[GenderTalks] Kartini-Kartini Mendebat Ladies Parking

….bahkan kalau fasilitas valet parking di mal tersebut gratis, saya mau kok memanfaatkannya.

Sebenarnya saya sudah memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kartini. Oh, bukan, bukan karena saya ingin ikut serta untuk mempertanyakan ‘Kenapa Kartini yang dielu-elukan? Kenapa bukan Cut Nyak Dien. HR Rasuna Said, Marta Christina Tiahahu?’– nggak kok, biarpun Kartini nggak ikut perang berkotor-kotor seperti pahlawan-pahlawan perempuan lain, buat saya, apa yang dilakukan Kartini termasuk hal hebat di masanya. :)

Saya tidak merayakan Kartini dengan membicarakan emansipasi, karena sampai sejauh ini emansipasinya masih mentok di urusan genjot becak. Tapi yang lebih krusial lagi, saya tidak merayakan Hari Kartini, karena Hari Kartini, bagi saya, sama dengan hari-hari besar lainnya. Perayaan doang. :) — eh bentar, ngomong-ngomong arti krusial tuh apa sih? *dikeplak massa*

Ya coba saja, apa sih yang dilakukan pada hari Kartini?

Kantor-kantor me’wajib’kan memakai kebaya modern untuk karyawatinya. Atau perempuan-perempuan berjanjian memakai kebaya. Kemana neng? Karnaval? Eh, bukannya saya anti pakai kebaya loh, saya suka kok pakai kebaya, tapi nggak suka rame-rame :D

Lomba busana daerah; yang menang entah kenapa selalu mereka yang memakai kebaya beludru merah. Alasannya kebaya merah identik dengan Kartini. Padahal coba deh image googling di Google dengan kata kunci ‘Kartini’, yang keluar kebanyakan Kartini berkebaya putih kok. :)

Lomba memasak, lomba pasang dasi suami atau lomba kecakapan berdandan (semacam berlooxperiments sehari. hihi).

Promosi ini itu. Oh, saya dapat informasi dari Maya, kawan saya : tahukah anda bahwa tiket masuk Dunia Fantasi jadi Rp.60.000,- saat hari Kartini? Tapi coba deh dicek lagi syarat-nya, siapa tau ada keharusan pakai kebaya, jarik dan sanggulan.

Coba googling lagi, masukkan kata kunci ‘Diskon Hari Kartini’, banyak loh! Ada tuh peralatan makan diskon 30%

Lalu ramai-ramai pihak korporat membuat kuis, undian dan segala rupa yang berhubungan dengan Kartini.

Dan seperti biasa, semua orang mendadak ngobrolin emansipasi dan perempuan.

Yah, pada akhirnya saya melihat kemiripan Hari Kartini dengan Hari besar-hari besar lain. Bedanya ya, tanggalannya tidak merah (sial!)

Iiih, ngelantur.

Okay, sampai mana tadi?

Oh, saya yang tidak merayakan Hari Kartini.

Nah, itu, saya tidak merayakan Hari Kartini, tapi entah kenapa selalu ada saja hal-hal yang membuat saya gatel ingin membahas soal Hari Kartini.

Jadi begini lho ceritanya, tadi sore saya berjanji untuk bertemu beberapa orang di kedai kopi kapitalis yang terletak di sebuah mal. Salah satu penyebab saya tidak suka mal adalah suka susah dapat parkir.

Dan benar saja, begitu masuk ke lantai parkir… penuh! Orang-orang hobi amat sih ke mal? Ngapain? Kalau saya kan perlu, harus ketemu teman. *halah*

Lalu saya melihat sih satu spot kosong, tapi saya tidak terlalu banyak berharap, karena di depan saya sudah ada mobil-mobil yang sama-sama kesulitan cari tempat parkir, saya pikir pasti tempat itu tidak akan mereka lewatkan.

Eh, ternyata pikiran saya salah besar. SEMUA mobil di depan saya melewatinya. Ih, gila kali ya mereka? Dan tukang parkir tiba-tiba melambai-lambaikan tangannya. Ya sudah, saya belok — dan mata saya menangkap tulisan ‘LADIES PARKING’.

Singkat cerita, saya pun parkir dengan aman damai dan tentram. Langsunglah saya menuju tempat janjian saya dan beberapa teman perempuan saya. Kami bertemu, cipika-cipiki, duduk, memesan.

“Susah parkir ya?” tanya salah seorang dari mereka.
“Nggak tuh, langsung dapet.”
“Ih, gue susah loooh! Kok bisa??”

Dan menurut mereka semua, mereka mengalami susah parkir.

“Kan gue parkir di bagian Ladies Parking.” saya nyengir.

Nah ternyata, jawaban saya memulai diskusi panjang mengenai Ladies Parking.

Mereka semua menolak untuk parkir di bagian Ladies Parking, karena bagi mereka hal tersebut merendahkan diri mereka sebagai perempuan. Keberadaan Ladies Parking, menurut mereka. adalah salah satu pelecehan terhadap kemampuan perempuan.

Awalnya saya cengar-cengir saja. Saya menganggap kepiawaian menyetir itu bukan hal yang wah. Atau itu mungkin karena saya bukan termasuk pengendara yang canggih — saya sering dicela sebagai ‘supir payah’ karena lebih senang nyetir nyantai, jarang mengklakson dan males nyusul atau nyelip-nyelip (Kecuali kalau telat!)

“Masa sih elu nggak ngerasa dilecehkan kemampuan nyetir lo dengan adanya Ladies Parking?”

Saya menggeleng. saya baru merasa dilecehkan kalau bokong saya dipegang oleh cowok usil. Ladies Parking sih nggak membuat saya ngerasa terhina; bahkan kalau fasilitas valet parking di mal tersebut gratis, saya mau kok memanfaatkannya.

Huhu, tapi setelah saya bilang demikian, mereka bilang secara tersirat bahwa saya gagap emansipasi dan kasihan Kartini.

Mendadak saya teringat pembicaraan dengan Echi, kawan saya yang lain, beberapa hari setelah Hari Kartini tahun lalu. Gara-garanya ada seseorang yang memasang status FB begini : ‘Jangan berkoar soal emansipasi, kalau parkir aja masih di Ladies Parking!’

Menurut saya dan Echi, itu adalah statemen yang Jaka sembung bawa golok.

Kenapa?

Karena sebenarnya Ladies Parking itu sama sekali tidak (terlalu) ada kaitannya dengan masalah pelecehan kemampuan, emansipasi endeswey-endeskoy. Ini adalah salah satu strategi standar mal tersebut untuk memudahkan dan menyamankan perempuan; kenapa? Yaa, yang namanya mal itu kan memang tujuannya membuat orang-orang perempuan-perempuan menjadi konsumtif, kalau laki-laki, dibuat konsumtif di tempat lain. :)

Ladies parking
itu membuat perempuan-perempuan merasa nyaman berkunjung ke mall tersebut. Masalah nanti setelah parkir dengan enak bakal belanja atau tidak; itu sih urusan ‘bagian dalam’, tau lah, diskon, tawaran-tawaran entah apa, display yang menarik, dan lain-lain.

Strategi Ladies Parking ini bisa disamakan dengan tersedianya playground buat anak-anak, sehingga, ketika sang perempuan berbelanja, anak bisa dititipkan di sana. Atau foodcourt, supaya kalau lapar/haus, tidak perlu keluar mal. Atau ketersediaan wifi, buat bapak-bapaknya sambil menunggu sang perempuan belanja (atau bisa juga buat perempuan-perempuan penggila internet – dengan nongkrong wifi-an, pasti beli minum kan ya? Ngemil?). Atau ketersediaan ATM/fasilitas gesek Kartu Kredit.

Kalau memang mau protes, proteslah pada strategi mal tersebut untuk membuat kaum perempuan jadi konsumtif. Proteslah juga pada playground, proteslah juga pada foodcourt, proteslah juga pada ketersediaan wifi, proteslah juga pada diskon, proteslah juga pada kemudahan pemakaian kartu kredit, protes

Am conditioner red the louis vuitton outlet apply daily louis vuitton canada complete. To while times this women viagra the your and is consolidate your payday loans brushes start inch louis vuitton handbags thick longer one payday loans online tone transitioning absolutely haven’t goggle payday kit scam stimulate treatment old cialis side effects images it surgical payday lips using Warden’s little so viagra generic affordable. A Beach write ed medications so hair vanish. A short term loans cause is also payday loans split trip However improvement payday loans online paying longer attention.

juga pada ketersediaan ATM.

Eh, yang kudu diprotes kok banyak ya? :))

Anyway, iya, saya tidak berkeberatan parkir di Ladies Parking. Kalau ada yang gampang, kenapa cari yang susah? Bayarnya sama aja kok. :))

Eh eh eh, tapi harus saya akui bahwa Ladies Parking itu (agak) diskriminasi gender juga sih, soalnya teman-teman saya yang pria sering protes, kenapa perempuan dimudahkan parkir, sedangkan mereka tidak? Komentar saya : yaaa, salah sendiri jadi pria. :))

Tuh kan, sebenarnya saya sudah memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kartini, tapi selalu ada hal yang membuat saya gatal untuk menulis tulisan yang kekartini-kartinian. Jadi mumpung sudah terlanjur menulis, saya mau mengucapkan :

Selamat Hari Kartini, Perempuan. Semoga tidak meributkan Ladies Parking lagi. Amin.

22 Thoughts on “[GenderTalks] Kartini-Kartini Mendebat Ladies Parking

  1. Untungnya saya ndak punya mobil, cuma punya Vespa, jadi ndak bingung cari parkir. Eh loh, gagal fokus… :)

    okke : *kriiik!*

  2. Ditut on 20/04/2011 at 19:00 said:

    Akkkhhhhh the hell with gagap emansipasi. The hell with pelecehan. All I want is dpt parkir cepet,deket pintu masuk,sementara di jok belakang anak yg satu udah merengek-rengek ga sabar macet pgn turun, yg satu kebelet pipis, yg satu ga sabar uda pgn beli yogurt. IYYEEESSS!! Akika butuh ladies parking! ;)

    okke : tenaaaang! tenaaaang! :D

  3. Ya adanya ladies parking itu biar cewek lebih betah untuk mampir ke mall. lebih konsumtif gitu ceritanya :mrgreen:

    okke : embeer :D

  4. Masalahnya sebenarnya simple. Perempuan juga ga menuntut untuk dimudahkan dlm masalah Ladies Parking tapi lingkungan lah yg memberi kemudahan. Nah,tergantung perempuannya aja,mau tetap nyaman di dlm kemudahan yg diberikan, atau menolak mentah-mentah kemudahan itu. Gw sebagai cowo jg ga keberatan kalo ada Gentlemen Parking. Siapa tau ntar ada yg niat bikin. Tinggal tunggu waktu aja sih, mal mana yg punya ide duluan :)

    okke! : kebayang kalo ada ladies parking dan gentleman parking :)) berasa toilet, dipisah2 gitu. :D

  5. belom ada ladies parking di malang :|

    okke! : ntar saya usulin yahh. *lah emangnya saya siapa?* :D

  6. Iyess. Kalo ada yang mudah ngapain juga nyari yang susah. Wasting time lah menurut saya. :))

    okke! : hehe, iya! :)

  7. kocak tulisannya :)
    kadang orang2 emang latah dengan isu2 yang populer dan sensitif. enjoy aja deh :)

    okke : :D

  8. Kenapa harus keberatan?perempuan memang berbeda kok dari laki2?gagap emansipasi??lhooo apa hubungannya sama ladies parking?emansipasi itu kan perempuan dapat kesempatan yang sama dengan laki2..bukan berarti semua disama ratakan kan?kodratnya memang sudah berbeda…emansipasi gak diliat dr kemudahan yg perempuan dapatkan..


    okke : emang ada kemudahan2 yang didapatkan dari gender tertentu. Untuk kemudahan yang didapatkan o/ perempuan, komentar saya cuma satu : salah sendiri jadi laki :))

  9. Eh, daripada laki-laki ngomel karena perempuan (atau ibu-ibu) parkirnya lama? Maju-mundur 20 kali? Mending dipisahin kan?

    *nasip selalu diklaksonin gak sabar kalo parkir*

    okke : :D

  10. ketahuilah sodara-sodara, ladies parking ini amat sangat membantu perempuan beranak batita yang perlu ke mall membawa STROLLER BAYI (dan bayinya tentu).

    Tanpa ladies parking, perempuan tsb harus jalan jauh di tempat parkir yg penuh asap knalpot mendorong stroller dan bayi, yang artinya si bayi juga kena asap knalpot. Tega? :-)

    okke! : curahan hati seorang ibu. =D

  11. adek on 21/04/2011 at 11:43 said:

    gentlemen, if you”re driving with a cranky baby in a carseat with no nanny, or if you’re driving with killing backache 6month pregnant, you would want it too:)

    okke! : Nih denger :D =))

  12. setahuku malah ladies parking itu lebih karena keamanan, kali2 ada psikopat yang suka nyergap cewek2 yang mau ke parkiran gitu. di taro lah spot khusus itu di deket-deket pintu masuk mol.

    btw, soal fesyen show, biasanya yang menang kalo salonnya tok cer hua ha ha ha…..*pengalaman anak sendiri yang pake kebaya home-made dan ga dirias hihihi*

    okke! : setelah kursus jait, kursus make up sekalian aja buu :D

  13. Ladies parking khan khusus mobil. kalo ladiesnya bawa motor boleh gak tuh parkir di ladies parking..hehehe

    okke! : Kenapa ya ladies parking cuma buat mobil? Semacam diskriminasi kendaraan juga ini yak? :D

  14. kalo ada yg gampang, knapa harus menyusahkan diri sendiri? emansipasi kok malah merepotkan diri sendiri…

    okke! : yup! :)

  15. Siska on 28/04/2011 at 08:06 said:

    Hmmm apa hubungannya yah Ladies parking sama kemampuan menyetir? Bedanya dengan parkir-parkir lain kan cuma karena dia dekat dengan pintu masuk. Gak relevan sama emansipasi maupun kemampuan menyetir. metode parkir yang dipake juga sama kog.
    Setuju sama Okke, ada yang gampang, kenapa cari yang susah.

    okke! : karena hidup itu sudah susah, jadi jangan nyusah2in diri #nambahin :D

  16. Baru baca postingan ini dan postingan satunya lagi tentang genjot becak… =)

    Saya sih agak kurang suka dengan ide emansipasi yang dikoar2kan banyak cewek tanpa tahu maksud sebenarnya (bukan emansipasi aslinya Kartini loh ya, klo itu saya setuju). Alasannya ya sama dengan yang ditulis di sini: emansipasinya gak konsisten.

    Klo saya sih, let man be man. Cewe dan cowo itu memang harus setara, tapi bagaimanapun perannya berbeda. Ada hal2 yang sepantasnya diserahkan kepada kaum Adam, dan ada hal2 yang sepantasnya diserahkan kepada kaum Hawa. Ini cuma masalah kepantasan saja. Bukan berarti dilarang bertukar peran; seandainya ada cewe yang sukarela mau mengerjakan pekerjaan cowo, maka silahkan saja. Dan sebaliknya, seandainya ada cowo yang sukarela mau mengerjakan pekerjaan cewe, ya silahkan juga.

    Istilah Inggrisnya, “gitu aja koq repot?!”

    okke! : ember, ada hal2 yang perlu di’repotin’ ada hal-hal yang nggak, jangan kebalik, ntar pusing :D hihi

  17. Primadika on 09/05/2011 at 03:09 said:

    Sayang, saya belum pernah ngerasain nikmatnya ladies parking :))) Nggak hoki mulu. Tapi nggak sekali dua kali ngeliat laki, perempuan tukeran posisi nyetir begitu di parkiran. Buat apa? Biar bisa ladies parking…eaaa

    okke! : err, itu trik gw juga sih :))

  18. emansipasi apaan sih? I think it’s overrated. it’s all about convenient, kan? Oportunis aja, hehehe… Bwt saya siiy, itu malah menghormati perempuan. Saya anggap ladies parking sebagai “Ladies first” *plak*
    anyway, seperti kata nengbiker, di Malang gada ladies parking. sial.

  19. Saya suka Ladies Parking. Tp ada tuh mall yg nyediakan Ladies Parking, tp hanya boleh utk nasabah kartu kredit tertentu. Menurutku itu namanya bukan Ladies Parking, tapi Mega Ladies Parking *eh kesebut merk* :P

  20. klo saya sepertinya perlu Ladies Parking u/ motor..
    Kan udah banyak juga tuh wanita2 yg mengendarai motor.
    setuju sama “nYam”, ladies Parking ada lebih krn keamanan. Pilih mana? Parkir mudah dan dekat dg pintu atau Parkir yg berada di sudut gedung nan gelap. hiii…

  21. Sekarang ada ladies parking,baru tahu sekarang ya,maklum ikut suami ke pelosok sumatera.

  22. fauna on 09/08/2014 at 14:53 said:

    Hahahaha….bahkan menurut saya, perempuan masih rempong ngurusin hal2 ttg ladies parking lah, emansipasi lah, bahkan sampe hari kartini lah, karena ya memang perempuan suka gosip dan ngobrol. As simple as that.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation