Archive for the cerita visual Category

PWCP* : Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H.Djuanda

Yak,  posting PWCP* (Playing With Cameraphone Project) lagi. Tau nggak sih, salah satu tempat favorit saya adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Kenapa? Karena banyak pohon! :D Kerasa banget lah, gimana kalau di Tahura saya bisa bernapas dengan baik dan benar kalau dibanding pas saya jalan-jalan di let’s say Jalan Merdeka. Atau di dalam mall.

Cuma biaya masuknya rada mahal sih, buat saya. Rp. 8000,- /orang untuk WNI, sedangkan WNA Rp.50.000-an kalau nggak salah. Mobil juga dihitung : Rp.10.000/mobil.

Secara administrasi pemerintahan letaknya antara Kecamatan Cicadas dan kecamatan Lembang. Kalau niat, bisa tuh jalan terus sampai ke Maribaya, Lembang. Dulu waktu zaman muda sih pernah tuh, bablas sampai sana, tapi semakin ke sini kok ya mentok di tengah-tengah, terus pengin balik, pulang karena capek. *mm, sebenernya agak ga jelas sih, antara capek, atau males :D*

Beberapa website menyebutkan bahwa objek menarik di Tahura itu adalah tugu, dan gua-gua peninggalan Jepang dan Belanda, tapi percayalah, tugu ya tugu. Gua ya gua. Biasa aja, nggak ada istimewanya.

Ya buat saya, yang bikin betah di sini adalah suasana ‘pura-pura’ hutannya. :) Satu keluhan aja sih, lumayan banyak sampah bungkus penganan ber-MSG di sana. Tsk. Pada nggak pernah diajarin cara buang sampah yang bener, kali ya?

Oh berhubung kali ini jalannya ke hutan, maka kebanyakan yang kefoto adalah… pohon. :D Buat yang nanya saya pakai handphone apa, cuma Nokia E71 saja kok. :)

Pohon *caption yang ga penting, sungguh*

Pohon *caption yang ga penting, sungguh*

Kaki monster! Kaki Dinosaurus! Enggak ding, ini akar pohon.

Kaki monster! Kaki Dinosaurus! Enggak ding, ini akar pohon.

Pohon lagi *caption yang masih ga penting* :))

Pohon lagi *caption yang masih ga penting* :))

Pohon dong! *caption ya masih ga.. ah sudahlah*

Pohon dong! *caption ya masih ga.. ah sudahlah*

sampah yang (sengaja) ketinggalan di salah satu meja.

sampah yang (sengaja) ketinggalan di salah satu meja.

…..Kumaha Aing!

Mobil Aink, Kumaha Aink (Mobil Gue, Gimana/Terserah Gue!)

Mobil Aink, Kumaha Aink (Mobil Gue, Gimana/Terserah Gue!)

Mari berandai-andai, seandainya di koran ada pengumuman lowongan pekerjaan menjadi supir angkot, gimana ya bunyinya?

Dicari : supir angkot. Umur tidak masalah. Memiliki SIM-lah pokoknya. Persyaratan tambahan : berani berhenti di mana pun -termasuk tengah jalan, atau tepat di bawah tanda ‘belok kiri boleh langsung - demi penumpang dan tahan dipisuhi pengendara lain’

Iya, minggu lalu, sepulang dari kantor, (lagi-lagi) saya tertahan oleh sebuah angkot yang dengan lempengnya berhenti tepat di bawah tanda ‘belok kiri boleh langsung’. Nyaris saja saya mengklakson bertubi-tubi, tapi tulisan di stiker yang ada di jendela belakang angkot tersebut membatalkannya.

‘Mobil aink, kumaha aink (Mobil gue, ya gimana/terserah gue).

Ih, itu berasa diledek deh. Dalam imajinasi saya, sang supir angkot berkata, ‘Loh? ya biar aja dong saya menghentikan mobil di mana aja saya mau, kan mobil, mobil saya?’

Dan saya pun merespon imajinasi saya sendiri :  emang itu mobil elu, mau diapa-apain yang terserah elu. Tapi kan elu ada di jalan raya, dan jalan raya itu bukan punya elu.

Ya iyalaah, semua orang juga tau kali, ketika kita melakukan segala sesuatu yang hanya berurusan dengan diri kita, tentu saja kita bisa bersikap ‘kumaha aing! (terserah gue!)’, tapi ketika bersilangan dengan orang banyak dan melakukan hal-hal yang melibatkan orang banyak, ya jelas nggak bisa lah! Memangnya dunia milik kita (yang laing ngekost)? :)

Eh, iya sih, pemikiran saya tentang stiker tersebut hanya berdasarkan imajinasi belaka. Sekali lagi, imajinasi. Belum tentu stiker tersebut memang sengaja ditempel sebagai pembenaran sikap semena-mena sang supir. Siapa tahu itu sekedar hiasan belaka, seperti stiker-stiker 1/3dis, atau ber217an. :)

Eh jadi ingat, tahun lalu  saya pernah baca twitter bio-nya orang deh, bunyinya : tweet aing, kumaha aing. Tapi saya nggak ingat siapa, dari tadi saya cari-cari, nggak ketemu. :D

PWCP* : Seputar Gedung Sate.

Sungguh, saya nggak ngerti, maunya apa sih motret miring-miring :D

Sungguh, saya nggak ngerti, maunya apa sih motret miring-miring :D

Begitu sampai... sudah tutup. *sigh*

Begitu sampai... sudah tutup. *sigh*

Dia, di ujung gang. Ihiw. :D

Dia, di ujung gang. Dalam pencarian sebuah tempat. :D

mana, manaaa kotaknya?

mana, manaaa kotaknya?

*PWCP = Playing With Camera Phone. Project (sok) motret dengan kamera dari handphone . Yuk?

update:

Buat yang nanya-nanya (mulu), saya pakai kamera handphone Nokia E71, katanya sih lens type-nya CMOS, 3.2 Megapixel, dan oh tentu saja mengalami pengeditan melalui photoshop, mengubah   level dan curve sikit wajar lah ya. :D

Kencan Nonton? Nggak Ada Yang Lain?

Suka heyran deh sama orang yang kencannya ke mall melulu; dan ketebak banget lah di mall ngapain; jalan-jalan, nonton dan dinner. Nggak bosan apa?

Er, komentarnya rese banget yak? Nggak deng, nggak apa-apa mau kencan mall juga. Becandaaa…

Anyway, ya saya dan partner memang bukan penggemar kencan mall, lebih suka jalan-jalan (kaki!) dan ngobrol , sebisa mungkin menjauhi daerah pergaulan *jiye pergaulan* yang terlalu ramai. Dan di satu hari pada minggu lalu, saya dan partner berkencan… mengunjungi almamater! *kriiik*

Ya iseng aja sih.

Biasanya saya selalu membawa kamera saya, tapi berhubung kamera setia saya suka rada-rada nyebelin, kencan kemarin saya tinggal di rumah. Nah, tapi beberapa kali kok ya saya gatal pengin motret. Akhirnya saya memanfaatkan kamera di handphone saya.

Dan mendadak kepikir, saya pengin bikin kategori ‘Bermain dengan camera phone‘ ah, di blog ini. Oh, ini memang terinspirasi dengan facebook groups yang namanya ‘pocketgrapher‘. Hm, walaupun konsistensi pemutakhiran entri untuk kategori ini masih bisa diragukan, tapi nggak apa-apa deh, bikin aja dulu. :)

Oh, ya hasil diedit-edit sikit lah pakai photoshop, main-main curve dan level wajar bukaaan?

Bukan.

12032011014

neng, bangga bener jadi alumni desain

Salah Satu Karya Ibu Rita Widagdo

Salah Satu Karya Ibu Rita Widagdo

Oh Aula Timur, Oh Aula Barat

Oh Aula Timur, Oh Aula Barat. Er, bentar, ini beneran aula timur dan barat kan? *amnesia*

Sok artistik. :))

Sok artistik. :))

Okay, mari masuk ke foto-foto komentar rese.

Read the rest of this entry »

Apakah Harus Menunggu Hari Istimewa….

..untuk menyatakan perasaan kamu pada si dia?

*alah si diaaa boook, majalah 80-an banget. :)

thankyou
:)

Oleh-oleh dari TPS

Anak-anak itu memang alaminya selalu ingin tahu. Di mana ada keramaian, pasti selalu ada anak-anak. Juga di TPS dekat rumah saya. Kepala-kepala anak kecil bermunculan dari kain merah putih yang membatasi ruang pemilihan. Wajah-wajah lucu itu tampak penasaran. Dan saya cuma bisa cengar-cengir ketika mendengar suara cempreng khas kanak-kanak milik salah satu dari mereka berkomentar :

Naon ah, teu rame. Ulin deui yuk!’ (terjemahan : Apaan ah, nggak rame. Main lagi yuk!’)

Mengintip

Read the rest of this entry »

Kan Gue Susi?

Oleh-oleh Dari sebuah warnet, di Bandung

Oleh-oleh Dari sebuah warnet, di Bandung

Iya, saya tahu, cuma perkara salah nulis doang. Dulu saya juga sering bikin puyeng editor, karena suka salah-salah tulis. Sekarang sih, berkurang — walaupun nggak bebas kesalahan juga.

Tapi begitu baca pengumuman ini, di sebuah warnet di Bandung (hai, Kang Iwan! Punten yah.. hihi, matakna. Koreksi ateuh…), yang ada dalam benak saya, ya percakapan ini :

Adan : Gue mau pake camera ah..

Susi : Berarti lo kudu ngomong sama operatornya.

Adan : Lo pake camera ga?

Susi : Pake.

Adan : Nggak ngomong dulu sama operatornya?

Susi : Nggak, kan gue Susi. Jadi kalau pake camera nggak usah bilang-bilang jadinya.

Peraturan Dibuat Memang Untuk Dilanggar, Tapi…

Katanya, sih.

Ada sensasi tertentu rasanya, ketika kita melakukan perbuatan asusila yang melanggar peraturan.Adrenaline serasa dipacu. Hidup menjadi lebih hidup. Seru. Lalu, ketika berhasil melakukan itu, terlintas pikiran,”Wah, gue pemberontak keren!”

Tapi ya bo, biasanya, orang kalau melanggar mah diem-diem, ngumpet-ngumpet. Ya nggak sih?


Klik ini
untuk melihat lebih jelas.

Read the rest of this entry »

Santun-Net


Si saya ini terpesona begitu masuk ke salah satu warnet di Bandung sewaktu bulan ramadhan kemarin. Di meja operator tertulis :

DILARANG BERISIK DAN BERKATA KASAR DALAM RUANGAN (mengganggu yang lain). UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MEMBUKA SITUS DEWASA, SANKSI DENDA 50.000, APABILA KETAHUAN MEMBUKA SITUS DEWASA.

Nggak kok, namanya warnetnya bukan Santun-net

Read the rest of this entry »