Komunikasikan di blog Tembok!

Saya pernah berpikir bahwa untuk dapat hidup dengan aman, tentram dan damai dengan lingkungan sosial, maka saya harus menghindari segala bentuk hal yang bisa menimbulkan friksi atau konflik, termasuk mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan yang [sekiranya] bertentangan dengan pikiran dan perasaan orang lain.
Setiap ada sesuatu yang mengganjal, saya selalu bilang dalam hati,”Ya sudahlah, orangnya emang gitu..”. Paling banter misuh-misuh dalam hati.
Tapi pada akhirnya, saya meledak. Padahal itu nggak perlu, jika dari awal saya hancur-hancuran mengkomunikasikan pikiran dan perasaan saya.
Oh ya, di Becusse Centro, tempat tinggal kami, sempat terjadi kasus konflik yang lumayan bikin shocked juga, antara kami dengan joventude[pemuda] lokal; rusuh blas. Seperti tawuran. Kami nggak ngerti apa alasan mereka melakukan violensia [kekerasan] macam itu.
Masalah beres ketika pada akhirnya kami melakukan dialog dua pihak. Mereka marah karena mereka berpikiran buruk tentang kami; ini nggak lain karena mereka nggak mengerti secara sepenuhnya tentang program yang kami jalankan.
Pada intinya, mengkomunikasikan sesuatu itu wajib hukumnya.
Untung ada dialog!
Kalau nggak, dari mana kami bisa tahu alasan joventude lokal marah pada kami; dan bagaimana juga para joventude tersebut tahu maksud program kami? ;-). Yah memang agak tolol juga sih, baru berkomunikasi setelah rusuh, tapi dari pada enggak sama sekali, kan?
Setidaknya kami belajar sesuatu.
Nah, kalau misalnya yang diajak komunikasi tidak mau mendengar?





