Lagu Favorit Saya : Timor Lorosae

Rai timor Loro Sae
Rai ida Be Hau Moris
Hau Hadomi Deit O Mesak Doben
Rai Timor Loro Sae
Rai Ulun to a Rai Ikun
Tasi Feto to O Tasi Mane
Husi Loro Sae Loran Monu Mesak
Oan Timor Loro Sae

Tanah Timor Lorosae
Tanah tempat lahirku
Saya hanya mencintaimu
Tanah Timor Lorosae
Dari ujung timur sampai ujung barat
Laut tenang dan laut ganas
Dari Lorosae sampai Loromonu
Semua anak timor lorosae

Timor Oan tomak Lemorai
Hela iha Rai Seluk-seluk
Rona Lai Ami Hananu Hodi
Solok Imi Hotu Lae
Rai Ulun to a Rai Ikun
Tasi Feto to O Tasi Mane
Husi Loro Sae Loran Monu Mesak
Oan Timor Loro Sae

Semua anak Timor mengembara
Tinggal di tanah yang berbeda-beda
Dengarkan dulu nyanyian kami
Untuk menyenangkan kalian semua
Dari ujung timur sampai ujung barat
Laut tenang dan laut ganas
Dari Lorosae sampai Loromonu
Semua anak timor lorosae

Yah, sejak saya dengar lagu ini tahun 2001, saya langsung suka. Walaupun sekarang sudah banyak lagu-lagu Tetun yang saya dengar, lagu ini tetap ada dalam daftar lagu favorit :)

Continue reading

Kalau saja saya menjadi seorang Ayah.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri yang berumur 7 tahun dan sangat bolot dalam bidang hitung-hitungan, mungkin saya akan frustasi dan putus asa ketika putri saya nggak ngerti-ngerti juga bahwa ¾ ditambah 1/3 bukanlah 4/7.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri yang berumur sebelas tahun dan sangat menggilai novel asrama Enid Blyton, mungkin saya akan kecewa ketika mendapati sang putri, alih-alih menyambut kepulangan saya dari luar kota, malah sibuk membongkar tas plastik toko buku yang saya bawa.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri berumur lima belas tahun, masih bloon tapi ingin sekolah di kota, jauh dari orang tua, pasti saya akan merasa sangat khawatir dan tidak akan melepaskannya.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri yang berumur tujuh belas tahun, baru lulus SMU, mengikuti UMPTN dengan tidak niat : tidak belajar dan tidur selama ujian, pastilah saya akan kecewa karena putri saya membuang-buang uang untuk membeli formulir pendaftaran – dan menyia-nyiakan kesempatan masuk jurusan teknik arsitektur, teknik lingkungan atau psikologi di universitas-universitas negeri kondyang nusantara (sementara di luaran sana, banyak yang ingin!)

Continue reading

Starbuks®?

Lupakan gets, tapi kok bisa mas-mas atau mbak-mbak yang bekerja di Starbucks® salah menulis nama tempat mereka bekerja ya?

Starbuks®?

Atau saya salah baca?

Ya, foto bukan diambil di Dilli, tapi saya sedang di kota kelahiran saya, merayakan natal dan tahun baru bersama keluarga tercinta.

Selamat Natal (yang terlambat) & Tahun Baru. Sampai bertemu tahun depan, semoga bukan dalam cerita-cerita chaos-mode. :D

Keterangan :
Foto diambil saat ngopi bergaya di Starbucks® Ciwalk Bandung, bersama Jenny yang ‘mendadak-ke-Bandung’.

Komunikasikan di blog Tembok!

Saya pernah berpikir bahwa untuk dapat hidup dengan aman, tentram dan damai dengan lingkungan sosial, maka saya harus menghindari segala bentuk hal yang bisa menimbulkan friksi atau konflik, termasuk mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan yang [sekiranya] bertentangan dengan pikiran dan perasaan orang lain.

Setiap ada sesuatu yang mengganjal, saya selalu bilang dalam hati,”Ya sudahlah, orangnya emang gitu..”. Paling banter misuh-misuh dalam hati.

Tapi pada akhirnya, saya meledak. Padahal itu nggak perlu, jika dari awal saya hancur-hancuran mengkomunikasikan pikiran dan perasaan saya.

Oh ya, di Becusse Centro, tempat tinggal kami, sempat terjadi kasus konflik yang lumayan bikin shocked juga, antara kami dengan joventude[pemuda] lokal; rusuh blas. Seperti tawuran. Kami nggak ngerti apa alasan mereka melakukan violensia [kekerasan] macam itu.

Masalah beres ketika pada akhirnya kami melakukan dialog dua pihak. Mereka marah karena mereka berpikiran buruk tentang kami; ini nggak lain karena mereka nggak mengerti secara sepenuhnya tentang program yang kami jalankan.

Pada intinya, mengkomunikasikan sesuatu itu wajib hukumnya.

Untung ada dialog!

Kalau nggak, dari mana kami bisa tahu alasan joventude lokal marah pada kami; dan bagaimana juga para joventude tersebut tahu maksud program kami? ;-). Yah memang agak tolol juga sih, baru berkomunikasi setelah rusuh, tapi dari pada enggak sama sekali, kan?

Setidaknya kami belajar sesuatu.

Nah, kalau misalnya yang diajak komunikasi tidak mau mendengar?

Continue reading