Archive for the tak berkategori Category

Kinder Face Painting @ Food Wonderland IBCC

Kinder Face Painting

Yuk makan enak dan menikmati live music di IBCC Food Wonderland (The Boulevard IBCC, Jl.A. Yani 296 Bandung.)

Oh ya, kunjungi stand kami, Kinder Face Painting setiap Sabtu dan Minggu selama Food Wonderland (26 - 27 Juni 2010, 3 - 4 Juli 2010, 10 - 11 Juni 2010). Mari bersenang-senang bersama Ella Meilani dan saya. :)

See you all there :)

Anak Saya, Anak Ibu Saya : Wardrobe Project

http://wardrobeproject.wordpress.com

Jadi, satu saat di tahun 2007, ibu saya mendadak ngasih ide untuk membuat butik bersama. Waktu itu saya dalam masa-masa ingin jadi traveler seumur hidup (gaya!), dan saya tau banget itu trik ibu saya biar saya nggak sering-sering pergi. Terus terang waktu itu saya tertarik dengan ide ini, tapi belum kepikir sampai mewujudkannya.

Tahun 2008 - 2009, beberapa kali isu membuat butik bersama ini terlontar kembali. Saya —teteub— antara tertarik tapi takut nggak bisa memanage dengan baik.

Baru di tahun 2009 akhir, setelah ngobrol panjang-lebar dengan beliau, dan mengadakan pembagian tugas, saya setuju. Beliau mengurusi perkara administrasi, manajemen dan printilan yang nggak saya suka, saya diurusan desain dan produksi. :)

Selama 4 bulan kami menyiapkan ini, mulai dari hunting material, seleksi karyawan (bagian ini agak sulit, susah nemu yang klik dan langsung ngerti, tapi untung dapat!), membahas model, pemotretan *tsah, ini dibantu oleh adik saya* endeswey endeskoy.

Oh ya soal nama, tadinya ibu saya mengusulkan : Mutelapazzo. Yang artinya : Mun teu laku pake zorangan (bahasa Sunda : Kalau nggak laku, ya pake sendiri). Hihi. Tapi setelah dibicarakan lebih lanjut, kami sepakat dengan Wardrobe project, karena sebenarnya, ya memang item-item yang dijual ya memang yang kami sukai dan bakal masuk lemari kami . Lah waktu produksi saja, selalu dilebihin satu, dengan ukuran masing-masing, untuk dipakai sendiri. :D

Untuk setiap item, kami tidak memproduksi banyak, dan tidak ada restock. Ya iyalah, ngapain juga bikin baju sama dua kali. *ini mau jualan atau pengen bikin baju buat sendiri sih?*

Akhir kata, proudly introduce, anak saya dan ibu saya : The Wardrobe Project. Silahkan berkunjung :)

Info Baraya Blogger, Ngablog Sararea

Baraya Blogger 2009 yang merupakan Pesta Blogger 2009 Chapter Bandung akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 12 Agustus 2009. Pelaksanaan akan dibagi dalam 2 sesi:

Sesi Pagi: BLOGSHOP
Waktu: Pukul 10.00 – 16.00 WIB
Tempat: AMERICAN CORNER ITB
Perpustakaan Pusat ITB (Gd. Biru), Jl. Ganesha 10 Bandung 40132
Tel. (022) 250-0089 Fax. (022) 250-0089

Susunan acara:
1. 09.30 – 10.00 Registrasi
2. 10.00 – 12.00 Worskhop “Blogging for Beginners”, berupa tutorial dan praktek membuat blog. Fasilitas berupa komputer/laptop serta koneksi internet akan disediakan oleh American Corner ITB.
3. 12.00 – 13.30 Istirahat, sholat, dan makan siang
4. 13.30 – 14.00 Review workshop session
5. 14.00 – 15.00 Sharing session dengan top bloggers
6. 15.00 – 16.00 Sharing session dengan perwakilan komunitas lokal (Batagor dan BBV)
7. 16.00 Closing – US Embassy
Untuk sesi pagi ini, target peserta dibatasi sebanyak 40 orang. Selain menerima pendaftaran melalui situs ini, undangan juga akan disebar ke sekolah-sekolah.

Sesi Malam: GATHERING
Waktu: Pukul 19.00 – 22.00 WIB
Tempat: RUANG PUTIH
Jl. Bungur 37 Karang Setra Bandung

Susunan Acara:
1. Music Performance, akan menampilkan Filltico
2. Talkshow, yang akan menampilkan 2 pembicara dari blogger Bandung. Pembicara pertama adalah Oktarina Prasetyowati, seorang blogger dan penulis buku. Pembicara kedua adalah Firman Oktora, seorang guru TIK SMAN 2 Bandung, yang telah mengimplementasikan e-learning via blognya.
3. Games berhadiah menarik. Salah satunya adalah Kontes Membawa Teman yang akan berhadiah tiket gratis untuk datang ke acara Pesta Blogger 2009 di Jakarta tanggal 24 Oktober 2009. Akomodasi ditanggung!
Untuk sesi malam ini, pendaftaran peserta dilakukan melalui situs ini.

Tempat terbatas, jadi buruan daftar!!!

Ok, sampai ketemu di sana ya…


Ada Apa Dengan Filltico dan lajangdanmenikah.com?

Saya percaya bahwa slogannya Herbert Spencer untuk evolusi Biologi yang berbunyi ’survival of the fittest’ bisa diterapkan dalam perkara persahabatan. Ada yang pernah membenarkan untuk kasus berteman dengan saya, katanya ‘Iya, untuk lo, siapa yang bertahan bertemen dengan lo, berarti dia yang kuat’ (maksuuud?:P). Bukan itu kalii, maksud slogan tersebut, fit dalam slogan tersebut bukan dalam konteks bugar atau perkasa atau kuat, atau apalah, melainkan fit dalam konteks selaras, cocok, sesuai, harmonis atau pas.

So, untuk mempertahankan persahabatan tidak memerlukan otot,kok. ;-) Dan selaras, cocok, sesuai, harmonis atau pas, ya nggak perlu harus punya karakter yang sama. Selama satu sama lain sanggup bertoleransi (tapi nggak maksa), saya rasa ya harmonislah persahabatan itu.

Hm, intronya kepanjangan.

Anyway, sebenarnya saya mau membicarakan Filltico. Siapa mereka? Yah, mereka adalah empat orang yang bersahabat dari kali kapan tau dan membentuk sebuah band. Filltico ini memang baru dibentuk, tapi jangan salah, mereka telah ngeband dari sekitar pertengahan sembilan puluhan. Berawal dari sebuah band gospel yang bernama FIC beranggotakan buanyak banget orang, kemudian berubah menjadi band bernuansa sekuler yang memainkan lagu-lagu top 40-an bernama Anima Acoustica (dengar di sini) dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk membentuk band lagi, serta mencoba untuk membuat lagu-lagu mereka sendiri.

Padahal anggotanya sih, dia lagi, dia lagi. Atau paling tidak, adiknya dia, kakaknya dia, saudaranya dia, muter di situ-situ saja. Tapi mungkin karena survival of the fittest, mau nama band-nya ganti, bahkan mungkin mau aktivitasnya diganti, menjadi misalnya, buka restoran, kalau cocok, ya teteub aja, dia lagi, dia lagi. ;-)

Lalu, kalau ditanya aliran yang mereka usung apa, maka jawaban band yang dimotori oleh empat orang cowok tampan bertubuh subur ini (Ehm, maksudnya, tiga bertubuh subur, satu nggak begitu. HA!), kurang lebih akan seperti ini :

“Pop.”
“Lho kok Pop? Pop dikit, Blues dikit, Chacha dikit, bossanova dikit…..”
“Ya udah, Pop, tapi nggak bener-bener pop.”
“Pop nggak bener sih, tepatnya.”
“Iya Pop sakumaha aing (segimana gue)…”

Yeah, yeah, jangan diajak ngomong serius deh. *roll eyes*. Nggak pernah beres kalau ngomong. Tapi kalau soal penampilan live bukan minus one, bukan playback apalagi karaoke, nggak usah diragukan lagi *TSAH!*,

Anyway, kenapa coba saya cerita tentang mereka?

Yes, karena mereka lah yang mengerjakan soundtrack dari blog lajangdanmenikah.com. Gara-garanya sekitar bulan-bulan Desember, sewaktu saya sedang iseng-iseng mencoba menambahkan playlist lagu-lagu di blog lajangdanmenikah.com, tiba-tiba kepikir,’Eh lucu nih kalau blog lajang dan menikah punya lagu sendiri.’

Daaan, beneran lho bok dibuatin. :)

Buat warga Bandung yang mau melihat penampilan mereka, atau luar Bandung yang niat (siapa tauuu), silahkan datang ke Bandung Trade Center, hari Rabu, 15 Juli 2009. Mereka main dalam dua sesi. Sesi pertama dari jam 16.45 - 17.00, sesi kedua 17.30 - 18.00 WIB.

DAN…. this is the good news (for me? haha), soundtrack blog lajangmenikah.com akan dimainkan untuk pertama kalinya di sana, di sesi kedua.

Okay, see you there, because I’ll be there too…

;-)

Rini di Stasiun Kereta

Melakukan perjalanan sendiri itu nikmat. Saya suka. Beberapa kawan bertanya ‘Emang enak jalan-jalan sendiri?’. Saya jawab, ‘Enak. Nikmat.’ Dan mereka pun melontarkan pertanyaan susulan ‘Nggak kesepian nggak ada teman ngobrol?’

Kesepian? Nggak ada teman ngobrol?

Giliran saya yang terbingung-bingung. Kok bisa kesepian? Kok bisa nggak ada teman ngobrol? Bukannya pasti di perjalanan, kita akan bertemu dengan orang baru?

….

Sore itu telah merambat menuju malam; saya sudah duduk manis di salah satu kursi plastik di stasiun, baris ke dua, bersama dengan orang-orang lain. Hari itu, perjalanan solo saya entah untuk yang keberapa kalinya. Naik kereta. Saya datang terlalu cepat, kereta baru akan berangkat empat puluh lima menit lagi. ‘Di jalur dua’ kata salah satu petugas berseragam.

Wajah-wajah manusia di stasiun ini menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Orang yang duduk di sebelah kiri saya terlihat sedih (hm, mungkin dia akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang-orang tercinta), sebelah kanan saya, kosong. Orang yang barusan melintas terlihat gembira dengan terburu-buru (mungkin ia akan bertemu dengan sahabat-sahabat hati). Di depan saya, seorang anak kecil menjerit-jerit heboh, dengan suara melengking yang annoying, sementara sang ibu mencoba menenangkannya. Beberapa manusia berseragam yang sempat saya jumpai dari peron sampai di dalam, terlihat penat.

Saya tidak berani menyapa orang yang duduk di sebelah kiri saya. Ia terlihat terlalu sedih. Saya juga tidak menyapa orang yang melintas, ia tampak terlalu terburu-buru. Menyapa ibu-ibu yang anaknya menangis makin keras? Nggak deh. Makasih. Saya berharap banyak pada manusia yang bakal menduduki kursi sebelah kanan saya. Semoga saya bisa mengobrol dengannya; sehingga empat puluh lima menit menunggu kereta berangkat, tidak akan terasa basi.

Read the rest of this entry »

Yesus Ternyata Trendy :P

Hm. Kok tiba-tiba ngerasa ga enak ya? *boong tentunya*

Kemarin ketika login ke dalam akun facebook, saya menemukan sesuatu yang hmmm… lucu? Aneh? Konyol? Duh, saya nggak tahu harus memakai kata apa untuk mendeskripsikan ini. Jadi, ceritanya, saya hendak melakukan penyaringan request aktivitas dan undangan-undangan acara entah-apa-di-mana dan bikin saya bertanya-tanya, yang ngundang itu dapat inspirasi dari mana sampai-sampai menyimpulkan bahwa acara seperti itu adalah ‘tipe’ acara saya? ;-).

Lalu saya menemukan beberapa rekomendasi teman. Ajaib, sebagian besar, nggak saya kenal! Saya jadi terheran-heran, kenapa orang tersebut disodor-sodorkan pada saya untuk menjadi teman mereka? Aneh.

Tapi dari antara sekian friend suggestion ada satu sosok yang saya kenal, bernama ‘Yesus Kristus’ direkomendasikan oleh salah seorang kerabat saya.

Nah looo…

Kalau sosok yang ini saya kenal.

Tapi, saya nggak nyangka doi trendy juga.

Saya jadi ngebayangin, kalau memang iya beneran, Yesus facebookan, Dari mana ya dia online untuk log in ke dalam akunnya? Bisa jadi dari warnet. Bisa juga dari laptop di ruang kerjanya. Atau bisa saja dari Blackberrynya saat dia berada di jalan, antara satu aktivitas ke aktivitas lainnya, karena (mungkin) dia mati gaya, menunggu dalam kemacetan.

Tapi doi ngeblog nggak ya? :P

Halah.

Pada akhirnya saya memilih untuk mengklik tombol ‘ignore’.

Doh! Orang-orang makin aneh aja deh di facebook!

Yelloveflies : Mimpi Yang Kesampaian.

Mudah-mudahan tulisan  ini bisa menginspirasi siapa pun yang bermimpi untuk menerbitkan novel di luar sana. Atau siapa pun yang memiliki mimpi apa pun. ;-)

Paket Kiriman Yelloveflies

Paket serba kuning itu tiba sekitar tiga minggu yang lalu. Berisi sebuah novel berjudul Yelloveflies, dengan bonus packaging yang cantik, beberapa lembar stiker serta t-shirt. Pengirimnya adalah sang pengarang sendiri, Nita Trismaya.

Sekitar pertengahan bulan Desember, Nita Trismaya atau Mbak Nita, begitu biasanya saya memanggilnya, menelepon. Ia menceritakan tentang novelnya yang akan terbit di tahun 2009 ini.

Menulis Teenlit
“Genrenya Teenlit sih, Ke…” begitu ia membuka pembicaraan kami melalui telepon.

Perempuan lulusan Kriya Tekstil Institut Kesenian Jakarta tahun 87, serta program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung Program Studi Desain ini memang senang membaca, sejak SD ia telah membaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijk (Buya Hamka), serial petualangan Lima Sekawan karya Enid Blyton, karya-karya   Marga T, Mira W, Maria A. Sardjono dan Motinggo Busye. Cerita-cerita bersambung di majalah Femina pun dilahapnya. Selain fiksi, ia juga menyenangi kisah-kisah biografi tokoh dunia seperti Ann Boleyn serta Soekarno. Sejak saat itu ia sering berkhayal untuk menjadi penulis, belum ada keberanian untuk mewujudkannya. Tapi salah satu puisinya pernah dimuat di Kawanku, waktu ia kelas 6 SD tahun 1981, ia sudah lupa judulnya, tapi temanya tentang kematian seorang sahabat.

“Bangganyaaaa… minta ampyun! Satu sekolah sampe tau.” begitu cetusnya sambil terkekeh.

Dari sekian banyak genre yang ada di dunia literasi, ia memilih teenlit.

Ini karena Mbak Nita yang lahir bulan Oktober 1968 ini, dalam kesehariannya banyak sekali bergaul dengan remaja. Profesinya yang dosen memungkinkannya untuk mengenal banyak mahasiswa yang baru lulus SMA, ditambah lagi dengan keberadaan sepupu-sepupunya yang masih bisa dikategorkan remaja. Ia melihat bahwa dunia remaja itu memiliki banyak hal menarik yang bisa diangkat dalam sebuah tulisan. Dari pengamatan, ia melihat bahwa remaja itu selalu butuh idola, butuh panutan yang berasal dari kalangannya sendiri; misalnya artis remaja tertentu, penyanyi tertentu atau tokoh novel tertentu, karena remaha sedang berada dalam proses pencarian identitas diri. Ia ingin memberikan kontribusi yang berguna dan bisa jadi contoh buat remaja.

“Aslinya gue buta banget soal kondisi remaja jaman sekarang, karena udah pasti beda banget dengan masa remaja gue dulu; mulai dari gaya bahasa, trend, kebiasaan, kesukaan, cara bergaul dan masih banyak lagi.”

Ia mengakui bahwa masalah utamanya memang perbedaan usia, jaman, kebiasaan dan gaya hidup. Dan bagaimana ia bisa mengolah gaya tulisannya supaya bisa diterima kalangan remaja, entah itu dari gaya leluconnya, penokohan karakter utamanya.

“Nyambung nggak ya, gaya becanda gue yang udah STW ini dengan gaya becanda anak-anak jaman sekarang, atau apa remaja seneng dan bisa mengidolakan karakter utama novel gue?Istilah kerennya, bisa nggak sih gue ngedapetin spirit remajanya? itu kesulitan utama buat gue. Mungkin kalo yang masih remaja di masa kini, hal itu bukan masalah. Bener nggak?” katanya.

Read the rest of this entry »

Dua Kali Ulang Tahun

…membawa cake, atau hadiah
atau mungkin membawa diri saja
(…dipitain. Haha.
Maaf, fantasi yang kinky, lupakan). Menciummu…

Aku mengetuk pintu kamar kost itu. Di tanganku terdapat sebuah cake ulang tahun seadanya, yang dibuat oleh seorang amatiran, alias aku. Di atasnya kutancapkan lilin sejumlah usiamu, sudah kunyalakan sedari tadi. Angin hari ini cukup kuat, lidah api pada sumbu lilin bergerak-gerak, meliuk-liuk tertiup. Aku takut lilin-lilin ini mati, sebelum kau tiup.

Selama beberapa saat tidak terdengar sahutan. Mungkin kau masih tidur. Tapi aku gigih, terus mengetuk. Kau berulang tahun dan aku sudah bersusah payah membuat cake tak jelas bentuknya ini buatmu. Kau. Harus. Bangun. Titik.

Tanggal tiga april dua ribu sembilan. Pukul sebelas tiga puluh dua. Aku mengantuk berat, padahal aku masih harus menanti pergantian hari yang baru terjadi dua puluh delapan menit ke depan. Salahkan aku yang terlalu banyak beraktivitas hari ini; soalnya, biasanya, jam segini itu, aku masih segar bugar.

Aku jadi ingat, setahun yang lalu, aku pun menunggu jam dua pagi. Kenapa jam dua pagi? Karena pergantian hari di tempatmu dua jam lebih lambat dari waktu di tempatku. Tapi sial, saat itu pun aku kecapaian, belum lagi mencapai jam dua belas, aku sudah tidur cantik berbalut sleeping bag dengan sukses.

Dan aku hanya bisa mengirimimu SMS pagi-pagi. Bukan telepon, karena kredit pulsaku sekarat dan aku bokek. Menyedihkan.

Akhirnya, pada sebelas tiga puluh lima, dengan tidak sabar —sekaligus takut ketiduran— aku mendial nomor yang sudah kuhafal. Terdengar nada sambung, lalu, suaramu.

“Udah tidur?” tanyaku.
“Belum… baru aja mau tidur.”
“Ngantuk?”
“Mayan. lo?”
“Sama. Tapi lo nggak boleh tidur.” kataku.
“Kenapa?”
“Karena, gue pingin ngucapin met ulang tahun.”
“Besok aja kan bisa?”
“Nggak mau ah, mau sekarang, supaya gue jadi orang pertama yang ngucapin met ulang tahun buat lo.”

Aku mendengar tawamu. Ya,ya,ya, aku tahu, aku terdengar konyol. Bak anak SMA saja, yang ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun buat orang paling istimewa dalam hidupnya *anjiiis.*

Dan kita pun mengobrol. Aku nggak sadar sudah berceloteh apa saja. Sumpah. Sepertinya aku sudah dalam kondisi tidak sadar, saking mengantuknya.

Akhirnya, alarm arlojiku berbunyi, menandakan pergantian hari telah terjadi.

“Selamat ulang tahun…” kataku.

Lalu aku diam, bingung mau bilang apa.

Begitulah.

Lalu, kau tahu, seharian ini, aku memikirkan kau. Sudah dua kali ulang tahun berjauhan. Seandainya aku bisa bertemu kau saat kau berulangtahun, tentu semuanya jadi lebih mudah kan? Aku bisa melaksanakan kejutan standar, datang ke tempat tinggalmu, membawa cake, atau hadiah atau mungkin membawa diri saja (…dipitain. Haha. Maaf, fantasi yang kinky, lupakan). Menciummu. Mengucapkan selamat ulang tahun.

….


Sejurus kemudian, pintu terbuka. Kau di sana, berdiri dengan mata bengkak dan muka mengantuk. Kesadaranmu belum berpulang sepenuhnya.

“Selamat Ulang tahun, Sayang.” Dan aku pun menyodorkan cake tersebut ke depan wajah bantal-mu.

Kau tiup. Lilin mati.

Aku mendekatkan wajah untuk menciummu. Kau masih bau naga. Kutak peduli. La..la..la :D

Selamat Ulang Tahun, Tjintah.

Kiss, kiss,
Okke!

PS: Ini hadiah untukmu.

Muka Seluas Dinding

Sebelum saya pulang ke Tana Jawa dari masa pelayanan mengajar saya di Timor Leste, saya kerap bertanya, apa yang sudah saya tinggalkan di sana? Lalu, apakah beberapa tahun ke depan saya masih diingat? (Saya tahu, pertanyaan terakhir terdengar egois, maklum, kadang-kadang saya suka berubah menjadi mahluk Sokpahlawantropus Ingindiingaticus. :D)

Dan, semalam, seorang teman relawan menunjukkan sebuah foto dinding loteng rumah tempat kami tinggal dulu, kalau siang, itu tempat belajar anak-anak sekitar, tapi malam-malam, itu tempat saya melarikan diri kalau bete. Ia bilang, Unnoe made your face in our Dilli house.

Dan, saya spontan ketawa geli melihat gambar muka saya sak dinding! Wong edhian. Katanya, itu digambar oleh Unnoe, salah seorang relawan juga.

Yah… se-enggaknya, biar pun sejujurnya sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, apakah saya meninggalkan manfaat di sana, tapi ada yang pasti : Saya meninggalkan muka saya seluas tembok! :D

Muka Seluas Tembok. Aduh itu rokok!

Thanks, ya Unnoe! Thank you, Mike for uploading this! You made my day

Hihihi. Lihat tulisannya! The School of Life. Love it! Salah satu kalimat favorit saya.

Maab, maab, ini nggak penting, tapi foto ini berhasil bikin saya cengar-cengir sendiri. Yo olloooo, jadi kangeeeen!

Kredit foto : Michael Uri.

Mencintai Sesuatu Segitunya.

“Saya mending nggak dipeluk cewek sebulan, dibandingin nggak kegulung ombak sebulan.”

Itu kalimat keren yang ada di video klip yang ternyata potongan dari film dokumenter ‘Thank You, Good Night Mother’-nya Ivan Handoyo. Tentang kecintaan orang-orang pada surfing dan ombak.

Pernah nggak sih kau mencintai sesuatu segitunya, sampai kau mau mengorbankan apa pun yang orang anggap menyenangkan? Ketika kau menceritakan apa yang kau cintai itu, maka semua orang bilang,”Hey, you’re glowing!” ? Bahkan kesulitan gila-gilaan yang kau hadapi gara-gara apa yang kaucintai itu pun sama sekali nggak bikin kau sedih?

Ketika semua orang bertanya-tanya, kok bisa segitunya, jawabmu singkat saja : kau jatuh cinta padanya.

Dan perasaan ini membuatmu hidup sehidup-hidupnya. Bersemangat setiap saat. Happy setiap waktu. Yang ada dalam pikiranmu cuma yang kaucinta, bahkan kau tidak memikirkan tentang dirimu sendiri lagi.

Sumpah saya sedang merindu perasaan tersebut. Pergi ke mana ya? Ada yang lihat? *helanafaspanjang*