...hidup adalah taman bermain raksasa yang harus dijelajahi. Jadi, bermainlah!

Tokoh Spiritualku Sayang, Tokoh Spiritualku Malang.

Posted: March 2nd, 2010 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 8 Comments »

…. hal ini membuat ‘tokoh spiritual’ dan sebangsa ‘motivator kehidupan’ atau penulis buku-buku swabantu* menjadi satu pekerjaan menarik untuk menangguk keuntungan banyak :)

Memang ya, twitter itu bikin orang yang sebenarnya nggak begitu tertarik dengan perkembangan dunia —seperti saya—  mau nggak mau ‘terpaksa’ mengikuti-nya. Gimana enggak, seluruh berita terjembreng di timeline saya dengan variasi rangkaian 140 karakter yang menarik, yang seringnya membuat saya penasaran, dan mengklik tautan menuju sumber berita yang terpercaya.

Nah beberapa malam yang lalu, tanpa sengaja saya melihat tweet seseorang yang menyebutkan nama AK, seorang tokoh spiritual kondang yang dituduh melakukan pelecehan seksual yang melibatkan murid-muridnya. Saya nggak tau, berita itu benar atau tidak, tapi entah kenapa, saya langsung teringat beberapa kasus ‘miring’ yang dilakukan oleh orang-orang berprofesi serupa yang terjadi belakangan ini. Mulai dari kasus kepleset omong ngetweet yang dilakukan moderator seorang motivator kondang, kasus pendeta pujaan sejuta umat yang dikabarkan bercerai sampai kasus Dai dan poligami yang pernah heboh beberapa tahun yang lalu.

Sebenarnya peristiwa-peristiwa ‘miring’ itu sama sekali nggak ada ngaruhnya sih di saya. Soalnya saya nggak pernah memuja mereka. Cuma, ada yang  menarik bagi saya, dan tentu saja bukan soal keplesetnya mereka,melainkan reaksi dari masyarakat.

Masyarakat umum membicarakan perkara tersebut dengan hebohnya, sampai-sampai kasus ini sudah seperti bencana nasional banget. Banyak banget yang mengatakan : ‘Tokoh spiritual/motivator kok gitu…”.Dan orang-orang yang tadinya adalah groupiesnya kemudian patah hati.

Untuk kasus pendeta yang bercerai, kebetulan seorang kawan adalah pemuja tokoh tersebut. Setiap saat bertemu dengannya, kalau pembicaraan menyangkut ke urusan spiritual atau kerohanian, pasti nama pendeta tersebut kesebut lagi, kesebut lagi. Begitu saya tunjukkan berita tentang kasus perceraiannya, saya bisa melihat kawan saya itu merasa pahit dan kecewa.Masih untung semangatnya di soal rohani dan spiritual nggak mendadak loyo. :)

Read the rest of this entry »


Mencari Penerbit, Seperti Mencari Pacar

Posted: February 12th, 2010 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil | 6 Comments »

Tapi lebih dari itu. Kerja sama menerbitkan naskah, pada intinya adalah partnership. Rekanan. Sama saja kan, dengan pacaran?

“Pacarku dong,banyak, masa Tante cuma satu?” itu celetukan seorang anak perempuan berumur 7 tahun. Yang ada saya hanya senyum-senyum aja, sambil berpikir bahwa anak ini matengnya cepet banget. Dasar iseng, saya pun menanyakan nama-nama pacar-pacar si bocah ini.

“Teddy, Reza, Anggi….” (dan dia pun sibuk menginventarisasi teman-teman pacar-pacarnya)

‘Obrolan’ kami berlanjut, bukan saya yang memancing lho, tapi dia yang bertanya-tanya.

“Tipe cowok yang tante suka yang kayak gimana sih?”

Saya pun speechless. Astaga, itu anak, umur tujuh tahun lho, book!

‘Kamu dulu, ah. Kamu suka cowok yang kayak gimana?’ tanya saya.

‘Harus cakep. Kalo ngobrol asyik. Bisa diajak kompakan, bisa diajak main bareng, pengertian. Suka nraktir……” ia menjawab dengan lugas kriteria-kriterianya. Banyak banget, “Nah kalau Tante?”

Setelah berpikir sejenak saya pun menjawab,”Asyik diajak ngobrol, asyik diajak ngelakuin macem-macem bareng-bareng dan sepikiran.” (…dalam hati saya menambahkan, plus jago berciuman. hihi)

Anak tersebut terpukau, katanya, kriteria saya minimalis sekali.  Mendadak saya bingung, ini dia yang terlalu canggih, atau saya yang terbelakang ya dalam soal menentukan kriteria pria idaman? :D

Iya, kriteria pria idaman *alah* saya sederhana. Dan mungkin ini memang karena umur. Bukannya memang sewajarnya, semakin tua, kriteria semakin sederhana?  :)

Pada intinya pasangan saya harus bisa diajak komunikasi dengan baik. Dan memiliki visi yang sama. Saya sudah tidak membuat spesifikasi-spesifikasi seperti nyambung, nggak posesif, nggak cemburuan, cocok lahir batin, menghargai, perhatian, terbuka etc-etc, karena bagi saya, semua itu tercakup dalam kriteria ‘komunikasi dengan baik’. Memang ada kriteria-kriteria lain sih, tapi itu berubah-ubah, dan yang tidak pernah saya cabut dari list kriteria ya cuma ini.

Beberapa waktu yang lalu, secara iseng saya pun melemparkan perkara kriteria pasangan ini di twitter. Dari feedback yang saya dapatkan beragam. Tampaknya memang setiap orang memiliki kriteria yang berbeda-beda, tapi  yang menarik, sebagian besar menjawab kriteria yang berhubungan dengan komunikasi. Ada yang bilang harus nyambung, harus pengertian dan seterusnya.

Emang sih, memiliki kriteria pasangan yang berkaitan dengan komunikasi itu ya wajar saja, karena menyatukan dua individu yang berbeda itu sebenarnya ‘nyari masalah’, tanpa adanya kemampuan komunikasi yang baik dari masing-masing pihak, yuk mari ah, ke Hong Kong aja. :)

Anywaaaay, nggak kok, saya nggak mau menuliskan permasalahan kriteria pacar,biarpun sebentar lagi Valentine’s Day. *halah, terus kenapa kalau Valentine’s Day?*

Read the rest of this entry »


HottaLotta And Cyber-Bullying

Posted: December 21st, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 23 Comments »

“Ih, tapi gue kan ga ikut-ikutan komen jahat di HottaLotta?’ protesnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah terlibat pembicaraan mengenai bullying. Seorang rekan protes karena anaknya yang masih SD kelas 1 mengalami tindakan bullying di sekolahnya. Dan dia pun menistakan tindakan macam itu. Saya yang mendengarnya jadi tertawa sendiri, karena tepat beberapa hari sebelumnya, saya menerima e-mail darinya yang merekomendasikan sebuah blog.

Sebenarnya, bukan dia doang sih yang mengirimi saya URL blog tersebut, ada kali sekitar  lima e-mail bernada sama. Seluruh e-mail tersebut diberi pengantar kurang lebih sama : ‘Liat deh, lumayan buat ketawa-ketawa.’ atau ‘hiburan hari ini’.

Blog yang dimaksud adalah blog milik Tara, yang beralamatkan di http://hottalotta.blogspot.com . Kebetulan hari itu saya sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk memerhatikan secara seksama si hottalotta ini. Saya cuma melihat sekilas. Another fashion blog. Tanpa bermaksud menjadi party pooper, saya nggak merasa ada yang lucu di blog milik Tara, yang bermimpi menjadi fashion stylist dan fashion designer. Saya cuma merasa bahwa segala outfit dan pose yang terdisplay itu aneh. Mungkin ini selera humor saya saja ya, buat saya ‘aneh’ itu nggak lucu dan lucu itu nggak harus aneh.

Baru sekitar beberapa hari kemudian, karena beberapa kali membaca link atau nickname sang empunya blog di timeline twitter saya, juga gara-gara mendapat e-mail lagi, yang merekomendasikan blog itu lagi, dengan kata pengantar ‘Gue dari ketawa-ketawa sampai miris bacanya’, saya jadi tertarik dan mulai meneliti satu demi satu entri-nya.

Dan memang miris sekali membaca komentar-komentar di sana, yang didominasi oleh mahluk-mahluk bernama ‘anonymous’ . Seriously, jahat sekali. Semuanya berisi celaan dan hinaan. Dari celaan taste, fisik dan intelejensia; dan dengan kata-kata yang menurut saya nggak difilter sama sekali.

Mendadak saya jadi teringat kasus Ophi A Bubu. Kalau ada yang belum tahu Ophi A Bubu siapa; dia adalah seorang remaja yang gemar menulis dengan bahasa Alay di notes-notes Facebook-nya. Untuk saya pribadi, tulisan dengan bahasa ini cukup ganggu, karena saya nggak terbiasa membaca  ‘aku’ jadi ‘aquwh’, ‘kamu’ jadi ‘kmuwh’, ‘mau’ jadi ‘mawh’ etc. Ophi A Bubu ini mendadak kondang gara-gara notes-notesnya, sampai-sampai entah siapa ada yang dengan niatnya membuat semacam fanpage, yang tentunya isinya celaan-celaan sadistis. (Cuma barusan dicari-cari sudah nggak ada)

Satu hal yang sama yang terlintas dalam benak saya melihat kasus HottaLotta dan Ophi A Bubu adalah : bullying.

Istilah bullying ini berarti adalah perilaku menyerang berulang-ulang yang di arahkan pada orang lain secara sengaja, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Tindakan ini dimaksudkan untuk menyakiti target, membuat target menjadi powerless - sekaligus membuat pelaku merasa berkuasa.  Semacam penindasan lah. Yang jelas, bagi pelaku, tentu menyenangkan, tapi bagi korban? Yang ekstrim, korban bisa mengalami gangguan mental/perilaku, bisa jadi stress dan depresi (Saya jadi mikir, ini pelaku apa nggak bisa menempatkan diri di posisi korban apa?)

Anyway, kasus bullying ini kayaknya sudah nggak asing lagi deh. Beberapa kali saya melihat perilaku bullying ini di beberapa film, terutama film remaja, Bridge of Terabithia, adalah salah satu film terakhir yang saya tonton yang ‘mengandung’ kasus bullying di dalamnya. Mungkin di sinetron remaja di TV Indonesia banyak juga kasus bullying/gencet-gencetan, nggak tau juga, soalnya sekarang saya termasuk jarang nonton TV lokal. Yang saya ingat sih  salah satu adegan sinetron Bidadari yang dibintangi oleh Marshanda jaman dulu. Lalu ada satu lagi, film Barb13 yang dibintangi oleh (CMIIW) Tikam,  Cathy Sharon dan Desta Club80s.

Read the rest of this entry »


Celoteh Bocah Project

Posted: December 17th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: keseharian | 4 Comments »

Kalau nguping jakarta, ngupingin celoteh orang-orang dewasa, nah kalau ‘Celoteh Bocah Project’ ini, ya jelas celoteh para bocah yang dimuat.

Heu,gara-gara lupa bayar, http://lajangdanmenikah.com sudah 3 hari ini off. Sedang diurus, supaya bisa kembali ‘bener’. Untuk sementara, buka saja http://lajnmen.blogspot.com (Iya, tau, jelek bener namanya :D)

Anyway, ceritanya lajangdanmenikah.com membuka satu project baru nih, yaitu project Celoteh Bocah. Ide awalnya karena kami sering banget denger anak-anak itu mengatakan sesuatu yang bikin ketawa, jadi kami pikir, lucu juga kalau kelucuan-kelucuan celoteh bocah tersebut dikumpulkan. Kalau nguping jakarta, ngupingin celoteh orang-orang dewasa di Jakarta, nah kalau ‘Celoteh Bocah Project’ ini, ya jelas celoteh para bocah yang dimuat, bocah di mana saja.

Nah, project ini terbuka bagi semua orang. Asli siapa saja boleh ikutan.

Caranya, kalau misalnya kebetulan anda mendengar anak-anak anda atau keponakan anda, atau anak-anak teman anda mengatakan sesuatu yang lucu/ kocak/ sweet, kalian bisa mengirim e-mail ke lajangdanmenikah@gmail.com, sertakan nama pengirim (dan blognya kalau ada), nama dan umur sang bocah. Kalau mau masukin foto anaknya juga boleh. :) Umur bocah sampai kurang lebih kelas 6 SD ya, lewat dari situ soalnya udah pra-remaja. Oh iya, jangan lupa tulis : Celoteh Bocah di subject e-mailnya ya.

Celoteh bocah ini bakal ditampilkan setiap Sabtu, di lajangdanmenikah.com :)

Ditunggu ya…


Malam Kudus : Banyak Tikus, di Rumah Yesus.

Posted: December 9th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 22 Comments »

Kenapa juga ya saya dulu mesti kesinggung? Siapa tau di rumah Yesus memang benar ada tikusnya. :D

Saya mencintai  atmosfer jelang Natal. Mungkin ini terdengar kekanak-kanakan sekali, tapi gimana dong, saya memang suka melihat  segala macam atribut hijau, merah, emas dan putih di mana-mana. Saya suka melihat gambar atau boneka Sinterklas di sana-sini, biarpun sejujurnya saya menganggap Bapak tua berjanggut dan berpiyama merah bulu putih itu nggak kontekstual banget dengan Indonesia. Saya suka momen bersama-sama berburu kado Natal dan membungkusnya. (Oh, tentu saja, Natal —seperti hari raya lainnya — adalah excuse yang baik untuk bersikap konsumtif. Ha!). Saya suka bersama-sama memasang dan menghias pohon Natal dengan Ayah, Ibu dan Nenek (yang sudah 3 tahun - termasuk tahun ini- kelewat melulu). Saya suka membuat kue kering dengan Ibu dan Nenek saya (kalau Ibu nggak males). Saya suka reuni keluarga dan seterusnya-dan seterusnya.

Oh hampir lupa, saya juga suka lagu-lagu Natal londho dengan berbagai versi. Rudolph The Red Nosed Reindeer. I saw Mommy Kissing Santa Claus. O Holy Night, atau lagu kojo yang sepertinya semua orang, sampai yang non Kristen pun tahu : Silent Night atau Malam Kudus.

Ngomong-ngomong soal Silent Night atau Malam Kudus, saya jadi ingat jaman-jaman SD, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Waktu itu saya mengikuti kegiatan Pramuka, saat jeda latihan semaphore, seperti biasa saya ngumpul-ngumpul dengan teman-teman. Ada beberapa teman yang duduk berkelompok sambil cekikikan. Penasaran dong si saya ini; saya mendekati mereka. Anehnya, begitu melihat saya, mereka terdiam.

“Ada apa sih? Ada apa sih?” tanya saya dengan nada mau tauuu aja.

Selama beberapa saat, mereka menyembunyikan hal yang membuat mereka senang. Kesal dong, kesannya mereka menyembunyikan sesuatu dari saya. Manyunlah saya. Saya memaksa teman terdekat saya untuk bercerita. Awalnya ia masih bungkam. But I always get what I want *belagu*, dengan cara yang saya sendiri lupa, akhirnya, jelang waktu berlatih lagi, mendadak ia berbisik,”Jangan marah ya, tadi kita nyanyi-nyanyi.”

“Nyanyi apa?”

“Malam Kudus.”

Lho? Ngapain juga mereka menyanyikan lagu Malam Kudus, padahal waktu itu bukan Desember dan setahu saya mereka tidak merayakan Natal.

“Tapi dirubah liriknya…”

“Jadi gimana?”

“Tapi jangan marah yaaaa…” wajahnya tampak kuatir.

“Enggak! Cepetan!”

Dan teman saya pun, dengan lirih bersenandung sambil tertakut-takut,” Malam kudus…. banyak tikus… di rumah Yesus…”

Oke. Dan saya pun merasa sangat marah.  Teman saya sampai bilang,”Tuuu kan, tau gitu aku nggak bilang…”

Selama sekitar dua minggu saya menjauh dari mereka, sampai mereka meminta maaf.

Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, tolol juga rasanya ya? Ngapain juga saya merasa tersinggung lagu ‘Malam Kudus’ digubah dengan kreatif dan walaupun nadanya nggak masuk dan maksa banget, tapi berima seperti itu? Memangnya saya penciptanya? Apa ada aspek kehidupan saya yang dirugikan gara-gara lagu tersebut dibuat parodi? Ya enggak juga.

Konyol binti Tolol aja.

Ada contoh kasus lain, dulu saya menggemari New Kids On The Block mati-matian. Saya pernah berantem dengan seorang teman laki-laki yang mengata-ngatai boysband 90-an ini banci. Berantem beneran. Saya masih ingat garis-garis bekas cakaran saya di lengan teman laki-laki saya itu dan beberapa helai rambut yang tercabut dan berada di tangan saya. Emang bener ya, cewek kalau berantem, senjatanya cakar dan jambak. :D

Dan sekarang, setiap memikirkan itu, saya sering ketawa sendiri. Ngapain juga merasa tersinggung, memangnya NKOTB itu siapanya saya? Bukan siapa-siapa! Nyadar saya eksis juga enggak ! Dan apakah setelah kawan saya mengata-ngatai NKOTB  banci, mereka jadi sakit hati? Ya, enggak juga. NKOTB  mana kenal kawan saya? (Kalau kawan saya kenal, tentunya saya lebih memilih berbaik-baik dong ah, biar dikenalin juga.*halah*) :D

Kelakuan, kelakuan.

…….

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2007, gara-gara susah tidur, tanpa sengaja saya terjebak dalam sesi diskusi berdiskusi sekelompok aktivis perdamaian. Agak bikin nyut-nyutan mendengar obrolan mereka, malam-malam setelah seharian penat beraktivitas; tapi mau pergi juga nggak enak ati. Akhirnya saya pun menjadi menjadi pendengar yang budiman. Dari sekian banyak topik, tentang daerah konflik, tentang -isme-isme, tentang isu-isu politik yang bikin mblenger, saya tertarik pada pembicaraan mengenai anti nasionalisme.

Bahwa menurut mereka, nasionalisme bukanlah hal yang baik. Dengan doktrin-doktrin yang dicekoki sedari kecil, bahwa seseorang harus mencintai negaranya, harus membela negaranya, membuat orang-orang bereaksi dan berpikir sempit. Kepedulian hanya sebatas negaranya saja. Membela pun ya membela negara sendiri. Pokoknya terkotak-kotak.
Read the rest of this entry »


Perempuan Kuat Itu Bernama : Me

Posted: November 26th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 14 Comments »

Ada suara-suara dalam otak saya yang berkata : ‘Hei,kalau lu yang ngalamin kasus perkosaan, lu berani gitu nggak?’

Saya mengenal Me di tahun 2003, dalam persinggahan saya saat perjalanan penelitian menuju Flores Timur. LSM tempat Me bekerja dengan baiknya menampung saya selama proses pencarian data. Beberapa kali saya ‘ikut-ikut’an Me dan kawan-kawan menuju camp pengungsian masyarakat Timor  Leste.

Saya kagum dengan apa  yang Me lakukan. Saya tahu, tidak mudah menjadi seorang perempuan pekerja sosial yang langsung turun ke lapangan. Dibutuhkan mental yang kuat untuk itu. Dan Me mampu. Saya bisa melihat keakrabannya dengan para pengungsi di kamp, bahkan sampai bermalam di tempat tersebut.

Dan di malam-malam selama saya tinggal di sana, kami dan beberapa teman relawan perempuan kerap menghabiskan waktu untuk mengobrol dalam kamar, berbagi pengalaman, tertawa-tawa, bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar (dia yang bermain gitar, tentunya. Bukan saya). Bagi saya, Me — yang waktu itu masih berkuliah di jurusan Theologia — adalah : relawan calon pendeta yang gila. Dalam beberapa kali perkunjungan ke kotanya, saya selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya,walau sebentar. Menyenangkan, apalagi jika mengobrolkan masalah ‘menjadi perempuan dalam masyarakat patriarki’. :)

Dua malam yang lalu, seorang kawan memforward sebuah e-mail. Itu adalah e-mail disertai attachment calon naskah Me.  Sebagai pengantar dalam e-mailnya ia menulis demikian :

Shalom,

Saya merasa perlu mengirimkan tulisan ini. Tulisan ini akan dipublikasi bersama empat tulisan perempuan muda lainnya dalam satu buku. Sekarang buku itu dalam persiapan untuk naik cetak.  Saya memantapkan hati untuk tidak memakai nama samaran, dengan sadar akan konsekuensinya. Entah kenapa saya tidak peduli dengan konsekuensi yang mungkin akan muncul secara negatif. Tujuan saya hanya ingin menguatkan sahabat-sahabat perempuan yang mungkin punya pengalaman yang sama atau masih mempunyai dendam pada laki-laki yang pernah menyakiti mereka. Saya ditelepon oleh beberapa teman yang bekerja keras untuk memperindah desain bukunya; mereka terus menanyakan tentang kesiapan saya terhadap konsekuensi negatifnya.

Saya berharap kawan-kawan bisa mendukung saya dalam situasi yang mungkin sulit, sebagai dampak dari publikasi. Terima kasih.

Salam,

Me.

Maka segera saya pun mendownload naskah tersebut dan membacanya dengan seksama. Beberapa kali saya tersentak, menahan napas, bahkan mulai dari tengah tulisan sampai ke akhir, saya menangis.

Sayangnya, (tapi tentu saja) saya tidak boleh mengcopy-paste tulisan itu di sini. :)

Tidak,tulisan ini bukan tulisan berbahasa puitis berbunga-bunga, ini adalah sebuah tulisan mengenai transformasi perjalanan hidupnya, dari kecil hingga ia dewasa. Bahasa yang ia gunakan pun lugas dan diceritakan dengan tegar. Saya tidak menyangka bahwa di usia 5 tahun, Me pernah mengalami perkosaan yang dilakukan oleh keluarga dekatnya sendiri. Hal ini memaksanya untuk harus bolak-balik ke rumah sakit umum dan kantor polisi. Pengalaman kekerasan seksual itu membuatnya merasa tidak berdaya, rendah diri, malu, sendirian dan tidak berarti.

Read the rest of this entry »


Tantangan Seminggu #tanpainternet? Bisa!

Posted: November 14th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian | 21 Comments »

Cuma sayangnya, sejak kecil, cara  belajar kita selalu tidak adil pada otak kanan. Otak kiri saja terus yang dikembangkan….

Tau nggak, jaman dulu, kalau seorang blogger memutuskan untuk berhenti ngupdate blog-nya untuk alasan-alasan tertentu, pasti dia akan membuat posting khusus yang memuat kata hiatus. Entah itu ‘Hiatus dulu ya?’, atau cuma tulisan ‘H.i.a.t.u.s’. Dan ketika mereka memutuskan untuk kembali aktif ngeblog, maka ia akan berkata ‘I am back. Miss me?’

Jadi…

I am back. Miss me?

*halah*

Kalau kalian adalah follower saya di twitter, mungkin kalian sudah tahu bahwa saya memutuskan untuk mengambil tantangan #tanpainternet selama seminggu. Nggak ada kerjaan?

Emang!

Saya cuma mendadak kesal pada diri saya sendiri, ketika seseorang bilang ‘Elu pasti nggak bisa deh hidup tanpa banyak-banyak online.’ lalu benak saya mendadak menyetujui ‘Kayaknya emang nggak bisa.’

Gimana gue tanpa twitter? kalau mau cari data gimana? Dan seterusnya. Pemikiran konyol.

Asli sebal. Saya jadi mikir, masa nggak bisa  sih? Biar pun saya pernah hidup tanpa internet bahkan hp dalam jangka waktu yang panjang, tapi waktu itu memang keadaannya nggak memungkinkan, yah ibaratnya perokok berat, harus hidup di tempat yang sama sekali tidak menyediakan rokok. Ya mau nggak mau kan nginyem dan nerima keadaan itu. Lalu, karena saking jarangnya online, saya jadi terbiasa dengan keadaan tersebut — nggak bersentuhan dengan internet (dan hp) ya bodo amat, nggak ngaruh. Tapi sekarang? Koneksi internet mudah diraih, hanya dua langkah menuju laptop dan modemnya. Bahkan hanya sepanjang rogohan tangan saya ke dalam tas untuk meraih hp. Kecanduan, lah. Pagi, siang, sore, malam, internet. Pfuuh. Nggak bener.

Gara-gara itu saya membulatkan tekad : bisa ah, tanpa banyak-banyak online. Dan saya terimalah tantangan yang mungkin menurut beberapa orang nggak penting. ;-)

Owkay. Gimana rasanya ?

Saya menemukan dua hal : (1) Lebih produktif mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Bayangkan, biasanya saya menyelesaikan pekerjaan rutin saya, selama 7 hari, eh selama seminggu kemarin, bisa saja lho, cuma 3 hari. Ini karena tidak ada distraksi berupa twittering, wikipediaing, googling,browsing, facebooking dan -ing-ing yang lain. Yang ke-dua, ternyata… saya aslinya nggak insomnia! Kalau dipikir-pikir, kenapa saya suka susah tidur di jam yang wajar, ya karena ketika saya membaringkan diri di jam wajar tersebut, bukannya mengosongkan pikiran dan ambil ancang-ancang istirahat, lha kok ya twitteran. Saya nggak bisa tidur, karena ngantuknya keburu hilang.

Anyway, seorang kawan yang baru saja mengikuti satu pelatihan tentang motivasi membawakan ‘oleh-oleh’ tentang apa yang didapatnya selama pelatihan tersebut. Ia menceritakan pengalamannya yang membuat saya memikirkan kembali apa yang saya percayai sejak dulu.

Mungkin banyak yang sudah tidak asing lagi dengan teori otak kiri versus otak kanan, yang walaupun banyak orang protes, karena terkesan begitu menyederhanakan fungsi otak, tapi masih terus dipakai sampai sekarang. Menurut teori ini, dua sisi berbeda otak, atau hemisphere bertanggung jawab pada cara berpikir yang berbeda; otak kiri bertanggung jawab pada cara berpikir logis, rasional, analitis, berdasarkan fakta, obyektif dan melihat bagian per bagian. Sedangkan otak kanan bertanggung jawab pada cara berpikir secara acak, intuitif, holistik, menyeluruh, subyektif. Kalau disederhanakan, otak kiri itu sumber segala sesuatu yang teratur, membatasi, teknis, sedangkan otak kanan, yang liar, nakal, imajinatif.

Read the rest of this entry »


Memanjakan Pria dengan Artificial Virginity Hymen Kit! :)

Posted: October 22nd, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil | 40 Comments »

“Gue bakal ambil  hymen gue trus gue masukin ke dalam wadah air keras, dipitain dan gue kadoin ke cowok itu sambil bilang ‘Situ mau selaput dara? Niiih ambiiil.’ Dan dia gue tinggal.”

Tadi siang, di mobil, saya mendengarkan Nona Ambon Manise ini siaran. Salah satu topik yang dibahas adalah topik yang *kayaknya* lagi banyak dibicarakan :  Artificial Hymen alias selaput dara buatan. Sebenarnya saya sudah mendengar berita ini sejak seminggu yang lalu dari Bapak Isman H Suryaman, beliau  menautkan tweet-nya ke satu artikel di The Jakarta Globe.

Dan atas nama iseng, saya pun memasukkan kata kunci artificial+hymen di google. Keluarlah berderet-deret situs yang memuat kata kunci yang saya masukkan. Atas nama iseng (lagi!) saya telusuri secara acak.

Ada situs gigimo.com, yang ternyata adalah toko tempat menjual sex toy. Artificial Virginity Hymen Kit menjadi salah satu produk yang dijual di sana. Saya tertawa geli membaca deskripsi produknya yang kurang lebih menyatakan bahwa kita (perempuan) tidak perlu kuatir kehilangan keperawanannya, dengan produk ini, kita (perempuan) bisa mendapatkan kembali malam pertamanya kapan saja.

Boook! Berasa kayak pinsil mekanik nggak sih, bisa diisi ulang kalau habis? Atau kalau yang nggak akrab sama pinsil mekanik, kayak air mineral galonan deh. :)) Dan yang bikin saya tambah geli ada petunjuk pemakaiannya : tambahkan erangan dan rintihan — plus gelinjangan lah, biar lengkap istilah bokepnya, maka so called ketidakperawanan kita (perempuan) bisa sukses tak terdeteksi.

Yuk mari.

Lalu, situs selanjutnya adalah situs ini (maaf, saya malas menuliskan nama-nya). Sebenarnya nggak ada hubungannya dengan artificial virginity hymen kit, sih, tapi ini semacam blog penyedia jasa (medis?) perbaikan hymen yang rusak. Kalau di situs gigimo.com saya ketawa-ketawa, di situs/blog ini saya mengernyit-ngernyit, dari posting tentang kenapa operasi perbaikan hymen ini perlu,  bagian testimonial perempuan-perempuan yang katanya pernah memakai jasa perbaikan hymen ini–betapa mereka jadi percaya diri, tidak takut ditinggal pasangan, merasa berharga dan seterusnya. Oh nggak kalah menarik,  sampai ada pendapat ahli agama segala! (ini dan ini). Super konyol. Yang pertama,  kenapa juga masalah ketidakutuhan hymen itu hanya dihubungkan dengan perkara kontak seksual saja?

Saya kira kebanyakan orang sudah ‘melek’ dan tahu bahwa kerusakan hymen dan virginitas tidak bisa selalu dijadikan satu paket. Bahwa bentuk fisik dan kekuatan hymen kita (perempuan) itu berbeda-beda. Ada yang memang sangat rapuh sehingga, ada juga yang super elastis sampai membutuhkan operasi untuk menjebolnya.

Dengan begitu, artinya, rusaknya hymen itu,kan nggak selalu karena kontak seksual?

It can separate when the body is stretched strenuously, as in athletics; it can be separated by inserting a tampon during menstruation or through masturbation; and sometimes it is separated for no apparent reason. (Discovery Health)

Read the rest of this entry »


Cinta dalam Sehari : Harapan yang Kejauhan.

Posted: October 3rd, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil | 17 Comments »

Tapi, kalau sebatas suka, masih ada kemungkinan orang akan melupakan batik (dan kemudian baru berisik ingat setelah ada kasus klaim-mengklaim batik dengan negara tetangga) ;-)

(Er, kayaknya bingung untuk memilih judul mulai jadi kebiasaan saya deh. Seperti entri Joko Tole, eh, Joko Anwar maksudnya, kali ini saya juga mengalami bingung, mau menjuduli entri ini ‘Cinta dalam Sehari’ atau ‘Harapan yang Kejauhan’— jadi saja, dipakai dua-duanya.)

Maaf, tapi saya tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama. Biar pun semua orang berusaha meyakinkan, bahwa yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada;  saya sih teteub ya, nggak percaya. Apa lagi memercayai teks lagu ‘I Knew I’ve Loved You‘-nya Savage Garden.

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

Lirik secara keseluruhan bisa dilihat di sini. Buat saya, liriknya gwombaltralala. Balek atuh lah, kumaha carana sok (terjemahan : yang bener deh, ah, gimana caranya coba)  jatuh cinta padahal belum ketemu.

Kawan saya pernah bilang, bahwa kasus seperti itu ada. Dia sendiri pernah mengalaminya, terkaing-kaing saat melihat seorang pria. Er, saya juga pernah sih, memiliki perasaan ‘aneh’ (in a positive way) saat melihat seseorang, tapi saya nggak mendefinisikan itu sebagai cinta pada pandangan pertama; saya bilang sih jatuh suka. Karena saya menganggap, yang namanya ‘cinta’ itu adalah satu perasaan yang lebih kompleks daripada sekedar doyan suka saja; untuk mencapai fase ‘cinta’ dibutuhkan satu proses yang tidak sebentar.

Buat saya pribadi, cinta itu baru mungkin ada ketika saya sampai satu titik mengenal partner secara mendalam; dari hal yang remeh-temeh seperti cara makan sampai hal-hal kompleks macamnya cara pandang/filosofi hidup.  Dan dengan semua hal yang dimilikinya, yang ribet, yang menyenangkan, yang asyik, yang menyebalkan dan seterusnya, saya tetap menganggap bahwa partner itu adalah mahluk terindah yang pernah eksis di muka bumi ini. Itulah cinta. *ihiw*. Sedangkan kalau suka, masih ada kemungkinan saya menemukan ternyata ada yang lebih indah daripada orang yang saya suka — dan melupakannya.

Anyway, sehari sebelum ‘Hari Rame-rame Pake Batik 2009′ pada tanggal 2 Oktober kemarin, saya sempat berkelana di jagad maya internet; dan menemukan beberapa artikel berkaitan dengan aksi ini. Ada beberapa yang kurang lebih menyebutkan bahwa ‘hari rame-rame pakai batik’ ini sangat positif untuk membuat masyarakat, khususnya generasi muda, mencintai batik.

Haloh,Mbak dan Mas? Kayaknya kejauhan nggak sih, kalau berharap dengan sehari memakai batik, maka masyarakat bisa mencintai batik?

Read the rest of this entry »


Mendebat Joko : Karena Orang Berbeda-beda*

Posted: September 27th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil | 7 Comments »

…yang pro, ya mereka yang melihat dari sisi ‘menepati janji’nya, yang kontra, membahas dari sisi agama, norma,moral dan hukum.

(*Ehm, soal judul yang rada panjang, sebenarnya saya bingung, mau memilih ‘Mendebat Joko’ atau ‘Karena Orang Berbeda-beda’, jadi saya pakai dua-duanya :D)

Ya,ya… agak terlambat memang kalau baru membahas aksi kepatil omongannya @jokoanwar , tapi biarin deh. Saya termasuk salah satu orang yang ikut tegang dan merasa keberatan mengerjakan hal yang harus dikerjakan (bukan mengerjakan hal penting, tapi macamnya mengangkat telepon dan pipis). Saya pun setia  merefresh halaman para panitia pelaksana, demi menanti reportase perkembangan aktivitas di salah satu Circle-K di seputaran Jakarta. Ada yang ngeledek, gatel amat nungguin orang telanjang di depan umum,hehe, kalau saya sih enggak nungguin telanjangnya,  nggak tau yang lain (hi,Jeung Hormonal! Haha.) Saya menunggu ‘bukti’ dari janji asal bunyi yang dikeluarkan oleh bapak itu.

Saya tidak mengikuti huru-hara pasca pelaksanaannya, begitu mendapat laporan bahwa misi telah dijalankan, saya pun mematikan koneksi internet, ngantuk  soalnya.

Sampai esok harinya masih banyak yang membahas aksi spektakuler ini di twitter dan di forum maya tertentu, ada pula yang niat bikin entri di blog masing masing. Saya tergoda untuk membaca satu demi satu tweet, tulisan dan ulasan tentang ini.   Banyak banget yang  mengulas dari sisi heroik-nya melaksanakan nazar sambil mengutip kalimat ‘A promise is a promise,Mr Politicians’ dan mengait-ngaitkannya dengan  politisi  tukang umbar janji. Malah ada yang bilang ‘Kalau ada politisi yang nggak menepati janji, kita bilang aja ‘Ga Jokoanwar lu’”.

Cuma  daripada ulasan dan tulisan tentang peristiwa menggemparkan ini*lebay*, saya lebih tertarik dengan baku komentar pada ulasan dan tulisan terkait. Pro dan kontralah, pastinya. Yang pro, ya mereka yang melihat dari sisi ‘menepati janji’nya, yang  kontra, membahas dari sisi agama, norma,moral dan hukum.

Saya bilang lebih menarik  karena yang pro dan yang kontra adu komentar, semacam ‘panjang-panjangan’ menulis argumentasi, mengutip sana dan sini, untuk memperkuat argumen-nya. Sebagai orang di luar adu argumentasi ini, saya bisa melihat bahwa sudut pandang mereka sudah jelas-jelas beda DAN mereka bertahan dengan sudut pandang tersebut; jadi mau sampai kapan juga nggak akan pernah ketemu.  Mau menulis komentar sepanjang 20 halaman A4, Times New Roman,12 pts spasi 1.5  dengan gambar mendukung seperti makalah, kayaknya perdebatan itu nggak mungkin berakhir (kali ya?).

Yang ada saya hanya ketawa-ketawa geli sambil bilang ‘Orang-orang Galia memang sudah gila…’*tuk—tuk—tuk * (err, buat yang nggak ngikutin komik Asterix dan Obelix, kalimat terakhir pasti membingungkan. Hehe)

Read the rest of this entry »