Daripada Nantinya Susah.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kabar buruk. Suami kawan saya meninggal mendadak. Umurnya masih muda, 33 tahun, ia lebih muda 6 bulan dari saya. Saat melayat, saya mendengar cerita seorang kawan yang lain, yang menemani suami kawan saya sampai ia meninggal. Katanya, ia meninggal karena sakit, yang disebabkan pola hidup yang nggak beres.

Jujur saja, itu sempat menimbulkan rasa takut dalam diri saya. Iya, pola hidup saya sembarangan banget; olahraga jarang — oke, ngaku deh, tidak pernah. Tidur selalu lewat tengah malam, bahkan terkadang tidak tidur. Pola makan kacau, empat sehat lima sempurna yang dipelajari semasa SD menjadi hanya teori bagi saya.

Saat mendengar cerita tersebut, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah olahraga.

Saya memutuskan untuk jogging. Awalnya memang malas, tapi ketakutan rupanya tanpa sadar telah menjadi motivasi bagi saya untuk memaksakan diri jogging tiap sore jelang maghrib seusai beraktivitas harian ( tentu saja karena saya tidak suka bangun pagi. :D)

Berhasil. Selama 3 bulan, 4x seminggu saya rutin jogging,

Bagi saya saat itu, jogging rutin adalah prestasi. Dari yang olahraganya hanya olahraga jari-jemari (twitteran, gitu maksudnya), ke jogging, Keren dong ya?

Saya pun merasa menjadi manusia-paling-sehat-sedunia, biarpun pola makan masih tetap kacau; tapi saya berpikir, kalau sudah jogging, ya sudah sehat. Bahkan saya sempat bertingkah bak anggota MLM Jogging yang mencari downline. Iya, setiap bertemu dengan teman, saya selalu mengajak mereka untuk berolahraga – jogging, tentunya.

Cuma, kebelaguan saya terhenti. Di satu sore sekitar sebulan yang lalu, saat saya sedang bersiap untuk jogging, mendadak saya merasa kedua lutut saya nyeri luar biasa. Waktu itu tetap saya paksakan untuk berlari dengan pemikiran, mungkin ini efek belum biasa. Hasilnya, di tengah jalan, lutut saya semakin nyeri. Terpincang-pincang saya pulang. Nyeri itu tidak berkurang, jangankan berlari, bahkan berjalan pun susah. Saya berhenti jogging selama nyaris dua minggu, berharap rasa nyeri berkurang.

Minggu ketiga saya menyerah. Saya ke dokter keluarga.

Dokter memeriksa lutut saya dengan seksama. Ia melarang saya untuk melakukan olahraga high impact – saya disarankan untuk jalan kaki, atau berenang. Beliau memberi saya obat penghilang rasa nyeri dan menyarankan saya untuk memperbanyak asupan kalsium juga.

Tanggal 16 Oktober, saya janjian bertemu dengan kawan saya yang berulang tahun. Kami memutuskan untuk ngupi cantik di warung kopi kapitalis yang terdapat di sebuah mal besar di Bandung. Mal sangat ramai – kami datang bertepatan dengan sebuah event bernama #ScanTheNation yang diselenggarakan oleh Anlene. Di event ini, para pengunjung diberi kesempatan untuk memeriksakan kesehatan tulangnya secara gratis.

Terdorong oleh nyeri lutut yang saya alami (dan kata kunci gratis deh tentunya), tanpa ragu, saya pun memasuki booth Anlene dan memeriksakan tulang saya. Hasil bone scan density yang saya dapatkan cukup melegakan; katanya risiko saya untuk terkena Osteoporosis rendah.

Bone Scan Density

Bone Scan Density

Di sana saya mendapatkan banyak informasi dari petugas; terutama soal tips untuk menjaga kesehatan tulang :

  • Penuhi kebutuhan kalsium harian dan nutrisi tulang penting lainnya. Asupan kalsium ideal/hari adalah 1000 - 1200 mg.
  • Hindari kebiasaan merokok, kurangi konsumsi kopi, minuman beralkohol/bir serta garam/makanan asin.
  • Lakukan olahraga menggunakan beban secara teratur minimal 3x/minggu, masing-masing 30 menit. Misal, berjalan kaki 10000 langkah per hari.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan tulang secara teratur per tahun.

Selesai periksa, saya baru menyadari bahwa di booth Anlene juga tersedia Anlene Calcimeter; yakni pemeriksaan asupan kalsium harian. Penasaran, saya pun menjajalnya. Menurut calcimeter, asupan kalsium harian saya 859 mg. Jauh dari jumlah ideal. Selain memang kurang mengkonsumsi makanan yang kaya kalsium, ada beberapa faktor yang ambil peran dalam menghalangi penyerapan kalsium ke dalam tulang saya : minuman bersoda, makanan asin dan merokok.

Calcimeter

Calcimeter

Ups.

Saat saya melakukan serangkaian tes di booth Anlene, lutut saya belum pulih benar, rasa nyerinya mengganggu aktivitas.Ya tapi saya masih (agak) cuek, paling kesal sendiri kalau susah menekuk lutut. Nggak kenapa-kenapa lah, ntar juga sembuh, itu yang saya pikir.

Tapi begitu mendengar banyak penjelasan tentang kesehatan tulang dan apa jadinya kalau saya terkena osteoporosis, saya jadi ngeri sendiri, jangan-jangan nantinya akan semakin parah dan saya…. Tidak bisa melakukan aktivitas yang kini saya lakukan dan saya cintai? Saya bergidik sendiri ketika membayangkan saya tidak mampu lagi berdiri di depan kelas untuk mengajar, tidak mampu untuk jalan-jalan, tidak mampu ngapa-ngapain?

Sepulangnya dari sana, saya mulai mencari tahu banyak informasi tentang Osteoporosis; sebuah penyakit yang saya kira hanya bisa menyerang orang lanjut usia saja. Dan saya salah dengan sukses, karena Osteoporosis justru menyerang generasi muda, terutama perempuan.

Informasi-informasi mengenai kesehatan tulang dan sendi lainnya saya dapatkan dengan lengkap dalam bentuk artikel yang asyik dibaca di http://www.tulangsendisehat.com . Dari makanan untuk tulang sehat dan kuat , guna stretching dan pemanasan sebelum berolahraga, gunanya terpapar sinar matahari pagi dan masih banyak lagi.

Beneran saya nggak mau jadi susah beraktivitas gara-gara nyeri lutut yang saya alami, jadi selain berolahraga low impact, saya pun mulai menjaga asupan kalsium harian saya. Yang tadinya saya cuek langsung jogging, sekarang saya menyempatkan diri untuk pemanasan dan stretching, yang tadinya berolahraga saat matahari nyaris tenggelam, saya pindah waktunya jadi pagi.

Well, sekarang (untungnya) nyeri lutut saya semakin berkurang, sudah beberapa hari ini saya mulai jogging lagi, walau pelan-pelan.Yang jelas, lesson learned : untuk hidup sehat, olahraga saja tidak cukup, harus diimbangi dengan pengaturan pola makan dan pola hidup.

Duh, jangaaan deh sampai Osteoporosis (atau terkena penyakit-penyakit lain). Daripada nantinya susah, mending mencegah, kan? :)

Oh ya, untuk Surabaya, Bali, Balikpapan dan Makassar, siap-siap ya, Scan The Nation bakal hadir juga bulan November- Desember :)

anl

3 Responses to “Daripada Nantinya Susah.”

  1. niee Says:

    Waaah aku juga gak pernah olahraga neh mbak >_<

  2. zizely Says:

    Waduhw mbak, Jogja ngga ada ya?.
    Lebih kerasa lagi kalo pas hamil kekurangan kalsium nanti sering kram-kram di kaki sakitnya…
    Makasih informasinya yah. (*kok jadi ngiklanin produk mbak? :D*)

  3. GN Says:

    Hahaha, jangan-jangan mbak lagi masuk brand-nya ANLENE ya? ixixixi.
    Aniwei, nice info

Leave a Reply