuk, saya sibuk dengan mahasiswa yang bimbingan tugas dan/atau dia sibuk dengan PR-nya.

Satu hari, saat kami berdua sama-sama memiliki waktu luang, setelah bosan bermain domikado, ia mengajak saya main tebak-tebakan. Dalam pikiran saya, namanya tebak-tebakan ya pasti plesetan-lah ya. Ia menyuruh saya mulai duluan. Terus terang, dulu saya jago banget tebak-tebakan plesetan; cuma karena kurang diasah, jadinya banyak lupa.

“Lentik, siapa penyanyi yang jago basket?” itu pertanyaan dari saya. Soal tebak-tebakan, memang ini tebakan andalan saya…dulu.

Lentik berpikir keras. Satu menit, dua menit, akhirnya ia menggeleng.

“Hetty Koesslamdunk!” jawab saya bangga karena Lentik tidak bisa menjawab.

“Hetty Koeslamdunk itu siapa?”

Oke, melihat kerutan di keningnya tiba-tiba saya merasa bodoh. Manalah anak ini ngalamin zamannya Hetty Koes Endang? Akhirnya saya mencoba menjelaskan. Ya kalau tebak-tebakan atau jokes harus dijelaskan, sudah pasti nggak lucu kan? Dan saya baru ngeh juga, ternyata Lentik nggak tahu apa itu slam dunk. Oke, plesetan failed.

Sekarang giliran dia. Alih-alih langsung bertanya, dia malah mengeluarkan buku pelajarannya.

Mati. Ditanya soal pelajaran nih. Apa lagi setelah saya lihat sampul depan buku tersebut : Matematika. Sebagai pembenci matematikan sepanjang umur saya makan sekolahan, ditanya soal Matematika, ya sayonara aja.

“Apa yang dimaksud dengan sudut lancip?” Lentik mulai mengeluarkan pertanyaan pertama.

Oh, fiuh. Saya masih ingat itu. Pelajaran SMP!

Wait. Pelajaran SMP kenapa bisa ada di buku anak SD kelas 3?

“Sudut yang kurang dari 90 derajat.” jawab saya sembari terheran-heran,”Lentik udah belajar sudut-sudutan gitu ya?”

Anggukan Lentik membuat saya takjub. Setelah itu Lentik harus pergi ke tempat lesnya. Saya pikir permainan tebak-tebakan telah berakhir, tapi saya salah duga, karena tiba-tiba ibunya bertanya.

“Sudut itu apa sih?”

“Bidang yang ada di antara perpotongan dua garis. Kenapa sih?” ujar saya penasaran.

“Itu, Lentik nanya, dan gue nggak bisa menjelaskan dengan bahasa anak-anak. Gue udah jawab gitu, tapi Lentik nggak ngerti. terus, kalau derajat itu apa?”

Akhirnya saya, ibunya dan beberapa kawan lain yang kebetulan ada di sana pusing bareng, bagaimana menjelaskan ‘sudut’ dan ‘derajat’ pada seorang anak kelas 3 SD.

“Aku ada PR, disuruh bikin karangan deskriptif. Nah, karangan deskriptif itu apa sih, Mbu?” tanya Lentik pada ibunya, di salah satu hari ia harus berangkat les minggu lalu.

“Karangan deskriptif itu…. tanya tante Okke deh.” kata ibunya yang tampak sedang sibuk menilai tugas mahasiswa. Tinggal saya yang gelagapan mencoba mencari cara paling sederhana agar Lentik mengerti.

Kasus seperti ini tidak terjadi satu atau dua kali saja; bahkan sekarang pun saya sedang menemani bocah ini mengerjakan PR-nya, yakni melakukan ‘riset-risetan’ kecil tentang potensi sumber daya alam, industri andalan serta mata pencaharian utama dari daerah pilihan sendiri. Itu anak SD kelas 3, umurnya baru sembilan tahun lhooo.Butuh beberapa menit sendiri saya menjelaskan maksud dari soalnya, sebelum masuk ke pencarian.

Memang sih, di buku disebutkan bahwa informasi boleh dicari dari internet; buat orang dewasa sih mudah, masukkan keyword, keluarlah banyak tautan artikel. Nah, buat bocah kecil, apa kabar? Bahkan memilih tautan mana yang harus di-klik saja masih bingung, apa lagi membaca konten artikelnya yang bercampur dengan informasi lain. Kelihatan banget Lentik kebingungan memilah informasi yang perlu dan sesuai tugas, dengan yang tidak. Ini salah satu artikel yang menjadi rujukan pembuatan PR : http://www.garutkab.go.id/pub/news/detail/6354-garut-kaya-sumber-daya-alam-kelautan-dan-perikanan/, baca saja isinya macam apa.

Sejauh yang saya ingat — dan jarak antara saya saat ini dengan saya SD itu terlalu jauh sehingga saya kebanyakan lupanya — sewaktu saya seumur Lentik, di sekolah saya baru belajar kali-kalian atau bagi-bagian, bahasa Indonesia masih berkutat dengan keluarga Wati, Budi dan Iwan, PMP (Pendidikan Moral Pancasila) masih menghapal lima sila Pancasila.

Pokoknya zaman saya SD, yang terjadi pada masa purbakala itu, semua terasa jauh lebih sederhana. Nah, anak SD sekarang kenapa berat banget ya, perasaan pelajarannya? Bukan cuma materinya, tapi teks yang ada dipergunakan dalam buku juga rumit, bahasa orang dewasa. Apa itu coba naratif, deskriptif, potensi, potensial dan lain-lainnya? Bahasa yang saya pergunakan di saman saya SD, sederhana. Saking sederhananya, saya sampai tidak mengerti apa arti kata ‘pribadi’ (makanya saat menyanyikan part ‘pribadi’ dalam lirik ‘pribadi bangsaku’ di lagu Garuda Pancasila jadi ‘ribang-ribang sagu’)

Sejak awal menemani Lentik mengerjakan PR, saya berpikir, betapa beratnya PR (dan pelajaran) anak SD zaman sekarang; tapi… sekarang kalau dilihat-lihat, Lentik kok ya santai aja ya? Tadi cuma sekali saya beri tahu keyword apa yang harus dimasukkan ke search engine dan Lentik bisa mengerjakannya tanpa terlihat kesusahan.

Ini jangan-jangan yang menganggap berat itu justru orang dewasa yang membimbing anak-anak SD ini dalam belajar? Orang dewasanya sudah ketinggalan zaman, soalnya. :))

Anyway, hail ibu-ibu yang memiliki bocah usia sekolah dan memutuskan untuk membimbing sendiri anaknya saat belajar dan mengerjakan PR!

*sembah*

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/11/keseharian-beratnya-bikin-pr-masa-kini/feed/ 7
[Keseharian] Diam-diam Nge-judge. http://blog.sepatumerah.net/2014/10/diam-diam-nge-judge/ http://blog.sepatumerah.net/2014/10/diam-diam-nge-judge/#comments Sun, 26 Oct 2014 04:23:35 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=5965 Continue Reading]]>

“We’ve spent so much time judging what other people created that we’ve created very, very little of our own.” – Chuck Palahniuk, Choke

…Ketika ada orang melakukan hal yang tidak sesuai dengan cara yang kita kenal, maka reaksi kita ‘Lho, kok?’

Nampaknya kalimat ‘sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota’ itu sudah seharusnya diganti. Jadi apa? Jadi ‘sekejam-kejamnya ibu tiri dan ibu kota, masih lebih kejam ibu…ibu.”

*kemudian dislepet ibu-ibu senusantara*

Ya maab, Buibu. Soalnya dalam rentang waktu singkat, saya mengalami dua hal yang membuat saya berpikir demikian.

Jadi, dua kali dalam minggu ini saya janjian ketemu dengan dua orang ibu-ibu untuk satu urusan. Yang satu ibu-ibu pekerja kantoran, sementara yang satunya ibu-ibu penuh waktu. Setelah membicarakan urusan intinya, kemudian tibalah saat ngobrolin remeh-temeh sambil ngemil-ngemil lucu. Entah dari mana awalnya, pokoknya pada akhirnya keduanya curhat hal yang sama, padahal waktu pertemuan berbeda, tempat pertemuan berbeda dan kedua orang ibu tersebut tidak saling mengenal.

Sang ibu rumah tangga penuh waktu mengeluhkan sikap rekannya (ibu pekerja). Menurutnya ia sering merasa direndahkan oleh para ibu pekerja. Awalnya sih saya cuma bilang, mungkin itu perasaannya saja, tapi dia menyanggah. Menurutnya ada beberapa opini tentang ibu penuh waktu yang disampaikan oleh para ibu pekerja secara frontal, baik ketika bertemu langsung, melalui status media sosial atau di forum-forum ibu-ibu.

“Kesel deh gue, mereka suka nganggep kalau ibu-ibu rumah tangga itu adalah perempuan-perempuan yang di rumah kerjanya cuma nonton sinetron, baca tabloid, terus ngegosip pas jemput anak sekolah. Ih, nggak tau apa kalau jadi ibu rumah tangga itu repot, bukan pekerjaan 9 to 5, tapi 24 jam.” omel kawan saya ini, “Seharusnya kalau mereka nggak tau gimana sibuknya para ibu rumah tangga, jangan nge-judge lah. Bikin sakit hati aja.”

Di pertemuan dengan ibu-ibu pekerja, terjadi hal yang sama juga ;  setelah urusan utamanya beres, mengobrol ini itulah kami; sampai pada akhirnya ia curhat tentang sikap ibu-ibu full time yang terasa menyudutkan ibu pekerja.

“Gila ya, ibu-ibu full time itu, seneng banget nge-judge ibu-ibu yang bekerja sebagai ibu yang melupakan kewajiban utamanya sebagai istri dan ibu, ngebela-belain nyerahin urusan domestik ke ART, nitipin anak ke daycare semua demi ego. Males banget.”

Beneran kan, ibu-ibu itu kejam banget? :))

Anyway, dari curhat keduanya, ada harapan yang sama saya dengar : don’t judge. Jangan nge-judge. Jangan menghakimi. Konon menghakimi selalu menjadi sumber perseteruan.

Tapi, bisa nggak sih seseorang itu benar-benar tidak menghakimi orang lain -sama sekali? Mungkin ada yang bisa, mereka yang level kebijaksanaan dan spiritualnya sudah tingkat tinggi. Kalau saya? Terus terang enggak, rasanya sulit melepaskan judgement terhadap sesamanya. Saya rasa kebanyakan orang juga begitu sih *Ciye, saya cari teman*

Ketika melihat orang melakukan hal yang berbeda dengan saya, otomatis saya memberikan penilaian. Bahkan ‘ih kok gitu sih?’ – pun sudah merupakan judgement kan? :)

Hal yang dijadikan topik judgement pun rasanya nggak perlu akbar, hal-hal kecil pun bisa. Misal : enterpreneur yang men-judge para pekerja kantoran sebagai orang yang mau dikacungi orang (sebaliknya : pekerja kantoran men-judge para enterpreneur sebagai orang yang kena demam menambahi preneur untuk segala hal, macam mompreneur, studentpreneur dan preneur-preneur lainnya). Pemakan daging yang men-judge para vegan/vegetarian sebagai orang yang nggak menikmati hidup (dan sebaliknya, para vegan/vegetarian menilai pemakan daging sebagai orang yang menyakiti hewan). Pelaku berbagai macam diet seperti Paleo, Mayo, Intermitten Fasting dan lain-lain, men-judge mereka yang tidak menjaga pola makan (sebaliknya : pemakan segala men-judge para pelaku diet sebagai orang yang ikut-ikutan trend).

Semua di-judge, pilihan agama, pilihan orientasi seksual, pilihan merk gadget, pilihan olahraga, pilihan fashion style, pilihan cara mempublikasikan opini via media social, macam-macam.

Buat saya hal tersebut wajar saja sih. Karena pada dasarnya, kita memiliki cara yang kita anggap ideal  soal menjalani hidup dan melakukan segala aktivitas setiap harinya. Apa pun cara yang kita pilih merupakan hasil serapan dari lingkungan sekitar kita : kata orang tua kita, kata teman-teman kita, kata bacaan kita, kata TV yang kita tonton; pokoknya semua informasi yang kita dapat tersebut kemudian diinternalisasi, sehingga pada akhirnya kita percaya bahwa pilihan kitalah yang ter-benar. Bahkan mungkin jadi prinsip hidup. (padahal beneran benernya juga nggak tau sih ya? :D)

Ketika ada orang melakukan hal yang tidak sesuai dengan cara yang kita kenal, maka reaksi kita ‘Lho, kok?’

Saat ada orang yang makan dengan tangan kiri, sementara kita terbiasa makan dengan tangan kanan, maka kita ‘lho kok?’

Saat ada orang yang sudah menikah tapi masih keluar berdua-duaan untuk senang-senang dengan teman laki-laki, sementara kita memercayai hal tersebut tidak boleh, maka kita ‘Lho, kok?’

Saat ada orang yang ber-tattoo, sementara kita (karena agama yang kita anut) percaya bahwa tattoo itu dosa, maka kita akan ‘Lho kok?’

Saat ada perempuan yang memakai pakaian minim, padahal dari kecil kita dicekoki bahwa perempuan yang baik adalah yang memakai pakaian serbatertutup, kita pun akan ‘Lho, kok?’

Saat ada orang yang memilih menjadi homoseksual, sementara kitab suci yang kita anut mengatakan hal itu berdosa, maka kita akan ‘lho kok?’

Dari semua reaksi ‘lho kok‘ tersebut kemudian berkembanglah penilaian-penilaian tertentu.

Buat saya hal tersebut sangat manusiawi.

Apakah memang selalu judging itu menjadi masalah utama dari pertikaian? Bisa iya, bisa tidak.

Iya, judging itu jadi penyebab keributan kalau kita sebarluaskan penilaian tersebut pada publik; kemudian ada yang tersinggung. Dari situ sih biasanya pertikaian muncul. Anyway, buat yang suka secara frontal mengemukakan opini judging pada publik, lalu banyak argumen yang melawan, nggak usah deh berlindung di balik freedom of speech (apalagi sampai ngomong ‘dasar haterz! Haters gonna hate’ – Pfft, emang kalian Agnes Monica?). Karena sebebas-bebasnya mengemukakan pendapat, batasnya selalu ada, masyarakat sosial, perasaan orang lain. Mencubit ya harus siap dicubit. Ada aksi, ada reaksi.

Tidak,  judging tidak akan jadi masalah, kalau kita menyimpan penilaian-penilaian tersebut buat kita sendiri, kemudian melanjutkan hidup dengan cara yang kita anggap benar. Ya biar aja sih, orang lain punya cara yang berbeda dengan kita, selama nggak mengganggu, biar aja tokh?

Tokh.

 

 

 

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/10/diam-diam-nge-judge/feed/ 6
[OnMedia] UWRF : Perempuan dan Konservasi Alam. http://blog.sepatumerah.net/2014/10/onmedia-uwrf-perempuan-dan-konservasi-alam/ http://blog.sepatumerah.net/2014/10/onmedia-uwrf-perempuan-dan-konservasi-alam/#comments Thu, 09 Oct 2014 02:10:19 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=5959 Continue Reading]]> Tulisan saya untuk blog Ubud Writers and Readers Festival, hasil wawancara dengan Hayu Dyah Patria, seorang aktivis pangan & ecofeminist, dan Suzy Hutomo, CEO The Body Shop.

hayu1

Sudah sejak lama manusia bergantung pada alam untuk bertahan hidup. Kerusakan alam tentu saja sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup manusia. Sayangnya semakin lama manusia semakin lupa bagaimana cara memperlakukan lingkungan.

Walaupun konservasi alam adalah tanggung jawab semua umat manusia, namun pada kenyataannya, sebagai pengelola rumah tangga dan komunitas, kaum perempuanlah yang lebih sering memanfaatkan  air, tanah, tumbuhan dan elemen alam lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya; sehingga mereka harus memiliki kearifan agar sumber kehidupan tersebut dapat berkelanjutan.

Selain itu, di berbagai budaya perempuan adalah edukator keluarga, mereka  bisa mendidik anak-anaknya untuk memedulikan lingkungan dan melakukan konservasi. Dengan peran-peran seperti itu, perempuan bisa menjadi agent of change yang mengubah perilaku masyarakat terhadap alam. Contoh yang pernah terjadi adalah Green Belt Movement yang digagas oleh Wangari Maathai, seorang perempuan Kenya, untuk menjawab permasalahan kekurangan air, suplai makanan dan kayu bakar karena penebangan hutan di Nairobi, Kenya. Green Belt Movement mendorong para perempuan daerah itu untuk mengolah bibit dan menanam kembali pohon-pohon yang berfungsi untuk mengikat tanah, menyimpan air hujan, menyediakan makanan dan kayu bakar.

Melalui wawancara singkat via surel, Hayu Dyah Patria dan Suzy Hutomodua dari sekian banyak perempuan yang peduli pada lingkungan hidup Indonesia, menceritakan tentang usaha mereka menyelamatkan alam.

Mengembalikan Perempuan Pada Alam

Ketertarikan Hayu Dyah Patria – seorang aktivis pangan dan ecofeminist – untuk meneliti berbagai tumbuhan liar yang bisa menjadi alternatif bahan pangan bermula sejak masa kuliahnya di jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Ia tersadar bahwa selama ini pangan selalu dilihat sebagai komoditas, bukan sebagai pemenuh kebutuhan hidup masyarakat. Penelitian skripsinya yang mengambil mangrove sebagai bahan pangan dikritik oleh dosennya karena dinilai tidak memiliki nilai ekonomi.

Hal yang membuatnya bertahan untuk mengembangkan penelitian tanaman liar untuk pangan adalah karena ia menemukan kasus-kasus malnutrisi di Indonesia akhir-akhir ini, padahal di alam banyak sekali tumbuhan yang dulu pernah dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi dan obat-obatan.

Menurutnya, pengetahuan, keterampilan dan kearifan untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki oleh perempuan-perempuan di zaman dahulu tidak menurun ke generasi selanjutnya. Penyebabnya tak lain karena perempuan-perempuan muda lebih memilih barang-barang ‘modern’ yang sifatnya instan dan praktis sehingga beban kerja domestik jadi ringan. Ironisnya, benda-benda ‘modern’ tersebut kemudian menjadi penyebab kerusakan alam.

“Untuk mencuci baju kita bergantung pada deterjen yang limbahnya mencemari air dan kemasan plastiknya mencemari tanah, padahal zaman dulu digunakan biji klerak yang ramah untuk lingkungan. Dulu nenek moyang kita menciptakan berbagai macam ramuan jamu untuk berbagai masalah kesehatan, misalnya kunyit asam. Kini, hanya sedikit yang tahu bagaimana membuatnya; sehingga akhirnya yang dikonsumsi adalah kunyit asam dalam botol atau karton yang penuh pengawet. Lalu kemasannya menambahi menjadi limbah.” Ujarnya.

Kesulitan utama yang dihadapinya adalah mengubah cara pandang seseorang akan tanaman liar. Masyarakat sudah melupakan berbagai jenis tanaman yang berguna; kini tanaman-tanaman tersebut dianggap sebagai tanaman pengganggu yang harus dienyahkan. Masyarakat lebih memilih untuk membeli sayuran di tukang sayur dan tidak berminat untuk mencari tahu lebih jauh lagi tentang tumbuhan liar di sekitar mereka.

Setelah melewati berbagai tantangan, kerja kerasnya tidak sia-sia, ia berhasil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Galengdowo, Jombang untuk memanfaatkan tanaman-tanaman liar sebagai alternatif pangan. Karena usahanya ini, Hayu Dyah dianugerahi Satu Indonesia Award di tahun 2011.

hayu2

Selanjutnya bisa dibaca di : http://www.ubudwritersfestival.com/blog/perempuan-dan-konservasi-alam/

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/10/onmedia-uwrf-perempuan-dan-konservasi-alam/feed/ 0
[Tags!] Basa yang Basi. http://blog.sepatumerah.net/2014/09/tags-basa-yang-basi/ http://blog.sepatumerah.net/2014/09/tags-basa-yang-basi/#comments Tue, 30 Sep 2014 14:49:15 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=5953 Continue Reading]]>

Don’t tell your friends about your indigestions: “How are you!” is a greeting, not a question. - Arthur Guiterman, A Poet’s Proverbs

…’Kapan ngundang-ngundang?’ atau ‘Kapan nyusul?’ atau (yang lebih parah) : why are you still single? Ah percaya deh, pertanyaan ini tuh mengganggu sejuta umat lajang.

Mumpung baru ngalamin banget, dan energi masih sisa beberapa persen sebelum akhirnya tumbang tidur, saya pengin bikin posting tag ah! Buat yang baru mengunjungi blog saya sekarang, posting tag itu semacam tulisan bertema tertentu; jadi saya bakal menuliskan versi saya, kemudian teman-teman kalau mau, menuliskan tema yang sama, versi masing-masing dan tentunya di blog masing-masing. Kalau sudah, sila tinggalkan tautan di commenting system posting ini, nanti tautannya bakal saya masukkan ke dalam tulisan. Beberapa contoh posting kategori tag bisa di baca di : http://blog.sepatumerah.net/category/tags/

Kali ini temanya tentang basa-basi.

Basa-basi termasuk phatic expression, yaitu ekspresi verbal (dan non verbal) yang content-nya nggak penting. Contohnya seperti ‘How are you?’ – bukan berarti sang penanya memang pengin tahu bagaimana kabar kita (jadi nggak usahlah ngejawab dengan curhatan panjang lebar baru putus, terus dipecat padahal kredit rumah belum lunas :D). Atau ‘Eh lagi sibuk apa nih?’ – bukan berarti penanya beneran pengin tahu kesibukan kita (jadi nggak usah juga langsung cerita kalau kehidupanmu ribet banget pagi kerja di kantor, sore ngelesin, malam ngeband.)

TAPI, biar pun content-nya nggak penting, fungsinya penting; yaitu untuk membuka saluran komunikasi. Dari obrolan remeh-temeh, kemudian beranjak ke topik yang lebih serius. Ya bayangin aja gimana jadinya persilatan pergaulan kalau nggak ada basa-basi. Misalnya, di reuni sekolah, ketemu teman yang sudah lama nggak ketemu, gimana coba mau buka pembicaraan tanpa basa-basi? Atau kalau misalnya lagi bosan menunggu di satu tempat, baterai hp meninggal, kamu bosan, kebetulan di sebelah ada orang – gimana cara kamu memulai pembicaraan tanpa basa-basi? Ada nih, saya pernah menulis soal phatic communication di sini.

Nah, walau pun penting, tapi ada juga basa-basi yang bikin saya sebal. Kamu juga punya kan? Ayo deh, ngaku deh. :))

Ini dia list basa-basi yang buat saya basi :

1. Ditanya kapan kawin (dan variannya)

Semacam ‘Kapan ngundang-ngundang?’ atau ‘Kapan nyusul?’ atau (yang lebih parah) : why are you still single? Ah percaya deh, pertanyaan ini tuh mengganggu sejuta umat lajang. Oke, saya tahu, itu cuma cara sang penanya membuka pembicaraan; tapi kerasa nggak sih, pertanyaan itu mengesankan bahwa yang ditanya impoten dalam mencari seseorang yang bisa dikawin? Nggak ya? Atau saya aja yang sensitit? :))

Kalau dulu sih saya sering denial, ah nggak apa-apa kok ditanya begitu; akibatnya saya suka sok tenang dan menanggapi dengan serius. Guess what? Kalau dijawab serius, malah jadi panjang!

‘Kapan nikah nih?’

‘Ah belum. Masih lama’

‘Kenapa belum?’

‘Masih mau [masukkan target kehidupan di sini]‘

‘Eh, jangan keasikan gitu ah, inget perempuan itu punya jam biologis. Lagian kan Tuhan menciptakan manusia berpasangan, lalala, lilili, lalala’

Sekarang-sekarang ini jawaban saya nggak pernah sok tenang atau sok serius, seringnya saya jawab ‘Ah, ganti pertanyaan, dong. Bosen.’ atau cuma nyengir aja.

2. Ih kok kurus sih?

Yatuhan, saya sebel pakai banget deh kalau dapet basa-basi model beginian. Ada teman saya yang bilang, mendingan disebut kurus daripada disebut gendut. Kata saya enggak; karena pertanyaan ‘kok kurus’ itu membuat saya merasa sebagai orang yang kurang makan, kurang gizi, anoreksik — apalagi kalau ditambahin ‘Abis sakit?’. Dan yang bikin saya lebih manyun lagi, ketika saya bilang berat badan saya nggak turun dan saya nggak sakit, sang penanya kekeuh ‘tapi kurusan ah!’

Heu, yang punya badan kan sayah, atuh teteeeeeh! Kenapa jadi kamu yang ngotot? :D

3. Dipalak. Ada tiga jenis nih :

A. Begitu tahu saya baru punya usaha baru (yang semuanya bubar. Hedeuh, ada kursus mempertahankan komitmen pada bisnis nggak sih?), tau-tau ada orang yang bilang ‘Eh buat temen mah gratis atuh ya?’ atau ‘Harga temen ya?’

Iya, saya tahu, itu cuma basa-basi, tapi saya nggak bisa mencegah otak saya untuk nggak berpikir ‘Ahelah, balik modal aja belum, sudah dipalakin.’

B. Ketika saya baru menerbitkan novel, ada yang bilang ‘Mana nih gratisan buat gue?’. Itu asli sedih deh, walau pun saya ngerti, mereka nggak benar-benar minta jatah preman, tapi yang ada di benak saya ‘Hiks.  Sudah banyak pembaca yang beli satu terus dibaca barengan rame-rame (bhahak, peace) lalu royalti belum turun , eh dimintain gratisan. Nelongso bener sih?’ :))

C. Ketika mau bepergian, ditodong ‘Oleh-oleeeeh!’. Berat tau nggak ih, bawain oleh-oleh. Oh iya sih, saya tahu belum tentu yang nodong oleh-oleh itu beneran minta oleh-oleh, tapi kalau saya pribadi, ada yang nodong gitu, suka berasa dapet amanat (ini sih salah sendiri ya?). eh tapi ada ding, yang begitu saya pulang nagih ‘Oleh-olehnya manaa?’ -___-

Itu dia, basa-basi yang bikin saya sebal. Kalau kamu apa? Sila tinggalkan tautannya di bawah ya! ;-)

Versi Melissa :
http://melissaoctoviani.blogspot.com/2014/10/top-five.html

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/09/tags-basa-yang-basi/feed/ 10
[Sosial Media] Kita Adalah Monster Online http://blog.sepatumerah.net/2014/09/monster-online-itu_kita-semua/ http://blog.sepatumerah.net/2014/09/monster-online-itu_kita-semua/#comments Mon, 22 Sep 2014 14:08:08 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=5935 Continue Reading]]>

 People demand freedom of speech as a compensation for the freedom of thought which they seldom use. – Soren Kierkegaard

…kalau membaca tulisan kasar di internet, suka kepikiran gini nggak sih : ini yang nulis manusia apa monster? Sama sekali nggak mikirin perasaan orang!

Jadi, hari gini, siapa yang masih baca surat kabar untuk mengikuti berita terkini? Saya masih sih, kadang-kadang, terutama kalau mau menonton film di bioskop (Tapi kadang ini pun saya ganti dengan mengintip jadwal bioskop yang tersedia secara online). Iya, saya lebih memilih mengikuti berita-berita hangat di dunia *tsah* lewat surat kabar online.

Ada hal yang menarik ketika saya membaca situs-situs berita semacam itu. Nggak, bukan beritanya; kalau itu sih, kayaknya satu memuat berita nganu, semua situs bisa dipastikan memuat berita yang sama, dengan redaksional yang berbeda. Yang menarik perhatian saya adalah komentar-komentar yang ditinggalkan oleh pembaca.

Berbagai macam opini ada di sana. Ada yang cerdas, kritis dan nyambung. Ada yang nggak nyambung (dan bikin saya ngomong dalam hati ‘Baca dan pahami konteksnya dulu, Nyet. Baru komentar’), ada yang… jualan. Iya, biasalah, spamming iklan gitu. Cara penyampaian opininya pun rupa-rupa, ada yang dengan kalimat yang teratur dan enak dibaca, ada yang minta ampun kasarnya, ada yang, ya ampun, ditulis seperti oleh orang yang baru belajar menulis; tahu dong : kyx c n13 or9 k4fir.

Pfft.

Ajaibnya nih, yang lebih sering saya baca adalah komentar minus yang disampaikan dengan bahasa kasar. Anjing, babi, perek dan lain-lain terlontar dengan mudahnya dalam komentar-komentar tersebut. Terus terang saat membacanya, saya sering merasa jengkel sendiri.

Kalau kata kawan saya sih…

boysEhe..ehehehe..

Iya sih, bener juga dia. Tapi kan, kadang suka gatel juga pengin baca. :))

Anyway, nggak cuma di commenting system-nya surat kabar online saja kok. Tapi di semua media yang ada di internet, contohnya di personal blog. Pernah nggak menerima komentar yang asal njeplak di blog masing-masing? Kalau belum pernah, bersyukurlah. Kalau sudah pernah, rasanya ngehek banget ya? Duluuuuuuu banget saya sering terkesal-kesal setiap menerima komentar kasar di blog, terutama untuk tulisan yang berkategori gendertalks. Nggak ngerti kenapa orang segitu antinya sama pembahasan tentang gender. Tapi belakangan saya… pasrah. Lagi  pula sekarang sudah jarang juga sih yang komentar jahat. Eh mudah-mudahan kalimat terakhir nggak dijadiin inspirasi untuk komentar nyolot ya? Awas lo!  :D

Lalu, contoh kekinian nih, komentar kasar sering juga muncul di media sosial. Ya, Twitter, ya Facebook, ya Instagram dan lain-lain. Ingat kasus mbak Dinda yang memaki-maki ibu hamil? Waktu kejadian saya sempat tuh menelusuri kasus tersebut… daaan menemukan betapa banyaknya komentar jahat dari masyarakat media sosial. Lalu, kasus yang baru-baru ini terjadi, kasus Eda Florence Sihombing yang menuai banyak kecaman dari berbagai pihak. Untuk kasus terakhir, saking isengnya saya sampai menelusuri berbagai macam komentar; ada yang menyinggung SARA, ada yang mengumpat dengan perkataan yang kotor, duh, macam-macam lah. Sempat saya mengintip biodata para komentator, beberapa tinggal di Yogyakarta. Kemana orang Yogyakarta yang halus dan bersahabat? Anyway, entahlah, mungkin makian sejuta umat yang terjadi memang salah dua perempuan itu sendiri.

Lalu, kenal Dijah Yellow? Siapa sih yang enggak? :)) Saya sempat mengunjungi akun instagram perempuan ini dan menemukan begitu banyak makian yang melukai hati. Lucunya, ketika sang empunya akun marah, eh kok (dikabarkan) malah banyak yang jadi tersinggung. Lhapiye? Itu bukannya reaksi wajar dari aksi nyelekit khalayak ya? :P

Dan masih banyaklah contoh-contoh tulisan online sejenis yang bisa dengan mudahnya kita temukan di internet. Kadang kalau membaca tulisan kasar di internet, suka kepikiran nggak sih : ini yang nulis manusia apa monster? Sama sekali nggak mikirin perasaan orang!

Anyway, iya, sepertinya di internet orang memiliki tendensi untuk berperilaku lebih kasar. Saya sih nggak yakin, para penulis kasar tersebut melakukan hal yang sama di kehidupannya keseharian.

Kalau dipikir-pikir sih, ini karena norma berperilaku di ‘dunia nyata’ itu sulit untuk diterapkan di ‘dunia maya’. Kalau di keseharian kita, batas-batas kelompok sosialisasi itu jelas banget : lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, lingkungan mesjid, lingkungan gereja, lingkungan klab nganu dan seterusnya. Setiap lingkungan tentu memiliki nilai dan norma tersendiri : bagaimana cara memperlakukan orang lain, bagaimana cara berbicara, cara menyapa bahkan sampai cara berpakaian pun ada, semuanya serba jelas. Dengan mudahnya kita sadar, kita berada di mana dan langsung beradaptasi.

Sementara di ‘dunia maya’, batas itu nggak kelihatan (atau malah nggak ada?), sehingga membuat orang tidak tahu mau menerapkan norma berperilaku yang mana. Keluarnya ya seperti itu, nggak peduli berbicara dengan orang yang lebih tua, nggak peduli berbicara di forum mana pun, jatuhnya jadi tidak santun.

Penyebab yang kedua, anonimitas pengguna internet. Jadi ingat caption comic strip-nya Peter Steiner : On The Internet, nobody knows you are a dog.

Orang-orang berpikir mereka bisa untuk melakukan apa yang dia mau, bahkan yang tak bertanggung jawab sekali pun. Semua merasa aman berlindung di balik anonimitas. Coba deh kalau di ‘dunia nyata’, mau melakukan hal yang minus, misal memaki-maki orang lain, pasti mikir seribu kali, karena ada risiko yang menanti : ditonjok orangnya, ditangkap polisi, dikeroyok. Atau minimal, merasa khawatir akan reputasi buruk kalau melakukan hal yang nggak-nggak. Nah, kalau di dunia maya? Lempar saja komentar buruk, selesai. Nggak usah berpikir soal IP Address yang bisa dilacak lah ya, kan bisa tuh online dari warnet misalnya (eh warnet masih ada nggak sih?), atau ada tuh yang bisa menghapus IP Address. (Walau pun kalau komentarnya di FB mau pun akun-akun media sosial, sebenarnya sih bisa dilacak juga yes? Tapi orang suka lupa. Lagian kan bisa aja mendeaktivasi akun :P)

Dan yang terakhir, karena tidak bertemu muka dengan orang lain. Nggak tau siapa yang diajak berbicara, nggak tau kondisinya, nggak lihat mukanya, membuat pengguna internet sulit untuk berempati. Kalau bertemu langsung, ketika kita melihat perubahan ekspresi atau gesture lawan bicara, tentunya kita bakal berpikir, ‘eh kenapa dia nih? Gue barusan ngomong apa?’ dan menghentikan apa pun yang kita perbuat kan? (Kecuali kalau memang pada dasarnya emang nggak punya hati sih ya?)

Gicu, kira-kira.

Jadi, kamu pernah sakit hati gara-gara perlakukan orang di internet? Saya pernah.

Atau justru kamu yang bikin sakit hati orang? Er, saya kayaknya sih pernah juga. Maaf ya. ;-)

 

 

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/09/monster-online-itu_kita-semua/feed/ 7
[GenderTalks] Feminism Itu (Nggak) Serem. http://blog.sepatumerah.net/2014/08/gendertalks-feminism-itu-nggak-serem/ http://blog.sepatumerah.net/2014/08/gendertalks-feminism-itu-nggak-serem/#comments Sun, 31 Aug 2014 02:54:55 +0000 http://blog.sepatumerah.net/?p=5311 Continue Reading]]>

“It’s worth paying attention to the roles that are sort of dictated to us and that we don’t have to fit into those roles.We can be anybody we wanna be.” - Joseph Gordon-Levitt

Ketika laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan, maka semua membela, sementara ketika perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki, yang laki-laki diketawain dong! Adil?

“Lo feminist?”

Entahlah kesambet apa teman saya, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba bertanya seperti itu. Saya hanya bisa terdiam sambil cengengesan. Pertanyaannya sangat sederhana, dan jawabannya pun seharusnya sederhana, tinggal bilang ‘iya’ atau ‘nggak’ kan? Tapi ternyata buat saya nggak sesederhana itu.

Nggak berani bilang iya, karena yang pertama : dalam pemikiran saya, seorang feminis adalah orang yang sangat aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang persoalan gender, melakukan advokasi perkara yang berhubungan dengan gender, khatam sejarah feminisme dan mengetahui kasus-kasus yang berakar dari permasalahan gender role di dunia. Saya? Saya sebatas berminat dengan persoalan gender dan sedang berusaha memahaminya serta mengaplikasikan pemahaman saya untuk kehidupan saya pribadi. Kalau pun berbagi, biasanya hanya saya lakukan via tulisan di blog ini, atau di beberapa mata kuliah yang memang ada topik mengenai sex & gender. Entahlah, apakah itu cukup untuk membuat saya menjadi seorang feminist?

Kedua, karena saya nggak nyaman dengan judgement masyarakat soal menjadi seorang feminis ini. Terlalu banyak stigma negatif yang menempel pada kata feminis(me), dari kelompok barisan sakit hati, perempuan jelek tukang protes, men-bashing/hating women, bra-burning activistsugly women with hairy armpits dan daftarnya masih panjang. Nggak sedep semua ya? :))

Pada saat yang bersamaan saya sedang dapat PR untuk menulis tentang eco-feminist. Ya sudah, sekalian saja saya iseng, bikin survey lucu-lucuan di Facebook; pertanyaannya : Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata feminist? Hasilnya di bawah ini. Sebelum meng-capture saya sudah meminta izin, dan yang di-blur adalah mereka yang tidak bersedia namanya dipublikasikan (dan yang belum konfirmasi, sih sebenarnya. Tapi saya butuh semua jawaban, jadi ya sudahlah, saya blur saja). Nggak usah nyari status ini di FB saya karena sudah saya sembunyikan ;-)

femme

Hasil survey itu. Kalau ingin melihat lebih jelas, klik ini

Oh ada tambahan nih dari teman saya yang menjawab via Whatsapp, dan wanti-wanti supaya saya nggak memasukan namanya di dalam blog post ini (haha!): cewek-cewek yang repot mencibir ke laki dan sibuk membela hak perempuan sampai lupa bahwa dua gender itu bisa kok kerja sama tanpa gontok-gontokan.

Ouch! Kan bener? Biarpun nggak semua, tapi apa yang saya sebutkan itu ada, walau dengan menggunakan susunan kalimat yang berbeda, ada yang halus, ada yang secara terbuka, yang intinya feminist adalah orang-orang yang melawan/membenci laki-laki.

Buat saya itu sayang sekali, feminisme, sebagai sebuah -isme yang mengalami sejarah sangat panjang, melewati beragam kondisi sosial, berkembang bersama ilmu-ilmu sosial lain, lalu dengan jenis-jenis yang berbeda, ideologi yang berbeda dan gerakan yang berbeda, kemudian disempitkan menjadi ‘geng cewek sakit hati’.

Feminism nggak gitu kok. Kalau individunya, ya memang ada sih yang tipenya tepat seperti stereotip yang ada di benak orang-orang. terus terang saya pernah bertemu (juga membaca opini) beberapa orang (seringnya perempuan) yang melabeli diri dengan feminist sekaligus juga misandrist (baca : misandry) dan female chauvinist. Tapi tentu saja sebenarnya individu-individu tersebut tidak bisa mewakili keseluruhan (penganut) feminisme. Kalau begini caranya sih, ibarat hanya karena segelintir orang Islam yang melakukan teror bom, maka semua Muslim dianggap sama. Atau karena segelintir orang Kristen yang suka menghakimi orang lain, maka semua orang Kristen begitu. Ya kan? Iyain aja. :))

Feminism berdasarkan pemahaman saya adalah satu -isme untuk mendekonstruksi budaya patriarki. Budaya ini intinya adalah budaya yang dibangun berdasarkan dominasi laki-laki terhadap perempuan, sehingga laki-laki menjadi superior, pandangannya menjadi satu norma, sementara perempuan menjadi subordinat.

Tuh kan, tuh kan? Perempuan sukanya mikir gitu kan? – saya percaya ada orang-orang yang begitu mendengar kata ‘patriarki’ berkomentar seperti ini. Saya tahu, mungkin selain kata feminism, feminist, gender, orang juga alerhi pada istilah patriarki. Haha. ;-)

Karena budaya patriarki, kemudian muncul konstruksi sosial yang mengatur bagaimana seharusnya laki-laki, bagaimana seharusnya perempuan, di luar dari takdir biologisnya. Pembedaan itu tidak cukup sekedar bahwa laki-laki memiliki penis, hormon testosteron dan perempuan memiliki kelenjar susu, vagina, rahim dan lain sebagainya. Ada nilai-nilai laki-laki harus kuat, gagah perkasa, menghidupi keluarga, asertif, agresif, macho dan lain sebagainya. Perempuan harus feminin, lembut, keibuan, pasif, ibu rumah tangga dan lain-lain.

Ada yang berpendapat bahwa kasihan perempuan jadi korban patriarki. Padahal, sebenarnya enggak lho! Baik laki-laki dan perempuan itu sama-sama menjadi korban. Ini pernah saya singgung di tulisan yang ini : http://blog.sepatumerah.net/2014/02/pro-perempuan-harus-anti-laki-laki-jangan/ . Saya kutip sebagian ya

Di saat perempuan dianggap sebagai gender kedua, laki-laki dipaksa untuk jadi yang pertama.

Dari kecil laki-laki dituntut untuk menjadi sosok yang kuat, gagah, perkasa, agresif, asertif, nggak boleh nangis, nggak boleh sentimental, nggak boleh galau.Bener-bener laki-laki harus jadi sosok yang emotionless. Buat saya itu mengerikan sekali dan sangat tidak sehat. Karena memiliki emosi tertentu adalah sebenar-benarnya manusia. Budaya patriarki seolah membentuk mereka untuk menjadi…robot.

Laki-laki dipaksa untuk menjadi sosok yang bisa menanggung kehidupan keluarganya – baik keluarga yang dibentuknya (istri-anak), atau keluarga tempat ia berasal (bapak, ibu, adik-adik). Tuntutan-tuntutan itu tentunya bikin kehidupan para laki-laki jadi berat kan ya?

Apa yang terjadi kalau ada laki-laki yang tidak cocok dengan karakteristik gender maskulin seperti yang disebutkan di atas? Ia dianggap anomali alias berbeda. Kadang malah nggak cukup cuma dianggap berbeda, ada beberapa kasus di mana laki-laki yang karakternya nggak cocok dengan karakter maskulin kemudian mengalami aksi bullying. Ya tau deh diteriakin banci, diteriakin homo, pada malas temenan, oh belum lagi bullying yang bersifat fisik.

See? Betapa konstruksi patriarki itu sebenarnya harus dirombak, karena tidak memanusiakan laki-laki dan perempuan, ya kan? Sekarang coba deh lihat video ini, jelas betapa sikap yang terkontaminasi oleh nilai-nilai patriarki, membuat masyarakat bertindak tidak adil.

Ketika laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan, maka semua membela, karena dalam otak sudah tertancap nilai ‘perempuan adalah mahluk yang dilindungi, ditayang-tayang dan lain-lain’, sementara ketika perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki, yang laki-laki diketawain dong! Adil? Ini semua nggak lain karena menurut budaya patriarki, laki-laki itu harus kuat, macho, mampu melindungi; sehingga ketika sang laki-laki tidak melawan dalam video ini, maka (mungkin) dia dianggap loser, atau banci. Padahal nggak laki, nggak perempuan, pelakunya brengsek ya brengsek, nggak manusiawi. Siapa pun pelakunya, siapa pun korbannya, kekerasan ya kekerasan.

Sejujurnya, kalau saya pribadi merasa istilah ‘kesetaraan gender’ (dan gender quality) itu, walau pun maksudnya benar, tapi sering disalahkaprahi. Anggapan di dalam benak masyarakat kalau ada yang bilang kesetaraan gender adalah, perempuan yang mencoba untuk menaklukkan/mengalahkan laki-laki. Lagipula, kata ini bisa banget diprotes, misal nih : ‘kesetaraan gender, di mana-mana laki-laki dan perempuan nggak bisa setara. Coba lihat di kantor, ada cuti hamil, laki bisa cuti apa?’  Saya lebih suka memakai kata membebaskan. Bukan kesetaraan gender, tapi membebaskan gender.

Dan feminism adalah isme yang sebenarnya memikirkan bagaimana patriarki itu nggak baik buat kesehatan *alah*. Oh ngomong-ngomong penganut feminism itu bukan perempuan doang lho! Ada laki-laki, salah satu contohnya mas Joseph Gordon Levitt, yang pernyataannya saya kutip untuk membuka posting ini, karena pas dengan pemahaman saya tentang feminism. (Sejak mendeklarasikan diri feminis, saya merasa dia ganteng pakai banget deh :D)

Joseph-Gordon-Levitt-joseph-gordon-levitt-34334831-358-500

Aaak! Masnya ganteng! (Sumber dari sini )

Mungkin terdengar utopis (tapi kata John Lennon kan : you may say I am a dreamer, but I’m not the only one. I hope some day you’ll join us) tapi saya membayangkan kondisi masyarakat yang menganggap laki-laki, perempuan, tua dan muda hanya sebagai manusia, thok. Semua keputusan tidak ditentukan oleh apa yang dipercaya benar oleh masyarakat (patriarki), tapi oleh individunya sendiri.

Ketika siapa yang mencari nafkah dalam keluarga itu tidak ditentukan masyarakat, tapi berdasarkan kesepakatan internal. Jika laki-laki memutuskan untuk menjadi full time daddy/house-husband, bebas dari anggapan ‘payah’ serta tak bertanggung jawab. Ketika perempuan memutuskan untuk menjadi tulang punggung keluarga, bebas dari anggapan ‘lupa kodrat’.

Ketika perempuan menjadi full time mom, bebas dari celaan ‘nggak emansipasi lu!’ atau ‘kuno lu’, pun bebas dari pujian berlebihan ‘perempuan sejati’ atau ‘superwoman’.

Ketika dikotomi perempuan baik-baik vs perempuan murahan lenyap, yang ada hanya perempuan dengan keputusan sadar dan berani bertanggung jawab atas pilihannya. Pun tidak ada anggapan bahwa perempuan yang tidak sesuai dengan nilai perempuan baik-baik di mata masyarakat, berarti boleh diapa-apain.

Ketika ada seorang laki-laki yang kebetulan berpembawaan lembut, feminin lalu mengambil pekerjaan di ‘ranah kerja perempuan (menurut budaya patriarki)’ bebas dari celaan ‘Banci lu!’

Ketika pengistimewaan perlakuan tidak lagi berdasarkan gender, tapi berdasarkan kebutuhan. Nggak ada yang namanya ladies’ first, kalau perempuannya kuat, mudah dan tidak sakit, ya tidak diistimewakan. Namun, jika seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, membutuhkan bantuan, ya dibantu.

Iya, ketika semua hal tidak dinilai dan dilakukan berdasarkan gender (role), tapi berdasarkan kemampuan dan keputusan individunya, sebagai manusia seutuhnya.

Tuh, kan, benar, feminism nggak serem kok. :)

Lalu apakah saya menjawab pertanyaan kawan saya apakah saya feminis atau bukan? Boleh deh. Tapi jangan sebel sama saya ya? Makasih :D

 

]]>
http://blog.sepatumerah.net/2014/08/gendertalks-feminism-itu-nggak-serem/feed/ 5