Drama Status Facebook : Mencintai Pasangan Itu Omong Kosong?

Oh tentu saja ini posting silang saya lagi dengan http://lajangdanmenikah.com .Pokoknya kalau entri di  sini berbau-bau relationship,  bisa dipastikan bahwa itu posting silang dengan blog sebelah aja! :D

…Apakah anda mencintai pasangan anda? Atau anda mencintainya karena ia masih melakukan apa yang anda inginkan?

Ternyata ya, saya nggak perlu banget ngidupin televisi kalau mau nonton sinetron. Serius. Cukup hanya dengan log in ke dalam Facebook sahaja; di halaman ‘home’-nya pasti saja ada drama ala sinetron yang terpampang.

Yep, kadang-kadang status-status yang ada mengindikasikan bahwa ada (drama) permasalahan domestik yang terjadi dalam kehidupan sang pemilik. Sudah gitu,seringnya berseri pula,pagi di status cerita tentang masalah I, siang di status cerita masalah I.1, sore I.2. Kalau itu buku, jadi kayak bab dan sub-bab-nya. :D

It makes me wonder, kok mau sih buka-buka isi perut di tempat umum? Status itu kan bisa dibaca oleh semua orang yang ada di friend list yang bersangkutan. Mending kalau orang-orang yang ada di friend list-nya sedikit, lah orang Indonesia,kan, gawol gwela getoh, most likely punya teman lebih dari seratus, ya toh?

Well, okay. Iyee, orang beda-beda. Ada yang memang nggak masalah bersikap super terbuka seperti itu, ada yang memilih untuk berhati-hati.

Anyway, sebulan ini saya ‘mengikuti’ dua kisah drama domestik dua orang yang ada di dalam friend list saya. Sebenernya bukan cuma dua drama aja sih yang ada; tapi dua inilah yang ’selalu’ kelihatan setiap saya log in.

Yang satu menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, memutuskan untuk bercerai ; eh dalam proses cerai ia kerap menerima teror dari sang (calon) mantan suami. Teror-teror yang dilakukan ngeri boook! Saiko.

Yang satu lagi, tentang seorang perempuan awal duapuluhan, mempunyai seorang pacar yang (kalau dibaca dari statusnya sih) playboy. Yang ini rada lucu sih, soalnya dia kayak lagunya BBB, putus-nyambung. Yep, selain dari status, ada kali sehari sekali dia gonta-ganti relationship status, dari in relationship, it’s complicated kemudian single. Kalau sedang ‘in relationship’ statusnya penuh kemesraan dan berbunga-bunga ala gadis sedang jatuh cinta. Kalau sedang ‘it’s complicated’ dan ‘single‘, statusnya penuh benci dan makian yang terkadang jahat banget.

Nggak, saya nggak mau ngebahas tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, karena saya nggak tahu (walaupun sering saya mendadak mengarang cerita sendiri dalam benak, berdasarkan dari rangkaian status-status mereka.Hihi, maafkeun daya imajinasi saya).

Kesimpulan (imajinatif) saya, sang (calon) mantan suami di kasus drama pertama pasti benci banget pada sang (calon) mantan istri sampai segitunya buang-buang energi meneror. Dan di kasus kedua, si perempuan itu pasti benci banget pada apapun yang dilakukan pacarnya sampai ia tega memaki-maki sedemikian rupa.

But they do remind me of myself,tho.


Yup, saya pernah berada dalam fase benci banget pada (mantan-mantan) pasangan saat hubungan saya dengan mereka bermasalah. Pernah sih sekali, jaman saya masih muda (hihi), saya sengaja meribetkan salah satu pasangan saya. *tersipu malu*. Kagak usah diceritain lah ya, itu aib bok! Maklumlah,gelora perempuan yang labil gara-gara quarter life crisis. :))

Cuma sekali itu saja, sekarang-sekarang tampaknya saya berubah menjadi perempewi berspesies GENGSIANUS BANGETUS, saya gengsi kalau menunjukkan bahwa kehidupan saya terganggu oleh permasalahan dalam hubungan kami - saya cenderung ingin menunjukkan bahwa saya baik-baik saja dan nggak butuh mereka. Meneror itu bukti bahwa saya nggak baik-baik saja. Memaki-maki sama saja. GR banget itu (mantan-mantan) pasangan saya kalau tahu saya nggak baik-baik saja. :D

Anyway, seringnya setelah masa benci lewat (artinya saya sudah punya pacar baru,hehe), saya jadi berpikir, ih kok bisa-bisanya saya heboh benci pada mantan(-mantan) saya? Lalu saya tarik mundur lagi ingatan saya, sampai ke masa di mana hubungan saya dan mereka baik-baik saja.

Wuih, masa-masa itu, banjir kata ‘I love you so much‘. Dan saya ingat juga berapa saya (merasa saya) sangat mencintai mereka.

Ke mana perginya perasaan-perasaan seperti itu saat hubungan bermasalah ya? Kok kayak nggak nyisa, cuma rasa benci-benci-sebel-kesel-marah saja yang ada?

Kemudian saya jadi meragukan perasaan saya di masa-masa indahnya hubungan kami (huek!). Jangan-jangan waktu itu saya salah tafsir? Waktu itu saya merasa saya mencintai mereka, padahal sebenarnya enggak — saya mencintai diri saya sendiri.

Yes, saya— sebagai manusia— kan punya kecenderungan egosentris, memusatkan segala hal pada diri sendiri. Pokoknya diri sendiri nyaman, aman, tentram dan semua hal lain yang menyenangkan diri sendiri.

Sewaktu saya bilang ‘I love you so much‘ pada mereka, itu karena saya berada dalam masa di mana hubungan kami menyenangkan dan menyamankan. Kenapa bisa menyamankan dan menyenangkan? Karena mereka masih berperilaku tepat seperti yang saya harapkan. Dan mereka mengatakan ‘I love you too‘ pada saya, karena saya masih tepat seperti yang mereka inginkan.Masih ada timbal-balik. Take and give.

Lalu ketika mereka mulai bertingkah di luar apa yang saya mau, misalnya mereka bosan, atau mereka terlalu mengikat, atau mereka ngelirik yang lain, saya mulai kecewa. Sama juga kejadiannya pada mereka, ketika saya berlaku tidak sesuai dengan yang ia mau, misalnya saya bosan, saya cuek, atau saya ngelirik yang lain (hihi), mereka kecewa. Tidak ada timbal balik. Pincang.

Mulailah terjadi friksi-friksi akibat mempertanyakan ‘Kenapa lu jadi begini sih?’ (Yang sebenarnya kalau diterjemahkan : kenapa lu nggak berlaku sesuai dengan ekspektasi gue sih?), yang ujung-ujungnya jadi saling menyakiti.

Seperti (calon) mantan suami di kasus drama status pertama, tega ya bok, meneror sedemikian rupa? Seperti juga perempuan di kasus drama status facebook kedua yang makiannya sadis nian itu.

Entahlah, sekarang setiap saya bilang ‘I love you‘ dan merasa mencintai pasangan saya yang sekarang, saya jadi mikir, apakah benar saya mencintai dia? Atau saya cinta diri saya sendiri?

Karena saya tidak (belum) terluka olehnya,maka saya (merasa seolah-olah) mencintai dia. Nanti-nanti kalau ternyata ia melukai saya *ketok meja*, apakah masih ada banjir  ‘I love you?’, apakah masih ada perasaan cinta itu?

Entahlah.

Dan anda? Apakah anda mencintai pasangan anda? Atau anda mencintainya karena ia masih melakukan apa yang anda inginkan? *kalo kalimat  ini ditaro di status facebook, pasti jawaban/komen dari orang-orang klise, normatif dan penuh nasihat bak pakar relationship, deh.) =))

“Pure love is a willingness to give without a thought of receiving anything in return.”

(Peace Pilgrim quote)



24 Responses to “Drama Status Facebook : Mencintai Pasangan Itu Omong Kosong?”

  1. Dodol Surodol Says:

    Mencintai dong, canggih.

    BTW, emang sekarang nggak ada yang komen di sini ya? Perasaan zaman dulu, kalo ada entri baru dalem bilangan menit, komen udah dua dijit.


    okke! : hari gini udah (semakin) banyak blog bertebaran. Lagian emang masih ada yang suka baca tulisan panjang2? secara udah banyak tulisan2 mini ala microblogging di sana di mari. :D

  2. si.tukang.nyampah Says:

    cinta dong…cuma ada atu-atunya tuh laki-laki kayak pasangan gue…hihihihihihi

    btw, gue masih suka koook baca tulisan panjang-panjang lo…udah 7 taon, dan tetep setia baca :D

    okke! : baiklah,hihi, ternyata masih ada yang suka baca tulisan panjang2.Kirain enggak :D

  3. Dodol Surodol Says:

    Masih setia baca kok, mau panjang, mau pendek — yang penting bukan ukuran, tapi kualitas :)
    Cuma bacanya nggak di sini tapi di RSS reader. Ke sini cuma kalo mau komen doang.

    okke! : terus, kamu ga ngeblog lagi?:P *iya udah dibahas*. BTW, kenapa URL kamu beda2 sih?

  4. Name (required) Says:

    Mbak Okke, kalau pertanyaan itu ditaruh di status FB, pasti nanti banjir komentar dari orang-orang (sok) pakar yang nada bicaranya penuh sok menasehati, wkwkwkwk..

    Saya mencintai pacar saya karena .. tidak ada alasan. Dia membuat saya merasa nyaman, itu aja.

    Saya juga nggak percaya cinta saya kepada para mantan sudah berakhir. Saya masih mencintai mereka kok, hanya saja.. mungkin dalam bentuk yang berbeda. Mungkin sebagai teman saja.

    Oh ya, Mbak, menurut saya, blog nggak akan bisa digantikan microblog. Saya melakukan keduanya, dan syukurlah daftar komentar di blog saya masih dua digit per post-nya. Ini cuma masalah interaksi blogger dengan komentatornya kok. Semakin rajin interaksi antar blogger, semakin banyak juga komentarnya. :-)

    okke! : Mber, entah kenapa,di FB,orang kalo komentar seriyussss dan dalam.Alah. :D Oh jadi biar banyak komentar, ga boleh jadi silent reader yak? :D.

  5. icut Says:

    wuah, mba okke, pas pisan! ada temen yg lagi hobi nyampah (curcol) soal hubungannya sama si pacar yg kerasa ngejomplang. sempet putus-nyambung juga, tapi Dari dulu masalahnya sama : cenah si cowonya ga perhatian, jadi si cewe ngerasa ga dicintai…

    kata dia (sambil bete bete merana), ‘kalo yg satu cuma take, yang satu cuma give (atau sebaliknya) apa masih dbilang cinta?’

    ngek. ditanya gitu jd mikir, apa ini masalah standar masing2 orang ya? kata si cewe apa yg dikasih tu belum cukup, kata si cowo brasa udah cukup. nguing-nguing pusing -_-”

    okke! : kalo cinta sih (katanya) ga itungan. Katanya looooh…:))

  6. soe_the_arts Says:

    Ada teman yang bilang pada saya, cinta itu “give and give, never take” well, sempet mikir…sulit banget ya? Lalu teringat kucing2 dan anjing2 di rumah, yang suka pipis dan be’ol sembarangan, mencakari barang2…..Tapi saya ngga pernah mukul, ngga pernah benci. paling2 saya kejar2, supaya ngga jadi pipis (tapi seringnya, saya tahu kalo dia pipis, setelah bauk!! telat dueh!!) Trus, ga lupa selalu tutup pintu, amankan barang2 sebelum “dikerjain” Kayaknya… saya sudah “give and give” ya, sama para kaki empat ini…. Entah dengan sesama kaki 2, yg bakal di sebut partner….
    Btw, saya tetap cinta makro blog :)

  7. Indah Says:

    Ahahaha.. itu bener bangets, hihihi.. banyak bangets yang mengangkat persoalan “pribadi” ke tempat umum yang bisa diliat banyak mata, ahahaha..

    Pantesan aja masalahnya malah makin melebaarr.. karena bukan diselesaikan dengan yang bersangkutan tapi masing2 pihak pada ngumpulin supporter :p

  8. yuyuk Says:

    aku selalu baca tulisan di taman ini sejak belum ada facebook

    *komen OOT* :D

  9. ernit Says:

    ihihihi, bener bgt tuh Mbak… kalo dipikir2 sekarang kok makin banyak yg ‘open’ bgt ya status fesbuknya, jadi seru ‘ngebaca hidup’ orang :p

  10. pristi Says:

    Your blog post(s) spoke to me as if they’re my own words.. bhuahahah..
    love your tweets, love your blog also. intinya mah kip raiting mbak, mau panjang mau pendek ai tetep baca. :)

  11. Galuh Says:

    cinta dong mbak…. :)
    Pasti selalu dibaca dong mbak….. ;)

  12. aprian Says:

    i love her, that’s all i know …

  13. sendy_c Says:

    cinta donk mba tp pastilah ada berantemnya hehe..

    btw mba okke desain sendiri ya baju2 batik d wardrobe project ? cantik2 bgt tuh mba :-D

  14. ichanx Says:

    ini dari ngomongin status facebook orang, kok jadi curhat ya? :D

  15. Jodi Says:
  16. andalusia Says:

    salam mba Okke,

    berdasarkan pemberitahuan saudara Jodi atas dugaan kesamaan antara tulisan saya dan tulisan mba Okke mengenai topik ini, maka saya memohon maaf. Memohon maaf, karena ternyata dilihat dari waktu penulisan mba Okke lebih dulu dibanding saya.
    Tapi, sungguh tulisan saya berdasarkan pada apa yang sy pikirkan, saya rasakan, dan saya temukan dalam pengalaman saya.

    Terimakasih sebelumnya mba Okke,
    salam kenal jika berkenan,
    saya bersyukur saudara Jodi yang memperingatkan saya, mengantarkan saya pada site yang mba Okke yang isinya menambah wawasan. Di lain waktu saya ingin berkunjung lagi.

    salah benar pernah kita lakukan
    salam

  17. Jodi Says:

    Bukan topik yang saya permasalahkan. Tapi judul dan bagian-bagian tulisan yang ternyata bisa sama persis.

    Tapi judul dan kalimat-kalimat sama tersebut sekarang telah diubah oleh penulis sehingga tak sama lagi dengan tulisan Mba Okke.

    Saya rasa ini cukup.

  18. okke Says:

    to Jody :
    thank you yak udah ngasih tahu. :)

    to Andalusia :
    copy paste dari yang saya tulis di MP-mu ya :
    sebenernya sblm kamu komen di blog saya, saya udah liat kok. Poinnya emang beda, tp terus terang saya sedikit terganggu dengan sebagian besar paragraf yang kalimatnya mirip blas. Kebetulan yang impossible ya kayaknya. Cuma saya liat di sini, selain judul, paragraf2 yg dimaksud udah dirubah.

    Next time don’t do that, setiap orang punya tone and manner nulis sendiri2 yg beda n istimewa. tone and manner nulismu istimewa dan udah bagus tanpa memakai rangkaian kalimat n paragraf saya :)

  19. nadia Says:

    mbak okke.. aku copas buat di notes fb boleh? saya cantumin sumbernya mbak.. bagussss banget tulisannyah. huhuu :D

  20. Plenyek Says:

    sepertinya sering liat sepatumerah di twitter :)

  21. charismatic Says:

    wahhh
    hahay geli sekali membaca masalah drama sinetron di FB,, ternyata tidak hanya saya yg menilai demikian…
    ckckck gemes rasanya hingga ingin meremove orang2 seperti itu :p

  22. deshi Says:

    “Karena saya tidak (belum) terluka olehnya,maka saya (merasa seolah-olah) mencintai dia. ”

    Nendang banget lah line itu mbak okke. Sudah ada bukti praktek di dunia nyata nya :p
    anw, saya jg setia lo, tetep cinta sm tulisannya mbak okke yg panjang-panjang…biar kadang cm silent reader :D

  23. rizta Says:

    mbak okke, ih saya bacanya ampe sesek napas deh. ini yang selama ini saya rasain tapi saya belum nemu kalimat yang pas buat ngungkapinnya

    makasi banyak mbak okke :)

  24. Bonnie Says:

    Okke…. baca tulisan lo dari 2006, teteuppp sukaaaa..
    Btw yang di MP masih ada gak ya? kok googling dikirimnya langsung kesini yak? nyangkut deh tuu..
    *Eh, komen buat tulisan nya mana yaaa…*

Leave a Reply