Fokeus dong! Fokeus!

…katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.

Siang itu saya terpaksa mengantri untuk mengambil uang di butik ATM di sebuah mal. Di depan saya terdapat seorang ibu dan anaknya yang cerewet. Antrian cukup panjang dan tidak maju-maju, tampaknya  orang yang sedang di dalam bilik ATM sedang  sibuk membayar seluruh tagihannya dan mungkin tagihan bapak, ibu, nenek, kakek, bude, pakde dan lain-lain. Soalnya lama bianget. Lebih lama dari ‘banget’.

Seperti layaknya anak-anak kecil lain, si anak sibuk bertanya-tanya ‘Kok ngantri, Bunda?’,'Nanti kartunya dimasukin terus uangnya keluar ya,Bunda?’,'Di dalem mesinnya ada orang, Bunda?’ dan sejuta pertanyaan lain. Sang Bunda hanya menjawab pertanyaan bertubi-tubi tersebut dengan ‘Hm’,'He-eh’, ‘Iya’ dan  - ia tampak asyik dengan telepon genggamnya. Namanya anak kecil, ya tentu saja pertanyaan tak berhenti sampai di situ.

Jawaban finalnya ‘Ssst, ah. berisik!’. Dan ia terus asyik dengan telepon genggamnya.

Suatu hari, sekitar seminggu yang lalu, saya membaca kicauannya @benzbara di twitter, saya lupa isi tepatnya seperti apa, pokoknya intinya, @benzbara protes dengan tuduhan orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang aktif di media sosial itu tidak punya kehidupan sosial di dunia nyata. Karena saya tidak pernah benar-benar mengenal orang yang saya ‘temui’ di dunia maya, ya saya nggak tau juga ya, apa memang benar demikian atau nggak. Lah sama orang yang benar-benar ketemu di dunia nyata aja kita suka salah penilaian, gimana sama yang nggak kenal, nggak pernah sering-sering berinteraksi di luar teks?

Dan saya pun membalas tweet-nya @benzbaramungkin bukan nggak punya kehidupan sosial, tapi kalau lagi aktif di dunia maya, dari yg gw perhatiin sih, jadi kurang fokus sama kehidupan nyata.

Pendapat saya memang tidak ditanggapi oleh @benzbara, tapi disambar oleh orang lain, katanya : Hari gini? Multitasking dong. Fokus sama dunia nyata, fokus juga sama dunia maya.

Saya pribadi nggak pernah percaya dengan keterampilan multitasking. Sepiawai-piawai-nya seseorang melakukan banyak hal secara bersamaan, tapi pasti perhatiannya ke banyak hal tersebut tidak maksimal. Ke sana setengah-setengah, ke sini setengah-setengah. Serba nanggung.

Saya pernah memerhatikan seseorang yang memang nggak bisa lepas dari alat telekomunikasi canggihnya. Kamu juga pernah dong ya? Hari gini masa nggak pernah? Perhatikan saja bagaimana orang tersebut memberi respon, saat ia berinteraksi dengan telepon genggam dan saat ia melepas telepon genggamnya.

“Oh ya? Trus, trus? Trus?” ini kurang lebih respon saat ia sedang berinteraksi dengan telepon genggam. Pandangannya berpindah-pindah, dari kita ke telepon genggamnya. Saya nggak yakin orang tersebut sepenuhnya mencurahkan perhatian dalam interaksi dunia nyatanya. ‘Mengerti’ topik pembicaraan dunia nyata bukan jaminan bahwa ia terlibat dan fokus sepenuhnya. Yang geli nih, di satu waktu mendadak dia bilang ‘Ah shit! Gue salah tweet!’.

Saya tertawa, sudah nggak fokus dengan obrolan di dunia nyata, nggak fokus juga dengan obrolan di dunia maya. :))

Saya nggak memungkiri bahwa ada satu titik di mana dunia maya itu terasa mengasyikkan dan rasanya sayang untuk ditinggalkan; topik tweet yang mendadak seru, misalnya. Rumpian di kanal maya yang heboh. SMS-SMS yang rame. E-mail-email yang panas. *alah panas*.

Harus saya akui, saya pernah berada dalam titik nggak bisa lepas dari telepon genggam, laptop dan koneksi internet. Ketemuan orang pun masih harus terkoneksi ke dunia maya. Yang terjadi? Orang-orang merasa terabaikan. Saya? Nggak sepenuhnya menikmati momen, banyak hal yang harusnya bisa dinikmati secara pol-polan *deuh pol*, tapi jadi terasa biasa saja, karena fokus saya nggak sepenuhnya pada hal tersebut.  Eh bukan cuma tidak sepenuhnya menikmati momen, tapi nggak jarang juga kelewat momen. Untung keadaan tersebut nggak berlangsung lama.

Jadinya sudah setahun ini saya melatih diri saya untuk tidak multitasking, antara dunia maya - dunia nyata.  Saya  bikin aturan sendiri : ketika sedang berada bersama teman-teman, telepon genggam, netbook dan koneksi internet disimpan saja. Kecuali kalau memang ketemuannya untuk membahas pekerjaan. SMS tidak akan saya balas — saya hanya akan mengangkat telepon; kalau telepon kemungkinan besar penting lah ya.

Oh, aturan meminimalisir pemakaian alat telekomunikasi dan internet saat ketemu orang ini saya berlakukan juga ketika saya sedang bepergian. Bahkan tadinya jalau di perjalanan hp saya silent atau matikan sekalian. Cuma mengundang protes, jadinya ya sudah, saya simpan saja hp di tas dan nggak saya keluarkan kalau tidak berdering - tapi seringnya kelewat juga *sungkem sama yang sering frustasi nelepon saya*.

Bayangkan apa yang terjadi kalau tiap pindah tempat check-in di foursquare atau men-twitpic? Atau menge-tweet setiap kejadian yang terlintas di depan mata. Sekali dua kali gapapa lah ya, tapi kalau keseringan, berapa banyak hal menarik yang mungkin terlewat?

Ya gitu deh, dengan multitasking itu kita (kita? saya kali ya?)  tidak bisa menikmati secara maksimal apa yang terjadi di sini- dan kini dengan sepenuhnya,  ribet dan buang waktu  harus menukar-nukar perhatian dari satu hal dan hal lain; eh nggak mudah loh mengumpulkan fokus. Akibatnya,  apapun yang menjadi produk multitasking ya nggak sememuaskan kalau kita lakukan dengan fokus dan sepenuh hati. Ngobrol dengan kawan jadi tidak memuaskan, ngobrol dengan teman-teman maya tidak pol, perjalanan jadi tidak begitu seru.

Dan oh, bukan cuma soal bergaul di dunia nyata-maya, tapi untuk setiap hal loh, multitasking nggak ada bagus-bagusnya.

Etapi kalau sesekali teman-teman membaca tweet saya dengan bunyi kerjaan ga selesai2? Cuma 3 kuncinya : (1) niat ngeberesin (2) lakukan niat ngeberesin n fokus (3) jauhi twitter. #asalteori :D’ - atau sejenis, itu cara saya memperingati diri untuk tetap fokus pada kerjaan. Karena menghindari multi-tasking dunia maya-nyata dalam soal berinteraksi sosial itu jauh lebih mudah dibandingkan menghindari multitasking dunia twitter dan dunia KERJA! : D  Beda dong ya sama multitasking dunia maya-nyata soal interaksi sosial.

Dan sejujurnya, hasil kerjaan saya saat tidak terdistraksi twitter itu lebih bagus kualitasnya dibandingkan saat saya bertukar-tukar fokus antara kerjaan dan twitter. *tapi teteub tergoda. Cuma sekarang udah nggak parah kook* :D

BTW, multitasking nggak baik buat kesehatan juga loh. Baca ini deh : http://www.health.com/health/article/0,,20505051_2,00.html

Perlahan antrian ATM maju. Sang ibu mendongak, lalu maju selangkah. Sesaat sebelum ia kembali sibuk dengan telepon genggamnya, ia celingukan, karena si anak sudah tidak ada di sisinya. Saya lihat sih perginya ke mana, agak melipir sedikit dari ATM, tertutup tiang gedung. Nggak jauh kok.

“Kakak? Kakak? Kamu ke mana?” saya melihat kepanikan sang Ibu.

Duh, makanya fokeus dong bu, fokeus! :D

5 Responses to “Fokeus dong! Fokeus!”

  1. Nita Sellya Says:

    Baru semalem gue nonton NatGeo: Test Your Brain. Isi acara sih intinya menunjukkan, mau sejago multitasking apapun kita merasa, pada kenyataannya otak hanya bisa terfokus pada SATU task.

  2. niee Says:

    Aku juga gak suka tuh kalau ketemu orang *yg jarang ketemu pula* tapi pas ketemu komunikasinya malah lewat twitter *lagi nonkrong bareng @aaa di mall* euy..

  3. d3vy Says:

    talking about being focus, suka ilpil sama orang yg pas saat meeting masih sibuk mainin bb-nya *sigh*

  4. Annissa Says:

    katanya sih, multitasking yang dilakukan manusia itu cuma sebatas switching antara beberapa aktivitas dengan cepat.

    setuju sama okke, ga pernah percaya sama (orang yang nyombongnya bisa) multitasking :)

  5. Cely Says:

    setuju..multi tasking tuh gak ada…

    mungkin sebatas menyambi dengan pekerjaan yg gak perlu banyak mikir iya kali ya… misal..nonton sambil makan…

    tapi kalau mau bener hidup di dunia nyata ya fokus sih…jgn memecah diri ke segudang kegiatan di saat yg bersamaan..malah ga ada yg maksimal…

Leave a Reply