...hidup adalah taman bermain raksasa yang harus dijelajahi. Jadi, bermainlah!

Tokoh Spiritualku Sayang, Tokoh Spiritualku Malang.

Posted: March 2nd, 2010 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 8 Comments »

…. hal ini membuat ‘tokoh spiritual’ dan sebangsa ‘motivator kehidupan’ atau penulis buku-buku swabantu* menjadi satu pekerjaan menarik untuk menangguk keuntungan banyak :)

Memang ya, twitter itu bikin orang yang sebenarnya nggak begitu tertarik dengan perkembangan dunia —seperti saya—  mau nggak mau ‘terpaksa’ mengikuti-nya. Gimana enggak, seluruh berita terjembreng di timeline saya dengan variasi rangkaian 140 karakter yang menarik, yang seringnya membuat saya penasaran, dan mengklik tautan menuju sumber berita yang terpercaya.

Nah beberapa malam yang lalu, tanpa sengaja saya melihat tweet seseorang yang menyebutkan nama AK, seorang tokoh spiritual kondang yang dituduh melakukan pelecehan seksual yang melibatkan murid-muridnya. Saya nggak tau, berita itu benar atau tidak, tapi entah kenapa, saya langsung teringat beberapa kasus ‘miring’ yang dilakukan oleh orang-orang berprofesi serupa yang terjadi belakangan ini. Mulai dari kasus kepleset omong ngetweet yang dilakukan moderator seorang motivator kondang, kasus pendeta pujaan sejuta umat yang dikabarkan bercerai sampai kasus Dai dan poligami yang pernah heboh beberapa tahun yang lalu.

Sebenarnya peristiwa-peristiwa ‘miring’ itu sama sekali nggak ada ngaruhnya sih di saya. Soalnya saya nggak pernah memuja mereka. Cuma, ada yang  menarik bagi saya, dan tentu saja bukan soal keplesetnya mereka,melainkan reaksi dari masyarakat.

Masyarakat umum membicarakan perkara tersebut dengan hebohnya, sampai-sampai kasus ini sudah seperti bencana nasional banget. Banyak banget yang mengatakan : ‘Tokoh spiritual/motivator kok gitu…”.Dan orang-orang yang tadinya adalah groupiesnya kemudian patah hati.

Untuk kasus pendeta yang bercerai, kebetulan seorang kawan adalah pemuja tokoh tersebut. Setiap saat bertemu dengannya, kalau pembicaraan menyangkut ke urusan spiritual atau kerohanian, pasti nama pendeta tersebut kesebut lagi, kesebut lagi. Begitu saya tunjukkan berita tentang kasus perceraiannya, saya bisa melihat kawan saya itu merasa pahit dan kecewa.Masih untung semangatnya di soal rohani dan spiritual nggak mendadak loyo. :)

Read the rest of this entry »


HottaLotta And Cyber-Bullying

Posted: December 21st, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 23 Comments »

“Ih, tapi gue kan ga ikut-ikutan komen jahat di HottaLotta?’ protesnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah terlibat pembicaraan mengenai bullying. Seorang rekan protes karena anaknya yang masih SD kelas 1 mengalami tindakan bullying di sekolahnya. Dan dia pun menistakan tindakan macam itu. Saya yang mendengarnya jadi tertawa sendiri, karena tepat beberapa hari sebelumnya, saya menerima e-mail darinya yang merekomendasikan sebuah blog.

Sebenarnya, bukan dia doang sih yang mengirimi saya URL blog tersebut, ada kali sekitar  lima e-mail bernada sama. Seluruh e-mail tersebut diberi pengantar kurang lebih sama : ‘Liat deh, lumayan buat ketawa-ketawa.’ atau ‘hiburan hari ini’.

Blog yang dimaksud adalah blog milik Tara, yang beralamatkan di http://hottalotta.blogspot.com . Kebetulan hari itu saya sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk memerhatikan secara seksama si hottalotta ini. Saya cuma melihat sekilas. Another fashion blog. Tanpa bermaksud menjadi party pooper, saya nggak merasa ada yang lucu di blog milik Tara, yang bermimpi menjadi fashion stylist dan fashion designer. Saya cuma merasa bahwa segala outfit dan pose yang terdisplay itu aneh. Mungkin ini selera humor saya saja ya, buat saya ‘aneh’ itu nggak lucu dan lucu itu nggak harus aneh.

Baru sekitar beberapa hari kemudian, karena beberapa kali membaca link atau nickname sang empunya blog di timeline twitter saya, juga gara-gara mendapat e-mail lagi, yang merekomendasikan blog itu lagi, dengan kata pengantar ‘Gue dari ketawa-ketawa sampai miris bacanya’, saya jadi tertarik dan mulai meneliti satu demi satu entri-nya.

Dan memang miris sekali membaca komentar-komentar di sana, yang didominasi oleh mahluk-mahluk bernama ‘anonymous’ . Seriously, jahat sekali. Semuanya berisi celaan dan hinaan. Dari celaan taste, fisik dan intelejensia; dan dengan kata-kata yang menurut saya nggak difilter sama sekali.

Mendadak saya jadi teringat kasus Ophi A Bubu. Kalau ada yang belum tahu Ophi A Bubu siapa; dia adalah seorang remaja yang gemar menulis dengan bahasa Alay di notes-notes Facebook-nya. Untuk saya pribadi, tulisan dengan bahasa ini cukup ganggu, karena saya nggak terbiasa membaca  ‘aku’ jadi ‘aquwh’, ‘kamu’ jadi ‘kmuwh’, ‘mau’ jadi ‘mawh’ etc. Ophi A Bubu ini mendadak kondang gara-gara notes-notesnya, sampai-sampai entah siapa ada yang dengan niatnya membuat semacam fanpage, yang tentunya isinya celaan-celaan sadistis. (Cuma barusan dicari-cari sudah nggak ada)

Satu hal yang sama yang terlintas dalam benak saya melihat kasus HottaLotta dan Ophi A Bubu adalah : bullying.

Istilah bullying ini berarti adalah perilaku menyerang berulang-ulang yang di arahkan pada orang lain secara sengaja, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Tindakan ini dimaksudkan untuk menyakiti target, membuat target menjadi powerless - sekaligus membuat pelaku merasa berkuasa.  Semacam penindasan lah. Yang jelas, bagi pelaku, tentu menyenangkan, tapi bagi korban? Yang ekstrim, korban bisa mengalami gangguan mental/perilaku, bisa jadi stress dan depresi (Saya jadi mikir, ini pelaku apa nggak bisa menempatkan diri di posisi korban apa?)

Anyway, kasus bullying ini kayaknya sudah nggak asing lagi deh. Beberapa kali saya melihat perilaku bullying ini di beberapa film, terutama film remaja, Bridge of Terabithia, adalah salah satu film terakhir yang saya tonton yang ‘mengandung’ kasus bullying di dalamnya. Mungkin di sinetron remaja di TV Indonesia banyak juga kasus bullying/gencet-gencetan, nggak tau juga, soalnya sekarang saya termasuk jarang nonton TV lokal. Yang saya ingat sih  salah satu adegan sinetron Bidadari yang dibintangi oleh Marshanda jaman dulu. Lalu ada satu lagi, film Barb13 yang dibintangi oleh (CMIIW) Tikam,  Cathy Sharon dan Desta Club80s.

Read the rest of this entry »


Celoteh Bocah Project

Posted: December 17th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: keseharian | 4 Comments »

Kalau nguping jakarta, ngupingin celoteh orang-orang dewasa, nah kalau ‘Celoteh Bocah Project’ ini, ya jelas celoteh para bocah yang dimuat.

Heu,gara-gara lupa bayar, http://lajangdanmenikah.com sudah 3 hari ini off. Sedang diurus, supaya bisa kembali ‘bener’. Untuk sementara, buka saja http://lajnmen.blogspot.com (Iya, tau, jelek bener namanya :D)

Anyway, ceritanya lajangdanmenikah.com membuka satu project baru nih, yaitu project Celoteh Bocah. Ide awalnya karena kami sering banget denger anak-anak itu mengatakan sesuatu yang bikin ketawa, jadi kami pikir, lucu juga kalau kelucuan-kelucuan celoteh bocah tersebut dikumpulkan. Kalau nguping jakarta, ngupingin celoteh orang-orang dewasa di Jakarta, nah kalau ‘Celoteh Bocah Project’ ini, ya jelas celoteh para bocah yang dimuat, bocah di mana saja.

Nah, project ini terbuka bagi semua orang. Asli siapa saja boleh ikutan.

Caranya, kalau misalnya kebetulan anda mendengar anak-anak anda atau keponakan anda, atau anak-anak teman anda mengatakan sesuatu yang lucu/ kocak/ sweet, kalian bisa mengirim e-mail ke lajangdanmenikah@gmail.com, sertakan nama pengirim (dan blognya kalau ada), nama dan umur sang bocah. Kalau mau masukin foto anaknya juga boleh. :) Umur bocah sampai kurang lebih kelas 6 SD ya, lewat dari situ soalnya udah pra-remaja. Oh iya, jangan lupa tulis : Celoteh Bocah di subject e-mailnya ya.

Celoteh bocah ini bakal ditampilkan setiap Sabtu, di lajangdanmenikah.com :)

Ditunggu ya…


Malam Kudus : Banyak Tikus, di Rumah Yesus.

Posted: December 9th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 22 Comments »

Kenapa juga ya saya dulu mesti kesinggung? Siapa tau di rumah Yesus memang benar ada tikusnya. :D

Saya mencintai  atmosfer jelang Natal. Mungkin ini terdengar kekanak-kanakan sekali, tapi gimana dong, saya memang suka melihat  segala macam atribut hijau, merah, emas dan putih di mana-mana. Saya suka melihat gambar atau boneka Sinterklas di sana-sini, biarpun sejujurnya saya menganggap Bapak tua berjanggut dan berpiyama merah bulu putih itu nggak kontekstual banget dengan Indonesia. Saya suka momen bersama-sama berburu kado Natal dan membungkusnya. (Oh, tentu saja, Natal —seperti hari raya lainnya — adalah excuse yang baik untuk bersikap konsumtif. Ha!). Saya suka bersama-sama memasang dan menghias pohon Natal dengan Ayah, Ibu dan Nenek (yang sudah 3 tahun - termasuk tahun ini- kelewat melulu). Saya suka membuat kue kering dengan Ibu dan Nenek saya (kalau Ibu nggak males). Saya suka reuni keluarga dan seterusnya-dan seterusnya.

Oh hampir lupa, saya juga suka lagu-lagu Natal londho dengan berbagai versi. Rudolph The Red Nosed Reindeer. I saw Mommy Kissing Santa Claus. O Holy Night, atau lagu kojo yang sepertinya semua orang, sampai yang non Kristen pun tahu : Silent Night atau Malam Kudus.

Ngomong-ngomong soal Silent Night atau Malam Kudus, saya jadi ingat jaman-jaman SD, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Waktu itu saya mengikuti kegiatan Pramuka, saat jeda latihan semaphore, seperti biasa saya ngumpul-ngumpul dengan teman-teman. Ada beberapa teman yang duduk berkelompok sambil cekikikan. Penasaran dong si saya ini; saya mendekati mereka. Anehnya, begitu melihat saya, mereka terdiam.

“Ada apa sih? Ada apa sih?” tanya saya dengan nada mau tauuu aja.

Selama beberapa saat, mereka menyembunyikan hal yang membuat mereka senang. Kesal dong, kesannya mereka menyembunyikan sesuatu dari saya. Manyunlah saya. Saya memaksa teman terdekat saya untuk bercerita. Awalnya ia masih bungkam. But I always get what I want *belagu*, dengan cara yang saya sendiri lupa, akhirnya, jelang waktu berlatih lagi, mendadak ia berbisik,”Jangan marah ya, tadi kita nyanyi-nyanyi.”

“Nyanyi apa?”

“Malam Kudus.”

Lho? Ngapain juga mereka menyanyikan lagu Malam Kudus, padahal waktu itu bukan Desember dan setahu saya mereka tidak merayakan Natal.

“Tapi dirubah liriknya…”

“Jadi gimana?”

“Tapi jangan marah yaaaa…” wajahnya tampak kuatir.

“Enggak! Cepetan!”

Dan teman saya pun, dengan lirih bersenandung sambil tertakut-takut,” Malam kudus…. banyak tikus… di rumah Yesus…”

Oke. Dan saya pun merasa sangat marah.  Teman saya sampai bilang,”Tuuu kan, tau gitu aku nggak bilang…”

Selama sekitar dua minggu saya menjauh dari mereka, sampai mereka meminta maaf.

Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, tolol juga rasanya ya? Ngapain juga saya merasa tersinggung lagu ‘Malam Kudus’ digubah dengan kreatif dan walaupun nadanya nggak masuk dan maksa banget, tapi berima seperti itu? Memangnya saya penciptanya? Apa ada aspek kehidupan saya yang dirugikan gara-gara lagu tersebut dibuat parodi? Ya enggak juga.

Konyol binti Tolol aja.

Ada contoh kasus lain, dulu saya menggemari New Kids On The Block mati-matian. Saya pernah berantem dengan seorang teman laki-laki yang mengata-ngatai boysband 90-an ini banci. Berantem beneran. Saya masih ingat garis-garis bekas cakaran saya di lengan teman laki-laki saya itu dan beberapa helai rambut yang tercabut dan berada di tangan saya. Emang bener ya, cewek kalau berantem, senjatanya cakar dan jambak. :D

Dan sekarang, setiap memikirkan itu, saya sering ketawa sendiri. Ngapain juga merasa tersinggung, memangnya NKOTB itu siapanya saya? Bukan siapa-siapa! Nyadar saya eksis juga enggak ! Dan apakah setelah kawan saya mengata-ngatai NKOTB  banci, mereka jadi sakit hati? Ya, enggak juga. NKOTB  mana kenal kawan saya? (Kalau kawan saya kenal, tentunya saya lebih memilih berbaik-baik dong ah, biar dikenalin juga.*halah*) :D

Kelakuan, kelakuan.

…….

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2007, gara-gara susah tidur, tanpa sengaja saya terjebak dalam sesi diskusi berdiskusi sekelompok aktivis perdamaian. Agak bikin nyut-nyutan mendengar obrolan mereka, malam-malam setelah seharian penat beraktivitas; tapi mau pergi juga nggak enak ati. Akhirnya saya pun menjadi menjadi pendengar yang budiman. Dari sekian banyak topik, tentang daerah konflik, tentang -isme-isme, tentang isu-isu politik yang bikin mblenger, saya tertarik pada pembicaraan mengenai anti nasionalisme.

Bahwa menurut mereka, nasionalisme bukanlah hal yang baik. Dengan doktrin-doktrin yang dicekoki sedari kecil, bahwa seseorang harus mencintai negaranya, harus membela negaranya, membuat orang-orang bereaksi dan berpikir sempit. Kepedulian hanya sebatas negaranya saja. Membela pun ya membela negara sendiri. Pokoknya terkotak-kotak.
Read the rest of this entry »


Perempuan Kuat Itu Bernama : Me

Posted: November 26th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 14 Comments »

Ada suara-suara dalam otak saya yang berkata : ‘Hei,kalau lu yang ngalamin kasus perkosaan, lu berani gitu nggak?’

Saya mengenal Me di tahun 2003, dalam persinggahan saya saat perjalanan penelitian menuju Flores Timur. LSM tempat Me bekerja dengan baiknya menampung saya selama proses pencarian data. Beberapa kali saya ‘ikut-ikut’an Me dan kawan-kawan menuju camp pengungsian masyarakat Timor  Leste.

Saya kagum dengan apa  yang Me lakukan. Saya tahu, tidak mudah menjadi seorang perempuan pekerja sosial yang langsung turun ke lapangan. Dibutuhkan mental yang kuat untuk itu. Dan Me mampu. Saya bisa melihat keakrabannya dengan para pengungsi di kamp, bahkan sampai bermalam di tempat tersebut.

Dan di malam-malam selama saya tinggal di sana, kami dan beberapa teman relawan perempuan kerap menghabiskan waktu untuk mengobrol dalam kamar, berbagi pengalaman, tertawa-tawa, bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar (dia yang bermain gitar, tentunya. Bukan saya). Bagi saya, Me — yang waktu itu masih berkuliah di jurusan Theologia — adalah : relawan calon pendeta yang gila. Dalam beberapa kali perkunjungan ke kotanya, saya selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya,walau sebentar. Menyenangkan, apalagi jika mengobrolkan masalah ‘menjadi perempuan dalam masyarakat patriarki’. :)

Dua malam yang lalu, seorang kawan memforward sebuah e-mail. Itu adalah e-mail disertai attachment calon naskah Me.  Sebagai pengantar dalam e-mailnya ia menulis demikian :

Shalom,

Saya merasa perlu mengirimkan tulisan ini. Tulisan ini akan dipublikasi bersama empat tulisan perempuan muda lainnya dalam satu buku. Sekarang buku itu dalam persiapan untuk naik cetak.  Saya memantapkan hati untuk tidak memakai nama samaran, dengan sadar akan konsekuensinya. Entah kenapa saya tidak peduli dengan konsekuensi yang mungkin akan muncul secara negatif. Tujuan saya hanya ingin menguatkan sahabat-sahabat perempuan yang mungkin punya pengalaman yang sama atau masih mempunyai dendam pada laki-laki yang pernah menyakiti mereka. Saya ditelepon oleh beberapa teman yang bekerja keras untuk memperindah desain bukunya; mereka terus menanyakan tentang kesiapan saya terhadap konsekuensi negatifnya.

Saya berharap kawan-kawan bisa mendukung saya dalam situasi yang mungkin sulit, sebagai dampak dari publikasi. Terima kasih.

Salam,

Me.

Maka segera saya pun mendownload naskah tersebut dan membacanya dengan seksama. Beberapa kali saya tersentak, menahan napas, bahkan mulai dari tengah tulisan sampai ke akhir, saya menangis.

Sayangnya, (tapi tentu saja) saya tidak boleh mengcopy-paste tulisan itu di sini. :)

Tidak,tulisan ini bukan tulisan berbahasa puitis berbunga-bunga, ini adalah sebuah tulisan mengenai transformasi perjalanan hidupnya, dari kecil hingga ia dewasa. Bahasa yang ia gunakan pun lugas dan diceritakan dengan tegar. Saya tidak menyangka bahwa di usia 5 tahun, Me pernah mengalami perkosaan yang dilakukan oleh keluarga dekatnya sendiri. Hal ini memaksanya untuk harus bolak-balik ke rumah sakit umum dan kantor polisi. Pengalaman kekerasan seksual itu membuatnya merasa tidak berdaya, rendah diri, malu, sendirian dan tidak berarti.

Read the rest of this entry »


Tantangan Seminggu #tanpainternet? Bisa!

Posted: November 14th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 21 Comments »

Cuma sayangnya, sejak kecil, cara  belajar kita selalu tidak adil pada otak kanan. Otak kiri saja terus yang dikembangkan….

Tau nggak, jaman dulu, kalau seorang blogger memutuskan untuk berhenti ngupdate blog-nya untuk alasan-alasan tertentu, pasti dia akan membuat posting khusus yang memuat kata hiatus. Entah itu ‘Hiatus dulu ya?’, atau cuma tulisan ‘H.i.a.t.u.s’. Dan ketika mereka memutuskan untuk kembali aktif ngeblog, maka ia akan berkata ‘I am back. Miss me?’

Jadi…

I am back. Miss me?

*halah*

Kalau kalian adalah follower saya di twitter, mungkin kalian sudah tahu bahwa saya memutuskan untuk mengambil tantangan #tanpainternet selama seminggu. Nggak ada kerjaan?

Emang!

Saya cuma mendadak kesal pada diri saya sendiri, ketika seseorang bilang ‘Elu pasti nggak bisa deh hidup tanpa banyak-banyak online.’ lalu benak saya mendadak menyetujui ‘Kayaknya emang nggak bisa.’

Gimana gue tanpa twitter? kalau mau cari data gimana? Dan seterusnya. Pemikiran konyol.

Asli sebal. Saya jadi mikir, masa nggak bisa  sih? Biar pun saya pernah hidup tanpa internet bahkan hp dalam jangka waktu yang panjang, tapi waktu itu memang keadaannya nggak memungkinkan, yah ibaratnya perokok berat, harus hidup di tempat yang sama sekali tidak menyediakan rokok. Ya mau nggak mau kan nginyem dan nerima keadaan itu. Lalu, karena saking jarangnya online, saya jadi terbiasa dengan keadaan tersebut — nggak bersentuhan dengan internet (dan hp) ya bodo amat, nggak ngaruh. Tapi sekarang? Koneksi internet mudah diraih, hanya dua langkah menuju laptop dan modemnya. Bahkan hanya sepanjang rogohan tangan saya ke dalam tas untuk meraih hp. Kecanduan, lah. Pagi, siang, sore, malam, internet. Pfuuh. Nggak bener.

Gara-gara itu saya membulatkan tekad : bisa ah, tanpa banyak-banyak online. Dan saya terimalah tantangan yang mungkin menurut beberapa orang nggak penting. ;-)

Owkay. Gimana rasanya ?

Saya menemukan dua hal : (1) Lebih produktif mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Bayangkan, biasanya saya menyelesaikan pekerjaan rutin saya, selama 7 hari, eh selama seminggu kemarin, bisa saja lho, cuma 3 hari. Ini karena tidak ada distraksi berupa twittering, wikipediaing, googling,browsing, facebooking dan -ing-ing yang lain. Yang ke-dua, ternyata… saya aslinya nggak insomnia! Kalau dipikir-pikir, kenapa saya suka susah tidur di jam yang wajar, ya karena ketika saya membaringkan diri di jam wajar tersebut, bukannya mengosongkan pikiran dan ambil ancang-ancang istirahat, lha kok ya twitteran. Saya nggak bisa tidur, karena ngantuknya keburu hilang.

Anyway, seorang kawan yang baru saja mengikuti satu pelatihan tentang motivasi membawakan ‘oleh-oleh’ tentang apa yang didapatnya selama pelatihan tersebut. Ia menceritakan pengalamannya yang membuat saya memikirkan kembali apa yang saya percayai sejak dulu.

Mungkin banyak yang sudah tidak asing lagi dengan teori otak kiri versus otak kanan, yang walaupun banyak orang protes, karena terkesan begitu menyederhanakan fungsi otak, tapi masih terus dipakai sampai sekarang. Menurut teori ini, dua sisi berbeda otak, atau hemisphere bertanggung jawab pada cara berpikir yang berbeda; otak kiri bertanggung jawab pada cara berpikir logis, rasional, analitis, berdasarkan fakta, obyektif dan melihat bagian per bagian. Sedangkan otak kanan bertanggung jawab pada cara berpikir secara acak, intuitif, holistik, menyeluruh, subyektif. Kalau disederhanakan, otak kiri itu sumber segala sesuatu yang teratur, membatasi, teknis, sedangkan otak kanan, yang liar, nakal, imajinatif.

Read the rest of this entry »


Pusat Kebugaran Spiritual

Posted: September 8th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 15 Comments »

..Ada kecenderungan perilaku yang menganggap bahwa agama itu… semacam pusat kebugaran spiritual

Sepulangnya saya dari perjalanan panjang nan hardcore tahun lalu, saya sempat sakit, dan harus menjalani beberapa terapi sampai sekitar bulan Mei 2009 kemarin. Terima kasih dan salam kompak selalu untuk kurang gizi, asupan nikotin dan kafein berlebih, daerah-daerah dengan tingkat kebersihan yang rendah dan stress di lapangan. (Okay,terdengar sangat menyedihkan ya? Terutama soal kurang gizi-nya itu lho, memalukan.)

Gara-gara itu, saya sempat mencapai satu titik di mana saya mendapat pencerahan soal kesehatan. Saya seolah mendapat wahyu dari entah siapa yang mengatakan bahwa berolahraga teratur adalah hal yang sangat penting dilakukan.

Karena hal tersebut, maka saya pun mulai survey ke beberapa pusat kebugaran; karena saya bukan penggemar olahraga yang menggunakan bola dan lari-lari di track lari, maka pilihan saya ya seputar yoga, pilates, body language, senam aerobik, berbagai macam dansa, oh ya, sempat terpikir aikido atau taichi.

Berhubung saya belum bisa menentukan pilihan, maka saya mengambil program sekali datang bayar. Saya sempat memilih beberapa jenis olahraga, yoga pernah, body language pernah, senam aerobik pernah — yang ternyata, sama sekali tidak bisa saya nikmati. Jadi saya menjalaninya hanya seminggu, paling lama sebulan.

Nah, yang ngeselin adalah setiap saya tidak pernah datang lagi ke salah satu kelas yang saya ikuti, pasti saya dihubungi oleh pihak pusat kebugaran tersebut, ditanya begini, ditanya begitu, dibujuk-bujuk. Pernah saya jujur bilang, bahwa saya nggak cocok dengan olahraga pilihan saya dan memutuskan untuk mencari olahraga yang lain. Kalau kebetulan pusat kebugaran yang bersangkutan punya program yang saya inginkan, maka orang tersebut pasti bakal menawar-nawarkan program tersebut pada saya; kalau kebetulan tidak, pasti dengan banyak jurus rayuan,mereka berusaha meyakinkan bahwa olahraga di tempat mereka sudah tepat, bahwa olahraga itu butuh proses yadda-yadda bla-bla. Bok kelihatan sekali bahwa mereka takut kehilangan satu pelanggan — agak heran juga sih, apa artinya juga kehilangan seorang saya padahal mereka masih punya banyak pelanggan lain. Pernah nih, saya kelepasan aja gitu bilang, mau mencoba olahraga lain di tempat lain, walhasil saya pun mendapat informasi nggak perlu tentang keunggulan pusat kebugaran mereka, dengan pusat kebugaran yang nggak sengaja saya sebut.

Doh, padahal, suka-suka pelanggan dong, ya, mau milih layanan yang mana dan di mana?

Kalau kata teman saya sih : ‘Namanya juga bisnis, satu pelanggan berarti lah, bok.’

Pada akhirnya, saya memilih renang, nggak keringetan lengket, main air dan nggak pakai bola (yup, saya nggak suka olahraga pakai bola). Tapi teteub nggak rutin, apalagi setelah melihat hasil medical check-up bahwa saya sudah baik-baik saja. :D

…..

Jumat (28/8) rupanya menjadi ‘Perjamuan Terakhir’ bagi umat muslim dan rohaniwan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan. Tukang becak dan kaum miskin yang biasa memperoleh menu buka puasa seharga Rp 500, harus gigit jari sejak aparat Kepolisian Kota Besar Surakarta melarang program buka puasa murah itu.

Adalah Kepala Satuan Intelkam Komisaris Jaka Wibawa dan staf yang mendatangi gereja pada Kamis (27/8). Intinya, kepolisian melarang kegiatan sosial yang sudah berlangsung 13 tahun itu dengan alasan ada sebagian umat Islam yang keberatan. Konon, polisi tak menyebut nama dan organisasi yang mengatasnamakan umat Islam itu.

Read the rest of this entry »


Ngritik Vs Nyela.

Posted: August 23rd, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 40 Comments »

…kadang orang-orang nggak bisa membedakan antara nyela sama ngritik. Itu beda, Jendral!

Baru saja saya selesai mengetikkan status : ‘Hello, Y!Messenger, lama tak bersua’, tiba-tiba terdengar bunyi ‘plop!’ dan….

HAI, Mbaaaak, kemana ajaaaa…..

Seseorang menyapa saya. Saya mengenal dirinya empat tahun yang lalu. Walau tidak pernah bertemu langsung, tapi kami pernah rutin chatting. Awalnya saya menerima e-mail keluhan atas template blogger yang saya buat dan saya submit ke blogskin.

Ada yang pernah bilang, HTML itu hanya cocok buat orang yang teliti, bukan orang yang ceroboh seperti saya. Mungkin benar, karena dari sepuluh template yang saya submit ke web itu, pasti setidaknya ada dua yang ‘keliru’, sehingga menyebabkan seluruh fungsi blogger tidak berjalan semestinya pada template yang saya buat. Dan kebetulan, orang ini adalah salah satu korban kekeliruan saya. :)

Jadi singkat kata, karena merasa bertanggung jawab atas kekacauan yang saya buat, saya pun membantunya untuk memperbaiki kesalahan template pilihannya. Sejak saat itu kami pun sering chatting via Y!M. Dulu, dia termasuk orang yang super produktif mengupdate blognya. Bayangkan, sehari, bisa tiga sampai empat kali update. Kalau cuma update status di layanan microblogging sih, sehari sepuluh kali masih bisa disebut ‘biasa’, tapi ini ngeblog!

‘Gue suka banget nulis blog.’

Begitu akunya, saat saya berkomentar bahwa dia gila. Cuma sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu, kami jarang berhubungan lagi. Dan satu saat, ketika saya membuka blognya, muncullah kalimat :

Maaf, blog yang Anda cari tidak ada. Meskipun demikian, nama ********* tersedia untuk didaftarkan!

Blognya sudah dihapus, ternyata.

Kemudian terdengar bunyi ‘plop!’ lagi. Di layar kanal cakap maya saya muncul sederet kalimat darinya.

Gue ngikutin blog lu. Gila ya lu, Mbak. Konsisten amat ngeblog!

Dan ketika saya tanya, apa dia masih ngeblog, dia bilang nggak. Selidik punya selidik, ternyata dia berhenti ngeblog gara-gara terganggu oleh beberapa komentar dengan tipe lempar-komen-sembunyi-identitas, alias komentar anonim; yang kurang lebih mengatakan bahwa blognya nggak penting-lah, nggak mutu-lah, dia nggak bakat nulislah, tulisannya nggak ngasih pengetahuan atau inspirasi apa-apa-lah dan seterusnya.

Gue emang nggak jago nulis sih, Mbak. Orang yang ngeblog sekarang kan pada jago nulis. Minder juga gue ngebandingin dengan tulisan gue.

Begitu katanya. Ketika saya tanya lagi, soal masih suka atau nggaknya dia ngeblog, dia mengaku masih suka. Banget.

Hm, masih suka, tapi berhenti karena ‘kritik’ orang-orang.

Read the rest of this entry »


Mereka memanggilnya ‘Perawan Tua!’

Posted: June 22nd, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 22 Comments »

Perawan tua. Terakhir saya pakai sekitar enam bulan yang lalu, untuk guyonan dengan teman-teman lain, yang masih lajang dan berusia tiga puluh lebih

Seorang teman menelepon saya sekitar awal minggu lalu. Ia perempuan lajang, nyaris kepala empat dan bisa dikatakan memiliki posisi cukup tinggi di tempat kerjanya. Satu hal yang khas dari dirinya adalah, kalau ngomong super saklek. To the point banget. saya sering mencelanya dengan ‘(nama suku dengan karakter stereotipe saklek) banget sih lo!’. Dan setiap saya malas mengemukakan pendapat demi menghindari friksi, maka dia pun bilang ‘Jawa bener sih lo..’ :) Dan satu lagi yang annoying bagi orang-orang yang clumsy setengah mati seperti saya, dia perfeksionis.

Anyway, kembali lagi. Saat bertelepon saya bisa mendengar kegusaran dalam nada suaranya. Katanya, entah karena apa sejak awal tahun 2009, sebagian besar tim kerja lamanya dipecah belah ke tim lain, sebagai gantinya, masuklah beberapa fresh-graduate (banget).

“Lo tau dong ya, fresh-graduate itu gimana, masih bawa-bawa sikap kampus banget. Nggak bisa dong kayak gitu ya? Dan gue, berhubung dititipin pesan buat ngebimbing, ya gue coba dong, bikin semacam orientasi kerjaan buat mereka. Dan ngebimbing lah.”

Saya terus mendengarkan apa yang dia lakukan pada anak-anak baru tersebut, yang menurut saya, ya khasnya dia banget. Hanya orang-orang yang sudah mengenalnya yang menganggap hal tersebut biasa dan tidak pernah memasukkan perkataannya ke hati. Rugi dimasukkan ke hati, dan dipendam lama-lama, lha wong bisa dipastikan, sejam kemudian — apalagi jika sudah di luar lingkup pekerjaan — dia sudah lupa kok

“Dan gue denger dengan kuping gue sendiri, pas jam makan siang, anak-anak itu bergerombol ngomongin gue, mereka pikir gue lagi keluar kali ya. Mereka ternyata sebel sama cara gue. Tapi yang bikin gue sebel banget, mereka bilang : dasar perawan tua…”

Read the rest of this entry »


Menguping Teman Semeja.

Posted: June 1st, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 6 Comments »

…Saya mah, mereun (mungkin) dapet pahala karena niat nolong

Teman mengobrol saya sedang pergi sebentar. Katanya ingin memesan sayur asam lagi. Saya tetap melanjutkan makan. Ini adalah sebuah rumah makan murah meriah di bilangan jalan Diponegoro Bandung. Saking murahnya, pengunjung selalu meriah alias ramai. Sekarang saja, walaupun sudah lewat dari jam makan siang, masih tetap penuh. Pengunjung yang baru saja membayar di kasir, seringnya harus menyipitkan mata dan memanjangkan leher untuk mencari-cari kursi kosong.

Agar semua hepi, dibutuhkan kerelaan untuk berbagi meja. Seperti yang saya dan teman makan saya lakukan. Meja yang dilengkapi oleh bangku panjang yang saya duduki cukup untuk empat orang duduk normal, bisa sampai enam atau delapan kalau duduk rapat-rapat ala bangku angkot. Tapi kami hanya berempat. Saya, teman makan saya yang sedang pergi, seorang perempuan dan seorang laki-laki berusia kira-kira berusia awal empat puluhan. Mungkin suami istri. Soalnya, berdasarkan hasil saya sesekali menguping, mereka membahasakan diri mereka dan pasangannya sebagai ‘Papah’ dan ‘Mamah’. Bukan Pipi dan Mimi, itu sih Krisdayanti.

“Terus Papah ngasih ke orang itu?” cetus sang perempuan.
“Iya.” Jawab sang pria dengan suara super santai.
“Atuh, si papah teh kumaha (gimana). Sekarang udah banyak tau, penipuan kayak gitu. Kebiasaan deh. Jangan terlalu gampang kasian lah…”
Read the rest of this entry »