(Melewatkan) Perayaan Persahabatan

Yang mana yang terbaik. Kalau mbak Okke ngerasa nggak damai pergi, ya jangan.

Itu bunyi SMS yang saya terima di suatu siang beberapa hari yang lalu. Saya menghela napas, berkali-kali.

Belum sempat saya membalas, muncul lagi SMS lain, dari orang lain.

Jangan pergi. Kalau hati lo udah ngerasa nggak enak, bisa jadi itu pertanda. Jangan sampai lo nyesel atau kenapa-kenapa.

Ke-dua pesan tersebut datang dari dua sahabat saya. Rencananya kami berjanji bertemu di hari Selasa kemarin, bersama satu orang lagi yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pertemuan berempat seperti ini adalah peristiwa langka. Bisa setahun sekali saja syukur.Kali ini saja susah sekali menentukan jadwal — salah satu dari kami harus kembali ke Indonesia Timur, sehari setelah pertemuan ini.

Dan saya sangat menantikannya. Kami sangat menantikannya.

Namun, sehari sebelum perjumpaan kami, ibu saya jatuh sakit. Beliau tahu saya akan pergi, untuk bertemu mereka; di tengah sakitnya beliau bilang : ‘Pergilah! Kapan lagi?’. Iya, kapan lagi? Setahun lagi, dua tahun lagi, tiga tahun lagi? Mungkin. Tapi ada rasa mengganjal di hati, yang memberatkan kaki saya untuk melangkah.

Saya percaya pada proses dalam segala hal, termasuk soal persahabatan. Seseorang mungkin bisa langsung merasa ‘klik’ dengan orang lain dalam waktu singkat, tapi yang saya tahu, akan selalu ada friksi, ujian persahabatan adalah, apakah setelah melewati segala bentuk gesekan, kecil dan besar, kita masih terus bertahan?

Berawal dari krisis identitas di masa muda (ha!) dan terus menerus mempertanyakan ‘Tujuan hidup apa sih? Masa iya cuma lahir-sekolah-lulus-kuliah-kerja-kawin dan beranak?’, kami sama-sama berakhir di satu organisasi nirlaba yang bergerak di bidang perdamaian, dan bekerja di daerah-daerah pasca konflik dan bencana. Satu keputusan besar yang tidak mudah dan tentunya mendapat banyak tentangan dari orang sekitar.

Tapi passion yang sama tidak berarti membuat persahabatan kami berjalan dengan mulus-mulus saja, banyak banget friksi yang terjadi. Apalagi kami berada di situasi yang tidak nyaman, sehingga sangat memungkinkan terjadi saat-saat masing-masing dari kami ‘keluar asli’nya, dan melukai yang lain.

Teori saya sih, salah satu parameter cocok atau tidaknya seseorang dengan orang yang lain — selain periode berinteraksi yang intensif dan lama — juga lokasi yang tidak menyamankan. Kalau bisa bertahan, ke depannya pasti akan baik-baik saja menghadapi apapun.

Pada akhirnya kami bertahan. Menghadapi konflik intern alias satu sama lain. Menghadapi konflik beneran konflik gara-gara daerah yang tak aman. Menikmati hari-hari terpapar sengat matahari. Pantai. Hidup semi nomaden. Mengajar. Berbagi dengan sahabat-sahabat Timur yang luar biasa. Betah. Tidak mau berakhir.

Tapi kami sadar, kami tidak mungkin selamanya seperti ini; satu saat kami harus berhenti. Entah karena umur, atau hal-hal lain. Dan di satu malam gila di loteng rumah sewaan kami, sempat tercetus, kami harus menyempatkan seperti ini, setidaknya setahun sekali, pergi ke daerah berpantai.

Dan memang, kegilaan masa muda di jalan tersebut harus berakhir dengan alasan yang bermacam-macam. Namun persahabatan kami tidak berakhir, tentunya. Walaupun bertemu setahun sekali di daerah berpantai itu semacam ambisius juga kali yaaaa :))

…..

Saya memutuskan untuk tidak menemui mereka. Saya cinta mereka, saya mencintai ibu saya. Tapi, hidup itu selalu soal memilih, kan?

Saya berharap, akan ada perayaan lain, di lain waktu. Di mana kami bisa pergi ke tempat berpantai, sejenak ‘mengulang’ kegilaan masa muda — dengan cara yang lebih bijaksana.

Hey, kalian! Kangen kalian!

4 Responses to “(Melewatkan) Perayaan Persahabatan”

  1. jojo Says:

    cooloooooooooo!!!

  2. Rein Says:

    uhuk, mendekati bagian akhirnya, uhuk. :D

  3. Yuni. SW Says:

    Kemarin sempet ngobrol untuk reunian di TL :) Ketong di sini tunggu dengan senang hati o… Inget dengan cerita tali panjang? Hahahahaha… Kemarin sempet terlontar di depan D2 - Mereka kayaknya setuju tuh untuk bergabung kkkkkkk ^^ untuk bagian pegang2 tali :P

  4. novel blog Says:

    :) secinta-cintanya sama sahabat, tetep family comes first ya, mbak..

Leave a Reply