Archive for the Artikel Category

Good Housekeeping : Bukan Urusan Saya

Artikel saya ada di bonus edisi ulang tahun Good Housekeeping. Kalau masih ada yang bilang ngeblog adalah kerjaan yang buang waktu, sini, sini saya kepret. Kenapa? Karena waktu Mbak Dian menawari saya untuk menulis artikel untuk edisi ulang tahun, kebetulan bertepatan dengan masa-masa ribet saya *gaya*, menulis tidak sempat, Jendral. Cuma, Mbak Dian bilang ‘Perasaan dulu saya pernah baca di blog kamu soal KDRT yang well-written deh, itu aja.”. Baiklah, cari-cari-cari, akhirnya saya menemukannya, dalam bentuk draft yang siap publish. Aneh saja, perasaan saya sudah mempublikasikannya deh. Tapi sudahlah, ngapain juga dipikirin. Saya pun mengeditnya sana-sini dan melakukan perubahan seperlunya. Lalu kirim deh :)

So, blogging adalah tempat penyimpanan tulisan (dan juga ide) — ibarat lemari, kau bisa ambil ‘baju’ lamamu, pintar-pintar memadu-padankan dengan aksesoris tepat, maka… tadaa! ‘Baru’-lah penampilanmu. :) *apa coba?*

Terus, selain artikel saya, ada juga artikelnya Ninit Yunita, Amelia Masniari, Clara Ng, Fira Basuki

Oh ya, di edisi yang sama, buku Lajang dan Nikah : Sama Ribetnya, Sama Enaknya masuk ke rubrik ‘good to know’. Hey, Good Housekeeping, thanks for the early birthday present(s). :)

Menuruti nasihat teman, yang bilang bahwa ‘menyimpan’ tulisan-tulisan yang dimuat di sana-sini itu baik, selain untuk mencegah hilang tak-berbekas-nya tulisan tanpa sempat terdokumentasikan (seperti yang sudah-sudah - dan hanya sedikit yang sempat terselamatkan. Argh!) juga sebagai portfolio (yea yea), maka ini dia.

Good Housekeeping edisi Oktober 2009

Salah seorang mahasiswa saya mengambil topik permasalahan kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga untuk tugas akhirnya.

Dalam salah satu sesi bimbingan tugas akhir beberapa bulan yang lalu, kami sempat membahas, bahwa dalam segala kasus kekerasan dalam rumah tangga, kita sering mengkambing-hitamkan perkara tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah.Seolah-olah, kekerasan dalam rumah tangga hanya dilakukan oleh orang-orang yang masuk dalam tingkat ekonomi dan pendidikan demikian. Lihat saja berita-berita di media massa tentang kekerasan, yang mostly memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah Walaupun beberaoa waktu yang lalu ada juga berita tentang selebriti yang terkena kasus seperti ini; yang tentunya tingkat ekonomi dan pendidikannya bisa dikategorikan tinggi, tapi sepertinya nggak terlalu banyak (diekspos?)

Mahasiswa saya yang satu ini menolak hal tersebut, ia mengemukakan satu hipotesa, bahwa yang menjadi masalah adalah kesalahan konsep setiap individu mengenai anggota keluarganya. Setiap orang selalu memiliki tendensi untuk mengklaim kepemilikan terhadap anggota keluarga.

Anak saya. Istri saya. Suami saya. Pembantu saya, supir saya, tukang kebun saya, satpam saya (pembantu, supir, tukang kebun dan satpam, karena tinggal dalam sebuah keluarga, maka bisa dianggap sebagai bagian anggota keluarga)

Dengan berbagai alasan, setiap individu (sadar/tanpa sadar, berpendidikan tinggi maupun rendah, memiliki tingkat ekonomi tinggi atau rendah) merasa berhak untuk melakukan apapun kepada semua orang yang dimilikinya, termasuk bentuk-bentuk kekerasan,baik itu secara fisik maupun psikologis.

Saya menyetujui hipotesanya, karena dalam sebuah aktivitas sosial yang saya lakukan, saya pernah berhadapan dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ceritanya seorang gadis remaja mengalami berbagai bentuk kekerasan dari orangtuanya. Ngobrol punya ngobrol, ternyata kedua orangtuanya memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, sang ayah seorang sarjana hukum, ibunya, seorang sarjana theologia (perpaduan yang sempurna untuk tidak menyakiti sesama, kan? But her mom still does it, anyway).

Read the rest of this entry »

Self-Help Tips (Hahaha!) : Membuat Blog Anda ‘Dilirik’.

Dan yang terakhir, ini cara instan, jadi seleb dulu, baru ngeblog di blog yang disediakan oleh situs infotainment…

Menjawab pertanyaan Galuh di Twitter, kadang-kadang (berasa) iya. Suka ada beberapa e-mail yang masuk menanyakan ini itu. Contohnya adalah e-mail yang — berdasarkan tanggal sih —- masuk sekitar tiga hari yang lalu, namun baru saya buka sekitar satu jam yang lalu. Yang menemukan juga bukan saya, tapi Nella, teman saya. Duh. terima kasih deh buat segala notifikasi situs jejaring pertemanan, resume berita segala mailing list, para tukang jualan dan seterusnya, sampai-sampai e-mail personal terdesak dan nyaris terlewat.

Anyway, isi dari e-mail tersebut adalah :

Mbak, kunjungi blog aku ya,
nggak ada yang komen, nih.
Oh ya nanya dong, gimana siy, biar blog kita dikunjungi orang?

Nella — teman saya yang kekeuh ‘tidak mau mengikuti euphoria blogging‘ tapi rajin blogwalking ini. Doh!— mengangkat topik tersebut dalam sesi ngobrol ngalor-ngidul ngulon ngetan kami sampai bibir kiwir-kiwir dan perut mules karena ketawa-ketawa, ditemani berbagai cemilan tak sehat.

Saya dan Nella sepakat bahwa akan terlalu naif dan menggampangkan jika jawaban untuk pertanyaan tersebut seperti ini adalah demikian : “Jika ingin blog anda dikunjungi (dan lebih jauh lagi; diapresiasi), maka kita harus membuat entri yang berarti, kontemplatif, mengandung pencerahan, inspiratif, mengandung insight, lucu mampus, keren mati, dan seterusnya”. Apalagi, kalau misalnya ditambahkan dengan ‘Sudah, nggak usah mikirin mau ada pengunjung atau nggak. Lo menulis aja, dengan sepenuh hati. Pembaca lambat laun akan mengapresiasi juga, itu sebagai satu akibat dari kualitas tulisan lo.” Hmpf.

Sekarang masalahnya, gimana juga mau diapresiasi, kalau pengunjungnya nggak ada dan kalau nggak ada yang tahu bahwa anda itu eksis di dunia blogging?

Jadi yang pertama harus dilakukan adalah ‘menyadarkan’ dunia blogging, bahwa anda itu ada.

Read the rest of this entry »

Membicarakan Cataglottis

Entri ini untuk memenuhi permintaan ibu Brokolisehat, mumpung lagi hypergraphia.

Perempuan (saya, maksudnya) itu, sering menganalisa segala hal yang ada pada pasangan, untuk menguji apakah 267onship mereka berjalan baik-baik saja atau tidak.

Serius.

Perempuan punya standar-standar perilaku tertentu yang dipasang untuk menguji kualitas perasaan teman kencan padanya. Kalau tidak memenuhi standar, sebenarnya perempuan sudah merasa bahwa he’s not into her. Cuma, jeleknya, perempuan suka memungkiri; nggak jarang kalimat “Oh, teman kencan gue yang sekarang emang beda, anaknya cuek, nggak bisa disamain sama teman kencan-teman kencan gue sebelumnya.” akan dikatakannya berulang-ulang demi menenangkan diri sendiri

Ia akan terus demikian, sampai satu titik dia hampir merasa frustasi – dan membutuhkan opini kedua,ketiga, keempat, kelima bahkan seterusnya…

Kalau teman kencan kita jarang banget ngehubungin, kecuali untuk saat-saat genting, macamnya gue sakit, atau gue kejebak sesuatu, itu karena he’s not into me, atau he’s just plain lempeng?

Kalau sudah sampai titik demikian, SMS serupa yang di atas pun mulai disebarkan pada teman-teman perempuan lainnya, sambil berharap, bahwa semua menjawab : Itu karena dia lempeng aja, buktinya dia masih merhatiin lo pas saat-saat darurat.

Serius.

Anyway, sekali lagi, perempuan senang menganalisa segalanya, mulai dari frekuensi menelepon, gesture pasangan saat bersama-sama, cara menatap, cara menyentuh – bahkan juga dalam urusan melatih otot pengerut bibir yang bernama Orbicularis Oris, alias berciuman. Dalam kasus ini tentunya French kiss ya, yang sebelum dikenal dengan nama ini, memakai nama Cataglottis dari Cata yang artinya ‘bawah’ dan Glottis yang artinya ‘tenggorokan’.

Read the rest of this entry »

Pria-Pria Yang Pernah Terkencani

Suatu hari, seorang teman mengajak bertemu di satu tempat untuk membincangkan masalah pekerjaan. Tapi dasar kami, cewek yang otaknya memang didesain untuk multitasking, bisa memikirkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan – maka disela-sela perbincangan mengenai pekerjaan, kami juga membahas hal lain. Mulai dari ini sampai itu, dari yang penting dan harus dibahas sambil mengerutkan kening sampai yang tidak penting dan bisa dibicarakaan sambil cekikikan. Satu topik yang bagi saya cukup seru dalam sesi mengobrol hari itu adalah pembahasan mengenai beberapa jenis pria yang pernah terkencani oleh kami dan teman-teman perempuan lain.

Tuan Manipulator.
Tuan Manipulator ini adalah pria yang sering melakukan banyak hal secara halus untuk memperoleh keinginannya. Biasanya sih, tipe ini jago ngomong. Kadang-kadang kita nggak sadar bahwa kita sudah termanipulasi oleh kalimat manis nan lembutnya dan melakukan apa yang dia inginkan.

Kata-kata andalannya adalah “Katanya sayang aku…” dan variannya . Eh ada nih satu contoh yang membekas banget di kepala saya, di film ’30 hari mencari cinta’ – ada tokoh cowok yang pingin berhubungan seksual dengan sang pacar dan kalimat yang dikatakannya “Ayaaang, kamu nggak mau kan aku kena kanker prostat?”. Dan percaya nggak percaya, tipu muslihat macam ini ternyata masih ada yang melakukannya dalam periode satu tahun terakhir – ya olo, hari gini.

Untuk stadium kronisnya, mereka bakal menjadikan diri mereka sebagai korban/pihak yang harus dikasihani – misalnya ketika kita minta putus, maka dia akan bilang : “Aku tuh nggak bisa hidup tanpa kamu. Lebih baik aku mati aja deh kalau nggak sama kamu”. Atauu “Sebenernya aku nggak mau bilang ini sama kamu… aku.. kena kanker kelenjar getah bening.”

Oh ya, cara lain tuan manipulator jenis kronis selain manipulasi bunuh diri, kanker otak (dan yang sejenis), ia akan memanipulasi teman-temannya (dan teman –teman kita), untuk berbelas kasihan dan memihak padanya. “Gue tuh cinta dia banget, apa pun buat dia, asal dia bahagia – walaupun mungkin gue harus tersakiti karena tingkah dia, nggak apa-apa…”

(dan semua temannya pun akan menepuk-nepuk bahunya sambil berkata “Yang sabar ya…. Gue nggak nyangka cewek lo gitu orangnya.”) Hmpf.

Berkencan dengan pria macam ini membuat (1) awalnya mungkin anda tertipu, berbelas kasihan menuruti apa yang dimau – kemudian (2) merasa tolol dan (3) Menyesal dan merutuki diri.

Tapi kalau yang waspada sejak awal sih, fase-fase ini tidak akan terjadi. Atau kalau yang tak kunjung ngeh, hanya fase (1) saja yang terjadi, selanjutnya they live happily ever after. :P

Tuan Tahu Segala
Ketika kita habis berciuman dengannya, tiba-tiba dia bilang “Eh, kamu tau nggak, berciuman itu adalah perilaku kompleks yang membutuhkan koordinasi kerja otot. Ada sekitar 34 sampai 36 otot yang harus bekerja sama. Tapi yang paling penting sih otot orbicularis oris .”

Read the rest of this entry »

Risiko dan Kesempatan (View Point, Eve Magazine)

Saya masih ingat, suatu pagi bertahun-tahun yang lalu saat umur saya masih di awal 20-an dan masih kuliah, terbangun di sebuah kota asing, dan mendapati diri saya berbaring di atas kasur motel dengan seprai yang penuh dengan bercak-bercak ajaib, bantal berbau paduan antara minyak rambut, minyak PPO dan keringat orang lain, selimut bergaris putih hitam ala seragam Napi Dalton Bersaudara, yang bagian putihnya sudah menguning dan bagian hitamnya mengabu.

Hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya adalah “Seandainya saya memiliki uang yang cukup, tentunya saya akan check-in di hotel yang nggak begini-begini amat.”

Bukannya saya tidak mempersiapkan diri sama sekali untuk menghadapi keadaan seperti ini; bahkan sebelum melakukan perjalanan saya sepenuhnya sadar, bahwa budget yang tersedia, ya cuma cukup untuk membiayai sebentuk perjalanan kere seperti ini.

Walaupun memang tadinya, rencana perjalanan saya yang sebenarnya adalah: menunggu barang sebulan-dua bulan untuk menambah budget agar dapat membiayai perkunjungan ke tempat-tempat menarik dan melakukan aktivitas-aktivitas menyenangkan di kota tersebut. Tapi bukankah kebanyakan orang bodoh cenderung bergerak tanpa berpikir? Dan apa daya, saya adalah salah satu dari mereka.

Maka, begitulah, saya terdampar dengan sukses, agak tersesat, nyaris kehabisan uang dan menyewa kamar motel di sudut antah berantah sebuah kota.

Siangnya, dengan ketar-ketir saya mengecek sisa uang di ATM terdekat yang saya temui. Ternyata saldo hanya mencukupi untuk membiayai perjalanan kembali ke rumah.

Saat itu, sambil keluar dari booth ATM saya berdoa keras agar tidak perlu dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa tidak terduga yang membutuhkan pengeluaran.

Memang, untuk amannya, saya bisa menelepon dan meminta orang tua untuk mentransfer sejumlah uang. Tapi sayangnya saya adalah perempuan berspesies ‘Lajangus Gengsianus’.

Sambil berjalan mengarungi kota, timbul tekat di hati saya, setelah lulus kuliah, saya harus mempunyai pekerjaan tetap dengan gaji berjumlah tertentu yang pasti akan selalu ada dalam rekening setiap bulan pada tanggal satu.

Setahun kemudian saya lulus kuliah. Memilih untuk melamar ke sebuah perusahaan, diterima, mulai bekerja dan mendapat gaji yang cukup untuk (setidaknya) membiayai perjalanan yang jauh lebih layak jika dibandingkan dengan perjalanan masa kuliah.

Tapi, yang menjadi permasalahan adalah…. saya tidak bisa travelling seenaknya, karena terikat dengan jam wajib hadir dan izin cuti dari kantor.

Dalam waktu kurang dari lima bulan, saya resign, dan menganggap bahwa pilihan bekerja tetap itu salah, membelenggu kebebasan manusia serta mematikan karakter. Maka mulailah saya memilih untuk jadi freelancer di mana-mana.

Menyenangkan sih, giat bekerja mencari proyek ke sana kemari hanya saat tabungan mulai menipis. Bebas menentukan kapan waktu untuk travelling, karena saya sama sekali tidak memiliki ikatan kerja dengan badan apapun. Tapi mungkin, semakin dewasa, kebutuhan manusia semakin meningkat (atau hanya saya saja?), lama-lama pemasukan yang tidak tetap per bulan itu benar-benar membuat saya merasa insecure. Satu pertanyaan klasik yang sering muncul dalam benak. Bagaimana kalau tidak ada job bulan depan?

Demi menjaga keamanan, kenyamanan dan kelangsungan hidup, saya kembali memilih untuk bekerja kantoran (lagi!). Ketika lagi-lagi dihadapkan pada kenyataan bahwa saya terikat waktu, saya kembali resign. Itu terjadi berulang-ulang sehingga membuat track record kerja saya buruk.

Akhirnya, seiring dengan bertambahnya usia, ada satu hal yang saya dapat dari pengalaman saya berloncatan kian kemari berganti pekerjaan, yaitu setiap pilihan pekerjaan, pasti mengandung dua hal: resiko dan kesempatan.

Ketika saya memilih untuk menjadi freelancer, resikonya adalah saya tidak mendapat pemasukan tetap per bulan, kesempatan yang saya miliki adalah, bebas mengatur waktu. Begitu pula sebaliknya ketika saya memilih untuk bekerja full time, saya mendapatkan kesempatan untuk mengamankan pemasukan perbulan, tapi resikonya, saya terikat waktu.

Yah begitulah, berani menentukan pilihan pekerjaan, bukan berarti hanya menerima kesempatan tapi sekaligus juga berani menghadapi resiko. Sekeras apapun kita berusaha berlari-lari dan terus memilih, dua hal tersebut akan selalu ada dalam setiap pilihan.

Anyway, kalau sekarang saya dihadapkan dengan pilihan untuk bekerja seperti Carrie Bradshaw dalam ‘Sex in The City’, sepertinya saya akan memilih pekerjaan itu, dengan segala resiko dan kesempatannya… :D

From Virtual To Real Love? (Outmagz)

Nama depan laki-laki itu hanya terdiri dari 3 huruf.

B – o – y.

Boy.

Nama yang sangat 80-an; tidak pernah gagal untuk membawa ingatan saya kembali pada sosok Onky Alexander yang kerap berjaket kulit hitam, celana jeans bermodel baggy, rambut gondrong yang dikuncir nanggung tidak lupa rayban yang super lebar sampai menutupi nyaris 50% permukaan wajah, yang berperan sebagai Boy dalam film anak muda keren dan spektakular di masa itu: Catatan si Boy I sampai sekian.

Nggak kok, Boy yang saya kenal ini tidak seperti Boy dalam Catatan si Boy yang super tampan, rendah hati, pintar lagipula soleh. Boy yang ini adalah seorang lelaki yang- walaupun kalah tampan dengan Onky Alexander- boleh lah dikategorikan tampan. Saya sudah pernah melihat wajahnya, secara digital dalam file-file berekstensi .jpg di berbagai situs. Saya juga pernah dengar bahwa ia - walau beda fakultas tetapi satu almamater dengan saya, sedang melanjutkan kuliah di salah satu negara di Eropa. Ia juga seorang geek, gadget-freak dan movie freak.

Saya tahu, karena ia lumayan terkenal di dunia persilatan internet.

Tapi, perkenalan pribadi saya dengan Boy adalah ketika menerima sebuah pesan tidak penting darinya dalam inbox saya, yang isinya menanyakan almamater atau tentang teman – entahlah saya lupa. Spontan, karena waktu itu kebetulan hari kurang kerjaan sedunia, saya balas dengan pesan yang sama tidak pentingnya. Nyambung.

Ternyata, balas membalas pesan itu berlanjut beberapa kali. Dalam hitungan minggu, naik tingkat menjadi bercakap-cakap di ruang cakap maya Y!Messenger. Beberapa bulan kemudian, dilanjutkan dengan pertukaran pesan pendek dan sesekali bertelepon.

Jujur saja, saya menikmati hubungan maya dengan mahluk bernama Boy ini. Lama kelamaan, kontak dengan Boy yang bukan Onky Alexander ini menjadi candu selama beberapa bulan selanjutnya. Dan anehnya, saya bisa mengklaim laki-laki ini sebagai cowok-tipe-gue-banget, padahal, sekali lagi, walaupun pernah satu almamater dan fakultas bersebelahan, kami sama sekali tidak pernah bertemu; saya tidak pernah melihat sosoknya secara nyata, seberapa tingginya, seberapa beratnya, apakah perutnya six-bagged atau six-packed, aromanya enak atau tidak, permukaan kulitnya bersisik atau berbulu, mempunyai kebiasaan buruk atau tidak dan seterusnya.

Iya –aduhsungguhsayamalumengakuinya- I get crush with him, an online guy.

Iyaaa, iyaaaa, tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang.

?

“I am deeply falling in love with him” seru seorang teman, suatu siang yang santai bertahun-tahun yang lalu. Saya agak bingung, karena saya tidak pernah melihatnya sedang dekat dengan pria mana pun.

Saya berusaha untuk mengorek siapakah pria beruntung yang dijatuhi cinta teman saya yang keriting dan cantik ini. Awalnya ia menutup mulut. Wajahnya kemerah-merahan menahan malu. Tapi saya adalah teman yang intimidatif, karena akhirnya ia mengaku juga, dengan diawali kalimat “Jangan ketawain gue yaa?” : ia jatuh cinta pada sosok Rockst4r, teman mayanya.

Saat itu, saya tidak tertawa tapi dalam hati menganggapnya aneh, bagaimana mungkin cinta bisa tumbuh, padahal bertemu face to face saja belum, mendengar langsung suaranya pun belum, baru sebatas bertukar pic alias foto, chatting dan bertukar e-mail.

Bagi saya, perasaan apa pun hanya bisa tumbuh jika kita bisa melihat sosoknya langsung, berhadapan, mendengar suara, melihat ekspresi dan gesture serta merasakan emosi yang bersangkutan.

Saya bahkan terbengong-bengong ketika beberapa bulan kemudian ia memutuskan untuk berpacaran dengan Rockst4r-nya, secara maya. Sungguh saat itu, saya tetap tidak mengerti, bagaimana mungkin proses jatuh cinta dan bercinta bisa berlangsung hanya dengan menghadap screen komputer, melihat windows ruang cakap maya yang penuh dengan teks warna-warni dan macam-macam emoticons?

…sampai itu kejadian juga pada saya. Nggak, saat itu nggak sampai jadian,kok, tapi merasakan sensasi suka pada seseorang secara maya.

Lucu, rasanya sama seperti sedang menonton film.

Bulu kuduk saya berdiri ketika melihat adegan pria bermuka rata yang menghadap dinding lift dalam film The Eye. Saya panik ketika melihat Harry Potter berperang melawan Voldermort . Dan saya menangis ketika menonton adegan perginya Onion ke surga dalam film Fly me to Polaris.

Padahal, sama sekali tidak ada alasan yang cukup jelas untuk merasakan sensasi-sensasi demikian, tokoh-tokoh yang ikut saya ‘rasakan’ hanya aktor dan aktris, mereka tidak sedang benar-benar sedang dalam bahaya atau jatuh cinta. Emosi yang hadir di layar berhasil keluar dan mempengaruhi saya yang sebenarnya hanya duduk di bioskop, melihat kepingan film yang diputar 30 frame/detik dengan proyektor.

Kita terbawa oleh banyak hal yang ada dalam film tersebut, sound effect, angle, setting, plot dan seterusnya.

Itulah pengalaman virtual.

Walaupun kata virtual sendiri masih membawa konotasi yang aneh. Virtual berasal dari bahasa Latin; Vertus, yang berarti kebenaran. Tapi dalam penerapannya kini, virtual lebih berarti ‘seperti-benar’, sesuatu yang tidak sepenuhnya benar tapi terlihat benar - atau bisa disebut dengan ’sesuatu yang tidak nyata’ tapi terlihat ‘nyata’.

Demikian pula saat kita sedang berinteraksi secara maya dengan lawan bicara, walaupun hanya terbatas di jendela cakap maya yang penuh dengan deretan font trebuchet 11 pts dan emoticons (yang tentunya tidak dapat mewakili keseluruhan individu), tapi pikiran kita berusaha mengkonstruksikan keping demi keping temuan dalam interaksi menjadi satu sosok yang utuh.

Mau bagaimana lagi? Dalam kasus interaksi online, mau tidak mau, kita dikondisikan untuk bergantung pada perasaan dan imajinasi untuk menginterpretasikan situasi (ingat, kita tidak bisa melihat dan merasakan langsung yang bersangkutan). Bahkan jika ada kekosongan dalam interaksi, maka pikiran kita lah yang berusaha untuk mengisinya.

Kalau sudah begitu, karena pikiran dan imajinasi manusia tidak terbatas, bukannya tidak mungkin sosok lawan bicara yang kita (pikir kita) kenal, pada akhirnya hanyalah tokoh rekaan pikiran semata, sebuah ilusi.

Dan, sialnya, kita mempercayai bahwa sosok rekaan itu adalah dia yang sebenarnya. Yah, begini deh singkatnya, di dunia online, kita adalah apa yang kita ketikkan sepanjang kita berinteraksi, keutuhan diri kita terbentuk dari imajinasi dan interpretasi lawan bicara.

So, jika dalam film, emosi kita terbawa karena memang semua hal dalam film tersebut mengkondisikan kita agar berimajinasi ikut merasa ada di dalamnya, sedangkan dalam interaksi online, kita dikondisikan untuk berimajinasi tentang lawan bicara dan situasi yang bersangkutan karena ketidaklengkapan interaksi.

….

Menurut John Gray, yang disebut sebagai pakar hubungan percintaan dalam bukunya yang berjudul Venus and Mars on a Date (fyi, I read this book only to finish this article, I swear! hehehe!), ada lima fase yang harus dilewati untuk melanjutkan sebuah hubungan menjadi hubungan kencan/percintaan :
1. Attraction : fase di mana kita merasakan ketertarikan khusus pada ‘calon-calon’ pasangan.
2. Uncertainty : fase di mana seseorang mulai mempertanyakan kebenaran perasaan ketertarikan terhadap seseorang.
3. Exclusivity : fase di mana seseorang sudah mulai merasakan ingin selalu berdekatan dengan satu orang tertentu secara eksklusif.
4. Intimacy : fase di mana ketika seseorang sudah mulai merasa intim, kita merasa relax dan nyaman bersama orang tersebut.
5. Engagement : fase di mana kita sudah merasa sangat yakin untuk melanjutkan hubungan yang lebih dalam dengan orang tersebut. (Gray: 1997, 4)

“We instantly connected somehow. I feel we’ve known each other forever. I feel I can talk to him about anything.” Itu kata teman saya si Keriting Cantik itu tentang Rockst4r-nya.

Dan ajaib! Saya juga merasakan hal yang sama.

Semua serba cepat dalam hubungan online, bahkan jika dikaitkan dengan fase-fase yang dikemukakan oleh John Gray, ada tendensi untuk melakukan lompatan dari fase 1, attraction, ke fase 4, intimacy.

Keajaiban terjadi pada si Keriting Cantik dan Rockst4r serta saya dan Boy, tanpa harus melewati fase uncertainty dan exclusivity, kami langsung merasakan intim dan nyaman berada ‘dekat-dekat’ dengan ‘pasangan’ serta bisa bercerita apapun padanya.

Hal ini terjadi karena imajinasi bahwa dia adalah tipe-gue-banget dan kesadaran bahwa kita bisa menjadi diri kita sendiri (atau setidaknya menjadi diri kita yang kita ketik) dalam ruang cakap maya tersebut, tanpa harus perduli bahwa kita belum mandi, belum dandan, bahkan sedang berada dalam kondisi ancur-ancuran sekalipun.

Menjadi diri sendiri itu menyenangkan, kan?

Oh ya, ada lagi satu kualitas yang menggoda dalam hubungan online, sesuatu yang tidak kita dapatkan dalam kehidupan nyata – undivided attention; perhatian yang sepenuhnya. Tidak ada gangguan dalam kehidupan online, tidak ada gangguan telepon, tidak ada gangguan pacar dunia nyata, tidak ada suara anjing atau kucing kita, tidak ada suara-suara atau masalah-masalah lain.

Dunia virtual tempat kita berinteraksi adalah dunia yang sunyi. Fokus : Kita. Untuk memiliki perhatian dan simpati seseorang secara total mungkin adalah impian setiap orang – yang sulit didapatkan di dunia nyata, dan mendapatkan hal itu rasanya sungguh menyenangkan.

Ada fase yang terlewati, tapi keajaiban internet membuat fase-fase tersebut menjadi tidak penting. Lah wong tanpa fase-fase itu kita sudah bahagia, mau apa lagi?

?

Akhirnya si Keriting Cantik itu bertemu secara nyata dengan rockst4r-nya, mereka memutuskan untuk melanjutkan hubungan secara offline. Saya pun demikian, ketika Boy kembali ke Indonesia, kami memutuskan untuk bertemu.

Saya dan Boy sempat bersama. Secara prematur, saya yakin bahwa kami cocok; hubungan kami akan berlanjut cukup lama, mengingat betapa menyenangkannya hubungan online kami yang berlangsung intensif selama nyaris setahun.

Bedanya, hubungan si Keriting Cantik terus berlanjut sampai sekarang. Sedangkan, dalam kasus saya, kesuksesan cinta online tidak berlanjut di dunia offline. Hanya tiga bulan, dan saya keburu bete.

Saya lupa bahwa Boy yang saya ‘kenal’ secara online kemungkinan besar adalah Boy-yang-hasil-imajinasi saya.

Saat berada berhadapan dan bersama-sama secara offline, saat bisa melihat gesture, cara bicara, emosi, kebiasaan dan seterusnya secara nyata tanpa diwakili oleh tulisan dan emoticons, barulah identitas dan karakter individu yang sebenarnya terungkap.

Ketika ekspektasi saya terhadap Boy yang secara online tipe-gue-gue-banget tidak terpenuhi saat bertemu secara nyata, saya kecewa. Bahkan agak frustasi dan sibuk bertanya-tanya,”Kenapa sih kok begini?”, “Kenapa sih, jadi begitu?”, “Kok beda sih?” dan seterusnya.

Saya menuntutnya agar sama seperti ‘Boy’ yang online yang kemungkinan adalah tokoh rekaan pikiran saya sendiri – ya,ya,ya, saya tahu itu tidak benar; maklumlah saya kan tidak memiliki jam terbang tinggi dalam dunia percintaan maya. Yang jelas, bagi saya, hubungan kami berubah menjadi menyebalkan.

Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa virtual love tidak akan pernah punya happy ending; lha wong buktinya, si Keriting Cantik cukup sukses, karena kini, ia dan rockst4r sedang mempersiapkan pernikahan mereka beberapa bulan lagi. Tapi, kekecewaan mungkin saja terjadi, karena pribadi online individu tidak selalu sama dengan pribadi offlinenya.

Oh ya, kelanjutan cerita saya adalah, saya putuskan untuk tidak menemui Boy lagi setelah mengirimkan pesan selamat tinggal melalui pesan pendek – dan dibalas juga dengan pesan pendek : Have a good life, thanks for everything,dear.

Saya pikir, kami tahu-sama-tahu, bahwa ternyata secara offline kami tidak cocok, dia bukanlah cowok-tipe-gue-banget, vice versa. Sejak saat itu; kami sama sekali tidak pernah berhubungan lagi.

Oh well. Nggak apa-apa. Yang jelas, tidak pernah sekali pun saya menyesal pernah mengenal Boy, baik secara online maupun offline. Sebut saja, itu adalah salah satu pengalaman yang memperkaya jiwa (tsah!). Lagi pula.. psst… he’s a quite good kisser. Ha! ha!

(Omigod, I can’t believe I kiss and tell..)

(outmagz edisi Mei 2006)

Fans dan Idola (Inspirasi, Belia, Pikiran Rakyat)

WAKTU saya cerita bahwa saya suka acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI), sebuah acara star search yang ditayangkan stasiun televisi swasta, teman-teman saya ketawa. Mereka komentar, “Nggak ketuaan, lo ngikutin acara gitu?” Hmm, yeah, may be I’m too old, but I don’t care. Sejauh ini saya menganggap acara itu menarik untuk disimak. Sebuah proses untuk membentuk orang yang tadinya “bukan siapa-siapa” menjadi bintang.

Dan ketertarikan saya pada acara ini bertambah lagi ketika saya masuk ke dalam forum AFI di situs stasiun televisi tersebut, melihat perilaku para pendukung akademia —sebutan bagi para finalis yang masuk ke dalam AFI- yang meninggalkan pesan tentang para akademia.

Mengapa tertarik? Sebab di sana saya menemukan kecenderungan pengunjung situs itu untuk saling bertengkar on-line. Mereka ribut sendiri, membela akademia idolanya, dan menjelek-jelekkan akademia yang nggak disukai. Ini mengingatkan saya pada kelakuan lalu ketika saya menyukai boysband fenomenal: New Kids On the Block.

Sebenarnya, memiliki idola adalah hal yang positif, karena nggak jarang idola kita ini dapat menjadi inspirasi. Dulu saat saya mengidolakan New Kids On the Block, saya menjadi rajin belajar bahasa Inggris. Semua kreativitas saya juga ikut terpacu jika harus mengerjakan banyak hal yang berkaitan dengan New Kids On the Block. Sebutlah membuat kliping tentang masing-masing personil maupun menciptakan tarian diiringi oleh lagu-lagu New Kids On the Block untuk pentas seni sekolah. Pokoknya, jangan ditanya berapa banyak hal yang telah saya buat karena New Kids On the Block!

Saya terkagum-kagum ketika melihat banyak sekali penggemar akademia terinspirasi membuat sesuatu untuk akademia idolanya, seperti Riniers alias penggemar Rini AFI yang membuat situs tersendiri bagi Rini. Lalu ada penggemar Rindu, Lia, dan Mawar yang juga nggak mau kalah membuat situs yang sama. Bahkan ada yang berlatih menyanyi dan menari agar bisa seperti para akademia.

Yang nggak positif dari memiliki idola adalah ketika kita, sebagai penggemar, membabi buta, dan sangat fanatik terhadap sang idola, sehingga kita terdorong untuk melakukan hal yang cenderung merugikan dengan sangat nggak beralasan.

Dulu saya pernah menjelek-jelekan Guns ‘n Roses, karena geng cowok yang mencela New Kids On the Block, fans dari Guns ‘n Roses. Konyol ‘kan? Hal ini memicu pertengkaran massal antara geng cewek fans New Kids On the Block dengan geng cowok, fans Guns ‘n Roses. Dan tahu berakhirnya di mana? Di lapangan sekolah! Kepala Sekolah memberi hukuman dengan menjemur kami —baik fans New Kids On the Block, maupun Guns ‘n Roses— selama 3 jam!

Yah, begitu lah, memiliki idola itu bisa mengakibatkan dua hal, positif dan negatif. Positif jika kita jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang baik gara-gara idola kita. Sebaliknya, negatif, jika memiliki idola membuat kita membabi buta mengikuti setiap hal yang dilakukan sang idola. Padahal mereka hanyalah manusia biasa yang mungkin juga berbuat salah.

Sekarang milih yang mana? Jadi fans positif atau negatif?

Menunggu Angkot (Inspirasi, Belia Pikiran Rakyat)

Ritual saya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor saya dulu adalah menunggu kendaraan umum di tepi jalan.

Seperti pagi-pagi lainnya, suatu pagi. ketika saya sampai di tempat perhentian kendaraan umum, sudah ada beberapa orang ibu, yang salah satunya sedang dalam keadaan hamil membawa keranjang belanja, mereka adalah sekelompok ibu-ibu yang mau pergi ke pasar. ada beberapa orang perempuan memakai seragam SMU, ada sejumlah orang berpakaian rapi lengkap dengan dasinya, mungkin mereka sesama pekerja yang, seperti saya, mau berangkat ke kantor mereka.

Sebelum angkot datang, semua calon penumpang tampak bersahabat, saling menyapa, ada yang mengobrol atau seperti saya hanya tersenyum selamat pagi kepada si ibu hamil, yang paling tidak dua hari sekali selalu ada di tempat perhentian metromini tersebut.

Tapi ketika metromini datang, luar biasa. “Persahabatan” para calon penumpang angkot berubah menjadi persaingan. Saling berlari, saling mengejar, saling desak pokoknya, yang lemah, musti rela tertinggal, dan menunggu angkot berikutnya. Takut ketinggalan, saya juga berubah menjadi agresif, tapi baru saja sebelah kaki masuk ke dalam angkot, saya melihat si ibu hamil tadi, tersengal-sengal mengejar metromini, akhirnya saya turun, maksudnya hendak berbaik hati memberikan kesempatan pada ibu tadi untuk naik terlebih dahulu, tokh masih akan ada angkot lain yang datang.

Tapi tebak apa yang terjadi? Baru saja saya turun, dan belum sempat berkata pada si ibu hamil tadi untuk naik lebih dahulu, eh, ada seorang pria, berpakaian rapih mendorong saya keluar dan ia sendiri masuk ke dalam angkot! Oh tidak! Akhirnya, saya dan ibu hamil tadi tertinggal.

Saya sebal, tapi berusaha memakluminya, pagi-pagi, semua orang takut terlambat, jadi berupaya dengan beragam cara agar sampai dengan cepat di tempat tujuan.

Sorenya, ketika saya menunggu bis untuk pulang ke rumah, saya menunggu bersama teman-teman kantor saya, dan juga teman-teman kantor sebelah, mengobrol dengan akrab, iya, mereka itu bukan orang asing karena setiap hari menunggu bis untuk pulang.

Tapi “persahabatan” berubah menjadi persaingan (lagi!) ketika bis datang. Saling berdesakan, saling berebut, berusaha untuk paling dulu masuk ke dalam bis. Pfuh! Kali itu saya terlalu sibuk berusaha untuk masuk ke dalam bis, jadi tidak sempat memperhatikan apakah ada lagi ibu hamil yang pasti akan kalah dalam persaingan berebut bis ini. Lucu, ya.. kalau pagi-pagi, semua orang terburu-buru takut terlambat, sehingga menjadi egois untuk masuk ke dalam bis, kalau sore, sama saja, semua orang terburu-buru untuk pulang, dan menjadi tidak kalah egoisnya.

Di dalam bis, syukurlah! Saya mendapatkan satu tempat duduk, duh! Bahagianya saya, bisa duduk sejenak, sementara orang lain, yang tidak kebagian tempat duduk hanya bisa berdiri menatap sirik dengan orang-orang gesit seperti saya, hehehe. Tapi, baru saja beberapa menit duduk, tiba-tiba saya melihat seorang ibu tua naik, tidak mendapatkan tempat duduk. Ia berdiri di jarak sekitar 2 orang dari tempat duduk saya, dengan tidak seimbang, beberapa kali hampir jatuh, ketika bis ugal-ugalan membelok ke kiri, ke kanan dan mengerem mendadak (dan itu sering terjadi, kapan sih bis tidak ugal-ugalan dan tidak suka mengerem mendadak? Saya teringat nenek saya. Akhirnya, saya lupakan keinginan saya untuk duduk santai sampai di tujuan, dan bermaksud untuk memberikan ibu tua tadi tempat duduk, sebelum ia benar-benar jatuh.

Tapi baru saja saya berdiri, seorang perempuan muda sudah duduk. Saya menegur, tapi ia pura-pura tidak mendengar. Ia terus memandang keluar jendela. Ah! Apakah sebegitu lelahnya ia berdiri? Entahlah. Yang jelas, sore itu, saya dan ibu tua yang mau saya berikan tempat duduk akhirnya berdiri.

Saya jadi bingung, apa memang seharusnya saya pura-pura tidak tahu?

Hemmmmm…

Say it With Smileys (Selancar, Pikiran Rakyat)

A: Dasar gila! :)
B: Enak aja gue dikatain gila! :(
A: Bukannya emang? :P
B: Iya sih, tapi dikit :D

PARA internet-addict tentu udah nggak asing lagi dengan tanda :), :(, :P, dan :D yang ada di belakang tiap kalimat di atas. Tanda-tanda itu disebut dengan emoticon, singkatan dari emotive icon, yaitu tanda-tanda yang mampu mengekspresikan emosi dan perasaan kita. Yup, setiap tanda itu ada artinya, seperti :) artinya kita sedang tersenyum (atau senang), :( sedih, :P artinya menjulurkan lidah (ngalelewe, kalau bahasa Rusianya sih), dan tanda :D artinya tersenyum lebar.

Emoticon yang dipakai pada kutipan percakapan di atas hanyalah emoticon standar, yang semua orang sudah kenal. Sebenarnya, masih ada jenis emoticon lainnya, seperti misalnya >:) artinya devilish, lalu X-( artinya marah, dan masih banyak lagi yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Saya pernah menemukan emoticon yang mewakili bersiul, memukul, dan menembak. Mau tau seperti apa? Yah, coba aja cari di search engine, http://www.yahoo.com atau http://google.com, lalu masukkan kata emoticon sebagai keyword lalu search, kalian pasti bakal bingung sendiri saking banyaknya! Oh, ya selain emoticon, istilah lain yang digunakan untuk menyebut tanda-tanda ini adalah smiley.

Mau tau siapa si kreatif yang awalnya menemukan emoticon atau smiley ini, sampai pada akhirnya menjadi satu konvensi umum di antara para internet-addict? Kevin MacKenzie pada tahun 1979, dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan tanda -) yang artinya menjulurkan lidah, tapi sayangnya, teknik menggunakan tanda ini nggak tertangkap maknanya oleh orang lain, sehingga nggak ada orang yang mau memakainya.

Lalu pada tahun 1981 sampai pertengahan 1982, Scott Fahlman dari Central Michigan University, melihat sering terjadinya kesalahpahaman di Bulletin board universitas tersebut (konsep Bulletin board ini, sama seperti konsep mailing list atau newsgroup di internet). Karena pesannya berbentuk tulisan, seringkali orang yang membacanya nggak bisa “menangkap” maksud si pengirim pesan.

Scott kemudian menyarankan untuk menggunakan :) untuk menunjukkan senang, dan :( untuk menunjukkan ketidaksenangan. Dan tanpa disadarinya, konvensi penggunaan tanda :) dan :( yang terjadi di Bulletin Board Universitas tersebut menyebar kemana-mana, dan berlanjut saat internet mulai booming, yang diikuti dengan pengembangannya sampai ratusan bahkan ribuan, yang bukan saja mewakili emosi atau perasaan, tapi bisa juga mewakili segala hal mulai dari hewan, pekerjaan, sampai tokoh terkenal. Coba deh cari lagi di search engine, pasti bisa ditemukan emoticon yang mewakili Pamela Anderson, Britney Spears, Gandhi, atau mungkin tokoh yang kamu suka!

Memang pemakaian emoticon atau smiley ini efektif untuk mencegah kesalahpahaman, karena konsep bulletin board (dan juga mailing list dan newsgroup) melibatkan orang-orang secara maya, di mana kita nggak bisa saling melihat ekspresi wajah dan bahasa tubuh satu sama lain, hanya tulisan-tulisan yang mewakili keberadaan mereka. Dan deretan huruf mana bisa sih menunjukkan apakah orang itu sedang marah, kesal, senang, tertawa dan lainnya?

Coba deh, kalau misalnya kalimat pertama kutipan perbincangan saya di atas dihilangkan emoticonnya, menjadi: Dasar gila! Hmm, agak-agak menyebalkan, nggak sih? Siapa juga yang mau disebut gila?

Terasa ‘kan perbedaannya. Tulisan tanpa emoticon bisa menimbulkan kesalahpahaman, karena kita nggak bisa melihat, apakah si penulis pesan itu serius, atau bercanda. Hanya dengan menambahkan :), maka arti pesan dapat berubah.

Basa-Basi (Belia, Pikiran Rakyat)

DALAM perjalanan, sering saya ditanyai pertanyaan-pertanyaan basa-basi. Beberapa tahun lalu misalnya, ketika sedang berada dalam sebuah kereta api dari suatu kota menuju Bandung, orang di sebelah saya bertanya, “Mbak, mau ke Bandung juga ya?”

Saat itu saya hanya bisa melihatnya dengan pandangan aneh, dan berpikir, “Ya iyalah, ini kan kereta api menuju Bandung, masa sih saya mau ke Bangkok?”

Dulu saya nggak pernah ngerti, kenapa begitu banyak orang yang suka berbasa-basi, seperti bertanya “kuliah di mana, Mbak?” dan segera setelah saya jawab, orang itu bertanya lagi, “Oh, kenal si anu dong, fakultas ini angkatan ini..”. Padahal, aduh, yang kuliah di kampus saya ‘kan bukan hanya sepuluh orang yang berasal dari satu fakultas, satu angkatan dan semuanya saling mengenal? Yah, memang saya sangat nggak suka berbasa-basi, dan nggak melihat berbasa-basi itu ada gunanya.

Tapi pandangan saya tentang berbasa-basi berubah ketika saya mengikuti mata kuliah ilmu komunikasi yang membahas mengenai basa-basi ini. Menurut dosen saya, membicarakan atau menanyakan hal-hal remeh seperti “mau kemana?” atau “kuliah di mana?” atau “kenal sama si ini, nggak?” itu disebut komunikasi fatik (phatic communication). Bukan sekadar bertanya, tapi juga menganggukkan kepala tiap bertemu seseorang yang kita tahu, tersenyum, bersalaman, dan lain sebagainya.

Phatic communication itu berfungsi untuk membuat manusia merasa nyaman. Baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dan perasaan nyaman itu diperoleh jika kita mengakui eksistensi atau keberadaan orang lain, dan orang lain juga mengakui eksistensi atau keberadaan kita.

Pernah ngerasain nggak, berada di tempat baru, misalnya di hari pertama les Perancis di CCF, dan nggak ada satu orang pun yang kalian kenal, gimana rasanya? Asing dan canggung, apalagi kalau nggak ada seorang pun yang mengajak kalian ngobrol. Itulah perasaan kita kalau keberadaan kita nggak diakui.

Dalam posisi tersebut, mau nggak mau kalian mencoba berkomunikasi dengan orang yang duduk di sebelah kalian. Dan itu biasanya dimulai dengan bertanya, “sekolah di mana?” Yah, walaupun obrolannya akan berlanjut, “Oh, gue punya temen di sana juga, kenal si ini nggak?” Tapi setidaknya, setelah mendapat teman mengobrol, kalian langsung merasa lebih enak ‘kan?

Pada intinya adalah, manusia itu makhluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain untuk mengakui keberadaan dirinya. Jadi bayangkan, kalau misalnya kalian berada di tempat asing, dan semua orang nggak peduli, rasanya nggak nyaman ‘kan? Dan coba kalau posisinya di balik, ada orang baru yang masuk dalam lingkungan kita, misalnya murid baru di sekolah kita, dan nggak ada seorang pun mengajaknya ngobrol. Pasti orang itu juga merasa nggak nyaman.

Jadi sebenarnya bukan isi pembicaraannya, tapi tindakan menegur, bertanya, tersenyum, bersalaman, menganggukkan kepala, yang menunjukkan bahwa kita mengakui keberadaan orang lain lah yang penting. Dan ini bukan hanya berlaku untuk orang yang berada dalam lingkungan baru saja, menganggukkan kepala pada guru ketika bertemu, berkata “hei!” pada orang yang kita kenal walaupun kita nggak dekat dengannya, juga dapat disebut sebagai tindakan phatic communication.

Saya baru merasakan “nikmatnya” phatic communication, pada sebuah penerbangan dari Surabaya menuju Kupang yang saya lakukan akhir tahun lalu. Saya duduk bersebelahan dengan seorang perempuan, dia bertanya pada saya, “Mau ke Kupang juga?” Duh, untungnya saya sudah mengerti kegunaan phatic communication, kalau nggak, mungkin saat itu saya akan menjawab, “Bukan, saya mau ke Hong Kong!”

Akhirnya pada dua jam perjalanan itu, saya tidak harus terbosan-bosan menunggu pesawat mendarat, bahkan buku-buku yang sudah saya siapkan untuk membunuh waktu perjalanan pun sama sekali tidak saya keluarkan dari ransel. Dan sampai sekarang saya masih berhubungan dengan perempuan tersebut. Ternyata, phatic communication juga bisa menambah teman!

(Rubrik Selancar, Belia, Pikiran Rakyat)