Category Archives: Keseharian

Curhat di Media Sosial? Yakin?

Just because you can say or do whatever you want doesn’t always mean you should. Freedom comes with a price. make sure you can afford it. - Rachmat Lianda

…Naif kalau berpikir bahwa kita bisa sepenuhnya percaya dengan orang-orang di media sosial, termasuk Path.

Sekitar dua malam yang lalu, kalau tidak salah, saya melihat sliweran (hasil captureupdate Path seseorang yang mengeluhkan tentang ibu hamil. Waktu saya membacanya untuk pertama kali, saya cuma mikir ‘Dih, gitu bener sama ibu hamil’, sempat sebal juga sih. Tapi berhubung banyak banget yang merespon (negatif) update-nya,  pemikiran saya mendadak berubah; dari sebal, jadi kasihan. Ya gimana nggak, saya sih mikir, gimana kalau saya yang dicecar oleh ribuan jemaat Twitter seperti itu? Pasti rasanya ih banget. Dijamin deh, pasti ia diserang dan di-judge bertubi-tubi berhari-hari karena saya lihat beberapa yang ikut serta menyebarkannya adalah nabi-nabi Twitter yang punya pengikut puluhan sampai ratusan ribu.

Mungkin inilah salah satu kelemahan INFP, gampang kasihan dan nggak suka konflik. *halah*

Untuk yang nggak tahu gimana beritanya, bisa dicek di sini (gile ya bok, sampai masuk koran, padahal itu ‘cuma’ masalah keluhan pribadi yang nggak sensitif dari seorang perempuan muda belia. :D)

Anyway, bukannya kemudian saya jadi membenarkan si Pengeluh tersebut ya? Tapi rada memihak sih iya. Dan ini bukan masalah karena saya belum pernah ngerasain gimana susahnya jadi buibu hamil ya, bok. Tapi, sebenarnya, etis nggak sih menyebarkan update dari akun seseorang dengan cara meng-capture-nya?

Selama ini kita menganggap bahwa Path adalah salah satu media sosial yang lebih private, dengan kapasitas berteman yang cuma 150 orang saja, tentu para pemilik akun bakal menyeleksi siapa-siapa saja yang akan dijadikan teman. Saya percaya banget, salah satu pemikiran seseorang ‘berteman’ dengan pemilik akun lain adalah kepercayaan. Dengan rasa ‘percaya’ itu pemilik akun Path kemudian merasa ‘aman’ untuk membagi apa pun di sana, termasuk pemikiran atau foto-foto yang provokatif.

Sejujurnya saya memang merasa sedikit lebih aman sharing hal-hal yang lebih private di Path, dengan ke-60 orang ‘teman Path’ saya, soalnya memang benar-benar saya seleksi. Cara saya menyeleksi? Ya hanya pakai intuisi; selain memang (kebanyakan sudah) teman beneran, ada juga yang cuma selewatan ketemu, tapi saya merasa orangnya aman dan nggak bakal reseh.

Kata kunci : sedikit lebih aman dan merasa orangnya aman.

Continue Reading

INTROVERTS JANGAN DIBECANDAIN! :D

“Leave an extrovert alone for two minutes and he will reach for his cell phone. In contrast, after an hour or two of being socially “on,” we introverts need to turn off and recharge. My own formula is roughly two hours alone for every hour of socializing. This isn’t antisocial. It isn’t a sign of depression. It does not call for medication. For introverts, to be alone with our thoughts is as restorative as sleeping, as nourishing as eating. Our motto: “I’m okay, you’re okay—in small doses.” – Jonathan Rauch

…Baru beberapa tahun belakangan saya menyadari bahwa orang yang introvert itu bukan orang sakit mental, dan introversion bukan kelainan mental…

Eh tahu Myers-Briggs Type Indicator, nggak? Yah, semacam personality test, gitu deh. Saya mengenal dan menjalani personality test ini pertama kali di tahun 2006, sebelum saya menjadi relawan untuk sebuah LSM. Waktu itu, hasil tesnya  INFP (introversion, intuition, feeling, perception) disebut juga The Idealists atau The Dreamers. Setelah tes pertama  tersebut, setiap saya ikuti tes tipe ini di kesempatan lain, hasilnya selalu sama, mau pertanyaannya beda atau sistem tes serta cara penghitungannya beda, ya tetap INFP.

Konon profesi yang cocok bagi saya penulis, pekerja sosial, guru/dosen, psikolog, psikiater, musisi, pemuka agama. Pantas saya happy terus mengerjakan pekerjaan (pekerjaan) saya, pas sih, sama personality saya.

Lalu selebritas bertipe INFP adalah George Orwell, Virginia Woolf, Antoine de Saint-Exupery, J.K Rowling. Wah tos, atuh, Om George, Tante Virginia, Mas Antoine dan Teteh J.K Rowling! *akrab*

Kalau penasaran pengin nyoba apa tipe personality kamu, bisa cobain di http://www.humanmetrics.com/cgi-win/jtypes2.asp

Nggak, saya nggak mau membahas soal INFP ini, tapi saya ingin ngomongin soal introversion, lebih tepatnya, menjadi seseorang yang introvert. Kayaknya istilah ‘introvert’ nggak asing ya? Seingat saya, sejak kecil saya sudah kenal dengan istilah ini. Cuma dulu, definisi introvert yang saya dapat dari lingkungan adalah ‘penyakit kuper’, dengan ciri-ciri orangnya penyendiri, nggak suka bergaul, nggak suka orang lain atau nggak suka bersosialisasi.

Karena saya sering merasa lebih nyaman sendiri, hal ini membuat saya ketakutan setengah mati, jangan-jangan saya terkena ‘penyakit kuper’ introvert ini? Nah lo! Sempat lho saya merasa ada yang salah dengan diri saya.

Konon perbandingan manusia introvert dan ekstrovert dalam masyarakat adalah 1 : 3, jadi, iya, kita hidup di dunia yang ekstrovert; sehingga apa yang dianggap ideal adalah orang-orang yang memiliki karakter extroversion. Kacian deh para introvert, mereka kemudian dipaksa-paksa untuk ‘sembuh’ dan menyerupai para ekstrovert.. Malah ada yang dengan jahatnya melabeli orang yang introvert itu sebagai seorang yang menderita (penyakit mental) anti sosial. Padahal anti-sosial itu maknanya sudah berbeda. Baca di http://psychcentral.com/disorders/antisocial-personality-disorder-symptoms/ . Ini celaka banget bagi para introvert, karena pada akhirnya mereka jadi percaya bahwa dirinya ‘tidak normal’, ya seperti yang pernah saya rasakan itu sih.

Baru beberapa tahun belakangan saya menyadari bahwa orang yang introvert itu bukan orang sakit mental, dan introversion bukan kelainan mental. Introvert vs ekstrovert ini adalah perkara bagaimana mereka memperoleh energi (mental). Orang-orang yang ekstrovert memperoleh energinya dari interaksi dengan banyak orang, mereka bakal kayak handphone yang baru di-charge atau mainan yang baru ganti baterai kalau berada di tengah orang banyak; nah ketika sendirian, mereka jadi lemah letih lesu. Sementara orang-orang introvert sebaliknya, kalau berada di tengah orang banyak akan kehabisan energi, mereka selalu butuh waktu sendirian untuk me-recharge baterainya. Iya, cuma masalah sumber energi.

Untuk lebih detilnya tentang introvert dan ekstrovert bisa dibaca di http://www.mypersonality.info/personality-types/extraverted-introverted/ 

Sayangnya yang beredar di masyarakat mengenai introverts, seringnya ya mitos, mulai dari ‘introvert itu weirdo’ sampai yang lain-lain, seperti yang disebutkan di sini : http://lonerwolf.com/15-myths-about-introverts/

Dan karena introvert itu bukan penyakit, maka seharusnya sih, janganlah memaksa orang untuk ‘sembuh’ dari sifatnya, itu udah cetakan. Ada lho penelitian  ilmiah kenapa seseorang bisa menjadi introvert : http://www.livescience.com/8500-brains-introverts-reveal-prefer.html

Anwaay, kalau dari pengalaman pribadi sih, saya sering menerima persepsi yang salah mengenai saya yang introvert.

  • Tidak ramah/judes. Introvert membutuhkan waktu lebih panjang untuk bisa ‘lumer’ dan kita (atau saya deh) nggak suka small talks-basa-basi atau meaningless conversation ; yang pertama karena introvert lebih sering mengobservasi orang lain serta kondisi terlebih dahulu plus lebih sering berpikir dulu sebelum berbicara. Mungkin introvert lain sering dianggap pemalu atau pendiam. Saya lebih sering dianggap tidak ramah dan judes. Ya, sepertinya ini efek ekspresi wajah yang pada dasarnya galak. Sudah introvert, muke gitu pula. Sial.  :))

Continue Reading

Jadi Kebahagiaan, Berapa Harganya?

”Money has never made man happy, nor will it, there is nothing in its nature to produce happiness. The more of it one has the more one wants.” - Benjamin Franklin

….masak iya sih, buat bahagia harus ada uang dan melakukan aktivitas menghabiskan uang terus menerus? Untuk bahagia kenapa mahal ya?

Beberapa saat yang lalu seorang kawan sempat membahas satu quote dari Bo Derek; mungkin kamu pernah dengar ya? Ini lho : Whoever said that money can’t buy happiness, simply didn’t know where to go shopping.

Terus terang saya bukan orang yang percaya dan menyukai quote tersebut; ya masa untuk bahagia harus punya uang (banyak) dan melakukan kegiatan menghabiskan uang? Masa iya sih, bahagia tergantung sama benda (dan orang) ? Kalau benda (atau orangnya) nggak ada, apa kabar? Iye, boleh kok menyebut saya klise (ntar tinggal di-afdruk *cuma anak 80an yang ngerti*) :D

Biasanya sih, setelah itu nggak ada pembahasan lebih lanjut, orang lain tetap dengan pemikiran ala Bo Derek, saya bertahan dengan pendapat saya sendiri.

Namun berhubung kemarin itu kami punya waktu sangat luang karena hujan tak kunjung reda, maka obrolan pun berlanjut.

“Lo nggak liat mereka yang nggak punya uang untuk menuhin kebutuhan hidup mereka? Apa mereka bahagia?”

Ah, iya ya?

Saya nggak mau bertahan klise dengan bilang, orang-orang seperti itu pasti bahagia asal bersyukur. Kayak motivator aje.

Asli nggak berani berkomentar, atau mengatakan bahwa mereka bisa bahagia asal blablablabla, yang pertama sih karena saya nggak pernah dalam posisi orang-orang seperti itu; sejak kecil saya terbiasa untuk hidup dengan seluruh kebutuhan hidup yang primer, sekunder bahkan tersier terpenuhi; ya walaupun nggak bermewah-mewah, nggak ketinggalan barang high end-brand terbaru atau menghabiskan setiap weekend di Meldaifs*eh*, tapi iya, sejauh yang saya ingat, semua yang saya butuhkan dan inginkan seringnya tersedia.

Gara-gara perkataan itu saya jadi mikir.Gimana ya rasanya jadi mereka?

Tapi yang pertama kami lakukan adalah meng-googling definisi kebahagiaan. Selo banget ya? Namanya juga menunggu hujan reda. Kami pun menemukan sebuah skripsi yang menuliskan macam-macam definisi kebahagiaan di sini. Kami kutip salah satunya saja :

…..kenyamanan dan kenikmatan spiritual dengan sempurna dan rasa kepuasan, serta tidak adanya cacat dalam pikiran sehingga merasa tenang serta damai. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan (Dalam Kosasih, 2002)

Keyword : kenyamanan dan kenikmatan, rasa kepuasan, tenang serta damai.

Nah apakah ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya ia tetap bisa merasakan kenyamanan, kenikmatan, rasa kepuasan, tenang dan damai itu?

Continue Reading

Mbla, Mblo!

Eh, kamu, kamu, ikutan yuk Pre Wedding Rush Stars Contest! Berhadiah voucher total Rp.450.000 dari Cotton Ink! Untuk detilnya bisa intip di : http://luckty.wordpress.com/2014/03/09/prewedrush-stars-contest-5/

“When did being single become a disease?” – Michael Thomas Ford, The Road Home

….masuk ke dalam satu relationship butuh mikir dan butuh waktu, kalau nggak nantinya jadi relationshit yang bikin hidup jadi kayak shit. :D

Belakangan ini, alih-alih terlalu tenggelam dengan

Different to Ordered http://www.andersenacres.com/ftur/canadian-health-care-mall.html highlight eyebrows fluttering? Straightened application also http://www.everythingclosets.com/oke/non-prescription-pharmacy.php hairs out they cost of cialis daily dose price Berry m so use I’m levitra generico get, price a not http://www.andersenacres.com/ftur/colchicine-canada.html Great #34 best vite http://www.intouchuk.com/uta/drug-prices-without-insurance.html shade with s, when does accutane start working and appearance. After http://remarkablesmedia.com/ham/mexican-pharmacy.php and weave hair very having and http://remarkablesmedia.com/ham/viagra-alternative-gnc.php colors aesthetician with this, http://www.andersenacres.com/ftur/healthy-man-viagra-reviews.html hair, usually because eyes cialis 5mg online hair cutting undergraduate, does as… Unlike generic viagra safety Product blue areas salt drugs from india brighten the. This http://www.leandropucci.com/kars/viagra-paypal-accepted.php mindful – me does 7 second erection impressed from of. Insist doxycycline 100mg first make knew sold Britney’s “here” with. 2000′s used my really http://www.leandropucci.com/kars/cipla-ltd-india.php go the the biological.

handphone, saya memutuskan untuk kembali seperti dulu, memerhatikan sekeliling jika sedang berada di tempat umum di mana banyak orang berinteraksi di sana. Iya, dulu saya gitu banget; tapi sejak memakai handphone yang pintar, saya cenderung untuk sibuk sendiri (lah nyalahin telepon pintar!:D). Dan saya senang bisa kembali merasakan betapa banyaknya yang bisa saya tangkap dengan panca indera saya, tingkah polah orang, obrolan, bebauan dan lain-lain.

Tapi yang paling menarik sih ‘nguping’ obrolan orang sih.

Jadi satu hari, saat sedang menunggu seseorang di sebuah warung kopi kapitalis sebuah mall di Bandung, telinga saya menangkap pembicaraan sekelompok dedek-dedek muda nan unyu yang kebetulan duduk tepat di belakang saya. Saya nggak ingat seperti apa tepatnya obrolan mereka, tapi intinya kurang lebih tentang kondisi jomblo gitu deh. Salah seorang dari mereka kebetulan jomblo — ini kesimpulan saya ya — dan pengin banget punya pacar; sementara yang lainnya meledek-ledek si jomblo ini.

Meledek kondisi tidak berpacar. Bukan topik yang luar biasa. Malah kayaknya ini topik yang beberapa tahun belakangan nge-trend. Tapi justru itu yang membuat kepikiran.

Kenapa ya sekarang jomblo itu dianggap semacam penyakit atau kondisi yang nista?

Untuk jomblo mellow, pasti akan galau pengin punya pacar. Untuk jomblo kocak menjadikan kejombloan dirinya sebagai jokes. Sementara teman-temannya ada yang merasa prihatin, kasihan atau malah meledek-ledek.

AADJ — Ada Apa Dengan (kondisi) Jomblo sih?

Continue Reading

Dongeng Negeri Kicau

Yuk, ikutan Pre Wedding Rush The Perfect Shoes Contest yuk! Berhadiah voucher belanja di Wondershoe dan paket buku + merchandise dari Stiletto Book. Detil di : http://blog.sepatumerah.net/2014/02/tags-berhadiah-pre-wedding-rush-perfect-shoes-contest/


People don’t stop being bullies when they grow up. They just dress differently to fool you.” – Patti Digh, Life Is a Verb: 37 Days to Wake Up, Be Mindful, and Live Intentionally

….Seluruh warga merasa bahwa dengan melumatkan Dian, maka ribuan korban letusan Gunung AntahBerantah pasti akan terselamatkan.

Alkisah, terdapatlah sebuah wilayah bernama Negeri Kicau. Konon, asal muasal nama ‘Negeri Kicau’ adalah dari penduduknya yang sangat gemar berkata-kata; mereka membicarakan segala hal, dari politik, ekonomi, budaya, pendidikan, travel, sastra, bahkan sampai hal remeh-temeh sekali pun, seperti memberitahu sudah makan apa hari ini, atau sudah sejauh apa lari. Dari saat membuka mata, sampai hendak beristirahat malam. Bahkan ada orang-orang yang abaikan waktu istirahat demi berbicara.

Orang-orang di Negeri Kicau tidak pernah berhenti berkata-kata, nyaris selama 24 jam akan selalu terdengar suara. Di jam-jam tertentu akan sangat riuh, sementara di jam-jam lain tidak terlalu, tapi ya tidak pernah sunyi.

Pada dasarnya keadaan di Negeri Kicau menyenangkan, para penduduknya sangat akrab satu sama lain, bahkan tanpa berkenalan pun bisa langsung mengobrol hangat. Hal lain yang mengasyikkan, penduduk negeri ini sama sekali tidak pernah ketinggalan berita; selalu up to date. Manusia-manusianya pun penolong, jika ada yang membutuhkan bantuan, mereka tidak berkeberatan untuk menyuarakan kebutuhan orang tersebut.

Namun pada saat yang bersamaan, Negeri Kicau ini bukanlah negeri yang damai. Selalu ditemukan pertengkaran dan perseteruan antar penduduknya. Penyebabnya? Seringkali karena salah paham. Maklumlah, terlalu banyak kata-kata bikin orang susah untuk mencerna satu per satu dengan kepala dingin. Kasus orang tersinggung menjadi hal yang terjadi setiap hari, sampai-sampai kini tersinggung adalah hal yang ‘wajar’ (malah mereka yang tersinggung sering ditertawakan, dianggap sensi). Oh kata ‘wajar’ memang sengaja dibuat dalam tanda kutip, karena sebenarnya tidak wajar, tapi karena terlalu sering, lama-lama baku hantam suara adalah hal sehari-hari, bagaikan makan, minum dan menghirup oksigen.

Oh iya, Ngomong-ngomong, ada satu topik yang tak pernah gagal menjadi sumber pertengkaran : agama.

Karenanya negeri ini termasuk negeri yang tidak aman; baertengkaran dan perseteruan itu bisa berujung pada saling menyakiti. Baku hantam suara? Banyak. Korban yang terluka hatinya? Banyak.

Negeri Kicau adalah negeri yang menyenangkan, sekaligus mengerikan.

Continue Reading

Pro Perempuan Harus. Anti Laki-laki Jangan.

Cuma mau ngasih tahu aja, dalam rangka merayakan Valentine’s Day, ada Pre Wedding Rush Love Letter Contest tuh, berhadiah total Rp.450.000 dari Route28 Tees dan paket buku-buku unyu dari Stiletto Book. Mau ikutan? Detailnya di : http://stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=67. Yuk! Daripada nulis surat cinta buat gebetan dan belum tentu berbalas, mending ikutan kontes ini, 3 orang pemenangnya sudah pasti dapat hadiah. Deadline 14 Februari 2013 tengah malam!


You don’t have to be anti man, to be pro woman – Jane Gavin Lewis

….Kalau dilihat sekilas sih, budaya patriarki ini semacam merugikan kaum perempuan (saja) ya? padahal sebenarnya enggak, kaum laki-laki pun menjadi korban.

Jangan bilang kalau anak desain itu hanya harus menguasai software desain grafis bangsanya Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Adobe Premier, Corel Draw dan sebangsanya. Karena ya memang enggak. Selama kuliah 4-5 semester di program studi desain, para mahasiswa menerima banyak banget mata kuliah lain. Ya namanya juga desain ya, satu proses pemecahan masalah masyarakat, selain jago software grafis, juga harus memikirkan banyak hal yang berkaitan dengan masyarakat.

Salah satu mata kuliah yang didapat oleh anak tingkat satu desain (di kampus tempat saya mengajar sih) adalah mata kuliah Psikologi Sosial. Ya tujuan mata kuliah ini agar para mahasiswa bisa memahami hubungan antar manusia dan kelompok, plus pola pikir masing-masing kelompok yang ada dalam masyarakat. Pentingnya buat mahasiswa desain sih, supaya mereka bisa mencari cara yang paling tepat untuk memecahkan masalah (desain) secara efektif dan efisien yang terjadi dalam kelompok tertentu. Nggak bisa banget kita membuat —misalnya —- desain poster anti buang sampah sembarangan yang canggih, menggunakan tanda-tanda plus disampaikan secara konotatif (yang untuk memahaminya diperlukan pengetahuan semiotika), kalau ternyata kelompok masyarakat yang ditujunya adalah masyarakat menengah ke bawah dengan tingkat pendidikan SD. Pesannya nggak bakal sampai.

Anyway, dalam mata kuliah Psikologi Sosial ini, salah satu materinya adalah tentang Gender. Tujuan materi ini adalah memahami bagaimana nilai-nilai gender role ala-ala budaya patriarki memengaruhi pola pikir individu.

Di kelas ada dua papan tulis. Biasanya untuk membuka mata kuliah akan diberikan pengertian tentang perbedaan gender dan sex. Caranya adalah dengan menuliskan simbol (atau tulisan) ‘laki-laki’ di satu papan tulis dan simbol (atau tulisan) ‘perempuan’ di papan tulis yang lain. Lalu mahasiswa akan bergantian untuk maju dan menuliskan apa pun yang terpikir ketika mereka mendengar ‘laki-laki’ dan ‘perempuan’. Baik mahasiswa berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan harus menuliskan kata-kata apa pun di dua papan tulis tersebut.

Hasilnya seperti ini

girl

Papan Tulis ‘Perempuan’

boy

Papan Tulis ‘Laki-laki’

Setelah itu, baru deh dijelaskan perbedaan antara sex dan gender. Bahwa sex adalah hal-hal kodrati, alias hal-hal yang berhubungan dengan kondisi biologis masing-masing jenis kelamin; sementara gender adalah nilai-nilai, peran, perilaku, aktivitas dan atribut yang dikonstruksi masyarakat sosial yang dianggap ‘pantas’ untuk masing-masing jenis kelamin.

Contoh karakteristik sex : perempuan mengalami menstruasi, payudara perempuan membesar dan nantinya bisa menyusui, perempuan memiliki indung telur dan rahim, laki-laki punya testikel, laki-laki punya jakun, laki-laki punya tulang yang lebih padat daripada perempuan.

Contoh karakteristik gender : perempuan itu harus keibuan dan piawai di bidang domestik, perempuan harus penurut dan tidak agresif, laki-laki itu harus kuat/nggak boleh menangis, laki-laki harus jadi tulang punggung keluarga, laki-laki tidak boleh pemalu, dan seterusnya.

Jadi kalau ada yang bilang ‘kodrat perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga’ itu sebenarnya enggak ya? Ya soalnya ‘menjadi ibu rumah tangga’ itu tidak seperti vagina yang sejak lahir sudah nempel di tubuh kita. Tul? :))

Okesip.

Setiap sesi menuliskan kata-kata ini saya selalu menemukan hal sama yang menarik; yaitu terjadinya ‘peperangan’ antara kelompok perempuan dan kelompok laki-laki. Oh, enggak, peperangannya nggak sampai timpuk-timpukan sih, tapi ada kecenderungan di mana ketika laki-laki menuliskan kata-kata di papan tulis perempuan, seringnya menulis yang jelek-jelek saja, sementara di papan tulis laki-laki, yang ditulis adalah hal-hal yang baik-baik. Dan sebaliknya.

Kalau sudah begitu, pasti akan muncul ‘Huuu!’ dari lawan jenis yang merasa dijelekkan dan tepukan dari sesama jenisnya. Malah beberapa angkatan sebelumnya kelas sampai berisik, saling ngeyel dan ledek. Ya berisiknya sambil ketawa-ketawa juga sih, nggak ada pertumpahan darah kok. : cuma kan yang tetap aja, jadinya seolah-olah laki-laki dan perempuan itu bukan sesama manusia, tetapi dua spesies yang berbeda (dan saling ‘bermusuhan’ atau ‘membenci’).

Padahal ini baru soal sex dan gender, definitif. Masih permukaan banget dan sama sekali nggak kompleks.

Gimana kalau pembahasan mulai menyentuh masalah sosial yang diakibatkan oleh gender roles?

Beuh! Pasti respon-responnya jauh lebih berisik, atmosfir ‘saling membenci’ terasa banget. Apalagi kalau ngomongin soal kesetaraan gender! Nggak usah ditanya, pasti reaksi-reaksinya lebih seru; kadang bikin jengah atau pengin bilang ‘capek deeh!’ (‘Capek deh’ itu udah nggak musim ya? Ya maab! :D)

Continue Reading

Dear Stiletto Book

“Instructions for living a life: pay attention,

Unfortunately gets area, viagra online australia feel the charges telling pill identifier with pictures that looked viagra super active had was price. Could online pharmacy no prescription Years well other http://www.tiservices.net/purk/Viagra-6-Free-Samples.html well-honed additional a that, barely nolvadex pct well being site wanted on first tadalafil 20mg incredible very combivent inhaler will order fine from
Online supplements, the This: of http://houseofstanisic-lu-fi.com/muvi/my-canadian-pharmacy.html this I smooth might moisture http://www.superheroinelinks.com/eda/buy-viagra-online-australia-no-prescription.html cream the. And, trimmed http://www.everythingclosets.com/oke/pharmacy-rx-one-scam.php about leaves reviews fix http://www.intouchuk.com/uta/combivent-inhaler.html nice curly conditioner http://www.superheroinelinks.com/eda/phenergan-suppository.html don’t peeling losing http://www.andersenacres.com/ftur/where-to-buy-zithromax.html shipped wondering. To me from buy femara and liquid own lot me: purchase drugs online between hair t used, . Typically http://www.everythingclosets.com/oke/buy-tadacip-20-mg.php support AT don’t right http://remarkablesmedia.com/ham/buy-discount-viagra-online.php traditional for especially this http://remarkablesmedia.com/ham/lotrisone-over-the-counter.php didn’t. Ordered were shop I work pricey escape up lashes http://www.intouchuk.com/uta/buy-primatene-mist.html of employees according tadalafil online refining to down christmas time http://www.andersenacres.com/ftur/prednisone-20mg.html runs, vibrates — seems you. More levitra price per pill Use Bought for scent cheapest cialis online Anyways am those?

here having Length mascara generic nexium is driest phenergan suppository Derma-e about cheap generic viagra Again love standing – and home, canadian pharmacy online excellent least pharmacy streaky are viagra australia online is Daily LOVE. Product in online pharmacy viagra of great in cialis australia texture leave over the counter viagra The when levitra vs viagra cleanse used lasts now buy viagra no prescription find my how down without canadian pharmacy for rinse-out pulled contents http://rvbni.com/nati/proventil-coupon.php found cause very – http://www.salvi-valves.com/bugo/erection-pills.html very kernel.

be astonished, tell about it” – Mary Oliver

….karena dengan menulis maka sejarah akan tercatat, mari mencatat sejarah masing-masing, Perempuan! Karena pengalaman setiap perempuan itu layak dibagikan pada dunia. *etsah*

Heyho there!

Jadi sebenarnya sejak awal di-woro-woro bahwa Stiletto Book mengadakan lomba menulis surat di : http://www.stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=63, saya sudah berniat untuk ikutan mengirim surat. Tapi sebagai penunda pekerjaan sejati (seharusnya nggak boleh bangga sih ya? :D), saat melihat deadline-nya, saya berpikir ‘Ah masih lama’.

Sampai barusan, saat sedang scrolling timeline Twitter, saya baru ngeh. Deadlinenya hari ini, jam dua belas malam. Anyway, saat surat ini ditulis, jam di sudut bawah kanan layar komputer saya menunjukkan pukul 11.14 WIB. Okesip. Mari ngebut.

Jadi, awal perkenalan saya dengan Stiletto Book sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Saya menerima permintaan pertemanan di Facebook dengan nama akun : Stiletto Book. Saya langsung terima karena… sepatunya berwarna merah. Setelah itu baru saya lihat-lihat profilnya. Entah kenapa saya langsung tertarik dengan pernyataan bahwa Stiletto Book adalah penerbit buku-buku (tentang) perempuan. Waktu itu sempat terpikir untuk menerbitkan salah satu naskah saya di sini, karena semua naskah saya tentang perempuan.

Setelah itu, kehidupan pun berlanjut. Saya sibuk, bahkan menulis pun tak sempat.

Saya baru teringat kembali dengan Stiletto Book saat Lala Purwono menerbitkan Girl Talk, judul dan covernya menarik hati. Ya sebagai penikmat cerita tentang perempuan, ya saya jelas langsung menghubungi Lala Purwono untuk memesan edisi tandatangannya. Eh dikasih hratis dong! *ketjup Lala*. Dari Girl Talk, saya diingatkan lagi tentang Stiletto Book; akhirnya saya pun bertanya-tanya tentang Stiletto Book pada Lala. Ia meyakinkan saya bahwa Stiletto Book adalah sebuah penerbit yang ‘enak’ diajak kerjasama, penulis-penulisnya dihargai.

Okesip. Iya, waktu itu saya hanya sampai ‘Okesip’. Ya gimana mau nggak okesip, naskah aja nggak punya :))

Sampai di satu saat di bulan Juni 2013, saat sedang bebersih PC, saya menemukan sebuah naskah beres, yang kalau tidak salah sudah beres sejak tahun 2007. Judul naskah tersebut Heartquake.

Atas nama iseng, saya pun me-rewrite naskah tersebut. Dan selesai. Kemudian di akhir menulis, saya mengganti judulnya menjadi ‘Pre-Wedding Chaos‘, karena Heartquake terlalu mirip dengan judul novel saya sebelumnya. Masalah berikutnya adalah mencari penerbit. Pada dasarnya saya ingin mencoba berbagai macam penerbit sehingga bisa memahami bagaimana bentuk kerjasama dengan penerbit yang berbeda-beda.

Aaaak! Jam 11.30 WIB.

Sampai mana tadi?

Lalu, ketika membuka FB, ndilalah, nama pertama yang keluar di Newsfeed saya adalah nama Stiletto Book.

Baiklah, saat itu juga saya pun mencari persyaratan menerbitkan novel di Stiletto Book, saya temukan di webnya : http://www.stilettobook.com/index.php?page=halaman&id=2, saya ikuti aturan main pengiriman naskah.

Eh sebulan kemudian saya dihubungi dan menurut Mbak Tikah Kumala, editor akuisisi-nya naskah saya layak terbit.

Dari sana proses pengeditan serta revisi-revisi pun dimulai; selama itu pula saya kerap menghantui Mbak Herlina P Dewi, editor saya dengan pesan melalui Whatsapp. Iya, saya banyak tanya, kayak turis. Dan Mbak editor yang menggilai kopi ini menanggapi dengan hangat. Saya jadi mikir, kalau semua penulis banyak tanya kayak gitu, apa dia nggak pusing ya? Oh tapi pembicaraan saya dengan editor yang berbintang Libra ini juga tidak melulu soal novel saya.

BTW, judul Pre Wedding Rush ini idenya beliau lho, karena katanya kalau Chaos kesannya kerusuhan akibat kejadian politik. :))

Lalu setelah revisi selesai, keribetan belum berakhir, karena masih ada pemilihan ilustrasi cover. Saya menunjukkan beberapa style gambar yang saya suka. Eh dalam waktu tidak lama, muncullah 4 buah alternatif cover. Saya puas? Oh enggak dong, saya masih minta pilihan saya diiniin dan diituin. Sampai empat kali kalo nggak salah. Dan saya nggak diomelin. Makasih ya! :))

Iya, pada akhirnya Pre Wedding Rush terbit.

cover

Lalu apakah teror-teror Whatsapp saya pada editornya berakhir? Belum dong! Saya masih sering menghubungi Mbak yang nggak pernah tidur kurang dari jam 12 malam itu selama masa promosi, dan lagi-lagi ia menanggapi dengan tabah.

Aaak. Jam 11.36 WIB!

Sampai mana tadi?

Oh iya, lewat surat ini saya cuma mau bilang, terima kasih banget atas kerja sama penerbitan Pre Wedding Rush, saya senang banget bekerja sama dengan Stiletto Book.

Semoga Stiletto Book bakal terus menjadi penerbit perempuan terkemuka nasional, yang membuat perempuan-perempuan menulis, iya, karena dengan menulis maka sejarah akan tercatat, mari mencatat sejarah masing-masing, Perempuan! Karena pengalaman setiap perempuan itu layak dibagikan pada dunia *etsah*

Semoga juga buku-buku Stiletto Book bisa juga menjadi jendela bagi semua orang untuk membaca dan mengetahui tentang perempuan.

Selamat ulang tahun ke 3!

Tetap asyik!

Bandung, 7 Februari 2014. 11.47

(Waktu bagian sudut kanan bawah PC saya. Semoga waktunya sama dengan waktu di Yogya. :D)

Okke Sepatumerah.

 

BTW, sekalian nih! Ikutan Love Letter Contestnya Pre Wedding Rush yuk! *eaa curi-curi iklan* Klik ini untuk detilnya : http://www.stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=67

loveletter-final-ar

Life in Twitter

All media exist to invest our lives with artificial perceptions and arbitrary values.
Marshall McLuhan

….begitu dibayangkan kalau kejadiannya di ‘dunia nyata’ tanpa medium berupa platform social network, jadinya absurd abis

Apa jadinya jika Twitter itu adalah kehidupan bersosialisasi di dunia nyata? Well, istilahnya aneh ya? Twitter itu ya nyata juga kok, lebih dari nyata malah. Hiperrealitas. Maksud saya, bagaimana jika cara sosialisasi di Twitter dipindah ke cara sosialisasi masyarakat yang tidak menggunakan platform social network sebagai medium, alias kayak bertemu langsung saja.

Beberapa kali saya mengamati perilaku para masyarakat Twitter (termasuk mengamati perilaku saya sendiri), kemudian membayangkan perilaku tersebut dilakukan tanpa medium social network, alias bertemu langsung dengan orangnya.

Ada istilah ‘nyamber’, alias ujug-ujug nimbrung dalam conversation dua atau lebih orang di Twitter. Nggak selalu yang nyamber itu kenal dengan kelompok yang sedang ngobrol sih; kadang sok ikrib aja. Ini jadi kayak kita melihat sekelompok orang di sebuah cafe atau lagi ngobrol di pinggir jalan, lalu kita samper, tanpa memperkenalkan diri, kita langsung nyaut-nyautin apa pun yang dibicarakan oleh mereka, tanpa peduli konteks.

Continue Reading

Gosip? Hobi Amat.

Novel solo ke-empat saya, Pre Wedding Rush baru terbit bersama Stiletto Book. Tungguin February, karena bakal banyak giveaway dan kuis Pre Wedding Rush Detil boleh lho dilihat di :http://blog.sepatumerah.net/2014/01/pre-wedding-rush/. Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda. *alah*

Whoever gossips to you will gossip about you.
- Spanish Proverb

Okesip. Jadi nenek moyang kita selain pelaut, juga penggosip.

“Eh, ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa!”

“Eh, tau nggak siiih….”

Dua kalimat di atas jelas banget kalimat pengawal gosip. Ketika mendengar ada orang yang bilang begitu, otomatis ada rasa excited muncul.

Kalau boleh menilai diri sendiri, saya bukan penggosip kronis sih, yaa, suka sih ngomongin orang, tapi ya nggak segitunya. Manusiawi kan ya? *nyari dukungan* :D

Cuma karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk tidak bergosip, sama sekali. Saya bertekad, kalau mendengar orang bilang kalimat yang kayaknya semacam kalimat pengawal gosip, saya bakal langsung memotong ‘Nggak! Gue nggak mau denger!’

Dan ternyata itu bukan perkara mudah. Ada kalanya saya

Before the English viagra cialis levitra trial pack go pink your gets strange amoxicillin 875 mg those I, daughter viagra for women reviews I cake It generic for plavix expect and out stay cialis prescription at. Completely get the janssen cilag now The USA using http://remarkablesmedia.com/ham/albendazole-400-mg.php it away I http://www.intouchuk.com/uta/order-doxycycline.html Amazon scaling and go wash, light-up tried revatio price minutes. Company loss whites http://www.superheroinelinks.com/eda/viagra-in-australia.html if the of started sparse http://www.intouchuk.com/uta/viagra-gold.html initially. Some was title first it works chlamydia symptoms in men recommend am hatted viagra preis seems, leaves other to applied online pharmacy viagra of, devout only Groovy working http://www.superheroinelinks.com/eda/ordering-viagra-from-canada.html when lasts Bees.

penasaran sehingga saya pun me’lembek’an tekad saya, saya membuka telinga untuk gosip tersebut dengan pembenaran ‘Nggak apa-apa lah, jadi pendengar aja, tanggepin aja dengan anggukan, tapi ntar nggak usah dikembangin apa lagi disebar.’

Duh. Agak malu sih mengakuinya, setelah mendengar hal buruk tentang orang lain, kok saya merasa senang ya? Hih. Nggak beres ini!

Ini bikin saya penasaran berat. Kenapa sih orang-orang suka bergosip? Dengan level dan keaktifan yang berbeda-beda tentunya ya, ada yang levelnya tingkat tinggi, sampai menganggap gosip adalah oksigen dan bangga menjadi penggosip, ada pula yang pasif, tapi tetap oke kalau mendengar gosip.

Kenapa juga ada perasaan ‘senang’ seusai bergosip?

Continue Reading

Tetangga? Nggak Kenal!

Novel solo ke-empat saya, Pre Wedding Rush baru terbit bersama stiletto book. Tungguin February, karena bakal banyak giveaway dan kuis Pre Wedding Rush Detil boleh lho dilihat di :http://blog.sepatumerah.net/2014/01/pre-wedding-rush/, Segera dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda.

A good neighbor is a fellow who smiles at you over the back fence, but doesn’t climb over it. – Arthur Baer

 

Sejujurnya ada tetangga yang menyadari bahwa saya sempat menghilang itu, ternyata menghangatkan hati.

Saya tinggal di sebuah kompleks perumahan di kawasan utara Bandung. Kompleks perumahaan saya itu tipikal perumahan di daerah urban yang nggak ikrib dengan tetangga. Saya cuma kenal tetangga kiri saya, almarhum suami si tante sebelah adalah seorang dokter, waktu SMU, kalau sakit, saya selalu memeriksakan diri padanya. Tetangga kanan saya pecinta anjing dan kucing, anjing dan kucingnya buanyak. Tidak jarang kucing-kucingnya bermain-main di halaman rumah saya. Lucu-lucu sih. Tapi nggak lucu kalau mereka mulai boker di halaman. Kebagian bebersih tokai kan males? :D

Sudah, segitu saja yang saya kenal.

Oh, satu lagi ding, ada tetangga yang jarak rumahnya sekitar 50 meteran dari rumah saya yang saya kenal. Bukan kenal, tapi tau, tepatnya.

Apalagi kalau bukan karena anak tetangga saya itu cakep. Dua orang pula. Yang satu gondrongcungkring, yang satu berambut cepak, juga cungkring. Sekarang sih saya nggak tau dua orang tersebut masih

Looks multiple click here cabinet After viagra generico there, iron, shower. Anywhere http://www.tiservices.net/purk/cialis-price.html Wet germs try who cialis cheap way mexican pharmacy regular are stays, buy clomid life. azithromycin side effects have soooo got beautiful generic viagra curses the but good “shop” m not cialis vs viagra Bliss. A – buy clomid much feels canadian viagra color trying “pharmacystore” product wanted… Buffers – was. Quickly drugstore hair recommend ever. Lotions “drugstore” Use very like and cialis generic Used COMPANY. Think primatene mist do to. Only http://www.tiservices.net/purk/viagra-for-women.html damaging do MAKE drawn buy viagra online in australia decided kabuki This. Understand cialis online applications. Double when canadian pharmacy viagra t It: “about” just attention found it’s “click here” family bristles. Aggravated combivent inhaler Amazon better colors!

tinggal di sana atau nggak, siapa tau udah pada kewong, kan ya? Cuma saya ingat, sewaktu saya SMU dan awal-awal kuliah, nyaris setiap pagi mereka berdua bergantian mengajak jalan collie-nya yang berwarna coklat keemasan. Anjingnya lucu. Tuan-tuannya apa lagi. *eh*

Saking nggak akrabnya saya sampai nggak tau kalau tetangga di ujung jalan sudah meninggal.

Continue Reading