<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
   <title>blog.sepatumerah.net</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/" />
   <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://blog.sepatumerah.net/atom.xml" />
   <id>tag:,2009:/5</id>
   <updated>2008-12-06T14:05:25Z</updated>
   
   <generator uri="http://www.sixapart.com/movabletype/">Movable Type 3.31</generator>

<entry>
   <title>Apaa? Menulis Jujuur?</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/12/apaa_menulis_jujuur.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.151</id>
   
   <published>2008-12-05T18:44:54Z</published>
   <updated>2008-12-06T14:05:25Z</updated>
   
   <summary>Sayang, tadi siang, saya membaca entri di blog seseorang,lho. Terus, entri itu membuat saya terus menerus berpikir. Eh, saya nggak online lama-lama kok, lha wong niat saya cuma online kilat, mengecek satu kiriman penting via e-mail. Sumpah. Ehm, iya sempet...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[Sayang, tadi siang, saya membaca entri di blog seseorang,lho. Terus, entri itu membuat saya terus menerus berpikir. Eh, saya nggak <em>online </em>lama-lama kok, lha wong niat saya cuma <em>online </em>kilat, mengecek satu kiriman penting via <em>e-mail</em>. Sumpah.

Ehm, iya sempet <em>blogwalking</em>. Dikiiit kok. Ih, bukannya saya nggak disiplin, kan sambil menunggu <em>log in</em>.

Ih, kau mau dengar cerita saya nggak sih, Sayang? Makanya diem dong. Bawel bener.

Sebenarnya sih bukan isi entrinya yang panjang sepanjang-panjangnya, tapi hanya satu kalimat dari sekian banyak karakter yang ada di sana (yang kebetulan tertangkap dari hasil membaca sekilas). Menulis itu harus jujur.

Jujur. JUJUR! Bukan Bujur. Ih. Kamu nih.

Pokoknya intinya, menulis itu harus jujur –dan bukan bujur- dari hati.
]]>
      <![CDATA[Saya jadi ingat, pernah bilang itu pada <em>*sensor*</em>, yang pernah mengirim draft novelnya sebelum disubmit ke <em>*sensor*</em>. Saya nggak meragukan kemampuan menulisnya sama sekali, tapi, begitu membaca keseluruhan <em>draft</em>, saya menemukan ada sesuatu yang ganjil. Gaya bertuturnya mirip dengan penulis novel-novel <em>bestselling</em> yang bernama <em>*sensor*</em>. Saya ngerasa ‘dia’ hilang dan kalau boleh saya bilang, <em>he’s trying too hard to be *sensor*</em>.

Dan saya bilang ‘Lo bohong sama diri lo sendiri.’

Lalu keluarlah seluruh petuah-petuah sok tahu saya, bahwa menulis itu harus jujur. Jujur dengan cara bertuturnya, jujur dengan apa yang ingin dia sampaikan. Jujur menjadi diri sendiri.

Dia tidak melawan. Tapi tidak pernah menghubungi saya lagi. Sepertinya dia membenci saya. Ya sudahlah. Nggak tau juga ya, Say. Iya, mungkin kau benar, saya nggak jago berdiplomasi.

Kemudian, ke-sok-tahuan saya muncul lagi, ketika saya melihat gejala ‘berubahnya’ tulisan seorang teman. Awalnya, seperti <em>*sensor*</em>, ketika sedang dekat dengan saya tiba-tiba mirip saya, bahkan saya sempat jengkel mampus, ketika melihat semua entri di blognya plus beberapa draft novelnya memiliki cara bertutur yang mirip, bahkan penggunaan beberapa istilah yang sama plek-plek. Saya sempat menjauh gara-gara itu, karena malas. Tapi sejak dekat dengan <em>*sensor*</em>, gaya menulis orang tersebut pun berubah.

Bedanya dengan orang pertama, orang yang ini –dasar kritis dan bawel – langsung mengeluarkan argumennya : Karena gue sedang belajar, Mbak. Gue belum nemuin cara bertutur gue sendiri, apa salahnya gue belajar dari orang-orang?

Yah, waktu itu, saya cuma mengangkat bahu. Dan tidak terpikir lagi soal ini, sampai tadi, pas membaca entri panjang yang saya sebutkan di awal.

Menulis itu harus jujur. Menulis itu harus dari hati.

Dalam hitungan hanya dua bulan lebih dua minggu, pemikiran saya berubah. Dulu saya setuju. Tapi sekarang, saya malah menganggap kalimat itu terdengar basi sebasi-basinya. Bahkan tadi sempat dibahas dengan teman saya, seorang yang pekerjaannya, sebut saja menulis di media massa (tapi bukan infotainment ya bo *kedip-kedip*). Ia bilang : menulis jujur –kalau lo kerja di dunia tulis menulis - tai kucing. Kalau terlalu jujur, lo nggak makan.

Lalu ia bercerita, betapa ia ingin sekali menulis impresinya dengan jujur tentang seorang public figure yang kebetulan diwawancarainya, tapi nggak bisa. Ia pasti digantung oleh chief editornya. Bahkan ketika ia menuliskan secara implisit saja, bagian itu langsung terkena suntingan dengan sadisnya. Juga ketika kebetulan ia mendapat tugas menulis artikel dengan topik yang tidak ia suka, maka baginya, jujur itu dari Hongkong, ia menulisnya malah tanpa ‘hati’. 

Ia sempat bilang, menulis jujur, mungkin bisa dilakukan di blog. Saya menolak mentah-mentah, karena teringat kasus seorang blogger –perempuan- yang bermasalah dengan pemerintahan Negara tetangga, karena ia ‘jujur-jujuran’ menulis tentang bobroknya pariwisata Negara tersebut. Dan, oh ya, baru-baru ini, ada juga kejadian yang cukup heboh, gara-gara seorang blogger slash penulis yang mengungkapkan dengan jujur tentang apa yang dirasakannya tentang pesta pemilihan pemimpin satu Negara. Berhubung, kebetulan opininya berlawanan dengan opini publik, maka banyaklah ia dicecar dengan komen-komen sadis.

Padahal kalau dipikir, itu kan blog mereka, tempat mereka menuliskan (dengan jujur) apa yang dirasa?

Kemudian, saya memikirkan diri saya sendiri. Apakah saya sudah menulis dengan jujur dan dari hati – baik di blog, di novel dan di mana-mana?

Saya rasa nggak. Banyak batasan-batasan yang kerap saya pikirkan sebelum menulis.  

Jangan cari gara-gara, misalnya waktu heboh-hebohnya blogger mencela sosok berkumis yang sering muncul di infotainment dengan menulis ‘Kenapa sih semua blogger ngeributin Roy Suryo? Penting?’

Jangan terlalu personal, misalnya menulis ada berapa langkah yang harus ditempuh dari kamar saya ke kamar mandi, jumlah gaji saya, nama pacar saya, harga hair wax saya, merk lipstick saya, Jaguar saya, apartemen saya…

Nggak, saya nggak punya Jaguar dan apartemen, itu kan misalnya, Say.

Kepikiran juga larangan dari penerbit : jangan mengandung pornografi dan SARA, yang sering saya terapkan juga di blog. Dan, jujur lagi, belakangan ini saya agak penasaran, soal batasan teks berbau pornografi. Apakah berciuman dan saling memagut, menggelinjang, buah dada yang bulat dengan puting merah jambu yang tegak akan membuat saya ditangkap, diarak keliling kampung dan dibawa ke penghulu untuk dinik --- eh itu mah, kalau kepergok berasyik masyuk ya? :D Tapi ngerti lah, apakah tulisan-tulisan tersebut bisa membuat saya bermasalah?

Saya nggak begitu suka love story yang menyek-menyek. Tapi seseorang pernah bilang “Lu tulis deh kisah cinta anak muda masa kini, pasti laku.” --- dan yah, saya sering sekali mempertimbangkan hal itu.

Saya terintimidasi dan sempat mengalami malas menulis ketika ada orang yang mempertanyakan ‘Lo kenapa sih nulis chicklit, nulis yang rada pinter dikit nape?’. Atau komentar yang mengatakan tulisan saya di blog berubah, tidak tajam dan analitis. 

Yup, menulis jujur, menulis dari hati itu cuma tai kucing kalau tulisan tersebut dinikmati oleh publik.

Memang, dari hasil blogwalking, ada beberapa orang yang bisa melakukannya, dan salut, walaupun harga yang harus dibayar lumayan mahal, jadi musuh publik misalnya atau malah berurusan dengan hukum. 

Dan untuk orang yang bekerja/berniat menjadikan tulis menulis ini sebagai penghasilan; hal ini menjadi nyaris tidak mungkin, mau seluruh draft novel lo ditolak karena nggak sesuai trend, mengandung unsur SARA dan pornografi? Mau dipecat dari media tempat lo bekerja? Lebih jauh lagi, mau nggak makan lo?

Kecuali kalau eksistensi orang tersebut di dunia ini sudah mantap, dengan novel/buku best seller, dicetak jutaan kopi, dikejar-kejar oleh PH yang berminat membuat film dari novel best sellernya, tulisan yang diminati banyak orang, menjadi rebutan para penerbit endeswey endeskoy. Kalau sudah begitu, baru kau bisa jual mahal, menulis apa yang kau mau, menolak tawaran ini itu. Tapi, tidak semua orang kan sudah mencapai kondisi tersebut?

Gitu deh, pokoknya, intinya, menulis jujur itu, tai kucing.

Sayang? Halo? Halooo?
Heh! Kau tidur ya?
Halooooo….

Tuut---tuuut---tuuut.

<strong>Update 06/12/2008 :</strong> Eh, tapi tiba-tiba saya keinget, beberapa tulisan 'jujur' yang saya baca, kerapnya berlindung dalam anonimitas, entah itu di zine, blog, newsletter, atau apa pun. Dan ada juga tulisan yang 'kelihatan'nya jujur, tapi ternyata itu digunakan untuk membangun image tertentu. :) Wah jangan-jangan memang selama ini, semua tulisan yang beredar di publik, memang nggak boleh jujur --- kalau mau mengekspresikan diri secara jujur, tulis saja di buku bertuliskan 'DIARY' yang diembos dan difoil, hardcover dengan halaman-halaman warna pastel dan berbau wangi. Oh ya jelas dong, yang pakai kunci. Tapi jangan hilangkan kuncinya.

:))]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Bahasa Dewa.</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/bahasa_dewa.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.150</id>
   
   <published>2008-11-27T21:10:06Z</published>
   <updated>2008-11-28T09:42:45Z</updated>
   
   <summary>Bikin pelatihan menulis asik, yuk. Kmu jadi pembicaranya. Begitu bunyi SMS seorang pria tampan dan single ini (hey, ladies! Come and get him! Hahaha, pis ah!) beberapa waktu yang lalu saat saya baru terbangun siang-siang gara-gara begadangan mengejar deadline pekerjaan....</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/18845151_7521c9a846_m.jpg" align="left" hspace="5"><strong>Bikin pelatihan menulis asik, yuk. Kmu jadi pembicaranya.</strong>

Begitu bunyi SMS <a href="http://profiles.friendster.com/17336702">seorang pria tampan dan single ini</a> (hey, ladies! Come and get him! Hahaha, pis ah!) beberapa waktu yang lalu saat saya baru terbangun siang-siang gara-gara begadangan mengejar deadline pekerjaan.

Pelatihan menulis asik? Maksyudnya?

Yah, saya memang asik kalau menulis (eits, nggak kena! Hihi), tapi seriously, saya sangat nggak bisa kalau disuruh membagi kiat atau mengajarkan cara menulis satu cerita fiksi. Doh. Saya menulis otodidak, nggak pernah belajar khusus. Makanya, kalau ada e-mail yang menanyakan hal itu, pasti saya mati gaya dan berakhir dengan memberikan beberapa URL yang memuat cara menulis. Atau, kalau tidak, saya cuma bilang, ngeblog deh, bagus buat latihan nulis. (Yup, sekolah menulis saya adalah blog.)

Akhirnya, dengan arwah yang belum terkumpul sepenuhnya, saya mulai bertanya-tanya, pelatihan macam apa yang dimaksud.

Oooh, ternyata itu hanya luapan kekesalannya karena diharuskan menulis ilmiah dengan bahasa ilmiah nan berbunga-bunga --- atau bahasa dewa.

<strong>Jadi, kita rubah mindset orang-orang, bahwa yang ilmiah itu nggak mesti serius, tapi asik. Kan yang penting esensinya, bukan bahasanya.
</strong>

Itu katanya lewat SMS.

Saya cuma cengar-cengir, padahal tadinya saya berharap, pelatihan itu benar-benar ada --- kalau ada, kan bisa tuh jajal jadi pelatih menulis (gayanyaaa…)
]]>
      <![CDATA[…

Saya masih ingat betul, ketika belum ada sebulan pertama saya berkuliah lagi <a href="http://www.fsrd.itb.ac.id/?page_id=16">di tempat ini</a>. Saya dan <a href="http://cmils.multiply.com">Mila </a>terbengong-bengong ketika mendengar seseorang mengajukan opininya dalam diskusi mata-kuliah-entah-apa-lupa. Filsafat Seni, kali ya? Atau Semiotika? Mbuh, lah.

Ni orang ngomong apa sih?

Apaan tuh? H-hegemoni? Dis-dis- apa? Diskursus? Semantika? Eti.. apa? Etimologi?

Naon sih?

Sungguh, sampai akhir pembicaraan, kami (atau saya aja ya?) nggak ngerti, orang itu ngomong apa. Maklumlah, sebagai perempuan awal dua puluhan yang bacaannya majalah fashion dan novel chicklit, bahasa-bahasa itu terdengar ajaib, secara kalau di majalah dan novel yang saya baca, istilah yang dipakai tuh : to die for hunk dan must have items, gitu lho. Hoho. Untungnya ada seorang dosen yang baik hati yang merujuk satu kamus ilmiah. Pelan-pelan saya berusaha untuk mencari arti kata-kata dewa yang disebutkan seseorang tersebut.

Yaelah, ternyata, artinya… gitu thok. Bahasanya aja yang keren. Sialan, ketipu bahasa. Padahal saya sempat lho, merasa minder, ngerasa diri paling hijau di dunia akademis. Belum makan asam garam menggeluti istilah-istilah (yang katanya) ilmiah.

Bukan berarti setelah memiliki primbon seperti itu, saya jadi gemar menggunakan bahasa dewa. Sumpah, sejujurnya saya alergi bahasa macam itu. Setiap saya membaca ulang paper yang saya buat menggunakan bahasa dewa, dengan aturan penulisan ilmiah yang, gitu deh, bosenin, Saya selalu terpikir,”Betapa membosankannya.” Atau “Tidak menarik.”. itu juga yang membuat saya malas ngoprek thesis orang lain --- karena bagi saya membosankan dan tidak menarik.

<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/sampah.jpg" align="right" hspace="5">Padahal, yang namanya paper, thesis, penelitian dan lain sebagainya itu seharusnya menjadi ‘sumber pengetahuan’ bagi masyarakat luas kan? Kalau misalnya kesan pertama yang didapat adalah membosankan atau tidak menarik (atau bagi orang awam pembaca novel chicklit dan majalah gawul kayak saya waktu awal kuliah *Saya gaul? Alah*; bahasanya nggak ngerti) --- gimana pengetahuan yang ada di dalamnya bisa tersebar luas? Makanya nggak heran, deretan buku ilmiah, kumpulan thesis dan penelitian dalam perpustakaan kampus, pasti penuh dengan debu --- hanya orang-orang tertentu yang sedang sial dapat tugas kuliah yang memanfaatkannya. Diperparah dengan aturan skripsi/thesis nggak boleh keluar dari perpustakaan --- maka taa-daa, thesis yang telah susah payah disusun menjadi sampah akademik yang menumpuk di perpustakaan.

Ketidaksukaan saya pada bahasa dewa itu juga berlaku sampai saya sendiri harus melakukan penulisan laporan penelitian thesis. Jangan ditanya berapa kali saya disuruh revisi tulisan setelah diingatkan ‘Ini tuh tulisan ilmiah’. Memang, saya tidak menulis ‘Plis deh, hari gini.’ Atau ‘Ya iya laaah’ di dalamnya, tapi bagi beberapa orang dosen, tulisan saya masih terlalu pop.

Kenapa juga musti dibedakan antara tulisan pop dan tulisan ilmiah? Kalau soal penggunaan EYD setepat-tepatnya untuk tulisan ilmiah saya setuju, tapi kalau disuruh nulis ribet, enggak.

“Yang penting kan esensinya, Pak.” Saya sempat nyeletuk. Tapi ya sudah, sejauh itu saja perlawanannya, daripada nggak lulus kan?

Memang, akhirnya tulisan laporan thesis saya disetujui --- yang mana sebenarnya saya agak penasaran, disetujui karena benar-benar sudah sempurna sebagai tulisan ilmiah, atau karena dosen-dosen pembimbing saya sudah putus asa? Eh tapi saya lulus kok.. artinya kan… eh, sebentar. Saya lulus karena saya layak lulus, apa karena dosen putus asa juga ya? Hahahaha.

Tapi tetap. Saya nggak suka. Ini berlaku juga untuk beberapa tulisan non fiksi yang menggunakan istilah bergaya di media massa, atau tulisan fiksi, yang menggunakan cara tutur berbunga-bunga puitis nan ribet. Kenapa? Karena dibutuhkan energi untuk menangkap esensinya.

Mungkin saya dangkal. Dan saya sempat membicarakan hal semacam ini dengan sesama rekan dangkal saya, membahas satu karya sastra yang menggunakan bahasa berbunga-bunga dan tidak lugas.

“Padahal kan inti ceritanya ini doang ya?” seru saya. 
“Duh, pakai doang, kayak sudah hebat aja lo…” celanya.
“Tapi iya kan?” dan saya pun menyebutkan apa yang saya tangkap dari bacaan saya.
“Iya sih.”
“Kenapa dong menuturkannya begini?”
“Ya suka-suka dialaaaah! Kali pengen terlihat intelek, atau emang orangnya ribet. Mbuh.”

Dan perbincangan kami tidak pernah sampai orgasm. Kepotong dengan pembicaraan lain.

Eh, iya, ada nih salah satu buku, catatan perjalanan --- yang sebenarnya menurut saya ilmiah, tentang kebudayaan di Flores, buku itu ditulis oleh seorang peneliti Belanda. Judulnya Ata Kiwan, ditulis oleh Ernst Vatter. Yang saya punya versi terjemahannya. <a href="http://www.antiqbook.nl/boox/akok/158457.shtml">Ini versi aslinya</a>, walaupun saya pernah mereview buku tersebut di multiply saya, tapi karena saya labeli contact, maka yang bukan contact saya tentu tidak bisa melihat --- tapi ada tuh yang membahas salah satu poin di buku ini, bisa dilihat di <a href="http://sipriseko.multiply.com/journal/item/44/Adonara_suka_berperang_gemar_merantau">sini</a>.

Banyak hal-hal yang menjadi pengetahuan di dalamnya, bahkan saya jadikan rujukan untuk thesis saya. Susah banget mendapatkan buku ini; adanya hanya di salah satu toko buku kecil di Flores. 

<em>Yang mana tiba-tiba saya ingat; <a href="http://www.facebook.com/home.php?#/profile.php?id=657199291&hiq=arra">ARRA</a>! Balikin buku gue! Itu termasuk buku langka tau!</em>

“Gila ni buku asik bener.” Itu adalah komentar saya. Seru. Tanpa meninggalkan laporan-laporan penting, hipotesa, serta riset-risetnya, Meneer Vatter ini tetap menceritakan dengan bahasa yang fun. Dan serius, beberapa orang teman juga senang membacanya --- reaksinya berbeda dengan ketika mereka membaca thesis/laporan ilmiah lain.


Eh tapi kebayang, ya, kalau di laporan riset saya menulis gini :

<blockquote>
Kan gini yah, waktu saya sampe di desa Mudakeputu, tau-taunya, nggak ada lho, orang yang menenun. Masyarakat setempat udah nggak nganggep aktivitas menenun itu adalah aktivitas turun temurun yang keren.
</blockquote>

Nggak lulus-lulus kali saya.

Hihi

Ahem, dengan memposting tulisan ini, berarti sama saja saya mencela mata kuliah Metodologi Riset yang pernah saya pegang selama bertahun-tahun. Sorry, deh. Saya terjebak sistem. Dan aturan. 

BTW, foto di atas adalah kerusuhan menjelang sidang thesis. Sementara yang di bawahnya adalah kumpulan 'sampah akademis' di perpustakaan fakultas seni rupa dan desain di sebuah institut negeri di Bandung *jelas bener ya?*

Huhuy!

<strong>Entri ini dipersembahkan untuk <a href="http://profiles.friendster.com/17336702">bapak Hutomo Adhi</a>, seniman yang sedang pusing thesis. S2 kok Komunikasi, mas.:))
</strong>]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Peraturan Dibuat Memang Untuk Dilanggar, Tapi...</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/peraturan_dibuat_memang_untuk.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.149</id>
   
   <published>2008-11-26T14:51:41Z</published>
   <updated>2008-11-27T04:35:55Z</updated>
   
   <summary>Katanya, sih. Ada sensasi tertentu rasanya, ketika kita melakukan perbuatan asusila yang melanggar peraturan.Adrenaline serasa dipacu. Hidup menjadi lebih hidup. Seru. Lalu, ketika berhasil melakukan itu, terlintas pikiran,&quot;Wah, gue pemberontak keren!&quot; Tapi ya bo, biasanya, orang kalau melanggar mah diem-diem,...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[Katanya, sih.

Ada sensasi tertentu rasanya, ketika kita  melakukan perbuatan <strike>asusila</strike> yang melanggar peraturan.Adrenaline serasa dipacu. Hidup menjadi lebih hidup. Seru. Lalu, ketika berhasil melakukan itu, terlintas pikiran,"Wah, gue pemberontak <strike>keren</strike>!"

Tapi ya bo, biasanya, orang kalau melanggar mah diem-diem, ngumpet-ngumpet. Ya nggak sih?

<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/Untitled-1.jpg">

</br></br>
<a href="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/Picture-131.jpg">
Klik ini </a>untuk melihat lebih jelas.
</div>]]>
      Lokasi : Sebuah rumah sakit di Kupang, sewaktu mengantar teman yang ternyata sakit malaria.
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Energi Yang Bertransformasi.</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/energi_yang_bertransformasi.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.148</id>
   
   <published>2008-11-20T19:58:08Z</published>
   <updated>2008-11-20T20:04:29Z</updated>
   
   <summary>Saya masih ingat, tujuh tahun yang lalu, waktu kami masih sama-sama awal dua puluhan, perempuan ini membuat saya ternganga-nganga karena ia memutuskan untuk menikah. Memang mereka telah berpacaran cukup lama, tapi buat saya yang waktu itu belum memikirkan menikah sama...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      Saya masih ingat, tujuh tahun yang lalu, waktu kami masih sama-sama awal dua puluhan, perempuan ini membuat saya ternganga-nganga karena ia memutuskan untuk menikah. Memang mereka telah berpacaran cukup lama, tapi buat saya yang waktu itu belum memikirkan menikah sama sekali --- lumayan membuat terkejut.

“Lo yakin?”

Dan ia pun mengangguk tegas. 

“Kenapa?”

Karena, ia bilang, mereka telah ‘berhasil’ melewati sekolah kehidupan lajang dan merasa cukup qualified untuk naik kelas; menikah dan menghadapi ujian demi ujian di jenjang ini. Dengan yakinnya ia bilang, bahwa selama ini energi mereka untuk mempertahankan hubungan telah teruji, tidak pernah habis; jadi ia yakin, akan terus punya energi untuk itu, walau apa pun yang terjadi.

“Lo nggak takut --- entar ternyata kenapa-kenapa setelah menikah?” celetuk saya iseng.

“..lagipula, gue dan dia itu sahabat yang nyoulmate banget. Apa sih yang perlu gue takutin dengan tinggal bersama dengan sahabat lo?”

Okay. Saya berhenti berkomentar iseng lagi.

Singkat kata, menikahlah mereka.

Selama ini saya tidak pernah melihat ada masalah yang berarti dalam hubungan mereka. Setahun kemudian mereka punya anak, lalu mereka menyicil rumah, lalu membeli mobil --- sedikit demi sedikit mereka membangun kerajaan mungil bertiga.

Manisnya.

Tapi dua minggu yang lalu, ia menceritakan hal yang cukup membuat saya terperangah. Ia sempat berencana untuk bercerai beberapa bulan yang lalu.

“Kami udah nggak cocok lagi.” Itu katanya.

Ah. Saya jadi bingung. Sewaktu awal menikah --- ia begitu yakin, bahwa pasangannya adalah ‘sahabat yang nyoulmate banget’.

“Gue udah capek.”

Dan dulu ia juga begitu yakinnya bahwa tidak akan pernah kehabisan energi untuk mempertahankan hubungan mereka. Sekarang kemana energi itu?

      Pada akhirnya memang mereka membatalkan rencana mereka, dan sampai sekarang mereka masih bersama.

Kenapa?

Karena, ketika mereka bertanya pada anak satu-satunya yang berusia enam tahun : ‘Kakak, kalau kakak tinggal berdua sama Ayah aja, atau sama Bunda aja, mau nggak?’. Maka sang anak menjawab : ‘Nggak mau. Kakak mau tinggal bertiga, sama ayah dan bunda.”

Saya salut pada mereka --- karena mereka pada akhirnya mencoba untuk memperbaiki hubungan, mengesampingkan keinginan pribadi, mendengar keinginan anak mereka. 

Tapi  saya jadi memikirkan perasaan mereka. Apakah usaha untuk ‘memperbaiki hubungan’ itu berhasil? Kalau berhasil syukurlah. Tapi kalau tetap pahit --- dan mereka harus terus bersama karena anaknya menginginkan, apa kabar ya?

Lalu, bagaimana rasanya berada dalam keadaan ‘dipaksa’ untuk tetap mempertahankan hubungan, padahal mereka sama sekali tidak punya energi untuk itu? 

Saya pernah memaksakan diri untuk berada dalam satu hubungan yang sebenarnya sudah tidak saya inginkan, baik pasangan saya (waktu itu) dan saya, berusaha untuk menerima masing-masing apa adanya. Kami berusaha mempercayai bahwa tidak ada orang yang sempurna. Tapi, ya itu…ada hal-hal lain yang membuat kami semakin lama semakin pahit dan sakit, sehingga kami kehilangan energi untuk bertahan. Bubarlah kami.

Apa rasanya menjalani hubungan seperti itu?

Duh, bahkan untuk mengingatnya saja saya malas.

Lalu, semalam saya mengobrol dengan seseorang. Ia telah menikah. Dan kami pun membincangkan tentang kehilangan energi untuk mempertahankan hubungan. 

Orang tersebut menyanggah, ia bilang, energi untuk mempertahankan hubungan itu tidak hilang; tapi telah bertransformasi dalam bentuk lain.

Kalau dulu mungkin rasa membutuhkan, rasa cinta atau apa lah yang menyek-menyek lain yang menjadi energi. Tapi setelah menikah menjadi tanggung jawab. 

Katanya lagi, banyak sekali pasangan, yang mampu bertahan dalam satu hubungan yang menyebalkan sampai menyakitkan, karena mereka ‘terlanjur’ (btw, ia mengatakan ‘terlanjur’nya sambil bercanda kok) masuk dalam institusi yang dilegalkan Negara dan agama --- dengan tambahan-tambahan tanggung jawab moral pada keluarga besar ini dan itu, plus anak. Mau keluar, rumit, terlalu banyak pertimbangan.

“Jadi bertahan itu karena kepaksa? Energinya karena energi kepaksa?” Tanya saya sekenanya.
“Karena bertanggung jawab. Energinya tanggung jawab.” Ralatnya.
“Terpaksa…”
“Iya, boleh deh. Buat beberapa orang berlaku juga kok.” Ia terkekeh.
“Jadi, hipotesa gue selama ini tentang menikah, bener dong.”
“Apa hipotesa lo?”
“Bahwa menikah adalah institusi yang penuh pemaksaan. Lo bener-bener diiket dan disuruh diem di sana. Kalau mau keluar, harus ngadepin segala keribetan dulu…” saya terkekeh dan ia menyambut kalimat saya dengan tawa.

“Tapi menikah bagus,kok. Belajar menjadi dewasa dan bertanggung jawab.” Pungkasnya.

Ups, menjadi dewasa dan bertanggung jawab?

Dan saya pun hanya bisa cengengesan.


   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Moral-moralan.</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/moralmoralan.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.147</id>
   
   <published>2008-11-16T12:37:09Z</published>
   <updated>2008-11-16T14:20:11Z</updated>
   
   <summary>Kemarin, saya nongkrong bertiga, dengan dua orang teman. Di sebuah tempat nyaman berwi-fi yang tidak perlu login. Saya sibuk &apos;sibuk&apos; mengganti header untuk blog lajang dan menikah, menambahkan tagline karya ibu Bintangtary, pemenang lomba tagline ini. Bukan pekerjaan sulit, jadi...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/nude.jpg" align="left" hspace="10">Kemarin, saya nongkrong bertiga, dengan dua orang teman. Di sebuah tempat nyaman berwi-fi yang tidak perlu login. Saya sibuk 'sibuk' mengganti <em>header </em>untuk <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com">blog lajang dan menikah</a>, menambahkan tagline karya <a href="http://bintangtary.multiply.com">ibu Bintangtary</a>, <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com/2008/11/lajang-dan-menikah-sama-enaknya-sama.html">pemenang</a> <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com/2008/11/lomba-berlomba-dilombakan.html">lomba tagline ini</a>. Bukan pekerjaan sulit, jadi sebenarnya sudah selesai dalam lima belas menit. Tapi saya masih browsing sana-sini tak tentu arah. Sementara dua teman saya ini sibuk membahas tentang <strong>moral</strong>.

Berawal dari pertanyaan salah seorang dari mereka, yang menanyakan konsep tinggal bareng yang ada dalam novel <a href="http://blog.sepatumerah.net/2008/01/anak_kedua_saya_istoria_da_paz.html">Istoria da Paz : Perempuan Dalam Perjalanan</a>. Dia bertanya, kenapa saya membuat sang tokoh tinggal bareng.

Jawab saya : karena saya mau. Kan saya yang nulis? (haha! Jedig!). Tidak ada alasan, bahwa itu adalah fenomena umum masa kini atau apa. Hanya itu. ]]>
      <![CDATA[Anyway, lalu perbincangan berlanjut. Orang tersebut kemudian mengeluarkan opini, bahwa novel-novel (dan film-film) sekarang, banyak yang 'sok-sok' mendobrak batas moral, entah itu ditunjukkan dari cara hidup (seks bebas --- ini dia yang menekankan), cara ungkap (pengucapan/penyebutan perkelaminan yang vulgar) dan seterusnya-seterusnya, hanya demi mencari sensasi. Agar bukunya laku.

"Ya nggak sih?" tanyanya meminta persetujuan saya. 
"Mbuh..." Saya hanya mengedikkan bahu. 

Yah, saya tidak bisa membaca pikiran para penulis/para pekerja film. Manalah saya tahu apa tujuan mereka menulis atau membuat hal - yang - disebut - oleh - mbak - tersebut - melanggar - batas - moral. 

Tapi satu hal yang saya pegang : ketika mencipta, penulis (dan juga perupa) adalah tuhan. Jad suka-suka mereka, mau menulis apa pun. Baru ketika sudah di'lahir'kan ke-dunia, karya-karya tersebut akan 'hidup' sendiri, dihidupkan oleh penikmat(atau pembenci)nya.

Saya hanya setengah-setengah mendengarkan perdebatan mereka (Lagi sibuk browsing, ingat?). Pokoknya saya menangkap, perbincangan mereka bergerak ke arah pembahasan <strike>R</strike>UU APP yang diributkan dari dulu itu. Kalau dulu ini dibahas, saya akan sangat semangat menanggapi, tapi sekarang, malas. 

Sebenarnya ini perdebatan pro dan kontra yang banyak terdapat di milis-milis dan group di Facebook lah. Heboh sendiri, tak berujung. Masing-masing membawa pemikirannya sendiri.

Saya agak rela sedikit mengalihkan perhatian dari <a href="http://www.crochetpatterncentral.com/">website ini</a> (ya,ya, emang saya sedang tergila-gila bermain benang), ketika teman saya yang pro UU ini mengait-ngaitkan ke masalah moral. Dia bilang, bahwa moral bangsa sudah rusak. Pelaku seks pra nikah semakin banyak, pelecehan seksual semakin banyak dan yadda-yadda. Semuanya karena terinspirasi benda-benda berbau porrrno yang beredar bebas, dan cewek-cewek yang sliweran pamer banyak bagian tubuh. Dengan diberlakukannya UU ini, maka setidaknya moral bangsa terutama anak-anak akan terjaga.

BTW, untuk bagian pelecehan seksual saya masih mempertanyakan, apa iya itu terjadi karena terinspirasi benda-benda berbau <a href="http://blog.sepatumerah.net/2007/03/tentang_porrrrrrrrno.html">porrrrrno</a>? Karena <a href="http://blog.sepatumerah.net/2008/01/kambing_berlipstik_saja_bisa_d.html#more">menurut saya pribadi, itu sih karena emang otak pelaku saja yang ngeres</a>, tapi saya malas beradu argumen dan terlibat lebih jauh lagi dalam pembicaraan.

Sebenarnya saya bisa 'melihat', maksud orang tersebut 'positif'. Ingin menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang baik *tsah*. Tapi dia <em>ngomongin </em>moralnya terlalu menitik beratkan ke satu hal <em>thok</em> --- berkutat di masalah seks pranikah, pelecehan seksual, perkosaan dan seluruh hal yang berbau-bau esek-esek. (Yoowlo, esek-esek... istilahnyaa..) Ya,ya, saya tahu ia melakukan ini untuk memperkuat argumennya, tapi mbok ya'o. Berapi-api sekaliii..

Padahal, kalau kata <a href="http://en.wiktionary.org/wiki/moral">wiktionary </a>: <em>Of or relating to principles of right and wrong in behaviour, especially for teaching right behaviour.</em>. Jadi moral itu nggak semata berhubungan hanya dengan masalah begituan, thok. Ya nggak sih?

Saya setuju dengan pernyataan bahwa 'moral' bangsa telah rusak, banyak kok contohnya di sekitar kita : ada orang yang tega menyakiti orang lain dengan kejinya : membunuh, memotong-motong anggota tubuh orang lain sampai merebusnya! Ada orang yang merampas hak orang lain. Ada anak kecil bunuh diri. Ada pencampuran bahan-bahan berbahaya untuk badan pada makanan sampai banyak memakan korban. Ada kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan terhadap kelompok lain yang tidak memiliki kesamaan opini. Lalu untuk contoh-contoh sederhana dan sangat sehari-hari; seperti ABG-ABG di sebuah universitas yang saya datangi untuk satu keperluan, berlalu lalang melenggang kangkung dengan sepatu kotor di depan janitor yang sedang susah payah mengepel, Ada yang buang sampah sembarangan. Ada yang mengutil di supermarket demi kesenangan pribadi. Ada yang bergosip-ga-penting-di-TV.

Semua contoh itu apa kabar? Kalau memang ingin menyelamatkan  moral 'anak bangsa', kenapa kok nggak ada ribut-ribut juga dibuat rancangan undang-undang (dan disahkan?) untuk 'mengajari <em>semua </em>perilaku benar dan salah' ? (tapi kalau semua hal dibuat undang-undang, most likely, saya pindah negara aja deh. Haha)

Anyway, kemarin mood saya sedang nggak pengen ribut-ribut. Karena saya tahu nggak akan ada ujungnya. Di luaran saja nggak ada ujungnya, belum ada solusi yang menyenangkan kedua belah pihak --- apalagi kalau dalam kelompok kecil macam kemarin. Yang ada malah membuat suasana nongkrong yang seharusnya menyenangkan jadi bete. Eh, mereka lho yang bete, bukan saya, soalnya hal yang menguasai pikiran saya adalah, bagaimana saya bisa mencapai <a href="http://www.tikijne.co.id">tempat ini</a> (bukan iklan) sebelum tutup, untuk mengirimkan hadiah pada Ibu <a href="http://Bintangtary.multiply.com">Bintangtary</a>. (Hey, Bu, sudah dikirim ya hadiahnya -- nyampenya kalau nggak Senin, ya Selasa. Semoga suka)

Btw, gambar ilustrasi, saya buat dan pernah muat di blog lama saya duluuu, banget. Mungkin para blogger lama (tahun 2000-an awal) ada yang masih ingat. :D

*hela nafas*

Saya kangen suasana 'blogosphere' jaman dulu, di mana setiap melangkah, eh mengklik, akan terjadi fenomena 4L, Lu Lagi, Lu Lagi. :))]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Odesaiko&apos;s Chronicle : Insomnia Keparat</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/odesaikos_chronicle_insomnia_k.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.146</id>
   
   <published>2008-11-11T08:06:14Z</published>
   <updated>2008-11-11T08:08:28Z</updated>
   
   <summary></summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="Odesaiko&apos;s Chronicle" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center">
<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/insomnia_odesaiko.jpg">
</div>]]>
      Odesaiko memutuskan untuk kerja freelance aja, nggak mau ngantor dan terikat lagi. Maksudnya supaya dia bisa punya banyak waktu luang. Tapi, yang ada Odesaiko malah bosen dan terkena insomnia akut, setiap hari susah tidur.

Mungkin sudah waktunya Odesaiko melamar kerjaan lagi.
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Bekerja Merubah Dunia. *Tsah!*</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/bekerja_merubah_dunia_tsah.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.145</id>
   
   <published>2008-11-10T07:43:19Z</published>
   <updated>2008-11-10T08:00:35Z</updated>
   
   <summary>Betapa selama ini saya merasa telah menjadi pahlawan, agent of change --- hanya karena saya memutuskan untuk turun langsung ke jalan. Dan jujur saja, saya menikmati guyuran pujian dan kekaguman orang banyak setiap saya menceritakan kesulitan yang saya hadapi di...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="Cerita Dari Jalan" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[Betapa selama ini saya merasa telah menjadi pahlawan, <em>agent of change</em> --- hanya karena saya memutuskan untuk turun langsung ke jalan. Dan jujur saja, saya menikmati guyuran pujian dan kekaguman orang banyak setiap saya menceritakan kesulitan yang saya hadapi di lapangan.

<em>
‘Gue kagum sama lo, lo berani turun berkotor-kotor langsung...’
‘Lu nggak takut apa?’</em>

Bahkan, saya pun begitu bangga, ketika ada yang bilang saya gila.
<em>
‘Lu gila, ninggalin kemapanan yang lo punya, untuk hidup nggak jelas gitu?’</em>

Dalam hati saya bilang ‘Ya iyalah, saya nggak cuma ngomong.’

Kepala saya membesar, hidung melayang… Sampai…

…

Hari itu perpisahan, hari terakhir kelas kami --- sekaligus penghujung kontrak saya sebagai relawan. Ada murid yang sudah mempersembahkan nyanyian, kami sudah bertukar cenderamata. Tiba-tiba seorang remaja putri maju, berkata bahwa ia bersama teman-teman sekelas telah menciptakan puisi perpisahan dan ingin membacakan puisi tersebut.
]]>
      <![CDATA[<div align="center"><img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/lopal_youth.jpg"></div>

Namun tawa saya lenyap begitu mendengar kata demi kata dalam puisi mereka. Berkali-kali saya menelan ludah. Dan saya merasa tertampar begitu mendengar satu bait, yang mengatakan :

<em>Di sini, selama kita bersama, kami mendapat banyak hal baru.
Tapi nanti, saat kita berpisah.
Kakak di sana, kami di sini…
Apa yang akan terjadi?
Bagaimana dengan kami?
</em>

Dueng..

Belum lagi, saat pulang, tiba-tiba, Zitu, salah seorang murid saya, tiba-tiba menghampiri dan menyerahkan bandul kalung salib. Katanya, salib itu pemberian kakeknya --- dan dipercaya dapat melindungi diri dari segala hal-hal jahat. Ia ingin saya memilikinya --- supaya saya terlindung, sampai pulang ke ‘tana Jawa’.

“Memangnya kamu nggak perlu itu, buat melindungi kamu?” Tanya saya.
“Saya tidak perlu perlindungan, di sini pasti akan begini-begini saja .”

Dueng.

Saya benar-benar tertohok dan berpikir kembali. Harus saya akui saya benar-benar belajar banyak hal selama di lapangan. Akhirnya saya merasakan sendiri, apa yang dikatakan oleh <a href="http://360.yahoo.com/rumiko_ishiura">Rumiko</a> saat saya bimbang di awal kontrak saya. Rumiko <a href="http://blog.sepatumerah.net/2007/08/sekolah_kehidupan_sebuah_curha.html#more">bilang, ”It was the best year of my life”</a> dan memang, pengalaman setahun itu benar-benar berharga untuk kehidupan saya. Perubahan --- tentu, saya merasakan banyak sekali perubahan dalam kehidupan dan cara saya berpikir serta menyikapi kehidupan. (Mudah-mudahan perubahan ini adalah perubahan ke arah ‘saya yang lebih baik’. Amin.)

Tapi… apakah mereka juga mendapatkan ‘sesuatu yang berharga’ selama saya di sana? Apa sih sebenarnya fungsi saya selama itu di tempat ini? Apakah saya benar-benar telah membuat sebuah perubahan yang signifikan? Apakah kehidupan mereka menjadi lebih baik setelah saya pergi?

Sepertinya tidak.  Saat saya pergi, saya masih melihat bahwa mereka, ya begitu-begitu saja.

Dan saya pun mengakhiri kontrak kerja relawan itu dengan penuh kepahitan. Saya merasa telah membuang waktu saya untuk tidak melakukan apa-apa, cuma sekedar ‘pindah ke tempat’ yang lebih rock ‘n roll, memperkaya diri dengan pengalaman dan pembelajaran hidup, tapi tidak memberikan apa-apa sebagai balasannya. 

(Bahkan sampai sekarang, saya sering merinding sendiri setiap bangun pagi-pagi, mendapati bahwa saya berada di rumah dan membayangkan, mereka masih tidur, beraktivitas dan menjalani kehidupan yang sama, seperti sebelum dan saat saya ada di sana.)

Itu sebabnya, saya jadi malas menceritakan pengalaman saya selama di sana belakangan  ini. Malah, saya pernah membentak seseorang yang ‘memaksa’ saya bercerita, setelah saya bilang ‘Males ah, nggak ada apa-apa, biasa aja kok.’. 

Dari sejak awal saya menjejakkan kaki kembali ke ‘tana Jawa’, saya berjuang untuk menyingkirkan semua hal yang berkenaan dengan setahun kontrak saya itu dan mulai pura-pura nggak tahu plus tidak peduli saja dengan semua hal. Soalnya, saya pikir, kadang-kadang ketidaktahuan dan ketidakpedulian itu menguntungkan dan membuat pikiran jadi tidak rumit.

Sampai…. 

Gara-gara sebuah entri di blog yang sering saya kunjungi, saya menemukan tautan ke sebuah blog lain, lalu membaca <a href="http://themirath.blogspot.com/2008/11/warna-timor-1.html">entri ini</a>. Selama beberapa saat saya kembali mengomel-ngomel nggak karuan sendiri. Mood swing super nggak jelas. Argh!

…
Semalam, saat nyaris terlelap gara-gara kelelahan menemani <a href="http://nitablogsat.blogspot.com">ibu ini</a> tour the factory outlet seperti layaknya orang-orang Jakarta lain (hi Nit!), saya ditelepon seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah menelepon saya. 

Dulu, kami kerap menghabiskan waktu-waktu kami secara berkualitas (haha!), membincangkan omong kosong tentang dunia. Dia yang dengan gagah berani terjun berkotor-kotor ke lapangan terlebih dahulu, dan konsisten sampai sekarang. Dia juga yang terus menerus ‘mendoktrin’ saya untuk menguatkan hati dan berani.(dan berhasil, sialan kau!)

“Bahkan burung pipit yang kecil dan bunga bakung di ladang saja nggak kesusahan kok di jalan, padahal mereka ga dapet gaji sebulan sekali…’ itu katanya berulang-ulang.

Dan saya jawab,”Masalahnya aku bukan sebangsa flora dan fauna, Bang.”

Sesi bertelepon semalam dipenuhi oleh keluh kesah saya yang merasa tidak berguna dan seterusnya-dan seterusnya. Tapi sialan, setelah saya ngomong panjang lebar sampai berbusa-busa, jawabannya cuma satu.

“Ya iyalah, kau kecewa. Makanlah itu kesombongan.” Cetusnya --- walaupun dengan nada bercanda --- tapi, ouch! Tajam juga. Saya sampai tidak mampu protes lagi, gara-gara tertohok oleh kalimatnya.

“Tapi wajar sih sombong, manusiawi. Banyak kok orang-orang yang melakukan kerja beginian sedikit, kemudian blagu --- bilang ‘hey, I’ve done something for the society!’”

Dueng lagi. Walaupun saya tidak pernah berkoar-koar seperti itu, tapi sebenarnya saya sering berpikir demikian, apalagi kalau ‘diserang’ oleh orang-orang yang bilang “Lu ngapain sih kayak gitu-gituan?”. *sumpahjadimalusaya*

Ada banyak hal yang menjadi pencerahan bagi saya dalam sesi bertelepon semalam. Yang pertama, bahwa bekerja ‘memperbaiki dunia’ *alamak, bahasanya.* adalah pekerjaan akbar, yang tidak mungkin dikerjakan secara perseorangan, alangkah tidak pantasnya jika seseorang menepuk dada dan bilang ‘Nih! Gue melakukan sesuatu. Elu bikin apa?’ --- hanya gara-gara ia ‘berani’ turun langsung ke lapangan. Semua orang yang memiliki pemikiran dan kepedulian yang sama untuk ‘memperbaiki dunia’, baik yang turun langsung ke lapangan, yang memutuskan untuk membantu dari tempat nyamannya menjadi donatur, yang jadi tenaga bantuan part-time, bahkan yang ingin dan masih takut-takut adalah satu tim yang saling berkaitan dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Kedua, “Kau lepaskanlah pikiran ‘aku di sini untuk bantu kalian’ --- karena itu akan membuat kau menempatkan orang yang kau bantu menjadi obyek. Dan ini akan membuat kau berpikir, kalau tidak ada aku, mampuslah kau…Kau jadi sombong! ” hehe, iya, si penelepon semalam memang batak tembak langsung yang sedeng dan kalau ngomong, sama sekali tidak diayak. 

Ketiga, bahwa perubahan adalah proses yang tidak instan. Buahnya tidak mungkin terlihat langsung, bahkan mungkin lima tahun sampai sepuluh tahun ke depan juga tidak. Tapi, ketika banyak orang yang memiliki satu pemikiran, perubahan itu pasti terjadi. Harus optimis dalam melihat segala sesuatu, bahkan untuk yang kecil sekali pun.

…

Sungguh, sesi bertelepon semalam membuat saya merasa lebih baik. :) Dan tidak terlalu pahit lagi. Perubahan sedang dalam proses, YunAe, Emma, Unnoe, KeeChul, Charles, Teguh, Michael, teman-teman yang meneruskan pekerjaan tim sebelumnya sedang bekerja. Dan juga orang-orang lain di seluruh dunia ini, yang memiliki pemikiran sama --- sedang mewujudkan perubahan itu.

Tsah!


 
]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Mecahin Jerawat...</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/mecahin_jerawat.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.144</id>
   
   <published>2008-11-06T08:36:14Z</published>
   <updated>2008-11-06T12:50:07Z</updated>
   
   <summary> Acne vulgaris (commonly called acne) is a skin disease caused by changes in the pilosebaceous units (skin structures consisting of a hair follicle and its associated sebaceous gland). Severe acne is inflammatory, but acne can also manifest in noninflammatory...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
         <category term="keseharian" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<blockquote>
<strong>Acne vulgaris </strong>(commonly called acne) is a skin disease caused by changes in the pilosebaceous units (skin structures consisting of a hair follicle and its associated sebaceous gland). Severe acne is inflammatory, but acne can also manifest in noninflammatory forms.[1] Acne lesions are commonly referred to as pimples, spots, zits, or acne.
<strong></br>
<div align="right">sumber : <a href="http://wikipedia.org">wikipedia</a>, tentunya.</div>
</strong>
</blockquote>

Entah kenapa, saya hobi mecahin jerawat :D. Semua orang yang melihat saya melakukan ini pasti berteriak histeris, "JANGAN DIPECAHIN! NANTI INFEKSI!" atau "NANTI BERBEKAS!". Tapi, ya itu, suka aja. Saya menikmati rasa sakitnya, sampai air mata meleleh-leleh dan saya menikmat ketika 'isinya' keluar berdarah-darah (Ewww!).

Untung nggak sering jerawatan :D

Anyway, sekarang saya (tumben) lagi seneng-senengnya menggambar, nih. Berhubung tadi pagi baru mecahin jerawat *pengumuman ga penting*, maka....

<div align="center">
<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/jerawat_partA.jpg">
</div>
]]>
      <![CDATA[<div align="center">
<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/jerawat_partB.jpg">
</div>

Ngomong-ngomong soal jerawat, sudahkah anda ikut "<strong>Lomba Cipta</strong> *biarin,<a href="http://brokolisehat.blogspot.com">Pop</a>! Biarin bahasanya jadul juga..* <strong>Tagline Lajang dan Menikah</strong>"? Yuk ikutan yuk... <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com/2008/11/lomba-berlomba-dilombakan.html">di sini</a>.

haha...]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Santun-Net</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/11/santunnet.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.143</id>
   
   <published>2008-11-04T04:38:12Z</published>
   <updated>2008-11-04T05:01:52Z</updated>
   
   <summary> Si saya ini terpesona begitu masuk ke salah satu warnet di Bandung sewaktu bulan ramadhan kemarin. Di meja operator tertulis : DILARANG BERISIK DAN BERKATA KASAR DALAM RUANGAN (mengganggu yang lain). UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MEMBUKA SITUS...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="cerita visual" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/ramadhan.jpg">
Si saya ini terpesona begitu masuk ke salah satu warnet di Bandung sewaktu bulan ramadhan kemarin. Di meja operator tertulis :

DILARANG BERISIK DAN BERKATA KASAR DALAM RUANGAN (mengganggu yang lain). UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MEMBUKA SITUS DEWASA, SANKSI DENDA 50.000, APABILA KETAHUAN MEMBUKA SITUS DEWASA.

Nggak kok, namanya warnetnya bukan Santun-net]]>
      <![CDATA[Eh, tapi semalam, saat saya berkunjung lagi kok sudah hilang pengumuman itu?

<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/non-ramadhan.jpg">

Ooo, ya, ya, memang semua hal tergantung pada <em>situasi, kondisi, tolerasi,pandangan dan jangkauan </em>(masih ada yang ngeh nggak sih dengan lima kata terakhir? Haha)

Udah ah, saya sedang asyik bermain-main dengan Alexa dan Adisti di <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com">sana</a>!

Oh ya, ada lomba buat tagline untuk <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com">blog lajang dan menikah</a> --- tungguin aja pengumumannya ;-)
]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Project Baru : Lajang dan Menikah</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/10/project_baru_lajang_dan_menika.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.142</id>
   
   <published>2008-10-27T08:49:29Z</published>
   <updated>2008-10-27T09:08:31Z</updated>
   
   <summary>Si Menikah &quot;Eh Mbak, saya ambil yang ini ya.&quot; &quot;Mas, tolong bungkus yang itu deh.&quot; &quot;Adududuh...bagus bangeeett! Beli gak beli gak beli gak.&quot; Itu saya, selama sejam belakangan ini. Sudah ada tiga tas plastik warna warni berisi syal, kaos, dan...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="project" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<u><strong><em>Si Menikah</em></strong></u>

"Eh Mbak, saya ambil yang ini ya."

"Mas, tolong bungkus yang itu deh."

"Adududuh...bagus bangeeett! Beli gak beli gak beli gak."

Itu saya, selama sejam belakangan ini. Sudah ada tiga tas plastik warna warni berisi syal, kaos, dan celana jins. Oh dan jangan lupa ikat rambut, kan rambut saya sudah panjangan.

Dan sekarang saya sedang memegang sebuah rok terusan warna hitam (efek melangsingkan, jangan lupa) bergaris horisontal warna merah dan coklat.

Kenalkan, saya seorang perempuan ( yang selalu berusaha tampak lebih) muda (dari usia sebenarnya) , beranak satu dan bersuami satu.

Tidak kelihatan ya dari belanjaannya?

Itulah saya, sering amnesia membelikan apapun untuk anak dan suami, sementara untuk kepentingan koleksi sendiri tidak pernah absen.

Satu-satunya masa di mana saya tidak pernah melupakan keduanya adalah saat belanja bulanan.

Misalnya kemarin malam.

Saya dan suami mendorong-dorong satu trolley penuh berisi susu, sabun anak-anak, kaos singlet putih, beberapa pasang kaos kaki dua jenis ukuran, shaving cream, coklat, french fries, dan sebagainya dan sebagainya. Untunglah anak kami sudah tidak perlu diapers. Bukan apa-apa, mahal!

Lah tuh belum apa-apa saya sudah mikirin mahalnya. Padahal rok terusan ini harganya tiga kali lipat harga diapers.



<u><em><strong>Si Lajang</strong></em></u>
Dasar cewek. Atau mungkin dasar saya saja ya. Tujuan utama sih membeli pembalut, tapi saya nyangkut ke setiap gerai. Dari kopi instan sampai deterjen. Dari body lotion sampai barang pecah belah. Doh. Dan kadang tidak berakhir sampai cuma lihat-lihat saja, sedikit demi sedikit keranjang saya dipenuhi oleh benda-benda yang ketika saya masuk ke dalam supermarket tidak masuk dalam rencana beli!

Anyway, gang yang mendisplay rupa-rupa pembalut justru saya sambangi belakangan. Saya mengambil satu bungkus yang isinya 48. Biarin, biar sampai bulan depan.

"Jangan yang merk ini, Mas. Mahal. Yang merek itu aja."

Saya mendengar sebuah suara perempuan. Dengan gerakan tidak ketara saya melirik. Perempuan itu bersama seorang lelaki, sedang memilih-milih diapers. Mereka terlihat menarik satu merk, mengembalikannya lagi, mengambil merk yang lain, mengembalikannya lagi. Lalu mengambil dua merk dan membandingkannya.

Saya jadi penasaran.

Maka terambillah satu.

Buset. Mahal.

Lalu saya lirik keranjang belanjaan pasangan tadi --- berisi susu bayi, perlengkapan mandi bayi. Lalu ada beberapa alat rumah tangga. Lalu ada cairan sabun cuci piring, ada deterjen ada obat pel.

Spontan saya melihat isi keranjang saya.

Kripik-kripik. Body lotion yang sebenarnya saya sudah punya, tapi yang satu tinggal setengah. Kopi instan --- dua jenis rasa, satu mochacino satu vanilla latte. Cheek brush untuk membalurkan eye shadow pink muda di pipi. Bagus lho, wajah anda bakal tampak bercahaya.

.............
]]>
      <![CDATA[Yah begitu lah, satu aktivitas yang sama, bisa jadi berbeda kalau dilihat dari dua sudut pandang, si menikah dan si lajang. Karena itu, bekerja sama dengan <a href="http://nitablogsat.blogspot.com">ibu ini</a> *halah, bekerja sama bo!*, kami membuat satu project yang kami beri nama<strong> <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com">Lajang dan Menikah. </a>
</strong>

Isinya? Ya, kumpulan cerita tentang <a href="http://lajangdanmenikah.blogspot.com">si Lajang dan si Menikah,</a> lah, masak resep masakan? :P

Enjoy!

]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Mimpi : Jangan Ditunda, Jangan Dibunuh.</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/10/saat_makan_siang_bareng_dengan.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.141</id>
   
   <published>2008-10-25T08:41:09Z</published>
   <updated>2008-10-25T12:32:54Z</updated>
   
   <summary>Jadi, gara-gara makan siang bareng dengan Ibu ini di Erla&apos;s Dago Pojok (Maaf ya, djeung Brok, minggu depan deh bersamamu.haha), ngobrolin tentang (salah satunya) film The Bridges Of Madison County, saya jadi tergoda untuk berburu DVD-nya. Dan dapat! Oh ya...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/paperplane.jpg" align="left" vspace="10" hspace="10">Jadi, gara-gara makan siang <em>bareng </em>dengan <a href="http://rradjahaba.multiply.com/">Ibu ini</a> di Erla's Dago Pojok (Maaf ya, djeung <a href="http://brokolisehat.blogspot.com">Brok</a>, minggu depan deh bersamamu.haha), <em>ngobrolin </em>tentang (salah satunya) film  <a href="http://www.imdb.com/title/tt0112579/">The Bridges Of Madison County</a>, saya jadi tergoda untuk berburu DVD-nya. Dan dapat! Oh ya film ini diadaptasi dari novel berjudul sama.

Ceritanya tentang seorang perempuan, Fransesca Johnson (Meryl Streep) seorang ibu rumah tangga yang (dulunya) memiliki <em>passion </em> untuk berpetualang --- tapi pada akhirnya ia memilih untuk menikah dan tinggal di Madison County, Iowa. Ketika sang suami dan anak-anaknya sedang pergi, datanglah seorang pria, Robert Kincaid (Clint Eastwood) --- fotografer National Geographic, yang ditugaskan untuk memotret jembatan di tempat tersebut.

Selanjutnya --- ketebak. <em>Affair</em>. Tapi dari hubungan mereka yang hanya beberapa hari tersebut, mimpi-mimpi Fransesca dibangunkan kembali dari tidur panjangnya. 

Akhirnya? Tonton saja sendiri. Dan saya juga tidak mau memberi bintang-bintang karena entri ini bukan <em>review </em>tentang film tersebut. :P

Tapi, ada satu hal yang 'mencolek-colek' saya, dan (rasanya) sih 'menyerempet-nyerempet' kehidupan ini, sampai akhirnya saya meninggalkan pekerjaan saya dan <em>online</em>, untuk menulis entri ini.

Bahwa mimpi itu, tidak boleh ditunda. Apalagi dibunuh.
]]>
      <![CDATA[Dan kalau berpikir bahwa mimpi itu bisa dibunuh. <em>Nggak </em>sama sekali. Misalnya, karena satu dan lain hal, alih-alih menjalani mimpi, kita memilih jalan lain. Selama itu, mungkin rasanya mimpi sudah mati (atau dipungkiri<em> "Ah, enggaaak, itu bukan jalan gue..."</em>). Tapi ketika mendapat rangsangan yang tepat, maka bangkitlah mimpi dari mati surinya.

Seperti mimpi Fransesca yang dirangsang <em>(uh!oh!)</em> oleh Robert.

....

Perlu 5 tahun untuk membunuh mimpi saya hidup di 'jalanan'. Sukses? <em>Nggak</em>. 

Dihapus dari memori? <em>Nggak </em>bisa. Dibuang ke<em> recycle bin</em>? Eh kayak virus (atau demit), balik lagi. Dipungkiri? Eh suara-suara 'panggilan' itu masih ada. Buset. Selama 5 tahun ganggu banget. Kemarin-kemarin saya sempat membongkar-bongkar arsip-arsip lama blog saya. Banyak sekali entri yang menjadi bukti betapa <em>menyek-menyek</em>nya saya ingin menjalani mimpi.

Sampai pada akhirnya kewarasan (atau justru kegilaan?) saya menguasai. Saya berpikir, ini harus saya lakukan, karena saya nggak mau suatu hari nanti, saya sibuk menyesali diri dengan kalimat-kalimat : 'Coba kalau.....'

Hasilnya? Setahun yang geblek. Hancur-hancuran.

Puas?

Banget.

Seseorang yang pernah dekat secara kasual dengan saya sebelum pergi pernah bertanya begini : 'Kalau loe ketemu gue sebelum rencana keberangkatan lo fixed, lo milih gue atau milih tetep jalan?'

Saya benci pertanyaan jebakan <em>kampret </em>macam itu. Dan, dengan gagah beraninya saya jawab : ' Ini menjalani mimpi, bukan jalan-jalan thok. Gue tetep jalan.'

Maka dicap egoislah, saya. Bukan olehnya saja saya dicap begitu, tapi oleh beberapa orang. Selain egois, juga tidak bertanggung jawab. (Hai kalian! Ayo ngaku! Haha). 

Mereka bilang, saya tidak peduli dengan perasaan orang-orang yang menyayangi saya karena saya pergi jauh dan bakal susah dihubungi. Mereka bilang, saya tidak peduli dengan masa depan saya dan hanya menuruti impuls sinting-nggak-jelas. Mereka bilang begini, mereka bilang begitu... ah sudahlah. Jengkel ngingetnya.

<em>Anyway</em>, selama nyaris dua bulan ini saya mendomestifikasi diri di rumah. Sebagai bayar hutang ketidakhadiran dan absennya komunikasi mendalam selama setahun lebih, sekaligus mengumpulkan amunisi. Dari kebersamaan orang-orang yang pernah dekat dengan saya --- saya baru menyadari bagaimana kepergian itu sedikit 'menggores' hati mereka. Mereka sedih. Kangen. Kuatir.

Sempat terbersit dalam pikiran, bahwa saya memang e g o i s.

Namun setelah lama berkontemplasi *tsah*, walaupun memang ada kemungkinan saya egois, saya kan hanya menjalani mimpi? Ini hidup saya --- kalau misalnya saya tidak melakukan apa yang saya harus lakukan, jika nanti ada penyesalan 'coba kalau dulu....', siapa yang akan merasakan? Bukan orang lain. Tapi saya.

Lagipula, kita tidak bisa menyenang-nyenangkan semua orang kan? Dalam setiap pilihan, selalu ada risikonya. Jalani saja. Itulah hidup.

Terutama mumpung masih bisa. Mumpung masih memungkinkan. Dan ohya, ini bukan cuma untuk yang bermimpi traveling saja kok, tapi semua mimpi. Sekali lagi s e m u a.

Yah begitulah. Dan mengingat betapa beruntungnya saya memiliki orang-orang terdekat yang kebanyakan mendukung, semoga saya bisa begitu juga, jika orang-orang yang saya cintai ingin meraih mimpi. :) Mereka harus melakukannya --- jangan sampai nantinya ada penyesalan 'coba kalau dulu....', apalagi kalau penyesalan tersebut disebabkan oleh : saya!

Karena, mengutip perkataannya Dalai Lama yang mendadak dikirimkan via SMS dua hari yang lalu oleh <a href="http://beyd.multiply.com">ibu ini </a>: <em>People take different roads seeking fulfillment n happiness. Just because they're not on your road, doesn't mean they've gotten lost</em>.

Saya tidak hilang. Dan saya percaya, jika nanti ada orang-orang yang dekat dengan saya dan hendak meraih mimpi --- mereka juga tidak hilang dari kehidupan saya. 

<strong>For you, baby. Yes. Have a nice (life) journey.</strong>

eh ampir lupa, ilustrasi ... biasa, dari <a href="http://www.gettyimages.com">situ</a>.]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>&quot;Istoria da Paz : Perempuan Dalam Perjalanan&quot; di Cleo</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/10/istoria_da_paz_perempuan_dalam.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.140</id>
   
   <published>2008-10-23T19:38:03Z</published>
   <updated>2008-10-23T19:41:29Z</updated>
   
   <summary> edisi November 2008. Thanks Mbak Herdiana! ;-)...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="novels" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center">
<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/cleo.jpg"><br>
edisi November 2008.
Thanks Mbak Herdiana! ;-)
</div>

]]>
      
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Terima Kasih!</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/10/terima_kasih.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.139</id>
   
   <published>2008-10-22T14:35:56Z</published>
   <updated>2008-10-22T17:34:54Z</updated>
   
   <summary> Terima kasih,ya teman-teman. Juga yang melalui facebook.diperbaharui jam 23.30 WIBkarena diprotes... iyaa, terima kasih juga yang sudah menelepon. Hahaha...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<div align="center">
<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/bdayyyy.jpg"><br><br>Terima kasih,ya teman-teman. Juga yang melalui facebook.<br><br><b>diperbaharui jam 23.30 WIB</b><br><br>karena diprotes... iyaa, terima kasih juga yang sudah menelepon. Hahaha</div>

]]>
      
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>100 : Memprospek Jemaat</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/10/100_memprospek_jemaat.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.138</id>
   
   <published>2008-10-17T11:04:17Z</published>
   <updated>2008-10-18T14:51:34Z</updated>
   
   <summary>&quot;Mbak, mbak ke gereja gue deh.&quot; &quot;Karena?&quot; &quot;Gereja gue tuh asyik, Mbak. Seru. Nggak kayak gereja-gereja lain.&quot; &quot;Oooo.&quot; Yah begitu lah secuplik konversasi dengan seseorang beberapa waktu yang lalu. Yang terlintas dalam benak saya &apos;Ternyata aktivitas prospek-memrospek itu bukan kerjaannya...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<em>"Mbak, mbak ke gereja gue deh."
"Karena?"
"Gereja gue tuh asyik, Mbak. Seru. Nggak kayak gereja-gereja lain."
"Oooo."</em>

<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/religion.jpg" align="left" valign="10" hspace="10">Yah begitu lah secuplik konversasi dengan seseorang beberapa waktu yang lalu. Yang terlintas dalam benak saya <em>'Ternyata aktivitas prospek-memrospek itu bukan kerjaannya MLM aja, gereja juga!' </em> Menurut orang ini, gerejanya seru -- tidak seperti gereja-gereja ortodoks yang tata ibadahnya kolot, ada <em>band </em>(maksudnya, perkara nyanyi-menyanyi diiringi <em>band</em>, bukan <a href="http://selebriti.kapanlagi.com/ada_band/">Ada band</a> yang ini), jemaatnya pemuda dan pemudi <em>funky </em>daaan seterusnya.

<em>Anyway</em>, buat saya, yang namanya masalah spiritual dan hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah masalah pribadi.

Untuk agama , yang penting esensinya --- berkomunikasi dengan Sang Penguasa Jagad. Alat komunikasi. Saya sering menganalogikannya dengan <em>handphone</em>, bentuk macam-macam, fasilitas macam-macam, esensinya, <em>yo </em>alat komunikasi, <em>iku</em>..

Eh,<em>ngemeng-ngemeng</em> soal <em>handphone</em>, jadi ingat, ada seorang ibu, membeli handphone dengan fitur ini dan itu, tapi pada akhirnya ya cuma buat menelepon dan mengirim pesan pendek, thok. Ck ck ck.

Kalau soal gereja/kelompok aktivitas agama? Ya cuma tempat. Wadah thok.Sebagai orang yang senang melakukan <em>tour de gereja</em>, saya nggak melihat ada yang buruk atau baik dari gereja kolot atau gereja <em>funky</em>, dan juga saya nggak melihat ada yang baik dan buruk dengan tidak pergi ke gereja. :P

Itu sebabnya saya tidak mudah terkesan dengan segala jaminan keselamatan (ketenangan etc etc) yang ditawarkan oleh agama ini-itu, plus fasilitas ini-itu yang disediakan oleh gereja / kelompok agama tertentu, ngga pentiiiing. 
]]>
      <![CDATA[Okay, kembali ke soal prospek memprospek. Ngapain sih, mereka-mereka yang berasal dari gereja / kelompok aktivitas agama tertentu sibuk-sibuk menjaring umat agar mau masuk ke gereja / kelompok aktivitas agamanya?

<em>Okay </em>lah, memang saya tahu, dalam setiap agama adanya kecenderungan untuk 'menyelamatkan' sesama manusia. Orang yang memutuskan untuk berpindah atau masuk ke agama/kepercayaan tertentu pasti akan disambut dengan riuh gembira oleh jemaat agama/kepercayaan tersebut : <em>Akhirnya kau menemukan keselamatanmu/jalan yang benar.</em> (dan, orang-orang yang 'ditinggalkan' akan berkomentar : dia murtad, tidak akan masuk surga nantinya.. dooh!)

Tapi, yang membuat saya bingung, seperti orang yang sempat berbincang dengan saya di atas, kenapa dia memrospek orang-orang dari 'agama' yang sama? Seolah-olah ingin mengumpulkan banyak jemaat di gereja / kelompok aktivitas beragamanya. Buat apa? 

*hela nafas panjang*

Tidak cukup sampai sana, saya menangkap adanya kecenderungan untuk sombong rohani. Menganggap, gereja / kelompok aktivitas beragamanya yang benar, yang lain <em>ke laut aje</em> (<em>ke laut aje</em> istilah tahun kapan ya?)

Kembali lagi, soal spiritualitas, menurut saya adalah masalah pribadi. Masalah bagaimana seseorang berhubungan dengan Sang Penguasa Jagad. Agama cuma hasil bentukan kebudayaan. Orang bebas memilih, mau 'bungkus agama' yang mana. Yah,  kalau diibaratkan <em>handphone</em>, agama tuh, semacam Nokia tipe sekian, Samsung tipe ini, Motorolla tipe itu. Saya pakai Nokia, karena alasan tersendiri. Anda pakai apa? *nggak penting*

Lalu? Gereja dan kelompok-kelompok aktivitas agama itu apa ya? Mmm, mungkin fitur-fiturnya ya? Diiringi dengan band dan memiliki jemaat muda yang <em>funky </em>itu ibarat fasilitas kamera, mp3, radio player dan 3G. Orang memilih sesuai dengan kebutuhannya (atau tidak sesuai juga boleh, asal gaya -- bebas! Hohoho)

Oh ya, konversasi di atas belum berakhir, di salah satu titik pembicaraan tiba-tiba ia berkata begini : 'Saya menemukan Tuhan di gereja yang ini."

Dan saya jawab : "Oh ya? Salam ya!"

<em>BTW, angka 100 untuk judul di atas, menandakan bahwa ini adalah <em>entry </em>ke-100 sejak saya menggunakan Movable Type. <a href="http://arsipblogblogblog.blogspot.com">Yang di blogger sudah 500</a>. Apa saya bikin buku saja ya, dari entri-entri blog saya?</em>

Haha.

ilustrasi, seperti biasa, <a href="http://gettyimages.com">gettyimages</a>.]]>
   </content>
</entry>
<entry>
   <title>Namanya Juga Usaha</title>
   <link rel="alternate" type="text/html" href="http://blog.sepatumerah.net/2008/10/namanya_juga_usaha.html" />
   <id>tag:blog.sepatumerah.net,2008://5.137</id>
   
   <published>2008-10-09T06:52:08Z</published>
   <updated>2008-10-09T07:29:14Z</updated>
   
   <summary>Sekitar tiga hari yang lalu saya mengantarnya ke stasiun, kami memang sengaja datang satu jam lebih cepat dari jadwal keberangkatan dan memanfaatkan waktu untuk mengobrol. Di tengah-tengah obrolan dan ketawa-ketawa, tiba-tiba datanglah seorang perempuan bertubuh gempal, mengenakan seragam provider sebuah...</summary>
   <author>
      <name>sepatumerah</name>
      
   </author>
         <category term="catatan kecil" scheme="http://www.sixapart.com/ns/types#category" />
   
   
   <content type="html" xml:lang="nl" xml:base="http://blog.sepatumerah.net/">
      <![CDATA[<img src="http://i15.photobucket.com/albums/a386/sepatumerah/asuransi.jpg" align="left">Sekitar tiga hari yang lalu saya mengantarnya ke stasiun, kami memang sengaja datang satu jam lebih cepat dari jadwal keberangkatan dan memanfaatkan waktu untuk mengobrol. 

Di tengah-tengah obrolan dan ketawa-ketawa, tiba-tiba datanglah seorang perempuan bertubuh gempal, mengenakan seragam <em>provider </em>sebuah GSM (atau CDMA, entahlah, saya tidak tahu pasti, nggak pernah ngikutin) baru. Sambil membawa produknya, ia bilang “Permisiiiii… boleh ganggu yang pacaran nggak?”

Saya dan dia berpandang-pandangan dan dia bilang “Nggak tuh,Mbak.” – saya tahu maksud dia bercanda, karena dia mengatakannya sambil cengengesan, tapi mimik wajah perempuan bertubuh gempal tersebut berubah 180 derajat, dari yang senyum-senyum sumringah dan bahagia, jadi kecewa.
]]>
      <![CDATA[Tiba-tiba saya berpikir….

Sudah berapa orang hari itu yang sudah menolaknya? Apakah dia bekerja dari siang? Pasti capek deh.

Saya jadi teringat, dulu, sewaktu terjebak salah satu usaha yang selalu menyebut dirinya network 21 (padahal <em>MLM – Multi Level Marketing</em>. <em>Okay</em>, buat yang anggota ‘bisnis’ ini tentu akan protes dan <em>kekeuh </em>bahwa <em>network 21</em> berbeda dengan <em>MLM</em>, jangan coba menjelaskan, karena mau dijelaskan jungkir balik, teteub saja buat saya usaha ini MLM). Padahal saya sudah tahu, dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, antara <em>bisnis beginian</em> dengan saya itu nggak ada perpotongannya, tapi kok ya, <em>iseng nyoba</em> lagi.

Di awal-awal usaha saya diharuskan untuk menghubungi teman atau kerabat untuk diprospek. Ada targetnya.

<em>“Hai, apa kabar? Lama banget ya kita nggak ketemu? Anak udah berapa? Oooh, sibuk apa sekarang? Eh ketemuan yuk, gue ada proyek (atau bisnis) nih….”</em>

Cuma, karena saya ‘terjebak’nya di tahun 2000-an, di mana bisnis serupa sudah menjamur, jadi modus operandinya sudah ketebak, maka jawaban yang sering saya peroleh adalah penolakan.

Dari yang halus, sampai yang kasar. Bahkan ada juga bentakan. <em>Amit-amit.</em>

Bagaimana rasanya menerima jawaban seperti itu? Kecewa juga sih. Karena berarti saya tidak memenuhi target yang ditentukan oleh ‘atasan-atasan’ dan sistem yang saya ikuti. Kalau dapat penolakan yang halus, ya tidak apa-apa. Tapi kalau yang kasar, rasanya ingin menjitak sambil bilang "Kalau nggak mau biasa aja deeeeeh..."

Tapi berhubung waktu itu saya punya sumber penghasilan lain, ya nggak dapat <em>downline </em>dan memenuhi target yang ditetapkan, ya wis, tokh setiap bulan saya masih mendapatkan pemasukan. Bahkan pada akhirnya saya mengundurkan diri karena tiba-tiba merasa hubungan sosial saya jadi nggak sehat, kesannya saya menghubungi teman-teman, demi kepentingan usaha <em>thok</em>. Lagipula, beberapa teman jadi sering menghindar – ini membuat saya merasa ‘disebeli dan ‘dijauhi’.

Jadi kepikir, bagaimana dengan mas-mas dan mbak-mbak tukang jualan, macam mbak-mbak bertubuh gempal di stasiun itu? Kalau saya melakukan bisnis begituan sebagai sampingan, mungkin saja dia menjadikan pekerjaan seperti itu sebagai sumber penghasilan utamanya. Kalau dulu saya, begitu ditolak-tolak melulu, disebeli, dihindari orang, bahkan dibentak dengan kasar, saya bisa memutuskan untuk berhenti, kalau dia? Bisa atau tidak?

Harus saya akui, bahwa kadang-kadang saya sebal dengan mas-mas/mbak-mbak yang jualan ketika mereka menawarkan produknya, apalagi kalau sampai <em>bawel, ngejar</em> dan <em>maksa</em>.

<em>“Tapi ini produk bagus lho, dan sekarang lagi diskon, Mbak nggak takut rugi? Oh, enggak ya? Besok-besok harganya nggak segini lagi. Apa? Oh, Mbak nggak butuh? Yakin Mbak? Jangan-jangan besok Mbak nyesel lagi….”</em>

Tapi ya itu, saya selalu berusaha berpikir, namanya juga dia lagi usaha untuk menghidupi dirinya.

Ya, sama saja seperti saya, yang <em>ngotot </em>begadang-begadang mengejar tenggat pekerjaan, karena jika tidak demikian saya tidak hidup. Mereka pun demikian. Pekerjaan mereka yang menuntut mereka untuk menjadi menyebalkan.

Kalau nggak mau, -walaupun  jengkel – saya tolak saja, sambil mempertahankan cengiran. Kasihan, karena mungkin hari ini dia sudah banyak dibentak.

….

Seorang teman, yang baru saja menjadi <em>personal assistant</em> seorang <strike>penulis</strike> selebriti tiba-tiba meng-SMS saya dan bilang bahwa ia sebal akan wartawan gosip yang mengejar-ngejarnya tanpa ampun, ditolak juga tak pantang mundur. Para wartawan tersebut memintanya untuk mengkonfirmasikan seluruh rumor yang beredar di jagad hiburan *alah*.

Saya sih tidak tahu bagaimana menyebalkannya dikejar-kejar wartawan gossip, tapi waktu mendapat SMS dari dia, yang terlintas dalam benak saya ya, itu : <em>Namanya juga usaha, nggak dapet berita, nggak makan mereka.</em>.

Pada akhirnya saya cuma membalas SMSnya dengan : itu namanya risiko pekerjaan.

Yup, risiko pekerjaan para  mbak-mbak dan mas-mas jualan, <em>member </em>MLM, wartawan gossip dan pekerjaan sejenis untuk ‘menjadi menyebalkan’, risiko sang seleb untuk dikejar-kejar wartawan dan juga risiko dari teman yang jadi PA selebriti ini.

Semuanya kan sama-sama mau cari makan :) Nggak mau gitu ya cari kerjaan baru.

Hmmm.. walaupun, kayaknya nggak ada deh pekerjaan yang nggak ada risiko 'menyebalkan'nya.

ilustrasi : <a href="http://gettyimages.com" target="_blank">gettyimages</a>]]>
   </content>
</entry>

</feed>
