Suatu hari di tahun 2006 atau 2007, mendadak Melanie. salah seorang (mantan) mahasiswa saya menghampiri saya.Ia bilang, ia dan SARAF (Satuan Rakyat Film) ITHB sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yg bersifat underground*tsah*— membutuhkan satu cerita untuk dijadikan film. Waktu itu saya sempat menyerahkan sekitar 5 - 10 cerita pendek; namun yang dipilih oleh mereka adalah yang berjudul Penantian Jodoh,sebuah cerita pendek yang saya buat di jaman saya kuliah berbelas-belas tahun yang lalu (atau sekitar itulah, lupa, saking lamanya). Saya sempat melihat proses mereka syuting yang membuat kerusuhan di sebuah toko sepatu di mall bernuansa pedestrian di Bandung,berinisial C.I.W.A.L.K.(heu,inisial kok lengkap. :D)
Sebelum saya sempat melihat hasil ‘jadi’nya, saya keburu terserang kegilaan, bosan kerja dan pengen jalan-jalan dalam jangka waktu panjang.Jadi asli, itu film jadinya tahun 2007, saya baru liat beneran awal 2009. *boleh loh kalau mau mencaci maki.hihi*
Cuma selama saya di jalan, saya dua kali dapat kabar dari mereka,via e-mail bahwa film tersebut pernah ditayangkan di sebuah stasiun TV lokal Bandung dalam acara ‘Take Three’ dan nggak berapa lama kemudian, mereka mengikut sertakannya dalam sebuah festival film: Mankom Movie Award yang diadakan oleh Jurusan Manajemen Komunikasi Unisba (lokal lagi).
Katanya sih, berhasil meraih 5 penghargaan :
1. Pemeran Pembantu Terbaik (Fatima Adila)
2. Editing Terbaik (Deo, Hizkia, Sid, Tajir)
3. Ide Cerita Terbaik (Okke “Sepatu Merah)
4. Sutradara Terbaik (Hizkia)
5. Film Terbaik (produsernya SicSid)
Ini dia filmnya.
Eh tau-tau,beberapa malam yang lalu, salah seorang mantan mahasiswa menelepon, menceritakan sambil meminta maaf, karena ternyata ada seorang Nanang Putra, mahasiswa yang bersekolah di Academy of Art University di San Francisco yang tertarik untuk membuat ulang film ini, kredit diberikan pada yang terlibat di versi awalnya. (Sebenernya itu kan jadi nggak masalah, Yang gue kagak ngerti, kenapa kudu minta maaf,Mil? :D)
Anyway, ini versi ‘remake’ nya.
Jadi, jadi, coba bandingkan. Pegimana menurut anda?
..Dari orang asing dengan gelombang menggombal yang sama di dunia maya, menjadi sahabat di dunia nyata. Isn’t it awesome? :)
(Saya emang niat banget untuk bikin tulisan khusus tentang ini kalau bukunya terbit sekaligus bayar hutang karena pernah janji dengan Rahne Putri untuk membuat tulisan tentang AnjingGombal. :D )
Berhubung selama dua minggu-an kemarin saya sedikit tidak produktweet alias kurang produktif nge-tweet dan memerhatikan timeline, saya baru tahu hari ini bahwa ‘Aku Padamu : Karena Cinta Dapat Ditemukan Dalam Kata ‘ sudah terbit. (Ya,ya, cacimakilah saya.) :P
Buat yang nggak ngeh buku apaan ‘Aku Padamu’ ini, ya ini adalah buku kompilasi gombalan-gombalan yang diambil dari akun twitter @anjinggombal.
Agak lucu juga melihat pada akhirnya tweet-tweet AnjingGombal pada akhirnya serius dibukukan. (Thanks Bukune atas kesempatannya). Semua ini berkat kerelaan @rahneputri, @jonathanend, @NisanKubur, @exotrisc bersibuk-sibuk mengurusi masalah penerbitan buku kompilasi gombalan ini.
Padahal pada awalnya, anjinggombal hanyalah sebuah hashtag yang berisi keisengan belaka.
Anyway, jadi buat yang dari tadi berkerut kening dan bertanya-tanya Anjinggombal apaan sih, sini-sini, tante ceritain.
Pernah denger tipe-tipe gombalan macam ini nggak?
Kamu dulu pasti kuliahnya jurusan desain interior deh, abis begitu kamu masuk, ruangan jadi indah gini.
..atau
“Aku nggak suka aktivitas kerajinan tangan, tapi khusus buatmu, aku mau loh,belajar merajut. Merajut masa depan bersama”
…atau
Excuse me! | Yes? | You dropped something! | What? | My jaw.
Pernah dong ya pasti?
Nah ceritanya, suatu hari di bulan Oktober 2009, ada yang iseng nih, membagi gombalan-gombalan najis tralala ini di twitter. Sepertinya pepatah ‘people with the same wavelength will find one another‘ itu berlaku untuk keisengan tweet gombalan ini, karena mendadak ada dua orang yang responsif, langsung men-tweet gombalan versi masing-masing : @rahneputri dan @sugahpuff.
Selama sekitar dua minggu-an terjadilah saling sahut menyahut kegombalan. Di minggu ke-dua, gombalan mulai surut, menggombal via tweet mulai terlupa. Cuma, taunya, entah bagaimana caranya, di bulan Januari 2010, lah kok aktivitas gombal-menggombal via tweet mulai lagi? Kali ini yang ikutan menggombal semakin banyak. Tau dong ya, the more the merrier, kadang-kadang pakai janjian kalau mau menggombal.
Di tengah-tengah sahut-sahutan gombal mendadak muncul ide untuk membuat kompilasi dalam bentuk PDF dan website yang dilaunching tepat pada Valentine’s Day 2010 (Niat!).
Berkat @miund dan @deelestari yang mendadak tergoda ikutan menggombal, jadi aja, banyak orang yang ikutan mentweet dengan hashtag #anjinggombal, dan kalau dipikir-pikir sayang juga kalau tidak dikumpulkan,akhirnya dibuatlah satu akun twitter dengan nama @anjinggombal, plus fanpage di Facebook (gaya!).
Oh kalau ada yang nanya kenapa namanya anjinggombal? Ya, gimana sih reaksi Anda kalau mendengar gombalan corny, najis tralala, kalau bukan ‘Anjing,gombal banget seh!’.
….
Sebenarnya gombal-menggombal bukanlah hal yang baru. Aduh, dari jaman delapan puluhan udah ada kali. :)
Bukan gombalan-nya, tapi semua yang terjadi di balik @anjinggombal inilah yang istimewa. Saya juga baru ngeh belakangan (baik, cacimakilah saya lagi!).
Berdasarkan pengamatan saya (tsah!), awalnya para penyetor gombalan saling tidak mengenal, lalu kemudian mereka mulai mengadakan gathering beberapa kali; sampai kemudian saya membaca entry demi entry di tumblr-nya @exotrisc yang diberi tag anjinggombal. Mereka bersahabat. Bersahabat baik.
Dari orang asing dengan gelombang menggombal yang sama di dunia maya, menjadi sahabat di dunia nyata. Isn’t it awesome? :) Somehow saya merasa, anjinggombal ini adalah keisengan yang membawa kebahagiaan dan berujung pada persahabatan. :)
Ini yang membuat adanya penolakan terhadap ide beberapa orang untuk mengkomersilkan ‘AnjingGombal’ menjadi sebuah buku. Apa yang tadinya untuk senang-senang,ketika dikomersilkan tentu akan kehilangan kesenangannya.
Cuma pemikiran berubah karena mendadak muncul ide, jika anjinggombal dibukukan, royaltinya kan bisa didonasikan untuk orang-orang yang membutuhkan. Well, sebuah ide yang bagus, kalau awalnya anjinggombal adalah keisengan yang membawa kebahagiaan dan berujung pada persahabatan bagi sebagian kecil orang, kenapa nggak berbagi kebahagiaan pada orang lain?
Yup, royalti dari penjualan AnjingGombal The Book, Aku Padamu : Karena Cinta Dapat Ditemukan Pada Kata’ sepenuhnya disumbangkan kepada yayasan Tunas Cendekia (bisa dilihat di sini).
Terima kasih buat para penggombal yang rela gombalannya dimasukkan ke dalam buku kompilasi ini. Semoga anjinggombal bisa membawa kebahagiaan bagi mereka di luar sana.
Dan sebagai penutup entri ini : BELI DONG AH!
Penampakan Buku 'Aku Padamu' (foto nyolong dari FBnya Rahne Putri)
…cara mempersepsi seseorang terhadap sesuatu itu rumit, tidak mungkin kita mengendalikan masing-masing individu agar persepsinya seragam dan sesuai dengan yang kita mau. Bisa sih, dicoba, kalau mau frustasi sih.
Pernah ngalamin sudah berbaring manis dan bersiap-siap tidur sambil twitteran memakai handphone, eh mendadak menemukan tautan yang menarik di timeline anda, ketika Anda klik, ternyata tautan itu memang beneran menarik dan membuat Anda merasa wajib untuk bangun, ngidupin komputer, supaya lebih puas browsing?
Saya pernah.
Eh.. sering,ding. :)
Salah satunya adalah dua malam yang lalu. Mendadak tweet beberapa orang di timeline saya menggunakan hashtagyang sama. Salah satu dari tweet-tweet tersebut memuat tautan ke halaman goodreads; yang berisi review sebuah novel terbitan Gramedia Pustaka Utama plus diskusi seru tentang novel tersebut. Boleh dikatakan bahwa reviewnya agak nyilet,ya. Yang menarik dari review itu adalah terlibatnya sang penulis dalam diskusi tersebut. Terlihat jelas bahwa sang penulis berusaha (keras) untuk menjelaskan tentang (jalan cerita) novelnya dan terkesan sangat defensif, bahkan ujung-ujungnya agak ofensif. (eh nulisnya bener ga sih?)
Kasus seperti ini jarang saya temui — atau mungkin saya saja yang kuper. Selama ini yang sering saya lihat adalah, mau reviewnya negatif maupun positif, nyilet maupun muji, penulis sama sekali tidak terlihat batang hidungnya dalam review novelnya, atau muncul hanya untuk mengucapkan terima kasih, atau berkomentar seperlunya. Tidak pernah sampai dengan niatnya membela mati-matian novelnya.
Ada dua hal yang terpikir ketika memerhatikan kasus ini. Pertama, bisakah kita membuat SEMUA orang menyukai (karya) kita? Well, boleh saja usaha, kalau rela jadi gila sih. Karena setiap individu itu memiliki ragam latar belakang dan pengalaman, yang membentuk cara ia mempersepsikan segala sesuatu. Ada contoh yang sangat sederhana yang pernah saya ajukan dalam mata kuliah Psikologi Persepsi yang saya dan kawan saya ampu, waktu itu saya dan kawan saya membuat daftar benda-benda yang mudah ditemui di sekitar kita dan mahasiswa kami suruh untuk menuliskan apa pun yang terlintas saat benda-benda tersebut disebut.
…sejak kecil manusia telah dibiasakan untuk homogen. Berperilaku seragam. Memiliki pola pikir seragam. Coba deh, kalau ada individu yang berani melenceng dari keseragaman itu, pasti dicap ‘aneh’ dan dicemooh.
Oke, mari kita membincangkan tentang rambut. Oh, bukan tentu bukan tentang rambut saya yang salah potong dan membuat saya diledek ‘Hello,Joan Jett!’ oleh sejuta umat. (Nggak tau Joan Jett? Googling!). Tapi tentang eksperimen saya di bulan Februari lalu.
Jadi suatu hari saya menemukan artikel ini ; dalam artikel ini disebutkan tentang lima orang perempuan yang ditantang untuk tidak memakai shampoo selama 6 minggu. Sebenarnya ‘tidak memakai shampoo’ ini bukan hal baru — ada sebuah metode pembersihan rambut yang disebut ‘no poo‘, yang kebanyakan dijalani dengan pemikiran betapa berbahayanya sodium lauryl sulfate atau laureth sulfate yang terkandung dalam shampoo komersial yang biasa kita pakai, bagi diri kita, maupun lingkungan. Oh ya, tidak memakai shampoo bukan berarti tidak membersihkan rambut ya, tapi bisa menggunakan air saja, bahan-bahan alami atau hanya conditioner saja.
Jujur saja, sebenarnya memikirkan tidak memakai shampoo itu agak mengerikan buat saya. Saya memiliki ketergantungan dengan aktivitas keramas dan bershampoo — Seriously. Saya lebih memilih untuk tidak mandi dibandingkan tidak keramas; pokoknya, nggak bisalah kalau nggak keramas.
Awalnya saya berpikir, nggak mungkin deh,hal tersebut saya lakukan. Tapi justru tepat setelah saya pikir ‘nggak mungkin’, mendadak muncul pertanyaan baru : masa gitu aja nggak bisa sih? Lembek amat?
Karena saya adalah semacam mahluk yang dalam bahasa Prancis-nya mbung elehan (nggak mau kalahan) — sama orang saja saya nggak mau kalah, masa pada benda saya sudi kalah? — maka saya pun memulai tantangan tidak memakai shampoo selama enam minggu. Untuk membuktikan bahwa saya tidak kalah oleh shampoo. Ini sama lah seperti tantangan seminggu tanpa internet.
Dan karena dasarnya saya memiliki jiwa berbagi (memperhalus kata pamer) yang sudah mendarah daging, maka saya pun mentweet tantangan yang saya lakukan dan saya beri hashtag #6wwsc (singkatan dari : 6 weeks without shampoo challenge) bahkan saya buat juga blog-nya di tumblr. Ini URL-nya : http://6wwsc.tumblr.com. Jadi nggak perlulah ya saya ceritakan gimana perkembangannya, baca saja di situ.
Yang mau saya bahas di sini adalah reaksi orang-orang yang membaca tweet tentang #6wwsc. Banyak ragam reaksi yang saya terima - ada yang langsung mengikuti dengan spontan tanpa tanya-tanya, seperti arhcamt, dygbi, nitasellya dan dyanti (Suka gue sama yang impulsif seperti kalian. Nyebur sumur yuuk! *eh?*). Ada yang penasaran; mempertanyakan soal berminyak, soal bau dan lain lain (yang sebenarnya teknis banget ya, bisa ditangani kok), ada yang ingin mengikuti tapi takut tidak bertahan. Dan… ada yang mencemooh.
Ada tuh yang bilang, ntar dekil dan gimbal kayak orang gila,lah. Bikin polusi udara,lah. Ada yang nyebut ‘ih rambutnya pasti banyak kecoak.’ - Ya namanya sudah bertekad bulat nggak mau terkalahkan shampoo, jadi omongan seperti itu nggak ngaruh kali ya.
Oh, nggak, saya nggak mau ngomongin soal tantangan 6 minggu tanpa shampoo itu, itu sih cuma iseng, bukan hal yang penting. Tapi selama menjalani eksperimen iseng itu saya jadi banyak berpikir tentang ‘menjadi/melakukan hal yang berbeda’.
Homogenitas. Bahwa sejak kecil manusia telah dibiasakan untuk homogen. Berperilaku seragam. Memiliki pola pikir seragam. Coba deh, kalau ada individu yang berani melenceng dari keseragaman itu, pasti dicap ‘aneh’ dan dicemooh.
Jaman SD dulu, saya ingat pernah menggambar orang bertangan lima, atau bunga yang sangat besar dan menelan orang yang berani mendekatinya. Dan tahu apa yang saya alami? Saya ditegur guru, katanya ‘Gambar kamu salah, lihat dong, nggak ada orang yang gambarnya kayak kamu…‘ . Dan untuk amannya saya pun menggambar gunung kembar, persawahan, awan-awan dan matahari muncul dari tengah gunung, kadang saya bikin mataharinya memiliki muka, cuma mungkin matahari bermuka tidak seaneh orang bertangan lima kali ya? Jadi saya tidak ditegur.
Yang repot kalau kemudian stereotip (negatif) ini ditindak lanjuti menjadi purbasangka terhadap seseorang, yang berbuah pada perilaku antipati
Beberapa waktu yang lalu saya ke salon, untuk potong rambut. Saya harus menunggu sejenak, karena kebetulan seluruh mbak-mbak yang biasa memotong rambut saya sedang menangani pelanggan yang telah datang sebelum saya. Baru sekitar 5 menit menunggu, datanglah seorang ibu yang menggandeng — menyeret, tepatnya — seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih 5 tahun-an. Si bocah manyun. Ia dan ibunya duduk di samping saya.
Dari hasil perngupingan, saya menyimpulkan bahwa si bocah nggak mau dipotong rambutnya. Si anak terus merengek dan merengek dan merengek dan merengek, yang membuat saya bersyukur, nggak punya anak. Pusing kali ya bok. Tapi yang membuat saya tertarik adalah salah satu kalimat dari ibunya :
“Tau nggak sih, kamu cowok, cowok rambutnya harus pendek. Cowok yanggondrong itu penjahat.”
Nah sampai sini, tanpa bisa ditahan saya menoleh pada si ibu sambil mengerutkan kening.
Yang gondrong, penjahat katanya?
Yah, mungkin nih, si ibu itu hanya ingin agar anaknya berambut pendek rapi, supaya tidak bermasalah di sekolahnya, tapi menyebutkan bahwa Cowok yanggondrong itu penjahat, agak-agak bahaya nggak sih?
…Dan pada dasarnya, TV itu memang TIDAK PERNAH menampilkan realitas tapi hanya sense of reality.
Boleh dibilang saya termasuk orang yang juwarang (saking jarangnya) menonton TV. Bukannya apa-apa, tapi saya memang kurang betah berdiam lama di depan TV. Seringnya saya kesal kalau menonton terpotong tayangan iklan, bawaannya ngomel. Mana iklan-iklan seringnya muncul sejembreng, apalagi untuk acara yang berrating tinggi, pernah lho, saya menghitung jumlah iklan untuk acara yang lagi happening : lebih dari dua puluh! Duh, Gusti.
Update berita-berita terkini biasanya saya dapatkan dari ibu saya. Atau selewatan kalau misalnya orang rumah sedang menonton TV dan kebetulan saya lewat di depan TV.
Beberapa minggu yang lalu, saat saya melewati TV, kebetulan sedang ditayangkan acara infotainment yang mengabarkan kehebohan kisah Krisdayanti - Raul - Anang - Syahrini dan siapa tuh, istrinya Raul? Ya pokoknya dia-lah.
Gak ada kisah yang nyangkut sih waktu itu. Tapi saya kerap mendengar komentar maupun pembahasan orang-orang di sekitar saya tentang drama ini. Begitu banyak hipotesa bahkan kesimpulan-kesimpulan tentang mereka, yang kerap membuat saya gatal ingin berkomentar : ” Mbak, Bu, sodaraan ya sama Krisdayanti dan Anang? Kedengarannya kenal beneeeur…”
Tadi sore,kebetulan saya harus check-up sesuatu ke dokter. TV di ruang tunggu tempat praktik dokter tersebut menayangkan acara infotainment. Saya takjub karena infotainment tersebut mengabarkan masalah Krisdayanti - Raul - Anang - Syahrini dan si-dia-yang-saya-nggak-tau-namanya.
Yaoloo… MASIH ???
Tetap tidak ada komentar untuk tayangan tersebut. Cuma saya jadi nguping pembicaraan ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di ruang tunggu tersebut selama tayangan. Sumpah, daripada mendengar tayangannya, lebih rame mendengar komentar mereka!
“Tapi dia repot kan? Itu balasan dari ketidaksetiaannya…”
“Kesabaran Anang dan kebaikan Anang dapet hadiah. Krisdayantinya masih ribut, Anang mah udah nyante-nyante aja sama Syahrini.”
Anyway, bagi saya pribadi, lucu saja, hanya dengan melihat kolase tayangan-tayangan di televisi, para penikmat infotainment tersebut merasa sudah mengetahui realitas yang terjadi secara menyeluruh. Yuk mari.
…Emansipasi, jatuhnya hanya di tataran aktivitas fisik saja. Ngangkat tas berat-lah, jadi tukang becak-lah, nraktir cowok-lah. Padahal soal ’sama kuat secara fisik’ ya nggak ada urusannya dengan emansipasi.
Terus terang saja, beberapa tahun belakangan ini saya kurang berminat dengan kata ‘emansipasi’ dan perayaan Hari Kartini (Waduh, dimarahin deh sama pahlawan pembela perempuan. Hehe). Lagian emansipasi yang sekarang ini bukannya emansipasi musiman? Tanggal 21 April aja, panen deh kata emansipasi. Hari-hari lain? Ke mana aja?
Cuma hari ini saya tergelitik untuk menulis (sekalian posting lagi, sudah lama banget ya saya nggak posting?)
Gara-garanya, hari ini mendadak status FB atau twitter dari kebanyakan perempuan mengandung kata ‘emansipasi’. Nggak apa-apa juga sih . Nah, yang menggelikan adalah balasan dari status ‘emansipasi’ tersebut; ‘Perempuan ngomongin emansipasi, kalau disuruh genjot becak mau nggak?’ (atau aktivitas fisik sejenis,lah)
Awalnya saya cuma cengar-cengir saja, basi amat - pikir saya. Cuma, barusan banget saya mencuri dengar percakapan sejenis, sewaktu saya makan di sebuah pujasera. Seorang perempuan bersemangat ngomongin emansipasi, lalu teman-teman prianya mendadak bilang ‘Emansipasi, emansipasi, kalo tas berat dikit, minta tolong.”
Jah. Jadi saja, saya terdorong untuk menulis lagi :D
Coba tanya deh, apakah saya mau menjadi tukang becak (atau kuli bangunan dan sejenisnya), saya bakal menjawab dengan sukarela dan lantang : NGGAK!
Bayangkan, aset saya mampu mengontrol pikiran para Ksatria Fantasi Bertissue itu, sampai bela-belain meninggalkan aktivitas mereka di hari Sabtu pagi, demi mendengar siaran saya secara religius
Jadi begini , suatu hari beberapa minggu yang lalu, teman saya, mendadak called saya. Dia bilang dia gerah dengan timeline twitter-nya setiap Sabtu pagi. Tadinya saya nggak ngeh, after she told me, I’ve just realized, kalau Sabtu pagi itu ternyata jam-nya saya siaran.
Oh hai, perkenalkan, I am FQ, saya penyiar anda di program AlaTukangKebun di TRANSmigrasi Radio. Hari Sabtu pagi, don’t miss it, ya.
Anyway, kembali ke teman saya. Menurutnya, dia merasa terganggu dengan komentar bokep-nanggung* 140 karakter yang muncul di timeline-nya sepanjang acara siaran saya. Dan semuanya, about me. Kemudian she showed me the tweets.
Okay. Tweet fantasi.
Dan mereka bawa-bawa tissue.
Oh well.
Kata teman saya, ini gara-gara suara saya, suara saya mampu membuat pria-pria berfantasi. Fantasi jorok.
Oh well. I was born with it! Sudah nggak bisa dirubah lagi. Dan, bukannya saya nggak tahu itu. Produser saya once told me about that. Itu aset saya dan membawa kebaikan untuk program AlaTukangKebun. Saya sih, tidak masalah, hey it’s business,anyway.
Let me tell you something, ini bisnis dan dalam bisnis kami harus bersaing, kami harus menambah ’sesuatu’ dalam acara kita supaya tidak kalah saing, selain dengan konsep, menggunakan aset saya juga no problem. Soalnya,kalau dipikir-pikir, program radio berkebun itu kan bukan ide baru, dari dulu sudah ada acara-acara semacam ini, yang paling saya ingat sih, acara yang dibawakan oleh Yudi Choiyudin. Malah, di dekat jam-jam siaran saya, ada tuh acara GardenBabe.
Yes, yang penting, pendengar acara ini banyak. Entah untuk berfantasi dengan tissue-nya, entah pula memang untuk benar-benar mempelajari cara berkebun.
Saya pikir, kasus ini sudah selesai. Tapi ternyata kemarin Sabtu, jadi ramai. Mereka-mereka yang senang berfantasi dengan tissue-nya dikritik, menurut pengkritik, para tukang fantasi itu telah melakukan pelecehan seksual. Mereka bilang, saya adalah korban pelecehan seksual. Lalu semua ramai, saling pro dan kontra.
Berhubung saya tahu-nya hanya soal berkebun, bagi saya yang namanya sexual harassment atau pelecehan seksual adalah satu perilaku yang mengarah ke urusan seksual yang ditujukan pada individu, sehingga yang bersangkutan merasa tidak nyaman, secara emosional dan psikologis.
…. hal ini membuat ‘tokoh spiritual’ dan sebangsa ‘motivator kehidupan’ atau penulis buku-buku swabantu* menjadi satu pekerjaan menarik untuk menangguk keuntungan banyak :)
Memang ya, twitter itu bikin orang yang sebenarnya nggak begitu tertarik dengan perkembangan dunia —seperti saya— mau nggak mau ‘terpaksa’ mengikuti-nya. Gimana enggak, seluruh berita terjembreng di timeline saya dengan variasi rangkaian 140 karakter yang menarik, yang seringnya membuat saya penasaran, dan mengklik tautan menuju sumber berita yang terpercaya.
Nah beberapa malam yang lalu, tanpa sengaja saya melihat tweet seseorang yang menyebutkan nama AK, seorang tokoh spiritual kondang yang dituduh melakukan pelecehan seksual yang melibatkan murid-muridnya. Saya nggak tau, berita itu benar atau tidak, tapi entah kenapa, saya langsung teringat beberapa kasus ‘miring’ yang dilakukan oleh orang-orang berprofesi serupa yang terjadi belakangan ini. Mulai dari kasus kepleset omong ngetweet yang dilakukan moderator seorang motivator kondang, kasus pendeta pujaan sejuta umat yang dikabarkan bercerai sampai kasus Dai dan poligami yang pernah heboh beberapa tahun yang lalu.
Sebenarnya peristiwa-peristiwa ‘miring’ itu sama sekali nggak ada ngaruhnya sih di saya. Soalnya saya nggak pernah memuja mereka. Cuma, ada yang menarik bagi saya, dan tentu saja bukan soal keplesetnya mereka,melainkan reaksi dari masyarakat.
Masyarakat umum membicarakan perkara tersebut dengan hebohnya, sampai-sampai kasus ini sudah seperti bencana nasional banget. Banyak banget yang mengatakan : ‘Tokoh spiritual/motivator kok gitu…”.Dan orang-orang yang tadinya adalah groupiesnya kemudian patah hati.
Untuk kasus pendeta yang bercerai, kebetulan seorang kawan adalah pemuja tokoh tersebut. Setiap saat bertemu dengannya, kalau pembicaraan menyangkut ke urusan spiritual atau kerohanian, pasti nama pendeta tersebut kesebut lagi, kesebut lagi. Begitu saya tunjukkan berita tentang kasus perceraiannya, saya bisa melihat kawan saya itu merasa pahit dan kecewa.Masih untung semangatnya di soal rohani dan spiritual nggak mendadak loyo. :)
“Ih, tapi gue kan ga ikut-ikutan komen jahat di HottaLotta?’ protesnya.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah terlibat pembicaraan mengenai bullying. Seorang rekan protes karena anaknya yang masih SD kelas 1 mengalami tindakan bullying di sekolahnya. Dan dia pun menistakan tindakan macam itu. Saya yang mendengarnya jadi tertawa sendiri, karena tepat beberapa hari sebelumnya, saya menerima e-mail darinya yang merekomendasikan sebuah blog.
Sebenarnya, bukan dia doang sih yang mengirimi saya URL blog tersebut, ada kali sekitar lima e-mail bernada sama. Seluruh e-mail tersebut diberi pengantar kurang lebih sama : ‘Liat deh, lumayan buat ketawa-ketawa.’ atau ‘hiburan hari ini’.
Blog yang dimaksud adalah blog milik Tara, yang beralamatkan di http://hottalotta.blogspot.com . Kebetulan hari itu saya sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk memerhatikan secara seksama si hottalotta ini. Saya cuma melihat sekilas. Another fashion blog. Tanpa bermaksud menjadi party pooper, saya nggak merasa ada yang lucu di blog milik Tara, yang bermimpi menjadi fashion stylist dan fashion designer. Saya cuma merasa bahwa segala outfit dan pose yang terdisplay itu aneh. Mungkin ini selera humor saya saja ya, buat saya ‘aneh’ itu nggak lucu dan lucu itu nggak harus aneh.
Baru sekitar beberapa hari kemudian, karena beberapa kali membaca link atau nickname sang empunya blog di timeline twitter saya, juga gara-gara mendapat e-mail lagi, yang merekomendasikan blog itu lagi, dengan kata pengantar ‘Gue dari ketawa-ketawa sampai miris bacanya’, saya jadi tertarik dan mulai meneliti satu demi satu entri-nya.
Dan memang miris sekali membaca komentar-komentar di sana, yang didominasi oleh mahluk-mahluk bernama ‘anonymous’ . Seriously, jahat sekali. Semuanya berisi celaan dan hinaan. Dari celaan taste, fisik dan intelejensia; dan dengan kata-kata yang menurut saya nggak difilter sama sekali.
Mendadak saya jadi teringat kasus Ophi A Bubu. Kalau ada yang belum tahu Ophi A Bubu siapa; dia adalah seorang remaja yang gemar menulis dengan bahasa Alay di notes-notes Facebook-nya. Untuk saya pribadi, tulisan dengan bahasa ini cukup ganggu, karena saya nggak terbiasa membaca ‘aku’ jadi ‘aquwh’, ‘kamu’ jadi ‘kmuwh’, ‘mau’ jadi ‘mawh’ etc. Ophi A Bubu ini mendadak kondang gara-gara notes-notesnya, sampai-sampai entah siapa ada yang dengan niatnya membuat semacam fanpage, yang tentunya isinya celaan-celaan sadistis. (Cuma barusan dicari-cari sudah nggak ada)
Satu hal yang sama yang terlintas dalam benak saya melihat kasus HottaLotta dan Ophi A Bubu adalah : bullying.
Istilah bullying ini berarti adalah perilaku menyerang berulang-ulang yang di arahkan pada orang lain secara sengaja, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Tindakan ini dimaksudkan untuk menyakiti target, membuat target menjadi powerless - sekaligus membuat pelaku merasa berkuasa. Semacam penindasan lah. Yang jelas, bagi pelaku, tentu menyenangkan, tapi bagi korban? Yang ekstrim, korban bisa mengalami gangguan mental/perilaku, bisa jadi stress dan depresi (Saya jadi mikir, ini pelaku apa nggak bisa menempatkan diri di posisi korban apa?)
Anyway, kasus bullying ini kayaknya sudah nggak asing lagi deh. Beberapa kali saya melihat perilaku bullying ini di beberapa film, terutama film remaja, Bridge of Terabithia, adalah salah satu film terakhir yang saya tonton yang ‘mengandung’ kasus bullying di dalamnya. Mungkin di sinetron remaja di TV Indonesia banyak juga kasus bullying/gencet-gencetan, nggak tau juga, soalnya sekarang saya termasuk jarang nonton TV lokal. Yang saya ingat sih salah satu adegan sinetron Bidadari yang dibintangi oleh Marshanda jaman dulu. Lalu ada satu lagi, film Barb13 yang dibintangi oleh (CMIIW) Tikam, Cathy Sharon dan Desta Club80s.