Archive for the fiksi Category

Ini Kota Yang Aneh

Tapi aneh sekali, berada di kota ini, seolah candu bagiku.  Kenapa ya?

Jangan meremehkan rasa bosan. Sungguh. Karena ia bisa menjadi sumber kekuatan untuk melakukan apa saja. Well, setidaknya untukku sih. Gara-gara rasa bosan tak kepalang, aku pun mengiyakan seorang kawan untuk pindah ke sebuah kota. Kota yang aneh, tepatnya.

10 April 2009. Aku ingat betul tanggal itu. Hari di mana aku resmi terdaftar di kota tersebut. Eh, iya deh, ngaku, aku nggak inget-inget amat, tapi tanggal tersebut tertulis di rumahku. Joined: 10th Apr 2009; begitu katanya.

“Aku yakin kamu suka kota ini.” itu kata temanku, sewaktu aku masih bingung, tidak tahu apa yang akan kulakukan di kota ini.

“Kenapa?”

“Karena kota ini cocok buat kamu, yang senang berceloteh, yang pikirannya selalu dipenuhi hal-hal absurd, tapi sering tidak punya wadah untuk mengeluarkan pikiran tersebut. Kamu bisa mengeluarkan opinimu dengan bebas.”

Aku, sebagai penghuni baru, sedikit demi sedikit mulai mempelajari tata kehidupan di kota ini; terutama cara bersosialisasi. Ada aturan-aturan tersendiri, ternyata. Dan, tentu saja, sebagai penghuni baru, aku berusaha menyesuaikan diri. Hei, bukannya ada pepatah dari seorang bijak yang berbunyi : ‘beradaptasi lah aku, atau mati’? Eh, siapa ya yang pernah bilang begitu?

Hmm.

Oh, aku ding.

Read the rest of this entry »

Di Sebuah Krematorium

….abunya ditebar ke pantai-pantai yang asyik buat liburan.Jadi kalau mau ziarah bisa sambil liburan, berenang di pantai

Kemarin klien-ku mengirimkan pesan pendek, yang isinya membatalkan janji bertemu kami untuk membahas sebuah pekerjaan. Katanya, orangtua-nya meninggal. Tadinya begitu menerima pesan tersebut, aku hendak langsung menelepon,  tapi kupikir, mungkin itu bukan saat yang tepat. Maka aku pun mengirimkan ucapan bela-sungkawa melalui SMS, dan kutambahkan pesan ‘kapan pemakamannya?’

Dikremasi di Cikadut. Besok jam 10.

Begitu jawaban yang kuterima, malamnya.

Maka di sinilah aku, di sebuah kompleks pemakaman yang hanya pernah kudengar namanya. Aku datang jam 9.30 WIB. Kupikir jenazah dan keluarganya telah datang; tapi aku salah, krematorium tersebut sangat sepi; hanya ada beberapa penjaga di sana. Kuhampiri salah satunya. Seorang pria setengah baya.

Pak, nanti jam sepuluh bakal ada yang dikremasi,kan? Tanyaku memastikan.

Ada. Neng. Yang dari rumah duka Nana Rohana,kan? ia balik bertanya.

Wah. Karena tidak tahu, aku pun tidak menyahut.

Namanya siapa?

Nah, ini sama saja, aku juga tidak tahu. Mendadak aku merasa tolol, melayat, tanpa membawa informasi apa-apa.

Ya udah deh, Pak, saya tungguin aja, ntar juga pasti pada datang,kan? Kataku. Kupikir, nanti juga aku bakal bertemu klienku.

Aku pun berjalan menjauh, menuju sebuah rumah kecil, di depannya terdapat beberapa kursi plastik kumal. Aku menduduki salah satunya. Kukeluarkan hp, mengintip SMS dari klienku, memastikan bahwa aku datang di jam dan hari yang benar.

Halo, Mbak. Terdengar sebuah suara. Aku mendongak. Seorang wanita berdiri di hadapanku. Rambutnya dibob pendek, matanya sipit, hidungnya bangir, bibirnya kecil, ada tahi lalat di pipi kirinya. Sama sepertiku, ia mengenakan pakaian hitam-hitam, suaranya lembut. Sori, Mbak nungguin kremasi yang jam sepuluh juga?

Iya,Bu. Entah kenapa aku lega, karena kehadiran ibu tersebut membuatku yakin bahwa aku tidak salah waktu, walaupun ia tidak menyebutkan siapa yang dikremasi.

Saya duduk di situ ya? tanyanya sopan sambil menunjuk kursi kosong di sebelahku.

Silakan, bu. Aku tersenyum. Dan ia pun duduk.

Mbak kerabat-nya yang meninggal? tanyanya setelah duduk.

Saya teman anaknya,Bu.

Lalu kami terdiam selama beberapa saat. Ibu tadi tampak memerhatikan sekeliling. Ia melirik ke arah arloji yang melilit di pergelangan tangan kirinya.

Kenapa masih sepi,ya? tanyaku Padahal katanya kremasi jam sepuluh. Sekarang sudah hampir jam sepuluh, tapi belum ada orang.

Masih ada ibadah di rumah duka, Mbak. Jawabnya

Oooo. Aku mengangguk-angguk.

Tadinya saya mau ikutan ibadab , tapi takutnya ibadahnya kelamaan, jadi saya duluan deh ke sini, daripada ketiduran. Ia tertawa, giginya yang putih dan rapi terlihat. Wajahnya sungguh menyenangkan dilihat.Apalagi saat tertawa. Dan kamu tau, ada orang-orang yang jika tersenyum bisa menularkan senyumnya ke orang banyak? Nah ibu ini salah satu orang yang demikian. Aku pun ikut tersenyum.

Kamu pernah datang ke upacara kremasi, Mbak. Lanjut ibu tadi.

Nggak pernah. Ini pengalaman pertama saya, jadi saya datang, antara mau mengucapkan bela sungkawa, sekaligus juga pengen lihat. Jawabku jujur. Sang ibu tertawa.

Habis yang saya tahu semuanya ya bentuknya pemakaman. Kataku.

Aduh, pemakaman. Lahan di Bandung kan makin sempit aja, ngabis-ngabisin tempat. Ibu tersebut mencibir.

Iya sih. Eh, tapi kalau abis kremasi, biasanya abunya dikemanain sih? Tanyaku.

Tergantung, bisa ditebar ke laut, atau disimpan di rumah keluarga atau kerabat.

Aku merinding sendiri mendengarnya. Menyimpan abu jenazah di rumah? Duh, nggak deh. Tanpa sadar aku bergidik.

Ia tertawa melihatku, Kamu pasti mikirnya yang horor deh.

Iya,bu. Aku nyengir malu. Eh tapi, kalau ditebar ke laut, mau ziarah susah dong?

Ya enggak. Datang aja ke pantainya. Seharusnya semua yang meninggal itu kasih pesan, supaya abunya ditebar ke pantai-pantai yang asyik buat liburan.Jadi kalau mau ziarah bisa sambil liburan, berenang di pantai.

Dan kembali aku mengernyit. Berenang di tempat di mana abu ditaburkan? Uh-oh.

Ya pasti abunya udah kebawa arus air lah Mbak. Ia menyahut, seolah tahu apa yang ada di pikiranku. Aku nyengir lagi.

Saya sih sejujurnya lebih setuju dengan buang abu di laut, daripada disimpan-simpan. Atau dimakamkan. Lagipula, sebenarnya buat apa sih ziarah? Maksud saya, yang didatangi kan tubuh kasat mata-nya, belum tentu tubuh itu masih ada di bawah tanah sana. Katanya.

Ya, tapi kan itu semacam mengenang,Bu. jawabku.

Kenangan itu akan selalu hidup, di hati, dan di pikiran orang-orang yang tercinta. Bukan di makam, atau di guci berisi abu. Ia tersenyum.

Tiba-tiba terdengar suara mobil. Aku dan ibu tersebut mendongak.

Rombongan sudah datang. katanya.

Sebuah mobil jenazah, sebuah bis besar dan beberapa mobil beriring-iringan memasuki halaman krematorium. Dalam sekejap, lapangan parkir yang tadinya lengang tersebut penuh. Aku memanjangkan leherku, mencari klien-ku.

Kamu cari anaknya yang meninggal kan? Itu… ibu tadi menunjuk ke arah bis. Dalam sekejap mataku menangkap sosok perempuan yang kukenal. Ia ada di bangku paling belakang bus, kebetulan ia pun sedang menatap ke arahku. Ia melambai, aku bisa melihat matanya bengkak.

Terburu aku menghampiri pintu belakang bus, menyambutnya.

Makasih, Mbaaak. Aduh, aku nggak nyangka Mbak dateng. ia merentangkan tangannya dan memelukku. Aku balas memeluknya.

Yang kuat ya. kataku masih dalam keadaan memeluk.

Iya, Mbak makasih.Yuk, ke sana. Ia mengajakku. Kami berjalan bersisian, menuju ke gedung krematorium. Petugas mobil jenazah tampak sedang mengeluarkan peti mati dari mobil.

Anya, ini, fotonya kamu yang bawa. Sebuah suara memanggil. Aku menoleh, tampak seorang perempuan, entah siapa, mungkin anggota keluarga klien-ku.

Sebentar ya, Mbak. Klien-ku menjauh dari sisiku. Ia mengambil foto berpigura tersebut, menatapnya sesaat. Klienku sungguh tabah dan tegar. Setelah menghela napas beberapa kali, ia membalikkannya, menghadap ke arahku.

Tampak foto seorang perempuan. Wajahnya ramah, senyumnya manis, rambutnya dibob pendek, matanya sipit, hidungnya bangir, bibirnya kecil, ada tahi lalat di pipi kirinya.

Ibu yang tadi menemaniku mengobrol.

Sebuah cerpen yang idenya muncul saat menanti bersama Nita Sellya dan Senny Oktaviani di Krematorium Cikadut.

Kilat!The Flash Fiction Challenge. Vote Me? :)

Gara-gara banyak banget yang mention saya di twitter, meminta saya mem-vote flash fiction mereka untuk Kilat! The Flash Fiction Challenge ,jadinya saya latah deh ikutan, langsung bikin dua biji aja getoh, cuma yang saya ‘jagoin’ yang judulnya : ‘Aku Cinta Padamu, Katanya’ sih. Kalau kalian, yang mana? *halah*

DEMI MEMANJAKAN PERUT (Vote here)

Kata orang, cara membuat pria jatuh cinta adalah dengan memanjakan perutnya.

Itu sudah kulakukan pada suamiku sejak kami masih pacaran. Setiap berkencan aku menghidangkan makanan yang lezat. Dan dia tergila-gila padaku karena itu.

Kami menikah tahun lalu. Dan beginilah rutinitasku setelah menjadi istrinya : aku harus memastikan bahwa makanan sudah siap di meja makan pada jam sebelas, karena jam dua belas suamiku pulang untuk makan siang.

Jam enam, makanan dengan menu lain sudah harus terhidang, jam tujuh ia pulang kantor.

….

Hari ini, suamiku pulang lebih cepat. Aku panik. Untunglah aku bisa mengatur meja dengan cepat. Ia menikmati makanan dengan lahap. ‘Kamu jago sekali memasak’ pujinya,’aku tak salah memilih istri.’

Aku, seperti biasa tersenyum, menggenggam erat-erat bon pemesanan di restoran langganan yang kali ini belum sempat kubuang.

….

AKU CINTA PADAMU, KATANYA (Vote here)

“Aku mencintamu dengan sepenuh hati..” kata laki-laki itu. Wajahnya menampakkan kesungguhan, ia terlihat tampan. Yah, bagaimana tidak, dia adalah seorang model.Digilai oleh sejuta ibu rumah tangga dan ABG.

Aku tertawa dalam hati mendengarnya, seperti biasa, aku selalu geli mendengar kata-kata gombal seperti itu. Tiba-tiba ia mengulurkan setangkai mawar merah dari balik punggungnya.

Oh tolonglah…. Ini 2010, mawar sudah tidak musim.

“Tidak ada yang lain dalam hatiku, selain kamu, kamu yang terindah dalam hidupku” laki-laki itu melanjutkan. Aku mulai tersenyum, geli.

Yakin niiih? Kataku, dalam hati tentunya.

“Bersamamu, aku merasa hanya kita berdua yang ada didunia ini…” kata dia lagi.

Tawaku menyembur. Aduh, maaf. Aku merusak suasana, tapi sungguh, aku tidak tahan.

“Aku ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersama kamu, bukan yang lain…” dia meneruskan, lalu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya, sebuah kotak perhiasan beludru. Ia membuka tutupnya, tampak sebuah cincin bermata satu.

Uh oh.Ia melamar?

Dan ia pun berlutut. Ampun!

Aku sudah tidak tahan lagi, ingin tertawa , ingin mencela. Segera kuambil remote control televisiku, dan kumatikan TV, dalam sekejap laki-laki model dan perempuan pendatang baru tadi menghilang dari layar.

Dasar sinetron! gerutuku sambil kembali meneruskan makan malamku.

….

UPDATE Satu Lagi : Menyatakan Cinta Pada Magdalena (Vote here)


Sesungguhnya cinta tumbuh karena terbiasa itu benar adanya. Aku mencintai Magdalena.

Bagaimana tidak, kami telah tinggal bersama selama empat tahun. Bukan sekedar tinggal bersama, tapi kami sudah berbagi tempat tidur!

Aku begitu menikmati saat-saat kami berdua saja. Cinta itu menelusup saat ia mengelusku. Saat ia memelukku. Saat ia menciumku. Cintaku padanya mengerak di seluruh relung dan rongga tubuhku

Sayang, Magdalena tidak menyadari bahwa cintaku padanya sedalam itu. Padahal aku sudah berusaha untuk memberi tahunya, namun ia tidak mengerti. Ia memilih begitu banyak pria lain. Yang terakhir adalah Ryan, sebulan yang lalu.

Magdalena tidak menyadari betapa aku terbakar cemburu saat Ryan meneleponnya. Mereka berbincang mesra. terkadang mereka saling menggoda,

Dan itu terjadi setiap malam. Seperti ritual. Ritual cinta antara Magdalena dan Ryan.Bisa kau bayangkan betapa tersiksanya aku?

Di hari yang ke tiga puluh lima, aku tidak tahan. Ryan menelepon dan mereka melakukan ritual bercinta mereka. Kemesraan mereka mendorongku untuk membulatkan tekad. Aku harus menyatakan perasaanku.

Harus kucoba agar Magdalena mengerti.Harus. Harus. H-a-r-u-s.

Tiga jam kemudian, Magdalena menutup telepon. Sumringah senyum menghiasi wajahnya. Ia menoleh padaku, kemudian memeluk dan menciumku. Ia mengelus badanku lembut

Aku harus bilang sekarang juga! Pita suaraku menegang. Liurku mengumpul. Lidahku kaku. Harus!

Sekuat tenaga aku berusaha untuk menyatakannya….

Aku cinta kamu! ‘Meong!’

aku-cinta-kamu! ‘me-ong!’

AKU CINTA KAMU! ‘MEONG!’

Dan Magdalena mengerutkan keningnya,’kenapa sih kamu,Pus? Laper?’

Mi The Wandering Soul : Turn Your Lights Down Low*

Setelah menunda semalam, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menghampirinya. Di sinilah aku. Di depan sebuah tattoo parlor. Walaupun sudah berulang kali aku bertanya pada beberapa orang, dari anak SMU yang sedang menunggu datangnya bis Trans-Jogja, tukang ojek, tukang becak, sampai mbak-mbak berjilbab yang kebetulan berpapasan denganku, tapi aku tak kunjung merasa yakin dengan alamat yang diberikan Nadine padaku.

Oh tunggu. Aku berusaha memikirkan, apa sebenarnya yang membuat aku tidak yakin. Letak tempat yang disebutkan, atau… keberadaan dia di tempat itu?

Mungkin karena yang kedua.Akan sangat tidak lucu jika ternyata ia sudah tak ada di sana.

Kuhempaskan nafas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah sudahlah, kalau aku terus begini, mungkin sampai malam aku akan terus berdiri di luar.

Aku berjalan ragu-ragu masuk.

“Siang, Mbak…” sapa seorang pria tinggi kurus bertattoo.
“Eh, siang…”
“Ada yang bisa dibantu?” tanyanya ramah. Mungkin ia menyangka aku adalah calon klien tattoo parlor ini.
“Uhm… saya…” aku terdiam sejenak,”..nyari Dharma. Ada?”

Pria tersebut mengerutkan kening.”Dharma?”

Oh shit. Kalau pertanyaan selanjutnya adalah: ‘Dharma siapa?’, maka aku hanya bisa memamerkan cengiran terlebarku, karena…sumpah aku tidak tahu nama lengkap orang yang kucari ini. Kami terlalu sibuk mengobrol waktu itu — oh, berciuman juga…

Read the rest of this entry »

Mi, The Wandering Soul : Kenyataan Mungkin Menyakitkan, Tapi…

“Terima kasih karena telah terbang bersama kami. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.” Kata-kata lembut tersebut keluar dari bibir bergincu coklat muda mengkilat milik pramugari pesawat yang membawaku mencapai Surabaya.

Aku tersenyum.Kuhela nafas sebelum melangkahkan kaki keluar dari pintu kabin, sambil membopong carrier dan ransel laptopku.

Kulangkahkan kaki terburu, langsung menuju keluar bandara, tidak mengikuti gerombolan penumpang yang akan mengambil bagasi – karena barang bawaanku adalah yang kubawa.

Udara panas tak berangin Surabaya langsung menerpa kulitku. Tujuanku adalah Yogyakarta, di ponsel telah tertera sebuah alamat yang diberikan Nadine, tapi aku belum berhasil memutuskan apa yang akan kupergunakan untuk mencapai kota gudeg tersebut. Beberapa orang pria langsung menghampiriku. Menawarkan jasa transportasi.

“Travel Mbak, ke Malang?” Tanya salah seorang dari mereka.

Aku menggelengkan kepala. Kupicingkan mata, tampak sebuah bus DAMRI yang menuju terminal pasar Turi.

Apa aku naik bis saja ya?

“Travel Mbak? Ke Jogja? Langsung ke tempat tujuan.” Seru pria lainnya.

Hmm… mungkin ini lebih mudah. Aku telah memiliki alamat, tidak perlu memikirkan apa pun, tinggal duduk, dan (mungkin) tertidur, lalu sampailah tujuan.

Tapi….

Read the rest of this entry »

Mi The Wandering Soul : TRUTH HURTS?

Ini sudah bulan ke-lima aku tidak mengetahui keberadaannya. Namun bedanya dengan dulu, aku sama sekali tidak berusaha untuk mencarinya lagi. Sungguh, aku menikmati bayanganku sendiri tentang hubungan aku dan dia. Saking menikmatinya, aku sampai ketakutan untuk menghadapi kenyataan.Bukankah kenyataan itu tidak selalu sesuai dengan bayangan?

Semua itu membuat aku berusaha berkonsentrasi sepenuhnya pada pekerjaanku, Kucurahkan seluruh perhatianku pada semua murid-murid kelasku. Terkadang, keinginan dan rasa penasaran itu mengusik – tapi selalu, dengan sekuat tenaga kucoba untuk menghilangkannya.

Sampai satu saat, Nadine, sahabatku tiba-tiba memberi tahu bahwa ia akan mengunjungiku.

Dan di sinilah aku, di bandara Comoro, Dili, menjemput Nadine. Aku memicingkan mata mencari sosok sahabatku di antara para penumpang serta penjemput yang berada di mulut pintu keluar bandara. Pesawat yang ditumpangi Nadine sudah mendarat sekitar 30 menit yang lalu, tapi entah kenapa, sosok perempuan ceking itu belum tampak juga.

“Mi! Helloooo?”

Read the rest of this entry »

Mi, The Wandering Soul : Menikmati Bayangan *

“Saya percaya, jika saya menampung dan merawat musafir seperti Nona sekarang, suatu saat nanti, ketika saya menjadi musafir, atau mungkin anak saya, atau cucu saya, atau orang-orang yang saya kasihi menjadi musafir, maka akan ada orang lain yang menampung dan merawat mereka…”

Itu adalah kalimat panjang yang keluar dari bibir hitam kemerahan (kupikir ia terlalu banyak makan siring pinang dan harus masuk rumah sakit ketergantungan sirih pinang) milik seorang laki-laki tua, kepala salah satu desa yang terdapat di kaki gunung Ile Mandiri, Larantuka, bertahun-tahun yang lalu.

Aku tersentuh. Walaupun apa yang dia bilang adalah hukum tabur tuai yang sering disebut-sebut dalam kegiatan religi (siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan atau kurang lebih begitulah), tapi saat itu, aku sangat tersentuh. Kalimatnya kemudian masuk ke dalam otakku. Tanpa sadar, aku tidak pernah berkeberatan menampung dan merawat musafir yang kebetulan bersilangan jalan denganku.

Dan terbukti, apa yang kutabur, kutuai sekarang. Selama lebih dari enam bulan aku di jalan, dengan ajaibnya, setiap berada dalam kesulitan, selalu ada orang-orang yang menampung dan merawatku.

Kemarin, pria gempal berkulit tembaga yang hobi curhat itu telah menampungku. Sebelumnya, entah sudah berapa kali orang-orang yang tak kukenal membantuku.

Sekarang, Prima. Salah seorang sepupu jauh. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ia menelepon saat aku baru menyalakan handphone, satu jam setelah mendarat di Bali dan berpikir keras bagaimana cara tinggal di Bali dengan budget seminim mungkin.

Prima, seorang perempuan Solo, berwajah eksotis, berkulit kecoklatan, berambut panjang lurus dan hitam. Ia menikah dengan Jérémie Bellanger, seorang penulis dari Prancis dan tinggal di Ubud.

Sebuah ketidak sengajaan? Entah.

Dan, mereka memiliki sebuah café mungil dengan fasilitas wifi, tepat saat aku perlu menghubungi Nad, untuk memberikan informasi terakhir tentang next destinationku.

Ketidaksengajaan lagi?

Read the rest of this entry »

Mi, The Wandering Soul : Next Destination : You

“Gue pengen ke Togian. Nyepi. Siapa tau gue jadi lebih baik. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.” Cetusku, ini adalah tujuan ke lima yang berbeda, yang telah kusebutkan dalam tiga puluh menit ini.
“Yakin bakal lebih baik kalau lo pergi-pergi?” Tanya Pay, pria yang baru kutemui Jumat lalu dalam perjalanan.
“Ya nggak juga sih,”
“Tuh kan?”

Aku nyengir. Lalu kami terdiam.

“Mungkin elo selama ini hidup dalam fase denial, Mi. Elo selalu bilang elo baik-baik aja, padahal enggak.” Seru Pay beberapa jenak kemudian.

Aku hanya bersandar pada tembok kamar kostnya sambil bertanya-tanya, kenapa aku sampai kehilangan libido untuk traveling? Tumben. Padahal passionku adalah menjelajah. Pay meledek bahwa aku sedang frigid to travel. Ini gara-gara saat aku menyambangi pantai yang indah, air terjun, padang rumput yang keren, aku hanya bisa menghela nafas sambil berkata “Oh yeah, well. Terus?” – tidak ada rasa meledak-ledak dalam hati, seperti biasanya.

Sumpah aneh. Yang kuinginkan hanya tidur. Bermalas-malasan. Bahkan ada saat di mana aku menyesal terbangun.

Aku hanya mencibir. Denial apa? Aku tidak pernah memungkiri apa pun.

Read the rest of this entry »

Mi, The Wandering Soul : Dilarang Jatuh Cinta.

12. Tidak diperkenankan untuk memiliki hubungan (dan perasaan) yang bersifat personal dengan siapa pun selama masa satu tahun awal kontrak. Bagi yang sudah memiliki pasangan, diharuskan untuk setia pada pasangannya.

“Najis.”
“Ada apa?” Nadine, seorang perempuan berkebangsaan Jerman, mantan relawan tempat aku akan bekerja terlonjak. Ia menurunkan novel yang sedang dibacanya.
“This..” aku membalikkan lembaran kontrak yang harus kupelajari selama 24 jam dan menunjukkan bagian yang kalau disederhanakan berbunyi : dilarang jatuh cinta dan pacaran.
“Oh, itu.” Nadine yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini tersenyum simpul, ia merubah posisi tengkurap di atas tempat tidurnya menjadi posisi duduk.
“Aturan ini melanggar batas personal sekali ya? Saya nggak suka ini… “ Aku mendengus, lalu merebahkan diri di atas tempat tidurku.

Read the rest of this entry »

PBS [Post Break-up Syndrome)

“Jadi, sekarang kenapa lagi?” tanyaku setelah selama sepuluh menit duduk di hadapan Kenny yang berwajah kusut tanpa bersuara. Somehow, aku sudah bisa menduga apa yang terjadi dengannya.

“Gue baru putus dengan Bismo.” Cetusnya perlahan.

Bukan hal yang aneh. Putus dengan pacar adalah cerita yang sangat sering kudengar dari bibir Kenny, sahabatku, sekaligus mantan pacarku.

“Yang mutusin siapa?” tanyaku, lagi-lagi, sebenarnya aku sudah bisa menduga.
“Gue.”

Dan dugaanku pun tepat.

“Kenapa lagi yang sekarang?”
“Musingin..” Kenny menjawab singkat sambil mengangkat bahu. Lalu ia mengambil laptop putih mutiara dari ransel, meletakkannya di atas meja, lalu menghidupkannya.
“Kebiasaan deh lo, kalo ada masalah dikit, pusing dikit, ribet dikit udahan. Nggak pake usaha buat ngertiin, diskusi atau kompromi dulu..” cetusku.
“Sutralah, Cal. Nggak usah bawel. Lo kayak nyokap gue deh, kalo ngomong kayak gitu.” Kenny mencibir.
“Okay. Sorry. Lah, terus – harusnya sekarang lo lega dong, lepas dari cowok yang musingin.”
“Nggak tau, gue tiba-tiba ngerasa kesepian dan sendiri aja. Geblek deh, kemarin-kemarin gue tuh selalu ngerasa kesiksa kalo denger hp gue bunyi, karena pasti itu dari Bismo yang marah-marah karena jealous nggak jelas, tapi sekarang, setelah telepon nggak pernah bunyi lagi – gue ngerasa kehilangan.” Kata Kenny, pandangannya tertuju pada layar monitor laptopnya.

Aku tersenyum-senyum geli sendiri.

“Cengar-cengir aja..” Kenny berseru ketus.
“Emang kapan sih lo putusnya?” tanyaku
“Dua minggu yang lalu.”
“Halah! Baru dua minggu!”
“Udah dua minggu! Bukan baru dua minggu…” Perempuan bertubuh mungil ini memajukan badan sehingga dadanya menyentuh tepian meja. Mata bulatnya semakin membola.

Aku semakin terkekeh geli.

Read the rest of this entry »