Salah Saya? Salah Pakaian Saya?
….. Ia mengeluarkan pernyataan lain ‘Pakaian minim itu merangsang kaum Adam untuk melecehkan kita, kaum Hawa….
Dua hari yang lalu, seusai menjalankan ritual jogging pagi, saya menjebakkan diri dalam ‘diskusi’ sambil berdiri di depan sebuah supermarket. Iya, saya bilang ‘menjebakkan diri’, karena kalau dipikir-pikir, waktu itu sebenarnya saya bisa menghindar, tapi tokh alih-alih berlalu, saya malah meladeni sang pencetus diskusi.
Waktu itu saya perlu membeli pembalut. Baiklah, ini informasi nggak penting; tapi ini alasan kenapa seusai jogging, masih keringetan dan masih bercelana pendek saya tidak langsung pulang.
Di supermarket, ada seorang perempuan berpakaian serba tertutup. Di tangannya terdapat setumpukan kertas. Ia memerhatikan saya, dari atas lalu ke bawah. Karena merasa diperhatikan, akhirnya saya pun ‘menangkap’ tatapan matanya.
Nggak diduga, perempuan tersebut menghampiri saya. Ia menyerahkan selembar dari setumpukan kertas yang ada di tangannya. Ternyata itu selebaran. Ketika saya baca isinya, pada intinya adalah permohonan dukungan terhadap gerakan anti pakaian minim.
Saya kembalikan kertas tersebut sambil berkata ‘Nggak, Mbak. Terima kasih.’
Dan dari situlah ‘diskusi’ kami berawal.
Ia mempertanyakan alasan saya menolak mendukung gerakan tersebut.
Yaaa, terus terang saya tidak pernah merasa menjadi orang yang anti pakaian minim. Ya, masa saya mendukung gerakan ‘anti’ terhadap sesuatu yang saya tidak ‘anti’ ?
Ketika saya kemukakan alasan tersebut, ia kemudian mengeluarkan satu pernyataan, yang menggelitik naluri keminter saya. :D
Menurutnya, gerakan anti pakaian minim ini bertujuan untuk melindungi perempuan dari pelecehan seksual.
Er, kata saya, itu statemen yang Jaka sembung makan lodeh, gak nyambung deh.








