Archive for the jalan-jalan Category

52 Wednesdays. Patah Hati Yang Berujung Pameran.

Suatu hari, di bulan November tahun lalu, Lioni Beatrik ( @deliriumerotica) mengajak saya ketemuan. “Pengin ngobrol” - katanya. Maka berjanjianlah kami di satu Selasa sore yang cerah di Warung Ngebul.

Ternyata dia akan mengadakan pameran foto. 52 Foto Rex.

Oh, buat yang tidak tahu Rex, itu adalah salah satu karakter dari film animasi Toy Story, favoritnya Lioni.

sumber gambar : mommyniri.com

sumber gambar : mommyniri.com

Awalnya saya belum mengerti. Kenapa Rex?

Akhirnya keluarlah cerita tentang Alex. Seorang pria yang berhasil membuat Lioni jatuh cinta dan patah hati pada saat yang bersamaan.

Perasaan kangen yang muncul setelah patah hati memang ngehe banget. Hayo, ngaku deh. Bikin rungsing. Tapi Lioni punya caranya sendiri. Ia memotret boneka Rex ini dengan selembar post-it bertuliskan ‘I miss you’. Foto itu ia kirimkan melalui e-mail di satu hari Rabu, setahun yang lalu.

Ternyata, perasaan kangen tidak berhenti sampai di hari Rabu tersebut. Sejak saat itu, di setiap hari Rabu, untuk mengobati kekangenannya dengan sosok Alex ini, Lioni memotret dan mengirimkan serial foto boneka Rex dalam berbagai pose bercerita. Maksudnya hanya sekedar menyapa.

Ada 52 hari Rabu, dengan 52 foto Rex yang akan dipamerkan dalam  52Wednesdays, a photo exhibition by Lioni Beatrik.

Saya ternganga : 52 minggu? Ini anak gilaaaaa… :D

Satu sisi saya bilang gila, tapi satu sisi saya mengagumi ide dan cara Lioni. Oh, mungkin bagi yang mendengar cerita ini bakal berpikir bahwa apa yang dilakukan Lioni adalah bentuk teror. Tapi, dari sana pembicaraan berlanjut; bahwa mengirimkan foto setiap hari Rabu ini menjadi semacam terapi-nya untuk mengobati kekangenan dan menyembuhkan patah hati.

Selaras dengan apa yang dituliskan oleh Irma Chantily, kurator pameran ini, bahwa memikirkan foto seperti apa yang dikirimkan tiap pekan bisa membuat ia (Lioni) bisa membuat ia sebentar saja memikirkan hal lain, selain perasaannya yang tak berbalas itu, Lioni memang masih memikirkan sang pemuda, hanya saja bukan dengan cara yang bisa semakin melukai perasaannya, Tiap hari ada saja beberapa jam yang ia habiskan untuk merancang kelanjutan ‘cerita’ Rex.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengobati patah hati dan perasaan-perasaan marah, kangen, kesal dan lain-lain yang menyertainya. Ada yang menenggelamkan diri dalam kesedihan, ada yang mendadak produktif menulis (ini saya sih), ada yang mendadak senang bersosialisasi di mana saja, ada yang mengikuti macam-macam kegiatan. Ada yang iris-iris nadi. #eh

Pameran ini adalah cara Lioni. Buat yang lagi patah hati sekarang, ini ada alternatif lain dari mengobati patah hati, bisa dicontoh, mungkin, daripada nangis-nangis menghabiskan tissue berkotak-kotak. :D

Caramu bagaimana?

Oh, semalam saya dan partner mampir melihat pamerannya. Setelah selama sebelum pameran saya hanya mendengar ‘cerita verbal’ dari visual foto-fotonya (Ada si Rex lagi kelindes mobil, ada si Rex di pantai, ada si Rex di Dekat Patung Pancoran dan seterusnya), akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, wujud dari foto-fotonya.

Bagus ya boook! :)

Semalam saya bilang pada Lioni, beberapa foto itu harus dibikin postcard. Soalnya keren.

Buat yang pengin lihat 52Wednesdays, a Photo Exhibition by Lioni Beatrik, bisa langsung datang ke CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8 Bandung. Masih sampai tanggal 21 Januari 2012 ini.

Oh, selain berpameran, Lioni juga mengajak semua orang untuk curhat galau berjamaah berbagi cerita tentang kehilangan dan patah hati, di sini : http://52wednesday.blogspot.com/, siapa saja boleh ikutan, kirim saja ceritamu ke : lionibeatrix@gmail.com

Ih saya agak bego deh, lupa bawa kamera, jadi saya terpaksa memotret dengan kamera hp. Hasilnya gelap-gelap nggak jelas gitu deeh. :(

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

Lioni dan 52 Foto Rex-nya :)

Dengarkan Anak Papua Ini Berbicara

Dear Orang Dewasa,

Pernahkah mendengar anak-anak berbicara tentang apa yang mereka inginkan? Atau, karena kita sudah dewasa dan mereka masih kecil, kita menganggap bahwa mereka nggak tau apa-apa?

Tulisan ini adalah karya Shafa Annisa Zen, Dari SD Al Ihsan Papua, yang punya cita-cita jadi seorang penulis dan punya hobi menggambar. Shafa adalah salah satu peserta dari Lokalatih Menulis ‘Mendorong Terciptanya Penulis-penulis Papua Masa Depan’ yang berlangsung di Abepura, Jayapura 20 - 29 Juli 2011 kemarin.

TANAH PAPUA

Tanah Papua adalah tempat aku dilahirkan, tempatku dibesarkan. Walau rambutku tidak keriting, tapi aku merasa Tanah Papua adalah kampung halamanku. Aku beruntung tinggal dan dibesarkan di sini. Ada laut dengan ombak yang putih seperti busa. Ada gunung dan bukit yang masih hijau dengan pepohonannya yang rindang, udaranya sejuk dan langitnya biru karena tidak tercemar asap polusi.

Tidak seperti Jakarta yang pernah aku kunjungi, langitnya seperti penuh debu, dan langitnya kelabu. Aku tahun itu terkena polusi.

Aku dengar tanah Papua adalah tanah yang kaya raya. Tanahnya menyimpan hasil tambang yang luar biasa. Ada emas seperti di Tembagapura,ada Nikel di Raja Empat. Saya yakin masih banyak lagi hasil tambang lainnya yang belum sempat diketahui, mudah mudahan generasiku bisa menemukan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Tetapi tetap menjaga kelestarian alamnya ,oh iya satu lagi yang aku suka sumber airnya bersih, jernih dan aku yakin pasti menyehatkan.

Saya berpikir, jika orang-orang dewasa mendengarkan apa yang disampaikan oleh seorang anak, memedulikan keinginan anak terhadap dunia yang mereka tinggali, dunia (mungkin) akan lebih indah lagi, karena anak-anak itu tulus, hanya menginginkan dunia yang indah dan damai bagi mereka (dan anak-anak lain) untuk bermain.

Shafa Annisa Zen (10 tahun) | Foto oleh : Yulian Ardhi

Beberapa berita terkait event ini :
Antara News : 50 Anak SD Papua dilatih Membuat Komik
Alfon Sawayap : Gali Potensi penulis Papua
Aliansi Demokrasi Untuk Papua : 50 Anak Ikut Lokalatih Menulis.
Republika : Anak Papua Berpotensi Samai Gunawan Muhamad (judulnya beraaat!)
The Jakarta Post : Papuan Children Create Comic Book
PT Freeport Indonesia : Melatih Penulis Papua Masa Depan
Journal Bali : Anak Papua Berpeluang Menjadi Penulis Tenar.

Aku Papua

Traveling––it makes you lonely, then gives you a friend.
Traveling––it offers you a hundred roads to adventure, and gives your heart wings.
Traveling––it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.
Traveling––it offers you a hundred roads. How does a holy man know the one you’ll take?
Traveling––it had captured my heart, and now my heart was calling me home.
Traveling––it gives you a home in a thousand strange places, then leaves you a stranger in your own land.
Traveling––all you do is take the first step.

(Ibn Battuta)

Dari tanggal 19 - 30 Juli 2011 kemarin saya dipercaya untuk menjadi salah satu trainer membuat komik untuk 50 anak-anak kelas 5 - 6 SD di Abepura sekitar 1 jam perjalanan dari Jayapura. Seperti kata Ibn Battuta, bahwa perjalanan bisa membuat kita kehabisan kata-kata dan pulang-pulang menjadi pencerita andal.

Iya, saya punya banyak cerita.

Tentang anak-anak yang tidak pede dengan kemampuan menggambarnya dan selalu bilang ‘Tra boleh lihat, gambar saya jelek!’ , padahal gambarnya sudah bagus.

Tentang kekesalan saya pada orang-orang dewasa yang menyuruh anak-anak menggambar dengan standar bagus menurut orang dewasa.

Tentang tim asyik yang rata-rata berusia 30 tahun, tapi kelakuannya kayak anak umur 3 tahun.

Tentang tulisan Syafa yang berhasil membuat berkaca-kaca. (’Walaupun rambutku lurus dan kulitku terang, tapi aku lahir di Papua dan aku mencintai Papua’ tulisnya)

Tentang Michael yang pemalu dan grogian abis.

Tentang Tian yang jahil tapi kalau disuruh ke depan nervous setengah mati, sampai harus memegang lengan kakak trainer-nya.

Tentang Anafi yang kolerik.

Tentang Hendra kecil yang gayanya belagu tapi kocak.

Tentang Syafa yang mimisan.

Tentang Habib yang seperti spons, menyerap materi dengan cepat dan berhasil menjawab pertanyaan setiap review materi.

Tentang Abian yang mencoret gambar Dinda sampai Dinda menangis.

Tentang Boas yang punya banyak koleksi cerita mop (cerita lucu) dan berbakat jadi stand up comedian.

Tentang Bella dan Agil, duo bawel yang pintar yang tampaknya naksir kakak trainer-nya. (*uhuk*)

Tentang Angel yang dewasa dan Angeli yang cantik.

Tentang Evan yang bergaya rapper dan susah menahan ketawa.

Tentang Imran yang ngambek karena komiknya disita.

Tentang Brooklyn yang bercerita tentang pertengkaran buah-buahan sampai Ubi masuk UGD.

Tentang pertanyaan fundamental setiap harinya ‘Hari ini makan apa?’

Tentang badan yang selalu pegal-pegal setiap habis mengajar.

Tentang berat badan yang menaik 2 kilo.

Tentang menguasai lobby setiap malam.

Tentang mengobrol tengah malam.

Tentang pagi-pagi menyiapkan materi dengan rambut basah habis mandi, mata sepet ngantuk dan perut lapar belum sarapan.

Tentang anak-anak yang selalu berebutan memanggil-manggil kami untuk duduk bersama mereka saat makan siang.

Tentang celetukan polos anak-anak yang bikin geli. Tentang tingkah mereka yang bikin terpingkal-pingkal.

Tentang ruangan yang berbau matahari khas kanak-kanak setiap selesai break makan siang.

Tentang salah perkiraan penyampaian materi, sehingga harus memeras otak cari aktivitas baru supaya anak-anak tidak bosan

Tentang pertanyaan-pertanyaan soal umur dari anak-anak (Dan mereka takjub karena sebagian besar dari kami seumur dengan orangtua mereka)

Tentang ketidakpercayaan orang dewasa pada kami dan menyangka bahwa kami hanya mahasiswa sedang kuliah kerja nyata (Gara-gara baju santai, cara bicara, seringnya kami cekikikan dan tampang kami yang *UHUK!* muda)

Tentang kaki yang terinjak sampai bengkak gara-gara mencoba menghentikan anak-anak berlari-larian di kelas.

Tentang anak-anak yang menunggu mobil kami lewat untuk melemparinya dengan bunga liar.

Tentang anak-anak yang mengejar-ngejar mobil kami.

Tentang sunset di Sentani.

Tentang perpisahan yang bikin patah hati, apalagi melihat Bella pura-pura tidak menangis, ia tersenyum sambil melambai-lambai.

Tentang SMS bertubi-tubi yang menceritakan kegiatan harian mereka setelah pelatihan dan mereka bilang mereka kangen. Ini membuat air mata saya tumpah.

Tentang SMS Renza : Oh iya kak, dr hr Jumat malam aku mimpi terus tentang kakak2 fasilitator,lho! Rasax aku nggak mau berhenti ikut pelatihan ini.’

Tentang…. banyak sekali! Terlalu banyak sampai saya bingung mau memulai dari mana.

Sayang, saat saya sedang berusaha untuk menuliskannya, saya menemukan video klip Aku Papua (Franky Sahilatua) yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit, yang membuat saya merinding dan berkaca-kaca, saya kembali speechless.

Tanah Papua tanah yang kaya
surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
adalah harta harapan

Tanah papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku di besarkan

Hitam kulit keriting rambut aku papua
Hitam kulit keriting rambut aku papua
Biar nanti langit terbelah aku papua

Sunsilk Hair Studio : Creambath-lah Kamu Sampai ke Ibukota

Zaman sekolah dulu, sering dong denger pepatah ‘Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’? Nah, untuk kasus saya beberapa saat yang lalu, ada satu pepatah yang cocok banget buat saya : Creambath-lah kamu sampai ke ibu kota. :)

Yup, saya mendapat undangan untuk datang ke Sunsilk Hair Studio yang dibuka di Grand Indonesia Shopping Town, East Mall, Level 2. Thank you, Fashionese Daily.

Awalnya saya pikir ini semacam salon yang bakal buka terus sampai selama-lamanya *alah*, saya baru ngeh ketika diberitahu, ternyata, Sunsilk Hair Studio ini hanya akan ada dari tanggal 1 Juni – 31 Juli 2011. Jahh. Sebentar amat.

Ya sudah, niat menunda-nunda pun, saya batalkan. Ke sanalah saya untuk menjajal Sunsilk Hair Studio tersebut.

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Eksterior Sunsilk Hair Studio

Read the rest of this entry »

PWCP* : Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H.Djuanda

Yak,  posting PWCP* (Playing With Cameraphone Project) lagi. Tau nggak sih, salah satu tempat favorit saya adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Kenapa? Karena banyak pohon! :D Kerasa banget lah, gimana kalau di Tahura saya bisa bernapas dengan baik dan benar kalau dibanding pas saya jalan-jalan di let’s say Jalan Merdeka. Atau di dalam mall.

Cuma biaya masuknya rada mahal sih, buat saya. Rp. 8000,- /orang untuk WNI, sedangkan WNA Rp.50.000-an kalau nggak salah. Mobil juga dihitung : Rp.10.000/mobil.

Secara administrasi pemerintahan letaknya antara Kecamatan Cicadas dan kecamatan Lembang. Kalau niat, bisa tuh jalan terus sampai ke Maribaya, Lembang. Dulu waktu zaman muda sih pernah tuh, bablas sampai sana, tapi semakin ke sini kok ya mentok di tengah-tengah, terus pengin balik, pulang karena capek. *mm, sebenernya agak ga jelas sih, antara capek, atau males :D*

Beberapa website menyebutkan bahwa objek menarik di Tahura itu adalah tugu, dan gua-gua peninggalan Jepang dan Belanda, tapi percayalah, tugu ya tugu. Gua ya gua. Biasa aja, nggak ada istimewanya.

Ya buat saya, yang bikin betah di sini adalah suasana ‘pura-pura’ hutannya. :) Satu keluhan aja sih, lumayan banyak sampah bungkus penganan ber-MSG di sana. Tsk. Pada nggak pernah diajarin cara buang sampah yang bener, kali ya?

Oh berhubung kali ini jalannya ke hutan, maka kebanyakan yang kefoto adalah… pohon. :D Buat yang nanya saya pakai handphone apa, cuma Nokia E71 saja kok. :)

Pohon *caption yang ga penting, sungguh*

Pohon *caption yang ga penting, sungguh*

Kaki monster! Kaki Dinosaurus! Enggak ding, ini akar pohon.

Kaki monster! Kaki Dinosaurus! Enggak ding, ini akar pohon.

Pohon lagi *caption yang masih ga penting* :))

Pohon lagi *caption yang masih ga penting* :))

Pohon dong! *caption ya masih ga.. ah sudahlah*

Pohon dong! *caption ya masih ga.. ah sudahlah*

sampah yang (sengaja) ketinggalan di salah satu meja.

sampah yang (sengaja) ketinggalan di salah satu meja.

Tips : Packing Hemat Ruang

(Tadinya nggak niat posting, saya cuma pengin masukin artikel tips ke http://ranselkecil.com. Cuma aneh, begitu disubmit, mendadak muncul tulisan : ‘seksi tidak diketahui’,yo wis, wis kadung ditulis, ya tak masukkan saja di sini).

T-shirt dan zipper bag.

Saya termasuk orang yang malas bawa carrier segede gaban kalau melancong, apalagi bawa koper, doooh nggak deh! Ribet aja ya. Jadi soal packing saya selalu mencari-cari trik agar semua barang saya muat dalam ransel yang tidak terlalu besar. Tapi saya juga nggak mau bawa barang kurang dari yang dibutuhkan dengan pemikiran di lokasi melancong bisa bela-beli barang yang dibutuhkan, boros aja ya. Makanya saya selalu mencari cara packing yang hemat ruang.

Dulu sih, saya selalu packing dengan cara seluruh pakaian saya gulung-gulung seperti lumpia dan saya tata sedemikian rupa sampai tetap ada ruang dalam ransel. Cuma sekarang ini saya memakai zipper bag untuk packing. Iya zipper bag yang biasanya anda pakai untuk menyimpan makanan dalam kulkas.Mudah didapatkan di supermarket, atau colong saja persediaan di rumah (seperti yang saya lakukan*dum di dum*)

Caranya, masukkan beberapa t shirt (jangan digulung) ke dalam satu zipper bag, kalau saya pribadi sih, berhubung saya semacam pemakai t-shirt mungil, satu zipper bag bisa muat 6- 8 t shirts. Sebelum ditutup, buat kantung tersebut kedap udara, terserah bagaimana caranya. Bisa pakai vacuum cleaner, bisa dengan menduduki kantung tersebut sampai udaranya hilang. Hehe.

Nah, t-shirt-t-shirt tersebut, setelah dimasukkan ke dalam zipper bag kedap udara, ukurannya akan sebesar 1 t-shirt saja. Biasanya kalau melancong untuk waktu sebulan, saya membawa 4 zipper bags saja! Yang isinya : 6-8 tshirt/shirt dalam satu zipper bag. 4 – 6 celana pendek dalam satu zipper bag. 2 - 4, celana panjang non jeans dalam satu zipper bag. Baju dalam? Muat bayak dalam satu zipper bag!

Selamat mencoba!

Daerah Norak

Saya penasaran. Apa jadinya, kalau perempuan yang dijadikan target aksi pamer superioritas, mendadak menghampiri, tanpa terlihat takut/terganggu?

Salah satu parameter yang menunjukkan bahwa suatu daerah belum siap menerima serangan (industri) pariwisata adalah ketidakmampuan (orang-orang di) daerah tersebut untuk bertoleransi terhadap ‘hal yang berbeda’. Kasarnya, ngeliat yang berbeda sedikit, langsung norak.

Begitu melihat orang yang (secara tampilan atau logat atau apa pun yang) berbeda, muncullah sikap-sikap annoying. Untuk para penyedia jasa atau penjual barang  langsung gila-gilaan menaikkan harga penggunaan jasa atau harga jual barangnya. Kadang-kadang plus nipu-nipu, misalnya untuk penyedia jasa transportasi, meyakinkan bahwa jarak yang ditempuh itu jauh banget, memasang tarif tinggi, lalu dengan sengaja mencari jalan berputar-putar, padahal tempat tujuan target hanya sejauh lemparan batu manusia biasa dari tempat mereka bertolak. (bukan sepelemparan batu Buto Ijo. Ah sudahlah)

Atau mungkin hal-hal konyol, macam salah tingkah, atau sok (menyontek istilahnya Teppy) ikrib. Bisa juga memanggil-manggil nggak penting dan menyoraki nggak perlu. Bisa juga meminta barang-barang. Kadang-kadang kalau noraknya parah, bisa juga terjadi pelecehan seksual, baik secara verbal maupun fisik. Yang terakhir, seringnya terjadi pada perempuan.

Saya mengalaminya. Dalam perjalanan saya kemarin. Nggak usah saya sebut nama daerah noraknya, ya? Yang jelas di sebuah daerah di Jawa Tengah. ;-) Sebenarnya saya nggak merasa bahwa secara tampilan saya mencolok. Secara saya bukan spesies Kaukasian dan bukan penganut cara berpakaian lebay. Nggak, biasa saja kok. Mungkin dari logat ya? Gesture atau sikap grasa-grusu (yang mana ini tampak bisa membedakan, karena di daerah tersebut mostly orang bersikap santai.) ? Atau dari apalah, entah.

Sejak turun dari kereta ekonomi yang saya tumpangi, saya sudah bisa merasakan bahwa daerah ini adalah daerah norak. Ceritanya saya belum sempat sarapan karena telat bangun (as always), maka saya pun menghampiri warung nasi terdekat. Begitu memasuki pintu warung nasi tersebut, sudah terdengar bunyi mendesis-desis tidak penting.

Read the rest of this entry »

Gara-gara Anna, Saya Kegatelan! ;-)

Sudah enam bulan saya tidak bersentuhan dengan Bahasa Tetun , bahasa nasional Timor Leste. Kangen juga.

Walaupun sampai sekarang saya masih rutin berkirim e-mail dengan ‘mantan-mantan’ murid dengan menggunakan bahasa Tetun, tapi surat kan tidak begitu panjang, bukan komunikasi verbal, pula.

Nah sejak diundang oleh Alin (Adik) John Holdaway untuk bergabung dalam milis project Istoria Timor, saya jadi sedikit latihan untuk mengerti lagi. Ceritanya, project Istoria Timor ini adalah project menulis fiksi dalam bahasa Tetun, dan para peserta bisa mengirimkan hasil tulisannya, untuk diberi masukan.

Awalnya saya mikir, ah, gampaaang.

Soalnya seingat saya, saya pernah berada dalam tingkat di mana saya bisa membaca koran berbahasa Tetun tanpa berusaha terlalu keras untuk mengerti, tanpa sakit kepala. (Walau kadang-kadang masih mengintip Lonely Planet Phrasebooks-East Timor), atau bertanya pada kamus hidup saya : Mama Maria, pemilik rumah kontrakan kami.)

Eh ternyata, begitu saya unduh dan buka naskah-naskah yang dikirim ke milis tersebut, lalu mulai membacanya..

Jedeng.

Read the rest of this entry »

Peraturan Dibuat Memang Untuk Dilanggar, Tapi…

Katanya, sih.

Ada sensasi tertentu rasanya, ketika kita melakukan perbuatan asusila yang melanggar peraturan.Adrenaline serasa dipacu. Hidup menjadi lebih hidup. Seru. Lalu, ketika berhasil melakukan itu, terlintas pikiran,”Wah, gue pemberontak keren!”

Tapi ya bo, biasanya, orang kalau melanggar mah diem-diem, ngumpet-ngumpet. Ya nggak sih?


Klik ini
untuk melihat lebih jelas.

Read the rest of this entry »

Simple Life Tuh Yang Gimana,Sih?

Sebagai penggila kopi, tiga minggu yang lalu adalah masa terberat saya *ratu drama mode set on*. Waktu itu saya sedang berada di Lospalos, yang kebetulan tempat yang saya dan team saya tinggali masih menggunakan kayu bakar untuk memasak apa pun,termasuk air. Demi mencegah memasak air bolak-balik untuk hal-hal yang membutuhkan air panas, misalnya meminum kopi, maka kami memasak air panas sejak pagi dan ditempatkan di dalam termos.

Tapi nggak tau kenapa, air yang dimasak selalu tidak cukup, selalu habis jelang maghrib, sedangkan serangan minum kopi saya, selalu setelah makan malam. Itu benar-benar membuat frustasi *more ratu drama set on*. Kenapa? Karena proses untuk memasak air panas itu ribet : dimulai dari mencari kayu bakar (yang lucunya, kenapa setiap saya ingin membuat air panas, persediaan kayu selalu habis?), menyalakan api, menjerang air – dan itu belum cukup, mengambil air juga dari sumber air, yang kalau ditotal jendral, waktu yang dibutuhkan sekitar 1 jam sendiri. Gila, setiap membayangkan proses panjang tersebut, saya mendadak malas minum kopi. Apalagi kalau membayangkan semua proses panjang itu harus dilakukan di malam yang gelap dan dingin banget.

Kalau sudah demikian, saya dan Lisa, salah seorang rekan Jerman yang juga peminum kopi, hanya tinggal berpandang-pandangan sambil tersenyum asem. Betapa saya membayangkan enaknya di rumah, mau minum kopi, air panas saya dapatkan dari dispenser, tidak sampai 5 menit beres.

Read the rest of this entry »