Siapa Tahu Besok Mati.

Hari Rabu kemarin, dalam perjalanan dari Bandung, menuju kota paling menyebalkan se-Indonesia Raya untuk menghadiri mendadak media gatheringKamulah Satu-satunya’ (yang merupakan adaptasi film berjudul sama) di Brew & Co Cilandak Town Square, sebuah pesan pendek masuk dalam inbox ponsel saya.

Tolong difwd ke temen-temen *****SR94 meninggal dunia tadi pagi sekitar jam8-an karena kecelakaan motor. Semoga yang ditinggal diberi kekuatan dan tabah, amin.

Otomatis saya menekan pilihan forward dan meneruskan pesan tersebut kepada beberapa teman se-almamater. Sebagian besar dari mereka langsung menjawab dan menyatakan keterkejutannya.

Bukan mereka saja yang terkejut, tapi saya juga. Walaupun nggak akrab-akrab amat, tapi selama kuliah dulu saya cukup sering berinteraksi dengan orang yang dimaksud.

Sepanjang perjalanan pikiran saya hanya terpusat pada kejadian ini. Mati muda. Iya, mati muda adalah hal yang sering mengganggu pikiran saya, secara saya selalu ingin mati bergaya, jadi saya sangat takut jika keburu mati sebelum sempat melakukan sesuatu yang ‘berarti’.

….

Continue reading

Tentang Kamulah Satu-satunya

Kemarin, saat baru pulang ke rumah, saya nemuin sebuah paket dari Gagas Media di kamar tidur. Setelah dibuka, ternyata isinya nomor lepas novel adaptasi kedua saya : Kamulah Satu-satunya, berdasarkan skenario yang dibuat oleh Hanung Bramantyo, Key Mangunsong dan Raditya.

Novel pertama di 2007, nih ;-)

Anyway, waktu pertama saya mempelajari skenario film ini untuk diadaptasi dalam format novel, saya langsung suka, somehow ngingetin saya pada dua hal : Film I wanna hold your hand dan kelakuan saya waktu tergila-gila dengan New Kids On The Block.

Tambah suka lagi setelah menonton filmnya, yang walaupun belum selesai diedit, tapi sangat membantu ngebangun mood dan bikin saya kesurupan menyelesaikan novelnya. Seru. Jujur aja, saya enjoy banget waktu ngerjain ini.

Oh ya, ngomong-ngomong, pelajaran yang saya dapat kali ini : kalau mengadaptasi skenario menjadi novel, filmnya harus ditonton dulu, supaya ‘dapat’ moodnya dan supaya nggak salah nama

*dum di dum*