Category Archives: Keseharian

[Keseharian] Filosofi Kecoak

Philosophy:  A route of many roads leading from nowhere to nothing.  ~Ambrose Bierce, The Enlarged Devil’s Dictionary

….pernah kan mengejar kecoak, baik bersenjatakan sandal mau pun obat pembasmi serangga, tapi ternyata kecoaknya malah balik menyerang dan membuat kamu tunggang langgang ?

Jadi, satu malam, saya terbangun dari tidur gara-gara kebelet pipis. Maka buru-burulah saya keluar dari kamar, dan masuk ke kamar mandi yang jaraknya hanya dua langkah. Karena masih setengah mengantuk, maka saya pun melakukan segala hal dengan setengah sadar, dari membuka pintu kamar mandi, menutupnya, menguncinya, membuka celana dan duduk di toilet.

NAH, kesadaran saya kembali sepenuhnya ketika tanpa sengaja tatapan mata saya jatuh pada sosok kecoak yang merayap di pintu kamar mandi. Sebagai pembenci kecoak, lutut saya mendadak lemas. Entah mengapa sosok yang hanya sebesar jempol kaki tersebut berhasil mengintimidasi sebegitu rupa. Yang ada dalam pikiran saya hanyalah ‘jangan membuat gerakan mendadak, jangan membuat gerakan mendadak, jangan sampai kecoaknya terbang.’

Itu asli saya menyelesaikan hajat saya dengan tidak konsentrasi, mata saya terus menerus mengawasi pergerakan-pergerakan sang kecoak. Untung saja ketika waktunya saya keluar kamar mandi, kecoak tersebut menggeser ke arah tembok, sehingga saya bisa buru-buru melarikan diri dan masuk kembali ke kamar nyaman saya.

Karena baru saja mengalami hal yang menegangkan (lebay, Kke, lebayyyy), rasa kantuk saya pun hilang. Jadinya pikiran saya menerawang ke mana-mana dan membuahkan beberapa pemikiran yang filosofis…. berhubungan dengan kecoak (ALAH!)

Bahwa kita seharusnya selalu waspada dalam melakukan segala sesuatu dalam kondisi apa pun, kerahkan seluruh kemampuan panca indera untuk mengamati sekitar;  karena bahaya bisa ada di mana-mana dan dalam bentuk apa saja. Contohnya, gara-gara saya mengantuk, jadi saya nggak mengecek terlebih dahulu sehingga saya tidak menyadari bahwa ada kecoak di balik pintu. Masih mending kecoak, gimana kalau ular? Atau … yang lainnya? Seberapa sering kita terlalu asyik dengan ponsel masing-masing di tempat umum? Sadar nggak ada apa saja di sekitar kita? Seberapa sering para pelari hari gini memakai earphone dan mendengarkan musik keras-keras saat lari di jalan raya? Sadar nggak ada kendaraan apa saja di belakang mereka?

Continue Reading

[Keseharian] Beratnya Bikin PR Masa Kini

The man (or woman) who can make hard things easy is the educator. – Ralph Waldo Emerson

Pokoknya zaman saya SD, yang terjadi pada masa purbakala itu, semua terasa jauh lebih sederhana. Nah, anak SD sekarang kenapa berat banget ya, perasaan pelajarannya?

Lentik, putri sulungnya sahabat saya dua minggu sekali mampir ke kantor sepulang sekolah, karena ia harus les dan tempat lesnya dekat dengan kantor. Oh ya, Lentik ini kelas 3 SD ya? Kalau ia nggak ada PR dan saya tidak harus mengajar, biasanya kami mengobrol iseng, atau bermain. Kadang ada waktu kami tidak sempat berinteraksi sama sekali karena sama-sama sibuk, saya sibuk dengan mahasiswa yang bimbingan tugas dan/atau dia sibuk dengan PR-nya.

Satu hari, saat kami berdua sama-sama memiliki waktu luang, setelah bosan bermain domikado, ia mengajak saya main tebak-tebakan. Dalam pikiran saya, namanya tebak-tebakan ya pasti plesetan-lah ya. Ia menyuruh saya mulai duluan. Terus terang, dulu saya jago banget tebak-tebakan plesetan; cuma karena kurang diasah, jadinya banyak lupa.

“Lentik, siapa penyanyi yang jago basket?” itu pertanyaan dari saya. Soal tebak-tebakan, memang ini tebakan andalan saya…dulu.

Lentik berpikir keras. Satu menit, dua menit, akhirnya ia menggeleng.

“Hetty Koesslamdunk!” jawab saya bangga karena Lentik tidak bisa menjawab.

“Hetty Koeslamdunk itu siapa?”

Oke, melihat kerutan di keningnya tiba-tiba saya merasa bodoh. Manalah anak ini ngalamin zamannya Hetty Koes Endang? Akhirnya saya mencoba menjelaskan. Ya kalau tebak-tebakan atau jokes harus dijelaskan, sudah pasti nggak lucu kan? Dan saya baru ngeh juga, ternyata Lentik nggak tahu apa itu slam dunk. Oke, plesetan failed.

Sekarang giliran dia. Alih-alih langsung bertanya, dia malah mengeluarkan buku pelajarannya.

Mati. Ditanya soal pelajaran nih. Apa lagi setelah saya lihat sampul depan buku tersebut : Matematika. Sebagai pembenci matematikan sepanjang umur saya makan sekolahan, ditanya soal Matematika, ya sayonara aja.

“Apa yang dimaksud dengan sudut lancip?” Lentik mulai mengeluarkan pertanyaan pertama.

Oh, fiuh. Saya masih ingat itu. Pelajaran SMP!

Wait. Pelajaran SMP kenapa bisa ada di buku anak SD kelas 3?

“Sudut yang kurang dari 90 derajat.” jawab saya sembari terheran-heran,”Lentik udah belajar sudut-sudutan gitu ya?”

Anggukan Lentik membuat saya takjub. Setelah itu Lentik harus pergi ke tempat lesnya. Saya pikir permainan tebak-tebakan telah berakhir, tapi saya salah duga, karena tiba-tiba ibunya bertanya.

“Sudut itu apa sih?”

“Bidang yang ada di antara perpotongan dua garis. Kenapa sih?” ujar saya penasaran.

“Itu, Lentik nanya, dan gue nggak bisa menjelaskan dengan bahasa anak-anak. Gue udah jawab gitu, tapi Lentik nggak ngerti. terus, kalau derajat itu apa?”

Akhirnya saya, ibunya dan beberapa kawan lain yang kebetulan ada di sana pusing bareng, bagaimana menjelaskan ‘sudut’ dan ‘derajat’ pada seorang anak kelas 3 SD.

“Aku ada PR, disuruh bikin karangan deskriptif. Nah, karangan deskriptif itu apa sih, Mbu?” tanya Lentik pada ibunya, di salah satu hari ia harus berangkat les minggu lalu.

“Karangan deskriptif itu…. tanya tante Okke deh.” kata ibunya yang tampak sedang sibuk menilai tugas mahasiswa. Tinggal saya yang gelagapan mencoba mencari cara paling sederhana agar Lentik mengerti.

Continue Reading

[Keseharian] Diam-diam Nge-judge.

“We’ve spent so much time judging what other people created that we’ve created very, very little of our own.” – Chuck Palahniuk, Choke

…Ketika ada orang melakukan hal yang tidak sesuai dengan cara yang kita kenal, maka reaksi kita ‘Lho, kok?’

Nampaknya kalimat ‘sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota’ itu sudah seharusnya diganti. Jadi apa? Jadi ‘sekejam-kejamnya ibu tiri dan ibu kota, masih lebih kejam ibu…ibu.”

*kemudian dislepet ibu-ibu senusantara*

Ya maab, Buibu. Soalnya dalam rentang waktu singkat, saya mengalami dua hal yang membuat saya berpikir demikian.

Jadi, dua kali dalam minggu ini saya janjian ketemu dengan dua orang ibu-ibu untuk satu urusan. Yang satu ibu-ibu pekerja kantoran, sementara yang satunya ibu-ibu penuh waktu. Setelah membicarakan urusan intinya, kemudian tibalah saat ngobrolin remeh-temeh sambil ngemil-ngemil lucu. Entah dari mana awalnya, pokoknya pada akhirnya keduanya curhat hal yang sama, padahal waktu pertemuan berbeda, tempat pertemuan berbeda dan kedua orang ibu tersebut tidak saling mengenal.

Sang ibu rumah tangga penuh waktu mengeluhkan sikap rekannya (ibu pekerja). Menurutnya ia sering merasa direndahkan oleh para ibu pekerja. Awalnya sih saya cuma bilang, mungkin itu perasaannya saja, tapi dia menyanggah. Menurutnya ada beberapa opini tentang ibu penuh waktu yang disampaikan oleh para ibu pekerja secara frontal, baik ketika bertemu langsung, melalui status media sosial atau di forum-forum ibu-ibu.

“Kesel deh gue, mereka suka nganggep kalau ibu-ibu rumah tangga itu adalah perempuan-perempuan yang di rumah kerjanya cuma nonton sinetron, baca tabloid, terus ngegosip pas jemput anak sekolah. Ih, nggak tau apa kalau jadi ibu rumah tangga itu repot, bukan pekerjaan 9 to 5, tapi 24 jam.” omel kawan saya ini, “Seharusnya kalau mereka nggak tau gimana sibuknya para ibu rumah tangga, jangan nge-judge lah. Bikin sakit hati aja.”

Di pertemuan dengan ibu-ibu pekerja, terjadi hal yang sama juga ;  setelah urusan utamanya beres, mengobrol ini itulah kami; sampai pada akhirnya ia curhat tentang sikap ibu-ibu full time yang terasa menyudutkan ibu pekerja.

“Gila ya, ibu-ibu full time itu, seneng banget nge-judge ibu-ibu yang bekerja sebagai ibu yang melupakan kewajiban utamanya sebagai istri dan ibu, ngebela-belain nyerahin urusan domestik ke ART, nitipin anak ke daycare semua demi ego. Males banget.”

Beneran kan, ibu-ibu itu kejam banget? :))

Anyway, dari curhat keduanya, ada harapan yang sama saya dengar : don’t judge. Jangan nge-judge. Jangan menghakimi. Konon menghakimi selalu menjadi sumber perseteruan.

Tapi, bisa nggak sih seseorang itu benar-benar tidak menghakimi orang lain -sama sekali? Mungkin ada yang bisa, mereka yang level kebijaksanaan dan spiritualnya sudah tingkat tinggi. Kalau saya? Terus terang enggak, rasanya sulit melepaskan judgement terhadap sesamanya. Saya rasa kebanyakan orang juga begitu sih *Ciye, saya cari teman*

Ketika melihat orang melakukan hal yang berbeda dengan saya, otomatis saya memberikan penilaian. Bahkan ‘ih kok gitu sih?’ – pun sudah merupakan judgement kan? :)

Continue Reading

[OnMedia] UWRF : Perempuan dan Konservasi Alam.

Tulisan saya untuk blog Ubud Writers and Readers Festival, hasil wawancara dengan Hayu Dyah Patria, seorang aktivis pangan & ecofeminist, dan Suzy Hutomo, CEO The Body Shop.

hayu1

Sudah sejak lama manusia bergantung pada alam untuk bertahan hidup. Kerusakan alam tentu saja sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup manusia. Sayangnya semakin lama manusia semakin lupa bagaimana cara memperlakukan lingkungan.

Walaupun konservasi alam adalah tanggung jawab semua umat manusia, namun pada kenyataannya, sebagai pengelola rumah tangga dan komunitas, kaum perempuanlah yang lebih sering memanfaatkan  air, tanah, tumbuhan dan elemen alam lain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya; sehingga mereka harus memiliki kearifan agar sumber kehidupan tersebut dapat berkelanjutan.

Selain itu, di berbagai budaya perempuan adalah edukator keluarga, mereka  bisa mendidik anak-anaknya untuk memedulikan lingkungan dan melakukan konservasi. Dengan peran-peran seperti itu, perempuan bisa menjadi agent of change yang mengubah perilaku masyarakat terhadap alam. Contoh yang pernah terjadi adalah Green Belt Movement yang digagas oleh Wangari Maathai, seorang perempuan Kenya, untuk menjawab permasalahan kekurangan air, suplai makanan dan kayu bakar karena penebangan hutan di Nairobi, Kenya. Green Belt Movement mendorong para perempuan daerah itu untuk mengolah bibit dan menanam kembali pohon-pohon yang berfungsi untuk mengikat tanah, menyimpan air hujan, menyediakan makanan dan kayu bakar.

Melalui wawancara singkat via surel, Hayu Dyah Patria dan Suzy Hutomodua dari sekian banyak perempuan yang peduli pada lingkungan hidup Indonesia, menceritakan tentang usaha mereka menyelamatkan alam.

Mengembalikan Perempuan Pada Alam

Ketertarikan Hayu Dyah Patria – seorang aktivis pangan dan ecofeminist – untuk meneliti berbagai tumbuhan liar yang bisa menjadi alternatif bahan pangan bermula sejak masa kuliahnya di jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Ia tersadar bahwa selama ini pangan selalu dilihat sebagai komoditas, bukan sebagai pemenuh kebutuhan hidup masyarakat. Penelitian skripsinya yang mengambil mangrove sebagai bahan pangan dikritik oleh dosennya karena dinilai tidak memiliki nilai ekonomi.

Hal yang membuatnya bertahan untuk mengembangkan penelitian tanaman liar untuk pangan adalah karena ia menemukan kasus-kasus malnutrisi di Indonesia akhir-akhir ini, padahal di alam banyak sekali tumbuhan yang dulu pernah dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi dan obat-obatan.

Menurutnya, pengetahuan, keterampilan dan kearifan untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki oleh perempuan-perempuan di zaman dahulu tidak menurun ke generasi selanjutnya. Penyebabnya tak lain karena perempuan-perempuan muda lebih memilih barang-barang ‘modern’ yang sifatnya instan dan praktis sehingga beban kerja domestik jadi ringan. Ironisnya, benda-benda ‘modern’ tersebut kemudian menjadi penyebab kerusakan alam.

“Untuk mencuci baju kita bergantung pada deterjen yang limbahnya mencemari air dan kemasan plastiknya mencemari tanah, padahal zaman dulu digunakan biji klerak yang ramah untuk lingkungan. Dulu nenek moyang kita menciptakan berbagai macam ramuan jamu untuk berbagai masalah kesehatan, misalnya kunyit asam. Kini, hanya sedikit yang tahu bagaimana membuatnya; sehingga akhirnya yang dikonsumsi adalah kunyit asam dalam botol atau karton yang penuh pengawet. Lalu kemasannya menambahi menjadi limbah.” Ujarnya.

Kesulitan utama yang dihadapinya adalah mengubah cara pandang seseorang akan tanaman liar. Masyarakat sudah melupakan berbagai jenis tanaman yang berguna; kini tanaman-tanaman tersebut dianggap sebagai tanaman pengganggu yang harus dienyahkan. Masyarakat lebih memilih untuk membeli sayuran di tukang sayur dan tidak berminat untuk mencari tahu lebih jauh lagi tentang tumbuhan liar di sekitar mereka.

Setelah melewati berbagai tantangan, kerja kerasnya tidak sia-sia, ia berhasil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Galengdowo, Jombang untuk memanfaatkan tanaman-tanaman liar sebagai alternatif pangan. Karena usahanya ini, Hayu Dyah dianugerahi Satu Indonesia Award di tahun 2011.

hayu2

Selanjutnya bisa dibaca di : http://www.ubudwritersfestival.com/blog/perempuan-dan-konservasi-alam/

[Sosial Media] Kita Adalah Monster Online

 People demand freedom of speech as a compensation for the freedom of thought which they seldom use. – Soren Kierkegaard

…kalau membaca tulisan kasar di internet, suka kepikiran gini nggak sih : ini yang nulis manusia apa monster? Sama sekali nggak mikirin perasaan orang!

Jadi, hari gini, siapa yang masih baca surat kabar untuk mengikuti berita terkini? Saya masih sih, kadang-kadang, terutama kalau mau menonton film di bioskop (Tapi kadang ini pun saya ganti dengan mengintip jadwal bioskop yang tersedia secara online). Iya, saya lebih memilih mengikuti berita-berita hangat di dunia *tsah* lewat surat kabar online.

Ada hal yang menarik ketika saya membaca situs-situs berita semacam itu. Nggak, bukan beritanya; kalau itu sih, kayaknya satu memuat berita nganu, semua situs bisa dipastikan memuat berita yang sama, dengan redaksional yang berbeda. Yang menarik perhatian saya adalah komentar-komentar yang ditinggalkan oleh pembaca.

Berbagai macam opini ada di sana. Ada yang cerdas, kritis dan nyambung. Ada yang nggak nyambung (dan bikin saya ngomong dalam hati ‘Baca dan pahami konteksnya dulu, Nyet. Baru komentar’), ada yang… jualan. Iya, biasalah, spamming iklan gitu. Cara penyampaian opininya pun rupa-rupa, ada yang dengan kalimat yang teratur dan enak dibaca, ada yang minta ampun kasarnya, ada yang, ya ampun, ditulis seperti oleh orang yang baru belajar menulis; tahu dong : kyx c n13 or9 k4fir.

Pfft.

Ajaibnya nih, yang lebih sering saya baca adalah komentar minus yang disampaikan dengan bahasa kasar. Anjing, babi, perek dan lain-lain terlontar dengan mudahnya dalam komentar-komentar tersebut. Terus terang saat membacanya, saya sering merasa jengkel sendiri.

Kalau kata kawan saya sih…

boysEhe..ehehehe..

Iya sih, bener juga dia. Tapi kan, kadang suka gatel juga pengin baca. :))

Continue Reading

[GenderTalks] Feminism Itu (Nggak) Serem.

“It’s worth paying attention to the roles that are sort of dictated to us and that we don’t have to fit into those roles.We can be anybody we wanna be.” - Joseph Gordon-Levitt

Ketika laki-laki melakukan kekerasan terhadap perempuan, maka semua membela, sementara ketika perempuan melakukan kekerasan terhadap laki-laki, yang laki-laki diketawain dong! Adil?

“Lo feminist?”

Entahlah kesambet apa teman saya, nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba bertanya seperti itu. Saya hanya bisa terdiam sambil cengengesan. Pertanyaannya sangat sederhana, dan jawabannya pun seharusnya sederhana, tinggal bilang ‘iya’ atau ‘nggak’ kan? Tapi ternyata buat saya nggak sesederhana itu.

Nggak berani bilang iya, karena yang pertama : dalam pemikiran saya, seorang feminis adalah orang yang sangat aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang persoalan gender, melakukan advokasi perkara yang berhubungan dengan gender, khatam sejarah feminisme dan mengetahui kasus-kasus yang berakar dari permasalahan gender role di dunia. Saya? Saya sebatas berminat dengan persoalan gender dan sedang berusaha memahaminya serta mengaplikasikan pemahaman saya untuk kehidupan saya pribadi. Kalau pun berbagi, biasanya hanya saya lakukan via tulisan di blog ini, atau di beberapa mata kuliah yang memang ada topik mengenai sex & gender. Entahlah, apakah itu cukup untuk membuat saya menjadi seorang feminist?

Kedua, karena saya nggak nyaman dengan judgement masyarakat soal menjadi seorang feminis ini. Terlalu banyak stigma negatif yang menempel pada kata feminis(me), dari kelompok barisan sakit hati, perempuan jelek tukang protes, men-bashing/hating women, bra-burning activistsugly women with hairy armpits dan daftarnya masih panjang. Nggak sedep semua ya? :))

Pada saat yang bersamaan saya sedang dapat PR untuk menulis tentang eco-feminist. Ya sudah, sekalian saja saya iseng, bikin survey lucu-lucuan di Facebook; pertanyaannya : Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata feminist? Hasilnya di bawah ini. Sebelum meng-capture saya sudah meminta izin, dan yang di-blur adalah mereka yang tidak bersedia namanya dipublikasikan (dan yang belum konfirmasi, sih sebenarnya. Tapi saya butuh semua jawaban, jadi ya sudahlah, saya blur saja). Nggak usah nyari status ini di FB saya karena sudah saya sembunyikan ;-)

femme

Hasil survey itu. Kalau ingin melihat lebih jelas, klik ini

Oh ada tambahan nih dari teman saya yang menjawab via Whatsapp, dan wanti-wanti supaya saya nggak memasukan namanya di dalam blog post ini (haha!): cewek-cewek yang repot mencibir ke laki dan sibuk membela hak perempuan sampai lupa bahwa dua gender itu bisa kok kerja sama tanpa gontok-gontokan.

Ouch! Kan bener? Biarpun nggak semua, tapi apa yang saya sebutkan itu ada, walau dengan menggunakan susunan kalimat yang berbeda, ada yang halus, ada yang secara terbuka, yang intinya feminist adalah orang-orang yang melawan/membenci laki-laki.

Continue Reading

[OnMedia] UWRF : Perempuan dan Perdamaian

Ini cuplikan tulisan saya untuk blog UWRF hasil ngobrol saya dengan penulis emerging Indonesia terpilih 2014, Erni Aladjai dan ahli politik dan keamanan Indonesia, Jacqui Baker. Foto-foto yang ditampilkan adalah foto koleksi pribadi narasumber.

Jacqui-radio-1024x768

Novel ‘Kei : Kutemukan Cinta di Tengah Perang’ dan film Eat, Pray and Mourn : Crime and Punishment in Jakarta adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah sebuah novel fiksi karya Erni Aladjai, penulis emerging Ubud Writers & Readers Festival 2014 yang meraih pemenang unggulan pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, sementara yang lain adalah sebuah film dokumenter hasil kolaborasi dua orang antropolog, yakni Jacqui Baker (foto di atas) dan Siobhan McHugh. Yang pertama mengambil setting kepulauan Kei, Maluku Tenggara dengan latar belakang kejadian nyata kerusuhan Ambon tahun 1999, sedangkan yang lain mengambilsetting di sebuah kampung hunian kumuh di ibu kota dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi.

Berbeda, namun keduanya membicarakan hal yang sama: konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia.

Kita memang hidup dalam masyarakat yang memiliki beragam stratifikasi sosial. Adanya kelompok penguasa  (yang memiliki power secara sosial, ekonomi, hukum dan lain sebagainya) dan kelompok yang powerless dalam masyarakat adalah hal yang sulit dihindari. Konflik muncul sebagai reaksi hubungan antara kelompok penguasa dan kelompok lainnya tidak proporsional.

Konflik Ambon 1999 adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang jika dilihat oleh orang awam adalah peristiwa yang diawali oleh kasus kriminalitas biasa. Belakangan terlihat adanya skenario yang mempergunakan isu SARA dan faktor internal daerah, seperti kesenjangan ekonomi, diskriminasi di bidang pemerintahan dan lain sebagainya. Konflik ini berkelanjutan karena penanganan pengendalian keamanan oleh aparat tidak tuntas.

Sementara Eat, Pray and Mourn : Crime and Punishment in Jakarta menyoroti permasalahan Yeni (foto di bawah), seorang perempuan di salah satu kampung kumuh ibu kota. Yusli, adik laki-lakinya, diculik dan disiksa oleh polisi hingga meninggal dengan tuduhan pencurian sepeda motor. Dengan hukum yang tidak memihak orang kecil, maka birokrasi negara membuat polisi-polisi tersebut bebas dari hukuman.

Reporter-ya-2

Tulisan selengkapnya bisa diintip di sini : http://www.ubudwritersfestival.com/blog/perempuan-dan-perdamaian/

[Keseharian] Dangkalnya Fashion.

The most violent element in society is ignorance.  – Emma Goldman

Perempuan memakai war bonnet untuk  datang ke pesta kostum  diibaratkan memakai pakaian pendeta atau biarawati untuk berperan dalam film bokep.

Belakangan ini, dibandingkan menulis, saya (sedang) lebih suka menggambar. Maklum, lagi senang-senangnya dengan cat air, soalnya ternyata menyenangkan. Kalau mau lihat gambar-gambar yang saya bikin, intip aja instagram saya. Alah, promosi diri tanpa malu-malu :))

Anyway, sekitar minggu lalu, saya menggambar perempuan dengan war bonnet, alias headdress-nya native American. Yang terbayang di saya sih, pose mbak-mbak model majalah fashion glossy  yang memakai war bonnet. Buat saya, war bonnet itu asli keren, untuk digambar mau pun untuk dipakai. Kalau digambar, banyak bidang yang bisa diolah dan diberi pattern ala zentangle. Lalu, dari dulu saya sering membayangkan punya war bonnet lalu memakai benda tersebut di kepala dengan pelengkap dress katun putih dan sneakers. Saya tahu sih bahwa war bonnet itu adalah artefak kebudayaan native american, tapi pengetahuan saya sebatas itu saja dan alih-alih mencari tahu lebih banyak, saya memilih untuk ya sudahlah ya, keren ini.

warbonnet

War Bonnet & Teguran itu

Maka saya pun menggambar seorang perempuan, telanjang dada, dengan war bonnet seperti di samping ini. Saya suka dengan hasilnya, jadi saya upload pagi-pagi di Twitter dan Instagram. Eh, nggak sampai lima menit, kemudian ada seseorang yang merespon, ya seperti yang bisa dilihat di gambar sebelah. Waktu pertama membaca responnya, saya defensif. Terus terang aja sih, saya nggak senang apa yang saya sukai diprotes. Beberapa kali berbalas tweet, sambil sebel, akhirnya saya memutuskan untuk mendiamkannya. Iya, saya nyaris lupa dengan aturan yang saya buat sendiri : kalau sebal, jangan reaktif, hindari yang membuat sebal.

Saya pun melakukan aktivitas saya seperti biasa. Baru sore hari saya teringat bahwa saya punya handphone *alah*. Kemudian saya melihat mention teguran yang saya terima di pagi hari. Kali ini, alih-alih merasa sebal dan pengin menunjukkan sikap defensif, saya malah jadi mikir. Akhirnya googling-lah saya.

Lalu saya temukan beberapa artikel : This Means War : Why The Fashion Headdress Must Be Stopped.

Oh. Oops! Tiba-tiba saya merasa menjadi seorang bigot. Bego, bego, bego! Rasanya pengin menoyor-noyor diri saya sendiri.

Kemudian hasil penelusuran saya berlanjut ke sana dan ke mari. Dan saya pun menemukan banyak hal tentang war bonnet.

Continue Reading

[Keseharian] Jaga Perasaan Atau Makan Hati?

Because no matter what they say, you always have a choice. You just don’t always have the guts to make it.
- Ray N. Kuili, Awakening

…seberapa sering kita membiarkan diri makan hati demi menjaga hubungan baik dan perasaan orang?

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengeluh, katanya sejak masa-masa pilpres ini, atmosfer di media sosial terasa sangat negatif. Ia bilang, sulit rasanya untuk nggak ikut kesal membaca teks yang penuh kebencian bertebaran di depan mata. Saya cuma ketawa-ketawa geli menanggapi omelannya, sampai pada akhirnya dia bertanya, apa saya nggak pernah merasakan hal yang sama?

Ya memang iya sih, saya pernah merasakan hal yang sama, nggak pendukung capres no.1, nggak nomor 2, sama saja, cara menyatakan dukungannya sama-sama njelehi. Sulit rasanya untuk nggak ikut kesal membaca teks yang penuh kekerasan.

Iya, pernah. Sekarang sudah tidak lagi.

Ada satu titik di mana teks negatif itu terasa menghantui, sampai-sampai saya merasa sesak napas *lebay*, sedih, marah, bete kemudian bertanya-tanya : ini orang-orang ngomongnya pada nggak pake filter kenapa sih? Saya kenal sebagian dari mereka, dan saya tahu mereka termasuk orang yang berpendidikan tinggi. Duuh.

Serangan teks negatif itu begitu sistematis, terstruktur, masif dan traumatis *ALAH*. Untuk menenangkan situasi, rasanya ya jadi mission impossible doang. Sempet kok beberapa kali saya menyatakan nggak usah berantem, nggak usah nganu-nganu, tapi ya apa sih artinya perkataan seorang saya? Nah saat itu saya jadi berpikir, kalau nggak bisa mengubah keadaan, ya tinggalin, nggak usah mengeluh. Saya pun mengambil keputusan : unfriend manusia-manusia yang terlalu negatif di FB, unfollow akun-akun provokatif tanpa saya seleksi,mau kenal nggak kenal, mau teman/saudara atau bukan. Kelar. Dan benar, kehidupan kemudian jadi tenang.

Kawan saya kemudian bilang, apa yang saya lakukan itu sama saja dengan memutus tali silaturahmi dengan orang-orang tersebut. Ia bilang ia tidak/belum mau melakukan yang saya lakukan demi menjaga hubungan baik dan perasaan orang lain.

Ya tadinya saya berpikir yang sama, sempat sih ragu-ragu; ntar kalau orangnya kemudian kesal lalu memusuhi? Ntar gimana kalau orangnya sakit hati? Ntar orangnya jangan-jangan jadi mikir saya nggak bisa menerima perbedaan pendapat, mentang-mentang saya memilih capres yang tidak sama dengan mereka (well, padahal pada kenyataannya, mau pilih capres mana pun, kalau cara penyampaiannya violent, ya saya buang juga. HA!). Tapi karena waktu itu saya sudah ngerasa kelewat sumpek, ya sudah saya bulatkan tekad.

Nggak, saya nggak mau ngomongin copras-capres sih, tapi saya jadi berpikir, seberapa sering kita membiarkan diri makan hati demi menjaga hubungan baik dan perasaan orang (atau minimal membuat orang lain happy)?

Continue Reading

[Sosial Media] Curhat di Media Sosial? Yakin?

Just because you can say or do whatever you want doesn’t always mean you should. Freedom comes with a price. make sure you can afford it. - Rachmat Lianda

…Naif kalau berpikir bahwa kita bisa sepenuhnya percaya dengan orang-orang di media sosial, termasuk Path.

Sekitar dua malam yang lalu, kalau tidak salah, saya melihat sliweran (hasil captureupdate Path seseorang yang mengeluhkan tentang ibu hamil. Waktu saya membacanya untuk pertama kali, saya cuma mikir ‘Dih, gitu bener sama ibu hamil’, sempat sebal juga sih. Tapi berhubung banyak banget yang merespon (negatif) update-nya,  pemikiran saya mendadak berubah; dari sebal, jadi kasihan. Ya gimana nggak, saya sih mikir, gimana kalau saya yang dicecar oleh ribuan jemaat Twitter seperti itu? Pasti rasanya ih banget. Dijamin deh, pasti ia diserang dan di-judge bertubi-tubi berhari-hari karena saya lihat beberapa yang ikut serta menyebarkannya adalah nabi-nabi Twitter yang punya pengikut puluhan sampai ratusan ribu.

Mungkin inilah salah satu kelemahan INFP, gampang kasihan dan nggak suka konflik. *halah*

Untuk yang nggak tahu gimana beritanya, bisa dicek di sini (gile ya bok, sampai masuk koran, padahal itu ‘cuma’ masalah keluhan pribadi yang nggak sensitif dari seorang perempuan muda belia. :D)

Anyway, bukannya kemudian saya jadi membenarkan si Pengeluh tersebut ya? Tapi rada memihak sih iya. Dan ini bukan masalah karena saya belum pernah ngerasain gimana susahnya jadi buibu hamil ya, bok. Tapi, sebenarnya, etis nggak sih menyebarkan update dari akun seseorang dengan cara meng-capture-nya?

Selama ini kita menganggap bahwa Path adalah salah satu media sosial yang lebih private, dengan kapasitas berteman yang cuma 150 orang saja, tentu para pemilik akun bakal menyeleksi siapa-siapa saja yang akan dijadikan teman. Saya percaya banget, salah satu pemikiran seseorang ‘berteman’ dengan pemilik akun lain adalah kepercayaan. Dengan rasa ‘percaya’ itu pemilik akun Path kemudian merasa ‘aman’ untuk membagi apa pun di sana, termasuk pemikiran atau foto-foto yang provokatif.

Sejujurnya saya memang merasa sedikit lebih aman sharing hal-hal yang lebih private di Path, dengan ke-60 orang ‘teman Path’ saya, soalnya memang benar-benar saya seleksi. Cara saya menyeleksi? Ya hanya pakai intuisi; selain memang (kebanyakan sudah) teman beneran, ada juga yang cuma selewatan ketemu, tapi saya merasa orangnya aman dan nggak bakal reseh.

Kata kunci : sedikit lebih aman dan merasa orangnya aman.

Continue Reading