<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
   <title>blog.sepatumerah.net</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/" />
   <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://blog.sepatumerah.net/atom.xml" />
   <id>tag:,2008:/5</id>
   <updated>2008-05-16T05:40:23Z</updated>
   
   <generator uri="http://www.sixapart.com/movabletype/">Movable Type 3.31</generator>

<entry>
   <title>Usaha Sampingan Selebriti</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/05/usaha_sampingan_selebriti.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.112</id>
   
   <published>2008-05-14T01:37:23Z</published>
   <updated>2008-05-16T05:40:23Z</updated>
   
   <summary> update : Sing Suer ini bukan hasil sentuh ulang (retouch) photoshop, makanan kecil kaya MSG ini saya temukan di kios Mama Bot (Mama = Ibu, Bot = besar, secara harafiah penjualnya emang guedeeee banget, masuk pintu kiosnya aja ribet...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/jikustik.jpg">

update :
<i>Sing Suer</i> ini bukan hasil sentuh ulang (<i>retouch</i>) photoshop, makanan kecil kaya MSG ini saya temukan di kios Mama Bot (Mama = Ibu, Bot = besar, secara harafiah penjualnya emang guedeeee banget, masuk pintu kiosnya aja ribet kali..) depan rumah, harganya 10 sen, ada dua rasa, Keju dan Coklat. Produk dari Cirebon tuh...

om sony, kalau mau ambil boleh kok :))
]]>
      
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>APAKAH ANDA TERLALU PEMALU?</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/05/apakah_anda_terlalu_pemalu.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.111</id>
   
   <published>2008-05-09T06:24:06Z</published>
   <updated>2008-05-09T06:34:48Z</updated>
   
   <summary>…sampai-sampai menanyakan nomor telepon orang yang anda sukai saja anda tidak berani? Gunakanlah t-shirt ini! Berhubung saya nggak terlalu pemalu, maka saya nggak beli t-shirt yang saya temukan di pasar barang bekas Suai (Distrik Cova Lima, Timor Leste) ini. Eh,...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[…sampai-sampai menanyakan nomor telepon orang yang anda sukai saja anda tidak berani?

Gunakanlah <em>t-shirt </em>ini!

<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/canihaveyours.jpg"></div>

Berhubung saya <em>nggak </em>terlalu pemalu, maka saya nggak beli <em>t-shirt </em>yang saya temukan di pasar barang bekas Suai (Distrik Cova Lima, Timor Leste) ini.

Eh, <em>Ngomong-ngomong</em> soal <em>line </em><em>gombal-gombalan</em>, ada satu <em>line </em>yang jadi andalan kalau saya sedang ingin menggombali orang yang sedang di<em>kecengi </em> (ih, istilah di'keceng' itu aneh banget sih bunyinya?) : ]]>
      <![CDATA[<div align="center">I am going to sue your for stealing my heart!</div>

Sampai, yang terakhir…

Saya berhasil membuat seseorang  terkesan *halah* dan <em>speechless </em>dengan gombalan ‘desain interior’

Gue 	:	Lo kuliah dulu jurusan apa sih?
Dia	:	Jurusan *****
Gue	:	Lah, gue pikir jurusan desain interior.
Dia	:	Kok?
Gue	:	Soalnya ruangan terasa indah kalau ada lo!
Dia	:	Anjiiis. 

*lalu terdiam lama*

=))

]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>IBU</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/04/ibu_1.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.110</id>
   
   <published>2008-04-25T23:00:00Z</published>
   <updated>2008-04-25T23:18:33Z</updated>
   
   <summary>ibu /n/ Perempuan yang –waktu saya kecil- selalu tega tidak pernah memberikan mainan yang saya mau dengan mudahnya, sebelum melihat usaha saya menabung. Perempuan yang –waktu saya kecil- menolak untuk memberikan reward berupa uang, mungkin karena tidak mau ketika saya...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<strong>ibu  /n/ </strong>

Perempuan yang –waktu saya kecil- selalu tega tidak pernah memberikan mainan yang saya mau dengan mudahnya, sebelum melihat usaha saya menabung. 

Perempuan yang –waktu saya kecil- menolak untuk memberikan <em>reward </em>berupa uang, mungkin karena tidak mau ketika saya besar menjadi orang yang money oriented.

Perempuan yang –waktu saya kecil- dengan mudahnya membelikan saya buku atau mengikut sertakan saya ke kursus-kursus yang saya inginkan.

Perempuan yang senang bersih-bersih, sampai-sampai saya harus ‘menyelamatkan’ <em>tshirt </em>butut nan nyaman, karena kalau tidak tshirt tersebut akan digunting untuk dijadikan lap meja.

Perempuan yang nggak suka masak harian karena gerah dan ribet, tapi senang mencoba resep-resep baru

Perempuan yang selalu mengingatkan untuk menyisihkan perpuluhan setiap saya mendapatkan penghasilan.

Perempuan yang jago menabung, kata adik saya – jangan pernah menitipkan uang tabungan pada beliau, karena beliau itu seperti bubu atau jebakan ikan, uang gampang masuk tapi susah keluar. (‘Buat beli apa?’, ‘Jangan boros.’, ‘Tabung dulu.’, ‘Emang beli itu penting?’) – tapi saya tidak belajar dari ‘kesalahan’ dan tetap menitipkan buku tabungan dan segala dokumen penting padanya. (karena somehow saya tidak percaya akan kemampuan saya menahan nafsu kedagingan buang-buang uang *haha!*)

]]>
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/okkenmom.jpg" div align="left">Perempuan yang akhir-akhir ini selalu ingin membelikan sesuatu buat saya. Seingat saya dulu, setelah punya penghasilan sendiri beliau bilang :’nggak akan men<em>support</em> apa pun secara finansial dan nggak akan ngasih apa pun.’, tapi entah kenapa, belakangan ini jadi sering ingin membelikan benda-benda <em>(‘Kamu mau sepatu? Pilih deh.’, ‘Kamu mau baju? Pilih deh.’, ‘Pulsa kamu abis ya? Saya beliin deh.’, ‘Kamu nggak pengen makan ini? Mamah traktir deh.</em>’)

Protestan sejati, alias suka protes. Selain itu ‘agak’ galak, suka <em>nyela </em>dan mengomel (diturunkan genetik pada saya – jadi jangan salahkan saya,ya.)

Perempuan yang kalau sangat marah atau kecewa, memilih untuk diam, mengkomunikasikan penyebab kemarahannya atau kekecewaannya melalui surat personal, lalu pergi jalan-jalan. (Berapa kali saya dapat surat? Hm, seumur hidup sampai sekarang empat kali. Jadi penasaran, adik saya berapa kali ya? Bapak saya berapa kali ya?)

Pembaca setia semua novel saya. Dan kritikus sejati (‘<em>Yang ini ceritanya basi gini sih?’, ‘Yang ini si tokoh ininya kok gini sih?’, ‘Ih kamu bisa nulis juga ya ternyata. Belajar di mana sih?’</em> dan seterusnya). 

Perempuan yang selalu memberi saya hadiah atau oleh-oleh berupa kalung unik yang beliau suka. Kenapa? Supaya beliau bisa ikut memakai juga (Hm, karena saya <em>fast learner</em>, saya juga melakukan apa yang diteladani oleh beliau, membeli kalung unik yang saya suka, supaya bisa ikut pakai)

Perempuan penyuka segala warna. Dan selalu heran melihat pilihan warna saya yang dari masa ke masa selalu merah,hitam,putih dan abu-abu <em>thok</em>.

Perempuan yang tidak pernah berkomentar tentang teman-teman kencan saya, suka atau tidak suka beliau dengan mereka. (Saya baru tahu beliau suka atau tidak justru setelah saya berhenti berkencan. Kalau tidak suka, maka beliau bilang : ‘<em>Putus sama si X? Akhirnya!’ </em>bahkan pernah dengan ekstrimnya beliau bilang<em> ‘Haleluyaaa!’</em>)

Perempuan yang sangat kuat dan tabah walau dalam keadaan sakit, bayangkan sehari setelah operasi angkat rahim, beliau sudah jalan ke kamar mandi sendiri. Sedangkan saya, operasi usus buntu bawaannya aduh-aduhan melulu selama dua hari.

Perempuan yang sebal jika saya <em>mehe-mehe </em>kalau sedang sakit (‘memangnya kalau mehe-mehe sembuh? Minum obat! Istirahat atau ke dokter’ – tapi teteub ya, dibawain bubur, dikompres kalau panas atau diantar ke dokter kalau terlalu lemah buat keluar rumah. Doh, padahal kan <em>mehe-mehe </em>pas sakit tuh enak banget ya?)

Teman jalan-jalan, tapi nggak pernah sabar jika saya ‘nyangkut’ di satu tempat yang menjual benda menarik.

Perempuan yang tidak suka disupiri oleh saya. Beliau lebih memilih naik taksi atau angkot. Kadang-kadang saya merasa terhina, tapi biarlah.Hehe.

Perempuan yang selalu melarang saya melakukan keputusan yang <em>nyeleneh</em>, namun pada akhirnya setuju – setelah dirayu-rayu pagi siang malam, tapi terutama setelah beliau mengetahui bahwa keputusan <em>nyeleneh </em>itu membuat saya bahagia. 

Perempuan yang selalu menuntut tanggung jawab atas semua keputusan yang saya buat. <em>(‘Setiap keputusan nggak boleh ngerugiin orang lain dan diri sendiri’, ‘Melakukan semua hal harus maksimal, nggak boleh nanggung!’</em>)

Perempuan yang berjiwa sosial tinggi, saya banyak belajar dari beliau tentang keperdulian terhadap sesama, walaupun pada akhirnya bentuk perwujudannya berbeda.

Seorang perempuan yang selalu membuat saya merasa nyaman menjadi diri sendiri. 

Perempuan yang saya tahu tidak pernah melewatkan saya dalam doanya.

<strong>HAPPY BIRTHDAY MAMA! 
I LOVE YOU!</strong>

]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Perbincangan Imajiner</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/04/perbincangan_imajiner.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.108</id>
   
   <published>2008-04-18T07:04:38Z</published>
   <updated>2008-04-18T07:13:51Z</updated>
   
   <summary> “Kak, kenapa kebenaran itu harus dicari?” “Soalnya dunia itu panggung sandiwara, dik.” “Ohh, jadi semua orang berakting,ya Kak?” “Iya.” “Pasti nyari kebenaran tuh susah banget…” “Kenapa kamu bilang gitu, Dik?” “Ya liat aja, orang ini sampe mati nyari kebenaran…”...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="project kaki" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/Maret202008-081.jpg"></div>

“Kak, kenapa kebenaran itu harus dicari?”
“Soalnya dunia itu panggung sandiwara, dik.”
“Ohh, jadi semua orang berakting,ya Kak?”
“Iya.”
“Pasti nyari kebenaran tuh susah banget…”
“Kenapa kamu bilang gitu, Dik?”
“Ya liat aja, orang ini sampe mati nyari kebenaran…”

Sebuah perbincangan imajiner yang selalu muncul di kepala setiap melihat monumen depan gang rumah ini.

]]>
      <![CDATA[Kalau tulisannya tidak terbaca

<em>IN MEMORIAM
<a href="http://findarticles.com/p/articles/mi_m0WDQ/is_2002_March_11/ai_84336114">Sander Robert Thoenes</a>
Journalist
7.11.1968 – 21.9.1999
Murdered in search of the truth
Mate houdi buka lia los.</em>]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Dear Pembunuh Mimpi,</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/04/dear_pembunuh_mimpi.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.107</id>
   
   <published>2008-04-10T03:12:01Z</published>
   <updated>2008-04-10T03:17:45Z</updated>
   
   <summary>Saya masih ingat benar lho, kata-kata anda sekitar setahun setengah yang lalu ketika saya menceritakan tentang mimpi-mimpi saya untuk masa depan. “Mimpi lo muluk banget sih?” Itu kata anda dengan gesture yang melecehkan, seolah berkata ‘konyol banget sih bermimpi seperti...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[Saya masih ingat benar lho, kata-kata anda sekitar setahun setengah yang lalu ketika saya menceritakan tentang mimpi-mimpi saya untuk masa depan.

“Mimpi lo muluk banget sih?” Itu kata anda dengan <em>gesture </em>yang melecehkan, seolah berkata ‘konyol banget sih bermimpi seperti itu?’

Saya beneran nggak nyangka kata-kata itu keluar dari bibir anda. Padahal, kalau ditilik dari umur yang sudah kepala empat, seharusnya anda sudah menjadi sosok berpengalaman yang bijak bestari. *alah bestari!*

Anda tahu, kalimat anda benar-benar menusuk jantung.

Jleb. 

Nggak tau rasanya? 

Begini, coba bayangkan, apa yang anak anda rasakan kalau misalnya saya bilang “Kamu nggak mungkin dapat beasiswa yang kamu impikan!” padahal ia sedang mengikuti dalam proses seleksi beasiswa tersebut. Nyakitin kan?

Anda itu kenapa sih? Memangnya anda tidak pernah memiliki mimpi?

Apa? Tidak pernah?

Nggak mungkin. 

Coba ingat-ingat lagi. 

Waktu kecil mungkin? 
]]>
      <![CDATA[Pasti waktu kecil ada, karena umumnya anak kecil itu masih mempunyai banyak mimpi. Saya saja punya, banyak sekali. Yang paling saya ingat adalah saya sempat ingin jadi tukang parkir, karena seragamnya oranye dan hanya dengan bilang ‘terus-terus, yak, stop!’ bisa mendapat uang. Lalu saya juga sempat bermimpi menjadi dokter (standar ya? Biarlah, kayaknya hampir semua anak kecil menuliskan dokter, selain guru, pilot, polisi dan ABRI di kolom cita-cita buku kenangan).

Iya sih, ketika dewasa, banyak sekali mimpi-mimpi yang tereliminasi karena seleksi minat (saya malas menjadi dokter,  karena di SMU saya masuk ke jurusan A2-biologi, dan cuma tertarik pada hukum Mendell, sisanya tidak.).

Memiliki mimpi itu nikmat. Sumpah deh! Saya belajar hal ini dari (jangan tertawa ya) sebuah MLM. Dari sejuta aktivitas yang mereka lakukan, seperti presentasi dan pertemuan-pertemuan rutin, hanya satu dari yang membuat saya terkesan, yaitu merancang ‘<em>dream chart’</em>, memikirkan apa yang benar-benar diinginkan, mencari gambar yang sesuai dengan mimpi itu, lalu menempelnya di tempat-tempat yang sering terlihat. 

Bagi sebagian besar orang itu aneh, tapi bagi saya, hal ini cool. Walaupun kemudian saya tidak berminat untuk lebih jauh menjadi bagian dari MLM tersebut, tapi saya belajar bahwa mimpi adalah energi untuk berusaha dalam hidup. Bagi para <em>downliner</em>, gambar-gambar yang memuat mimpi-mimpi mereka jadi semacam obat kuat, sehingga mereka tetap bersemangat dan berenergi dalam melakukan aktivitas mereka, untuk mencapai tujuan tersebut. Banyak dari mereka, yang kekeuh jumekeuh, akhirnya benar-benar berhasil mendapatkan tepat seperti yang ada dalam <em>dream chart </em>mereka (bahkan lebih!)

Oh ya, oh ya, mungkin contoh MLM ini nggak kena bagi anda, karena seingat saya, anda anti dengan aktivitas MLM, sampai-sampai anda tidak bisa melihat sisi positif dari memiliki mimpi. Kata anda, aktivitas seperti ini ‘menjual mimpi muluk yang tidak teraih.’

Atau ini deh, contoh sederhananya, saya pernah sangat ingin memiliki sebuah boneka Barbie yang harganya sangat mahal (bagi saya masa itu). Berhubung ibu saya adalah Ibu-tegaan-sedunia, beliau tidak serta merta memberikan apa yang saya inginkan, beliau ingin agar saya berusaha, menabung. Maka menabunglah saya setiap hari, dan setiap akhir minggu selalu memeriksa celengan – kalau belum cukup, saya minta diantarkan ke toko yang menjual barang yang saya mau, hanya sekedar untuk melihat dan menyentuhnya. 

Walaupun pada akhirnya, setelah sekian lama, jumlah tabungan saya tidak beranjak dari seperempat harga boneka Barbie impian – sampai-sampai Ibu saya iba, dan menambah menambahkan uang agar cukup, tapi berkat mimpi memiliki Barbie tersebut, hidup saya jadi bergairah karena penuh dengan perjuangan, menyisihkan uang jajan saya yang hanya Rp 200 di masa itu.

Dan satu lagi, pernah dengar cerita Marthin Luther King Jr? Dia punya mimpi yang mungkin bagi sebagian besar orang masa itu disebut ‘muluk’ dan ‘<em>too good to be true’ </em>(atau kalimat sejenis, seperti yang pernah anda sebutkan,lah!). Walaupun pada akhirnya dia mati karena memperjuangkan mimpinya, tapi perjuangan King membawa (sedikit) perubahan.

Semuanya membuat saya belajar dan sangat tidak percaya jika ada orang yang bilang bahwa mewujudkan mimpi adalah sebuah mission impossible.Tidak ada yang tidak mungkin dalam meraih mimpi, yang ada kerja keras.

Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, kenapa ya, anda itu begitu antipati terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘mimpi’. Tidak percayakah anda pada mimpi? Kekuatan mimpi untuk menjadi energi hidup? Kenapa anda memilih sikap untuk menjadi pembunuh mimpi?

Bahaya lho, membunuh mimpi orang. Bayangin, salah seorang murid saya di sini pernah bilang dia tidak punya mimpi.

“Cita-cita kamu apa?” itu adalah pertanyaan yang saya ajukan pada salah satu sesi (semacam) interview pada calon-calon murid saya. Perempuan berusia belasan tahun itu terdiam, terlihat berpikir keras. Selama beberapa lama, ia bertahan dalam posisi demikian.

“Okay, hobi kamu apa?” Tanya saya.
“Mmm, menyanyi.” Serunya yakin.
“Apakah kamu nggak ingin jadi penyanyi?” Tanya saya.
“Mmm.. itu juga boleh.” Jawabnya tanpa semangat.

Saya berpikir lagi. Mungkin menjadi penyanyi bukan mimpinya, walaupun ia hobi menyanyi. Yah, seperti saya, yang senang menggambar dan melukis, tapi tidak pernah menetapkan bahwa saya bermimpi menjadi pelukis (apalagi setelah masuk sebuah kampus yang kebanyakan mahasiswanya sangat berbakat dalam urusan ini dan tentunya sering membuat saya minder.)

“Punya hobi yang lain?” Tanya saya.
“Main volley.”
“Mmm…” hampir saja saya memojokkannya dengan pertanyaan,”Kenapa nggak jadi pemain volley profesional saja?”. Untung tidak jadi, karena saya tahu pertanyaan itu sama bodohnya dengan pertanyaan sebelumnya ; ‘Apa kamu nggak ingin jadi penyanyi?’.
“Kenapa, Bu?” tanyanya.
“Lae da. (Nggak apa-apa/nggak jadi)” Saya menggeleng sambil tersenyum,

Kami bertatapan seper-entah-berapa kian detik.

“Saya tidak tahu nanti mau jadi apa.” Jawabnya. Dan lirih suara remaja tersebut benar-benar membuat saya terhenyak. 

Anda tahu kenapa sampai ia tidak punya mimpi?

“Soalnya percuma Bu, kalau punya mimpi ini itu, di sini kan tidak banyak fasilitas buat mengembangkan kemampuan, orang-orang bilang, saya harus realistis….” Itu katanya.

Saya hanya bisa menatap nanar punggung remaja putri yang keluar dari ruang kelas, memanggil teman yang mendapat giliran selanjutnya.

Lihat kan? Kata-kata itu benar-benar membunuh hidup seseorang.

Berbeda dengan murid selanjutnya, ketika saya bertanya : “Cita-cita kamu apa?” 

Dia menjawab dengan lugas dan mantap,  “Cita-cita saya : bisa kuliah. Di jurusan pertanian” 

“Kenapa?” Tanya saya.
“Biar bisa bantu bapa saya memperbaiki cara bertani dan berkebun.”
“Lalu, bagaimana cara kamu meraih mimpi kamu itu?”
“Cari beasiswa, bagus kalau dapat beasiswa ke luar negeri Itu sebabnya saya harus memperbaiki kemampuan bahasa Inggris saya” jelas remaja pria itu dengan mata berbinar-binar.

Wawancara dengannya berlangsung dengan seru, ia banyak bercerita, secara tersirat, saya bisa menangkap bahwa saat ini, ia tidak melanjutkan kuliah karena masalah ekonomi. 

Belakangan saya tahu, untuk mencapai tempat kursus, dia harus jalan kaki selama dua jam. Kadang-kadang ia tidak datang, kalau hujan badai. Pertemuan tidak sengaja dengannya saat saya berbelanja di Mercado(pasar) membuat saya semakin salut, dia berjualan tembakau dan kantung plastik kresek. Sebuah potret kehidupan lain, yang biasanya ‘hanya’ saya dengar melalui media massa, kini saya hadapi sendiri. 

Anak itu selalu bersemangat. Dia ini salah satu orang yang setia mengikuti kelas saya sampai akhir dengan aktif, bahkan cenderung cerewet. Lulus pun bukan dengan nilai biasa-biasa saja. Tuh, kan! Anda lihat sendiri; mimpinya membuat bertahan.

Eh, eh, anda tau nggak, saya pernah lho membahas dengan jahatnya permasalahan orang-orang pembunuh mimpi, dalam salah satu sesi omong kosong sok filosofis dan sok kontemplatif dengan seorang teman. Dia bilang “Orang banyak itu butuh massa untuk meyakinkan bahwa ia berada dalam track yang benar”

Mungkin benar, atau mungkin kami bersikap judgmental, memang ada orang-orang dalam lingkungan sosial hidup tanpa mimpi, atau bersikap pesimis, merasa bahwa mimpi mereka tidak mungkin tercapai. Ketika mereka harus bertabrakan dengan orang  yang memiliki mimpi (apalagi yang muluk), keyakinan untuk ‘hidup-tanpa-mimpi’ mereka goyah. Kemudian, perlahan mereka mulai meyakinkan si pemilik mimpi bahwa ‘mimpi itu muluk’, ‘mimpi itu nggak realistis’, ‘jangan terlalu tinggi dalam bermimpi, nanti kecewa’ dan seterusnya.

Kalau si pemilik mimpi ini akhirnya memercayai doktrin mereka, maka mereka akan berseru-seru ‘<em>Yes! I am in the right track</em>, pengikut ‘sekte-tanpa-mimpi’ saya semakin banyak! Saya bisa berjamaah merayakan hidup tanpa mimpi’

Anda memilih sikap membunuh mimpi orang lain, karena itu bukan sih?

Ooops. Sekarang sikap saya jadi sama seperti anda.

Anda kan menyalahkan saya (dan orang-orang lain) yang memiliki mimpi (plus membunuh mimpi-mimpi), sekarang sikap saya kok sama saja, seolah menyalahkan anda yang (mungkin) tidak memiliki mimpi (atau takut bermimpi?)

Nggak apa-apa kok memilih sikap tak-usah-mimpi-jalani-saja-hidup. Di sini saya tidak berusaha meyakinkan bahwa orang yang punya mimpilah yang paling benar. Soalnya, kebenaran itu nggak absolut, apa yang benar menurut satu orang, belum tentu benar menurut orang lain. Apa yang menyamankan satu orang, belum tentu menyamankan orang lain.

Tapi mbok ya : <em>Teu saguru, teu saelmu, tong ngaganggu ateuuh. Kumaha aing we rek naon,Beul! Aing ge teu ngaganggu siah*</em>

Eh iya, sebelum udahan, saya mau masukin kutipan ini nih :

<em>So I say to you my friends,
that even though we must face the difficulties of today and tomorrow,
I still have a dream

(‘I have a dream’, Martin Luther King Jr, 28 Agustus 1963)</em>

Ya sudah, segitu saja dulu. Semoga hari-hari anda indah.

Salam sayang,
Sepatumerah.





Catatan:
* cari orang Sunda deh untuk menerjemahkan kalimat ini, hehe :D

….


<strong>Untuk teman saya, yang bermimpi menerbitkan novel fantasi yang ditulis selama satu setengah tahun tapi ditolak penerbit : Ayo kumpulkan kepingan hati, dan terus berjuang, Dek! Pertahankan mimpi.;-)</strong>]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Menikmati Bayangan *</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/04/menikmati_bayangan.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.106</id>
   
   <published>2008-04-06T04:58:46Z</published>
   <updated>2008-04-06T05:24:52Z</updated>
   
   <summary>“Saya percaya, jika saya menampung dan merawat musafir seperti Nona sekarang, suatu saat nanti, ketika saya menjadi musafir, atau mungkin anak saya, atau cucu saya, atau orang-orang yang saya kasihi menjadi musafir, maka akan ada orang lain yang menampung dan...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="Fiksi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="Mi, The Wandering Soul" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[“Saya percaya, jika saya menampung dan merawat musafir seperti Nona sekarang, suatu saat nanti, ketika saya menjadi musafir, atau mungkin anak saya, atau cucu saya, atau orang-orang yang saya kasihi menjadi musafir, maka akan ada orang lain yang menampung dan merawat mereka…”

Itu adalah kalimat panjang yang keluar dari bibir hitam kemerahan (kupikir ia terlalu banyak makan siring pinang dan harus masuk rumah sakit ketergantungan sirih pinang) milik seorang laki-laki tua, kepala salah satu desa yang terdapat di kaki gunung Ile Mandiri, Larantuka, bertahun-tahun yang lalu. 

Aku tersentuh. Walaupun apa yang dia bilang adalah hukum tabur tuai yang sering disebut-sebut dalam kegiatan religi (siapa yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan atau kurang lebih begitulah), tapi saat itu, aku sangat tersentuh. Kalimatnya kemudian masuk ke dalam otakku. Tanpa sadar, aku tidak pernah berkeberatan menampung dan merawat musafir yang kebetulan bersilangan jalan denganku.

Dan terbukti, apa yang kutabur, kutuai sekarang. Selama lebih dari enam bulan aku di jalan, dengan ajaibnya, setiap berada dalam kesulitan, selalu ada orang-orang yang menampung dan merawatku.

Kemarin, pria gempal berkulit tembaga yang hobi curhat itu telah menampungku. Sebelumnya, entah sudah berapa kali orang-orang yang tak kukenal membantuku.

Sekarang, Prima. Salah seorang sepupu jauh. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba ia menelepon saat aku baru menyalakan handphone, satu jam setelah mendarat di Bali dan berpikir keras bagaimana cara tinggal di Bali dengan <em>budget</em> seminim mungkin.

Prima, seorang perempuan Solo, berwajah eksotis, berkulit kecoklatan, berambut panjang lurus dan hitam. Ia menikah dengan Jérémie Bellanger, seorang penulis dari Prancis dan tinggal di Ubud.

Sebuah ketidak sengajaan? Entah.

Dan, mereka memiliki sebuah <em>café</em> mungil dengan fasilitas wifi, tepat saat aku perlu menghubungi Nad, untuk memberikan informasi terakhir tentang <em><a href="http://blog.sepatumerah.net/2008/03/next_destination_you.html">next destination</a></em>ku.

Ketidaksengajaan lagi? 
]]>
      <![CDATA[…..

<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/bldjl_sd_novato27.jpg" align="left" valign="5" hspace="5">“Ini kopi kamu…” suara lembut Prima membuatku mendongak. Perempuan gemulai ini meletakkan kopi di samping laptopku. <em>Café</em> Prima tidak dipenuhi pelanggan. Aku hanya melihat sekitar tiga atau empat pengunjung, yang duduk di beberapa sudut ruangan. Di sudut sana, seorang pria muda, berwajah seperti Ethan Hawke, sedang tenggelam dalam bacaannya. Di sudut lain, sepasang orang tua, Kaukasia, sedang mengobrol dengan mesra ditemani dua cangkir (yang sepertinya berisi) <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Earl_grey_tea">Earl Grey Tea</a>. Sedangkan di sudut yang lainnya lagi, duduk seorang perempuan, sepertinya Filipino, tapi entah juga – karena selama perjalanan, aku juga sering disangka Filipino. Perempuan berambut cepak tersebut, seperti aku, sibuk dengan <em>laptop</em>nya.

“<em>Thanks</em>, Prim.” Aku tersenyum.

 Prima menarik kursi, dan duduk di hadapanku. Ia diam, sambil memerhatikanku, sepertinya ia sangat siap untuk mengobrol. Kugenggam <em>mouse</em>ku dan mengarahkannya ke ikon berbentuk huruf e. Internet Explorer. Jendela jelajah maya terbuka – kuketikkan <a href="http://mail.yahoo.com.">mail.yahoo.com.</a>

Kuketikkan <em>id</em> dan <em>password</em>ku ketika homepage yang kuinginkan terbuka dengan sempurna. <em>Log in.</em>

<em>......L o a d i n g......</em>
	
Aku meraih <em>mug</em> dan menyandarkan punggung, menyesap kopi yang disuguhkan Prima.
	
“<em>So</em>, Mi… apa yang ngebawa kamu ke sini?” tanyanya.
“Cinta.” Aku tersenyum sendiri mendengar jawabanku. Prima terlihat tidak mengerti, keningnya berkerut merut.
	
Sementara pada layar, <em>inbox</em>ku terpampang  tulisan : <strong>You have 25 new messages</strong>.Ku arahkan kursorku pada angka 25, dalam hitungan kejap, <em>inbox</em>ku telah terbuka dengan sempurna. Kutelusuri satu persatu <em>e-mail</em> baru yang kuterima. Beberapa berasal dari <em>mailing list</em> tidak penting yang kuikuti, ada juga <em>e-mail-email</em> berisi notifikasi dari <em>website</em> semacam <a href="http://friendster.com">friendster</a>, <a href="http://multiply.com">multiply </a>dan <a href="http://facebook.com">facebook</a>. Mataku berhenti pada sebuah <em>e-mail</em> yang berjudul singkat : <strong>Hey, Idiot! </strong>. Pengirim : <strong>Nadine Schmidth.</strong>
	
“Sebentar ya, Prim.” Aku mengarahkan lagi kursor untuk membuka <em>e-mail</em> dari Nad.
“Okay, <em>take your time</em>. Saya ke sana dulu…” Prima pun berlalu.	

<font face="courier" color="#999999">
Mi,
You’re such an idiot dan saya mengagumi kamu karena kamu selalu mengambil keputusan impulsive tanpa pakai otak. Hahaha. I always want to see where you end up every time you decide something. :))

Kamu di mana? Sudah di Bali? 

Saya sudah menghubungi teman saya, sebenarnya saya tidak tega untuk memberi tahu kamu ini, tattoo artist kecintaanmu itu sudah pergi. Teman saya tidak tahu pasti dia pergi ke mana.

Sorry sekali. Please take a good care of yourself, Mi. Be good there.

Exhaustingly Yours,
Nad.
</font>

Waktu serasa berhenti bergerak begitu aku selesai membaca <em>e-mail</em> ini. Aku sudah pergi, sejauh ini, untuk menemuinya – dan dia tidak ada di sini lagi. Ini sungguh konyol. Selama beberapa jenak, aku terpekur menatap layar laptopku, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa Prima sudah duduk kembali di hadapanku.

“Kenapa, Mi?” tanyanya. Aku mendongak. Wajah itu terlihat kuatir.
“Nggak. Nggak apa-apa.”
“Kamu sakit?”
“Nggak.Saya nggak apa-apa.” Dengan sekali gerakan, aku menutup jendela jelajahku. Wallpaper bergambarkan kakiku menyentuh kaki laki-laki itu, yang sempat kuambil berbulan-bulan yang lalu terpampang, seolah mengejek. Dengan jengkel aku mematikan <em>laptop</em>. Nanti aku akan mengganti <em>wallpaper</em>ku.

Aku kembali menyandar. Kuraih <em>mug</em>, memegangnya dengan kedua belah tanganku. Menghirup aroma harum kopi olahan tersebut.Aku dan Prima berpandangan dalam diam.
	
“Tiba-tiba saya ngerasa goblok banget.” aku terkekeh geli.
“Kenapa?”
“Saya, jauh-jauh ke sini, Cuma buat mengejar sesuatu yang…” aku menghentikan kalimatku, menahan tawa, mentertawakan kebodohanku,”…. Sesuatu yang nggak ada…”

Prima mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak mengerti.

“Bingung ya, kamu?” tanyaku sambil tersenyum-senyum geli.
“Iya…” Prima mengangguk sungguh-sungguh,”..jelaskan. Kalau kamu nggak keberatan.”
“Gini, saya, ke sini, mengejar seseorang yang saya cinta..” aku terdiam. 

<em>Sebentar.
Tadi apa kataku? 
‘Seseorang yang saya cinta?’
Benarkah?</em>

“Ehm, ralat, seseorang yang saya pikir saya cinta.”lanjutku.
“Okay.. lalu?”
“Dan ternyata dia sudah nggak di sini. Pergi entah ke mana.” sekarang aku benar-benar geli mengingat perjalananku ke tempat ini.

Prima tersenyum simpul.

“Goblok banget ya?”
“Nggak kok.” Ia masih mempertahankan senyumnya,”..sekarang, setelah tahu bahwa yang kamu kejar nggak ada di sini, kamu mau ngapain?”

Aku mengangkat bahu.

“Ya sudah, kamu bisa ngabisin waktu tinggal di sini selama kamu mau…” jawab Prima.
“Terima kasih, Prim..”

Prima mengambil sesuatu dari kantung celana <em>jeans</em>nya. Sekotak rokok. Diambilnya sebatang, diselipkannya di antara celah bibir, dan disulutnya. Aku melihat ia menghirup asap beracun tersebut dalam-dalam, menahannya dalam paru-paru, lalu menghembuskannya kuat-kuat.

“Mau?” tawarnya sambil menyorongkan kotak rokok.
“Nggak sekarang.” Aku menggeleng.

Aku kembali menyesap kopiku.

“Kenapa kamu mau ketemu dengan dia?” Tanya Prima.
“Karena…” aku terdiam, “..karena saya pikir, saya cinta dengan dia. Bukankah semua orang yang jatuh cinta, selalu ingin berdekatan dengan orang yang dicintainya?” aku balik bertanya.
“Kamu punya bayangan tentang gimana kalau kamu benar-benar bertemu dia, sekarang?”

Oh tentunya. Aku dapat dengan jelas ‘merasakan’ dalam bayanganku, betapa bahagianya aku jika bisa benar-benar bertemu dengannya, mengendus baunya, mengobrol lupa waktu dengannya, menggombalinya sampai ia tersipu-sipu (dan seluruh bentuk gombalan tersebut akan kututup dengan “Gila, gombalan gue spektakuler banget ya? Nggak nyangka, gue ternyata brilian dalam urusan pergombalan), melontarkan lelucon atau tebak-tebakan norak dan melihat perubahan wajahnya yang lucu sambil berkata, “Yeiy, norak.”,  menggigit bahunya mendadak karena gemas, berjalan bersisian di tengah hujan sore-sore atau di bawah lampu kota malam-malam, merasakan kelaparan dan semakin kelaparan mencium aroma makanan dari penjual makanan kaki lima,  memotret banyak serangga, menciumnya dengan penuh hasrat kalau ada tempat tersembunyi. Di antara semua aktivitas itu, kami akan selalu menyempatkan diri untuk mencuri-curi berciuman. Semua tergambar dengan jelas, seperti nyata dalam benakku.

Tunggu sebentar.

Itu kah yang akan terjadi? Atau aku hanya mengulang kebahagiaan yang pernah terjadi? 

Oops.

Aku terdiam, menatap Prima.

“Yah, Mi.. biarin aja bayangan pertemuan kamu dengan orang itu tetap menjadi bayangan di otak.” Cetus Prima sambil menjentikkan abu rokok ke dalam asbak keramik dengan gerakan anggun.

“Maksudmu?”
 “Bayangan kamu itu indah,kan?”

Aku mengangguk.

“Biarkan aja seperti itu.”
  	
Aku terdiam.
	
“Karena kamu nggak tau kan, apa jadinya kalau kamu benar-benar ketemu dengan dia.” Lanjut Prima,”..bisa jadi kenyataan malah merusak bayangan indah kamu…”

Ya ampun, dia benar sekali. Tepat seperti yang barusan kupikirkan. 

“.. sama lah seperti menikah..” Prima tersenyum, lalu menghisap rokoknya.
“Kenapa dengan menikah?” tanyaku.
“Kamu ingat, sampai seminggu sebelum pernikahan, saya sudah punya konsep sendiri dalam benak tentang pernikahan…”

Aku ingat. Dan aku juga ingat pernah menertawai Prima yang terkena sindrom Cinderella, memercayai bahwa pernikahan itu adalah cara ia menyempurnakan hubungan percintaan berlikunya dengan Jérémie Belanger. Sebuah puncak. <em>Masterpiece</em>, yang akan statis dalam keadaan sempurna seperti sekumpulan hasil seni dalam museum.

Aku pikir, ketika Prima mengucapkan sumpah setia di depan pendeta (diiringi dengan tangis ibunya karena Prima berpindah kepercayaan), dalam benak perempuan ini, tertera kredit, <em>“…and they live happily ever after…”.</em>
	
“.. dan ternyata, setelah menikah, ada banyak hal yang tidak sesuai dengan konsep Cinderella saya…” ia terkekeh.
	
Aku mengerutkan kening. Ada apa dengan pernikahan Prima?

“Jangan salah. Jangan salah. Jangan berpikir saya tidak bahagia. Saya bahagia banget menjadi istri Jérémie.” Ia menahan tawa.
	
“..tapi…?”
“Ya itu, kenyataan tidak seindah bayangan…” ia berkata santai.

Aku terdiam.
	
“Yah, nikmati aja bayangan pertemuan kamu yang indah itu, selama kamu belum bertemu. Selama masih bisa begitu, ya biarkan begitu saja” Ia tersenyum, manis.	
	
Aku kembali tercenung.
	
“<em>Anyway</em>, satu pertanyaan : memangnya kamu siap. kalau kenyataannya ternyata nggak seindah bayangan?”

Oh, <em>shit</em>. Bagaimana jika aku memang benar-benar bertemu dengannya, dan mendapati banyak hal yang terjadi sebaliknya : penemuan-penemuan menyebalkan tentang karakter masing-masing, perbincangan yang menjadi kering atau masing-masing berubah menjadi dingin? 

Rasanya aku tidak siap jika harus menerima bahwa kenyataan yang terjadi malah menyebalkan. Tidak. Tidak sekarang. Bayanganku terlalu indah dan aku belum siap merusaknya. Aku belum mau patah hati. Nanti saja.

Perempuan yang sepertinya Filipino di ujung sana menutup laptopnya. Laki-laki seperti Ethan Hawke telah beranjak ke kasir. Pasangan tua kasmaran masih berada di kursinya, mereka berpegangan tangan erat dan saling menatap dengan cinta.

Hari telah gelap. 

…..

<strong>Hey there! Good luck on your journey. Wish you all the best! ;)</strong>


*Judulnya kok rada norak ya? :))
**gambar diambil dari <a href="http://gettyimages.com">gettyimages</a>.
***nama perancis diambil dari : <a href="http://nine.frenchboys.net/randboy.php">French Male Name Generator </a>(penjelasan ga penting)]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Dia Bilang Saya Goblok (dan variannya)</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/04/dia_bilang_saya_goblok_dan_var.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.105</id>
   
   <published>2008-04-04T06:56:32Z</published>
   <updated>2008-04-04T07:00:27Z</updated>
   
   <summary> Seumur hidup saya sangat yakin bahwa saya tidak masuk dalam kategori goblok dan variannya. Juga, tidak pernah – catat, tidak pernah ada seorang pun yang pernah mengatai saya sepertu itu, baik itu secara bercanda, apalagi serius. Dan seumur hidup...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="project kaki" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/kaki-oehala.jpg"></div>

Seumur hidup saya sangat yakin bahwa saya tidak masuk dalam kategori goblok dan variannya. Juga, tidak pernah – catat, tidak pernah ada seorang pun yang pernah mengatai saya sepertu itu, baik itu secara bercanda, apalagi serius. 

Dan seumur hidup juga, saya sangat percaya, bahwa di dunia ini, tidak ada orang goblok dan variannya. Yang ada, orang yang sudah tahu dan orang yang belum tahu. Makanya saya tidak pernah mengatai orang seperti itu.

Tapi seseorang mengatai saya ‘Goblok!’ dengan keras dan sarkastis – yang lebih menyakitkan dia serius.

Berawal dari keluhan saya tentang betapa keberanian dan kenekatan saya jauh berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Untuk hal yang sederhana; saya jadi sedikit takut ketinggian. Lalu saya memberi contoh kasus. Kebetulan siangnya saya baru saja menyambangi air terjun Oehala.

 “Di Oehala gue berusaha untuk berdiri di bibir air terjunnya. Beuh, rasanya nggak karu-karuan. Takut iya, sere..”

Nada excited yang keluar dari bibir saya terpotong.

“Goblok banget sih lo…”lawan bicara saya menatap tajam]]>
      Dan saya pun terdiam. Sial. 

Sekarang ia terlihat sangat serius. Ngeselin.

“Ngapain sih gitu-gituan? Lo kan bisa kepleset, Bodoh..” ia melanjutkan. Shiiiit! Sekarang ia memakai kata ‘bodoh’. Benar-benar menggores harga diri.
“Gue cuma pengen motret kaki. Cuma sebentar. Lagian arusnya nggak deras kok…” saya berusaha membela diri, karena bagi saya, air terjun yang saya sambangi, tidak ubahnya seperti air terjun buatan di water boom park manapun.
“Tetep aja, lo nggak tau kan, seberapa besar kuasa alam. Emang lo pikir lo bisa mengendalikan alam? Nggak lagi. Makanya diciptain alat-alat pengaman dan seterusnya kalau lo mau bercanda dengan alam…”

Saya masih diam, lalu menghempaskan nafas dengan kuat. Mau nangis rasanya, karena dia sangatlah benar.

Jangankan mengendalikan alam, mengendalikan lingkungan sosial saja kita tidak bisa. Yang bisa kita lakukan hanya mengendalikan diri sendiri, supaya tidak menjadi korban dari bahaya yang disebabkan oleh alam seperti terpeleset jatuh dan tenggelam, atau banjir bandang tiba-tiba.

Atau lingkungan sosial. Siapa coba yang bisa melawan nilai-nilai sosial yang diamini banyak orang biarpun kadang-kadang tidak masuk akal?

Okay, lain kali kalau mau bercanda dengan alam, saya bakal lebih menjaga diri, mungkin berpegangan tangan dengan teman seperjalanan….

……..supaya kalau celaka ada temannya. Hahaha…
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Indonesian Idle vs American Idle</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/03/indonesian_idle_vs_american_id.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.104</id>
   
   <published>2008-03-25T07:22:42Z</published>
   <updated>2008-04-06T05:30:19Z</updated>
   
   <summary> Barusan saya googling dengan keyword Indonesian Idle. maksudnya sih, mau mengupdate blog review novel saya. Tapi, saya malah menemukan entri di sini, Karena sedang gemar membaca, lalu sempat menyentuh Indonesian Idle-nya Okke Sepatumerah. Hanya tahan membaca setengahnya lalu langsung...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="ga penting" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="novels" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/2184ZHW41CL_AA180_.jpg"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/indidle.gif"></div>

Barusan saya <em>googling </em>dengan keyword <strong>Indonesian Idle</strong>.  maksudnya sih, mau meng<em>update</em> blog <a href="http://novelsepatumerah.blogspot.com/">review novel saya</a>. Tapi, saya malah menemukan  entri di <a href="http://h706a.multiply.com/journal/item/138/American_Idle_vs_Indonesian_Idle">sini</a>,

<blockquote>
Karena sedang gemar membaca, lalu sempat menyentuh Indonesian Idle-nya Okke Sepatumerah. Hanya tahan membaca setengahnya lalu langsung menuju halaman belakang. Isinya tentang perempuan jadi pengangguran di Jakarta. Lalu, baru saja dari Bandung Book Center ada buku American Idle, isinya tentang pengangguran di Amerika. Jdang.
</br></br>
Kok, kaya' sama, ya?
Ada yang udah pernah baca?
</blockquote>

Gubrags. Oops. Sumpah saya kaget. Nah lu.

Akhirnya, karena penasaran, saya <em>googling </em>lagi, dengan keyword "American Idle", eh malah ketemu website <a href="http://americanidle.org/">ini</a>.

Hm... lalu pencarian saya lanjutkan dengan menambah kata novel setelah "American Idle". Jadi :<strong> "American Idle"+novel.</strong>

Dan di baris pertama hasil pencarian, muncul website <a href="http://www.alesiaholliday.com/">Alesia Holliday</a>, pengarang novel bergenre chicklit dari <em>sono </em>dan menemukan novel <a href="http://www.alesiaholliday.com/americanidle.cfm">American Idle</a>.

Doh, padahal kemarin saya merasa sangat brillian dan kreatif dalam memberi judul "Being an Indonesian Idle" pada novel pertama saya, dan dipersingkat menjadi <a href="http://blog.sepatumerah.net/2007/08/indonesian_idle.html">'Indonesian Idle</a>' atas usulan <a href="http://dodolsurodol.com/journal">bapak ini</a>. (Setelah saya sebel-sebel karena <a href="http://dodolsurodol.com/journal">doi </a>memlesetkan judul menjadi 'Indonesian <strong>udel</strong>'.) Ternyataaa ya. :))

Mungkin, selain pelatihan menulis fiksi, harus juga diadakah 'pelatihan memberi judul novel'. Dan saya akan menjadi orang pertama yang mendaftar.

hehehe.

<strong>PS</strong>: 
Ada yang sudah pernah membaca American Idle? Ceritanya gimana sih?



]]>
      <![CDATA[<strong>PPS</strong>:
Semua review novel <a href="http://blog.sepatumerah.net/2007/08/indonesian_idle.html">Indonesian Idle</a> dan <a href="http://blog.sepatumerah.net/2008/01/anak_kedua_saya_istoria_da_paz.html">Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan</a>, saya kumpulkan di <a href="http://novelsepatumerah.blogspot.com">sini</a>. 

Saya kumpulkan? Ehm, maksud saya <a href="http://jennyjusuf.blogspot.com/">Jenny </a>bantu kumpulkan. (Thanks, J!)]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Next Destination : You</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/03/next_destination_you.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.103</id>
   
   <published>2008-03-25T06:40:33Z</published>
   <updated>2008-03-25T08:47:40Z</updated>
   
   <summary>“Gue pengen ke Togian. Nyepi. Siapa tau gue jadi lebih baik. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.” Cetusku, ini adalah tujuan ke lima yang berbeda, yang telah kusebutkan dalam tiga puluh menit ini. “Yakin bakal lebih baik kalau lo pergi-pergi?” Tanya...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="Fiksi" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="Mi, The Wandering Soul" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[“Gue pengen ke Togian.  Nyepi. Siapa tau gue jadi lebih baik. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.” Cetusku, ini adalah tujuan ke lima yang berbeda, yang telah kusebutkan dalam tiga puluh menit ini.
“Yakin bakal lebih baik kalau lo pergi-pergi?” Tanya Pay, pria yang baru kutemui Jumat lalu dalam perjalanan.
“Ya nggak juga sih,”
“Tuh kan?”

Aku nyengir. Lalu kami terdiam.

“Mungkin elo selama ini hidup dalam fase <em>denial</em>, Mi. Elo selalu bilang elo baik-baik aja, padahal enggak.” Seru Pay beberapa jenak kemudian.

Aku hanya bersandar pada tembok kamar kostnya sambil bertanya-tanya, kenapa aku sampai kehilangan libido untuk traveling? Tumben. Padahal <em>passion</em>ku adalah menjelajah. Pay meledek bahwa aku sedang <em>frigid to travel</em>. Ini gara-gara saat aku menyambangi pantai yang indah, air terjun, padang rumput yang keren, aku hanya bisa menghela nafas sambil berkata “<em>Oh yeah, well</em>. Terus?” – tidak ada rasa meledak-ledak dalam hati, seperti biasanya.
 
Sumpah aneh. Yang kuinginkan hanya tidur. Bermalas-malasan. Bahkan ada saat di mana aku menyesal terbangun. 

Aku hanya mencibir. <em>Denial </em>apa? Aku tidak pernah memungkiri apa pun. ]]>
      <![CDATA[Tapi aku hanya diam. Kupandangi pria gempal nan kocak yang hobinya curhat ini. Lucu sekali, Kamis lalu aku belum mengenalnya, tapi hari Minggu, aku –tanpa ragu- memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersamanya. Ia menempatkan aku di kamar yang telah beberapa bulan kosong di sebelah kamar kostnya. Yah walaupun kamar tersebut membuat aku harus berperang bersenjatakan obat pembunuh serangga melawan puluhan kecoak dan kaki seribu, tapi aku sangat bersyukur. Dana terbatas terjaga berkat kebaikan hatinya menampung refugee dadakan macam aku.

“Mungkin lo stress” Cetusnya lagi, setelah beberapa lama tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku.
“Stress apa?” aku masih mencibir.
“Karena sempat terjebak dengan kondisi dan situasi yang lo hadapi, dengan perasaan tegang terus menerus..”
“Enggak ah.Biasa aja. Seru malah.” seruku, setelah berpikir beberapa jenak. 
“Tuh kan, Mi.. <em>denial</em>. Lo tau, <em>denial </em>itu membuang energi.”
“Apaan sih? Lo suka ngarang berat gitu deh.”
“Gini deh, ibarat lo menyelam, belum sampai dasar, lo udah meronta-ronta, berusaha keras untuk muncul di permukaan, sampe energi lo abis. Padahal, kalau lo ikutin dan udah sampai dasar, lo bisa menjejak lebih kuat dan akan lebih mudah muncul ke permukaan.” Serunya.

Aku menghela nafas. Kami terdiam lagi.
“Sok filosofis gue ya?” tanyanya cengengesan.
“Iya, sok kontemplatif…” seruku geli.
“Terdengar pintar nggak?”
“’Mayan. Minimal dialog kita terdengar lebih mutu dari sinetron-sinetron di TV” balasku.
“Iya, hanya ‘terdengar lebih mutu’, padahal isinya….”
“Tai kucing semua…” aku melengkapi kalimatnya.

Kami terkekeh-kekeh. Malam makin larut, tapi aku belum ingin tidur, tidak ngantuk, aku terlalu banyak tidur hari ini. Selain itu, kamarku masih berbau obat pembunuh serangga yang kusemprotkan terlalu banyak. <em>Somehow</em>, aku belum mau mati, apalagi kalau sampai mati bersama kecoak dan kaki seribu karena menghirup bau obat serangga. Nggak gaya.

…..

Aku masih di kota ini. Mungkin Pay benar. Kemana pun aku pergi, belum tentu tempat-tempat tersebut mampu memperbaiki perasaan. Yang kubutuhkan mungkin bukan menjelajah ke mana-mana, tapi menjelajah ke dalam, berusaha mengidentifikasi, apa yang membuatku kehilangan gairah dan merasa hampa macam ini. Jadi kutetapkan, tujuanku bukan Togian, bukan pulau ini itu, tapi : diri sendiri.

Kukitari kota ini, dengan kameraku. Satu hal yang dengan bodohnya baru kusadari, kamera membuat kita tidak terlalu membutuhkan <em>traveling companion</em> penangkal bosan, karena dengan kamera, kita terlalu sibuk untuk bosan. Seluruh panca indera kita akan berusaha menangkap apa pun yang menarik. Mencari-cari apa yang menarik, dari hal yang tidak menarik. 

Sungguh, aku beruntung karena menuruti perkataan seorang teman untuk membeli kamera, menggantikan kamera butut, yang sudah layak masuk museum. Waktu itu aku menolak keras, rasanya tidak rela mengeluarkan dana dari tabunganku yang tak seberapa itu, hanya demi membeli kamera yang lebih canggih dari punyaku. Aku adalah tipe setia, ketika sudah cocok dan cinta mati dengan satu hal, maka hal-hal lain tidak akan mampu membuatku untuk selingkuh.(temanku bilang, aku pelit – tapi aku ngotot : setia)

Sialnya, dalam perjalanan ke satu tempat, kamera zaman kuda gigit besi-ku bertingkah. Rusak. Biaya reparasinya seharga satu kamera baru. Duh!

Hhh… maka, kamera baru ini lah yang menemaniku.

Beberapa orang menatapku aneh, karena aku tidak pernah ragu menggerakkan seluruh anggota badanku, menunduk, mendongak, <em>nungging</em>, bahkan kalau perlu jungkir balik, demi menangkap hal yang kuanggap menarik. 

Tapi aku tidak terlalu ambil pusing. Aku bukan siapa pun di kota ini, tidak ada yang mengenalku. Kadang-kadang, menjadi <em>nobody </em>itu menyenangkan.

….

“Kakak, teh botol satu.” Seruku pada penjual minuman dingin di salah satu sudut kota. Tanpa kata, perempuan itu dengan cekatan mengambil apa yang kupesan dari kotak esnya, membuka tutupnya, meletakkan sedotan lalu mengangsurkan padaku.

Kakiku terasa penat. Karena berjalan kaki seharian. Kuterima botol tersebut dan menggelontor tenggorokan. Rasanya segar, kurang dari lima teguk, air manis berwarna coklat tersebut telah tandas.

“Wah bocor nih, botolnya.” Seruku pada penjual minuman yang sedari tadi memerhatikanku dengan ekspresi aneh. Ia tersenyum.

Aku belum berniat beranjak, masih ingin mengistirahatkan kaki. Tapi sudut mataku menangkap tulisan : warnet 24 jam.

Hmm, mungkin bertegur sapa dengan beberapa teman yang sedang online dari kantor masing-masing bisa menghibur. Maka, aku pun memberikan botol kosong bekas minumanku dan menyerahkan uang pada penjual minuman.

Bagai melayang aku menghampiri warnet. Angin dari AC menerpa tubuhku. Rasanya dingin, tapi tidak segar, apalagi ditambah dengan aroma asap rokok. Aneh, kok hari gini masih saja ada yang tidak tahu bahwa aroma rokok dalam ruangan ber-AC itu menyebalkan? Sama menyebalkannya dengan aroma rokok dalam angkutan umum yang pengap.

“Di sana Mbak, nomor sepuluh…” cetus operator warnet sambil menunjuk sebuah kubikel. Aku masuk ke dalam kubikel tersebut, duduk dan menggenggam mouse. Kuarahkan kursor pada ikon Yahoo! Messenger.

<em>Klik klik.</em>

Kuketikkan ID dan <em>password</em>ku. Dalam hitungan kejap, aku telah online. Ini adalah online pertamaku setelah empat bulan. Serangan <em>offline messages</em> bertubi-tubi, ada yang hanya berisi ‘Nyet, kemana aja lo? Gue baca Koran, katanya disitu gawat ya?’, ‘keadaan lo gimana?’ atau ‘masih idup kan?’

Aku tersenyum-senyum sendiri, hatiku agak menghangat, pertanyaan-pertanyaan offline tersebut membuat aku senang, teman-temanku –walaupun jauh- perduli.

Lalu menyusul serangan <em>friend requests.</em>

<strong><em>BUZZ!</em></strong>

Belum sempat aku menyetujui permintaan berteman secara maya yang dikirimkan orang-orang, kanal cakap mayaku bergetar secara <em>virtual</em> dan mengeluarkan bunyi ‘ting!’.

<strong>NadineSchmidht :</strong>	Hello, crazy girl!
<strong>NadineSchmidht :</strong>	I miss yooouuu! Where have you been??? Are you okay?
<strong>Wandering_Soul :</strong>	hello, Jerman gila. :))
<strong>NadineSchmidht :</strong>	=))
<strong>Wandering Soul  :</strong>        I am fine. I am alive.
<strong>NadineSchmidht : </strong>       Gila kamu! Saya sangat kuatir membaca berita di internet.
<strong>NadineSchmidht : </strong>       Kok tepat sekali ya peristiwa itu terjadi pas kamu di sana? 
<strong>NadineSchmidht :  </strong>      Kamu terjebak berapa bulan, Mi?
<strong>Wandering Soul  : </strong>       Empat bulan.
<strong>NadineSchmidht :  </strong>   Saya takut sekali kehilangan salah satu teman gila saya.
<strong>Wandering Soul  :  </strong>   Relax. Saya tangguh dalam segala situasi.

Kami terlibat dalam percakapan menyenangkan. Nad ternyata sedang dalam posisi sama bingungnya denganku. Ia merasa hampa. Tapi, itu keluhannya setiap waktu.

<strong>Wandering Soul  :  </strong>  Numb? Sebelum pergi kemarin, kamu bilang kamu sedang numb, dan muak dengan Asia Tenggara.
<strong>NadineSchmidht :</strong>   Iya, saya ingin traveling ke luar Asia Tenggara. Jadi saya, dengan last money I had, terbang ke Australia, mendapatkan pekerjaan di satu peternakan kuda.
<strong>Wandering Soul  :</strong>  I heard you earned so much money, right? Jadi kamu bisa keluar dari Asia Tenggara. 
<strong>NadineSchmidth :</strong> betul. Tapi ternyata, saya masih merasa numb.

Kemudian saya teringat perkataan Pay yang membuat saya berpikir.

<strong>Wandering_Soul:</strong> Mungkin yang kita butuhkan adalah traveling without moving.
<strong>Wandering Soul  : </strong>Kita tidak butuh tempat-tempat baru, kita butuh traveling ke dalam diri kita sendiri, mencari masalah yang membuat kita frigid to travel.
<strong>NadineSchmidth : </strong>Hmm, mebbe you’re right.
<strong>NadineSchmidth :</strong> Sebentar, saya mau pee. Jangan pergi dulu.

Lalu, selama beberapa menit, tidak ada barisan teks yang muncul dalam kanal cakap maya kami. Aku menjelajah beberapa situs dengan asal-asalan.

<strong>BUZZ!</strong>

<strong>NadineSchmidth :</strong> I am back.
<strong>Wandering_Soul : </strong>Welcome back. :P
<strong>NadineSchmidth : </strong>how’s love life? Any travel flings?
<strong>Wandering-Soul : </strong>Nope. Nggak ada yang menarik. Belum ada pria dengan killer combo, Nad.
<strong>NadineSchmidth:</strong> =)) Iya, di sini juga. Semua suck.

<em>Killer combo</em>. Itu adalah salah satu persyaratan yang pernah kami bahas bersama  Bagi kami, pria-pria yang masuk dalam kategori menarik adalah mereka yang memiliki kombinasi kecerdasan otak dan kepiawaiannya berciuman. Eh sorry, ada satu lagi tambahan : anggota badannya tidak menguarkan bau-bauan tidak sedap. Salah satu dari itu absen, ya sudah, sekian dan terima kasih, jangan sampai berjumpa lagi.
 
<strong>NadineSchmidth : </strong>So far, baru ‘dia’ saja ya yang memiliki killer combo? ;)
<strong>WanderingSoul   : </strong> Iyaaa :((
<strong>NadineSchmidth : </strong> how do you feel now?
<strong>Wandering_Soul : </strong>I miss him.
<strong>NadineSchmidth : </strong>=)) Perempuan cengeng!
<strong>Wandering_Soul : </strong>Biariiiin. I miss him. I miss to talk with him. I miss to kiss him. I miss to sniff him. =))
<strong>NadineSchmidth : </strong>=)) Perempuan cengeng! Perempuan gila yang cengeng.
<strong>Wandering_Soul :</strong> Biariiiin. Saya juga manusia.
<strong>NadineSchmidth :</strong> WAIT!
<strong>NadineSchmidth : </strong>Jangan-jangan… itu yang membuatmu merasa hampa.
<strong>NadineSchmidth : </strong>Hey perempuan cengeng, jangan-jangan cuma itu masalah kamu?

Jemariku membeku di atas keyboard.

<strong>NadineSchmidth :</strong> Situasi dan kondisi sekitar kamu membuat kamu down dan sumber energi kamu jauh.

Aku tercenung. Mungkin semua ini penyebabnya sangat sederhana. <em>Dopping</em>ku ketinggalan.

<strong>NadineSchmidth :</strong> Hello?
<strong>Wandering_Soul : </strong>Nad, kamu tahu nggak dia di mana?
<strong>NadineSchmidth : </strong>Hm, saya dengar terakhir kali dari teman saya, dia di Ubud.
<strong>Wandering_Soul : </strong>Oh ya. I gotta go, tolong kasih informasi lagi tentang dia ya….
<strong>NadineSchmidth : </strong>Hello? Hey, where are you going?

<em>Sign out.</em>

….

<font face="courier">Pay, traveling without movingnya udh berhasil. Gw tau next destination gw, menjumpai sumber energi. Thanks krn udh nampung gw, orang Samaria yang baik hati! Sampe ketemu lagi. Klo lo ngerasa numb, hubungi gw, gw bakal balas jasa, nampung lo. Atau kalo kita ga ktemu lagi, gue bakal nampung siapa pun yang berada dalam kondisi yang sama dengan gue, sebagai balas jasa.</font>

<em>Send to : Pay</em>

<em>Delivery report.</em>

Setelah yakin bahwa pesan pendekku yang panjang itu terkirim, aku memasukkan ponsel ke dalam kantung celana cargoku dan mengancingkan tutupnya. Kupanggul ranselku dan kuselempangkan tas kameraku.

Aku tidak tahu, apakah memang ini masalah sebenarnya, atau bukan. Tapi, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

<em>Next destination : You..</em>
]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Batas</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/03/batas.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.102</id>
   
   <published>2008-03-20T13:21:52Z</published>
   <updated>2008-03-20T14:10:31Z</updated>
   
   <summary> Entah kenapa, walaupun sudah sering melewati garis kuning yang menandai perbatasan Timor-Leste dan Indonesia, tapi saya selalu menyempatkan diri untuk bermain &apos;Sebelah badan di negara yang berbeda&apos;. Dan saya -secara psikologis- selalu merasakan sensasi yang sama, sebelah badan merasa...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="project kaki" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/kakiborder.jpg"></div>

Entah kenapa, walaupun sudah sering melewati garis kuning yang menandai perbatasan Timor-Leste dan Indonesia, tapi saya selalu menyempatkan diri untuk bermain 'Sebelah badan di negara yang berbeda'. 

Dan saya -secara psikologis- selalu merasakan sensasi yang sama, sebelah badan merasa aman karena di berada negara sendiri, sedangkan sebelah badan merasa 'tidak terlindungi' karena di negara orang.

]]>
      Coba tebak. Kaki saya yang mana ;-)
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Ancaman Lapan Puluhan.</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/03/ancaman_lapan_puluhan.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.101</id>
   
   <published>2008-03-17T03:58:56Z</published>
   <updated>2008-03-17T04:08:23Z</updated>
   
   <summary>Sebenarnya ancaman bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang supaya tidak ditinggal oleh pacar adalah trik basi delapan puluhan. Tapi, kok masih ada saja yang pakai trik itu ya? Betapa tidak mengikuti perkembangan zamannya orang-orang macam itu. Boleh jadi itu trik...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      Sebenarnya ancaman bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang supaya tidak ditinggal oleh pacar adalah trik basi delapan puluhan. Tapi, kok masih ada saja yang pakai trik itu ya? 

Betapa tidak mengikuti perkembangan zamannya orang-orang macam itu. Boleh jadi itu trik yang sangat brilian nan spektakuler pada masa Bapak Rano Karno, Ibu Yessy Gusman, Tante Yenny Rahman atau Oom Roy Marten masih pantas memakai seragam putih abu. Tapi, ini sekarang, tahun 2008, di mana para aktor dan aktris tahun jebod itu sudah terlalu tambun dan bergelambir untuk memakai seragam SMU.

Anyway, seorang teman baru mengirimkan pesan pendek dan bilang bahwa ia batal putus (lagi!) dengan pacarnya, karena sang pacar bilang, ia tidak bisa hidup tanpa teman saya – lebih baik mati jika harus putus. 

Ini terjadi berulang-ulang - sampai bosan mendengarnya. Padahal teman saya ini jelas-jelas bilang bahwa ia sudah tidak tahan dengan sikap pacarnya yang obsesif dan cemburuan. Ada hari-hari di mana teman saya terlihat depresi.

      <![CDATA[Setiap teman saya bilang bahwa ia akan memutuskan pacarnya,  saya langsung mendukung 100%. Bukan hanya mendukung, tapi mendorong. Dan saya berjanji dalam hati, jika suatu saat nanti, teman saya benar-benar putus dan tidak kembali lagi dengan pacar <em>psycho</em>-nya saya akan mengucapkan : Haleluya! 

Buat saya, sikap obsesif dan cemburu berlebihan itu penyakit jiwa- jika kekeuh bertahan dengan seseorang yang obsesif dan cemburu berlebihan, bisa-bisa kita ikut sakit jiwa, percaya deh –mengikuti kata-kata <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sledge_Hammer%21">Sledge Hammer </a>: ‘<em>Trust me, I know what I am <strike>doing</strike> saying</em>!’ (eh, pada tau Sledge Hammer siapa nggak sih? Kayaknya yang tahu Cuma yang masa remajanya di tahun 80-an deh).

Tapi ya itu, balikan lagi, balikan lagi.

“…..Yogie (nama samaran) bilang dia bakal bunuh diri kalau gue pergi.” – itu kata teman saya.

Deuuh. Masih musim?

Yah, musim atau tidak, tapi yang cukup ‘mengganggu’ bagi saya adalah sikap dari teman saya yang mendadak GR. Maksud saya, karena sang pacar mengaku bakal bunuh diri jika ditinggal, tiba-tiba ia merasa sangat dibutuhkan dan berpikir bahwa dialah sumber kehidupan sang pacar.

Lucu.

Padahal, untuk kasus ini saya justru melihat bahwa teman saya dimanipulasi sedemikian rupa. Ia bukan pahlawan, tapi korban. Sang Pacar ‘dengan cerdas’nya memanfaatkan ancaman bahwa dia akan bunuh diri, untuk mendapatkan apa yang dia mau.

Yah, seperti anak kecil berumur lima tahun, yang merengek sambil berguling-guling, atau –dalam bahasa Jermannya : kokosehan- di lantai toko mainan demi mendapatkan mainan yang ia inginkan. 

Seingat saya, waktu berumur sekian setiap saya merengek-rengek karena ingin sesuatu, ibu saya bilang bahwa saya harus diam, kalau tidak, ia akan meninggalkan saya. Dan itu bukan sekedar ancaman, karena jika saya tetap bertahan merengek, beliau akan melengos dan dengan cueknya melenggang keluar dari toko. 

Dan apa kabar dengan saya?

Tentunya lebih mengerikan ditinggal sendiri oleh ibu, saya pun berhenti menangis dan mengejar ibu saya.  Itu selalu beliau lakukan jika saya mulai nyebelin, sampai pada akhirnya saya sadar, bahwa rengekan saya tidak akan pernah berhasil dijadikan senjata untuk mempengaruhi beliau.

Sayangnya, teman saya itu tidak se-tega ibu. Ia kerap luluh bahkan takut bahwa sang pacar akan benar-benar melakukan ancamannya. Maka bunuh diri selalu menjadi senjata super ampuh untuk menahan teman saya agar tidak pergi.

Kasihan ya teman saya?

Saya sudah membujuk agar ia sekali-kali mencoba bersikukuh terhadap pendirian putusnya. Yah hitung-hitung menguji, sampai sejauh mana sang pacar berani melakukan ancamannya. (Entah kenapa, saya sangat yakin, sang pacar akan benar-benar bunuh diri.)

Tapi teman saya benar-benar takut sang pacar akan bunuh diri. Bahkan dalam SMS-nya dia bilang, “Kalau si Yogie bener-bener bunuh diri gimana Mbak? Gue pasti nggak bisa memaafkan diri gue..”

Hm.

Akhirnya saya bilang, : “kalau memang dia benar-benar bunuh diri, ya sudah. Hidup dia adalah tanggung jawab dia sendiri, bukan salah lo sama sekali..”

Bahkan sambil bercanda saya bilang, jika sekali-sekali ada keluarga sang pacar yang menyudutkan, ia bisa bilang : “Kalau Yogie bunuh diri, salah gue? Plis deh.” (eh, plis deh udah nggak musim ya? Hehehe)

Sampai sekarang saya nggak tahu kelanjutan cerita teman saya ini, apakah ia jadi putus, atau pacarnya sudah bunuh diri atau belum. 

Tapi ya sudahlah, hidup ya hidup dia sendiri. Mungkin teman saya ini sebenarnya menikmati keadaannya yang seperti berpacaran dengan balita manja berwujud cowok dewasa. Mungkin juga ia mendapatkan semacam orgasme dengan menerima perlakuan kekanak-kanakkan ngeselin sang pacar. 

Oh ya, ancaman delapan puluhan ini bukan sekedar bunuh diri saja, tapi bisa juga dalam bentuk pernyataan bahwa dirinya menderita penyakit <strong>kanker getah bening</strong>, leukemia, kanker otak dan segala bentuk penyakit yang terdengar mematikan. 

Serta pengakuan bahwa ia sekarat dan hidupnya tinggal beberapa saat lagi.

Huhu. Basi bo.


<strong>Ehm, kalau nama samarannya rada-rada mirip dengan nama seseorang, saya memang sengaja. *dumdidum*</strong>]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Peace Of Mind</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/03/peace_of_mind.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.100</id>
   
   <published>2008-03-13T03:31:57Z</published>
   <updated>2008-03-13T03:37:27Z</updated>
   
   <summary> Yah, Cuma bertanya-tanya saja.. bagaimana cara mendapatkan ‘peace of mind’ ya? Apakah dengan menyewa satpam dari security service yang bertagline ‘Peace of mind’? Memagari property dengan pagar tinggi?...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/pom.jpg"></div>

Yah, Cuma bertanya-tanya saja.. bagaimana cara mendapatkan ‘peace of mind’ ya?  Apakah dengan menyewa satpam dari security service yang bertagline ‘Peace of mind’? Memagari property dengan pagar tinggi?]]>
      <![CDATA[
<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/kawatberduri.jpg"></div>

Atau, memasang kawat berduri?

hmmm...

Enaknya yang mana ya?]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Lagu Favorit Saya : Timor Lorosae</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/02/lagu_favorit_saya_timor_lorosa.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.99</id>
   
   <published>2008-02-29T05:22:52Z</published>
   <updated>2008-03-03T04:32:04Z</updated>
   
   <summary> Rai timor Loro Sae Rai ida Be Hau Moris Hau Hadomi Deit O Mesak Doben Rai Timor Loro Sae Rai Ulun to a Rai Ikun Tasi Feto to O Tasi Mane Husi Loro Sae Loran Monu Mesak Oan Timor...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<embed width="448" height="361" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" src="http://i15.photobucket.com/player.swf?file=http://vid15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/timorlorosae_0003.flv">


<em>Rai timor Loro Sae
Rai ida Be Hau Moris
Hau Hadomi Deit O Mesak Doben
Rai Timor Loro Sae
Rai Ulun to a Rai Ikun
Tasi Feto to O Tasi Mane
Husi Loro Sae Loran Monu Mesak
Oan Timor Loro Sae</em>

Tanah Timor Lorosae
Tanah tempat lahirku
Saya hanya mencintaimu
Tanah Timor Lorosae
Dari ujung timur sampai ujung barat
Laut tenang dan laut ganas
Dari Lorosae sampai Loromonu
Semua anak timor lorosae

<em>Timor Oan tomak Lemorai
Hela iha Rai Seluk-seluk
Rona Lai Ami Hananu Hodi
Solok Imi Hotu Lae
Rai Ulun to a Rai Ikun
Tasi Feto to O Tasi Mane
Husi Loro Sae Loran Monu Mesak
Oan Timor Loro Sae</em>

<em>Semua anak Timor mengembara
Tinggal di tanah yang berbeda-beda
Dengarkan dulu nyanyian kami
Untuk menyenangkan kalian semua
Dari ujung timur sampai ujung barat
Laut tenang dan laut ganas
Dari Lorosae sampai Loromonu
Semua anak timor lorosae</em>


Yah, sejak saya dengar lagu ini tahun 2001, saya langsung suka. Walaupun sekarang sudah banyak lagu-lagu Tetun yang saya dengar, lagu ini tetap ada dalam daftar lagu favorit :)
]]>
      <![CDATA[Makanya, lagu ini saya masukkan ke dalam <a href="http://blog.sepatumerah.net/2008/01/anak_kedua_saya_istoria_da_paz.html">Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan</a>. Untuk lagu satu lagi yang ada di novel ini, <a href="http://roodschoenen.multiply.com/video/item/4/Diak_Ka_Lae">bisa lihat di sini.</a>]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Dijual : Sertifikat dan Ijazah.</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/02/dijual_sertifikat_dan_ijazah.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.98</id>
   
   <published>2008-02-18T03:23:46Z</published>
   <updated>2008-02-18T03:29:10Z</updated>
   
   <summary>Akhirnya, selesai juga seluruh materi yang harus diajarkan di salah satu kursus yang diadakan bekerja sama dengan LSM lokal di salah satu perpustakaan di Dili. Tes akhir diadakan pada minggu ke-dua bulan Februari 2008. Ada 12 orang yang ikut, menyusut...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      Akhirnya, selesai juga seluruh materi yang harus diajarkan di salah satu kursus yang diadakan bekerja sama dengan LSM lokal di salah satu perpustakaan di Dili. Tes akhir diadakan pada minggu ke-dua bulan Februari 2008. Ada 12 orang yang ikut, menyusut dari jumlah awal murid yang seharusnya 20 orang.

Seluruh materi dalam tes sudah pernah diajarkan pada pertemuan regular seminggu tiga kali kursus di kelas. Tapi ternyata masih ada yang tidak bisa menjawab dengan benar. Saya sedikit kecewa juga. Ketika saya periksa, ada delapan orang lulus, sisanya tidak. Rasanya nggak enak, kalau bisa sih, saya luluskan semuanya. Tapi mau gimana lagi? Ini adalah hasil tes yang sesungguhnya, sesuai dengan kehadiran, kemauan belajar dan persiapan sebelum tes. Untuk yang tidak lulus, ya nggak bisa diapa-apain lagi, dinaik-naikin juga tetap nggak bisa melewati batas minimal kelulusan. Ya sutrah, apa boleh buat, artinya mereka harus mengulang di level yang sama. Hitung-hitung pendalaman lah. 

Eh jadi ingat, zaman kuliah, kalau saya tidak lulus satu mata kuliah, dan harus mengulang, saya tidak pernah bilang ‘Iya nih, gue dapat D buat Kewiraan, harus ngulang’, tapi saya bilang ‘Iya nih, gue dapat D buat kewiraan, harus mendalami’. Dan pssst…beneran, saya memang nggak lulus Kewiraan. Haha. Ngomong-ngomong mata kuliah yang judulnya : Kewiraan masih ada nggak sih?

      <![CDATA[Anyway, sore harinya setelah pengumuman, administrator kursus LSM tersebut menghubungi saya dan bilang bahwa ada masalah, berkaitan dengan hasil tes, katanya dia pengen mendiskusikannya. Dia datang ke rumah komunitas kami di Becusse Centro. Katanya semua murid yang tidak lulus merasa tidak puas dengan hasilnya, bahkan menurut dia, satu dari mereka sangat marah. Saya sedikit bingung, karena saya yakin sudah mengoreksi dengan benar dan teliti.

Ia bilang murid yang tidak lulus pengen dites ulang. Saya sangat tidak setuju dengan ide tersebut. Bagi saya, mengadakan tes ulang sangat tidak adil untuk murid yang lulus. Kenapa juga saya harus mengistimewakan dan memberi kesempatan hanya bagi murid yang gagal ujian untuk memperbaiki nilai, bagaimana dengan mereka yang lulus? Murid yang gagal seharusnya mempersiapkan diri sebelum tes, seperti murid yang lulus, ya kan?

Kecuali jika saya memberi tes ulang buat ke-duabelas murid tersebut. Tapi tetap, bagi saya tidak adil. Kenapa yang lulus harus bekerja keras dua kali?

Saya tahu, administrator itu berada dalam posisi yang sulit, jadi saya bilang, saya akan jelaskan semuanya tentang penilaian, saya bisa menunjukkan kenapa mereka dapat nilai jelek dan tidak lulus.

Sorenya, saya dapat sms dari murid yang marah tersebut, ia mempertanyakan tentang hasil tes. Mendiskusikan suatu masalah lewat SMS maupun telepon bukanlah hal yang bijaksana, jadi saya bilang, saya akan mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan masalah ini dua hari kemudian. Lalu saya menerima sms lagi. Dari SMS tersebut, saya akhirnya mengerti apa yang menjadi permasalahan sehingga ia kekeuh jumekeuh pengen tes ulang. Ini karena, jika dia gagal, ia tidak akan mendapatkan sertifikat, sedangkan ia (bilang) sangat membutuhkannya.

Menurut salah seorang teman saya, di sini, sertifikat, khususnya kertas-kertas yang menunjukkan bahwa seseorang sudah menyelesaikan kursus, training, workshop, konferensi, seminar dan sebangsanya – sangat penting. Kertas semacam ini HARUS disertakan SEMUA setiap mereka melamar pekerjaan. Mereka mengoleksi sertifikat, seperti Uncle Scrooge mengoleksi uang. Bahkan teman saya ini menambahkan, bagi sebagian orang (tidak semua), tujuan dari mengikuti kursus, training, workshop, konferensi, seminar dan sebangsanya hanyalah untuk mendapatkan sertifikat. Proses belajar serta pengembangan kemampuan dan pengetahuan kadang-kadang menjadi hal nomor sekian.

Saya sedikit takjub mengetahui bahwa selembar kertas tersebut diperlakukan macam oksigen. Jujur saja, saya jarang menyertakan kertas-kertas macam itu ketika melamar pekerjaan, kecuali ijazah pendidikan formal, karena seluruh iklan lowongan pekerjaan yang saya respon tidak pernah memasukkan ‘sertakan seluruh sertifikat kursus, training, workshop, konferensi, seminar dan sebangsanya dalam lamaran’ sebagai persyaratan. Mereka hanya meminta curriculum vitae, dan nantinya, mereka akan mewawancara dan menguji secara intensif berkaitan dengan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang saya tulis dalam curriculum vitae.

Kecuali kalau urusan mendaftarkan golongan entah apa buat dosen di departemen pendidikan ya, itu segala sertifikat seminar dan segala macam harus disertakan, doh ribet. Secara saya bukan orang yang apik, segala kertas tersebut lenyap entah keselip di mana. Hehe. Makanya sampai sekarang saya tidak pernah mendaftarkan diri dan golongan saya entah apa, ke laut aje.

Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran – nggak penting sih—kalau misalnya satu pelamar pernah mengikuti ratusan seminar, kursus, training, workshop, konferensi dan seterusnya, sepertinya dokumen lamaran milik orang ini akan setebal novel Harry Potter atau bahkan alkitab. Ha!

….

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca kasus jual beli ijazah S1, master bahkan doktoral di salah satu surat kabar nasional Indonesia. Waktu itu saya cuma geli, dan bilang dalam hati “Bloon bener sih…”

.. sampai saya berhadapan langsung dengan orang yang mau membeli ijazah S1.

“Kak, kakak kan pernah jadi dosen, mungkin tau cara supaya saya bisa dapat ijazah S1. Katanya dengan US$2000, bisa dapat.” Itu katanya.

Hah, waktu itu saya langsung jengkel. Enak aja, mau dapat ijazah instant tanpa harus usaha. Padahal dulu, saya mendapatkan ijazah itu sampai berdarah-darah, terutama untuk Nirmana 3D (maaf, sektoral hehe). Dan luka-luka. Dan air mata. Dan.. tentunya ini berlebihan. :P

Jadi mikir kenapa juga kertas macam itu diperlakukan macam barang-barang grosir yang diperjual belikan? Kertas macam itu kan semacam pernyataan bahwa orang yang bersangkutan telah melewati satu proses belajar, yang artinya, sebelum mendapatkan pernyataan tersebut, seseorang harus bekerja keras. Lalu ketika mendapatkannya, ia memang pantas dan memiliki tingkah laku, kemampuan serta pengetahuan yang disebutkan dalam kertas. Contoh kasarnya, kalau seseorang mendapat ijazah S1 Jurnalistik, orang tersebut harus benar-benar memiliki kemampuan dan pengetahuan yang sesuai. Nggak lucu kan kalau gelar dan ijazahnya S1 Jurnalistik, tapi tidak tahu apa-apa tentang dunia jurnalistik. Atau contoh lain, jika kita memiliki sertifikat kursus Inggris level (misalnya) advance, kita harus menunjukkan bahwa kita memang memiliki kemampuan dan pengetahuan bahasa yang sesuai dengan level yang bersangkutan. Aneh saja kan, kalau kita punya sertifikat advance, tapi kalau memperkenalkan diri ‘<em>I am is teacher</em>.’ Atau ‘<em>I is not like food spice’</em>, atau <em>'I not have money'  </em>atau menjawab ‘ <em>I happy is play my child’ </em>untuk pertanyaan ‘<em>What makes you happy?’ </em>yang ditanyakan berulang-ulang sampai frustasi, karena untuk pertanyaannya saja kita tidak mengerti. Atau, satu contoh lagi deh, memiliki sertifikat menguasai Microsoft Office, tapi cara membuka dokumen baru di Microsoft Words saja tidak tahu.

Kertas macam itu tidak penting, proses belajar yang penting. Lagipula, memiliki banyak sertifikat dan ijazah tapi tidak bisa apa-apa kan omong kosong binti malu-maluin.

Tapi saya juga tidak menyalahkan mereka yang menganggap bahwa sertifikat adalah segalanya. Cara berpikir macam ini dikondisikan oleh persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh pihak-pihak yang masih sering ‘silau’ dengan banyaknya kertas-kertas. Memiliki pekerjaan atau jabatan yang baik (mungkin) adalah keharusan bagi banyak orang. Dengan kondisi di mana mereka sangat harus menunjukkan semua sertifikat/ijazah untuk mendapatkan pekerjaan (yang lebih baik), apa lagi yang bisa dilakukan para pekerja ini selain memang menyediakannya?

Jadi apa kabar mereka yang tidak memiliki kertas suci tersebut karena banyak alasan?

Yah, jangan salahkan pemikiran : ‘ Kalau ada cara instant, buat apa  susah-susah untuk menjalani proses belajar? Ya kumpulin duit dan beli aja lah.’ 

Eh, mungkin nggak ya, satu hari nanti, saya melihat iklan berbunyi ‘Dapatkan bermacam-macam sertifikat di semua cabang toko buku X! Beli satu ijazah Master, dapat satu Ijazah S1, GRATIS!’

Eh atau, tiba-tiba ada toko buku online yang memasang banner : ‘Dapatkan sertifikat kursus ijazah doctoral dengan potongan harga 20% dari harga di toko buku X. Beli satu, dapatkan bonus novel <strong>Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan </strong>atau <strong>Indonesian Idle</strong>” 

*Iyyyyaaaa, kamu, hey kamu yang di sana, ini sangat nggak penting. Mukanya biasa aja dong!*
]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Anak Kedua Saya : Istoria da Paz</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/01/anak_kedua_saya_istoria_da_paz.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.97</id>
   
   <published>2008-01-29T05:54:51Z</published>
   <updated>2008-01-31T01:54:13Z</updated>
   
   <summary> mbak okke... waaaw, i&apos;m so ecstatic! senang sekali bisa menjadi &apos;teman&apos; walau hanya dalam dunia FS. first off, thanks for approving my friend request y, mba. i&apos;ve been dying to congratulate u for ur recent book published, &apos;istoria da...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="novels" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<blockquote>
mbak okke...<br /> <br /> waaaw, i'm so ecstatic! senang sekali bisa menjadi 'teman' walau hanya dalam dunia FS.<br /> <br />first off, thanks for approving my friend request y, mba. i've been dying to congratulate u for <strong><u>ur recent book published, 'istoria da paz'. keren! i believe that as of this morning (after finishing ur book), i have seriously fallen for ur (fictional) character, Dion. waaaaaaaaa... a tall handsome selfless guy? duh, nyari dimana ya tuh, mba, yg macam gt hari gini? hohoho</u></strong>.<br /> <br /> sebenernya udah impressed banget sejak baca 'indonesian idle'. i love it a lot. soalnya saya ngerasa bener-bener bisa relate sama ceritanya. as i am so much the rookie girl that is still in search of her so-called 'dream job'. hehe.<br /> <br /> yang jelas saya suka banget sama gaya penulisan mba okke di kedua novel itu. very honest. simple yet endearing... u MUST continue writing yha, Mba. no matter what!:) Semangat!<br /> <br /> meanwhile, take good care.<br /> and gbu. 
</blockquote>

Itu <em>comment </em>terakhir dari <a href="http://profiles.friendster.com/6483761">Tessa Intanya </a>di friendster saya. Yang ada saya bengong dan mikir : "Lah? Novel saya sudah keluar lagi ya?"

Saya jadi semakin yakin ketika malamnya, <a href="http://jennyjusuf.blogspot.com">Jenny </a>mengirimkan SMS dan semakin yakin lagi dan lagi setelah membaca komentar <a href="http://blog.sepatumerah.net/2008/01/kalau_saja_saya_menjadi_seoran.html#comment-1805">t.w di entry yang sebelumnya</a>.

Buset. Saya kemana aja ya?

Jangan dijawab, itu pertanyaan retorik. Saya sudah kembali lagi ke bumi Lorosae tercinta, dan kembali berjauhan dengan sarana komunikasi.:D. Makanya <a href="http://blog.sepatumerah.net/2007/09/the_art_of_samen_leven.html#more">kasus saya tidak ikut menyertai kelahiran anak pertama</a>, terjadi lagi pada kelahiran anak kedua.

Tapi, ya sudahlah. Yang penting ini.

Telah lahir anak ke-dua saya : Istoria da Paz : Perempuan dalam Perjalanan. Dapatkan di toko buku- toko buku terdekat. ;-).<em> I am oh so excited </em>:)



--------------------------------

<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/istoria-da-paz.jpg"></div>


<em>Putus. Adalah hal yang menyakitkan bagi setiap orang. Termasuk Damai Priscilla, seorang editor yang bekerja di sebuah penerbitan. Dalam keadaan sangat hancur, ia mendapat tugas untuk membukukan kisah seorang guru ‘Sekolah Damai’, sebuah sekolah alternatif bagi anak-anak pengungsi Timor Leste yang berada di camp pengungsian di Timor Barat.

Untuk itu ia harus melakukan perjalanan menemui sang guru dan mengalami banyak hal 

Istoria da Paz*: Perempuan dalam perjalanan. Bukan cerita tentang perempuan bernama Damai, seorang editor yang patah hati. Bukan juga cerita tentang Sekolah Damai. Tapi ini kisah perempuan yang mengalami perjalanan mengubah sudut pandangnya tentang kehidupan.</em>

.....

Masyarakat belum bisa terima perbedaan nilai. Berhubung yang umum dalam masyarakat adalah menikah, maka buat orang yang belum menikah, atau bahkan memutuskan untuk tidak menikah, akan dianggap aneh. Maka beramai-ramailah mereka memercayai bahwa mereka normal jika menikah.
<strong>Arimbi Pramudhita, feature editor ‘Destination’</strong>

Kenyamanan ini membuat kita berhenti mencari, padahal proses pencarian itu belum selesai.
<strong>Enrico Stephanus, tattoo artist</strong>

 Well, mungkin perjalanan dan pertemuan dengan orang plus suasana baru bisa membantu lo menata hati.
<strong>Julia Sastrawijaya, editor Codex</strong>

Jalan hidup manusia itu seperti garis, walaupun tidak lurus. Suatu saat mungkin terjadi persilangan, perpotongan atau persentuhan antara garis jalan hidup masing-masing.
<strong>Dionysius Alexander, pekerja sosial</strong>

]]>
      
   </content>
</entry>

</feed>
