REDEFINISI ZONA NYAMAN

Dulu, saya pernah menderita sindrom rumput tetangga lebih hijau, tapi tidak akut. Hanya kambuh sesekali, terutama jika melihat teman-teman yang pekerjaannya jalan-jalan melulu. Sementara saya, terjebak dalam aturan kantor yang hanya membolehkan saya cuti 12 hari dalam setahun. Tapi berhubung sebelum ‘bekerja dengan gedung yang jelas’….

….sebentar, sebelum saya lanjutkan, baiknya saya jelaskan dulu maksud dari ‘bekerja dengan gedung yang jelas’.

Jika anda, mendapati pertanyaan ‘Kerjamu apa?’ dalam kesempatan apa pun, setelah menjawab, maka anda akan menerima pertanyaan susulan : ‘Kantornya di mana?’

Nah, jika anda bisa menjawab dengan jelas nama kantor serta alamat, maka itu artinya anda ‘bekerja dengan gedung yang jelas’. Nah, kalau anda tidak bisa menjawab karena sebenarnya anda bekerja dari rumah atau anda freelancer di berbagai tempat – nah itu, artinya anda ‘bekerja dengan gedung yang tidak jelas’. Biasanya, pekerjaan dengan gedung yang tidak jelas akan banyak mengundang kerutan di jidat penanya, terutama jika yang bertanya adalah orang-orang yang berasal dari generasi sebelum kita.

Continue reading

BENCANA!

Walau pun kedengarannya basi banget, ternyata kalimat bijak keinggris-inggrisan : you don’t know what you’ve got till it’s gone – ada benarnya lho. Nggak, bukan – ini nggak ada kaitannya sama soal cinta-menyinta kok, tapi ke soal buang membuang. Yup : TOILET!

Kalau saja saya tidak suka dan tidak pernah jalan-jalan mblesek-mblesek nggak jelas, mungkin saya tidak akan pernah berpikir bahwa toilet termasuk hal yang tidak kalah penting dari kebutuhan sandang dan pangan lain. Absennya toilet atau ketiadaan toilet yang ‘wajar’, pas mengalaminya sih, serasa terkena bencana besar (tapi kalau untuk mengingat-ingatnya, tidak akan pernah gagal untuk bikin saya cengar-cengir sendiri.)

Yang sering terjadi adalah ketika saya berada dalam bis atau truk menuju suatu daerah, yang (sialnya) sering melewati daerah-daerah – di mana menemukan tanda-tanda kehidupan umat manusia itu merupakan peristiwa langka. Serangan ingin buang air kecil yang sebenarnya alamiah menjadi hal yang menjengkelkan. Karena kalau sudah begini, yang bisa dilakukan hanyalah pipis di alam bebas. Untuk kaum Adam, hal ini nggak terlalu masalah, mereka tinggal mencari pohon, batu atau semak-semak, atau batu dan melakukannya. Masalahnya saya perempuan. Ini bakal membutuhkan waktu lima belas menit bahkan lebih! Bukan berarti saya benar-benar melakukan aktivitas pipis itu selama lima belas menit, kalian pikir kandung kemih saya sebesar gallon? (bentar, tempat menampung urine dalam tubuh kita itu disebut kandung kemih,bukan sih?), tapi ini terjadi karena saya harus mencari tempat yang aman untuk dipipisi. Itu pun masih celingukan dan akan terpanik-panik jika mendengar suara-suara kresek-kresek.

Continue reading

Maaf, Tante Nggak Suka Cara Kalian.

Dulu, waktu tante muda, tante suka banget melakukan jalan dadak – kapan pun ingin jalan, ya jalan, tanpa memikirkan apa pun. Seru, soalnya dari jalan dadak-jalan dadak itu saya suka mendadak jadi juri dadakan, jadi tutor dadakan, dan jadi dadak-dadakan lain (Yak, paragraf ini boros kata ‘dadak’)

Jalan dadak terakhir mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Sejak saat itu nggak pernah lagi, nggak sempet mikirin, lagipula pekerjaan tante sekarang ya memang sudah lumayan banyak ‘jalan’nya.

Tapi entah kenapa, Jumat malam (13/6), saat menikmati bajigur dan cuanki ala Kupang di bilangan Oeba, tiba-tiba muncul keinginan itu, ditambah lagi dengan tantangan seorang teman Tante. Bedanya, kalau dulu Tante melakukan jalan dadak untuk ‘pergi’, sekarang untuk ‘pulang’ – ke pulau Jawa. Rencananya sekalian bikin surprise untuk ibu saya yang sepertinya merindu partner menggosip — dan juga, seseorang yang selalu merajai pikiran saya *halah!*

Nah besoknya (14/6), Tante dan teman tante , setelah makan malam babi panggang Batak Karo di sebuah Lapo dekat Flobamora Mall, mampirlah ke sebuah tour and travel agent yang namanya PT. SKTM di Ruko Lontar Permai Oebobo, Jln. R.W Monginsidi III Blok B No 17, Kupang – niatnya untuk membeli tiket ke pulau Jawa. ;-)

Continue reading

APAKAH ANDA TERLALU PEMALU?

…sampai-sampai menanyakan nomor telepon orang yang anda sukai saja anda tidak berani?

Gunakanlah t-shirt ini!

Berhubung saya nggak terlalu pemalu, maka saya nggak beli t-shirt yang saya temukan di pasar barang bekas Suai (Distrik Cova Lima, Timor Leste) ini.

Eh, Ngomong-ngomong soal line gombal-gombalan, ada satu line yang jadi andalan kalau saya sedang ingin menggombali orang yang sedang dikecengi (ih, istilah di’keceng’ itu aneh banget sih bunyinya?) :

Continue reading

Perbincangan Imajiner

“Kak, kenapa kebenaran itu harus dicari?”
“Soalnya dunia itu panggung sandiwara, dik.”
“Ohh, jadi semua orang berakting,ya Kak?”
“Iya.”
“Pasti nyari kebenaran tuh susah banget…”
“Kenapa kamu bilang gitu, Dik?”
“Ya liat aja, orang ini sampe mati nyari kebenaran…”

Sebuah perbincangan imajiner yang selalu muncul di kepala setiap melihat monumen depan gang rumah ini.

Continue reading

Dia Bilang Saya Goblok (dan variannya)

Seumur hidup saya sangat yakin bahwa saya tidak masuk dalam kategori goblok dan variannya. Juga, tidak pernah – catat, tidak pernah ada seorang pun yang pernah mengatai saya sepertu itu, baik itu secara bercanda, apalagi serius.

Dan seumur hidup juga, saya sangat percaya, bahwa di dunia ini, tidak ada orang goblok dan variannya. Yang ada, orang yang sudah tahu dan orang yang belum tahu. Makanya saya tidak pernah mengatai orang seperti itu.

Tapi seseorang mengatai saya ‘Goblok!’ dengan keras dan sarkastis – yang lebih menyakitkan dia serius.

Berawal dari keluhan saya tentang betapa keberanian dan kenekatan saya jauh berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Untuk hal yang sederhana; saya jadi sedikit takut ketinggian. Lalu saya memberi contoh kasus. Kebetulan siangnya saya baru saja menyambangi air terjun Oehala.

“Di Oehala gue berusaha untuk berdiri di bibir air terjunnya. Beuh, rasanya nggak karu-karuan. Takut iya, sere..”

Nada excited yang keluar dari bibir saya terpotong.

“Goblok banget sih lo…”lawan bicara saya menatap tajam

Continue reading

Lagu Favorit Saya : Timor Lorosae

Rai timor Loro Sae
Rai ida Be Hau Moris
Hau Hadomi Deit O Mesak Doben
Rai Timor Loro Sae
Rai Ulun to a Rai Ikun
Tasi Feto to O Tasi Mane
Husi Loro Sae Loran Monu Mesak
Oan Timor Loro Sae

Tanah Timor Lorosae
Tanah tempat lahirku
Saya hanya mencintaimu
Tanah Timor Lorosae
Dari ujung timur sampai ujung barat
Laut tenang dan laut ganas
Dari Lorosae sampai Loromonu
Semua anak timor lorosae

Timor Oan tomak Lemorai
Hela iha Rai Seluk-seluk
Rona Lai Ami Hananu Hodi
Solok Imi Hotu Lae
Rai Ulun to a Rai Ikun
Tasi Feto to O Tasi Mane
Husi Loro Sae Loran Monu Mesak
Oan Timor Loro Sae

Semua anak Timor mengembara
Tinggal di tanah yang berbeda-beda
Dengarkan dulu nyanyian kami
Untuk menyenangkan kalian semua
Dari ujung timur sampai ujung barat
Laut tenang dan laut ganas
Dari Lorosae sampai Loromonu
Semua anak timor lorosae

Yah, sejak saya dengar lagu ini tahun 2001, saya langsung suka. Walaupun sekarang sudah banyak lagu-lagu Tetun yang saya dengar, lagu ini tetap ada dalam daftar lagu favorit :)

Continue reading

Abia ingin jadi Pastor

Berhubung harga pemakaian koneksi internet besarnya US$4/jam di Globalnet, tadinya saya hanya mau memakai setengah jam, memposting entry tentang Abia, seorang kawan cilik Timor Leste, mengecek e-mail, Friendster dan multiply.

Tapi ternyata thumbdrive saya terformat, jadi semua tulisan hilang.

Lalu, ya sudah, saya berencana mengecek semua sepuluh menit, lalu menulis cepat tentang Abia selama duapuluh menit.

Ealah, ternyata keterusan, jadi 45 menit. Dan harga pemakaiannya sudah US$4/jam. Doh, ya wis, nanggung, saya bakal mencoba menceritakan tentang Abia, dalam sepuluh menit. Doakan berhasil.

Olivia. Itu namanya. Tapi dia mengaku senang dipanggil Olive atau Livia. Gara-gara saya pernah mendengar orang rumahnya memanggil ‘Abia’, akhirnya saya ikut-ikutan. Dia baru sembilan belas tahun.

Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba ia memeluk saya dan bilang “Saya suka banget film Cinta Pertama! Mbak yang buat ceritanya ya?”

Lah?

Berhubung saya nggak mau dianggap mengaku-aku karya orang, maka saya mencoba menjelaskan bahwa skenario Film Cinta Pertama, dibuat oleh Mbak Titien Wattimena dan saya yang membuat novel adaptasinya.

Ia mengangguk-angguk, lalu menanyakan satu pertanyaan yang membuat saya cengar-cengir malu.

“Di film nama tokohnya Sunny dan Alia, kok di novel namanya Surya dan Wulan?”

*dan saya pun memandang langit-langit sambil bersenandung ‘dum di dum di dum’*

Continue reading

Guru yang Baik

Entri ini dipersembahkan untuk Ibu Nuning Damayanti yang baru saja melewati sidang doktoralnya. Congratulation!

Sudah sebulan ini, kami terkena demam membuat gelang dari benang, sampai-sampai salah seorang dari kami ngasih ide untuk mengadakan fund raising dengan jualan gelang. *halah*.

Sebenarnya saya pernah belajar membuat gelang macam ini waktu SD dan SMP, tapi lupa bo, caranya.

Demam itu sudah lewat – bagi orang-orang lain – tapi belum bagi saya. Sampai sekarang saya masih suka iseng berprakarya dan rajin menyambangi loja* Rose di jalan Colmera untuk membeli aneka warna benang,

Benar-benar candu.

Dan saya selalu menyalahkan Suze, salah satu teman yang mengajari kami membuat gelang dari benang.

Anyway, membuat gelang dari benang itu mudah dan menjadi bertambah mudah Karena cara mengajar Suze, sang mahaguru, menyenangkan. Hanya sekali memberi contoh, kami langsung bisa. Dan yang paling impresif adalah, setiap kami berhasil mengikuti apa yang dicontohkannya, ia akan selalu berkata, ‘You can do it,’, ‘Good job! Keep going!’ dan ketika selesai, ia selalu bilang; ‘This is nice. You’re great!’. Dorongan yang membuat ‘para murid’ berlomba-lomba untuk menyelesaikan gelang-gelang mereka.

Perkara prakarya gelang dari benang ini sudah kami lihat sejak dua bulan yang lalu, ketika ada orang yang sedang asyik membuat benang dengan warna-warna pastel yang menarik. Spontan beberapa teman bertanya bagaimana cara membuatnya.

Orang tersebut kemudian mengajarkan kami. Tapi caranya mengajar itu lho, nggak asyik. Selain nggak sabaran, dia sering sekali bilang ‘Gampang gini kok nggak bisa sih!” dan ada nih, yang lebih ngeselin ‘Cuma orang-orang dengan kecerdasan di atas rata-rata aja yang bisa dengan cepat teknik mengikat benang seperti ini.’

Gusrak.

Continue reading

MEMBERI DENGAN BIJAKSANA

“Kenapa nggak minta aja seluruh hidup gue?”

Itu adalah celetukan sebal Doreen, seorang teman, gara-gara anak-anak kerap meminta apa yang dibawa bahkan apa yang dipakainya. Padahal tidak ada yang terlalu istimewa atau mencolok dengan barang-barang yang dimilikinya, bahkan kalau boleh dibilang, barang-barangnya kusam semua. Yup – sudah 2 tahun ini ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai perawat dan traveling keliling Asia Tenggara, Australia, New Zealand dan Fiji, jadi tentunya dia tahu, percuma membawa barang-barang yang berlebihan, karena kemungkinan hilang atau rusak sangat besar.

Saya hanya tersenyum simpul mendengar omelannya. Saya sangat mengerti perasaan Doreen, karena saya [dan seluruh teman-teman] juga merasakannya.

Sungguh menjengkelkan, karena kami sama sekali tidak boleh terlihat membawa sesuatu atau memakai sesuatu, karena pasti mereka akan memintanya, dari ikat rambut, spidol hitam, sabun, shampoo, kertas, bahkan waktu saya secara diam-diam mengeluarkan pembalut karena sedang haid, tiba-tiba, seorang anak perempuan umur 5 tahun memintanya! Buset!

Continue reading