Agamamu, Gadgetmu.

….agama adalah hal yang dapat mengatur perilaku seseorang, dan jika melihat kecenderungannya gadget pun bisa mengendalikan perilaku seseorang

Di suatu hari yang iseng, saya menemukan sebuah artikel bertajuk 10 alasan Jangan Beli iPhone 4 di Tempo Interaktif. Dalan artikel tersebut dijabarkan tentang kekurangan-kekurangan dari iPhone 4. Ya, saya sih nggak ngerti ya, jangankan iPhone 4, membaca saja aku sulit. *Alah*. Tapi yang mencuri perhatian saya adalah beberapa komentar untuk artikel tersebut; Mereka ngomel-ngomel aja gitu. Kalau dilihat-lihat sih (sepertinya) para komentator yang ngomel adalah pengguna iPhone 4.

Melihat hal tersebut, saya mendadak teringat pertanyaan seorang rekan kerja : ‘Agamamu apa?’. Pertanyaan tak berujung pangkal tersebut dilontarkan sesaat sebelum kami masuk ke kelas untuk mengajar. Yang ada saya bingung, alih-alih menjawab saya bertanya kembali : ‘Memangnya kenapa?’

Namun beliau tidak menjelaskan, dan tetap berkeras dengan pertanyaannya : Agamamu apa?

Ya sudah saya jawab saja, tapi tetap, diakhir kalimat saya tambahkan ‘Memangnya kenapa?’

‘Oh, kamu yakin agamamu itu? Agamamu bukannya Nokia?’

Ia mengatakan bahwa agama adalah hal yang dapat mengatur perilaku seseorang, dan jika melihat kecenderungannya gadget pun bisa mengendalikan perilaku seseorang. Ia menyindir bahwa perilaku saya sedikit berubah dari dulu; sekarang saya cukup sering terlihat sibuk dengan handphone saya padahal dulu saya termasuk orang yang cuek banget kalau soal handphone, ketinggalan saja nggak peduli (malah bersyukur, jadi nggak keganggu telepon).

Ya, saya cuma nyengir saja. Sebenarnya sih pengin protes, lah wong itu bukan karena gadget kok, tapi karena twitter. (eh?).

Continue reading

Batik Untuk Perut

Tapi, secara sederhananya, kalau peminat kurang, pemasukan kurang, masalah perut terancam. Bukankah perut itu penting, Jendral? :)

“Iya,Mbak, sekarang sih batik banyak yang nyari, terutama sama mereka yang ngantor. Soalnya kan jadi ada hari wajib pake batik.” itu kalimat yang keluar dari salah seorang supplier kain batik, tempat saya biasa memesan untuk the wardrobe project (iya, ini ikcol, alias iklan colongan).

“Kalau dulu?” tanya saya.

“Paling cuma ibu-ibu aja, Mbak.” Katanya sambil nyengir.

Saya balas nyengir, ya memang benar sepuluh tahun (atau mungkin lebih) yang lalu, sepertinya hanya dengan mendengar kata ‘batik’ saja, pasti akan muncul komentar,’Batik? Mo kondangan?’ atau ‘Ih pake batik, kayak nenek-nenek!’. :)

Yup, di masa itu batik tampaknya kurang diminati, dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Ketika mendengar kata batik, maka yang muncul dalam pikiran adalah sesuatu yang nggak trendy. Nggak funky.

Beberapa tahun yang lalu, salah seorang mahasiswa saya pernah mengangkat permasalahan tidak berkembangnya kerajinan Batik Paoman (Dermayon) di Indramayu, daerah kelahirannya, sebagai topik tugas akhirnya. Dalam salah satu sesi pra-sidang ia mengatakan bahwa pengrajin batik di daerahnya kebanyakan berhenti membatik dan beramai-ramai menjadi TKW di negara tetangga atau negara-negara timur tengah. Akibatnya banyak usaha batik kecil gulung tikar, karena tenaga kerjanya — daripada membatik — lebih memilih untuk menjadi pahlawan devisa negara.

Saya sama sekali nggak merasa heran mendengar cerita itu, karena memang ada masa di mana kasus serupa terjadi di beberapa sentra kerajinan batik. Kalau nggak salah ingat ya sewaktu zaman saya masih mahasiswa lah. Perusahaan-perusahaan tersebut sampai menjual murah peralatan membatiknya. Seharusnya saya prihatin, tapi dulu sih, saya justru merasa senang bisa membeli alat cap dan canting dengan harga murah demi keperluan kuliah. Dasar mahasiswa murahan, senangnya yang murah-murah. *toyor jidat* :))

Continue reading

BEBAS BICARA, BEBAS MANGAP

Setiap manusia itu bukanlah pusat jagad raya, ia tidak hidup cuma sendiri, ia hidup bersama individu-individu lain, kelompok-kelompok lain yang satu sama lain saling bersilangan.

Kadang-kadang saya suka iseng (Deeu, kadang-kadang?). Jadi ceritanya, di satu hari saya iseng melihat akun Facebook salah satu orang yang ada di friendlist saya; dan perhatian saya tersedot pada sejumlah kalimat yang ada di wall-nya.

“Salah sendiri, suka iseng sich! Emank enak?”.

Laper nich, makan apa ya enaknya?”

“Ati-ati donk kalo ngomonk!“.

Saya tersenyum-senyum sendiri, kalau ngikutin preferensi pribadi, cara menulis ‘sich’, ‘nich’, ‘donk’ dan ‘ngomonk’ itu rada nggak enak aja. Buat saya, yang enak ya ‘sih’, ‘nih’, ‘dong’ dan ‘ngomong’.

Ya memank — eh maksud saya : memang — suka-suka yang nulis, juga sih. Tapi penemuan saya di wall FB orang tersebut membuat saya gatal ingin berkomentar di twitter.

Tweet Iseng Itu

Nggak ada maksud apa-apa, cuma sekedar iseng saja. Eh nggak berapa lama kemudian, ada sebuah balasan:

respon tweet iseng itu

(Yak, nama dan avatar disamarkan, untuk menghindari hil-hil yang tidak diinginkan). Entah kenapa, mendapat respon seperti itu, bukannya berhenti, saya malah membalas. Lagian salah sendiri serius amat tanggapannya, pakai bawa-bawa freedom of speech segala. Saya jadi gatel kan, pengen ngeledek? :D

Keisengan pun berlanjut

Buntutnya apa coba? Yup, ketebak. Dimaki. Makasih loh atas perhatiannya. :))

Jah, dimarahin :))

Ih, aneh amat sih, dia ngomong soal freedom of speech, lah masa saya nggak dibolehin ngomong? Nggak adil! *halah* Tapi ya sutralah, mungkin dia lagi PMS saat itu. Eh bentar, seingat saya dia cowok. Er, mungkin kehidupannya lagi sulit. :D

Cuma hari itu,  saya jadi berpikir, apakah memaki-maki orang, kenal juga nggak, termasuk bagian dari ‘Freedom of speech‘?

Semakin sering kita berhadapan dengan internet, semakin sering juga kita terpapar berita-berita dan informasi dari segala pihak. Dari  sekian banyak berita terkini yang ada, yang mencuri perhatian saya adalah pemberitaan tentang Terry Jones dan kasus konflik mengenai rumah ibadah yang dialami oleh jemaat HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Ciketing, Bekasi.

Ya, mungkin semua juga sudah tahu apa yang sedang terjadi. Terry Jones adalah salah satu pendeta gila, pemimpin sebuah gereja kecil di Florida yang dengan sintingnya menghimbau sejuta umat untuk melakukan pembakaran Al Quran pada tanggal 11 September 2010 sebagai hari peringatan serangan teror 9/11. Sedangkan yang satu adalah kasus perizinan pembangunan rumah ibadah/gereja yang dialami oleh jemaat HKBP Ciketing Bekasi yang pada ujungnya membuahkan kekerasan.

Continue reading

PENANTIAN JODOH dan LOVE STORY

Suatu hari di tahun 2006 atau 2007, mendadak Melanie. salah seorang (mantan) mahasiswa saya menghampiri saya.Ia bilang, ia dan SARAF (Satuan Rakyat Film) ITHB sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yg bersifat underground*tsah*— membutuhkan satu cerita untuk dijadikan film. Waktu itu saya sempat menyerahkan sekitar 5 – 10 cerita pendek; namun yang dipilih oleh mereka adalah yang berjudul Penantian Jodoh,sebuah cerita pendek yang saya buat di jaman saya kuliah berbelas-belas tahun yang lalu (atau sekitar itulah, lupa, saking lamanya). Saya sempat melihat proses mereka syuting yang membuat kerusuhan di sebuah toko sepatu di mall bernuansa pedestrian di Bandung,berinisial C.I.W.A.L.K.(heu,inisial kok lengkap. :D)

Sebelum saya sempat melihat hasil ‘jadi’nya, saya keburu terserang kegilaan, bosan kerja dan pengen jalan-jalan dalam jangka waktu panjang.Jadi asli, itu film jadinya tahun 2007, saya baru liat beneran awal 2009. *boleh loh kalau mau mencaci maki.hihi*

Cuma selama saya di jalan, saya dua kali dapat kabar dari mereka,via e-mail bahwa film tersebut pernah ditayangkan di sebuah stasiun TV lokal Bandung dalam acara ‘Take Three’ dan nggak berapa lama kemudian, mereka mengikut sertakannya dalam sebuah festival film: Mankom Movie Award yang diadakan oleh Jurusan Manajemen Komunikasi Unisba (lokal lagi).

Katanya sih, berhasil meraih 5 penghargaan :
1. Pemeran Pembantu Terbaik (Fatima Adila)
2. Editing Terbaik (Deo, Hizkia, Sid, Tajir)
3. Ide Cerita Terbaik (Okke “Sepatu Merah)
4. Sutradara Terbaik (Hizkia)
5. Film Terbaik (produsernya SicSid)

Ini dia filmnya.

Eh tau-tau,beberapa malam yang lalu, salah seorang mantan mahasiswa menelepon, menceritakan sambil meminta maaf, karena ternyata ada seorang Nanang Putra, mahasiswa yang bersekolah di Academy of Art University di San Francisco yang tertarik untuk membuat ulang film ini, kredit diberikan pada yang terlibat di versi awalnya. (Sebenernya itu kan jadi nggak masalah, Yang gue kagak ngerti, kenapa kudu minta maaf,Mil? :D)

Anyway, ini versi ‘remake’ nya.

Jadi, jadi, coba bandingkan. Pegimana menurut anda?

Dan..jadi,jadi… kapan SARAF bangkit kembali? *dumdidum*

@AnjingGombal: Menggombal dan Berbagi

..Dari orang asing dengan gelombang menggombal yang sama di dunia maya, menjadi sahabat di dunia nyata. Isn’t it awesome? :)

( Saya emang niat banget untuk bikin tulisan khusus tentang ini kalau bukunya terbit sekaligus bayar hutang karena pernah janji dengan Rahne Putri untuk membuat tulisan tentang AnjingGombal. :D )

Berhubung selama dua minggu-an kemarin saya sedikit tidak produktweet alias kurang produktif nge-tweet dan memerhatikan timeline, saya baru tahu hari ini bahwa ‘Aku Padamu :   Karena Cinta Dapat Ditemukan Dalam Kata ‘ sudah terbit. (Ya,ya, cacimakilah saya.) :P

Buat yang nggak ngeh buku apaan ‘Aku Padamu’ ini, ya ini adalah buku kompilasi gombalan-gombalan yang diambil dari akun twitter @anjinggombal.

Agak lucu juga melihat pada akhirnya tweet-tweet AnjingGombal pada akhirnya serius dibukukan. (Thanks Bukune atas kesempatannya). Semua ini berkat kerelaan @rahneputri, @jonathanend, @NisanKubur, @exotrisc bersibuk-sibuk mengurusi masalah penerbitan buku kompilasi gombalan ini.

Padahal pada awalnya, anjinggombal hanyalah sebuah hashtag yang berisi keisengan belaka.

Anyway, jadi buat yang dari tadi berkerut kening dan bertanya-tanya Anjinggombal apaan sih, sini-sini, tante ceritain.

Pernah denger tipe-tipe gombalan macam ini nggak?

Kamu dulu pasti kuliahnya jurusan desain interior deh, abis begitu kamu masuk, ruangan jadi indah gini.

..atau

“Aku nggak suka aktivitas kerajinan tangan, tapi khusus buatmu, aku mau loh,belajar merajut. Merajut masa depan bersama”

…atau

Excuse me! | Yes? | You dropped something! | What? | My jaw.

Pernah dong ya pasti?

Nah ceritanya, suatu hari di bulan Oktober 2009, mendadak keisengan saya kumat. Entah kenapa waktu itu mendadak saya ‘gatel’ ingin  membagi gombalan-gombalan najis tralala ini di twitter. Sepertinya pepatah ‘people with the same wavelength will find one another‘ itu berlaku untuk keisengan tweet gombalan ini, karena mendadak ada dua orang yang responsif, langsung men-tweet gombalan versi masing-masing : @rahneputri dan @sugahpuff.

Selama sekitar dua minggu-an terjadilah saling sahut menyahut kegombalan. Di minggu ke-dua, gombalan mulai surut, menggombal via tweet mulai terlupa. Cuma, taunya, entah bagaimana caranya, di bulan Januari 2010, lah kok aktivitas gombal-menggombal via tweet mulai lagi? Kali ini yang ikutan menggombal semakin banyak. Tau dong ya, the more the merrier, kadang-kadang pakai janjian kalau mau menggombal.

Di tengah-tengah sahut-sahutan gombal mendadak muncul ide untuk membuat kompilasi dalam bentuk PDF dan website yang dilaunching tepat pada Valentine’s Day 2010 (Niat!).

Berkat @miund dan @deelestari yang mendadak tergoda ikutan menggombal, jadi aja, banyak orang yang ikutan mentweet dengan hashtag #anjinggombal, dan kalau dipikir-pikir sayang juga kalau tidak dikumpulkan,akhirnya dibuatlah satu akun twitter dengan nama @anjinggombal, plus fanpage di Facebook (gaya!).

Oh kalau ada yang nanya kenapa namanya anjinggombal? Ya, gimana sih reaksi Anda kalau mendengar gombalan corny, najis tralala, kalau bukan ‘Anjing,gombal banget seh!’.

….

Sebenarnya gombal-menggombal bukanlah hal yang baru. Aduh, dari jaman delapan puluhan udah ada kali. :)

Bukan gombalan-nya, tapi semua yang terjadi di balik  @anjinggombal inilah yang istimewa. Saya juga baru ngeh belakangan (baik, cacimakilah saya lagi!).

Berdasarkan pengamatan saya (tsah!), awalnya para penyetor gombalan saling tidak mengenal, lalu kemudian mereka mulai mengadakan gathering beberapa kali; sampai kemudian saya membaca entry demi entry di tumblr-nya @exotrisc  yang diberi tag anjinggombal. Mereka bersahabat. Bersahabat baik.

Dari orang asing dengan gelombang menggombal yang sama di dunia maya, menjadi sahabat di dunia nyata.  Isn’t it awesome? :) Somehow saya merasa, anjinggombal ini adalah keisengan yang membawa kebahagiaan dan berujung pada persahabatan. :)

Ini yang membuat adanya penolakan terhadap ide beberapa orang untuk mengkomersilkan ‘AnjingGombal’ menjadi sebuah buku. Apa yang tadinya untuk senang-senang,ketika dikomersilkan tentu akan kehilangan kesenangannya.

Cuma pemikiran berubah karena mendadak muncul ide, jika anjinggombal dibukukan, royaltinya kan bisa didonasikan untuk orang-orang yang membutuhkan. Well, sebuah ide yang bagus, kalau awalnya anjinggombal adalah keisengan yang membawa kebahagiaan dan berujung pada persahabatan bagi sebagian kecil orang, kenapa nggak berbagi kebahagiaan pada orang lain?

Yup, royalti dari penjualan AnjingGombal The Book, Aku Padamu : Karena Cinta Dapat Ditemukan Pada Kata’ sepenuhnya disumbangkan kepada yayasan Tunas Cendekia (bisa dilihat di sini).

Terima kasih buat para penggombal yang rela gombalannya dimasukkan ke dalam buku kompilasi ini. Semoga anjinggombal bisa membawa kebahagiaan bagi mereka di luar sana.

Dan sebagai penutup entri ini : BELI DONG AH!

Penampakan Buku 'Aku Padamu' (foto nyolong dari FBnya Rahne Putri)

(Dear Rahne, utang lunas! :D)

Mati Saja, Wahai Penulis!

…cara mempersepsi seseorang terhadap sesuatu itu rumit, tidak mungkin kita mengendalikan masing-masing individu agar persepsinya seragam dan sesuai dengan yang kita mau. Bisa sih, dicoba, kalau mau frustasi sih.

Pernah ngalamin sudah berbaring manis dan bersiap-siap tidur sambil twitteran memakai handphone, eh mendadak menemukan tautan yang menarik di timeline anda, ketika Anda klik, ternyata tautan itu memang beneran menarik dan  membuat Anda merasa wajib untuk bangun, ngidupin komputer, supaya lebih puas browsing?

Saya pernah.

Eh.. sering,ding. :)

Salah satunya adalah dua malam yang lalu. Mendadak tweet beberapa orang di timeline saya menggunakan hashtag yang sama. Salah satu dari tweet-tweet tersebut memuat tautan ke halaman goodreads; yang berisi review sebuah novel terbitan Gramedia Pustaka Utama plus diskusi seru tentang novel tersebut. Boleh dikatakan bahwa reviewnya agak nyilet,ya.  Yang menarik dari review itu adalah terlibatnya sang penulis dalam  diskusi tersebut. Terlihat jelas bahwa sang penulis berusaha (keras) untuk menjelaskan tentang (jalan cerita) novelnya dan terkesan sangat defensif, bahkan ujung-ujungnya agak ofensif. (eh nulisnya bener ga sih?)

Kasus seperti ini jarang saya temui — atau mungkin saya saja yang kuper. Selama ini yang sering saya lihat adalah, mau reviewnya negatif maupun positif, nyilet maupun muji, penulis sama sekali tidak terlihat batang hidungnya dalam review novelnya, atau muncul hanya untuk mengucapkan terima kasih, atau berkomentar seperlunya. Tidak pernah sampai dengan niatnya membela mati-matian novelnya.

Ada dua hal yang terpikir ketika memerhatikan kasus ini. Pertama, bisakah kita membuat SEMUA orang menyukai (karya) kita? Well, boleh saja usaha, kalau rela jadi gila sih. Karena setiap individu itu memiliki ragam latar belakang dan pengalaman, yang membentuk cara ia mempersepsikan segala sesuatu. Ada contoh yang sangat sederhana yang pernah saya ajukan dalam mata kuliah Psikologi Persepsi yang saya dan kawan saya ampu, waktu itu saya dan kawan saya membuat daftar benda-benda yang mudah ditemui di sekitar kita dan mahasiswa kami suruh untuk menuliskan apa pun yang terlintas saat benda-benda tersebut disebut.

Continue reading

Beda kok, Takut?

…sejak kecil manusia telah dibiasakan untuk homogen.  Berperilaku seragam. Memiliki pola pikir seragam. Coba deh, kalau ada individu yang berani melenceng dari keseragaman itu, pasti dicap ‘aneh’ dan dicemooh.

Oke, mari kita membincangkan tentang rambut. Oh, bukan tentu bukan tentang rambut saya yang salah potong dan membuat saya diledek ‘Hello,Joan Jett!’ oleh sejuta umat. (Nggak tau Joan Jett? Googling!). Tapi tentang eksperimen saya di bulan Februari lalu.

Jadi suatu hari saya menemukan artikel ini ; dalam artikel ini disebutkan tentang lima orang perempuan yang ditantang untuk tidak memakai shampoo selama 6 minggu. Sebenarnya ‘tidak memakai shampoo’ ini bukan hal baru — ada sebuah metode pembersihan rambut yang disebut ‘no poo‘, yang kebanyakan dijalani dengan pemikiran betapa berbahayanya sodium lauryl sulfate atau laureth sulfate yang terkandung dalam shampoo komersial yang biasa kita pakai, bagi diri kita, maupun lingkungan. Oh ya, tidak memakai shampoo bukan berarti tidak membersihkan rambut ya, tapi bisa menggunakan air saja, bahan-bahan alami atau hanya conditioner saja.

Jujur saja, sebenarnya memikirkan tidak memakai shampoo itu agak mengerikan buat saya. Saya memiliki ketergantungan dengan aktivitas keramas dan bershampoo — Seriously. Saya lebih memilih untuk tidak mandi dibandingkan tidak keramas; pokoknya, nggak bisalah kalau nggak keramas.

Awalnya saya berpikir, nggak mungkin deh,hal tersebut saya lakukan. Tapi justru tepat setelah saya pikir ‘nggak mungkin’, mendadak muncul pertanyaan baru : masa gitu aja nggak bisa sih? Lembek amat?

Karena  saya adalah semacam mahluk yang dalam bahasa Prancis-nya mbung elehan (nggak mau kalahan) — sama orang saja saya nggak mau kalah, masa pada benda saya sudi kalah? — maka saya pun memulai tantangan tidak memakai shampoo selama enam minggu. Untuk membuktikan bahwa saya tidak kalah oleh shampoo. Ini sama lah seperti tantangan seminggu tanpa internet.

Dan karena dasarnya saya memiliki jiwa berbagi (memperhalus kata pamer) yang sudah mendarah daging, maka saya pun mentweet tantangan yang saya lakukan dan saya beri hashtag #6wwsc (singkatan dari : 6 weeks without shampoo challenge) bahkan saya buat juga blog-nya di tumblr. Ini URL-nya : http://6wwsc.tumblr.com. Jadi nggak perlulah ya saya ceritakan gimana perkembangannya, baca saja di situ.

Yang mau saya bahas di sini adalah reaksi orang-orang yang membaca tweet tentang #6wwsc. Banyak ragam reaksi yang saya terima – ada yang langsung mengikuti dengan spontan tanpa tanya-tanya, seperti arhcamt, dygbi, nitasellya dan dyanti (Suka gue sama yang impulsif seperti kalian. Nyebur sumur yuuk! *eh?*). Ada yang penasaran; mempertanyakan  soal berminyak, soal bau dan lain lain (yang sebenarnya teknis banget ya, bisa ditangani kok), ada yang ingin mengikuti tapi takut tidak bertahan. Dan… ada yang mencemooh.

Ada tuh yang bilang, ntar dekil dan gimbal kayak orang gila,lah. Bikin polusi udara,lah. Ada yang nyebut ‘ih rambutnya pasti banyak kecoak.’ – Ya namanya sudah bertekad bulat nggak mau terkalahkan shampoo, jadi omongan seperti itu nggak ngaruh kali ya.

Oh, nggak, saya nggak mau ngomongin soal tantangan 6 minggu tanpa shampoo itu, itu sih cuma iseng, bukan hal yang penting. Tapi selama menjalani eksperimen iseng itu saya jadi banyak berpikir tentang ‘menjadi/melakukan hal yang berbeda’.

Homogenitas. Bahwa sejak kecil manusia telah dibiasakan untuk homogen.  Berperilaku seragam. Memiliki pola pikir seragam. Coba deh, kalau ada individu yang berani melenceng dari keseragaman itu, pasti dicap ‘aneh’ dan dicemooh.

Jaman SD dulu, saya ingat pernah menggambar orang bertangan lima, atau bunga yang sangat besar dan menelan orang yang berani mendekatinya. Dan tahu apa yang saya alami? Saya ditegur guru, katanya ‘Gambar kamu salah, lihat dong, nggak ada orang yang gambarnya kayak kamu…‘ . Dan untuk amannya saya pun menggambar gunung kembar, persawahan, awan-awan dan matahari muncul dari tengah gunung, kadang saya bikin mataharinya memiliki muka, cuma mungkin matahari bermuka tidak seaneh orang bertangan lima kali ya? Jadi saya tidak ditegur.

Continue reading

GPK (Gondrong Penuh Kasih)*

Yang repot kalau kemudian  stereotip (negatif)  ini ditindak lanjuti menjadi purbasangka terhadap seseorang, yang berbuah pada perilaku antipati

Beberapa waktu yang lalu saya ke salon, untuk potong rambut. Saya harus menunggu sejenak, karena kebetulan seluruh mbak-mbak yang biasa memotong rambut saya sedang menangani pelanggan yang telah datang sebelum saya. Baru sekitar 5 menit menunggu, datanglah seorang ibu yang menggandeng — menyeret, tepatnya — seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih 5 tahun-an. Si bocah manyun. Ia dan ibunya duduk di samping saya.

Dari hasil perngupingan, saya menyimpulkan bahwa si bocah nggak mau dipotong rambutnya. Si anak terus merengek dan merengek dan merengek dan merengek, yang membuat saya bersyukur, nggak punya anak. Pusing kali ya bok. Tapi yang membuat saya tertarik adalah salah satu kalimat dari ibunya :

“Tau nggak sih, kamu cowok, cowok rambutnya harus pendek. Cowok yang gondrong itu penjahat.”

Nah sampai sini, tanpa bisa ditahan saya menoleh pada si ibu sambil mengerutkan kening.

Yang gondrong, penjahat katanya?

Yah, mungkin nih, si ibu itu hanya ingin agar anaknya berambut pendek rapi, supaya tidak bermasalah di sekolahnya, tapi menyebutkan bahwa Cowok yang gondrong itu penjahat, agak-agak bahaya nggak sih?

Continue reading

Televisi, Bukan Realitas

…Dan pada dasarnya, TV itu memang TIDAK PERNAH menampilkan realitas tapi hanya sense of reality.

Boleh dibilang saya termasuk orang yang juwarang (saking jarangnya) menonton TV. Bukannya apa-apa, tapi saya memang kurang betah berdiam lama di depan TV. Seringnya saya kesal kalau menonton terpotong tayangan iklan, bawaannya ngomel. Mana iklan-iklan seringnya muncul sejembreng, apalagi untuk acara yang berrating tinggi, pernah lho, saya menghitung jumlah iklan untuk acara yang lagi happening : lebih dari dua puluh! Duh, Gusti.

Update berita-berita terkini biasanya saya dapatkan dari ibu saya. Atau selewatan kalau misalnya orang rumah sedang menonton TV dan kebetulan saya lewat di depan TV.

Beberapa minggu yang lalu, saat saya melewati TV, kebetulan sedang ditayangkan acara infotainment yang mengabarkan kehebohan kisah Krisdayanti – Raul – Anang – Syahrini dan siapa tuh, istrinya Raul? Ya pokoknya dia-lah.

Gak ada kisah yang nyangkut sih waktu itu. Tapi saya kerap mendengar komentar maupun pembahasan orang-orang di sekitar saya tentang drama ini. Begitu banyak hipotesa bahkan kesimpulan-kesimpulan tentang mereka, yang kerap membuat saya gatal ingin berkomentar :  ” Mbak, Bu, sodaraan ya sama Krisdayanti dan Anang? Kedengarannya kenal beneeeur…”

Tadi sore,kebetulan saya harus check-up sesuatu ke dokter. TV di ruang tunggu tempat praktik dokter tersebut menayangkan acara infotainment. Saya takjub karena infotainment tersebut mengabarkan masalah Krisdayanti – Raul – Anang – Syahrini dan si-dia-yang-saya-nggak-tau-namanya.

Yaoloo… MASIH ???

Tetap tidak ada komentar untuk tayangan tersebut. Cuma saya jadi nguping pembicaraan ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di ruang tunggu tersebut selama tayangan. Sumpah, daripada mendengar tayangannya, lebih rame mendengar komentar mereka!

“Si Krisdayanti mah,ngaco, udah punya suami baik-baik, eh masih selingkuh juga…”

“Tapi dia repot kan? Itu balasan dari ketidaksetiaannya…”

“Kesabaran Anang dan kebaikan Anang dapet hadiah. Krisdayantinya masih ribut, Anang mah udah nyante-nyante aja sama Syahrini.”

Anyway, bagi saya pribadi, lucu saja, hanya dengan melihat kolase tayangan-tayangan di televisi, para penikmat infotainment tersebut merasa sudah mengetahui realitas yang terjadi secara menyeluruh. Yuk mari.

Continue reading

Emansipasi Genjot Becak

…Emansipasi, jatuhnya hanya di tataran aktivitas fisik saja. Ngangkat tas berat-lah, jadi tukang becak-lah, nraktir cowok-lah. Padahal soal ‘sama kuat secara fisik’  ya nggak ada urusannya dengan emansipasi.

Terus terang saja, beberapa tahun belakangan ini saya kurang berminat dengan kata ‘emansipasi’  dan perayaan Hari Kartini (Waduh, dimarahin deh sama pahlawan pembela perempuan. Hehe). Lagian emansipasi yang sekarang ini bukannya emansipasi musiman? Tanggal 21 April aja, panen deh kata emansipasi. Hari-hari lain? Ke mana aja?

Cuma hari ini saya tergelitik untuk menulis (sekalian posting lagi, sudah lama banget ya saya nggak posting?)

Gara-garanya, hari ini mendadak status FB atau twitter dari kebanyakan perempuan mengandung kata ‘emansipasi’. Nggak apa-apa juga sih . Nah, yang menggelikan adalah balasan dari status ‘emansipasi’ tersebut; ‘Perempuan ngomongin emansipasi, kalau disuruh genjot becak mau nggak?’ (atau aktivitas fisik sejenis,lah)

Awalnya saya cuma cengar-cengir saja, basi amat – pikir saya. Cuma, barusan banget saya mencuri dengar percakapan sejenis, sewaktu saya makan di sebuah pujasera. Seorang perempuan bersemangat ngomongin emansipasi, lalu teman-teman prianya mendadak bilang ‘Emansipasi, emansipasi, kalo tas berat dikit, minta tolong.”

Jah. Jadi saja, saya terdorong untuk menulis lagi :D

Coba tanya deh, apakah saya mau menjadi tukang becak (atau kuli bangunan dan sejenisnya), saya bakal menjawab dengan sukarela dan lantang : NGGAK!

Continue reading