<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sepatumerah.net</title>
	<atom:link href="http://blog.sepatumerah.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.sepatumerah.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2013 04:44:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>No Action Tweet Only &amp; Hal-hal Lain Tentang Twitter.</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/no-action-tweet-only-hal-hal-lain-tentang-twitter/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/no-action-tweet-only-hal-hal-lain-tentang-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 May 2013 04:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3256</guid>
		<description><![CDATA[Pernah nggak kamu merasa timeline Twitter-mu terlalu berisik? Saya pernah. Lucu ya, padahal yang saya indera adalah teks, saya melihat dengan mata saya, bukan mendengar dengan telinga; tapi ya gitu, berasanya, berisik banget. Terlalu banyak informasi yang bergulir di timeline, berita nasional, berita internasional, iklan, opini pribadi, puisi, keluhan, amarah, gosip seleb, gosip sesama pengguna Twitter, tips, entah apa lagi; yang kadang...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/05/no-action-tweet-only-hal-hal-lain-tentang-twitter/" title="No Action Tweet Only &#38; Hal-hal Lain Tentang Twitter.">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/phototwitter.jpg"><img class="alignleft  wp-image-3263" alt="phototwitter" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/phototwitter.jpg" width="288" height="384" /></a>Pernah nggak kamu merasa <em>timeline </em>Twitter-mu terlalu berisik? Saya pernah. Lucu ya, padahal <em></em>yang saya indera adalah teks, saya melihat dengan mata saya, bukan mendengar dengan telinga; tapi ya gitu, berasanya, berisik banget. Terlalu banyak informasi yang bergulir di <em>timeline</em>, berita nasional, berita internasional, iklan, opini pribadi, puisi, keluhan, amarah, gosip seleb, gosip sesama pengguna Twitter, tips, entah apa lagi; yang kadang membuat saya berasa sesak napas. (Dan saya bertanya-tanya, apakah <em>tweet-tweet</em> saya pernah membuat orang lain sesak napas? Hm)</p>
<p>Di Twitter (dan media sosial/massa yang lainnya juga sih) penikmat atau pembaca idealnya menjadi pemegang kendali, yang menyaring, berita mana yang perlu dikonsumsi atau nggak; tapi pada kenyataannya, informasi terlalu deras, belum sempat menyaring, eh sudah muncul informasi yang lain.</p>
<p>Dan nggak bisa dipungkiri, sewaktu-waktu, <em>timeline</em> bisa memengaruhi <em>mood</em> saya, terutama kalau ada berita yang menyebalkan atau ada <em>tweet</em> yang marah-marah melulu. Kalau nggak jaga jempol sih, dengan mudah kita (saya deh, saya, bukan kita) terbawa arus berita, jadi kesal, marah, ikuta ngetweet bete. :))</p>
<p>Tapi kalau sudah begitu, solusinya nggak susah kok, sudah saya lakukan sejak lama : saat merasa &#8216;sesak&#8217;, tinggalkan Twitter. Lakukan hal lain.</p>
<p>Berawal dari pembahasan kenapa &#8216;teks&#8217; <em>online</em>/<em>digital</em> bisa seolah-olah bersuara (contoh : saat seseorang menerima tulisan dengan huruf kapital semua, maka ia merasa diteriaki), saya pun menceritakan apa yang saya rasakan di Twitter ini pada kawan saya.</p>
<p>Saya cuma bilang &#8216;Kadang-kadang <em>timeline</em> Twitter berisik.&#8217;</p>
<p>Ia, yang pernah bertahan <em>twitteran</em> selama enam bulan merespon, : &#8216;Salah sendiri Twitteran.&#8221;</p>
<p>Lho, kok responnya begitu?</p>
<p>Lalu ia menambahkan, Twitter itu nggak ada manfaat buat kehidupannya; tidak seperti air, oksigen atau makanan. Ya, saya setuju nggak setuju sih. Kalau untuk bertahan hidup, tentu saja saya setuju, saya nggak butuh Twitter untuk tetap hidup.</p>
<p>Tapi memiliki akun Twitter adalah salah satu sarana untuk &#8216;mengukuhkan&#8217; eksistensi seseorang; supaya seseorang diakui keberadaannya. Ya, bukankah setiap orang pada dasarnya senang diakui eksistensinya? Senang kan, kalau kamu merasa bahwa orang sadar keberadaanmu di dunia (maya dan tak maya) ini? Senang kan, kalau merasa kamu didengar? :D</p>
<p>Dan ada banyak hal positif yang secara pribadi diraih oleh para pengguna Twitter. Keuntungan materi misalnya; bisa dapat uang dengan mengiklankan produk orang alias menjadi <em>buzzers</em>, mempromosikan usaha atau karya pribadi, membangun jaringan kerja, atau yang non materi, misalnya jaringan pertemanan, malah ada yang dapat pasangan atau dapat teman <del>gosip</del> (hai, geng penggosip! Kayak bedinde aja deh, ngegosip mulu *<em>roll eyes</em>* :D )</p>
<p>Teman saya (yang cuma bertahan di Twitter enam bulan tersebut) kemudian menambahkan, merasa bahwa di Twitter, orang-orang itu cuma bisa ngomong doang, nggak beraksi. Kalau dulu sih ada istilah <em>No Action Talk Only</em>, mungkin sekarang istilahnya <em>No Action Tweet Only</em>. :D</p>
<p>Ia mencontohkan orang-orang yang memprotes kepedulian sosialnya di Twitter dan menanyakan &#8216;Dia ngapain lagi selain cuap-cuap di Twitter? Ada aksi nyata nggak?&#8217;</p>
<p>Jawab saya &#8216;Kita nggak tau&#8230;&#8217;</p>
<p>Iya, kita nggak tau, orang yang bercuap-cuap kepedulian sosial di Twitter sudah melakukan apa, atau orang-orang yang tidak cuap-cuap di Twitter sudah pasti tidak peduli keadaan sosial. Kepedulian sosial seseorang nggak bisa dinilai dari status media sosialnya, lah. (Juga kadar keimanan seseorang.)</p>
<p>Cuma saya sih pada dasarnya nggak setuju dengan istilah &#8216;<em>No Action Tweet Only</em>&#8216;, karena bagi saya nge-<em>tweet</em> itu sudah merupakan aksi tersendiri. Satu bentuk aksi sederhana, cuma mengetik 140 karakter, yang <em>impact</em>-nya besar.</p>
<p>Contoh yang sangat sering kejadian : Berapa banyak orang yang diserang jemaat Twitter, hanya gara-gara satu orang ber-<em>followers</em> (lebih) banyak &#8216;memerintahkan&#8217; (secara tersurat maupun tersirat) untuk menyerangnya? Ujungnya apa? Keroyokan Twitter.</p>
<p>Lalu untuk contoh yang lebih penting, terlihat terutama jika ada bencana yang menimpa satu kelompok tertentu. Tweet bisa menjadi penggerak massa untuk membantu. Tidak semua orang bisa melakukan aksi gagah berani turun ke lapangan, tapi dengan mengetweet, ia telah melakukan aksi tersendiri &amp; menjadi pahlawan bagi mereka yang membutuhkannya.</p>
<p>Pada akhirnya saya berpikir, Twitter itu ada manfaatnya kok, buat saya pribadi. Dan saya percaya, banyak orang yang merasakan manfaatnya. Kalau buat saya sih,  terutama untuk sarana mempromosikan karya, baik buku atau jualan entah apa (haha!), berbagi hal-hal menarik (bagi saya, kalau bagi orang nggak menarik sih, problem mereka ya?) atau ingin mengetweet <em>random. </em>Cuma tidak sepenting itu untuk terus-terusan<em> </em>dipantengin 24 jam :D<em></em></p>
<p>Kalau saya sih. Kamu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Sebuah <em>freewriting</em> yang telah mengalami pengeditan.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/no-action-tweet-only-hal-hal-lain-tentang-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keajaiban (Saat) Pedekate</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/keajaiban-saat-pedekat/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/keajaiban-saat-pedekat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 May 2013 14:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3241</guid>
		<description><![CDATA[Kawan saya galak. Caranya berbicara nggak berbeda dengan komandan upacara. Yang nggak kenal sih sudah pasti malas-semalas-malasnya untuk berinteraksi. Jangankan berinteraksi, mungkin kalau melihat dia dari jarak berapa ratus meter, orang-orang tersebut akan lebih memilih untuk pulang *halah* atau mengambil jalan memutar. Kawan saya galak. Banget. Tapi sebenarnya baik hati sih. Oke, mari kita hentikan pembahasan gimana galak tapi baik...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/05/keajaiban-saat-pedekat/" title="Keajaiban (Saat) Pedekate">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3249" class="wp-caption alignleft" style="width: 282px"><a href="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/heylove.jpg"><img class=" wp-image-3249   " alt="Hey Love " src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/heylove.jpg" width="272" height="363" /></a><p class="wp-caption-text">Hey Partner! I Love You. :)</p></div>
<p>Kawan saya galak. Caranya berbicara nggak berbeda dengan komandan upacara. Yang nggak kenal sih sudah pasti malas-semalas-malasnya untuk berinteraksi. Jangankan berinteraksi, mungkin kalau melihat dia dari jarak berapa ratus meter, orang-orang tersebut akan lebih memilih untuk pulang *halah* atau mengambil jalan memutar.</p>
<p>Kawan saya galak. Banget. Tapi sebenarnya baik hati sih.</p>
<p>Oke, mari kita hentikan pembahasan gimana galak tapi baik hatinya dia, tidak penting, karena yang mau saya bahas adalah&#8230; dia lagi pedekate.</p>
<p>Iya, galak-galak gitu, bisa pedekate juga lho! :))</p>
<p>Saya nggak kenal dengan pria yang sedang pedekate dengannya, kalau bertemu saya akan mengucapkan dua hal : mendoakannya supaya tabah dan mengucapkan selamat, karena &#8212; iya, Si Galak ini baik hati sekali.</p>
<p>Di salah satu sesi mengobrol iseng di sebuah kedai kopi; saya menemukan satu hal dari dirinya yang membuat saya tersenyum-senyum dan pengin ngeledek &#8216;CIYEEE, A*****, CIYEEE!&#8217;</p>
<p>Saat itu mendadak telepon selulernya berdering. Ia menatap layar. Tampak sebersit senyum di bibir dan semu merah jambu di pipinya. Lalu, ditekannya tombol &#8216;<em>answer</em>&#8216;</p>
<p>DAN! Cara berbicaranya sungguh&#8230; lembut, bahkan cenderung manja.</p>
<p>Melihat itu, saya mengambil kesimpulan, ketika seorang perempuan jatuh cinta apalagi kalau masih pedekate, mau se-preman atau sejudes apapun, ketika berhadapan dengan orang yang dijatuhinya cinta, maka ia akan melembut.</p>
<p><em>Anyway, </em>hal ini kemudian saya bahas dengan <a href="http://harinattaenrico.tumblr.com" target="_blank">partner</a>. Dan bapak <em>tattoo artist </em>itu mengiyakan. Sebelum memutuskan berpacaran, kami berteman dulu, dan dia bilang saya dulu lempeng. Begitu pedekate, cara berbicara saya berubah, jadi lebih <del>le</del>lembut.</p>
<p>Ya menurut saya sih, perbedaan cara bicara itu wajar lah ya. Bahkan biarpun saya sudah (ke)lama(an) pacaran, nyaris 6 tahun, saya bisa merasakan kok, <strong>masih</strong> ada bedanya cara berbicara saya ke <em>partner</em> dengan ke teman, bahkan sahabat sekali pun. <em></em></p>
<p>Kemudian saya jadi teringat dengan masa-masa pedekate. Bok, ternyata banyak banget ya hal-hal &#8216;ajaib&#8217; yang kita (kita? Elo aja kali, Kke) lakukan saat pedekate.</p>
<p>Saat kencan adalah hal paling repot dan serbasalah sedunia, saya pengin terlihat okay, tapi nggak lebay saat bertemu dengan dia. Beli baju baru untuk dipakai saat kencan itu sering kejadian. Tapi tololnya nih, kadang sudah beli baju baru yang cantik, tapi saat berpakaian sebelum kencan, mendadak saya nggak pede, lalu kembalilah saya memakai <em>t-shirt</em>, <em>jeans</em> dan <em>sneakers</em> saya.</p>
<p>Itu soal baju. Belum soal <em>make-up</em>, pengin dandan agak berbeda, biar <em>manglingi</em>, tapi nggak mau menor juga. Pengin pakai <em>makeup</em> tapi natural<em> </em>itu <em></em>semacam kontradiktif emang, tapi bisa kok, lihat tutorialnya di sini : <a href="http://www.looxperiments.com/2013/01/no-makeup-makeup-look-tutorial.html" target="_blank">No make up Make Up tutorial</a>. Yang bikin tante <a href="http://merillamay.blogspot.com/" target="_blank">Merilla May</a> *digeplak Merilla*</p>
<p>Bersentuhan baik sengaja maupun tidak sengaja itu cukup bikin kayak ada kupu-kupu terbang di perut, plus ujung-ujung jari kaki dan tangan serasa kesetrum. Dan, detak jantung? Nggak usah nanya! Tapi perasaan itu nagih, ya kalau saya sih, makanya kadang saya suka sok mendekat-dekatkan tangan ke tangannya, supaya kesenggol. *alaah*. Tapi sumpah, saya tidak pernah melakukan aksi lap-mulut-dengan-tissue-untuk-membersihkan-makanan-di-bibir. Partner juga nggak. :))</p>
<p>Setiap saat saya memikirkan gebetan, entah itu murni memikirkan dia saja, atau momen-momen kencan, atau baca-baca pesan-pesan teksnya di <em>handphone </em>(Pasti disimpan kan?) mendadak rem senyum saya&#8230; <em>blong</em>. Sudah saja, senyum nggak bisa ditahan. Yang rada malu sih kalau misalnya lagi bersama orang lain.</p>
<p>Tidak setiap saat obrolan <em>tek-tok</em>, atau terus-terusan berlangsung, ada masanya kehabisan bahan pembicaraan, nah kalau saat pedekate ini terjadi, langsung berpikir &#8216;Waduh, dia bosen nggak ya?&#8217;, lalu berusaha keras mencari-cari topik pembicaraan.</p>
<p>Suka <em>googling</em> namanya. Entahlah ya, ini mungkin semacam <em>background check</em> juga, sepak terjangnya di dunia itu seperti apa sih? <em></em>Suka juga &#8216;mampir&#8217; melihat <em></em>profil segala akun sosial medianya sih, kalau yang ini, selain <em>background check</em>, ya buat <del>nge-save</del> &#8216;menikmati&#8217; foto-fotonya, tulisan-tulisannya, karya musik/videonya.</p>
<p>Pas pedekate, saya juga suka iseng-iseng melakukan hal dodol yang, yah kalau dalam keadaan &#8216;normal&#8217; nggak mungkin saya lakukan. Salah satu contohnya memasukkan nama saya dan namanya ke satu website yang (pura-puranya) bisa menghitung berapa persen kecocokan. Kalau nama lengkap ternyata persen kecocokannya kecil, ganti jadi nama panggilan. Kalau masih kecil juga, nama depan. Masih kecil juga? Nama baptis. *halah*</p>
<p>Selain <em>website</em> yang mengukur kecocokan secara nama, saya juga mulai intip-intip <em>website</em> yang mengukur kecocokan secara zodiak, atau membaca ramalan bintang di majalah. Kalau nggak cocok yang nggak apa-apa juga sih. Soal nama dan zodiak itu cuma iseng-iseng sih. :))</p>
<p>Ada kawan saya yang secara khusus &#8216;mempelajari&#8217; apa yang menjadi minat sang gebetan, entah musik, film, olahraga dan lain-lain, dengan alasan supaya bisa mengobrol atau berdiskusi, &#8216;Lagian malu dong kalau kita kelihatan nggak tau&#8217;. Ya tiap orang beda-beda sih, saya nggak keberatan untuk terlihat nggak tau, kan bisa nanya, lalu dia jawab, terus puas-puasin deh liat dia ngomong, <del>tapi mendengarkan penjelasannya nggak</del>.</p>
<p>Apa lagi ya? Perasaan banyak deh hal-hal ajain yang dilakukan di masa-masa pedekate. Kok saya lupa ya? Sudah lama nggak pedekate sih. Apa pedekate aja lagi gitu? *digetok partner*</p>
<p>Kalau ada keajaiban pedekate yang pernah teman-teman alami, boleh lho, dibagi :)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/keajaiban-saat-pedekat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tolong Jangan Ajari Ibu Saya</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/tolong-jangan-ajari-ibu-saya/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/tolong-jangan-ajari-ibu-saya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 17:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3229</guid>
		<description><![CDATA[Dear Tante Sakti (Sasak Tinggi) Terima kasih lho, atas perhatiannya dengan status lajang saya. Saya tahu, bagi Tante, perempuan itu baru dianggap berprestasi kalau sudah berhasil menikah dan memberi cucu pada orangtua. Iya nih, kalau definisi prestasi Tante seperti itu, saya memang payah banget, bukan perempuan harapan lah. Nggak kayak anak-anak Tante. Dan terima kasih atas nasehatnya untuk tidak terlalu...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/05/tolong-jangan-ajari-ibu-saya/" title="Tolong Jangan Ajari Ibu Saya">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Tante Sakti (Sasak Tinggi)</p>
<p>Terima kasih lho, atas perhatiannya dengan status lajang saya. Saya tahu, bagi Tante, perempuan itu baru dianggap berprestasi kalau sudah berhasil menikah dan memberi cucu pada orangtua. Iya nih, kalau definisi prestasi Tante seperti itu, saya memang payah banget, bukan perempuan harapan lah. Nggak kayak anak-anak Tante.</p>
<p>Dan terima kasih atas nasehatnya untuk tidak terlalu memikirkan karir (karena kata tante, cowok-cowok itu takut sama cewek berkarir tinggi) dan pendidikan (karena cowok-cowok juga takut sama cewek bergelar banyak).</p>
<p>Terus terang, saya sih nggak memikirkan karir ya, Tante, biasa aja ah. Kalau pendidikan, mungkin agak sulit ya, karena pada dasarnya saya suka belajar dan sekolah. Lagi nyari beasiswa nih, tante mau ngasih?</p>
<p>Terima kasih karena telah mengkhawatirkan cowok-cowok yang (kata tante) bakal minder; tapi Tante nggak usah cemas, saya nggak doyan kok sama cowok minderan. Semua cowok yang pernah jadi pacar saya nggak ada yang minderan, Tan. Bahkan yang sekarang nih ya, Haleluya banget, mendukung banget segala sesuatu yang saya lakukan; mau sekolah lagi, boleh. Mau berkarir serius di bidang saya sekarang, boleh katanya. Mau jalan-jalan sendiri, boleh katanya. Mau nyeriusin hobi jadi bisnis, boleh. Mau ini, boleh. Mau itu boleh. Ia mendukung dan mengizinkan saya melakukan hal-hal positif yang ingin saya lakukan. Nggak ada minder-minderan.</p>
<p>Tante, terima kasih juga lho, atas perhatiannya akan sifat saya, tadi kata Tante apa? Saya musti mengubah sifat-sifat &#8216;buruk&#8217; saya, supaya segera mendapatkan jodoh. Ah, Tante, kayak kenal saya sejak lahir saja. Eh tapi, sekali lagi, terima kasih, ya.</p>
<p>Oh terima kasih juga ya, Tante, atas sarannya untuk tidak terlalu pemilih. Susah deh rasanya membayangkan <em>mungut</em> cowok di pinggir jalan, terus dikawin. Saya pemilih memang. Saya mau beli minuman kotak di supermarket saja lama lho. Tapi saran tante diterima dan akan saya pertimbangkan.</p>
<p>Beneran deh, Tante itu baik banget dan perhatian banget pada saya. Semua saran Tante saya terima sebagai bentuk kepedulian Tante pada saya.</p>
<p>Cuma, yang saya nggak suka adalah ketika Tante mulai &#8216;menyalahkan&#8217; cara mendidik Ibu saya, yang kata Tante terlalu longgar, sehingga tidak mampu menghasilkan anak perempuan se-&#8217;berprestasi&#8217; anak-anak Tante.</p>
<p>Jangan salahkan Ibu saya, kalau ia membebaskan saya sepenuhnya, karena bagi Ibu, saya adalah manusia dewasa yang memiliki kehidupan sendiri dan punya hak untuk memilih apapun yang saya mau (plus bertanggung jawab atas pilihan saya)</p>
<p>Jangan salahkan Ibu saya, kalau membiarkan saya kurang berprestasi dalam soal menikah dan beranak. Juga jangan menasehati beliau cara mencetak perempuan seperti anak-anak Tante; <strike>yang menikah dan memiliki anak yang cantik-cantik, biarpun S1 satu saja nggak selesai, padahal dari sekolah abal-abal dan kontribusinya buat masyarakat hanya kepadatan penduduk.</strike><em> *ternyata kalimat terakhir paragraf ini kalau dibaca ulang pedes dan terkesan nyerang  kelompok perempuan tertentu ya? Terima kasih buat yang ngingetin! :)* *sungkem*</em></p>
<p>Tadi apa yang Tante bilang? Saya harus dipaksa dan dijodohkan seperti yang Tante lakukan pada putri-putri Tante?</p>
<p>Diketawain kan sama Ibu saya? :))</p>
<p>Makanya, jangan kasih saran kayak gitu deh, percuma, Ibu saya mana mau? Beliau sama sekali nggak pernah mau membuat saya tertekan. Seperti yang dialami anak Tante dulu gitu, lho. Ih, saya ingat betul lho, anak Tante stress berat pas di umur 25 Tante berondong dengan pertanyaan kapan kawin. Terus saya juga masih ingat, anak Tante yang satu lagi akhirnya pasrah dijodohkan dengan pilihan Tante di umur 27.</p>
<p>Pokoknya jangan salahkan Ibu saya deh. Karena cara mendidik dan membesarkan anak, versi Tante dan versi Ibu saya sangat berbeda. Jauh.</p>
<p><strong>PS.</strong> Untung saya bukan anak Tante.</p>
<p style="text-align: right;">Salam</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Saya, si perempuan kurang berprestasi (menurut Tante)</strong></p>
<p style="text-align: center;">Tulisan yang dibuat dengan dongkol karena serangan terhadap Ibu saya.</p>
<p style="text-align: center;">Sudah, ke saya saja kenapa sih?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/tolong-jangan-ajari-ibu-saya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Permisi, Toilet Di Mana Ya? Kalau Sopan Santun?&#8221;</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/permisi-toilet-di-mana-ya-kalau-sopan-santun/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/permisi-toilet-di-mana-ya-kalau-sopan-santun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 May 2013 10:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3224</guid>
		<description><![CDATA[In Japanese schools, the students don&#8217;t get ANY exams until they reach grade four (the age of 10) ! Why? Because the goal for the first 3 years of schools is NOT to judge the child&#8217;s knowledge or learning,but to establish good manners and to develop their character! Yes, that&#8217;s what our scholars taught us: Manners BEFORE knowledge! http://www.yesiknowthat.com Belakangan...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/05/permisi-toilet-di-mana-ya-kalau-sopan-santun/" title="&#8220;Permisi, Toilet Di Mana Ya? Kalau Sopan Santun?&#8221;">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>In Japanese schools, the students don&#8217;t get ANY exams until they reach grade four (the age of 10) ! </em></p>
<p><em>Why? </em></p>
<p><em>Because the goal for the first 3 years of schools is NOT to judge the child&#8217;s knowledge or learning,but to establish good manners and to develop their character!</em></p>
<p><em>Yes, that&#8217;s what our scholars taught us: <strong>Manners BEFORE knowledge</strong>!<br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><a href="http://www.yesiknowthat.com">http://www.yesiknowthat.com</a></p>
</blockquote>
<p>Belakangan ini saya sering sebel nggak guna. Iya, sebel untuk peristiwa-peristiwa yang seharusnya sih bisa disikapi dengan &#8216;Ya sudahlah&#8217;, sambil mengelus dada sendiri. Kalau dada orang, ntar dituntut atau orangnya doyan *oh abaikan. Sungguh garing*</p>
<p>Lalu, setelah mengalami, seharusnya, ya sudahlah ya, biarkan berlalu, tapi ini kepikiran melulu. Lucu deh, orang lain sih susah <em>move-on</em> untuk urusan cecintaan, saya kok ya susah <em>move on</em> untuk hal-hal beginian.</p>
<p>Salah satu peristiwa yang membuat saya sebal terjadi di kampus tempat saya mengajar. Untung bukan mahasiswa saya yang melakukannya, tapi mahasiswa jurusan lain. Duh, kalau sampai mahasiswa jurusan saya, bisa saya minus nilainya.</p>
<p>Jadi ceritanya, dua orang mahasiswa saya menghampiri menanyakan sesuatu, saya pun mengobrol dengan mereka sambil berdiri, jarak sekitar 1 meter. Eh mendadak, muncul mahasiswa lain, yang sepertinya mau lewat; dengan cuek ia melenggang di tengah-tengah kami, tanpa bilang permisi.</p>
<p>&#8220;Hey, nggak bisa ngomong permisi ya?&#8221; tegur saya.</p>
<p>Ia hanya menoleh, lalu berbalik. Ngepet.</p>
<p>Lalu, peristiwa kedua, terjadi di <em>lift</em>, seorang dosen  berdiri di dekat tombol <em>lift,</em> seorang mahasiswa (lagi-lagi, untungnya bukan mahasiswa saya), sepertinya perlu untuk menekan tombol lantai tujuannya, dengan lempeng ia menjulurkan tangan, di depan wajah pak dosen tersebut, tanpa bilang &#8216;Maaf&#8217;. Beliau diam saja, tapi saya yang gemas. Kalau saya ada di posisi beliau, mungkin tangan mahasiswa tersebut sudah saya tepis sambil mendelik.</p>
<p>Iya, hal-hal yang membuat saya sebal dan kepikiran itu berkaitan dengan sopan-santun dasar. Saya bingung deh, sekarang kok orang-orang, terutama yang muda-muda (sayangnya berpendidikan), sepertinya mengabaikan hal-hal sederhana macam itu. Bingung. Apakah hal tersebut sudah tidak pernah diajarkan lagi di rumah mereka? Orangtua yang terlalu sibuk, mungkin?</p>
<p>Dan mungkin saya kena tulah, karena sebel dengan hal-hal macam itu, berkali-kali saya harus mengalami peristiwa sejenis yang bikin saya <em>ngedumel</em>.</p>
<p>Di sebuah resto <em>fastfood,</em> seorang <em>waiter</em> sedang mengepel lantai, orang-orang dengan cuek menginjak-injak lantai basah dengan lagak seolah tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Tabok nih ya, tabok!</p>
<p>Yang lain, yaitu mengucapkan &#8216;terima kasih&#8217; ketika menerima bantuan orang lain. Enggak, saya kalau menolong tulus kok, sama sekali nggak mengharapkan medali, atau piala, tapi yang namanya mengucap terima kasih itu standar banget nggak sih? Masa sudah dibantu, terus menghilang, tanpa kabar.</p>
<p>Tendyang!</p>
<p>Di kesempatan lain, saat saya sedang berada di supermarket, saya melihat seorang mbak-mbak menyenggol beberapa plastik makanan ringan sampai berjatuhan. Menyadari itu, ia cuma menoleh, menatap lantai. Yang saya kaget, kemudian ia melengos dan melenggang. Saya yang berada dekat dengan apa yang sudah dijatuhkannya, karena merasa gerah, akhirnya memunguti dan mengembalikan satu persatu ke rak semula, sambil pengin melempar salah satunya ke punggung si Mbak, sih.</p>
<p>Lalu masalah mengantri, baik di jalan raya, di antrian kasir, di depan bilik ATM atau di mana pun. Saya bingung kenapa ada orang yang bisa dengan muka badaknya menyela antrian. Duh, jalan atau supermarket milik emak lo ya?</p>
<div id="attachment_3227" class="wp-caption aligncenter" style="width: 340px"><a href="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/mobeeel.jpg"><img class=" wp-image-3227 " alt="This is it! Mobil yang memotong antrian. Apakah Anda pemiliknya? :))" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/mobeeel.jpg" width="330" height="431" /></a><p class="wp-caption-text">This is it! Mobil yang memotong antrian. Apakah Anda pemiliknya? :))</p></div>
<p>Belum lagi masalah membuang sampah, betapa seringnya saya melihat mobil-mobil mahal, membuka jendela, lalu membuang sampah ke jalan. Mau berpikir positif bahwa duitnya sudah habis mencicil mobil sampai membeli tong sampah mungil buat di mobil, kok ya susah?</p>
<p>Masih banyak deh hal-hal yang membuat saya bertanya <em>why oh why</em>? Dan yang paling bikin saya terheran-heran adalah, pelaku bukan orang yang nggak berpendidikan juga aja, gitu. :|</p>
<p>Bukan berarti saya adalah ahlinya sopan santun sih, tapi, ya&#8230; saya merasa, dengan memerhatikan dan melakukan hal-hal kecil yang berhubungan dengan sopan-santun, itu sama saja dengan menghargai orang lain.</p>
<p>Bayangin deh betapa adem-nya hidup, kalau satu sama lain saling menghargai. *TSAH!*</p>
<p>Atau mungkin saya harus berhenti sebal, mikirin dan <em>move-on</em> dengan memaklumi?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/permisi-toilet-di-mana-ya-kalau-sopan-santun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu Cantik, Cantik, Cantik Dari Hatimu* (Oh yeaah?)</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/kamu-cantik-cantik-cantik-dari-hatimu-oh-yeaah/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/kamu-cantik-cantik-cantik-dari-hatimu-oh-yeaah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 May 2013 13:59:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>
		<category><![CDATA[SayaSuka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3207</guid>
		<description><![CDATA[By today&#8217;s beauty standards, of course, Marilyn Monroe was an oil tanker. ~ Dave Barry Beberapa waktu yang lalu saya menemukan seseorang yang membicarakan tentang iklan Dove edisi Real Beauty Sketches di twitter, menurutnya, di ujung film ia sampai menangis. Wih, penasaran dong ! Maka saya pun mencarinya. Dapat. Benar ,  iklan ini benar-benar menyentuh. Si saya yang nonton film...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/05/kamu-cantik-cantik-cantik-dari-hatimu-oh-yeaah/" title="Kamu Cantik, Cantik, Cantik Dari Hatimu* (Oh yeaah?)">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>By today&#8217;s beauty standards, of course, Marilyn Monroe was an oil tanker. ~ <strong>Dave Barry</strong></em></p></blockquote>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya menemukan seseorang yang membicarakan tentang iklan Dove edisi Real Beauty Sketches di twitter, menurutnya, di ujung film ia sampai menangis.</p>
<p>Wih, penasaran dong ! Maka saya pun mencarinya.</p>
<p>Dapat.</p>
<p>Benar ,  iklan ini benar-benar menyentuh. Si saya yang nonton film animasi saja bisa menangis (terakhir <em>mewek</em> nonton The Croods, kamu?), ya berkaca-kaca sambil merinding gitu.</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/XpaOjMXyJGk" height="315" width="560" allowfullscreen="" frameborder="0"></iframe></p>
<p>Jadi ceritanya, di iklan ini diceritakan ada sebuah project yang melibatkan seorang <em>forensic artist</em> dengan beberapa orang perempuan.</p>
<p>Awalnya <em>forensic artist</em> ini membuat sketsa seorang model tanpa melihat, hanya berdasarkan deskripsi yang dilakukan orang tersebut. Kemudian, ia membuat sketsa orang yang sama, tapi berdasarkan deskripsi yang dilakukan oleh orang lain, yang sengaja dipertemukan dengan model sketsa tersebut.</p>
<p>Hasilnya, sketsa yang dibuat berdasarkan deskripsi orang lain lebih cantik dibandingkan dengan sketsa yang dibuat berdasarkan deskripsi diri sendiri.</p>
<p>Ya ujung-ujungnya, pesannya adalah, seringnya perempuan menjadi kritikus paling berat untuk (kedaan fisik) dirinya sendiri. Iklan ditutup dengan <em>tagline</em> : <strong><em>You are more beautiful than you think.</em></strong></p>
<p>Co cweet. :)</p>
<p>Biasanya sih saya malas melihat iklan produk kecantikan. Kenapa? Karena kebanyakan iklan produk kecantikan selalu menggelitik perasaan insekyur orang (atau bahkan mengada-ada, bikin yang sebenarnya nggak apa-apa, jadi terlihat bencana).</p>
<p>Coba bandingin dengan pesan mayoritas iklan produk kecantikan lain; rata-rata sama, semua memiliki pesan kalau tubuh nggak sempurna, meninggal sajalah. Celakalah kalau kamu nggak putih, nggak kurus, keriput, muka berminyak, muka jerawatan dan seterusnya.</p>
<p>Bahkan ada yang menurut saya lebay, ada iklan penghilang bekas luka yang dengan dramatisnya menampilkan adegan seorang perempuan yang panik lebay gara-gara ada bekas luka kecil di tangannya; seolah-olah dengan luka semungil itu maka tidak akan ada lagi pria yang meminatinya.</p>
<p>Bok, kalau itu benar kejadian, apa kabar saya yang zaman kecil sering jatuh dengan bekas jahitan di sana-sini ya? :))</p>
<p>Menggelitik perasaan <em></em>insekyur adalah cara klasik untuk menyampaikan pesan dalam iklan produk kecantikan (dan produk-produk lainnya), lalu menjanjikan kalau pakai produk mereka, hidup jadi indah (seindah fisik dan hidup para model yang ada di iklan tersebut) ; agar orang-orang beramai-ramai membeli produknya sebagai solusi supaya <em>they live happily ever after. </em>:D</p>
<p>Setelah sekian lama &#8216;terbiasa&#8217; melihat iklan yang kayak begitu, mendadak muncul iklan dengan pesan menerima kekurangan diri tanpa membuatnya memiliki <em>negative body image</em>; karena apa yang dianggap &#8216;buruk&#8217; oleh diri sendiri, ternyata ya nggak segitunya bagi orang lain.</p>
<p>Iklan dengan pesan macam ini justru mengundang simpati tanpa perlu ngomong : kalau lo nggak pake produk gue, meninggal caja lah lo. Mereka yang tersentuh dengan pesannya bakal jatuh cinta dan setia dengan produk ini. Soalnya pesannya adem. :D</p>
<p>Contohnya sih saya, dulu saya pemakai setia <a href="http://www.thebodyshop.co.id/">The Body Shop</a> &#8212; selain sering berkampanye tentang cinta lingkungan, The Body Shop juga mengkampanyekan <em>positive body image </em>dan <em>self-esteem.</em> Itu asli saya cinta banget deh sama The Body Shop, karena saya merasa produk ini adalah produk positif.</p>
<div id="attachment_3210" class="wp-caption aligncenter" style="width: 324px"><a href="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/ruby_poster.preview.jpg"><img class=" wp-image-3210" alt="ruby_poster.preview" src="http://blog.sepatumerah.net/wp-content/userfiles//2013/05/ruby_poster.preview.jpg" width="314" height="472" /></a><p class="wp-caption-text">sumber : <a href="http://adsoftheworld.com">http://adsoftheworld.com</a></p></div>
<p>Yang kemudian membuat saya patah hati dengan The Body Shop adalah ketika mereka mengeluarkan rangkaian produk <a href="http://www.thebodyshop.co.id/search/shiso">MOISTURE WHITE SHISO™</a> , yang diklaim memutihkan/mencerahkan kulit.</p>
<p>Lho, kok? eL Ha O Ka O Ka?</p>
<p>Katanya<em> love your body</em>, kok ya mengeluarkan produk memutihkan/mencerahkan kulit? Terus terang saya kecewa, tapi bagusnya ya saya jadi tidak merasa wajib menyeragamkan produk perawatan saya memakai produk The Body Shop, atau merasa harus membeli setiap mereka <em>launch</em> produk baru mereka. Aman di dompet. :D</p>
<p>Pada akhirnya ya sudahlah ya, semua produsen/pihak kapital ya memang ujung-ujungnya jualan sih, mau gimana pun bentuk pesannya. Untuk iklan Dove tadi, saya kan tersentuh, tapi karena pengalaman buruk dengan The Body Shop bikin saya insaf, jadinya ya saya nggak bakal segitunya sama Dove.</p>
<p>Oh balik lagi ke iklan Dove tadi, saya juga nggak menutup mata dari kenyataan bahwa model-model yang tampil di iklan itu ya secara tampilan tidak terlalu jauh juga dari standar cantik media massa. Bentuk tubuh masuk hitungan ideal, tidak terlalu keriput, posisi dan bentuk bagian-bagian wajah proporsional, kulit tidak terlalu bernoda. Oh, dan kebanyakan modelnya memiliki ras Kaukasian. (ada yang Asia dan Negro juga sih, tapi nggak banyak)</p>
<p>Semua yang ditampilkan adalah mereka yang secara tampilan masuk kategori &#8216;biasa&#8217;<em>. </em>Walaupun nggak masuk kategori &#8216;uh wow&#8217; yang serba-sempurna, tapi bisa dianggap &#8216;enak dilihat&#8217; lah.</p>
<p>Saya sih mikir, kalau yang ditampilkan mereka yang secara tampilan JAUH banget dari standar cantik, apa kabar ya hasilnya? Karena kadang-kadang penilaian seseorang buat orang yang jauh banget dari standar cantik media massa itu suka sadis : Monyong kayak bemo, idungnya kayak jambu, jidatnya kayak landasan pesawat terbang, kulitnya item banget, badannya luas dan berbagai macam celaan-celaan sejenis.</p>
<p>Jadi produk ini memberi <em>positive body image</em> pada mereka yang kecantikannya masuk golongan biasa-biasa saja, bukan untuk semua golongan. :D</p>
<p>*judulnya memang sengaja nyolong dari cuplikan lagu Cheribelle :D</p>
<p><strong>UPDATE</strong></p>
<p>BTW, iklan Dove The Real Beauty Sketches ini ada parodi versi lakinya. Dodol bener deh! :))</p>
<p><iframe width="560" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/FpWkZiZaQsA" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/05/kamu-cantik-cantik-cantik-dari-hatimu-oh-yeaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Salah Toket dan Paha Yang Terlihat</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/bukan-salah-toket-dan-paha-yang-terlihat/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/bukan-salah-toket-dan-paha-yang-terlihat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Apr 2013 03:47:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3198</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, saat sedang bersama partner, salah satu stasiun televisi menayangkan sebuah liputan tentang demonstran yang protes pada kasus pemerkosaan balita di India. Pemerkosaan balita? Itu asli saya dan partner bengong. Dunia memang sudah beneran sakit. Sinting. Tapi gara-gara kasus balita yang diperkosa tersebut,  saya jadi teringat obrolan dengan beberapa orang yang ujung-ujungnya membuat saya kesal. Obrolan tentang...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/04/bukan-salah-toket-dan-paha-yang-terlihat/" title="Bukan Salah Toket dan Paha Yang Terlihat">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, saat sedang bersama partner, salah satu stasiun televisi menayangkan sebuah liputan tentang<a href="http://www.beritabatavia.com/detail/2013/04/22/14/16231/balita.diperkosa.secara.keji.di.india#.UX3i7sqDvwY"> demonstran yang protes pada kasus pemerkosaan balita di India</a>.</p>
<p>Pemerkosaan balita? Itu asli saya dan partner bengong. Dunia memang sudah beneran sakit. Sinting.</p>
<p>Tapi gara-gara kasus balita yang diperkosa tersebut,  saya jadi teringat obrolan dengan beberapa orang yang ujung-ujungnya membuat saya kesal. Obrolan tentang perkosaan dan pelecehan tentunya. Setelah kesal, pada akhirnya saya hanya bisa menghela napas menyerah lalu memaklumi &#8216;Ya sudahlah, pola pikirnya segitu doang&#8217;.</p>
<p>Ya apa lagi sih yang bikin sebal kalau membahas kasus perkosaan/pelecehan terhadap perempuan dan bilang bahwa itu terjadi karena baju. Iya baju. Katanya baju yang menampakan toket dan paha yang bikin mereka diperkosa.</p>
<p>Aduh.</p>
<p>Asli kadang saya suka berpikir, mereka ini mikirnya gimana sih?</p>
<p>Pasti pernah dong ketemu dengan orang yang punya pendapat seperti itu? Pastinya orang-orang seperti itu adalah mereka yang bereaksi : &#8216;Ceweknya pakai baju gimana? Kalau minim ya pantes aja.&#8217; kalau mendengar kasus perempuan diperkosa atau dilecehkan.</p>
<p>Lalu ketika tidak menemukan &#8216;kesalahan&#8217; pada baju, mulai deh menyalahkan tubuh korban. &#8216;Abis bodinya semok sih!&#8217;, &#8216;Abis toketnya gede sih&#8217;. Yah, bok, badan lagi disalahin, bukannya sudah dari sononya ya begitu? Terus kalau tidak mau mengalami pelecehan atau perkosaan kudu piye? Lepas toket terus disimpan di tas?</p>
<p>Dan ketika masih nggak ada kesalahan terhadap badan, kemudian disalahkanlah perilaku korban. &#8216;Abis kelakuannya murahan sih&#8217;, murahan dalam artian : bergaya sensual, merokok, pulang malam dan lain-lain.</p>
<p>Yaelah, susah amat sih membuat orang-orang seperti ini mengerti bahwa yang salah bukan korban; tapi pola pikir pelaku. Iya, pola pikir yang menganggap ia lebih superior dari orang lain dan karena itu ia boleh melakukan apa saja terhadap siapa saja.</p>
<p>Pola pikir seperti itulah yang menyebabkan timbulnya perkosaan dan pelecehan terhadap perempuan. Dan bukan cuma itu, tapi juga kasus-kasus kekerasan dalam <em>relationship</em>, kekerasan terhadap anak, penyiksaan terhadap binatang dan segala sikap-sikap yang tidak memanusiakan orang lain dan menghargai mahluk lain.</p>
<p>Kalau ngikutin tulisan di blog ini sih, saya sudah pernah menulis tentang hal ini, berkali-kali, bahwa kasus pemerkosaan/pelecehan seksual bukan karena baju (dan tubuh atau perilaku korban), lalu, tahu nggak respon yang saya dapat apa?</p>
<p>Karena saya bilang perkosaan bukan karena pakaian minim, mereka mengkritik kadar keimanan saya. Katanya saya kurang mempelajari agama. Okedeh.</p>
<p>Ada pula yang memaklumi,<em> oh situ kan bukan Islam, jadi pantaslah pendapatnya membela mereka yang berpakaian minim</em>. Ini seriusan ada lho yang merespon gini. Okedeh.</p>
<p>Kalau sudah bawa-bawa agama, ya saya diamkanlah, karena urusannya ribet dan sensitif kalau saya berargumen.</p>
<p>Lalu, karena saya bilang perkosaan bukan karena pakaian minim, kemudian mereka beranalogi, Kucing mana sih yang nggak tergiur kalau disodorin ikan asin? Ya kalau gini sih, respon saya: perempuan bukan ikan asin, setidaknya saya tidak mau dong disamakan dengan ikan asin, biarpun enak, tapi masa mau dianggap benda mati? Lalu laki sih seharusnya bukan kucing ya? Iya dong, masa mau disamain dengan kucing, yang biarpun imut nan <em>unyu</em>, tetap saja binatang.</p>
<p>Banyak respon yang menentang, membuktikan bahwa masih banyak orang yang menganggap kalau terjadi kasus perkosaan atau pelecehan yang salah baju atau bodi.</p>
<p>Njuk kita kudu piye iki?</p>
<p>Padahal kan, sudah terbukti banget, banyak kasus-kasus yang mematahkan pendapat &#8216;yang salah baju dan bodi&#8217;? Ya kan?</p>
<p>Satu dari sekian banyak contoh adalah perkosaan balita di India yang saya lihat di TV. Silahkan <em>googling</em>, masih banyak kasus pemerkosaan balita. Oh sekalian <em>googling</em> juga, kasus pemerkosaan nenek-nenek. Plus pemerkosaan terhadap bocah cowok?</p>
<p>Coba, kalau memang yang salah adalah baju, bodi, perilaku, kenapa balita &#8211; yang teteknya pun belum tumbuh dan perilakunya pasti masih kanak-kanak- bisa jadi korban?</p>
<p>Di Twitter saya pernah menyatakan ini, tau-tau ada yang bilang &#8216;Balitanya pakai bikini kali&#8217;. Itu orangnya ngajak dikentutin banget deh. :P</p>
<p>Coba, kalau memang yang salah adalah baju, bodi, perilaku, kenapa nenek-nenek &#8211; yang mungkin bodi-nya sudah kisut bisa jadi korban juga?</p>
<p>Coba, kalau memang yang salah adalah baju, bodi, perilaku, kenapa bocah cowok, yang nggak akan pernah punya toket juga bisa jadi korban?</p>
<p>Sudah ngeliat contoh kasus gitu kok ya masih <em>kekeuh </em>dengan pendapat bahwa perkosaan itu salah baju/bodi/perilaku cewek.</p>
<p>Heran.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/bukan-salah-toket-dan-paha-yang-terlihat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kompetisi  Tragedi</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/kompetisi-tragedi/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/kompetisi-tragedi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 12:26:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3189</guid>
		<description><![CDATA[Human beings simply like to compare but don&#8217;t like being compared. Even tragedies are compared, yet we said it&#8217;s unfair when we&#8217;re compared. &#8211; Connie Hari ini saya nyaris memulai hari dengan bete. Kemarin juga. Berita pengeboman di event Boston Marathon penyebabnya, eh bukan ding, tapi reaksi-reaksi dari banyak orang tentang peristiwa ini. Kemarin saat berita tentang peristiwa ini sliweran...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/04/kompetisi-tragedi/" title="Kompetisi  Tragedi">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Human beings simply like to compare but don&#8217;t like being compared. Even tragedies are compared, yet we said it&#8217;s unfair when we&#8217;re compared. &#8211; <a href="http://twitter.com/dear_connie">Connie</a></em></p></blockquote>
<p>Hari ini saya nyaris memulai hari dengan bete. Kemarin juga. Berita pengeboman di <a href="http://www.cbsnews.com/8301-201_162-57579671/two-explosions-rock-boston-marathon-dozens-injured/"><em>event</em> Boston Marathon</a> penyebabnya, eh bukan ding, tapi reaksi-reaksi dari banyak orang tentang peristiwa ini. Kemarin saat berita tentang peristiwa ini <em>sliweran</em> di Twitter, selain banyak <em>tweet</em> turun berbelasungkawa, tapi ada juga <em>tweet-tweet njijiki</em> yang menunjukan bahwa orang-orang tersebut gagal berempati, jadi nggak manusiawi.</p>
<p>Mereka mengkritik media yang terlalu berlebihan mengekspos masalah ini, sehingga peristiwa pengeboman yang juga terjadi di waktu yang berdekatan, yaitu di <a href="http://edition.cnn.com/2013/04/15/world/meast/iraq-violence">Irak </a>dan <a href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-125820/US-bomb-kills-30-Afghan-wedding.html">Afghanistan. </a> Ya mungkin pada kenyataannya demikian, tapi ya nggak mesti juga jadi nyolot, lalu membanding-bandingkan satu tragedi dengan tragedi lainnya. Oh, ada juga yang bilang pada intinya Amerika nggak apa-apa dibom. Itu. Otaknya. Di mana. Sih.</p>
<p>Saya nyaris gatal berkomentar, tapi untung itu di Twitter, jadi saya tinggal menjauhkan <em>handphone</em> dan melanjutkan hari.</p>
<p>Nah pagi tadi, saya kembali mendengar pembicaraan beberapa orang secara langsung, berkomentar yang mirip-mirip, tetap membandingkan satu bencana dengan bencana lain; kemudian menunjukkan keberpihakannya kepada peristiwa yang membawa korban lebih banyak. Ada juga yang menunjukkan keberpihakannya secara politik. Oh ada juga secara agama.</p>
<p>Bok. Penting ya?</p>
<p>Ini mengingatkan saya pada kasus yang sama saat terjadi tragedi gempa di Tasikmalaya, beberapa tahun silam. Sama, alih-alih berempati, tapi malah sibuk berkomentar; membandingkannya dengan gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta.</p>
<p>&#8216;Lebih parah yang di Yogya, yang di Tasik sih nggak seberapa!&#8217;</p>
<p>Atau peristiwa tragedi tsunami Pangandaran, yang kemudian dibandingkan dengan tragedi tsunami di Aceh.</p>
<p>&#8216;Di Aceh lebih mengerikan dibanding di sini&#8230;&#8217;</p>
<p>Saya merasa hal tersebut nggak pantas sih disebutkan. Bencana ya bencana. Kalau angka-angka statistik menunjukkan bahwa bencana A lebih memakan korban dari bencana B, terus kenapa? Terutama jika ada korban manusia. Sudah tidak penting lagi kan? Ada yang terluka dan ada yang mati, gitu lho.</p>
<p>Mau korban banyak atau korban sedikit, ketika kita berada di lapangan pasca bencana, atau justru menjadi saksi, sumpah nggak ada bedanya, sama nyeseknya. <em>Been there</em>. Sudah bukan waktunya menjadikan tragedi sebagai kompetisi lebih parah yang mana. :(</p>
<p>Kalau di Twitter kemarin saya memilih untuk lebih banyak diam, tapi di tengah percakapan orang-orang ini saya protes. Mereka masih <em>kekeuh-jumekeuh</em> dengan pendapatnya yang menganggap bahwa peristiwa bom Boston Marathon, Irak dan Afghanistan itu adalah kompetisi tragedi. lalu menilai saya sebagai orang yang naif dan tidak memperhatikan situasi politik dunia. Oh ya emang, saya nggak tertarik sama politik dunia, tapi saya peduli manusia.</p>
<p>Saya sedikit bete, dan memutuskan untuk melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan di twitter kemarin, yaitu pergi. Tapi sebelumnya saya beranalogi. Saya andaikan orangtua mereka baru saja meninggal, yang satu meninggal karena sakit, yang satu karena tua, yang satu karena kecelakaan, yang satu karena dibunuh. Lalu datanglah orang lain, yang tiba-tiba menilai dan membandingkan cara mati, kemudian bilang &#8216;Ah yang matinya karena tua sih biasa, nggak ada rasa sakitnya sama sekali&#8217;. Analogi saya akhiri dengan &#8216;Gimana, asik nggak tuh?&#8217;</p>
<p>Mereka terdiam.</p>
<p>Saya berbalik dan pergi setelah memerhatikan reaksi mereka, tidak ada tuduhan saya buta politik lagi, yang ada hanya rasa canggung.</p>
<p>Mendadak saya teringat perkataan rekan saya beberapa tahun yang lalu di lapangan &#8216;Kalau nggak bisa membantu, doakan. Kalau nggak bisa berdoa, bantu. Kalau nggak bisa kasih kontribusi apa-apa, diem. Jangan menyakiti.&#8217;</p>
<p>Hari ini saya nyaris memulai hari dengan bete. Tapi saya putuskan tidak; sambil bertekad untuk tidak mengatakan apapun yang menyakitkan jika ada tragedi.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/kompetisi-tragedi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contek-contekan</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/contek-contekan/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/contek-contekan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Apr 2013 13:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3183</guid>
		<description><![CDATA[“I&#8217;ve figured out why they call it a trial.  Because you try all you can to pull through it. ” &#8211; Richelle E Goodrich Jadi katanya besok Ujian Nasional ya? Good luck ye. Dan di Twitter (TUH KAN, Twitter itu sumber ide banget untuk nulis di blog!) hari ini ada beberapa orang yang membicarakan nyontek. Semua menasihati supaya tidak nyontek. Biarpun...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/04/contek-contekan/" title="Contek-contekan">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>“I&#8217;ve figured out why they call it a trial.  Because you try all you can to pull through it. ” &#8211; <strong>Richelle E Goodrich</strong></em></p></blockquote>
<p>Jadi katanya besok Ujian Nasional ya? <em>Good luck</em> ye. Dan di Twitter (TUH KAN, Twitter itu sumber ide banget untuk nulis di <em>blog</em>!) hari ini ada beberapa orang yang membicarakan nyontek. Semua menasihati supaya tidak nyontek.</p>
<p>Biarpun saya sadar bahwa menyontek bukan tindakan yang baik, saya nggak berani melarang-larang . Soalnya&#8230; waktu zaman sekolah dan kuliah saya pernah nyontek! Jujur nih ya, jujur. :D</p>
<p>Nah sekarang, setelah saya lepas dari status siswa baik yang pakai maha maupun nggak, pendapat saya tentang menyontek itu tetap sama, tindakan yang nggak baik. Cuma saya merasa kebiasaan nyontek itu bukan sepenuhnya salah siswa juga.</p>
<p>Masih ingat nggak sih cara belajar di zaman sekolah?</p>
<p>Contohnya di masa SD nih, untuk pelajaran Pendidikan Moral Pancasila alias PMP, terakhir saya dengar sekarang namanya PPKn ya? Di buku pelajarangnya tertulis sila-sila Pancasila dan butir-butir pengamalannya.</p>
<p>Hayoo! Ada yang hapal butir-butir pengamalan Pancasila? Saya sih nggak. Tapi lihat saja di sini ya : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila">http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila</a></p>
<p>Butir-butir itu, setelah saya baca ulang sekarang sesungguhnya baik adanya; kalau diamalkan kemungkinan besar kehidupan bermasyarakat nggak kisruh seperti sekarang. Diajarkan sejak dini (mungkin) tujuannya agar siswa, sebagai calon penerus bangsa bisa memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Supaya bangsa kita menjadi bangsa yang jauh dari kekerasan, bertoleransi, merasa satu sama lain adalah saudara dan saling membantu.</p>
<p>Tapi, yang jadi masalah adalah, <strong>cara belajarnya</strong>! Alih-alih membuat siswa paham maksud, tujuan kemudian mengamalkan dan kehidupa sehari-hari, eh sila-sila Pancasila &#8216;cuma&#8217;  harus dihapal dong! Juga butir-butirnya yang segambreng.Iya, dihapal, bukan dipahami dengan cara diberikan contoh praktis yang mudah ditangkap</p>
<p>Beradab, hikmat, kebijaksanaan, permusyawaratan/perwakilan, keadilan sosial dan teman-temannya. Itu sumpah, kata-katanya absurd banget dan buat anak kecil, bahasa di Pancasila dan butir-butirnya itu terlalu rumit untuk dipahami.</p>
<p>Jadi, gimana bisa paham (dan mengamalkannya) kalau kata-katanya saja terlalu &#8216;dewa&#8217; buat anak kecil?</p>
<p>Nah,<strong> cara ujiannya juga nggak lebih baik</strong>. Nggak, saya nggak bilang &#8216;ujian&#8217; itu buruk ya, soalnya &#8216;ujian&#8217; itu bisa dijadikan parameter apakah siswa sudah mengerti materi atau belum. Nah, caranya itu lho! Soal-soalnya menuntut hapalan!</p>
<p><strong>Tuliskan <em>preambule</em> UUD 1945!</strong></p>
<p><strong>Sebutkan butir ke-5  Pengamalan Pancasila dari sila pertama! FYI, butir ke lima itu nggak ada, sila pertama butirnya cuma empat. :D</strong></p>
<p>Makanya saya sempat ngetawain berita di suatu daerah yang mewajibkan menghapal ayat kitab suci untuk anak sekolah tingkat tertentu sebagai persyaratan ujian, atau juga sekolah yang menambah jam pelajaran agama, dengan tujuan supaya akhlak siswa baik. Tujuannya baik, tapi menghapal (apalagi tanpa memahami) nggak jamin tujuan tersebut tercapai. Demikian :P</p>
<p>Kemudian, <strong>cara penilaiannya</strong>. Selama saya belajar di sekolah (di kampus cuma beberapa mata kuliah teori saja) yang dinilai adalah hasil akhir (ujian)nya saja, sama sekali tidak ada pengujian-pengujian apakah siswa paham beneran, atau sekedar menghapal. Lalu pikiran siswa (dan pengajar) dikondisikan bahwa semakin tinggi nilai akhir, semakin bagus. Jarang ada penilaian terhadap siswa saat mereka berjuang untuk memahami materi.</p>
<p>Ini yang membuat siswa, alih-alih mencoba untuk mengerti materi, tapi malah mikirin, gimana supaya nilai akhir tinggi dengan berbagai cara. Termasuk&#8230; iya, nyontek.</p>
<p>Bok, gimana nggak nyontek coba, kalau yang dinilai dan dianggap paling penting adalah nilai akhir ujian.</p>
<p>Hal ini, jujur, baru terasa mengganggu  ketika saya mulai menjadi pengajar (belum berani menyebut diri pendidik, masih jauh). Dan ini dirasakan juga oleh beberapa rekan. Awalnya adalah pertanyaan, kenapa kalau waktunya ujian, mendadak para pengajar harus patroli dan memasang mata tajam-tajam, untuk menangkapi siswa yang mencontek? Kenapa pengajar nggak bisa santai-santai selama para siswa mengerjakan ujian?</p>
<p>Lalu lebih jauh lagi, kenapa seringnya mahasiswa lupa dengan materi yang pernah diajarkan di semester-semester berikutnya?</p>
<p>Dan sudah beberapa tahun belakangan saya dan beberapa rekan pengajar mencoba menerapkan berbagai cara mengajar dan cara menguji pemahaman, masih jauh dari sempurna, dan saya rasa tidak akan pernah sempurna, harus terus ada pengembangan.</p>
<p>Salah satu cara yang dicobakan adalah mengurangi pemberian materi searah, dari sekian banyak pertemuan, ada beberapa pertemuan mahasiswa dibiarkan mencari bahan sendiri untuk kemudian didiskusikan di kelas dan dirumuskan bersama-sama. Lalu dari setiap topik kuliah, diberikan berbagai contoh kasus untuk mereka bahas dan mereka presentasikan. Dari situ akan terlihat, mereka paham atau tidak. Ini bukan cara baru, zaman saya SD ada tuh istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang nggak diterapkan dengan sesungguhnya. Kalau diterapkan ternyata efektif juga.</p>
<p>Lalu, cara lain adalah dengan meniadakan ujian , baik ujian tengah semester maupun akhir semester, maksudnya ujian dengan soal-soal hapalan begitu ya. Adanya adalah mahasiswa diminta cari kasus sendiri, setiap mahasiswa harus beda, untuk kemudian dianalisa oleh mereka mengacu pada teori dan materi yang pernah diberikan. Hasil akhirnya bisa berbentuk makalah, atau media visual seperti poster misalnya :)</p>
<p>Jadi, mau gimana nyontek coba kalau begitu? Ya cara-cara di atas bukan tips sih, malu ah sama yang lebih senior di dunia pendidikan; ini cuma sekedar berbagi saja :D</p>
<p>Tapi harus diakui, sistem pengajaran dan ujian seperti ini tidak bisa diterapkan di semua tingkat pendidikan. Lah, diterapkan sepenuhnya di tingkat satu saja berantakan.</p>
<p>Ya pada akhirnya memang sih, mencontek itu adalah masalah ketidakjujuran, tapi kan setiap tindakan itu pasti ada pendorongnya alias yang menjadi motivasinya. Nah pendorongnya apa lagi kalau bukan dengan sistem mengajar dan ujian yang dikondisikan tidak menghargai proses belajar, tapi hanya akhir akhir.</p>
<p>Jadi kalau ada kasus-kasus contek-mencontek, ya nggak sepenuhnya salah siswa. Dan juga untuk mencegah contek-mencontek, ga bisa juga dengan bikin kampanye ujian jujur dan sebangsanya. Tapi ya ubah cara belajar, ujian dan menilainya. *ciyeee*</p>
<p>:D</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/contek-contekan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Operasi Plastik? Salahmu!</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/mereka-operasi-plastik-salahmu/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/mereka-operasi-plastik-salahmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Apr 2013 08:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3177</guid>
		<description><![CDATA[Beauty is in the eye of the beholder and it may be necessary from time to time to give a stupid or misinformed beholder a black eye. – Miss Piggy, The Muppets Sekitar satu atau dua minggu yang lalu saya menerima sebuah e-mail yang dikirimkan oleh seseorang , untuk banyak orang, termasuk saya. Iye, e-mail berjamaah. Saya nggak kenal dengan...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/04/mereka-operasi-plastik-salahmu/" title="Mereka Operasi Plastik? Salahmu!">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Beauty is in the eye of the beholder and it may be necessary from time to time to give a stupid or misinformed beholder a black eye. – <strong>Miss Piggy, <em>The Muppets</em></strong></p></blockquote>
<p><strong>Sekitar satu atau dua minggu yang lalu</strong> saya menerima sebuah<em> </em><em>e-mail </em>yang dikirimkan oleh seseorang , untuk banyak orang, termasuk saya. Iye, <em>e-mail</em> berjamaah. Saya nggak kenal dengan semua penerima <em>e-mail. </em>Sialnya orang tersebut belum kenalan dengan fitur <a href="http://help.yahoo.com/l/id/yahoo/mail/ymail/basics/basics-08.html">BCC</a>, jadi semua<em></em> penerima <em>e-mail</em> bisa saling melihat <em>e-mail</em> satu sama lain. Duh. Nggak sopan deh ih.</p>
<p>Judul <em>e-mail </em> tersebut : Masih Mau Kagum Sama Kecantikan Artis Korea?</p>
<p>Isinya adalah sedikit blabla-yadda-yadda tentang operasi plastik yang peminatnya makin banyak belakangan ini, plus tentang artis-artis Korea yang terkenal <em>unyu</em>, yang ternyata melakukan operasi plastik untuk mencapai ke-<em>unyu</em>-annya itu. <em>E-mail</em> ditutup dengan link menuju ke sebuah <a href="http://kpsurgery.tumblr.com"><em>blog</em> yang menampilkan wajah-wajah orang Korea (Selatan?) sebelum dan sesudah operasi plastik</a>. Oh, ngomong-ngomong, <em>blog</em>-nya pakai lagu <em>gengges</em>, buat yang nggak suka <em>website</em> berlagu, mending kecilin dulu volume di komputer-mu.</p>
<p><em>E-mail</em> tersebut ternyata menimbulkan banyak tanggapan dari para penerima <em>e-mail</em> yang lain,  sehingga dalam tiga hari <em>inbox </em> saya penuh oleh <em>e-mail</em>. Repotlah saya menghapusi <em>e-mail</em> satu persatu. Eh tapi sambil menghapus saya sambil baca-baca juga sih isi <em>e-mail-</em>nya.</p>
<p>Ada yang menanggapi dengan menulis bahwa pelaku operasi plastik adalah mereka yang tidak mensyukuri karunia tuhan yang sudah diberikan padanya. Ada yang menanggapi bahwa pelaku operasi plastik memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Ada yang menanggapi bahwa pelaku operasi plastik <em>superficial</em>, lebih mementingkan tampilan fisik.</p>
<p>Pada akhirnya, dari sekian banyak <em>e-mail</em> saya menarik satu kesimpulan, di &#8216;forum&#8217; yang terbentuk dadakan tersebut, tindakan operasi plastik dan pelakunya adalah &#8216;salah&#8217; karena tidak mencintai diri sendiri sebagaimana yang sudah mereka dapat &#8216;dari sono&#8217;-nya.<em></em></p>
<p>Sampai di sana saya mengerutkan kening. Kalau pun yang namanya operasi plastik adalah dosa, kenapa juga yang disudutkan hanya dan hanya para pelaku? Kenapa mereka ditempatkan sampai jadi satu-satunya pihak yang bersalah?</p>
<p>Buat saya sih, kalau ada orang yang merasa bahwa dirinya &#8216;tidak sempurna&#8217; secara fisik dan sampai ingin mengubah yang salah adalah masyarakat. Iya masyarakat, semua orang termasuk saya dan kamu. Yang berdosa adalah kita semua.</p>
<p>Sudah tahu dong ya bahwa pihak kapitalis *tsah* memasang banyak standar ideal untuk kehidupan manusia; standar sukses, standar bahagia, standar menjadi manusia yang baik bahkan sampai standar fisik yang rupawan seperti apa.</p>
<p>Adalah media massa yang menjadi corong untuk mensosialisasikan standar-standar ini pada masyarakat; ralat, bukan sekedar mensosialisasikan tapi sekaligus juga mencuci-otak, sehingga standar-standar buatan kaum kapitalis tersebut dianggap sebagai sesuatu yang alamiah.</p>
<p>Untuk standar ideal fisik, sudah jelas bangetlah seperti apa ya, yang pasti, bagi perempuan, &#8216;ideal&#8217;nya harus langsing, berkulit terang, berambut lurus, mancung, tinggi dan seterusnya. Bagi pria, harus tinggi, berdada bidang, berhidung mancung, alis tegas, tulang pipi tegas.</p>
<p>Tidak ada yang menganggap itu aneh,  semua mengamini dengan sukarela. Semua setuju bahwa standar ideal cantik itu memang begitu, seragam di seluruh dunia. Terlupakanlah bahwa seharusnya <a href="http://www.allvoices.com/contributed-news/3798150-beauty-ideals-around-the-world">standar cantik ideal itu berbeda-beda di setiap kebudayaan</a>.</p>
<p>Kalau ada yang bertanya-tanya untuk apa standar tersebut dibuat dan ditanamkan di otak masyarakat? Ya jelaslah agar produk-produk dan jasa yang diklaim bisa sebagai alat untuk mencapai standar ideal diminati dan laku keras. Kalau untuk standar ideal cantik adalah : adanya produk-produk pemutih kulit, pembuat rambut berkilat, penolak keriput, pembentuk otot, pengecil perut dan jasa operasi plastik!</p>
<p>Okay, lalu, kalau ada yang tidak puas akan keadaan fisiknya sampai operasi plastik, salah masyarakatnya di mana? Salah kitanya di mana?</p>
<p>Sadar nggak sadar, standar ideal cantik yang beredar tersebut mempengaruhi (memengaruhi? Editor?) penilaian kita terhadap luaran orang lain. Kita kemudian mengkategorikan Si Ini jelek, Si Itu kece, Si Anu gendut, Si Ono langsing, Si AnuAnu kurus, Si IniItu idungnya pesek, si ItuAnu mancung dan seterusnya. Kategori-kategori itu jelas sesuai dengan standar bentukan kaum kapitalis.</p>
<p>Akan ada orang-orang yang kemudian merasa tersisihkan karena keadaan fisiknya tidak masuk ke dalam kategori rupawan tersebut dan berusaha untuk mengubahnya sehingga bisa &#8216;masuk&#8217; kategori rupawan. Dari ikut <em>gym,</em> membeli produk-produk bahkan sampai operasi plastik.</p>
<p>Sampai di sini, mungkin masih terlihat &#8216;salah sendiri kok merasa tersisihkan&#8217;, kita &#8212; sebagai masyarakat bebas dosa, nggak punya andil apa-apa pada keputusan mengubah bentuk fisik orang-orang tersebut.</p>
<p>Hey, penilaian dan pengkategorian kondisi fisik jadi &#8216;Si rupawan/wati&#8217; dan &#8216;Si Jelekwan/wati&#8217; itu tidak berhenti sebatas penilaian; tapi berkembang menjadi tindakan &#8216;menyisihkan&#8217;.</p>
<p>Salah satu contohnya adalah cemoohan, yang dilakukan secara halus, maupun secara kasar bagi mereka yang tidak masuk standar ideal cantik. Ini sebuah contoh tindakan yang sederhana; tapi bahkan sudah dilakukan oleh anak-anak kecil.</p>
<p>Saya masih ingat ada seorang anak kecil manis berambut keriting dan berkulit hitam menangis tersedu-sedu gara-gara kawannya meledek &#8216;Si Jarang Mandi&#8217;, &#8216;Si Daki Tebal&#8217; dan &#8216;Si Rambut Indomie&#8217;.</p>
<p>Saya juga masih ingat dengan tayangan lomba pencarian bakat perempuan berukuran besar, yang isinya ternyata tidak fokus pada bakat para peserta yang bertubuh besar, tapi lebih kepada eksploitasi bentuk tubuh mereka.</p>
<p>Saya juga ingat pernah ada seorang ibu menyuruh anak SMP-nya yang gendut untuk senam sambil bilang &#8216;Supaya nggak gendut, nanti kalau gendut nggak dapet pacar lho&#8217;</p>
<p>Saya juga suka melihat <em>sliweran tweet</em> yang mencela kondisi fisik orang. Dan sejujurnya, saya juga nggak lepas dari penilaian dan tindakan mencemooh tersebut; jadi ceritanya, setiap ada <em>tweet</em> mencela fisik tertangkap mata, saya <em>zoom-in avatar</em> Twitter-nya, untuk kemudian berkata &#8216;Oh, kirain sendirinya kece maksimal&#8217;. *melipir selipir lipirnya*<em></em></p>
<p>Dari sini kelihatan kan, kalau ada orang yang menyesali keadaan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar cantik ideal dan berkeinginan mengubahnya, ya nggak sepenuhnya salah mereka. Ya nggak bisa juga bilang bahwa mereka kurang bersyukur. Salahkan juga masyarakat yang bersikap menyisihkan mereka dengan mencemooh, mengatakan kalau punya bentuk tubuh tidak ideal nggak akan diminati dalam kehidupan sosial.</p>
<p>Siapa yang mau tersisihkan? Siapa yang mau tidak diminati lawan jenis? Siapa yang mau dicemooh atau jadi bahan lucu-lucuan seumur hidup?</p>
<p>Iya, jadi kalau misalnya ada yang sampai operasi plastik, bukan semata salah pelaku, tapi salahkan juga masyarakat dan salahkan juga diri sendiri.</p>
<p>Lalu, nggak usahlah mencela mereka yang operasi plastik, kalau sendirinya masih semangat olahraga untuk membentuk tubuh, diet, meluruskan rambut, memakai pemutih kulit, berdandan dan melakukan hal-hal yang pada intinya &#8216;mengubah&#8217; bentuk fisik menuju ke arah yang sesuai dengan standar ideal cantik.</p>
<p>Itu sih ya <em>sami mawon</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/04/mereka-operasi-plastik-salahmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TEORI JODOH</title>
		<link>http://blog.sepatumerah.net/2013/03/teori-jodoh/</link>
		<comments>http://blog.sepatumerah.net/2013/03/teori-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 04:22:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sepatumerah</dc:creator>
				<category><![CDATA[SayaBercerita]]></category>
		<category><![CDATA[SayaSuka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.sepatumerah.net/?p=3151</guid>
		<description><![CDATA[We&#8217;ve got this gift of love, but love is like a precious plant. You can&#8217;t just accept it and leave it in the cupboard or just think it&#8217;s going to get on by itself. You&#8217;ve got to keep watering it. You&#8217;ve got to really look after it and nurture it. &#8211; John Lennon Seumur saya hidup, banyak banget saya mendengar...<span class="path-read-more"><a class="more-link" href="http://blog.sepatumerah.net/2013/03/teori-jodoh/" title="TEORI JODOH">  Read more &#8594; </a></span>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>We&#8217;ve got this gift of love, but love is like a precious plant. You can&#8217;t just accept it and leave it in the cupboard or just think it&#8217;s going to get on by itself. You&#8217;ve got to keep watering it. You&#8217;ve got to really look after it and nurture it. &#8211; <strong>John Lennon</strong></p></blockquote>
<p><strong>Seumur saya hidup</strong>, banyak banget saya mendengar teori-teori tentang jodoh. Teori paling pertama yang saya dengar adalah teori jodoh <em>ala</em> Putri-putri Disney; tapi teori ini hanya berlaku untuk perempuan ya (kayaknya sih), jadi kata teori itu, jodoh adalah satu orang yang memang sudah disiapkan yang nantinya bakal berjuang mencari kita&#8230;.dan seterusnyalalalala, menikah lalu <em>live happily ever after. The end. Fin.</em> Selesai. Kelar.</p>
<p>Lalu ada teori tulang rusuk, katanya laki-laki di dunia ini pada awalnya cuma punya sebelah rusuk, dan perempuan-perempuan adalah rusuk yang mengisi ketiadaan rusuk para laki tersebut. Itu sempat saya percaya lho, sampai mendadak saat SMP, saya mempelajari tentang populasi laki-laki dan perempuan di dunia, lalu menemukan fakta bahwa ternyata jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki.</p>
<p>Waktu itu sontak saya berpikir <em>lho, kok, el ha o ka o ka?</em></p>
<p>Kalau perempuan lebih banyak dari laki-laki, berarti mereka tulang rusuknya siapa? Hmmm&#8230;Atau jangan-jangan ada laki-laki yang waktu pembagian tulang rusuk bolos, sehingga dia nggak kebagian satu pun? Mereka yang bolos bisa dapat dua tulang rusuk. <del>Dan itu lah asal mula poligami</del>*halah*. Atau&#8230; jangan-jangan, para tulang rusuk yang tercecer ini, karena tidak mendapatkan &#8216;rumah&#8217;nya, boleh mencari sesama tulang rusuk untuk berpasangan?</p>
<p>Misteri. :D</p>
<p>Okay lupakan, mari kembali ke teori jodoh.</p>
<p>Lalu ada lagi teori lain, yang mungkin arahnya adalah panduan menemukan &#8216;jodoh&#8217; yang tepat. Itu lho, teori sepatu, jeans dan bra.</p>
<p>Bahwa jodoh atau pasangan itu harus seperti sepatu, harus pas; kalau tidak pas, maka kita tidak akan merasa nyaman saat berjalan. Kita nggak boleh maksa &#8216;ambil&#8217; sepatu karena suka secara fisik, padahal kekecilan, karena itu menyakitkan kaki. Atau, padahal kebesaran, karena itu ngerepotin, bisa bikin kesandung, atau pas jalan ketinggalan.</p>
<p>Teori <em>jeans</em> mirip-mirip juga. Cari <em>jeans</em> harus pas, nggak bikin sesak napas, susah jalan, kalau jongkok belahan pantat kelihatan, atau menyebabkan keputihan dan lalalalainnya.</p>
<p>Teori bra sebenarnya teori yang saya bikin-bikin di tengah percakapan ngaco dengan beberapa teman, bahwa jodoh / pasangan itu selayaknya seperti <em>bra,</em> menopang, melindungi dan men-<em>support</em>. Seingat saya waktu teori omong kosong ini terucap, teman pria langsung nyeletuk &#8216;Tapi kan bra itu bikin sesak napas&#8217;. Duuh, nggak pernah pakai bra kok sotoy. :)) Makanya cari yang pas, kalau pas sih ya nggak bikin sesak. Nggak tau gimana cara mengukur bra? Ada di sini nih : <a href="http://www.looxperiments.com/2011/09/menentukan-ukuran-bra-kamu.html">http://www.looxperiments.com/2011/09/menentukan-ukuran-bra-kamu.html</a> :D</p>
<p>Nah baru beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengajukan Teori Angkot. Katanya, jodoh itu kayak angkot, kalau terlalu memilih dan membiarkan yang lewat di hadapan kita berlalu begitu saja, akhirnya kita nggak dapat apa-apa.</p>
<p>Terus terang saya mengernyit mendengar teori ini. Saya sih nggak mau punya jodoh/pasangan seperti angkot.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>(1) Angkot itu, kita nggak mau naik, nggak peduli, dia bakal cari yang lain. Iya, jadinya kita nggak spesial.</p>
<p>(2) Angkot itu, di setiap pemberhentian, cari orang. Masa mau sih, kalau jodoh/pasangan kita, berhenti dikit, nyari yang lain? :D</p>
<p>(3) Angkot itu, muat banyak, 7 &#8211; 5 di belakang, 1 di bangku artis, 2 di sebelah supir. Masa mau sih ramai-ramai <em></em>dalam satu hubungan? Saya sih nggak, kalau ada yang demen ya beda cerita. :D</p>
<p>(4) Angkot itu nggak selalu sejurusan dengan kita, ada kalanya kita harus berhenti dan ganti jurusan, nggak ada itu namanya kompromi. Ya masa sih kita harus ganti jodoh/pasangan setiap nggak se-arah?</p>
<p>(5) Angkot itu sering bikin kesal kendaraan lain dengan cara menyetirnya yang ajaib, sering di<em>pisuhi</em>. Ah saya mah pada dasarnya cinta damai, nggak mau cari pasangan yang bikin ribut lingkungan. Cari ribut sih kalau perlu aja *eh* :D</p>
<p>Dari sekian banyak teori, teori yang saya suka, karena &#8216;kena&#8217; di hati *tsah* adalah teori usaha. Seorang kawan pernah bilang, jodoh itu usaha. Usaha nyari dan usaha mempertahankan komitmen/hubungan setelahnya. Dia nggak suka banget dengan teori jodoh-nya Disney&#8217;s yang selalu ditutup dengan &#8216;<em>and they live happily ever after&#8217;</em>, seolah-olah kehidupan beres dan perjuangan selesai setelah dapat si jodoh tersebut.</p>
<p>Kalau teori saya apa? Hm, ntahlah. Ada sih, mirip kayak teori usaha kawan saya, tapi dari yang sudah-sudah, kalau saya jabarkan, suka dapat ledekan dari mereka-mereka yang sudah berpengalaman menikah &#8216;Kalau belum pernah menikah sih, ya gitu, masih beromantisme&#8217; :D</p>
<p>Ngomong-ngomong, soal putri-putri Disney, ada yang penasaran nggak sih gimana kehidupan mereka setelah mereka mendapatkan &#8216;mimpi&#8217; mereka? Apakah seperti video ini?</p>
<p>Ah ironis sekali. Semoga tidak ada anak kecil yang melihat ini lalu patah hati. Atau lebih baik mereka melihat supaya bisa menerima bahwa kenyataan tidak sesederhana <em>live happily ever after?</em> :/</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><iframe src="http://www.youtube.com/embed/diU70KshcjA?list=PLACFB636E06EF79CC" height="315" width="560" allowfullscreen="" frameborder="0"></iframe></p>
<p style="text-align: center;"><em>If you&#8217;ve ever wondered why</em><br />
<em> Disney&#8217;s tales all end in lies</em><br />
<em> Here&#8217;s what happened after all their dreams came true</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Ariel</em></strong><br />
<em> I loved being princess down in &#8212; this beautiful ocean blue</em><br />
<em> But mermaids are going missing &#8212; they end up in someone&#8217;s stew</em><br />
<em> So just try to put yourself in &#8212; to somebody else&#8217;s gills</em><br />
<em> You&#8217;re killing my ecosystem &#8212; with fishing and oil spills</em><br />
<em> Thank you BP, thank you BP</em><br />
<em> The British are killing, oil is spilling</em><br />
<em> Now I can&#8217;t see&#8230; MY EYES!</em><br />
<em> Chinamen feast on Flounder&#8217;s fins</em><br />
<em> Plus the Japanese killed all my whale friends</em><br />
<em> Oceans are browning, I think I&#8217;m drowning</em><br />
<em> Thanks to BP</em><br />
<em> YOU SUCK!</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Jasmine</em></strong><br />
<em> Hey, I&#8217;m OK, but I&#8217;m slightly scared</em><br />
<em> My husband&#8217;s a mark for the War on Terror</em><br />
<em> Aladdin was taken by the CIA</em><br />
<em> We&#8217;re not Taliban</em><br />
<em> You&#8217;ve got the wrong man</em><br />
<em> In Guantanamo Bay</em><br />
<em> Prince Ali, where could he be, drowning in wawa</em><br />
<em> Interrogation from the nation of the &#8220;free&#8221;</em><br />
<em> Bin Laden&#8217;s taken the fall</em><br />
<em> We&#8217;re not trained pilots at all</em><br />
<em> Jafar went crazy and no one put up a fuss</em><br />
<em> We&#8217;re for freedom, Genie can vouch for us</em><br />
<em> Bush was crazy, Obama&#8217;s lazy, al-Qaeda&#8217;s not in this country</em><br />
<em> Set free my Prince Ali</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Belle</em></strong><br />
<em> A whore! A whore!</em><br />
<em> A whore, a whore, a whore!</em><br />
<em> This town&#8217;s gone wild since I married Adam</em><br />
<em> They think I&#8217;m going straight to hell</em><br />
<em> But the charges laid on me</em><br />
<em> Of bestiality</em><br />
<em> Could wind up getting me thrown in a cell</em><br />
<em> No, I&#8217;m overrun by mad men</em><br />
<em> I hear they plan to burn me at the stake</em><br />
<em> They legit believe I&#8217;m Satan</em><br />
<em> And now I hear that PETA&#8217;s gonna take my beast away</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>Pocahontas</em></strong><br />
<em> After John Smith traveled back to England</em><br />
<em> I helped my people cultivate the fields</em><br />
<em> More English, French, and Spaniards came to visit</em><br />
<em> And they greeted us with guns and germs and steel</em><br />
<em> They forced us into unknown lands of exile</em><br />
<em> They pillaged, raped, and left us all for dead</em><br />
<em> So now I&#8217;m far more liberal with a weapon</em><br />
<em> When I separate their bodies from their heads</em><br />
<em> Have you ever held the entrails of an English guy?</em><br />
<em> Or bit the beating hearts of Spanish men?</em><br />
<em> Can you shoot an arrow in some French guy&#8217;s eyeball?</em><br />
<em> Can you paint with the red colors in these men</em><br />
<em> I can murder if I please</em><br />
<em> Cause I&#8217;m dying of disease</em><br />
<em> I can paint with the red colors in these men</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Thanks to BP</em><br />
<em> Where&#8217;s Prince Ali?</em><br />
<em> Bestiality</em><br />
<em> I&#8217;ve got STDs</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.sepatumerah.net/2013/03/teori-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
