Archive for the keseharian Category

Pegang TV Sembuh? Bisa!

…”Gue sih percaya, ada orang yang bisa sembuh, dengan pegang TV.” Dan dia pun melongo.

“Itu omong kosong banget sih, megang TV trus penyakit bisa sembuh?” seorang kawan protes berat ketika melihat sebuah tayangan rohani di salah satu stasiun TV swasta. Tayangan tersebut hampir selesai dan sang pembicara yang bule (beserta translator-nya) berdoa, lalu menyebutkan (kurang lebih) ‘Jika anda sedang sakit, tempelkanlah tangan anda pada layar TV anda, Dalam nama Yesus, maka anda akan sembuh!’

Oh, melenceng dikit nih ya, pembicara bule itu kayaknya sudah cukup lama tinggal di Indonesia, deh, soalnya, dia sudah jadi pembicara di acara tersebut sejak saya SMU (yang mana itu berbelas-belas tahun yang lalu). Belajar bahasa Indonesia kek, biar nggak usah bawa-bawa translator mulu. Hidup di negara orang, kok nggak bisa bahasa setempat. Cih. *diguyur fans-nya*

Oke, balik ke topik.

Nah kawan saya ini rupanya sedang terkena sindroma protestan, alias tukang protes. Jadi, setelah mengeluarkan protes pertama (dan tidak saya tanggapi), eh dia protes lagi.

“Ini pembodohan banget sih!”

Yak, tipikal banget kan? Protes atau nggak suka satu tayangan televisi tapi teteub ditonton, sambil nyela-nyela. Oh, saya juga gitu kok, tapi tayangannya infotainment. :-D

“Ih, gue dicuekin! Kasih respon apa kek!” akhirnya dia mengomel. Saya menanggapi dengan tawa kecil, lalu mengangkat bahu. Tak puas dengan reaksi saya (yang biasanya nyinyir banget kalau mengomentari infotainment), ia bertanya lagi,”Kata lo gimana?”

“Gue sih percaya, ada orang yang bisa sembuh, dengan pegang TV.”

Dan dia pun melongo.

Oh, jangan salah kira, saya juga nggak percaya dengan kesembuhan abrakadabra gara-gara pegang TV. Terserahlah mau dibilang saya nggak percaya mujizat.

Read the rest of this entry »

Kartini-Kartini Mendebat Ladies Parking

….bahkan kalau fasilitas valet parking di mal tersebut gratis, saya mau kok memanfaatkannya.

Sebenarnya saya sudah memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kartini. Oh, bukan, bukan karena saya ingin ikut serta untuk mempertanyakan ‘Kenapa Kartini yang dielu-elukan? Kenapa bukan Cut Nyak Dien. HR Rasuna Said, Marta Christina Tiahahu?’– nggak kok, biarpun Kartini nggak ikut perang berkotor-kotor seperti pahlawan-pahlawan perempuan lain, buat saya, apa yang dilakukan Kartini termasuk hal hebat di masanya. :)

Saya tidak merayakan Kartini dengan membicarakan emansipasi, karena sampai sejauh ini emansipasinya masih mentok di urusan genjot becak. Tapi yang lebih krusial lagi, saya tidak merayakan Hari Kartini, karena Hari Kartini, bagi saya, sama dengan hari-hari besar lainnya. Perayaan doang. :) — eh bentar, ngomong-ngomong arti krusial tuh apa sih? *dikeplak massa*

Ya coba saja, apa sih yang dilakukan pada hari Kartini?

Kantor-kantor me’wajib’kan memakai kebaya modern untuk karyawatinya. Atau perempuan-perempuan berjanjian memakai kebaya. Kemana neng? Karnaval? Eh, bukannya saya anti pakai kebaya loh, saya suka kok pakai kebaya, tapi nggak suka rame-rame  :D

Lomba busana daerah; yang menang entah kenapa selalu mereka yang memakai kebaya beludru merah. Alasannya kebaya merah identik dengan Kartini. Padahal coba deh image googling di Google dengan kata kunci ‘Kartini’, yang keluar kebanyakan Kartini berkebaya putih kok. :)

Lomba memasak, lomba pasang dasi suami atau lomba kecakapan berdandan (semacam berlooxperiments sehari. hihi).

Promosi ini itu. Oh, saya dapat informasi dari Maya, kawan saya : tahukah anda bahwa tiket masuk Dunia Fantasi jadi Rp.60.000,- saat hari Kartini? Tapi coba deh dicek lagi syarat-nya, siapa tau ada keharusan pakai kebaya, jarik dan sanggulan.

Coba googling lagi, masukkan kata kunci ‘Diskon Hari Kartini’, banyak loh! Ada tuh peralatan makan diskon 30%

Lalu ramai-ramai pihak korporat membuat kuis, undian dan segala rupa yang berhubungan dengan Kartini.

Dan seperti biasa, semua orang mendadak ngobrolin emansipasi dan perempuan.

Yah, pada akhirnya saya melihat kemiripan Hari Kartini dengan Hari besar-hari besar lain. Bedanya ya, tanggalannya tidak merah (sial!)

Read the rest of this entry »

…..Kumaha Aing!

Mobil Aink, Kumaha Aink (Mobil Gue, Gimana/Terserah Gue!)

Mobil Aink, Kumaha Aink (Mobil Gue, Gimana/Terserah Gue!)

Mari berandai-andai, seandainya di koran ada pengumuman lowongan pekerjaan menjadi supir angkot, gimana ya bunyinya?

Dicari : supir angkot. Umur tidak masalah. Memiliki SIM-lah pokoknya. Persyaratan tambahan : berani berhenti di mana pun -termasuk tengah jalan, atau tepat di bawah tanda ‘belok kiri boleh langsung - demi penumpang dan tahan dipisuhi pengendara lain’

Iya, minggu lalu, sepulang dari kantor, (lagi-lagi) saya tertahan oleh sebuah angkot yang dengan lempengnya berhenti tepat di bawah tanda ‘belok kiri boleh langsung’. Nyaris saja saya mengklakson bertubi-tubi, tapi tulisan di stiker yang ada di jendela belakang angkot tersebut membatalkannya.

‘Mobil aink, kumaha aink (Mobil gue, ya gimana/terserah gue).

Ih, itu berasa diledek deh. Dalam imajinasi saya, sang supir angkot berkata, ‘Loh? ya biar aja dong saya menghentikan mobil di mana aja saya mau, kan mobil, mobil saya?’

Dan saya pun merespon imajinasi saya sendiri :  emang itu mobil elu, mau diapa-apain yang terserah elu. Tapi kan elu ada di jalan raya, dan jalan raya itu bukan punya elu.

Ya iyalaah, semua orang juga tau kali, ketika kita melakukan segala sesuatu yang hanya berurusan dengan diri kita, tentu saja kita bisa bersikap ‘kumaha aing! (terserah gue!)’, tapi ketika bersilangan dengan orang banyak dan melakukan hal-hal yang melibatkan orang banyak, ya jelas nggak bisa lah! Memangnya dunia milik kita (yang laing ngekost)? :)

Eh, iya sih, pemikiran saya tentang stiker tersebut hanya berdasarkan imajinasi belaka. Sekali lagi, imajinasi. Belum tentu stiker tersebut memang sengaja ditempel sebagai pembenaran sikap semena-mena sang supir. Siapa tahu itu sekedar hiasan belaka, seperti stiker-stiker 1/3dis, atau ber217an. :)

Eh jadi ingat, tahun lalu  saya pernah baca twitter bio-nya orang deh, bunyinya : tweet aing, kumaha aing. Tapi saya nggak ingat siapa, dari tadi saya cari-cari, nggak ketemu. :D

Ini Kota Yang Aneh

Tapi aneh sekali, berada di kota ini, seolah candu bagiku.  Kenapa ya?

Jangan meremehkan rasa bosan. Sungguh. Karena ia bisa menjadi sumber kekuatan untuk melakukan apa saja. Well, setidaknya untukku sih. Gara-gara rasa bosan tak kepalang, aku pun mengiyakan seorang kawan untuk pindah ke sebuah kota. Kota yang aneh, tepatnya.

10 April 2009. Aku ingat betul tanggal itu. Hari di mana aku resmi terdaftar di kota tersebut. Eh, iya deh, ngaku, aku nggak inget-inget amat, tapi tanggal tersebut tertulis di rumahku. Joined: 10th Apr 2009; begitu katanya.

“Aku yakin kamu suka kota ini.” itu kata temanku, sewaktu aku masih bingung, tidak tahu apa yang akan kulakukan di kota ini.

“Kenapa?”

“Karena kota ini cocok buat kamu, yang senang berceloteh, yang pikirannya selalu dipenuhi hal-hal absurd, tapi sering tidak punya wadah untuk mengeluarkan pikiran tersebut. Kamu bisa mengeluarkan opinimu dengan bebas.”

Aku, sebagai penghuni baru, sedikit demi sedikit mulai mempelajari tata kehidupan di kota ini; terutama cara bersosialisasi. Ada aturan-aturan tersendiri, ternyata. Dan, tentu saja, sebagai penghuni baru, aku berusaha menyesuaikan diri. Hei, bukannya ada pepatah dari seorang bijak yang berbunyi : ‘beradaptasi lah aku, atau mati’? Eh, siapa ya yang pernah bilang begitu?

Hmm.

Oh, aku ding.

Read the rest of this entry »

Maw, Sis? : Jangan Ganggu, Ntar Nggak Laku!

…bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang?

“JAH! Kena tag lagi deh sama yang jualan. Hobi amat sih, jualan rusuh. ” ujug-ujug* seorang kawan mengeluh, sambil menatap smartphone-nya. Tanpa perlu bertanya lagi, saya sudah tahu, pasti dia sedang membicarakan online shop di Facebook. Saya yakin, hal begini bukan hal yang aneh, bagi para pengguna Facebook — hayo ngaku, pasti pernah dong ya, ditag foto barang dagangan?

Saya pribadi sih sebal aja kalau ada online shop yang menggunakan cara promosi dengan mentag random nama-nama di friendlist-nya. Yang pertama : belum tentu saya butuh barangnya. Kedua : saya kesal kalau muka saya berubah jadi t-shirt, sepatu, flashdisk, kue kering, piano (iya, piano beneran!) dan macam-macam barang jualan.

Mungkin buat yang menjadi teman saya di facebook beberapa kali melihat saya pasang status mengomeli para online shop yang men-tag saya.

‘Dear online shops, jangan nge-tag. Atau ntar saya bales, saya bikin online shop trus saya tag balik’

Ngaruh? Nggak, tetap saja ada yang nekad men-tag.

‘Dear online shops, yang nge-tag, ditampol’

Teteub dong nggak ngaruh!

Tapi yang menarik bagi saya adalah reaksi/komentar-komentar orang pada status omelan saya pada online-shop. Rata-rata mereka setuju, cara promosi dengan nge-tag foto itu ganggu.

Saya, teman yang baru di-tag tadi dan beberapa teman lainnya kemudian membahas hal yang sama; ternyata yang sama saja, mereka sebal di-tag seperti itu. Rata-rata mereka menilai nge-tag jualan itu cara yang norak, tidak menimbulkan simpati dan membuat barang kesannya murahan.

Saya jadi mikir, bukannya kalau jualan itu seharusnya nggak bikin kesal orang? Gimana orang bisa tertarik kalau  sudah antipati duluan, sebelum melihat barang-barang yang dijual?

Ya memang sih, amannya, ya jangan pernah approve permintaan pertemanan online shops, atau jangan pernah meng-add friend online shop. Tapi, masalahnya, kadang-kadang saya (dan beberapa teman yang lain) kadang-kadang suka berbelanja juga secara online. Jadi, kasus ini bak buah simalakama : diadd suka ngetag nyebelin, kalau nggak diadd, kadang-kadang butuh. :)

Pada akhirnya daripada saya ngomel-ngomel di status, saya memilih untuk meninggalkan pesan : jangan ngetag lagi ya, thanks. :). Kalau masih ngetag juga, ya unfriend** dan block — oh tapi tentunya setelah meyakinkan diri bahwa di online shop tersebut nggak ada barang yang saya perlu. :)

Anyway, tapi ada lho online shop yang pemiliknya judes ajaaa. Ketika saya tinggalkan pesan supaya dia tidak men-tag saya, eh dibalasnya dengan cara yang tidak simpatik.

‘Tinggal remove tag aja susah amat sih?’. Uhm, saya jadi pengin bilang : mbak/mas, galak amat sih? PMS yah? Atau lagi punya masalah? Sini, sini curhat sama tante.

‘kalau nggak mau ditag dari sini, di-unfriend aja, lah’. Ya sudah, berhubung saya penurut, ya saya ikuti saja. Anehnya, 15 menit kemudian, muncul notifikasi friend request — dari online shop tersebut. Saya yakin pasti mereka nambah temannya random banget deh, sampai nggak ingat, bahwa orang yang mereka add, adalah orang yang sama yang disuruh ‘unfriend’.

Atau ini yang lebih parah, berdasarkan cerita teman, ada online shop yang bilang : ‘Kalau nggak mau ditag, nggak usah punya FB’. Ini sih, tampol nih ya, tampol!

Tadi sore saya ditag lagi, cuma kali ini pemilik online shop tersebut  meminta maaf, dan bilang, bahwa ini adalah cara mereka promosi, ‘Gimana bisa bikin orang tau kita punya barang kalau nggak ditag Sis?’ itu katanya.

Ih masa sih nggak ada cara lain? Gitu pikir saya. Dan atas nama iseng, saya pun memikirkan beberapa alternatif ide promosi online shop di twitter. Ini saya kumpulkan daripada keburu lupa :

  • #idePromoOLShop ga usah ngetag akbar, kumpulin e-mail temen2 dan org yg kira2 minat, kirim katalog produk. :D
  • #idePromoOLShop ga usah ngetag akbar, kalo udah ada yg beli/skedar nanya, msukin di list buat dikirimin katalog berikutnya.
  • #idePromoOLShop soal list email, jgn lupa tanya, keberatan ga dikirimin katalog? Kalo iya, ya jgn dikirimin.
  • #idePromoOLShop via twitter, twit tautan ke url OLshop/produk, minta temen2 yg followernya byk u/ RT, trus traktir2 lah temen2 mu sikit. :D
  • #idePromoOLShop menghadiahi produkmu pd blogger kondyang, syarat, dia kudu review produkmu.
  • #idePromoOLShop kalo motret, pake temen yg jml org difriendlistnya banyak, pas dipublish, ntar tag aja dia. Gpp dong, org emang modelnya dia
  • #idePromoOLShop rada sering ngetwit ttg produkmu, sehari 3x, pake hestek tertentu.
  • #idePromoOLShop atau share link ke produkmu di fbmu sendiri, 3x sehari juga, pas prime time kalo bs.
  • RT @chocoloveid: Nambahin #idePromoOLShop. Sekali2 bikin #GIVEAWAY buat follower mu biar mrk happy & sounding ke jagad raya :D

Oh, iya, itu bahasanya masih bahasa twitter yang belum saya sunting lagi. Tapi terbiasa dong, baca kalimat 140 karakter gitu? Ini ada beberapa tambahan yang baru kepikir.

  • Posting diblog pribadi-mu.
  • Buat kartu nama, sertakan data kontak di kartu nama tersebut, jadi kalau ketemu orang offline, kamu bisa kasih kartu nama tersebut.

Kalau ada yang punya ide lain, silahkan lho. Ini cuma sekedar ide, daripada saya dituduh ngomel doang nggak ngasih ide, atau daripada dibilang ‘Situ sih nggak ngerasain punya online shop!’ — huh, siapa bilang saya nggak punya? Monggo Sis, dikunjungi : The Wardrobe Porject. *lah, jadi promo colongan* (BTW, nggak kok, saya nggak pernah nyapa pelanggan saya dengan ‘Sis’. Sumpah!)

Dan sukur-sukur, kalau ada online shop yang tertarik mencobanya. Supaya para (calon) pembeli senang, penjual pun senang. Sebab seperti ada tersurat ‘Janganlah ganggu kalau jualan, ntar nggak laku lho’ (Surat Al TokoOnline 34:12)


Ngasih hadiah, dapat hadiah dari GagasMedia? Kenapa nggak bisa? Caranya ikutan Kuis ‘Katakan Cinta Dengan Empat Musim Cinta’. Klik di sini untuk detilnya,

Untuk Semua Hal : Terima Kasih

okkerico

Hey, kamu.

Untuk kesetiaannya mendengarkan saya : terima kasih. Padahal kadang-kadang saya suka meracau nggak jelas gitu. Sebentar, kamu ngedengerin saya beneran kan?

Untuk ketabahannya saat-saat saya mengalami naik-turun mood, dan merongrongmu dengan tingkah ngeselin, terima kasih.

Untuk kerelaannya dipaksa terjaga padahal sudah ngantuk berat saat saya ingin bercerita, terima kasih.

Untuk kerelaannya saat saya protes karena kamu nguap waktu saya sedang bersemangat bercerita; terima kasih.

Untuk cuma menghela napasnya saat saya terserang penyakit ketus, terima kasih.

Untuk ngecek sejam sekalinya saat saya sakit , terima kasih. Mbok ya kalau nggak sakit dicek juga. HUH. *loh?*

Untuk percaya sepenuhnya pada saya, terima kasih.

Untuk mengajarkan saya agar tidak panikan. Iya memang panik itu nggak guna sih. Tapi gimana dong.

Untuk mengajarkan saya bahwa kamu bukan mind-reader, kelempenganmu membuat saya sadar, bahwa mending ngomong, daripada sok-sok ngambek gitu.

Untuk cekikikan sektoral-nya saat membahas dan mengembangkan topik pak-mujiyo - pak-richard - pak-dokter - kemben - blangkon dan hal-hal nggak jelas lainnya, terima kasih.

Untuk kencan-kencan jalan kakinya, atau jalan-jalan ke tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota, terima kasih.

Untuk ketidak-ekspresifan dan jarang mengobral ‘I love you‘, ‘I miss you‘ dan kalimat sejenis,terima kasih. Kenapa terima kasih? Karena sekalinya kamu bilang seperti itu, saya tahu kamu serius; dan mbrebes mili-lah saya. #halah.

Untuk larangan-larangannya mengonsumsi terlalu banyak minuman dan makanan berpengawet, supaya sehat. Sekarang masih, tapi sudah berkurang kok *dumdidum*

Untuk selalu bersikap supportif. S-e-l-a-l-u. Terima kasih.

Untuk mengajarkan saya tentang ‘yang sudah lewat dan sudah selesai ya sudah, nggak usah dibahas lagi.’, terima kasih.

Untuk ledekan ‘kurang olahraga sih lu’, setiap saya merasa sakit kepala atau jalan ngos-ngosan. Iya, tahun depan, OKAY? :D

Untuk berbagi cerita yang kamu anggap menarik, terima kasih. Hey, kamu, saya selalu suka mendengarkan kamu bercerita dengan bersemangat dan wajah glowing. That’s kinda cute. :)

Untuk mengajarkan saya agar tidak reaktif  dan menjadi pengamat dalam segala hal, terima kasih. Sekarang sudah berkurang kok, nggak langsung nyamber kalau ketowel dikit.

Untuk mengajarkan saya agar peduli pada sekitar; saya ingat kamu berhenti berjalan saat melihat seekor anjing yang hidungnya tersangkut di kaleng. terima kasih.

Untuk mengajarkan saya agar tidak peduli pada hal-hal yang tidak penting, terima kasih. Yup, hidup lebih ringan, kalau hal-hal yang nggak ada korelasi-nya kita buang sajah pada tempatnya.

Untuk kerelaannya membacakan beberapa bagian menarik dari buku yang sedang kamu baca via telpon, padahal kamu tahu kadang-kadang saya ‘rabu’, alias ‘rada budek’ kalau kuping kelamaan nempel di telepon.

Kamu : Iya gitu ceritanya

Saya : ….

Kamu : pasti tadi nggak kedengeran deh.

Saya : hehe. Iya. Ulangin lagi dong.

Untuk tidak pernah melarang saya dan hanya ketawa sambil geleng-geleng kepala saat saya mengeluarkan becandaan plesetan, srimulatan atau gombal-menggombal malesin.

“Wah, kakiku… mana kakiku?” sewaktu saya duduk  dengan kaki terlipat

atau

“Lu pasti dulu jurusan interior deh, soalnya ruangan jadi indah begitu kamu masuk.”

(Pst, Kamu tahu, kamu adalah sumber inspirasi #anjinggombal yang sekarang kondyang itu.)

You are an amazingly damn good kisser. Enough said. Terima kasih.

Masih banyak sih, hal-hal ajaib yang saya alami bersama kamu, dan saya harus berterima kasih untuk hal-hal tersebut, tapi nggak mungkin saya tulis semua di sini. :)

Pokoknya, ini yang terpenting : untuk 3 tahun ini. Terima kasih, lho… sudah pasti tiada kesan tanpa kehadiran anda. :D

Ya,ya, saya tahu, kamu pasti menganggap perayaan-perayaan tahunan seperti ini jatahnya para ABG. Biarlah, kan saya pernah bilang, bahwa perkembangan mental saya berhenti di umur 18 tahun. :)

Selamat 3 tahunan, ya! :D

I love you, always forever
Near and far, closer together
Everywhere, I will be with you
Everyday, I will devour you
I love you, always forever
Near and far, closer together
Everywhere, I will be with you
Everyday, I will devour you

(I love you Always Forever. Donna Lewis)

Tentang Si Copy dan Si Paste

….masih ada lho, orang yang MEMANG beneran nggak tahu, kalau di dunia perinternetan-pun, berlaku aturan main, kalau mau mengutip, sebutkan sumber. :)

Tadi siang tanpa sengaja saya membaca tweet seseorang, keliatan banget kalau ia sangat gusar. Tampaknya dia telah menjadi korban ‘pencurian’ tweet. Maksudnya, tweet-tweet-nya dibajak alias diambil tanpa izin TANPA menyebutkan sumber.

Lucu yah, sebenernya susah juga lho melacak tweet-tweet orang, karena — seperti kata kawan saya, Echi, tweet itu bagaikan plankton atau versi saya : kayak debu, yang bertebaran banyak  sekali dan sama sekali nggak bertahan dengan permanen alias bisa hilang entah ke mana dan kenapa. (yup, saya mencoba mencari tweet-tweet saya setahun yang lalu, nggak ada! :D).

Cuma, dari beberapa kejadian, biarpun sebenarnya susah begitu, pasti selalu ada kebetulan-kebetulan yang mempertemukan sumber tweet dengan akun tweet pembajaknya. Entah karena tweet-hopping alias jalan-jalan menyambangi akun twitter yang satu ke akun twitter yang lain atau bisa juga karena ada orang yang kebetulan menemukan tweet bajakan dan melaporkannya pada kita.

Ya emang ngeselin kalau menemukan apa yang pernah kita tulis, diambil tanpa izin. Kayak kecurian gitu loh. Walaupun kalau urusan tweet, saya masih sebatas gatel pengen noyor sambil bilang ‘Woi, nyolong aja bisanya!’. Mungkin saya akan sangat gusar kalau misalnya yang dibajak adalah tulisan saya dari berbagai media, termasuk blog.

Kenapa? Karena sejujurnya untuk menghasilkan tweet, saya nggak merasa harus berusaha keras, duduk lebih dari setengah jam, merenung, menyusun kata, mengedit, mendiamkan beberapa jam, membaca lagi, baru publish. Ngetweet itu tidak butuh usaha. Hanya butuh pulsa dan jempol yang lincah, dan jempol saya sudah lincah, jadi nggak susah. :)

Berbeda dengan tulisan yang lebih panjang, untuk menghasilkan sebuah tulisan, butuh usaha lebih; tulisan dibajak itu berasa usaha kita nggak diharga PLUS sebel aja, sini yang mikir, situ yang ngaku-ngaku (apa lagi kalau kemudian tulisan hasil bajakan itu dipuji-puji. Pengen protes .Woooy, itu sini yang nulis, dia cuma ngebajak!  *gila pujian amat yak? :)) *)

Anyway, jadi ngelantur.

Jadi ingat kasus-kasus pembajakan entri(-entri) blog yang pernah saya alami. Dan saya rasa bukan saya doang yang pernah mengalami pembajakan entri(-entri) blog . Saya sendiri sudah lupa kapan pertama kali entri saya dibajak; tapi jelas saya masih ingat reaksi saya : NGAMUK. Drama banget lah. Saya serang secara frontal, meninggalkan pesan marah-marah di commenting system si pembajak lalu membuat satu entri khusus di blog saya yang menautkan link ke blog si pembajak. Ya kesel dong, wajar. Dan tentu saja, orang yang membajak dihukum massa oleh masyarakat blogger yang kebetulan membaca entri marah-marah saya; saya ingat, commenting system orang tersebut sampai penuh makian. Puas? Iya dong.

Nah, beberapa bulan setelah kasusnya beres, ketika saya membaca lagi entri marah-marah saya, mendadak saya malu sendiri. Ih saya kok norak-norak amat ya? Lebay nan drama sekali. Emosional abis, padahal kan akan jauh lebih keren kalau saya menanggapinya dengan cool, mengesankan : eh, lu copy paste aja semua tulisan gue, gue masih punya otak dan skill buat bikin BANYAK tulisan dan hal-hal lain. Gue kreatif, lu enggak. (yak, songong tersirat intinya sih)

Read the rest of this entry »

Semua Pahlawan

“Kakak, mau nyumbang.” kata gadis kecil yang masih mengenakan seragam putih merahnya. Di tangannya terdapat sebuah celengan kaleng hitam putih babi-babi Monokurobo, ia datang bersama seorang gadis cilik perempuan lain, juga membawa celengan kaleng yang mirip, tapi berwarna pink, bergambar Hello Kitty. Sementara di belakangnya tampak seorang perempuan berusia pertengahan 30.

Wasior. Mentawai. Merapi. Saya rasa rentetan bencana yang terjadi telah membuat seluruh bangsa Indonesia merasa patah hati; lalu bergerak dengan berbagai cara — atas nama solidaritas — membantu mereka-mereka yang menjadi korban bencana.

Ya, walaupun masih ada orang yang bilang ‘Ah, gue sih nggak peduli, selama bukan gue yang kena’— dan itu sumpah ada, seorang mahasiswa jurusan entah apa yang saya temui di lift kampus, yang berhasil membuat saya speechless; itu pengecualian.  Mari doakan saja semoga yang bersangkutan panjang umur dan nggak penyakitan :D

Ada yang turun langsung sebagai relawan. Ada yang menggalang dana. Ada yang mengumpulkan benda-benda siap pakai. Ada yang mendoakan. Semua bergerak.

Namun di tengah-tengah gerakan-gerakan solidaritas ini, ada banyak hal yang kemudian membuat saya merasa lebih patah hati. Gemas pengen jitak dan patah hati, tepatnya. Yaitu beberapa statement yang sebenarnya sudah tidak penting lagi saat ini : siapa yang lebih pahlawan dari siapa. :(

Ada beberapa komentar, daripada berdoa, mendingan bergerak. Ada beberapa komentar, daripada ngomong doang peduli, mending turun ke lapangan. Ada beberapa komentar bahwa aksi relawan yang stay di tempat itu ‘kurang berarti’ dibandingkan dengan aksi para relawan yang terjun ke lapangan. Ada yang bilang, nyumbang duit doang, itu ‘biasa banget’. Dan hal-hal semacam itulah.

Bagi saya, gerakan kepedulian terhadap sesama ini adalah kerja bareng seluruh masyarakat - relawan lapangan, relawan kantoran, pendoa dan lain-lain. Tidak ada yang lebih pahlawan dari yang lain karena semua saling berkaitan dan membutuhkan. Coba saja hilangkan satu pihak, tentu gerakan kepedulian ini tidak akan berjalan dengan baik. Untuk itu — tanpa bermaksud mengecilkan jasa mereka yang berani turun ke lapangan — tidak ada yang lebih ‘pahlawan’ dibandingkan dengan yang lain.

Semua adalah pahlawan.

Sekelompok pengamen yang semalam menyerahkan beberapa bundel seribuan lecek dan receh-receh penghasilannya adalah pahlawan.

Mereka yang menjadi admin twitter tanggap bencana, adalah pahlawan.

Mereka yang menyebarkan info donasi serta mengadakan gerakan menggalang dana baik di social media atau di dunia nyata, juga pahlawan.

Mereka yang meretweet informasi bencana, adalah pahlawan.

Mereka yang jadi penjaga posko-posko bantuan di kota-kota di luar wilayah bencana adalah pahlawan.

Mereka yang bela-belain masak dan membungkus nasi serta lauk-pauknya untuk korban di pengungsian, adalah pahlawan.

Dan masih banyak pahlawan-pahlawan lainnya. Mungkin masing-masing dari anda bisa menyebutkan pahlawan-pahlawan yang ada di sekitar anda.

“Maaf ya, uangnya sedikit, Kakak.” kata gadis kecil tersebut sambil menatap gundukan koin yang berasal dari celengannya, yang digabung dengan celengan temannya.

“Tuh kan dibilangin juga apa, mending kumpulin celengan dari temen-temen dulu, biar rada banyakan.” celetuk yang satunya lagi sambil menyodok pinggang temannya dengan sikut.

Yah, Dik, sedikit atau banyak, bagi saya, kalian adalah juga pahlawan.

Agamamu, Gadgetmu.

….agama adalah hal yang dapat mengatur perilaku seseorang, dan jika melihat kecenderungannya gadget pun bisa mengendalikan perilaku seseorang

Di suatu hari yang iseng, saya menemukan sebuah artikel bertajuk 10 alasan Jangan Beli iPhone 4 di Tempo Interaktif. Dalan artikel tersebut dijabarkan tentang kekurangan-kekurangan dari iPhone 4. Ya, saya sih nggak ngerti ya, jangankan iPhone 4, membaca saja aku sulit. *Alah*. Tapi yang mencuri perhatian saya adalah beberapa komentar untuk artikel tersebut; Mereka ngomel-ngomel aja gitu. Kalau dilihat-lihat sih (sepertinya) para komentator yang ngomel adalah pengguna iPhone 4.

Melihat hal tersebut, saya mendadak teringat pertanyaan seorang rekan kerja : ‘Agamamu apa?’. Pertanyaan tak berujung pangkal tersebut dilontarkan sesaat sebelum kami masuk ke kelas untuk mengajar. Yang ada saya bingung, alih-alih menjawab saya bertanya kembali : ‘Memangnya kenapa?’

Namun beliau tidak menjelaskan, dan tetap berkeras dengan pertanyaannya : Agamamu apa?

Ya sudah saya jawab saja, tapi tetap, diakhir kalimat saya tambahkan ‘Memangnya kenapa?’

‘Oh, kamu yakin agamamu itu? Agamamu bukannya Nokia?’

Ia mengatakan bahwa agama adalah hal yang dapat mengatur perilaku seseorang, dan jika melihat kecenderungannya gadget pun bisa mengendalikan perilaku seseorang. Ia menyindir bahwa perilaku saya sedikit berubah dari dulu; sekarang saya cukup sering terlihat sibuk dengan handphone saya padahal dulu saya termasuk orang yang cuek banget kalau soal handphone, ketinggalan saja nggak peduli (malah bersyukur, jadi nggak keganggu telepon).

Ya, saya cuma nyengir saja. Sebenarnya sih pengin protes, lah wong itu bukan karena gadget kok, tapi karena twitter. (eh?).

Read the rest of this entry »

Batik Untuk Perut

Tapi, secara sederhananya, kalau peminat kurang, pemasukan kurang, masalah perut terancam. Bukankah perut itu penting, Jendral? :)

“Iya,Mbak, sekarang sih batik banyak yang nyari, terutama sama mereka yang ngantor. Soalnya kan jadi ada hari wajib pake batik.” itu kalimat yang keluar dari salah seorang supplier kain batik, tempat saya biasa memesan untuk the wardrobe project (iya, ini ikcol, alias iklan colongan).

“Kalau dulu?” tanya saya.

“Paling cuma ibu-ibu aja, Mbak.” Katanya sambil nyengir.

Saya balas nyengir, ya memang benar sepuluh tahun (atau mungkin lebih) yang lalu, sepertinya hanya dengan mendengar kata ‘batik’ saja, pasti akan muncul komentar,’Batik? Mo kondangan?’ atau ‘Ih pake batik, kayak nenek-nenek!’. :)

Yup, di masa itu batik tampaknya kurang diminati, dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Ketika mendengar kata batik, maka yang muncul dalam pikiran adalah sesuatu yang nggak trendy. Nggak funky.

Beberapa tahun yang lalu, salah seorang mahasiswa saya pernah mengangkat permasalahan tidak berkembangnya kerajinan Batik Paoman (Dermayon) di Indramayu, daerah kelahirannya, sebagai topik tugas akhirnya. Dalam salah satu sesi pra-sidang ia mengatakan bahwa pengrajin batik di daerahnya kebanyakan berhenti membatik dan beramai-ramai menjadi TKW di negara tetangga atau negara-negara timur tengah. Akibatnya banyak usaha batik kecil gulung tikar, karena tenaga kerjanya — daripada membatik — lebih memilih untuk menjadi pahlawan devisa negara.

Saya sama sekali nggak merasa heran mendengar cerita itu, karena memang ada masa di mana kasus serupa terjadi di beberapa sentra kerajinan batik. Kalau nggak salah ingat ya sewaktu zaman saya masih mahasiswa lah. Perusahaan-perusahaan tersebut sampai menjual murah peralatan membatiknya. Seharusnya saya prihatin, tapi dulu sih, saya justru merasa senang bisa membeli alat cap dan canting dengan harga murah demi keperluan kuliah. Dasar mahasiswa murahan, senangnya yang murah-murah. *toyor jidat* :))

Read the rest of this entry »