Selagi (Masih) Ada.
Kematian adalah sebuah keniscayaan. Siklus hidup yang pasti akan terjadi. Almarhum seorang kawan, di tengah sekaratnya, pernah berkata bahwa kematian adalah perpisahan sementara, suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi.
Namun kematian tidak pernah menjadi hal yang bisa dihadapi dengan biasa-biasa saja.
Menyebut kata kematian selalu berhasil membuat saya merasa tak berdaya. Apalagi kematian mendadak; satu saat saya dan seseorang masih tertawa-tawa, tiba-tiba di saat yang lain, orang tersebut pergi.
3 berita kematian mendadak dalam dua hari ini, serta masalah lain cukup mempermainkan emosi saya. Naik turun seperti roller coaster. Satu ayah seorang kawan, satu sahabat ayah dan satu lagi, suami seorang kawan.
Konon katanya, ayah seorang kawan ini masih sempat bertemu dengan kawan-kawannya semalam sebelumnya, dalam keadaan bugar.
Konon katanya, sahabat ayah sempat bertelepon beberapa jam sebelumnya.
Dan, suami seorang kawan, sempat menelepon untuk mencandai saya, ia menodong oleh-oleh. Saya tahu ia hanya meledek, karena ia sudah kenal saya yang suka males jika dimintai oleh-oleh.Oh, tapi ia saya belikan kopi Papua. Besok rencananya saya akan bertemu, untuk menyerahkan titipannya. Tapi barusan saya mendapat kabar bahwa ia meninggal. Serangan jantung mendadak.
Saya tidak bisa berhenti menangis. Bukan hanya menangisi kepergian orang-orang tersebut. Saya menangis karena pikiran saya dipenuhi oleh orang-orang yang saya kasihi. Ayah, Ibu, Adik, Nenek saya, pacar saya, sahabat-sahabat saya.
Bagaimana jika mereka-lah yang meninggal? Bagaimana jika… saya yang meninggal? Bagaimanakah hubungan kami saat saya atau mereka yang meninggal?
Saya teringat pernah menyakiti orang-orang yang saya kasihi, tidak sengaja. Apa jadinya jika saya atau mereka meninggal membawa luka yang saya buat?
Saya teringat pernah membuat orang-orang yang saya kasihi sedih. Apa jadinya jika saya atau mereka pergi dengan kesedihan akibat saya?
Saya teringat, terkadang saya tidak menghargai mereka sebagai anugrah, saya menganggap mereka ada karena memang sudah dari sananya mereka ada. Keberadaan mereka yang seharusnya saya syukuri, malah saya anggap biasa-biasa saja.
Saya teringat, saya jarang mengatakan bahwa saya mengasihi mereka; bagaimana jika mereka atau saya pergi, tanpa tahu, sengeselin-ngeselinnya saya, saya sayang mereka?
Tidak ada yang tahu, berapa lama kita atau orang-orang yang kita kasihi itu hidup. Semua tidak bisa ditebak.
Mendadak muncul banyak keinginan.
Selagi masih ada, saya ingin meminimalkan tindakan-tindakan yang bisa melukai orang-orang yang saya kasihi.
Selagi masih ada, saya ingin mengurangi tindakan-tindakan yang membuat mereka sedih.
Selagi masih ada, saya ingin selalu menunjukkan bahwa saya sayang mereka.
Selagi masih ada……
Rest in Peace, Om Eri, Om Edison dan Aldi. Sampai bertemu kembali.
And you. Forgive me?



8 Responses to “Selagi (Masih) Ada.”
*hugs*
Turut berduka.
hiks… sedihnya. Makasih udah ngingetin. :|
my deep condolence, dear *hugs*
memang kematian mendadak seorang yang kita kenal, apalagi yang kita kenal dekat, terlebih lagi keluarga, selalu menyisakan berjuta pertanyaan.
gue sendiri mengalami, taun 2008, kakak tercinta, 1.5 jam sebelum kepergiannya masih nelpon anak2 gue, nggak ada yg mengira ternyata itu komunikasi terakhirnya dengan anak2.. gue malah terakhir ketemu hampir 2 minggu sebelum kepergiannya :(
Turut berduka, mbak. Kematian adalah rahasia-Nya. Perjuangan membahagiakan orang-orang yang kita sayangi juga sedang saya lakukan. Semoga di kehidupan sekarang kita mampu menciptakan kenangan baik bagi mereka.
mbak okke, postingan ini bikin sedih dan mikir deh, hiksss..
yap, sekarang yang bisa kita lakukan (mumpung orang2 yg kita sayang masih ada, mumpung kitanya juga masih ada) ya gak bikin mereka sedih dan nunjukin kita sayang sama mereka.. :)
to all :
thanks ya :)
telat mampir, tp masih jg ikutan nangis baca postingannya
ini jg yg sdg sy rasakan sekarang mba: sedikit rasa takut akan sebuah ‘perpisahan’ dg org2 yg sy sayang…
Leave a Reply