….abunya ditebar ke pantai-pantai yang asyik buat liburan.Jadi kalau mau ziarah bisa sambil liburan, berenang di pantai
Kemarin klien-ku mengirimkan pesan pendek, yang isinya membatalkan janji bertemu kami untuk membahas sebuah pekerjaan. Katanya, orangtua-nya meninggal. Tadinya begitu menerima pesan tersebut, aku hendak langsung menelepon, tapi kupikir, mungkin itu bukan saat yang tepat. Maka aku pun mengirimkan ucapan bela-sungkawa melalui SMS, dan kutambahkan pesan ‘kapan pemakamannya?’
Dikremasi di Cikadut. Besok jam 10.
Begitu jawaban yang kuterima, malamnya.
Maka di sinilah aku, di sebuah kompleks pemakaman yang hanya pernah kudengar namanya. Aku datang jam 9.30 WIB. Kupikir jenazah dan keluarganya telah datang; tapi aku salah, krematorium tersebut sangat sepi; hanya ada beberapa penjaga di sana. Kuhampiri salah satunya. Seorang pria setengah baya.
Pak, nanti jam sepuluh bakal ada yang dikremasi,kan? Tanyaku memastikan.
Ada. Neng. Yang dari rumah duka Nana Rohana,kan? ia balik bertanya.
Wah. Karena tidak tahu, aku pun tidak menyahut.
Namanya siapa?
Nah, ini sama saja, aku juga tidak tahu. Mendadak aku merasa tolol, melayat, tanpa membawa informasi apa-apa.
Ya udah deh, Pak, saya tungguin aja, ntar juga pasti pada datang,kan? Kataku. Kupikir, nanti juga aku bakal bertemu klienku.
Aku pun berjalan menjauh, menuju sebuah rumah kecil, di depannya terdapat beberapa kursi plastik kumal. Aku menduduki salah satunya. Kukeluarkan hp, mengintip SMS dari klienku, memastikan bahwa aku datang di jam dan hari yang benar.
Halo, Mbak. Terdengar sebuah suara. Aku mendongak. Seorang wanita berdiri di hadapanku. Rambutnya dibob pendek, matanya sipit, hidungnya bangir, bibirnya kecil, ada tahi lalat di pipi kirinya. Sama sepertiku, ia mengenakan pakaian hitam-hitam, suaranya lembut. Sori, Mbak nungguin kremasi yang jam sepuluh juga?
Iya,Bu. Entah kenapa aku lega, karena kehadiran ibu tersebut membuatku yakin bahwa aku tidak salah waktu, walaupun ia tidak menyebutkan siapa yang dikremasi.
Saya duduk di situ ya? tanyanya sopan sambil menunjuk kursi kosong di sebelahku.
Silakan, bu. Aku tersenyum. Dan ia pun duduk.
Mbak kerabat-nya yang meninggal? tanyanya setelah duduk.
Saya teman anaknya,Bu.
Lalu kami terdiam selama beberapa saat. Ibu tadi tampak memerhatikan sekeliling. Ia melirik ke arah arloji yang melilit di pergelangan tangan kirinya.
Kenapa masih sepi,ya? tanyaku Padahal katanya kremasi jam sepuluh. Sekarang sudah hampir jam sepuluh, tapi belum ada orang.
Masih ada ibadah di rumah duka, Mbak. Jawabnya
Oooo. Aku mengangguk-angguk.
Tadinya saya mau ikutan ibadab , tapi takutnya ibadahnya kelamaan, jadi saya duluan deh ke sini, daripada ketiduran. Ia tertawa, giginya yang putih dan rapi terlihat. Wajahnya sungguh menyenangkan dilihat.Apalagi saat tertawa. Dan kamu tau, ada orang-orang yang jika tersenyum bisa menularkan senyumnya ke orang banyak? Nah ibu ini salah satu orang yang demikian. Aku pun ikut tersenyum.
Kamu pernah datang ke upacara kremasi, Mbak. Lanjut ibu tadi.
Nggak pernah. Ini pengalaman pertama saya, jadi saya datang, antara mau mengucapkan bela sungkawa, sekaligus juga pengen lihat. Jawabku jujur. Sang ibu tertawa.
Habis yang saya tahu semuanya ya bentuknya pemakaman. Kataku.
Aduh, pemakaman. Lahan di Bandung kan makin sempit aja, ngabis-ngabisin tempat. Ibu tersebut mencibir.
Iya sih. Eh, tapi kalau abis kremasi, biasanya abunya dikemanain sih? Tanyaku.
Tergantung, bisa ditebar ke laut, atau disimpan di rumah keluarga atau kerabat.
Aku merinding sendiri mendengarnya. Menyimpan abu jenazah di rumah? Duh, nggak deh. Tanpa sadar aku bergidik.
Ia tertawa melihatku, Kamu pasti mikirnya yang horor deh.
Iya,bu. Aku nyengir malu. Eh tapi, kalau ditebar ke laut, mau ziarah susah dong?
Ya enggak. Datang aja ke pantainya. Seharusnya semua yang meninggal itu kasih pesan, supaya abunya ditebar ke pantai-pantai yang asyik buat liburan.Jadi kalau mau ziarah bisa sambil liburan, berenang di pantai.
Dan kembali aku mengernyit. Berenang di tempat di mana abu ditaburkan? Uh-oh.
Ya pasti abunya udah kebawa arus air lah Mbak. Ia menyahut, seolah tahu apa yang ada di pikiranku. Aku nyengir lagi.
Saya sih sejujurnya lebih setuju dengan buang abu di laut, daripada disimpan-simpan. Atau dimakamkan. Lagipula, sebenarnya buat apa sih ziarah? Maksud saya, yang didatangi kan tubuh kasat mata-nya, belum tentu tubuh itu masih ada di bawah tanah sana. Katanya.
Ya, tapi kan itu semacam mengenang,Bu. jawabku.
Kenangan itu akan selalu hidup, di hati, dan di pikiran orang-orang yang tercinta. Bukan di makam, atau di guci berisi abu. Ia tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara mobil. Aku dan ibu tersebut mendongak.
Rombongan sudah datang. katanya.
Sebuah mobil jenazah, sebuah bis besar dan beberapa mobil beriring-iringan memasuki halaman krematorium. Dalam sekejap, lapangan parkir yang tadinya lengang tersebut penuh. Aku memanjangkan leherku, mencari klien-ku.
Kamu cari anaknya yang meninggal kan? Itu… ibu tadi menunjuk ke arah bis. Dalam sekejap mataku menangkap sosok perempuan yang kukenal. Ia ada di bangku paling belakang bus, kebetulan ia pun sedang menatap ke arahku. Ia melambai, aku bisa melihat matanya bengkak.
Terburu aku menghampiri pintu belakang bus, menyambutnya.
Makasih, Mbaaak. Aduh, aku nggak nyangka Mbak dateng. ia merentangkan tangannya dan memelukku. Aku balas memeluknya.
Yang kuat ya. kataku masih dalam keadaan memeluk.
Iya, Mbak makasih.Yuk, ke sana. Ia mengajakku. Kami berjalan bersisian, menuju ke gedung krematorium. Petugas mobil jenazah tampak sedang mengeluarkan peti mati dari mobil.
Anya, ini, fotonya kamu yang bawa. Sebuah suara memanggil. Aku menoleh, tampak seorang perempuan, entah siapa, mungkin anggota keluarga klien-ku.
Sebentar ya, Mbak. Klien-ku menjauh dari sisiku. Ia mengambil foto berpigura tersebut, menatapnya sesaat. Klienku sungguh tabah dan tegar. Setelah menghela napas beberapa kali, ia membalikkannya, menghadap ke arahku.
Tampak foto seorang perempuan. Wajahnya ramah, senyumnya manis, rambutnya dibob pendek, matanya sipit, hidungnya bangir, bibirnya kecil, ada tahi lalat di pipi kirinya.
Ibu yang tadi menemaniku mengobrol.
Sebuah cerpen yang idenya muncul saat menanti bersama Nita Sellya dan Senny Oktaviani di Krematorium Cikadut.