Main

catatan kecil Archives

03 januari 2007

PENGALAMAN PERTAMA

Bukan Pengalaman pertamax .
Ga penting.
Sudahlah.Lupakan.

Seperti kemarin, saya masih berusaha mengerti logika bekerjanya MT brengsek ini, lumayan -- hanya harus teliti saja [yang sangat bukan spesialisasi saya, sebenarnya *helanafaspanjang*]. Dan seperti entri : Pertama : 10 hal menyenangkan 2006 [yang saya sebut sebagai entri pertama tahun 2007 - dan baru tadi saya sadar ternyata bukan, ada entri tes-tes sebelumnya yang lupa saya hapus] entri ini juga ditulis ketika saya mulai jereng memperhatikan kelas-kelas dalam lembar CCS eh, CSS deng. :P

Ngomong-ngomong, internet di sini, sekarang melamban. :(

Oh ya, saya jadi ingat, pertama kali saya berkenalan dengan binatang bernama blog ini, tahun 2000. Waktu itu kalau nggak salah saya sedang mencari informasi tentang - ehm apa ya? lupa; pokoknya berhubungan dengan pekerjaan deh, lalu search engine memberikan blog nona ini, bersama dengan blogger-blogger kolot di indigos.net. Dasar gampang terdistraksi, bukannya bertahan pada tujuan semula, saya malah membuka situs blogger.com dan latah membuat blog.

Continue reading "PENGALAMAN PERTAMA" »

10 januari 2007

Pahlawan Dalam Diri Kita

I believe there's a hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride, even though sometimes we have to be steady, and give up the thing we want the most. Even our dreams…
(May Parker, Spider-Man 2)

Hal yang paling saya tunggu sewaktu SD dan masih tinggal di sini adalah masa liburan kenaikan kelas. Kenapa? Tentunya karena saya akan diajak menghabiskan liburan di tanah jawa sini :D.

Yah, maklumlah, namanya anak daerah, yang hiburannya pantai lagi pantai lagi, menghabiskan liburan di kota yang banyak gedungnya itu adalah sebuah hal mewah yang cuma terjadi setahun sekali - jadi gimana nggak ditunggu coba?

Iya, liburan di tanah jawa adalah masa di mana saya memuaskan seluruh kecemburuan terhadap sepupu-sepupu yang bisa berkunjung ke kebun binatang, bioskop, makan di KFC, berkunjung ke taman bermain yang ada mobil senggol dan rumah hantunya setiap akhir pekan.


Continue reading "Pahlawan Dalam Diri Kita" »

14 januari 2007

TIPS BAHAGIA ITU OMONG KOSONG

Tiba-tiba seorang teman meminta saya untuk membuat sebuah artikel 'bagaimana menjadi perempuan happy' untuk media tempatnya bekerja, tepatnya untuk mengisi slot artikel kosong, bukan begitu bukan, djeng?:D.

PR mendadak nyaris seperti tugas sangkuriang membuat perahu [deadlinenya mepet, gitu ganti] cukup membuat kelimpungan - karena sebenarnya saya sedang tidak punya emotional push untuk menulis apa pun, plus jujur saja, saya tidak tahu bagaimana cara menjadi happy... jadi, gimana coba mau menulis how-to-be-kind of article? :D

Tidak enaknya diminta tolongi oleh teman adalah, saya susah menolak. Dengan berat hati karena melihat wajah memelas si teman, akhirnya saya iyakan juga.

Sebagai penunda pekerjaan sejati, tugas saya biarkan tidak tersentuh, sampai pada akhirnya dua hari kemudian, teman saya menelepon untuk menanyakan masalah artikel. Aduh mampus.

Akhirnya saya memaksakan diri untuk menulisnya tengah malam, untung sudah terbiasa menjadi mahluk nokturnal, jadi tetap melek sampai di atas jam dua belas itu ya nggak masyalah. Cuma ternyata, menulis artikel tentang ‘bagaimana menjadi perempuan happy’, susah juga bo! Selama lima belas menit saya memelototi monitor dengan otak blank.

Iseng, saya kirim pesan pendek massal pada beberapa orang yang ada dalam address book ponsel saya, tentunya mempertanyakan apa definisi kebahagiaan bagi mereka dan apa yang membuat mereka bahagia. Yah siapa tau bisa memberi ide – atau setidaknya membuat saya ketawa-ketawa.

Ada yang mereply saat itu juga, ada yang besoknya, ada yang tidak. Untuk yang tidak, ah nggak asik lo anaknya.. hehehe *becanda*, saya tahu, mendapat pertanyaan seperti ini di tengah malam agak mengganggu.

Jawaban-jawaban yang saya peroleh seperti ini....

Continue reading "TIPS BAHAGIA ITU OMONG KOSONG" »

18 januari 2007

Groupies

A groupie is a person who, while she/he may be a fan on some level, seeks intimacy (most often physical, sometimes emotional) with a famous person.
Wikipedia.org

Seorang sobat di masa SD-SMP pernah menjanjikan pengiriman hasil scan foto-foto masa SD kami, terutama foto koleksi merchandise New Kids On The Block yang pernah saya punya. Hm, mana ya? Janji tinggal janji nih.. :P

Eh, tadi saya sempat mengetikkan New Kids On The Blog,lho. Sumpah! Padahal sebelumnya saya ketawa-ketawa waktu membaca salah satu entry di Multiply-nya Bunda Tus yang bercerita bahwa ia mengetikkan keyword 'jomblog', padahal yang dimaksud 'jomblo'. Jeng, kayaknya bener, kalau mau tahu akut atau tidaknya penyakit gila-blog seseorang bisa dideteksi dari yang kayak gini-gini; menulis sesuatu yang mengandung b-l-o, pasti dilanjutkan dengan huruf 'g'.

Sebenarnya tujuan saya meminta foto itu hanya untuk bernostalgia, mengenang dan mentertawakan kegilaan masa lalu, saat saya masih mengkal nan segar [hihi].

Waktu itu, saya tergila-gila dengan boysband asal Boston ini. Bukan cuma menggemari musik dan penampilan panggung mereka, tapi sudah sampai tahap parah. Saya adalah salah satu dari sejuta remaja putri yang menjadi groupies mereka!

Continue reading "Groupies" »

26 januari 2007

Antara Nuno, Bram Dan Saya

Nuno dan Bram adalah sahabat terbaik saya. Kami bertemu di suatu tempat, di luar kampus, pada musim hujan akhir tahun 1998. Entah kenapa, kami bisa langsung klik, nyambung banget, padahal belum lama berkenalan.

Padahal lagi, karakter kami berbeda-beda. Nuno, si super asal yang jahil, suka kentut dan sendawa sambil mengucapkan ‘biawak gede banget’ dan saking cueknya, terkadang ia agak tidak sensitif dengan keadaan sekitar. Sedangkan Bram, adalah pria bersihan yang menderita sindrom obsesif kompulsif terhadap kegiatan merapikan banyak hal. Kentut dan sendawa sembarangan ala Nuno, bagi Bram adalah perbuatan paling biadab. Belum lagi sifatnya yang superhipersensitif.

Rasanya takjub saja, baru kenal, kok bisa senyaman itu. Malah saya sempat melontarkan teori reinkarnasi, bahwa sebenarnya, saya dan mereka sudah berhubungan di kehidupan sebelumnya tapi entah dalam wujud apa, mungkin sebagai anggota koloni ubur-ubur di laut atau masuk dalam keluarga umbi-umbian.

Bisa ditebak, dua laki-laki ganteng ini kemudian menjadi sahabat saya. Kemana-mana kami selalu bareng, bahkan kami pernah mendengar julukan kembar tiga dempet dari teman-teman lain, karena di mana ada saya, di situlah ada mereka.

Bahkan pacar-pacar kami pada masa itu sering banget cemburu, karena kami lebih banyak menghabiskan waktu bertiga daripada dengan mereka.

Oh ya ada satu cerita konyol, ceritanya untuk membuat pacar-pacar kami mengerti bagaimana solidnya hubungan kami dan kenapa bisa sampai demikian, maka kami merencanakan sebuah triple date. Masing-masing membawa pacar ke sebuah restoran kelas menengah untuk dinner bareng. Yang ada, kami bertiga sibuk sendiri, dengan obrolan dan bercandaan sektoral kami.

Pacar-pacar kami apa kabar?
Yah, mereka hanya bisa bengong.

Setelah itu, pacar-pacar kami memang masih tidak mengerti, tapi mereka mengambil sikap “ya sudahlah..”.

Continue reading "Antara Nuno, Bram Dan Saya" »

10 februari 2007

Peduli kalau [terasa] Dekat, Peduli setelah Akibat

Selama dua minggu saya tidak mengupdate blog, ada beberapa pesan pendek masuk dalam inbox yang menuduh bahwa saya sedang berenang-renang di kolam renang besarnya Bapak Sutiyoso, alias menjadi relawan. Halah. Relawan dari Hong Kong. Yang ada saya terkapar sakit, demam, pusing, mual, letih dan lesu.

Diagnosa awal dokter : radang tenggorokan. Tapi yang sempat bikin panik adalah saran beliau untuk periksa darah jika lewat dari 4 hari demam tidak turun, takut jika ternyata demam saya adalah awal dari demam berdarah atau flu burung.

Dua penyakit yang disebutkan itu begitu sering saya dengar dan baca. Bahkan seorang teman berolok-olok bahwa dua penyakit tersebut adalah trend penyakit terakhir, terkini. Saya pikir, olok-olok teman saya tidak lucu; tapi berhubung waktu itu saya sedang sehat sesehat-sehatnya, saya cuma bilang 'Hush!'

Sampai....Demam kemarin.

Asli saya takut. Yang jelas, jika sebelumnya tidak terpikir sedikit pun bahwa orang-orang di sekitar [bahkan saya sendiri] memiliki kemungkinan terkena wabah flu burung dan demam berdarah, saat sakit, dua penyakit tersebut jadi terasa sangat dekat.

Continue reading "Peduli kalau [terasa] Dekat, Peduli setelah Akibat" »

19 februari 2007

Antara Penis dan Vagina

Berawal dari tugas menyusun sebuah topik makalah untuk menjelaskan perbedaan antara seks dan gender, yang tentunya memuat sedikit istilah-istilah alat kelamin, saya jadi terpikir, sebenarnya bahasa Indonesia sendiri punya atau tidak istilah tersendiri untuk alat kelamin laki-laki dan perempuan? Kenapa juga di setiap artikel, essay dalam text-book, bahkan sampai jawaban dr.Boyke dan dr. Naek dalam rubrik seksologi di majalah-majalah, yang sering tersebut adalah serapan bahasa asingnya : penis dan vagina?

Kemudian, saya mulai bertanya pada teman-teman, sebuah pertanyaan sederhana “ Alat kelamin cowok sama cewek apaan sih, bahasa Indonesianya? Bukan penis dan vagina ya, itu kan serapan…”

Pertanyaan macam itu disambut dengan pelototan, bahkan ada pula yang berkata ‘hush!’.

Saya terheran-heran. Kenapa ‘Hush!’?

Kata mereka, karena saya menyebut penis dan vagina.

Kenapa ‘penis’ dan ‘vagina’ di’hush’?

Karena itu alat kelamin.

Okay, sampai sana saya tidak bertanya ‘kenapa?’ lagi. Walaupun sebenarnya agak heran juga. Penis dan vagina kan salah satu bagian tubuh yang ada pada manusia normal, sama seperti ‘tangan’ dan ‘kaki’ – kenapa dalam penyebutannya harus di’hush’, sedangkan jika kita menyebut ‘tangan’ dan ‘kaki’, tidak ada yang melotot atau meng’hush’ ?

Continue reading "Antara Penis dan Vagina" »

24 februari 2007

Meme* Dan Isu Persamaan Hak

*Peringatan : Jangan pikir karena saya pernah membahas masalah perkelaminan, lalu dengan membaca judul di atas, mengira bahwa saya akan beromong kosong tentang itu lagi,ya? Lagian, judul yang saya bintangi di atas tidak diakhiri dengan huruf ‘k’, ya tokh? Ya tokh?


Dan sebelum Ibu Tiri dan Vanya mencela ‘Kayak déjà vu’ atau ‘ini repost,ya?’, saya bakal mengaku, entri ini adalah hasil pengeditan dari tulisan online saya di tempat lain.[Jadi, bu May dan Vanya, saya tidak terima komen bertema ‘kayak pernah baca.’]

Saya selalu merasa bahwa isu-isu persamaan hak antara laki-laki dan perempuan itu, dalam penerapannya cenderung bias.

Ide-ide heroik, yang menyebutkan bahwa selayaknya perempuan jangan mau dijadikan subordinate, bahwa perempuan –seperti halnya laki-laki- harus menguasai ranah non domestic juga, jangan melulu jadi domestic-goddess dan seterusnya dan seterusnya memang mempesona.

Tapi diantara histeria persamaan hak, selalu ada nada keberatan ketika ide tukar peran diajukan. Kan persamaan hak, jadi posisi bisa saja dong dibalikkan.

Bagaimana jika perempuan yang mengerjakan ‘kewajiban’ [yang dituntut lingkungan terhadap] laki-laki, karena laki-laki juga punya hak untuk tidak mengerjakan ‘kewajiban’nya.

Continue reading "Meme* Dan Isu Persamaan Hak" »

01 maart 2007

Punk, Salib dan Che Yang Centil

Gara-gara memutuskan untuk menyicil sebuah barang yang saya pikir tidak bakal diperlukan, saya jadi panik. Bukan takut nggak bisa bayar, budget cukup kok. Cuma saya sangat tidak suka konsep barang ada, bayar belakangan. Walaupun partner bilang menyicil dan menghutang itu beda, apa boleh buat, saya tidak bisa melepaskan pola pikir seperti ini.

Kepanikan saya berujung pada obrol-obrol ringan di sebuah tempat. Saya mengajukan pernyataan, butuh side job. Teman saya bingung, karena sudah lama saya tidak menjadi peminta-minta kerjaan, mungkin terakhir tahun 2004, sebelum akhirnya saya mendapat pekerjaan tetap [yang artinya, sudah 3 tahun saya bekerja kantoran. Hm, waktunya terbang lagi,kah?]

“Gi nggak ada kerjaan. Kalo butuh duit lo jual apa kek…kayak dulu.” Serunya sambil meledek. Sialan, rupanya dia tidak pernah lupa masa-masa saya menjual arloji, yang dia sebut sebagai masa saya sebagai ‘Gengsianus bangetus’, artinya spesies yang kekeuh mencoba tidak minta-minta uang dari orang tua [padahal miskin].

Continue reading "Punk, Salib dan Che Yang Centil" »

11 maart 2007

Konversasi Sambil Menunggu Si Bocah Petualang

“Cantik yang putih, rambut panjang dan langsing lagi musim ya?” Celetuk teman saya, beberapa waktu yang lalu, pada jeda iklan pada acara si Bocah Petualang favorit, ketika melihat tayangan iklan yang menggunakan sosok perempuan.

Saya langsung menyetujuinya begitu melihat iklan-iklan lain, yang kebanyakan juga memakai sosok perempuan dengan tampilan sejenis : kulit putih, langsing, rambut panjang terurai, hidung mancung dan sebagainya dan sebagainya. Dan kalau dilihat-lihat lagi, bukan hanya iklan saja, tapi juga sinetron, majalah, film layar lebar, dan entah apa lagi….semua beramai-ramai menampilkan perempuan dengan standar kecantikan demikian.

Biasanya tidak berhenti sampai menampakkan sosok-sosok macam itu, tapi sering diiringi dengan pesan : bahwa perempuan-perempuan macam ini lah yang diminati di segala bidang, kalau penampakannya tidak demikian, modar lah kau, wahai perempuan, di segala urusan, mulai dari percintaan, pergaulan bahkan sampai karir.

Continue reading "Konversasi Sambil Menunggu Si Bocah Petualang" »

17 maart 2007

Gara-gara Lift Yang Anjlok

Krakk..

“Mati nih gue bentar lagi..” itu adalah reaksi pertama begitu mendengar bunyi berderak lift di kantor. Lalu lift itu berhenti tidak ada suara, tapi tidak juga bergerak. Angka 2 terlihat membeku pada penunjuk lantai. Jantung saya deg-degan tidak karuan, seperti mau lepas dari rongganya.

Okay, saya termasuk orang yang jarang memakai lift, tapi entah kenapa pagi itu badan terasa malas untuk diajak bergerak sedikit menuju ruangan saya dengan menggunakan tangga seperti hari-hari sebelumnya. Padahal ruangan saya cuma terletak di lantai 3.

Krraaak…trrrrrtttt…

Lift yang tadinya diam, tiba-tiba merosot, anjlok. Sangat cepat.

“Oceh deh, mati beneran nih..:” gumam saya dalam hati, sambil membayangkan, bahwa di lantai paling dasar lift akan jatuh berkeping-keping, bersama tubuh saya.

Tapi saya salah, lift tidak sampai turun ke B2, lantai terdasar yang dimiliki oleh kantor, melainkan menyangkut di lantai 1, lalu susah payah naik lagi dengan bebunyian yang lebih ajaib.

“Ya udah deh, terserah… mati, mati deh..” saya pasrah ketika lift berada dalam posisi nanggung, antara lantai 2 dan 3. Lalu ‘melonjak-lonjak’ seperti hendak terjun bebas.

Pada akhirnya lift berhasil naik lagi dan terbuka dengan sukses di lantai tujuan. Saya segera meloncat keluar melalui celah pintu yang perlahan membuka, tentunya diiringi suara aneh.

“Eh, nggak jadi mati deng…” itu yang saya pikirkan ketika sudah di luar, tidak dalam keadaan mati – bahkan anggota tubuh pun masih lengkap. Sambil senyum-senyum lega, saya berjalan menuju ruangan.

Tuhan kadang-kadang kalau bercanda suka nakutin, deh. Masa main-main picu adrenalin macam itu pagi-pagi sih?

Tapi, Han.. makasih udah ngingetin bahwa saya bisa mati kapan saja, di mana saja, dengan cara apa pun. Tidak ada yang aman dan bisa mencegah kematian. Bahkan Garuda yang pernah diklaim sebagai maskapai penerbangan paling berhati-hati dalam memperhatikan pemeliharaan pesawatnya, kepleset juga.

Selamat Berakhir pekan yang panjang.
Wahai kantor, tolonglah, perbaiki liftnya.

Dan orang Jakarta, please, have mercy on us.. jangan macet-macetin Bandung.:P

27 maart 2007

Tentang Porrrrrrrrno.

Peringatan : Jauhkan anak anda, beri dia kesibukan yang membutuhkan waktu sangat lama, seperti menyelesaikan puzzle 1250 keping atau titipkan pada orang tua [mertua juga boleh, buat apa mereka kalau bukan buat memanjakan cucu,kan? *Halah*] anda dan minta mereka pergi ke Timezone sekitar 2 jam, saat anda membaca tulisan ini. Karena tulisan ini disertai oleh gambar-gambar eksplisit yang mengarah ke pornografi.

Sebenarnya topik pornografi ini sudah sempat dibahas habis-habisan saat masyarakat sedang ribut memperkarakan RUU APP sekitar awal tahun lalu. Dan waktu itu, saya tersesat saat mendefinisikan istilah pornografi sendiri.

Continue reading "Tentang Porrrrrrrrno." »

31 maart 2007

Pelanggan Adalah Raja yang Ngeselin

Setelah bosan dengan Diner Dash 2 : Restaurant Rescue, beberapa hari yang lalu saya mendownload Diner Dash Flo On The Go. Dan hari ini saya bisa mulai memainkan games tersebut karena baru menemukan cracknya [semoga semua dewa memberkati orang-orang yang berhasil ‘menemukan’ crack, sehingga semua game menjadi hratis]. Sayang saya nyangkut di level 20.

Buat yang nggak tau apa dinner dash, ini adalah PC game, tokoh utamanya Flo, sang solo waitress.

Continue reading "Pelanggan Adalah Raja yang Ngeselin" »

14 april 2007

Lalu, Nanti Bagaimana?

Pernah kepikir untuk menangkapi PSK, kemudian mengkhotbahi mereka masalah moral, karena berdasarkan nilai-nilai yang anda anut, profesi PSK itu amoral lalu anda melepas mereka kembali ke jalan dan berharap agar mereka tidak melakukan pekerjaan semula dan menjadi orang baik-baik [lagi-lagi subjektif, berdasarkan nilai-nilai anda]? :D

Ada yang pernah dan saya cuma bisa menatap mereka keheranan sambil berkata dalam hati 'Yaellahh....'

Lupakan mereka, orang-orangnya nggak asik juga kok. Tapi analogi tentang PSK ini tiba-tiba terlintas ketika seorang kawan dalam keisengan kami sore-sore mengeluarkan pertanyaan : ‘Kenapa banyak kerajinan Indonesia yang mati suri? Apa nggak ada lagi yang tertarik untuk melestarikannya?’

Pertanyaan klasik, kalau nggak mau disebut klise sih.

Continue reading "Lalu, Nanti Bagaimana?" »

20 april 2007

Emansipasi? Emang Ada?

Buset, kayaknya saya sudah lama juga nggak memakai istilah emansipasi nih. Habis, gimana ya, istilah itu selalu sukses membuat saya seperti tersedot dengan mesin waktu menuju ke masa-masa SD sampai SMU, duduk di kelas, mendengarkan guru-guru mendoktrin mendongeng tentang RA Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan.

Cuma, berhubung besok tanggal 21 April, yang artinya frekuensi pemakaian istilah 'emansipasi' bakal meningkat, maka sekarang saya tulis dulu, untuk membiasakan diri supaya selama 24 jam besok, ketika mendengar atau membaca istilah ini, saya nggak perlu nyengir-nyengir karena getek [sunda, indonesia : geli]

Okay, emansipasi.. emansipasi...emansipasi.. emansipasi... emansipasi.

Cukup. Mudah-mudahan besok saya biasa-biasa saja ketika mendengar dan/atau membaca istilah ini. :P

Ya wis, kadung nyebut, mending mbahas sisan.

Continue reading "Emansipasi? Emang Ada?" »

25 april 2007

Hoe gaat het met jou,Jo?

Hoi, Hoe gaat het met jou? Apa kabar? Hm, tampaknya koleksi kosa kata dan grammatica bahasa Belanda saya dan Ella semakin memiskin gara-gara nggak pernah latihan. Kalau kamu gimana?

Eh iya, kamu tau nggak, akhirnya les dihentikan di kelas 2, yah biasalah, dengan alasan tunggu sampai yang naik ke kelas 3 berjumlah 10 orang, nanti dihubungi. Sampai sekarang, kami nggak pernah dihubungi. :D Kali peminatnya emang sedikit ya?

Jo, saya masih inget banget, hari pertama kamu masuk kelas, ucluk-ucluk dengan gaya dekil, rambut memerah, kulit terbakar, ransel, t-shirt super gedombrangan dan celana selutut , lalu duduk di antara saya dan Ella. Bagus juga sih, kamu duduk di antara kami, soalnya kalau nggak, kami bakal cekikikan sendiri, ngetawain mimik muka satu sama lain saat pengucapaan beragam kata.

Continue reading "Hoe gaat het met jou,Jo?" »

17 mei 2007

Kekuatan 'Mendengar'

Update postcard project ada di blog postmeacard.blogspot.com

...

Lo harus baca Momo-nya Michael Ende. Jedang Mbak, Jedang. Sender: Obey

Itu adalah secuplik pesan pendek yang dikirimkan oleh Obey, teman saya, istri mantan pemain band hardcore pengusung lagu 'bakterimukaantiagnesmonika' *gusrak*, sekitar sebulan setengah yang lalu.

Secara selera saya dan anak ini cenderung sama, maka besoknya saya langsung berburu, mencari buku yang disebut oleh doski *alah, doski*

Yes, I'm a slow reader, buku itu baru beres kemarin, pembelaan diri saya pada orang banyak adalah : sibuk. Ada teman yang bilang, saya lebih cepat mengetik dibandingkan membaca dan dia, yang kebetulan pernah meminjamkan buku selama setahun [!] memberi solusi, agar semua buku yang saya beli, dibaca sambil diketik ulang, supaya cepat beres.

Continue reading "Kekuatan 'Mendengar'" »

27 mei 2007

Tentang Takdir.

Banyak yang bertanya
aku ini mau jadi apa?
nggak kuliah juga nggak kerja
tapi kujawab inilah aku apa adanya

Saya hanya tersenyum-senyum sendiri melihat pengamen dekil yang tiba-tiba masuk ke dalam warung bubur ayam yang saya sambangi malam itu bersama seorang teman.

Sambil menggelontor tenggorokan dari sisa bubur ayam nikmat dengan teh botolan, saya terus mengamati pengamen yang saya perkirakan usianya masih akhir belasan tahun. Ia tampak asyik menyanyi sambil memainkan gitarnya. Ia membawakan lagu Bebas Merdeka-nya Steven n The Coconut Treez.


Teman yang kebetulan menemani saya tiba-tiba ikut bernyanyi lirih.

tapi jangan kira
aku gak berbuat apa-apa
aku berkarya dengan yang ku bisa
dan yang penting aku bahagia

Continue reading "Tentang Takdir." »

09 juni 2007

Bersinarlah, Brother Shine

"Waktu itu saya masih kuliah, masih menjadi seorang laki-laki yang ingin selalu pergi jauh dari rumah untuk berpetualang, mencari kegilaan." laki-laki tampan berusia tiga puluhan akhir itu membuka ceritanya.

Saya menyandar pada pintu kayu rumah milik seorang pendeta di daerah Pati sambil memegangi perut saya yang agak kekenyangan akibat memamah kodok sexy ini. Ini pasti akan menjadi cerita yang panjang, karena pria ramah ini senang sekali bercerita - dan semua ceritanya tidak pernah membosankan.

Suara teman-teman yang lain terdengar riuh, saling melempar lelucon dalam bahasa Jawa dan saling mentertawakan. Saya sempat terkikik mendengar guyonan salah seorang dari mereka yang rata-rata masih berumur dua puluhan awal. Mereka adalah sekelompok relawan organisasi lokal yang selalu siap sedia untuk turun ke lapangan kapan pun dibutuhkan,

Laki-laki itu menoleh, tersenyum sekilas walaupun saya tahu beliau tidak mengerti dengan bahasa yang dipergunakan teman- teman saya.

Continue reading "Bersinarlah, Brother Shine" »

20 juni 2007

Ibu Tiriku, PostMo Sekali

Pertemuan pertama saya dengannya adalah sekitar tahun 2004.

Waktu itu, dalam rangka mengadakan penelitian kecil-kecilan tentang perilaku ABG, saya membuat sebuah blog yang ngABG banget dengan tone and manner tulisan yang saya buat sedemikian rupa sehingga menyerupai ABG dengan karakter nyolot, sok pinter dan sok tau. Sedangkan dia menjadi pengunjung setia, yang juga setia dalam memberi komentar pada entri demi entri yang saya buat.

Awalnya sih, saya sempat menduga dia adalah salah seorang ABG juga, tapi lama kelamaan kok, ya.. bahasa yang dia pakai dalam menganalisa entri saya sama sekali jauh dari ABG, lebih cenderung ke remako, alias remaja kolot.

Nggak tau mulainya dari mana, tapi pada akhirnya kami saling bertukar surat elektronik dan sempat bercakap di dalam kanal maya Yahoo! Messenger. Terbukalah seluruh identitas palsu kami.

Saya dan dia, ternyata sama-sama remako. Remaja Kolot.

Lalu karena kesibukan, blog ngABG tersebut sempat vakum. Berhubung fans setia blog tersebut [sebentar, saya agak ragu, mereka itu fans, atau justru haters ya, secara entrinya nyolot semua] menuntut terus adanya update, maka saya meminta tolong dia dan junior yang masih kuliah di almamater universitasnya untuk menggantikan, entri demi entri.

Walaupun pada akhirnya blog tersebut saya tutup, karena penelitian kecil saya telah selesai, tapi persahabatan saya dengannya terus berlangsung secara maya.

'Dunia ini sempit' berlaku bagi kami, teman-temannya, ya teman-teman saya juga. Dan ohya, dia sempat menceritakan - eh ralat, memberi clue, tentang mantan pacarnya , seorang penulis kondyaaaang [haha!].

Eh, waktu itu saya merasa tolol, selama beberapa waktu sibuk menebak-nebak sang mantan pacar, padahal novel pertama plus kumpulan cerpen yang bersangkutan pernah saya baca. Daaaan, ternyata berada dalam lingkup pergaulan yang sama *halah pergaulan bo*

Continue reading "Ibu Tiriku, PostMo Sekali" »

29 juni 2007

Siapa Tahu Besok Mati.

Hari Rabu kemarin, dalam perjalanan dari Bandung, menuju kota paling menyebalkan se-Indonesia Raya untuk menghadiri mendadak media gatheringKamulah Satu-satunya’ (yang merupakan adaptasi film berjudul sama) di Brew & Co Cilandak Town Square, sebuah pesan pendek masuk dalam inbox ponsel saya.

Tolong difwd ke temen-temen *****SR94 meninggal dunia tadi pagi sekitar jam8-an karena kecelakaan motor. Semoga yang ditinggal diberi kekuatan dan tabah, amin.

Otomatis saya menekan pilihan forward dan meneruskan pesan tersebut kepada beberapa teman se-almamater. Sebagian besar dari mereka langsung menjawab dan menyatakan keterkejutannya.

Bukan mereka saja yang terkejut, tapi saya juga. Walaupun nggak akrab-akrab amat, tapi selama kuliah dulu saya cukup sering berinteraksi dengan orang yang dimaksud.

Sepanjang perjalanan pikiran saya hanya terpusat pada kejadian ini. Mati muda. Iya, mati muda adalah hal yang sering mengganggu pikiran saya, secara saya selalu ingin mati bergaya, jadi saya sangat takut jika keburu mati sebelum sempat melakukan sesuatu yang 'berarti'.

....

Continue reading "Siapa Tahu Besok Mati." »

01 juli 2007

Mencintai ala Tito

Talkshow 'Kamulah Satu-satunya'

Hari/tanggal : Jumat, 06 Juli 2007
Waktu : Pkl 14.00 - 16.00 WIB
Tempat : Gramedia Paris Van Java, Bandung
Bintang tamu : Hanung Bramantyo, Nirina Zubir

Informasi lebih lanjut lihat di sini

Siang itu saya menemukan Tito sedang berada di bawah salah satu pohon di depan pondok saya. Ia terlihat sangat serius, sampai tidak menyadari bahwa saya sudah berada di belakangnya.

”Kamu ngapain, sih?” Tanya saya. Tito kaget dan menoleh.
”Ini ada anak burung, Mbak. Dia jatuh.” Jawab Tito sambil kembali memusatkan perhatiannya pada si anak burung yang tampak tak berdaya.

Tito mengangkat perlahan dengan tangan mungilnya. Burung itu tampak tidak berdaya.

”Mau kamu apain sih, anak burung itu?” Saya penasaran.
”Mau saya kembaliin ke sarangnya.” Tito menyahut lalu menengadah, menatap dahan-dahan pohon. Saya mengikuti. Namun tidak saya temukan satu pun sarang burung di salah satu dahan. Agak membingungkan memang, jadi jatuh dari mana anak burung tersebut?
”Nggak ada, tuh. Jadi mau digimanain?”
”Kasian ya dia, seharusnya dia sekarang tinggal sama bapak dan ibunya” Tito menghela nafas dan menatap anak burung dalam telapak tangannya dengan iba.

Saya diam, menunggu Tito memutuskan sendiri tindakan apa yang akan dilakukan bocah laki-laki cilik tersebut.

”Kalau saya pelihara burung ini, gimana, Mbak?” Tito mendongak, wajahnya berseri-seri karena baru saja menemukan sebuah ide cemerlang [untuk anak seusianya].

Continue reading "Mencintai ala Tito" »

04 juli 2007

Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya

Saya rasa, semua ibu pasti menganggap anaknya ‘malaikat’, ibu saya juga, padahal saya tuh jauuuuuuuh banget dari gambaran malaikat yang ada di dongeng-dongeng relijius , eyang saya juga menganggap ibu saya malaikat walaupun beliau kerap dipanggil ke sekolah gara-gara ibu saya sering berantem. Mbak Maya juga melabeli setiap entri tentang Mbak Ima dengan : An Angel Called Ima. Belum lagi ibu-ibu lainnya yang malah sampai punya blog sendiri untuk melaporkan senti per senti tumbuhnya putri mereka.

Waktu saya remaja, saya mulai meragukan anggapan ibu bahwa saya malaikatnya. Kenapa? Karena kelihatannya sih ibu membenci saya, atau setidaknya tidak mau melihat saya senang. Ibu saya bawel, semua urusan saya [deu, SMU urusannya apa sih?] dicampuri. Beliau super duper khawatir tentang semua keputusan yang saya buat.

Sampai awal dua puluhan, saya dan ibu sering sekali bertengkar untuk semua hal. Salah satu penyebabnya adalah keinginan untuk menjelajah dan berpetualang. Saya marah, karena merasa ibu tidak menganggap saya bisa menjaga diri sendiri.

Karena sering dilarang-larang dan diomel-omeli, saya jadi jarang minta izin terlebih dahulu jika ingin traveling.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu, pulang hanya untuk memasukkan barang-barang ke dalam carrier dan bilang bahwa saya akan melakukan perjalanan sambil menunjukkan tiket. Beliau ngomel sih, tapi kan… beliau mau ngapain coba? :D

Continue reading "Seorang Veteran Malaikat Badung pada Putrinya" »

13 juli 2007

Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman.

update 18.48 WIB
Talkshow Kamulah Satu-satunya di Makassar.
Sabtu, 14 Juli 2007 jam 19.00 - 21.00
Mall Panakukang, depan Gramedia.
See you there! ;-)

Semua hal dalam hidup itu adalah pilihan, Kamerad!

Kalau saya bilang itu, mungkin terdengar klise ya? Semua orang juga tahu. Kadang-kadang sebal juga, kenapa sih, saya harus memilih? Dari memilih kuliah di jurusan seni rupa, antropologi, psikologi atau teknik arsitektur. Memilih kerja jadi buruh 9 to 5, dosen atau freelancer, Memilih handphone dengan pertimbangan fungsi atau bergaya belaka, bahkan sampai perkara makan apa hari ini pun harus memilih [warteg dekat kantor? bakso malang mandeep? Atau, gimana kalau bekal dari rumah?]

Memilih itu ribet. Beruntunglah orang yang mampu memilih. Bahkan, walaupun misuh-misuh dan menyumpahi teman saya [teman? bukan deng, hanya kebetulan kenal] yang menganggap bahwa hidup manusia itu sudah punya template yang seragam, tapi saya masih tetap menganggapnya 'lebih beruntung', karena.. yah, ia telah memilih.

Memilih itu menjadi tidak lebih mudah karena adanya lingkungan sosial yang tidak mendukung. Siapa bilang peer[social]-pressure itu berlaku cuma untuk ABG? Nggak, hal ini berlaku juga buat orang-orang yang sedang berjuang untuk mencari tahu apa yang dimau sebelum benar-benar memilih. Di tengah jalannya proses mencari [atau kadang-kadang nyaris yakin] apa yang dimau, selalu ada saja orang-orang hal-hal yang bisa membuat kita saya jadi ragu-ragu.

Waktu SMU saya ingin masuk sekolah yang berhubungan dengan keseni-rupaan karena minat saya memang berhubungan dengan itu. Tapi ada saja orang yang mempertanyakan : 'Ntar kerjanya apa?' atau malah menasehati, "Daripada masuk Seni Rupa mendingan masuk jurusan teknik, hukum, ekonomi atau sastra". Sempat lho, di kelas II SMU, saya menukar jurusan yang saya cita-citakan menjadi : kedokteran atau kedokteran gigi [lho?]. Untung saya insyaf dan sadar minat. :)

Continue reading "Perkara Memilih & Kemenangan Hati Seorang Teman." »

18 juli 2007

[Nggak Mau] Meninggal Mendadak.

“Eh, Mbak, aku udah bilang belum kita pulangnya naik apa?"
"Naik apa?"
"Adam Air."
"HAH? Serius lo? Mati deh kita…"

Itu adalah secuplik percakapan sebelum saya dan Alit, salah satu editor Gagas Media yang mungil, check in di bandara Soekarno Hatta, Sabtu [14/07/07] kemarin. Ih, sumpah deh, saya langsung ketar-ketir nggak jelas mendengar kabar itu.

Gimana nggak, gara-gara peristiwa kecelakaan pesawat beberapa waktu yang lalu, saya sempat berikrar, kalau 'terpaksa' terbang, tidak akan sekali pun menggunakan layanan terbang maskapai penerbangan Adam Air maupun Lion Air. Lha, ini dapetnya kok Adam Air. Duuh, males nggak sih?

Okay, silahkan ketawa, tapi hal pertama yang terpikir oleh saya adalah : saya nggak mau mati karena kecelakaan pesawat!

Ehm, sebenarnya bukan nggak mau mati karena kecelakaan pesawat doang sih, tapi juga kecelakaan-kecelakaan lain, penyakit atau malah bunuh diri. Pokoknya saya nggak mau merasakan sakit meregang nyawa saat ajal menjelang *tsaaah*. Teman-teman saya tau banget ini, karena dalam banyak sesi mengobrol dan membahas tentang kematian, saya selalu bilang ingin mati dalam keadaan tidur lelap dan dalam keadaan sebelumnya yang baik-baik saja. :)

...

Continue reading "[Nggak Mau] Meninggal Mendadak." »

21 juli 2007

Kabhi Alvida Naa Kehna*

*Kata Mbak Maya artinya : .. never say goodbye, say till we meet again

Dalam salah satu episode Oprah Show yang kalau tidak salah temanya mengenai perkawinan antar ras, ada sepasang suami bule dan istri negro yang menceritakan salah satu pengalaman unik yang berkaitan dengan perbedaan kebudayaan antar keduanya. Keluarga sang istri memiliki kebiasaan memakai baju berwarna-warna cerah jika menghadiri pemakaman. Katanya sih, kematian itu justru harus dirayakan dengan gembira, karena si mati mendapat kesempatan untuk pergi ke tempat yang lebih baik - yah, ibaratnya merayakan naik pangkatnya seseorang di sebuah perusahaan. Ketika disinggung soal duka karena merasa kehilangan, sang istri malah bilang kurang lebih : 'ah ntar juga ketemu lagi...'

Sebagai orang yang senang membahas perkara kematian..

dan, fyi, bukan hanya soal mati 'alamiah' saja.lho. Saya sempat tergila-gila mikirin soal bunuh diri segala. Ternyata ya bo, selama ini anggapan saya salah tentang bunuh diri dengan cara yang nggak sakit, saya pikir minum baygon obat serangga adalah cara yang lumayan, karena nggak pake berdarah-darah atau sesak nafas. Tapi menurut teman saya yang [waktu itu] calon dokter, bunuh diri dengan cara itu justru sakit, karena kita masih hidup saat bagian-bagian tubuh kita dirusak oleh zat kimia yang terkandung dalam obat serangga tersebut. Malah bu dokter itu bilang, kalau mau bunuh diri, mending nembak diri dengan pistol menghadap langit-langit mulut, dijamin langsung mati dengan otak bercipratan di tembok -- dengan catatan langsung mati ya. Kebayang kalau ternyata nggak langsung mati. *halah*

Eh sampai mana tadi?

Continue reading "Kabhi Alvida Naa Kehna*" »

28 oktober 2007

Cemburu

Dear sayang,
Waktu kemarin saya tidak sms kamu hanya dengan jawaban-jawaban pendek, saya tidak sedang sibuk kok. Saya sedang menghadiahi diri sendiri dengan bersantai di pantai seharian, berenang, tidur, memerhatikan keluarga-keluarga dan para lovers menghabiskan weekend mereka dengan bercengkrama di pantai. Saya sendirian, berbekal biskuit dan air mineral satu botol. Sekarang seluruh kulit saya perih karena terbakar, tapi tidak apa-apa, paling terkelupas.

Sayang, sorry ya karena sengaja tidak mau terlalu sering berhubungan dengan kamu seharian, tapi saya merasa butuh untuk rileks seperti kemarin, terlalu banyak hal yang belakangan ini bikin saya nyaris kehilangan kewarasan; homesick, masa depan, my own life safety, tentang hidup, dan kamu.

Iya kamu.

Continue reading "Cemburu" »

03 december 2007

Katanya "Feto Labele Fuma!"

Feto labele fuma. (perempuan tidak boleh merokok)” Cetus Thomas Ximenes semalam saat saya sudah nyaris juling gara-gara editan newsletter kantor .
Tambasa? (kenapa?)” Tanya saya.
La diak… (tidak baik)”
Feto labele fuma, mais, Mane bele, kah? (perempuan tidak boleh merokok, tapi pria boleh kah?)” Tanya saya iseng.

Ia menjawab dengan cerocosan dalam bahasa ibunya, sampai saya terpaksa berkata,” Hey, para! Keta koalia lalais, hau la kompriende. (Jangan cepat-cepat, saya nggak ngerti.)”. Rupanya ia lupa bahwa saya malae (orang asing) yang baru bisa berbahasa Tetun ituan-ituan deit (sedikit-sedikit saja).

Dan ia pun menghela nafas, lalu tampak berpikir sejenak. Saya menunggu. Dengan terbata-bata, laki-laki berkulit hitam mlengseng berusia sembilan belas tahun ini berkata dalam bahasa Indonesia, bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan.

Nanti jantung rusak. Nanti sakit paru-paru. Dan ia menyebutkan semua penyakit yang bisa menimpa saya, jika saya terus merokok.

Walaupun ia berkilah, laki-laki masih boleh merokok, karena secara fisik lebih kuat, tapi sungguh saya merasa tersentuh ‘dinasehati’ oleh remaja macam dia.

Sungguh, bisa berada dekat dengan dia dan teman-temannya, adalah sebuah keajaiban.

Tidak pernah kebayang sebelumnya, bisa mengobrol panjang lebar dengan bahasa campur-campur dengan mereka. Bisa membantu mereka belajar. Bisa mendengarkan curhat mereka tentang keluarga masing-masing. Bisa menceritakan tentang keadaan di Jawa. Bisa tertawa-tawa geli bersama saat saya salah bicara, sehingga menimbulkan konteks yang berbeda. Bisa melihat mereka yang cengar-cengir sebal ketika sedang bersemangat bercerita bagian terlucu film Warkop DKI atau bagian terseram film horror Indonesia masa kini favorit mereka dalam bahasa Indonesia tiba-tiba mereka lupa satu kata dalam bahasa Indonesia, sehingga ke’seru’an cerita mereka terpotong dan saya tidak tertawa maupun merasa seram sama sekali. Bisa memegang tangan mereka saat mengobati luka entah kenapa atau membalurkan mina (minyak) pada tato baru mereka.

Semua itu keajaiban.

Continue reading "Katanya "Feto Labele Fuma!"" »

11 januari 2008

Kambing Berlipstik saja Bisa dilecehkan

Pelecehan seksual. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis entri tentang hal ini, keterbatasan koneksi internet di Dilli membuat saya menundanya; dan seperti biasa, kalau sudah ditunda, blas.. lupa.

Cuma gara-gara kemarin siang, seorang teman menelepon dengan suara bergetar karena emosi, saya jadi teringat lagi.

Si teman ini baru saja mengalami pelecehan seksual, bentuknya entah seperti apa, ia tidak mau cerita.

Setelah agak tenang, ia mulai berkeluh kesah, berkata bahwa ia merasa dirinya sangat nista serta kotor. Beberapa kali saya berusaha meyakinkan, bahwa ketika ia dilecehkan, itu bukan salahnya, tapi ia tetap kekeuh pada pikirannya sendiri : ada yang salah dengan dirinya, sampai ia dilecehkan.

Alasannya sih, keberadaan hukum sebab-akibat, ada sebab dan ada akibatnya. Pelecehan seksual adalah akibat yang dia alami, tapi entah kenapa ia bersikeras bahwa penyebabnya adalah dirinya.

….

Sebelum saya memutuskan untuk ‘hidup di jalan’, seseorang – perempuan – pernah memberi nasehat pada saya untuk berhati-hati dalam berpakaian dan bertindak, karena perempuan di jalan, terutama di tempat yang budayanya berbeda, sangat rentan untuk dilecehkan secara seksual. Rupanya ia cukup kuatir dengan opini saya, bahwa : satu - terserah perempuan mau bersikap, berpikir dan berpakaian seperti apa; tidak ada yang salah dengan itu.

Saat dinasehati seperti itu saya cuma tertawa sambil bilang untuk menenangkan : “Iyaaa..iyaaa, gue bakal ati-ati dan nggak seenaknya.” – ya iyalah, saya kan nggak tolol-tolol amat, memakai –let’s say- bikini, tanktop atau hotpants turun ke desa. Bisa-bisa terjadi huru-hara itu dan secara* kemana-mana seringnya saya memakai truk, dengan pakaian tersebut tentunya saya bisa masuk angin. :P

Continue reading "Kambing Berlipstik saja Bisa dilecehkan" »

28 januari 2008

Kalau saja saya menjadi seorang Ayah.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri yang berumur 7 tahun dan sangat bolot dalam bidang hitung-hitungan, mungkin saya akan frustasi dan putus asa ketika putri saya nggak ngerti-ngerti juga bahwa ¾ ditambah 1/3 bukanlah 4/7.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri yang berumur sebelas tahun dan sangat menggilai novel asrama Enid Blyton, mungkin saya akan kecewa ketika mendapati sang putri, alih-alih menyambut kepulangan saya dari luar kota, malah sibuk membongkar tas plastik toko buku yang saya bawa.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri berumur lima belas tahun, masih bloon tapi ingin sekolah di kota, jauh dari orang tua, pasti saya akan merasa sangat khawatir dan tidak akan melepaskannya.

Kalau saya menjadi seorang ayah dari putri yang berumur tujuh belas tahun, baru lulus SMU, mengikuti UMPTN dengan tidak niat : tidak belajar dan tidur selama ujian, pastilah saya akan kecewa karena putri saya membuang-buang uang untuk membeli formulir pendaftaran – dan menyia-nyiakan kesempatan masuk jurusan teknik arsitektur, teknik lingkungan atau psikologi di universitas-universitas negeri kondyang nusantara (sementara di luaran sana, banyak yang ingin!)

Continue reading "Kalau saja saya menjadi seorang Ayah." »

18 februari 2008

Dijual : Sertifikat dan Ijazah.

Akhirnya, selesai juga seluruh materi yang harus diajarkan di salah satu kursus yang diadakan bekerja sama dengan LSM lokal di salah satu perpustakaan di Dili. Tes akhir diadakan pada minggu ke-dua bulan Februari 2008. Ada 12 orang yang ikut, menyusut dari jumlah awal murid yang seharusnya 20 orang.

Seluruh materi dalam tes sudah pernah diajarkan pada pertemuan regular seminggu tiga kali kursus di kelas. Tapi ternyata masih ada yang tidak bisa menjawab dengan benar. Saya sedikit kecewa juga. Ketika saya periksa, ada delapan orang lulus, sisanya tidak. Rasanya nggak enak, kalau bisa sih, saya luluskan semuanya. Tapi mau gimana lagi? Ini adalah hasil tes yang sesungguhnya, sesuai dengan kehadiran, kemauan belajar dan persiapan sebelum tes. Untuk yang tidak lulus, ya nggak bisa diapa-apain lagi, dinaik-naikin juga tetap nggak bisa melewati batas minimal kelulusan. Ya sutrah, apa boleh buat, artinya mereka harus mengulang di level yang sama. Hitung-hitung pendalaman lah.

Eh jadi ingat, zaman kuliah, kalau saya tidak lulus satu mata kuliah, dan harus mengulang, saya tidak pernah bilang ‘Iya nih, gue dapat D buat Kewiraan, harus ngulang’, tapi saya bilang ‘Iya nih, gue dapat D buat kewiraan, harus mendalami’. Dan pssst…beneran, saya memang nggak lulus Kewiraan. Haha. Ngomong-ngomong mata kuliah yang judulnya : Kewiraan masih ada nggak sih?

Continue reading "Dijual : Sertifikat dan Ijazah." »

17 maart 2008

Ancaman Lapan Puluhan.

Sebenarnya ancaman bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang supaya tidak ditinggal oleh pacar adalah trik basi delapan puluhan. Tapi, kok masih ada saja yang pakai trik itu ya?

Betapa tidak mengikuti perkembangan zamannya orang-orang macam itu. Boleh jadi itu trik yang sangat brilian nan spektakuler pada masa Bapak Rano Karno, Ibu Yessy Gusman, Tante Yenny Rahman atau Oom Roy Marten masih pantas memakai seragam putih abu. Tapi, ini sekarang, tahun 2008, di mana para aktor dan aktris tahun jebod itu sudah terlalu tambun dan bergelambir untuk memakai seragam SMU.

Anyway, seorang teman baru mengirimkan pesan pendek dan bilang bahwa ia batal putus (lagi!) dengan pacarnya, karena sang pacar bilang, ia tidak bisa hidup tanpa teman saya – lebih baik mati jika harus putus.

Ini terjadi berulang-ulang - sampai bosan mendengarnya. Padahal teman saya ini jelas-jelas bilang bahwa ia sudah tidak tahan dengan sikap pacarnya yang obsesif dan cemburuan. Ada hari-hari di mana teman saya terlihat depresi.

Continue reading "Ancaman Lapan Puluhan." »

10 april 2008

Dear Pembunuh Mimpi,

Saya masih ingat benar lho, kata-kata anda sekitar setahun setengah yang lalu ketika saya menceritakan tentang mimpi-mimpi saya untuk masa depan.

“Mimpi lo muluk banget sih?” Itu kata anda dengan gesture yang melecehkan, seolah berkata ‘konyol banget sih bermimpi seperti itu?’

Saya beneran nggak nyangka kata-kata itu keluar dari bibir anda. Padahal, kalau ditilik dari umur yang sudah kepala empat, seharusnya anda sudah menjadi sosok berpengalaman yang bijak bestari. *alah bestari!*

Anda tahu, kalimat anda benar-benar menusuk jantung.

Jleb.

Nggak tau rasanya?

Begini, coba bayangkan, apa yang anak anda rasakan kalau misalnya saya bilang “Kamu nggak mungkin dapat beasiswa yang kamu impikan!” padahal ia sedang mengikuti dalam proses seleksi beasiswa tersebut. Nyakitin kan?

Anda itu kenapa sih? Memangnya anda tidak pernah memiliki mimpi?

Apa? Tidak pernah?

Nggak mungkin.

Coba ingat-ingat lagi.

Waktu kecil mungkin?