Archive for the keseharian Category

52 Wednesdays. Patah Hati Yang Berujung Pameran.

Suatu hari, di bulan November tahun lalu, Lioni Beatrik ( @deliriumerotica) mengajak saya ketemuan. “Pengin ngobrol” - katanya. Maka berjanjianlah kami di satu Selasa sore yang cerah di Warung Ngebul.

Ternyata dia akan mengadakan pameran foto. 52 Foto Rex.

Oh, buat yang tidak tahu Rex, itu adalah salah satu karakter dari film animasi Toy Story, favoritnya Lioni.

sumber gambar : mommyniri.com

sumber gambar : mommyniri.com

Awalnya saya belum mengerti. Kenapa Rex?

Akhirnya keluarlah cerita tentang Alex. Seorang pria yang berhasil membuat Lioni jatuh cinta dan patah hati pada saat yang bersamaan.

Perasaan kangen yang muncul setelah patah hati memang ngehe banget. Hayo, ngaku deh. Bikin rungsing. Tapi Lioni punya caranya sendiri. Ia memotret boneka Rex ini dengan selembar post-it bertuliskan ‘I miss you’. Foto itu ia kirimkan melalui e-mail di satu hari Rabu, setahun yang lalu.

Ternyata, perasaan kangen tidak berhenti sampai di hari Rabu tersebut. Sejak saat itu, di setiap hari Rabu, untuk mengobati kekangenannya dengan sosok Alex ini, Lioni memotret dan mengirimkan serial foto boneka Rex dalam berbagai pose bercerita. Maksudnya hanya sekedar menyapa.

Ada 52 hari Rabu, dengan 52 foto Rex yang akan dipamerkan dalam  52Wednesdays, a photo exhibition by Lioni Beatrik.

Saya ternganga : 52 minggu? Ini anak gilaaaaa… :D

Satu sisi saya bilang gila, tapi satu sisi saya mengagumi ide dan cara Lioni. Oh, mungkin bagi yang mendengar cerita ini bakal berpikir bahwa apa yang dilakukan Lioni adalah bentuk teror. Tapi, dari sana pembicaraan berlanjut; bahwa mengirimkan foto setiap hari Rabu ini menjadi semacam terapi-nya untuk mengobati kekangenan dan menyembuhkan patah hati.

Selaras dengan apa yang dituliskan oleh Irma Chantily, kurator pameran ini, bahwa memikirkan foto seperti apa yang dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia (Lioni) bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain, selain perasaannya yang tak berbalas itu, Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya, Tiap hari ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan ‘cerita’ Rex.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengobati patah hati dan perasaan-perasaan marah, kangen, kesal dan lain-lain yang menyertainya. Ada yang menenggelamkan diri dalam kesedihan, ada yang mendadak produktif menulis (ini saya sih), ada yang mendadak senang bersosialisasi di mana saja, ada yang mengikuti macam-macam kegiatan. Ada yang iris-iris nadi. #eh

Pameran ini adalah cara Lioni. Buat yang lagi patah hati sekarang, ini ada alternatif lain dari mengobati patah hati, bisa dicontoh, mungkin, daripada nangis-nangis menghabiskan tissue berkotak-kotak. :D

Caramu bagaimana?

Oh, semalam saya dan partner mampir melihat pamerannya. Setelah selama sebelum pameran saya hanya mendengar ‘cerita verbal’ dari visual foto-fotonya (Ada si Rex lagi kelindes mobil, ada si Rex di pantai, ada si Rex di Dekat Patung Pancoran dan seterusnya), akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, wujud dari foto-fotonya.

Bagus ya boook! :)

Semalam saya bilang pada Lioni, beberapa foto itu harus dibikin postcard. Soalnya keren.

Buat yang pengin lihat 52Wednesdays, a Photo Exhibition by Lioni Beatrik, bisa langsung datang ke CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung. Masih sampai tanggal 21 Januari 2012 ini.

Oh, selain berpameran, Lioni juga mengajak semua orang untuk curhat galau berjamaah berbagi cerita tentang kehilangan dan patah hati, di sini : http://52wednesday.blogspot.com/, siapa saja boleh ikutan, kirim saja ceritamu ke : lionibeatrix@gmail.com

Ih saya agak bego deh, lupa bawa kamera, jadi saya terpaksa memotret dengan kamera hp. Hasilnya gelap-gelap nggak jelas gitu deeh. :(

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

(Melewatkan) Perayaan Persahabatan

Yang mana yang terbaik. Kalau mbak Okke ngerasa nggak damai pergi, ya jangan.

Itu bunyi SMS yang saya terima di suatu siang beberapa hari yang lalu. Saya menghela napas, berkali-kali.

Belum sempat saya membalas, muncul lagi SMS lain, dari orang lain.

Jangan pergi. Kalau hati lo udah ngerasa nggak enak, bisa jadi itu pertanda. Jangan sampai lo nyesel atau kenapa-kenapa.

Ke-dua pesan tersebut datang dari dua sahabat saya. Rencananya kami berjanji bertemu di hari Selasa kemarin, bersama satu orang lagi yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pertemuan berempat seperti ini adalah peristiwa langka. Bisa setahun sekali saja syukur.Kali ini saja susah sekali menentukan jadwal — salah satu dari kami harus kembali ke Indonesia Timur, sehari setelah pertemuan ini.

Dan saya sangat menantikannya. Kami sangat menantikannya.

Namun, sehari sebelum perjumpaan kami, ibu saya jatuh sakit. Beliau tahu saya akan pergi, untuk bertemu mereka; di tengah sakitnya beliau bilang : ‘Pergilah! Kapan lagi?’. Iya, kapan lagi? Setahun lagi, dua tahun lagi, tiga tahun lagi? Mungkin. Tapi ada rasa mengganjal di hati, yang memberatkan kaki saya untuk melangkah.

Saya percaya pada proses dalam segala hal, termasuk soal persahabatan. Seseorang mungkin bisa langsung merasa ‘klik’ dengan orang lain dalam waktu singkat, tapi yang saya tahu, akan selalu ada friksi, ujian persahabatan adalah, apakah setelah melewati segala bentuk gesekan, kecil dan besar, kita masih terus bertahan?

Berawal dari krisis identitas di masa muda (ha!) dan terus menerus mempertanyakan ‘Tujuan hidup apa sih? Masa iya cuma lahir-sekolah-lulus-kuliah-kerja-kawin dan beranak?’, kami sama-sama berakhir di satu organisasi nirlaba yang bergerak di bidang perdamaian, dan bekerja di daerah-daerah pasca konflik dan bencana. Satu keputusan besar yang tidak mudah dan tentunya mendapat banyak tentangan dari orang sekitar.

Tapi passion yang sama tidak berarti membuat persahabatan kami berjalan dengan mulus-mulus saja, banyak banget friksi yang terjadi. Apalagi kami berada di situasi yang tidak nyaman, sehingga sangat memungkinkan terjadi saat-saat masing-masing dari kami ‘keluar asli’nya, dan melukai yang lain.

Teori saya sih, salah satu parameter cocok atau tidaknya seseorang dengan orang yang lain — selain periode berinteraksi yang intensif dan lama — juga lokasi yang tidak menyamankan. Kalau bisa bertahan, ke depannya pasti akan baik-baik saja menghadapi apapun.

Pada akhirnya kami bertahan. Menghadapi konflik intern alias satu sama lain. Menghadapi konflik beneran konflik gara-gara daerah yang tak aman. Menikmati hari-hari terpapar sengat matahari. Pantai. Hidup semi nomaden. Mengajar. Berbagi dengan sahabat-sahabat Timur yang luar biasa. Betah. Tidak mau berakhir.

Tapi kami sadar, kami tidak mungkin selamanya seperti ini; satu saat kami harus berhenti. Entah karena umur, atau hal-hal lain. Dan di satu malam gila di loteng rumah sewaan kami, sempat tercetus, kami harus menyempatkan seperti ini, setidaknya setahun sekali, pergi ke daerah berpantai.

Dan memang, kegilaan masa muda di jalan tersebut harus berakhir dengan alasan yang bermacam-macam. Namun persahabatan kami tidak berakhir, tentunya. Walaupun bertemu setahun sekali di daerah berpantai itu semacam ambisius juga kali yaaaa :))

…..

Saya memutuskan untuk tidak menemui mereka. Saya cinta mereka, saya mencintai ibu saya. Tapi, hidup itu selalu soal memilih, kan?

Saya berharap, akan ada perayaan lain, di lain waktu. Di mana kami bisa pergi ke tempat berpantai, sejenak ‘mengulang’ kegilaan masa muda — dengan cara yang lebih bijaksana.

Hey, kalian! Kangen kalian!

Hadiah Yang Menyentuh Hati

Oh, memberi sesuatu ‘dari hati’ itu terjadi hanya ketika kita sayang pada orang yang akan diberi hadiah.Ya iya,dong, kalau tidak sayang, ya ngapain repot-repot.

Nggak tau ya yang lain, tapi kalau saya sih nggak suka hadiah yang terlalu mahal dari toko. Kenapa? Karena saya sering merasa ‘dibeli’ ketika menerimanya; kadang-kadang kalau ada yang memberi saya hadiah terlalu mahal, saya sering berpikir ‘Ni orang ada maksud apa sih?’. Ya, sebut saja saya berpikiran negatif.

Tapi saya suka kok menerima hadiah. Siapa sih yang enggak?

Hadiah-hadiah yang ‘menyentuh’ hati saya adalah hadiah yang diserahkan dengan hati; jadi sang pemberi mencurahkan seluruh usaha dan perhatiannya untuk memberi hadiah tersebut.

Hadiah-hadiah handmade, sering bikin saya terharu, karena artinya, sang pemberi rela menyisihkan waktu untuk membuat hadiah tersebut.

Hadiah-hadiah barang yang saya butuhkan, juga menyentuh hati saya, apalagi kalau sebelumnya saya nggak pernah bilang kalau saya butuh barang tersebut. Artinya, sang pemberi rela meluangkan waktu untuk mencari tahu.

Hadiah-hadiah barang yang saya inginkan/butuhkan yang susah dicari. Iye, kadang-kadang saya suka nganeh-nganehi pengin barang yang susah dicari. Kalau sampai ada orang yang memberikan barang yang susah dicari tersebut, bisa-bisa saya mbrebes mili, soalnya membayangkan, betapa ribetnya sang pemberi memburu barang tersebut. Ya memang saya kadang-kadang cengeng sih :D

Dan, beneran, barang-barang yang diberi dengan hati itu ‘energi’-nya beda. Saya bisa merasakannya (atau mungkin ini saya yang drama). Ketika menerimanya, saya sering merasa merinding.

Kenapa saya menulis tentang hadiah? Karena kemarin, saya baru dapat hadiah dari Yanah yang dikirimkan ke kantor saya. Saya mengenal Yanah ketika ia mengirimkan pesan maya yang mengomentari salah satu novel saya. Sejak saat itu, beberapa kali kami bertukar sapa di kanal cakap maya.

Beberapa hari sebelumnya Yanah memang sempat sih mengirimkan pesan via Facebook, menanyakan alamat. Ketika saya membalas, ia bilang ‘Nanti kalau sudah jadi, saya kirim ya Mbak…’

Heh? Kalau sudah jadi?

Saya penasaran, berarti Yanah membuat sendiri hadiahnya dong? Dan, ketika bingkisan saya buka…..

Read the rest of this entry »

Daripada Nantinya Susah.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar buruk. Suami kawan saya meninggal mendadak. Umurnya masih muda, 33 tahun, ia lebih muda 6 bulan dari saya. Saat melayat, saya mendengar cerita seorang kawan yang lain, yang menemani suami kawan saya sampai ia meninggal. Katanya, ia meninggal karena sakit, yang disebabkan pola hidup yang nggak beres.

Jujur saja, itu sempat menimbulkan rasa takut dalam diri saya. Iya, pola hidup saya sembarangan banget; olahraga jarang — oke, ngaku deh, tidak pernah. Tidur selalu lewat tengah malam, bahkan terkadang tidak tidur. Pola makan kacau, empat sehat lima sempurna yang dipelajari semasa SD menjadi hanya teori bagi saya.

Saat mendengar cerita tersebut, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah olahraga.

Saya memutuskan untuk jogging. Awalnya memang malas, tapi ketakutan rupanya tanpa sadar telah menjadi motivasi bagi saya untuk memaksakan diri jogging tiap sore jelang maghrib seusai beraktivitas harian ( tentu saja karena saya tidak suka bangun pagi. :D)

Berhasil. Selama 3 bulan, 4x seminggu saya rutin jogging,

Bagi saya saat itu, jogging rutin adalah prestasi. Dari yang olahraganya hanya olahraga jari-jemari (twitteran, gitu maksudnya), ke jogging, Keren dong ya?

Saya pun merasa menjadi manusia-paling-sehat-sedunia, biarpun pola makan masih tetap kacau; tapi saya berpikir, kalau sudah jogging, ya sudah sehat. Bahkan saya sempat bertingkah bak anggota MLM Jogging yang mencari downline. Iya, setiap bertemu dengan teman, saya selalu mengajak mereka untuk berolahraga – jogging, tentunya.

Cuma, kebelaguan saya terhenti. Di satu sore sekitar sebulan yang lalu, saat saya sedang bersiap untuk jogging, mendadak saya merasa kedua lutut saya nyeri luar biasa. Waktu itu tetap saya paksakan untuk berlari dengan pemikiran, mungkin ini efek belum biasa. Hasilnya, di tengah jalan, lutut saya semakin nyeri. Terpincang-pincang saya pulang. Nyeri itu tidak berkurang, jangankan berlari, bahkan berjalan pun susah. Saya berhenti jogging selama nyaris dua minggu, berharap rasa nyeri berkurang.

Minggu ketiga saya menyerah. Saya ke dokter keluarga.

Read the rest of this entry »

Fokeus dong! Fokeus!

…katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.

Siang itu saya terpaksa mengantri untuk mengambil uang di butik ATM di sebuah mal. Di depan saya terdapat seorang ibu dan anaknya yang cerewet. Antrian cukup panjang dan tidak maju-maju, tampaknya  orang yang sedang di dalam bilik ATM sedang  sibuk membayar seluruh tagihannya dan mungkin tagihan bapak, ibu, nenek, kakek, bude, pakde dan lain-lain. Soalnya lama bianget. Lebih lama dari ‘banget’.

Seperti layaknya anak-anak kecil lain, si anak sibuk bertanya-tanya ‘Kok ngantri, Bunda?’,'Nanti kartunya dimasukin terus uangnya keluar ya,Bunda?’,'Di dalem mesinnya ada orang, Bunda?’ dan sejuta pertanyaan lain. Sang Bunda hanya menjawab pertanyaan bertubi-tubi tersebut dengan ‘Hm’,'He-eh’, ‘Iya’ dan  - ia tampak asyik dengan telepon genggamnya. Namanya anak kecil, ya tentu saja pertanyaan tak berhenti sampai di situ.

Jawaban finalnya ‘Ssst, ah. berisik!’. Dan ia terus asyik dengan telepon genggamnya.

Suatu hari, sekitar seminggu yang lalu, saya membaca kicauannya @benzbara di twitter, saya lupa isi tepatnya seperti apa, pokoknya intinya, @benzbara protes dengan tuduhan orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang aktif di media sosial itu tidak punya kehidupan sosial di dunia nyata. Karena saya tidak pernah benar-benar mengenal orang yang saya ‘temui’ di dunia maya, ya saya nggak tau juga ya, apa memang benar demikian atau nggak. Lah sama orang yang benar-benar ketemu di dunia nyata aja kita suka salah penilaian, gimana sama yang nggak kenal, nggak pernah sering-sering berinteraksi di luar teks?

Dan saya pun membalas tweet-nya @benzbaramungkin bukan nggak punya kehidupan sosial, tapi kalau lagi aktif di dunia maya, dari yg gw perhatiin sih, jadi kurang fokus sama kehidupan nyata.

Pendapat saya memang tidak ditanggapi oleh @benzbara, tapi disambar oleh orang lain, katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.

Saya pribadi nggak pernah percaya dengan keterampilan multitasking. Sepiawai-piawai-nya seseorang melakukan banyak hal secara bersamaan, tapi pasti perhatiannya ke banyak hal tersebut tidak maksimal. Ke sana setengah-setengah, ke sini setengah-setengah. Serba nanggung.

Saya pernah memerhatikan seseorang yang memang nggak bisa lepas dari alat telekomunikasi canggihnya. Kamu juga pernah dong ya? Hari gini masa nggak pernah? Perhatikan saja bagaimana orang tersebut memberi respon, saat ia berinteraksi dengan telepon genggam dan saat ia melepas telepon genggamnya.

“Oh ya? Trus, trus? Trus?” ini kurang lebih respon saat ia sedang berinteraksi dengan telepon genggam. Pandangannya berpindah-pindah, dari kita ke telepon genggamnya. Saya nggak yakin orang tersebut sepenuhnya mencurahkan perhatian dalam interaksi dunia nyatanya. ‘Mengerti’ topik pembicaraan dunia nyata bukan jaminan bahwa ia terlibat dan fokus sepenuhnya. Yang geli nih, di satu waktu mendadak dia bilang ‘Ah shit! Gue salah tweet!’.

Saya tertawa, sudah nggak fokus dengan obrolan di dunia nyata, nggak fokus juga dengan obrolan di dunia maya. :))

Saya nggak memungkiri bahwa ada satu titik di mana dunia maya itu terasa mengasyikkan dan rasanya sayang untuk ditinggalkan; topik tweet yang mendadak seru, misalnya. Rumpian di kanal maya yang heboh. SMS-SMS yang rame. E-mail-email yang panas. *alah panas*.

Read the rest of this entry »

‘Belajar’ Agama. Penting?

Ih ya ampun, saya punya blog ini ya? Keasyikan main-main di project yang ono, sampai lupa punya blog ini. :)) Eh iya, mumpung nyebut-nyebut project yang ono, sekalian yuk, ikutan Make Up Challenge-nya, berhadiah lho! Untuk detil lihat di sini ya : http://looxperiments.blogspot.com/2011/09/make-up-challenge-contest-before-and.html

*sempeeet, pengumuman.*

—————

…biarpun nggak ngerti, nilai agama saya bagus terus loooh! Kan waktu kecil saya jagoan menghapal ;-)

Terus terang, biasanya mau ada tayangan apa pun di TV (setelah ada satu atau dua hal yang bisa dicela; terutama untuk infotainment dan sinetron *teteub*) pasti saya akan segera berlalu. Cuma beberapa waktu yang lalu, ada satu tayangan yang berhasil membuat saya berhenti dan menonton selama 5 menit. Dan tayangan itu adalah tayangan lomba dakwah bocah-bocah cilik.

Buat saya, berdakwah itu bukan ‘jatah’nya anak kecil; dan saya agak serem mendengar isi dakwah mereka. Maksudnya anak-anak tersebut menggunakan istilah-istilah orang dewasa. Target, dosa, keresahan dan ada beberapa kosa kata lain yang kayak saya ‘keberatan’ kalau dipakai oleh anak kecil. Sedangkan seingat saya (koreksi ya kalau salah) para peserta lomba dakwah tersebut berusia di bawah 10 tahunan. Kanak-kanak umur segitu kan belum paham benar dengan konsep-konsep abstrak? Target? Dosa? Keresahan? Abstrak banget.

Jadi ingat, salah satu bocah cilik yang saya kenal, pernah memenangkan lomba mendongeng, bagus banget cara mendongengnya, dan ceritanya pun mengandung kata-kata canggih dan kalimat indah. Ketika ditanya, ternyata dongeng yang membuatnya menang itu dibuatkan oleh gurunya, ia sendiri tidak begitu mengerti soal isinya.

Ya maab kalau saya suudzon, tapi saya jadi berpikir, jangan-jangan di lomba dakwah ini naskah dibuat oleh orang dewasa (orangtua atau guru), kemudian sang anak tinggal menghapal. Dan  anak-anak peserta lomba dakwah tersebut nggak ngerti dengan apa yang mereka khotbahkan.

Lalu ada orang dewasa yang mengomentari dakwah si anak, yang memberi komentar tambahan yang kurang lebih menyatakan, bahwa anak-anak adalah generasi penerus bangsa, lomba dakwah seperti ini baik untuk membina para generasi penerus bangsa supaya menjadi manusia-manusia berakhlak.

Maaf kalau menyinggung, tapi… apa benar dengan menghapal bisa membentuk seseorang menjadi manusia berakhlak?

Read the rest of this entry »

A Little Girl That Grows Bigger

Saya nggak sadar umur. Mungkin ini karena perkembangan psikologis saya telah berhenti di umur 18 tahun - iya psikologis, tapi perkembangan fisik ya emang nggak terelakkan sih, tapi pura-pura nggak tau aja ya :)

Yang bikin saya sadar bahwa saya menua adalah seorang bocah bernama Kinarya Lentik Sukmasalira, anaknya partner in crime saya, Ella. Hari ini dia berulang tahun ke-7. Dan asli ketika dia menyebutkan umurnya saya kaget. Gimana nggak, perasaan baru kemarin Lentik masih berwujud bayi, yang saya gendong-gendong dan jadiin mainan, laaah, sudah tujuh tahun lagi! Waktu cepat berlalu, Lentik sudah tujuh tahun (dan saya menua. :D)

Gila ya? Waktu cepat berlalu, dan Lentik sudah besar. *masih takjub*

Saya jadi teringat seorang kawan yang lain pernah bilang sama anaknya yang batita ‘Jangan cepet gede ya?’ — waktu itu saya sih cuma bingung,’Kenapa juga jangan cepat gede? Bukannya kalo cepat gede, makin baik, jadi anaknya bisa mandiri?’.

Alasan kawan saya ini, waktu cepat berlalu dan dia seorang pekerja kantoran penuh waktu yang ‘cuma’ punya waktu saat pulang kantor; terkadang ia melewatkan banyak hal selama tumbuh kembang si anak.

‘Gue nggak bisa ngebayangin, banyak hal yang gue lewatin gara-gara gue kerja; trus tau-tau dia harus sekolah, ketemu temen-temen, terus makin gede, makin mandiri dan makin nggak butuh gue…’ Begitu katanya.

Ya kata saya sih, semandiri-mandiri-nya seorang anak perempuan, sampai kapan pun dia akan selalu membutuhkan Ibunya - walaupun fungsinya kemudian berbeda, waktu kecil sebagai penolong, ketika besar, menjadi best-friend. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Dan, suka nggak suka, waktu terus berjalan. A little girl must grow up :)

Selamat ulang tahun, Kinarya Lentik Sukmasalira

Jadi gadis besar dan jadi matahari buat sekeliling ya!

:)

Foto : Ella Meilani, saya, Andi Dwiputra dan err, kalo lupa siapa yang ngambil fotonya, gapapa ya? :D

Selagi (Masih) Ada.

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Siklus hidup yang pasti akan terjadi. Almarhum seorang kawan, di tengah sekaratnya, pernah berkata bahwa kematian adalah perpisahan sementara, suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi.

Namun kematian tidak pernah menjadi hal yang bisa dihadapi dengan biasa-biasa saja.

Menyebut kata kematian selalu berhasil membuat saya merasa tak berdaya. Apalagi kematian mendadak; satu saat saya dan seseorang masih tertawa-tawa, tiba-tiba di saat yang lain, orang tersebut pergi.

3 berita kematian mendadak dalam dua hari ini, serta masalah lain cukup mempermainkan emosi saya. Naik turun seperti roller coaster. Satu ayah seorang kawan, satu sahabat ayah dan satu lagi, suami seorang kawan.

Konon katanya, ayah seorang kawan ini masih sempat bertemu dengan kawan-kawannya semalam sebelumnya, dalam keadaan bugar.

Konon katanya, sahabat ayah sempat bertelepon beberapa jam sebelumnya.

Dan, suami seorang kawan, sempat menelepon untuk mencandai saya,  ia menodong oleh-oleh. Saya tahu ia hanya meledek, karena ia sudah kenal saya yang suka males jika dimintai oleh-oleh.Oh, tapi ia saya belikan kopi Papua. Besok rencananya saya akan bertemu, untuk menyerahkan titipannya. Tapi barusan saya mendapat kabar bahwa ia meninggal. Serangan jantung mendadak.

Saya tidak bisa berhenti menangis. Bukan hanya menangisi kepergian orang-orang tersebut. Saya menangis karena pikiran saya dipenuhi oleh orang-orang yang saya kasihi. Ayah, Ibu, Adik, Nenek saya, pacar saya, sahabat-sahabat saya.

Bagaimana jika mereka-lah yang meninggal? Bagaimana jika… saya yang meninggal? Bagaimanakah hubungan kami saat saya atau mereka yang meninggal?

Saya teringat pernah menyakiti orang-orang yang saya kasihi, tidak sengaja. Apa jadinya jika saya atau mereka meninggal membawa luka yang saya buat?

Saya teringat pernah membuat orang-orang yang saya kasihi sedih. Apa jadinya jika saya atau mereka pergi dengan kesedihan akibat saya?

Saya teringat, terkadang saya tidak menghargai mereka sebagai anugrah, saya menganggap mereka ada karena memang sudah dari sananya mereka ada. Keberadaan mereka yang seharusnya saya syukuri, malah saya anggap biasa-biasa saja.

Saya teringat, saya jarang mengatakan bahwa saya mengasihi mereka; bagaimana jika mereka atau saya pergi, tanpa tahu, sengeselin-ngeselinnya saya, saya sayang mereka?

Tidak ada yang tahu, berapa lama kita atau orang-orang yang kita kasihi itu hidup. Semua tidak bisa ditebak.

Mendadak muncul banyak keinginan.

Selagi masih ada, saya ingin meminimalkan tindakan-tindakan yang bisa melukai orang-orang yang saya kasihi.

Selagi masih ada, saya ingin mengurangi tindakan-tindakan yang membuat mereka sedih.

Selagi masih ada, saya ingin selalu menunjukkan bahwa saya sayang mereka.

Selagi masih ada……

Rest in Peace, Om Eri, Om Edison dan Aldi. Sampai bertemu kembali.

And you. Forgive me?

Sunsilk Hair Studio : Creambath-lah Kamu Sampai ke Ibukota

Zaman sekolah dulu, sering dong denger pepatah ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’? Nah, untuk kasus saya beberapa saat yang lalu, ada satu pepatah yang cocok banget buat saya : Creambath-lah kamu sampai ke ibu kota. :)

Yup, saya mendapat undangan untuk datang ke Sunsilk Hair Studio yang dibuka di Grand Indonesia Shopping Town, East Mall, Level 2. Thank you, Fashionese Daily.

Awalnya saya pikir ini semacam salon yang bakal buka terus sampai selama-lamanya *alah*, saya baru ngeh ketika diberitahu, ternyata, Sunsilk Hair Studio ini hanya akan ada dari tanggal 1 Juni – 31 Juli 2011. Jahh. Sebentar amat.

Ya sudah, niat menunda-nunda pun, saya batalkan. Ke sanalah saya untuk menjajal Sunsilk Hair Studio tersebut.

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Read the rest of this entry »

Rakuten Oh Rakuten *kekep dompet*

Senyebelin-nyebelinnya online shop yang, you know, suka ngetag-ngetag barang jualannya di FB (terus kalau diminta jangan ngetag jawabannya judes. Blah), tapi ya teteub juga lah online shop menjadi salah satu pilihan saya kalau pengin beli barang-barang tertentu; ya gimana nggak, tinggal browsing, pesan, bayar pakai internet banking, terus tinggal duduk manis leyeh-leyeh deh, nungguin pesanan saya datang.

Entah sudah berapa banyak online shop yang saya jelajahi; tapi dari sekian banyak hanya di segelintir online shop saya berani bertransaksi, bisa dihitung dengan jari-lah. Abis, rada ngeri juga kali ya, siapa yang bisa jamin kalau ternyata online shop itu nggak dipakai sebagai kedok penipuan; karena saya juga sering dengar beberapa kawan yang mengaku belanja di online-shop tertentu, uang sudah transfer, tapi barang tak kunjung datang.

Pada akhirnya online shop-online shop yang segelintir tersebut menjadi online shop langganan. Saya nggak berani coba-coba bertransaksi ke online shop lain, kalau belum ada kawan yang beneran saya kenal ngasih rekomendasi bagus.

Sampai satu saat, dua orang di timeline Twitter saya, @OmAbdi dan @Vabyo ribut-ribut soal @rakutenIndo, salah satu online shop yang ada di jagad internet ini. Salahkan rasa penasaran saya, pada akhirnya saya mendarat juga di http://rakuten.co.id

Saat mulai browsing…

*glek*

Items yang dijual variatif sekali! Mulai dari gadget, barang elektronik, fashion, hobbies dan sports, motor & mobil, beauty & health, interior & kitchen, books & stationery, sampai barang-barang langka/unik yang susah ditemui di pasaran.

Oh enggak, Rakuten ini bukan sejenis online shop SD, alias Segala Dijual, tapi konsepnya lebih ke arah mall di dunia maya. Jadi di dalamnya ada berbagai macam toko-toko kecil yang menjual berbagai macam items. Banyak juga brand yang sudah terkenal membuka store di sana.

Saya baru menyadari bahwa Rakuten ini sebenarnya sudah terkenal sebagai tempat belanja online di dunia, bahkan sangat ternama di Jepang. Di Indonesia sendiri, Rakuten ditangani oleh MNC Group. Kemana aja ya si saya?

Terus terang saya tertarik dengan banyak barang di sana, tapi belum berani untuk bertransaksi, jadi kerjaan saya setiap saat hanya browsing dan browsing dan browsing. Ya tapi tau dong, semakin banyak browsing semakin banyak lah barang-barang yang bikin saya tertarik. Dari kamera, palet eyeshadow, sepatu, dan seterusnya dan seterusnya. Duuh.

Akhirnya saya menyerah ketika melihat palet  eyeshadow 25 warna ini. Biasalah, pereu. :D

Saya pun tanya sana dan tanya sini, semua bilang, bertransaksi di sana aman, barang sampai dalam waktu yang relatif cepat.

Untuk berbelanja sendiri, ada tujuh langkah yang mudah banget.

  • Tekan tombol ‘masukkan keranjang belanja’ yang ada pada barang yang anda incar
  • Periksa kuantitas barang.
  • Kalau sudah jadi anggota, silahkan login. Kalau nggak yang mendaftar dulu. Proses pendaftarannya juga nggak rumit, sekedip dua kedip selesai (er, ya nggak juga sih, tapi pokoknya gampang deh)
  • Pilih metode pembayaran, ada transfer bank, ada kartu kredit atau online banking
  • Pilih metode pengiriman
  • Isi alamat pengiriman, ya siapa tau aja mau ngasih ke orang. Kalau nggak ya pakai alamat sendiri saja.
  • Submit deeeh.

Kita tinggal nunggu e-mail konfirmasi, yang sampainya nggak sampai satu jam kemudian. Selanjutnya tinggal bayar deh, sesuai dengan cara pembayaran yang kita pilih waktu memesan. Selesai!

Itu saya lakukan hari Selasa kemarin ya. Eh kok ya, barangnya sudah sampai hari ini Kamis dalam keadaan tidak kurang satu apa pun, padahal itu udah kepotong sama hari libur Rabu kemarin kan? Berhubung barang yang saya pesan adalah eyeshadow, yang kalau packagingnya salah bisa hancur bubar, tadinya sih rada ketar-ketir; Cuma begitu paket dibuka, ternyata utuh, mereka tau banget gimana cara memperlakukan barang.

Palet pesanan sayaaa :)

Palet pesanan sayaaa :)

Agak heran juga, mudah dan aman banget ya bertransaksi di Rakuten? Barang pun sampai dengan cepat.
Mendadak perasaan saya nggak enak nih. *kekep dompet*

Oh iya, di Rakuten suka juga ada penawaran-penawaran menarik nih, mulai dari diskon items tertentu sampai penawaran potongan harga di jam-jam tertentu. Kemarin juga sempat ada games bagi-bagi hadiah barang tertentu di Twitter.

Kayaknya mulai sekarang, saya bakal ngejadiin Rakuten sebagai online shop langganan ah!

Bentar, bentar, perasaan saya kok makin nggak enak ya? :D

Yuk ah, browsingRakuten lagi!

Loh?