Main

Cerita Dari Jalan Archives

06 januari 2007

Surat Untuk Anak-anak...

Kali ini, saya merelakan lembar-lembar buku yang biasa saya pakai untuk mencatat disobek dalam jumlah banyak. Biar saja, tokh hari ini hari terakhir saya berada di tempat ini. Belum tentu bisa sebulan sekali datang kembali.

"Udah berapa?" tanya saya pada dua orang perempuan yang menjadi rekan perjalanan kali ini.
"Aku sepuluh..."
"Dua belas."
"Lelet banget sih.." saya mencela, bercanda tentunya. Kami bertiga berniat untuk menulis satu per satu surat bagi anak-anak desa yang sempat kami ajar. Ada 80 orang. Ide ini datang semalam sebelumnya, saat beromong kosong mengenai jaman dulu - kami sempat berbagi cerita bagaimana senangnya menerima surat dari sahabat pena; surat yang ditulis tangan.


Continue reading "Surat Untuk Anak-anak..." »

07 juni 2007

Sok Wisata Kuliner

Baru balik, setelah sepanjang weekend saya habiskan di seputaran Kudus, Pati dan Tayu [Jawa Tengah]. Walaupun perjalanan kali ini bukan wisata senang-senang, tapi bukan berarti saya nggak bersenang-senang.

Biasanya sih, kalau sedang melakukan perjalanan, baik wisata senang-senang maupun bukan wisata senang-senang, hal yang agak wajib dilakukan adalah lidah dan perut ikut berwisata kuliner. Dalam perjalanan yang cuma sebentar itu, teman-teman saya yang tinggal di daerah sana, dengan baiknya menunjukkan beberapa tempat yang menjual makanan khas setempat.

Continue reading "Sok Wisata Kuliner" »

09 juni 2007

Bersinarlah, Brother Shine

"Waktu itu saya masih kuliah, masih menjadi seorang laki-laki yang ingin selalu pergi jauh dari rumah untuk berpetualang, mencari kegilaan." laki-laki tampan berusia tiga puluhan akhir itu membuka ceritanya.

Saya menyandar pada pintu kayu rumah milik seorang pendeta di daerah Pati sambil memegangi perut saya yang agak kekenyangan akibat memamah kodok sexy ini. Ini pasti akan menjadi cerita yang panjang, karena pria ramah ini senang sekali bercerita - dan semua ceritanya tidak pernah membosankan.

Suara teman-teman yang lain terdengar riuh, saling melempar lelucon dalam bahasa Jawa dan saling mentertawakan. Saya sempat terkikik mendengar guyonan salah seorang dari mereka yang rata-rata masih berumur dua puluhan awal. Mereka adalah sekelompok relawan organisasi lokal yang selalu siap sedia untuk turun ke lapangan kapan pun dibutuhkan,

Laki-laki itu menoleh, tersenyum sekilas walaupun saya tahu beliau tidak mengerti dengan bahasa yang dipergunakan teman- teman saya.

Continue reading "Bersinarlah, Brother Shine" »

01 juli 2007

Mencintai ala Tito

Talkshow 'Kamulah Satu-satunya'

Hari/tanggal : Jumat, 06 Juli 2007
Waktu : Pkl 14.00 - 16.00 WIB
Tempat : Gramedia Paris Van Java, Bandung
Bintang tamu : Hanung Bramantyo, Nirina Zubir

Informasi lebih lanjut lihat di sini

Siang itu saya menemukan Tito sedang berada di bawah salah satu pohon di depan pondok saya. Ia terlihat sangat serius, sampai tidak menyadari bahwa saya sudah berada di belakangnya.

”Kamu ngapain, sih?” Tanya saya. Tito kaget dan menoleh.
”Ini ada anak burung, Mbak. Dia jatuh.” Jawab Tito sambil kembali memusatkan perhatiannya pada si anak burung yang tampak tak berdaya.

Tito mengangkat perlahan dengan tangan mungilnya. Burung itu tampak tidak berdaya.

”Mau kamu apain sih, anak burung itu?” Saya penasaran.
”Mau saya kembaliin ke sarangnya.” Tito menyahut lalu menengadah, menatap dahan-dahan pohon. Saya mengikuti. Namun tidak saya temukan satu pun sarang burung di salah satu dahan. Agak membingungkan memang, jadi jatuh dari mana anak burung tersebut?
”Nggak ada, tuh. Jadi mau digimanain?”
”Kasian ya dia, seharusnya dia sekarang tinggal sama bapak dan ibunya” Tito menghela nafas dan menatap anak burung dalam telapak tangannya dengan iba.

Saya diam, menunggu Tito memutuskan sendiri tindakan apa yang akan dilakukan bocah laki-laki cilik tersebut.

”Kalau saya pelihara burung ini, gimana, Mbak?” Tito mendongak, wajahnya berseri-seri karena baru saja menemukan sebuah ide cemerlang [untuk anak seusianya].

Continue reading "Mencintai ala Tito" »

22 augustus 2007

Belajar Bahasa Karena Terpaksa

Namanya Ansel, seorang laki-laki Timor Leste berusia awal dua puluhan ini saya jumpai di camp antar bangsa yang baru saya ikuti beberapa waktu yang lalu. Ia dan saya beserta sembilan teman dari Jerman, Korea Selatan dan Taiwan ditempatkan di desa Passabe, Area Oecussi, Timor Leste.

Terlalu banyak bertemu dengan orang baru, sekaligus teman-teman lama, awalnya membuat saya tidak begitu menaruh perhatian padanya, apalagi dia pendiam, jarang mengemukakan pendapat saat diskusi dalam training-membosankan-nan-melelahkan yang kami ikuti sebelum turun ke lapangan untuk mengajar anak-anak. Dua hari pertama, saya hanya bertegur sapa basa-basi, itu pun karena saya dan Ansel berada dalam homestay yang sama dan kebetulan berpapasan saat akan menggunakan toilet.

Iya, saya memang jahat, karena memiliki kecenderungan untuk mengabaikan orang-orang yang jarang 'bersuara' dalam sebuah kelompok.

Tapi semuanya itu berubah, ketika suatu malam, saat saya keluar dari bilik homestay saya yang sederhana untuk mencari minum. Saya menemukan Ansel, dalam balutan sleeping bagnya, dalam penerangan senter mungilnya sedang membaca sebuah buku.

"Pst, ngapain? Kok belum tidur, subuh-subuh gini?" Iseng saya bertanya.
"Belajar, Kak."
"Belajar apaan?"
"Inggris. Saya ingin bagus berbahasa Inggris, supaya bisa ikut ngomong juga."
"Ah, emang kalau mau ngomong dengan partisipan lain harus bagus bahasa Inggrisnya? Cuek aja, hajar!" Itu jawaban spontan saya.

Yah, kalau dipikir-pikir lagi, inti dari komunikasi itu kan adalah menyampaikan pesan? Selama pesan sampai, ya sutrah.

Lagipula untuk kesempatan yang akan kami jalani setelah training, di mana kami yang berasal dari berbagai bangsa akan tinggal bersama selama jangka waktu tertentu, memang masih perlu kecanggihan berbahasa Inggris? Dan apakah tahan tidak berkomunikasi untuk jangka waktu yang cukup lama?

Tidak akan ada yang peduli jika salah grammar, dan saya pikir, orang-orang yang tergabung dalam team kami bukanlah sejenis polisi grammar plus pronunciation atau sebagian kecil blogger berbahasa inggris canggih, yang akan tertawa terbahak atau mencela-cela kesalahan sebut seperti yang dilakukan seorang politikus yang menyebut fish to fish untuk face to face, atau aktris yang menyebut '..karena saya bekerja di dunia entertain.' atau menulis thanks menjadi thank's. Oh ya, jangan lupa juga, Indonesia is a beautiful city. :P

Continue reading "Belajar Bahasa Karena Terpaksa" »

24 augustus 2007

Sekolah Kehidupan (Sebuah Curhat Colongan)

Keputusan memang sudah diambil. Tapi siang itu, saya mulai meragu. Bukan karena takut susah (please deh!), tapi karena hal lain.Yang jelas saya kecewa.

Setelah proses berpikir panjang untuk mengorbankan comfort zone, tentunya saya memiliki satu harapan besar bagi kehidupan saya, kan? Saya ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Kalau pada akhirnya saya harus tunduk, menjalankan hal yang saya tahu sama sekali tidak tepat dan memiliki potensi untuk membuat kekacauan, buat apa? Sejak awal sindroma temporary craziness memutuskan ini, walaupun sesungguhnya alasan besarnya hanya ingin berpetualang karena bosan dengan rutinitas saja, tapi saya telah bertekad agar apapun yang dilakukan harus menghasilkan sesuatu,bukan cuma kegiatan plesir saja.

Dan Minggu siang itu saya memutuskan untuk tinggal di rumah. Tidak ikut dengan setengah dari teman satu team yang pergi ke desa sebelah untuk pertemuan dialog damai, atau setengah lagi yang memutuskan untuk hiking menyusuri gunung dan hutan.Sang pemilik rumah, Kepala Sekolah tempat kami mengajar sedang mengunjungi saudaranya yang meninggal entah di mana.

Saya. Sendirian. Duduk di muka rumah. Sambil membuat sketsa suasana sekeliling, saya juga berpikir, mempertimbangkan untuk pulang.

Brengsek. Saya takut tidak bisa berkontribusi penuh untuk melakukan sesuatu yang berguna.

Sejurus kemudian, sayup-sayup terdengar suara Aze, seorang murid yang luar biasa pintar menyanyikan lagu Rai Timor Lorosae. Disusul sahutan Miguel dari arah yang berbeda. Dan seperti menular, suara-suara lain menimpali, entah itu Lambertus, Jose, Goris atau siapa -- semua membentuk harmoni yang selalu sukses membuat saya merinding dan terhenyak. Menangis.

Saya sangat mencintai hidup di jalan dan berdekatan dengan Aze, Miguel, Lambertus, serta semua yang ada di Tanah Timor Lorosae ini.

Sial.

....

Continue reading "Sekolah Kehidupan (Sebuah Curhat Colongan)" »

22 september 2007

The Art Of Samen Leven

Sekitar beberapa bulan yang lalu saya mengomeli suami seorang kawan, gara-gara dia tidak bisa menemani istrinya [yang kawan saya,tentunya] melahirkan anak pertama. Saya tidak menganggap 'masih ada pekerjaan yang memaksanya tinggal di pelosok' adalah alasan yang masuk akal untuk tidak menemani sang istri. Iya sih, memang masih ada orang tua plus mertua yang menemani, tapi ya -- masa sih, suami tidak ada, untuk menemani istri yang kesakitan? Saya sempat meledeknya sebagai : Suami Tidak Siaga, bikin mau, nemenin sakit ogah. :D

Ehm, ternyata beberapa bulan kemudian, saya sendiri mengalami hal tersebut. Yup, saya tidak bisa menyaksikan kelahiran anak pertama saya, Indonesian Idle, dengan alasan yang sangat serupa dengan suami kawan saya: masih ada pekerjaan yang memaksa untuk tinggal di pelosok. Untung saja, saya mempunyai banyak orang yang membantu, mulai dari adik saya yang saya beri kuasa untuk menandatangai kontrak, Ibu saya dan Jenny Jusuf yang tau-tau bilang bahwa novel ini sudah terbit, Mbak May yang dengan sukarela memotret novel ini, serta Renatha yang dengan baik hatinya memposting entri tentang Indonesian Idle, Deme Kampus yang bikin saya PD dengan sms-nya, Acit Belia, Ami Mustika yang ramai-ramai membantu mereview. Lalu buat beberapa tanggapan positif, yang sumpah membuat saya super lega. Duh, Obrigada Barak, senhor & senhora!

Dan gebleknya, sampai sekarang, saya belum memegang novel tersebut. Doooh!

Yah, beginilah, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di jalanan. Banyak banget perubahan hidup yang saya alami. Mulai dari membiasakan diri untuk siap siaga jalan kapan pun di minta [guyonan kami : jalanan adalah rumah, sleeping bag adalah tempat tidur, ransel jadi lemari], sampai…

Samen leven!

Iya, samen leven alias tinggal bareng.

Continue reading "The Art Of Samen Leven" »

24 september 2007

DUNIA KECIL MEREKA

"Kak, kalau kakak terlahir jadi perempuan di desa ini, barangkali kakak bakal seperti itu ya?" celetuk Gesty, seorang Nona manis rekan saya sambil menunjuk seorang perempuan ber-polo shirt kusam yang bagian kerahnya ditarik ke bawah, sehingga payudaranya menyembul keluar, sementara seorang bayi mungil sibuk menghisap puting sang ibu, menyusu dengan lahap. Bagian bawah tubuh perempuan tersebut berbalut sarung kotak-kotak yang tak kalah kusamnya. Kakinya telanjang, menapak dengan kokoh jalan berbatu yang kadang-kadang dihiasi tahi ternak milih masyarakat. Ia menjunjung sebuah ember berisi sayur-sayuran di kepalanya, sementara lengan kanannya mengepit bakul anyaman berisi juga sayuran. Hari itu, Sabtu adalah hari pasar. Jaraknya sekitar 8 km berjalan kaki dari rumah tempat kami tinggal di desa tersebut.

Perempuan-perempuan di desa itu pada umumnya demikian, menikah di usia sangat muda, bekerja keras entah di kebun atau ladang mereka, menjual hasil kebun/ladang di pasar, merawat anak dan mengurus rumah tangga. That’s all. Dari obrolan-obrolan saya dengan mereka pun, tampaknya mereka nggak banyak mau, bahkan mengeluh lelah saja tidak.

Saya membalas dengan cengiran, lalu mulai membayangkan, bagaimana saya, jika tidak dilahirkan seperti saya yang sekarang, begitu terbiasa bersentuhan dengan sumber informasi seperti buku, TV, surat kabar dan internet. Yang kerap merasa ‘ada yang salah’ dengan semua hal dan memikirkan bagaimana cara mengoreksi hal yang [saya pikir] salah tersebut. Sering sekali saya makan ati [minumnya teh botol sosro, halah – udah nggak musim lagi ya? Maab, ga pernah liat TV], kecewa bahkan frustasi. Bukan sekali dua kali saya mengeluh capek otak. Bahkan ada saat di mana saya sampai ngomong dalam hati “Please lah,Ke.. Nggak usah mikir macem-macem.”

Mungkin iya, saya akan seperti perempuan itu. Menjalani hidup dengan sederhana, sesuai dengan siklus yang ia kenal dari moyangnya, tanpa merasa ada yang salah, karena di tempat itu, tidak ada pembanding baik dari TV, buku apalagi internet. Iya, pasti ia juga punya kerumitan hidup sendiri – tapi entah kenapa, saat itu saya yang sedang terkena sindrom mempertanyakan banyak hal, tiba-tiba berpikir, mungkin menjadi seperti dia, jauh lebih nyaman. Tidak terlalu neko-neko atau banyak mau.

“Iya, kali Ges, kalau aku lahir dari keluarga asli desa ini, kali udah punya anak empat, sibuk di ladang atau kebun, netekin anak ke empat sambil jualan di pasar.”

Continue reading "DUNIA KECIL MEREKA" »

26 september 2007

MEMBERI DENGAN BIJAKSANA

“Kenapa nggak minta aja seluruh hidup gue?”

Itu adalah celetukan sebal Doreen, seorang teman, gara-gara anak-anak kerap meminta apa yang dibawa bahkan apa yang dipakainya. Padahal tidak ada yang terlalu istimewa atau mencolok dengan barang-barang yang dimilikinya, bahkan kalau boleh dibilang, barang-barangnya kusam semua. Yup – sudah 2 tahun ini ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai perawat dan traveling keliling Asia Tenggara, Australia, New Zealand dan Fiji, jadi tentunya dia tahu, percuma membawa barang-barang yang berlebihan, karena kemungkinan hilang atau rusak sangat besar.

Saya hanya tersenyum simpul mendengar omelannya. Saya sangat mengerti perasaan Doreen, karena saya [dan seluruh teman-teman] juga merasakannya.

Sungguh menjengkelkan, karena kami sama sekali tidak boleh terlihat membawa sesuatu atau memakai sesuatu, karena pasti mereka akan memintanya, dari ikat rambut, spidol hitam, sabun, shampoo, kertas, bahkan waktu saya secara diam-diam mengeluarkan pembalut karena sedang haid, tiba-tiba, seorang anak perempuan umur 5 tahun memintanya! Buset!

Continue reading "MEMBERI DENGAN BIJAKSANA" »

03 december 2007

Katanya "Feto Labele Fuma!"

Feto labele fuma. (perempuan tidak boleh merokok)” Cetus Thomas Ximenes semalam saat saya sudah nyaris juling gara-gara editan newsletter kantor .
Tambasa? (kenapa?)” Tanya saya.
La diak… (tidak baik)”
Feto labele fuma, mais, Mane bele, kah? (perempuan tidak boleh merokok, tapi pria boleh kah?)” Tanya saya iseng.

Ia menjawab dengan cerocosan dalam bahasa ibunya, sampai saya terpaksa berkata,” Hey, para! Keta koalia lalais, hau la kompriende. (Jangan cepat-cepat, saya nggak ngerti.)”. Rupanya ia lupa bahwa saya malae (orang asing) yang baru bisa berbahasa Tetun ituan-ituan deit (sedikit-sedikit saja).

Dan ia pun menghela nafas, lalu tampak berpikir sejenak. Saya menunggu. Dengan terbata-bata, laki-laki berkulit hitam mlengseng berusia sembilan belas tahun ini berkata dalam bahasa Indonesia, bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan.

Nanti jantung rusak. Nanti sakit paru-paru. Dan ia menyebutkan semua penyakit yang bisa menimpa saya, jika saya terus merokok.

Walaupun ia berkilah, laki-laki masih boleh merokok, karena secara fisik lebih kuat, tapi sungguh saya merasa tersentuh ‘dinasehati’ oleh remaja macam dia.

Sungguh, bisa berada dekat dengan dia dan teman-temannya, adalah sebuah keajaiban.

Tidak pernah kebayang sebelumnya, bisa mengobrol panjang lebar dengan bahasa campur-campur dengan mereka. Bisa membantu mereka belajar. Bisa mendengarkan curhat mereka tentang keluarga masing-masing. Bisa menceritakan tentang keadaan di Jawa. Bisa tertawa-tawa geli bersama saat saya salah bicara, sehingga menimbulkan konteks yang berbeda. Bisa melihat mereka yang cengar-cengir sebal ketika sedang bersemangat bercerita bagian terlucu film Warkop DKI atau bagian terseram film horror Indonesia masa kini favorit mereka dalam bahasa Indonesia tiba-tiba mereka lupa satu kata dalam bahasa Indonesia, sehingga ke’seru’an cerita mereka terpotong dan saya tidak tertawa maupun merasa seram sama sekali. Bisa memegang tangan mereka saat mengobati luka entah kenapa atau membalurkan mina (minyak) pada tato baru mereka.

Semua itu keajaiban.

Continue reading "Katanya "Feto Labele Fuma!"" »

17 december 2007

Tentang Patah Hati

Di sini, ada beberapa remaja yang memiliki naran familia [nama keluarga] : daBuset. Ya, ya, tentu saja itu bukan benar-benar naran familia orang Timor Leste, seperti daCosta, daSilva, Freitas dan seterusnya. Buset itu singkatan dari Budak Setan, nama geng anak-anak Becusse Centro, desa tempat saya dan teman-teman tinggal selama lima bulan terakhir. Seluruh anggota geng itu menjadikan nama geng mereka menjadi naran familia. Mereka dengan sukarela, dan saya pikir lebih berbangga hati menyandang nama ‘daBuset’ di belakang nama mereka. Bahkan, walaupun nama desa kami adalah Becusse Centro, tapi mereka merubahnya menjadi : Buset Area. Di beberapa tempat yang sering mereka tongkrongi, akan mudah ditemukan tulisan : Pendo daBuset, Gab daBuset, Ananu daBuset dan seterusnya.

Salah satu remaja yang masuk dalam ‘keluarga besar’ daBuset adalah Pendo. Pendo daBuset. Ia berasal dari desa Uatucarbau, Viqueque dan baru pindah ke Dilli untuk melanjutkan SMU pada bulan Mei kemarin. Anak ini termasuk sejenis remaja ngeselin, salah satu oknum yang melempari saya dan Nita dengan kerikil. Ia hobi sekali melakukan tindakan intimidatif untuk membuat Malae-malae macam saya ketar-ketir. Entah mendatangi rumah dalam keadaan sempoyongan karena mabuk dan memaksa masuk, mematikan dan menghidupkan pusat listrik bolak-balik sehingga kami yang di dalam berasa di bawah kelap-kelip pancaran lampu disko *halah*, terakhir malah ia sempat membakar pohon pisang di depan rumah. Asli, ni anak.. nakutin. Saya sempat berpikir, sepertinya ia mampu untuk melakukan perbuatan yang lebih berbahaya lagi – semacam perbuatan kriminal, seperti menusuk, membakar rumah dan seterusnya. Bahkan manik hitam matanya yang berwarna pudar, yang menandakan bahwa ia telah kehilangan penglihatan – membuat saya berpikir bahwa itu adalah akibat baku hantam antar geng.

Sampai…

Continue reading "Tentang Patah Hati" »

About Cerita Dari Jalan

This page contains an archive of all entries posted to blog.sepatumerah.net in the Cerita Dari Jalan category. They are listed from oldest to newest.

catatan kecil is the previous category.

cerita visual is the next category.

Many more can be found on the main index page or by looking through the archives.

Powered by
Movable Type 3.31