Mati Saja, Wahai Penulis!
…cara mempersepsi seseorang terhadap sesuatu itu rumit, tidak mungkin kita mengendalikan masing-masing individu agar persepsinya seragam dan sesuai dengan yang kita mau. Bisa sih, dicoba, kalau mau frustasi sih.
Pernah ngalamin sudah berbaring manis dan bersiap-siap tidur sambil twitteran memakai handphone, eh mendadak menemukan tautan yang menarik di timeline anda, ketika Anda klik, ternyata tautan itu memang beneran menarik dan membuat Anda merasa wajib untuk bangun, ngidupin komputer, supaya lebih puas browsing?
Saya pernah.
Eh.. sering,ding. :)
Salah satunya adalah dua malam yang lalu. Mendadak tweet beberapa orang di timeline saya menggunakan hashtag yang sama. Salah satu dari tweet-tweet tersebut memuat tautan ke halaman goodreads; yang berisi review sebuah novel terbitan Gramedia Pustaka Utama plus diskusi seru tentang novel tersebut. Boleh dikatakan bahwa reviewnya agak nyilet,ya. Yang menarik dari review itu adalah terlibatnya sang penulis dalam diskusi tersebut. Terlihat jelas bahwa sang penulis berusaha (keras) untuk menjelaskan tentang (jalan cerita) novelnya dan terkesan sangat defensif, bahkan ujung-ujungnya agak ofensif. (eh nulisnya bener ga sih?)
Kasus seperti ini jarang saya temui — atau mungkin saya saja yang kuper. Selama ini yang sering saya lihat adalah, mau reviewnya negatif maupun positif, nyilet maupun muji, penulis sama sekali tidak terlihat batang hidungnya dalam review novelnya, atau muncul hanya untuk mengucapkan terima kasih, atau berkomentar seperlunya. Tidak pernah sampai dengan niatnya membela mati-matian novelnya.
Ada dua hal yang terpikir ketika memerhatikan kasus ini. Pertama, bisakah kita membuat SEMUA orang menyukai (karya) kita? Well, boleh saja usaha, kalau rela jadi gila sih. Karena setiap individu itu memiliki ragam latar belakang dan pengalaman, yang membentuk cara ia mempersepsikan segala sesuatu. Ada contoh yang sangat sederhana yang pernah saya ajukan dalam mata kuliah Psikologi Persepsi yang saya dan kawan saya ampu, waktu itu saya dan kawan saya membuat daftar benda-benda yang mudah ditemui di sekitar kita dan mahasiswa kami suruh untuk menuliskan apa pun yang terlintas saat benda-benda tersebut disebut.
Saat kami menyebut ‘melati’, sebagian besar menyebutkan ‘wangi’, ‘indah’ dan sejenisnya, tapi ada satu yang menulis : ’sedih’. Setelah diselidiki, ternyata ia memiliki pengalaman tertentu yang berkaitan dengan melati tersebut, menurutnya, itu mengingatkan pada kematian sang kakek.Itu baru contoh sederhana, masih ada contoh yang lebih kompleks lagi, berkaitan dengan budaya, agama, pendidikan dan lain-lain. Saya pernah sedikit membahasnya di sini.
Sekali lagi , cara mempersepsi seseorang terhadap sesuatu itu rumit, tidak mungkin kita mengendalikan masing-masing individu agar persepsinya seragam dan sesuai dengan yang kita mau. Bisa sih, dicoba, kalau mau frustasi sih.
Jadi, untuk kasus ada yang suka dan ada yang tidak suka dengan karya seorang pengarang ya wajar saja. Nyantai saja, Djeung. Kalau ada yang tidak suka, (mungkin) bukan berarti (karya) pengarang tersebut buruk kok, bisa saja (karya) pengarang tersebut memang tidak satu gelombang dengan pembaca tertentu. Dan kalau ada yang suka sampai memuja-muja, yaa…bukan berarti (karya) pengarang tersebut hebat-bin-luar-biasa juga lah, kebetulan saja (karya) kita sesuai dengan selera pembaca yang bersangkutan
Yang kedua, dan masih berkaitan dengan keberbedaan cara persepsi tiap individu, mendadak saya jadi teringat Roland Barthes dalam esai-nya yang berjudul Death of An Author. Dalam esai-nya, Barthes mengkritik cara ‘menikmati’ sebuah teks dengan mengkaitkannya dengan aspek identitas pengarang, entah dari agamanya, psikologinya, cara pandang politiknya dan aspek-aspek pribadi lainnya.
Ketika seorang pengarang melahirkan sebuah teks (tulisan), kemudian dilepas kepada publik, serta merta pengarang tersebut mati. Pengarang bukanlah siapa-siapa, hanyalah seorang penulis skrip. Lupakan proses kreatif yang dilakukannya selama pengerjaan, lupakan juga curahan air mata saat pengeditan gara-gara laptop terformat (eh ini mah curhat..hihi). Bete-betenya, lupakan begadangnya (ini juga masih curhat. :D)
(Duh, mendadak pingin ngadu deh ke oom Barthes, soalnya saya masih suka ditanya ‘Apakah ini pengalaman pribadi?’ yang sebenarnya sudah nggak penting lagi untuk ditanya.)
Sebuah teks itu punya ‘kehidupan’ tersendiri. Siapa yang menghidupkan? Tentu saja para pembaca; para individu yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda tersebut.
Bagaimana bentuk kehidupan teks tersebut di tengah publik, benar-benar tergantung pada benak masing-masing pembaca. Pengarang sama sekali tidak bisa mengendalikannya, pun ketika ia menemukan pembaca yang interpretasi-nya berbeda dengan maksud pengarang. Nggak bisa protes, itulah kehidupan dari teks(tulisan) tersebut.
Jangankan karya sastra sekuler, bahkan dalam kitab suci pun berlaku fenomena Barthes ini. Buktinya? Banyak sekali persepsi dan interpretasi yang berbeda-beda dari masing-masing individu. Nggak bisa dipungkiri bahwa kitab menginspirasi pembacanya untuk melakukan hal-hal negatif, seperti menyakiti orang dengan pengeboman, pembunuhan, melakukan diskriminasi atau positif, seperti mengasihi, membantu sesama, tepa salira endeswey endesbrey, tergantung cara pembaca menginterpretasikan dan memersepsikan teks di dalamnya.
Anyway, saya menganalogikan hubungan pengarang dan teks/tulisannya itu sebagai hubungan ibu dengan anaknya. Bahwa teks/tulisannya itu ya seperti anak, buah hati yang disayangi, yang dibikin dengan susah payah, pakai curahan air mata, bete dan begadang gitu loh (eh lah, kok curcol mulu yak? :D). Tentu saja sang ibu punya harapan-harapan yang baik akan anaknya, tapi pada akhirnya, sang ibu harus punya kesadaran penuh, bahwa ia tidak punya otoritas penuh terhadap sang anak, ia adalah individu tersendiri, yang punya kehidupan tersendiri.Kecuali kalau sang ibu mau mengisolasinya dari kehidupan sosial.
Apapun yang terjadi pada si anak ya jelas di luar kuasa ibu,kecuali kalau sang ibu mau jadi bodyguard bagi sang anak secara terus menerus. Yang mana kasihan juga ya anak yang ibunya kayak gitu? Pasti diejek melulu. Dan ibunya… don’t you have life, Ma’am? :)
Eh, bentar.. sampai mana tadi?
Oh ya, sama juga dengan teks/tulisan, jika ingin sebuah teks/tulisan tidak dipersepsi dan diinterpretasi berbeda-beda, ya jangan dilepas di publik, diisolasi saja dalam harddisk komputer. Ketika teks/tulisan tersebut telah terlepas, apapun yang terjadi pada tulisan tersebut, ya di luar kuasa sang pengarang. Pengarang nggak bisa jadi pembela dari teks/tulisannya secara terus menerus. :)
Sebagai penutup, ada secuplik kalimat, dari sebuah esai lain, karya Katrin Bandel yang berjudul ‘Karya Sastra Sebagai Taman Bermain’ yang ada dalam antologi esai-nya, ‘Sastra, Perempuan, Seks’ (terbitan Jalasutra,2006). Cuplikan ini selaras dengan Barthes :
Sudah sering disebut oleh ahli sastra bahwa yang menentukan makna sebuah teks sebetulnya bukanlah pengarangnya, tetapi terutama pembacanya…..
Di mata kita, pengarang menjadi semacam pahlawan, manusia teramat mulia,yang melebihi kita-kita ‘manusia biasa’. Sedangkan karyanya kita jadikan monumen….
Mengunjungi sebuah monumen bisa saja menarik, terutama kalau apa yang dilambangkan oleh monumen tersebut mempunyai arti tersendiri bagi kita…
Tetapi kadang-kadang mengunjungi monumen malah terasa membosankan, terlebih-lebih bagi anak muda.Suasana khusyuk, seperti misalnya dalam sebuah museum, mungkin saja dirasakan sebagai kekakuan dan keterbelengguan. Benda-benda tidak boleh disentuh dan oleh karena itu tinggal benda mati saja.
(hal 13)
Yup, kasus penulis yang defensif dan ofensif terhadap persepsi dan interpretasi para pembaca di goodreads itu membuat tulisannya seolah menjadi benda berharga di museum, yang diberi pengumuman ‘DILARANG MEMEGANG’. Tulisan tersebut tidak akan pernah sempat hidup sama sekali, hanya menjadi semacam artefak, di toko atau rak buku. (Dan mungkin dia nggak sadar, dengan defensif dan ofensif seperti itu, dia membuat dirinya jadi target cyber-bully )
Gitu deh.
Udah malem, mari kita twitteran lagi!
Halah.



13 Responses to “Mati Saja, Wahai Penulis!”
nah, tulisan kayak begini gue baru mengerti, secara gue ‘kan berotak teflon gitu deh
eh tapi yah, gue rasa mungkin si penulis itu emang udah beneran gila karena ngebela hasil tulisannya biar disukai semua orang
okke! : haduh ga komentar deh. Udah cukup banyak komentarnya di entry ini :D
bener juga ya.. analogi pengarang-teks = ibu-anak.. :)
tapi pengen kepo deh.. mau link ke review tersebut dooongg.. hihihihi.
okke! : intinya tentang matinya pengarang kok, si penulis itu cuma contoh kasus hihi.
Pagi mbak Okke, hihihihi, iyyaaah heboh bukunya di goodreads ;p dan ternyata hebohnya sampai beredar di twitter juga. *mia yang baru bgn pagi, otak blum prima* Minta ijin buat ngelink blog sepatu merah ya mbak :)
okke! : boleeeh, silahkan! Makasih ya :)
agree! absolutely we cannot expect everyone have the same context in reading any text. good or bad, it depends on reader’s perspective and shared beackground knowledge.
is this one of the reasons why i kept my writings in my computer? dont wanna be a super protective to her children? *thinking and smiling* ~ maybe.
anyway, love to read your blog
okke! : well, i dunno. but don’t you wanna know what ppl think about your writings? Anyway,thanks :)
suka Quote dari >> karya Katrin Bandel yang berjudul ‘Karya Sastra Sebagai Taman Bermain’ yang ada dalam antologi esai-nya, ‘Sastra, Perempuan, Seks’ (terbitan Jalasutra,2006).
referansi nya bagus.. :D
okke! : essay-essay lain di antologi Kartin Bandel bagus2 kok menurut saya. :)
Hadah.. merasa kuper gue, ngga tau sedikit acan ttg penulis yg rame di twitter.
Eh, tapi kayaknya gue lebih tertarik essay Katrin Bandel itu. Dan biasanya kalo udah taon lama gue kedapetan gigit jarinya aja alias kehabisan. LOL
okke! :gw jg kebetulan aja kok ngeliat hashtag ttg penulis yang rame ini, kebetulan aja beberapa org di timeline gw ngebahas.:)
Belum bisa komentar, karena belum lihat “pertempurannya”. Tautan, please :)
*karena bisa jadi ‘pembelaan mati2an’ itu adalah interpretasi si Okke sendiri terhadap tulisan yang dibuat si penulis novel… HAHAHAHAHA…. *
okke! : Bisa jadi interpretasi gw sendiri, kan kata Barthes juga bebaskeun. :)) Gw males naut ya, soalnya dari kasus entri gue tentang hottalotta para pelaku cyber bully-nya pindah ke sini dan gw sekaligus mengundang pelaku2 baru :D. (PS. Check e-mail. hihi)
Aah, kasus itu cuma bagian dari strategi marketing. *seperti pembahasan kita semalam* :D
Mbak Okke, aku suka analoginya :) :)
kemarin2 smpt ikut baca review novel yg dimaksud ini, dan aku setuju sm kalimat “semua teks itu, punya kehidupan tersediri”..
minta ijin nge-link blog ini ya :)
setuju banget. cerita aku deh ini :)
betul banget kita ngga bisa maksa orang untuk menyukai karya kita dan orang juga ngga bisa memaksa kita untuk menyukai karyanya. Tugas penulis adalah berkarya…suka atau tidak suka, bagus atau tidak bagus, baca atau tidak silakan pembaca yang menentukan. kalaupun ada kritikan itu seharusnya jadi catatan kita untuk berkarya yg lebih baik
aku kurang dong neh *dodol*. Tapi contohnya itu kayak Twilight saga kali yah?
nice…
salam kenal……..
Leave a Reply