Televisi, Bukan Realitas

…Dan pada dasarnya, TV itu memang TIDAK PERNAH menampilkan realitas tapi hanya sense of reality.

Boleh dibilang saya termasuk orang yang juwarang (saking jarangnya) menonton TV. Bukannya apa-apa, tapi saya memang kurang betah berdiam lama di depan TV. Seringnya saya kesal kalau menonton terpotong tayangan iklan, bawaannya ngomel. Mana iklan-iklan seringnya muncul sejembreng, apalagi untuk acara yang berrating tinggi, pernah lho, saya menghitung jumlah iklan untuk acara yang lagi happening : lebih dari dua puluh! Duh, Gusti.

Update berita-berita terkini biasanya saya dapatkan dari ibu saya. Atau selewatan kalau misalnya orang rumah sedang menonton TV dan kebetulan saya lewat di depan TV.

Beberapa minggu yang lalu, saat saya melewati TV, kebetulan sedang ditayangkan acara infotainment yang mengabarkan kehebohan kisah Krisdayanti - Raul - Anang - Syahrini dan siapa tuh, istrinya Raul? Ya pokoknya dia-lah.

Gak ada kisah yang nyangkut sih waktu itu. Tapi saya kerap mendengar komentar maupun pembahasan orang-orang di sekitar saya tentang drama ini. Begitu banyak hipotesa bahkan kesimpulan-kesimpulan tentang mereka, yang kerap membuat saya gatal ingin berkomentar :  ” Mbak, Bu, sodaraan ya sama Krisdayanti dan Anang? Kedengarannya kenal beneeeur…”

Tadi sore,kebetulan saya harus check-up sesuatu ke dokter. TV di ruang tunggu tempat praktik dokter tersebut menayangkan acara infotainment. Saya takjub karena infotainment tersebut mengabarkan masalah Krisdayanti - Raul - Anang - Syahrini dan si-dia-yang-saya-nggak-tau-namanya.

Yaoloo… MASIH ???

Tetap tidak ada komentar untuk tayangan tersebut. Cuma saya jadi nguping pembicaraan ibu-ibu dan mbak-mbak yang ada di ruang tunggu tersebut selama tayangan. Sumpah, daripada mendengar tayangannya, lebih rame mendengar komentar mereka!

“Si Krisdayanti mah,ngaco, udah punya suami baik-baik, eh masih selingkuh juga…”

“Tapi dia repot kan? Itu balasan dari ketidaksetiaannya…”

“Kesabaran Anang dan kebaikan Anang dapet hadiah. Krisdayantinya masih ribut, Anang mah udah nyante-nyante aja sama Syahrini.”

Anyway, bagi saya pribadi, lucu saja, hanya dengan melihat kolase tayangan-tayangan di televisi, para penikmat infotainment tersebut merasa sudah mengetahui realitas yang terjadi secara menyeluruh. Yuk mari.

Sudah setahun ini saya melayani di LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak. Jadi ceritanya LSM ini menjadi penghubung antara donatur dari luar negeri dengan anak-anak Indonesia yang membutuhkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Semacam orangtua asuh lah. Untuk menjalin hubungan yang baik antara donatur dan anak asuh-nya, kedua belah pihak rutin saling mengirim surat dengan menggunakan tulisan tangan. Nah tugas saya adalah menerjemahkan surat-surat tersebut - dari Indonesia ke Inggris atau sebaliknya.

Beberapa kali, saat menerjemahkan, saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan donatur yang membuat saya tersenyum-senyum, yaitu pertanyaan-pertanyaan seperti ‘Apa di Indonesia ada mobil?’, ‘Apa di Indonesia semua orang memasak dengan kayu bakar?’, ‘Apa di Indonesia ada gedung-gedung? Atau rumahnya dari kayu?’ dan setipe.

Kadang-kadang, sambil tergeli-geli, saya membatin,’Indonesia nggak segitunya kali…’

Saya pernah membagi kejadian ini di twitter. Rata-rata orang-orang (Indonesia) yang mereply, pasti dengan gusar. Merasa teriritasi mendengar fakta bahwa ada orang luar negeri yang menganggap keadaan Indonesia itu setara dengan keadaan di zaman batu.

“TV mereka rusak ya?”

“Nggak suka baca koran apa? Parah…”

“Ketinggalan berita amat sih?”

Dan seterusnya.

Saya sendiri sama sekali tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, soalnya saya pernah sering menerima pertanyaan serupa. Dulu saya pernah menjadi relawan di sebuah organisasi internasional lain. Dan relawan-relawan yang bekerja di LSM tersebut terdiri dari pemuda-pemuda antarbangsa

Beberapa orang dari negara lain  sempat terkejut saat saya bilang bahwa sebenarnya saya terbiasa mencuci baju dengan mesin cuci. Bahwa di Indonesia ada mall, ada Starbucks, ada McD dan lain-lain. Bahkan ia terkejut saat mengetahui bahwa saya memiliki laptop, kamera dan handphone.

Waktu itu sih saya sebel-sebel gimanaa gitu;  negara gue, dianggap ‘terbelakang’, bok! Sembarangan! Dan sama, pertanyaan yang muncul di benak saya adalah ‘Lu kagak pernah ngikutin berita ya?’

Yang ternyata saya salah, mereka menganggap Indonesia seperti itu JUSTRU karena mereka mengikuti berita!

“Maaf ya, soalnya dari tayangan berita yang saya lihat di TV, Indonesia itu miskin sekali…” kata mereka.

Dari kecil saya sering dicekoki, bahwa saya tidak boleh ketinggalan berita/informasi aktual. Nggak boleh kuper, harus punya pengetahuan yang luas-panjang-lebar tentang kabar-kabar terkini. Cara mendapatkan berita/informasi tersebut adalah tentunya dengan rajin menonton program berita di TV (plus baca koran dan ketika internet mulai dikenal, tentunya lewat situs-situs berita internet.)

Pada akhirnya, pemahaman saya tentang televisi adalah; si kotak kecil sekian inch ini merupakan jendela dunia. Jendela saya untuk mengetahui realitas yang terjadi di ‘luar sana’. Saya bisa tahu apa yang terjadi saat pengibaran bendera pusaka 17 Agustus 1989 di Jakarta, sementara saya di Lhokseumawe, Aceh Utara. Saya bisa tahu mengenai perang teluk tahun 1990 tanpa harus susah-susah keluar dari ruang keluarga saya; di mana TV berada.

Ya nggak buruk sih untuk terus mengikuti berita/informasi dari TV, kalau nggak ngikutin-ngikutin banget bisa-bisa kita sama sekali nggak tau bahwa ada ‘dunia lain’ atau ‘kehidupan lain’ di luar sana. Atau yang paling gampang, bisa-bisa kita nggak nyambung, ngobrol sama orang.

Cuma yang ‘celaka’ adalah ketika kita menganggap bahwa apa yang ditayangkan di televisi adalah representasi dari realitas di luar sana secara menyeluruh.

Reaksi dari mbak-mbak dan ibu-ibu yang ngikutin drama  KD - Raul - Anang-Syahrini dan Ibu - yang - entah - saya - tidak - tahu - namanya - dan - males - googling adalah bukti anggapan ini. Mereka berkomentar seolah-olah mereka tahu benar apa yang terjadi secara keseluruhan, padahal mereka hanya menonton potongan tayangan infotainment di televisi. (Kasus ini bisa disamakan dengan pembahasan masalah politik yang lagi happening, kekeuh-kekeuhan, cela-celaan — yang menjurus ke personal, seolah emang beneran tahu apa yang terjadi, padahal sumber informasi-nya ya cuma TV. D’oh! Kayak keadaan repoeblik jadi lebih baik aja dengan gitu.)

Lalu, pertanyaan-pertanyaan donatur tentang ‘apa di Indonesia semua memasak dari kayu bakar?’ juga muncul setelah menyimpulkan tayangan berita di televisi. Gara-gara melihat potongan berita tentang Indonesia (yang kebetulan yang diangkat adalah tempat yang memasak dengan kayu bakar), maka muncul anggapan bahwa potongan berita itu adalah realitas Indonesia secara keseluruhan. Dan juga keterkejutan kawan-kawan saya dari negara lain ketika saya bilang bahwa di Indonesia ada mall, Starbucks dan lain-lain, juga bisa dijadikan contoh lain.

Akan sangat basi jika ada yang menganggap, televisi = realitas. Karena pada dasarnya, TV itu memang TIDAK PERNAH menampilkan realitas tapi hanya sense of reality. Kita suka melupakan bahwa apa yang ditayangkan di televisi hanyalah gambar bergerak yang direkam oleh kamera. Kali karena gambar-gambarnya bergerak ya? Mirip beneran. Misal, saya merekam diri saya sendiri, ceritanya untuk video-blog, lalu saya tampilkan di blog ini. Ketika anda melihat video tersebut, apakah itu (realitas) saya? Ya bukan kali. :)

Gambar bergerak itu bisa direkayasa/dimanipulasi dikonstruksi sedemikian rupa dengan banyak cara bow ;  dengan cara mengedit tertentu, narasi tertentu, angle tertentu, musik/sound tertentu muncullah makna tertentu. Nah, apa hasil konstruksi tersebut masih bisa dianggap realitas? Nyaenggalaaaah. Dan yang perlu diingat adalah  (berita) yang ditayangkan oleh televisi tidak lepas dari keberpihakan dan kepentingan terhadap/pada pihak tertentu.

Teknologi yang memungkinkan pengeditan gambar bergerak PLUS adanya keberpihakan/kepentingan adalah kombinasi yang sempurna, untuk kita untuk  mengharomkan kebiasaan menelan apa yang ditayangkan televisi bulat-bulat (dan menganggapnya sebagai kebenaran).

*Anyway, kenapah ya entri yang ini serius amat. *

Uhm, sebenarnya setelah berpanjang lebar seperti ini, intinya saya cuma mau ngomong, don’t trust TV too much. Apalagi sambil kekeuh-kekeuhan dan cela-celaan gara-gara berita di TV, terlalu ngebahas dan ngurusin masalah politik yang lagi ‘ngetrend’ (ha!). Masih ada urusan kehidupan di kehidupan nyata yang bisa diurusin.

Untuk orang-orang yang ngambek di twitter dan bilang bahwa TV di rumah para donatur luar negeri tersebut rusak, saya mau bilang : santey aja, kayak di pantey. Orang-orang tersebut menanyakan hal-hal yang dilihatnya di televisi kok. Lagipula, kalau mereka tidak tahu tentang negara kita, yakin, kita juga tahu benar tentang negara mereka? Via TV cukup?

Untuk orang-orang yang membahas drama KD - Raul - Anang-Syahrini dan Ibu - yang - entah - saya - tidak - tahu - namanya - dan - males - googling seolah-olah yang paling ngerti kejadiannya, saya cuma mau bilang :

GET A LIFE!!

:D


The one function TV news performs very well is that when there is no news we give it to you with the same emphasis as if there were.

(David Brinkley 1920 -2003)

17 Responses to “Televisi, Bukan Realitas”

  1. Winarto Says:

    Realitas yang ada di televisi adalah realitas yang diciptakan

    okke : yup, realitas yang telah dikonstruksi. #tsah!

  2. AMYunus Says:

    Hm, seperti anggapan saya tentang Afrika. Afrika itu tandus, orangnya item2 semua, separuhnya kena penyakit AIDS, miskin dan kurus kering, penyakitan, dsb.

    Namun benarkah demikian? Aidunu.

    okke : itu dia, wedunu kondisi real-nya, kalo cuma liat di TV mana cukup :)

  3. dela Says:

    namanya Atta, mbak Okke.
    Ibu - yang - entah - saya - tidak - tahu - namanya - dan - males - googling .
    haha, ktauan bgt ngikutin dramanya.. :)

    okke : Delaa.. makasih, saya bisa tidur dengan tenang sekarang. *eh apa sih?* :))

  4. icut Says:

    sekarang acara berlabel ‘reality show’ rata2 udah ganti jadi ‘drama reality’–sebangsa “termejret mejret” *nama disamarkan*–

    tapi tetep loh, pada nonton..dan percaya itu nyata,, kadang kalo dengerin *nguping sih sbenernya* komentar2 para penonton setia acara begituan, perlu tenaga ekstra untung nahan mulut biar nggak nyembur “baleg lah ibu-ibu sekalian, masa iya bertaun2 nyari orang terus ga ketemu2, tiba2 setelah ikut acara itu voilaaa! akhirnya nemu juga dengan ending yang terlalu spektakuler–semacem jadi gelandangan atau jadi orang gila”

    okke! : haha… ga ikutan komen soal drama reality, soalnya klo komen ujungnya nyelaaa mulu :))

  5. uphiet Says:

    di rumah, kebetulan ibu gak suka liat tivi. Sebaliknya, di pihak bapak, suka banget nonton acara debat atau berita politik dan segala tentang pemerintahan.
    Duhhh, sampai panas kuping kalau denger bapak ngomentarin segala macem.
    Pengennya sih bilang “Get a life!” tapi gak mungkin. Hehe…
    Mending ditinggal tidur aja :p

    okke! : haha, berbahaya nyak kalo komentar yg ngga2, bisa terjadi konflik domestik.. *halah*

  6. nita Says:

    jadi inget film Wag The Dog

  7. Juminten Says:

    errr… aku pernah pengen bikin postingan tentang ini.
    tp tampaknya mbak okke menuliskannya dgn lebih baik. :P

    okke! : mana? mana linknya? :)

  8. Tina Yap Says:

    tayangan televisi emang cuplikan kecil dari realita yang sudah diolah penyampaiannya agar menarik, terkadang lebih buruk/ baik dari sebenarnya.

    when i was in school, i believed that bad and mean people in sinetron was very unreal. yet, in real life i found worse and meaner people :-)

    okke! : yup, dan bahaya kalo nganggep tayangan tv a/ representasi realitas, bahkan u/ acara berita sekalipun.

  9. cipstuff Says:

    hal itu sangat terasa saat kita berkerja dengan orang asing. rasa diskriminasi dan kekurang percayaan orang luar terhadap kita masih bisa dibilang kurang. Itu dari sisi pandangan saya, mungkin berbeda dari penilaian orang lain.

    okke : iya sih, gara2 berita di TV ada orang2 yang underestimated, tp selama bisa nunjukkin bahwa orang indo keren *halah*, kata saya sih ga masalah :)

  10. ribka Says:

    stuju bgt, mbak okkiiii…. tapi tante saya idupnya emang di rumah trus, maklum ibu rumah tangga, jadi hiburannya infotainment aja (sukur bgt di singapur masi dapet sinyal rcti)… maklum di sini kalo mau keluar2 hang out bareng ibu2 laen mahal booo

    okke : namaku okkeeeee… bukan okkiiii! :))

  11. Domi Says:

    Setuju! Tapi sayangnya saya nggak punya TV.. Bisa bilang setuju karena tiap ngintip TV tetangga, tayangannya gosip dan anykind of “drama”…

    okke : haha, tayangan ky gitu candu boww..

  12. Murni Says:

    Yes, get a life! :)

    Bukan cuma wartawan tv yg manfaatin kondisi si artis or si politikus, tapi mereka juga sebaliknya. So, sama jugalah, unsur kesengajaan tetap ada. hihi..

    okke! : :D

  13. Indie_ana Jones Says:

    mau ikutan gerakan demo 2000 orang mendorong pernikahan anang-syahrini??? bener2 dah beritanya ada-ada aja!! mending nonton Glee!!!

    okke! : ge..ge..gerakan mendukung apahh ????? *pingsan* :))

  14. eva Says:

    aduh, mbak okke..

    numpang OOT yah, mbak, aku padamu selalu :)

    keren keren keren… selalu saja bisa menyampaikan halhal begini dengan sebegitu indahnya *toenk*

    yuk mari……..

    okke!
    Hahaha, yuk mariiii :))

  15. blab! Says:

    hehehe….bener banget. waktu jamannya antene tipi masih belon rusak dan bisa nerima siaran tipi indonesia, saya sampe bosen kalo nyetel tuh siaran…gosip dari pagi-siang-sore-malem, hayah!!!!

    saya juga ngalamin kok ke, ditanya2 pertanyaan kayak gitu. “hah? mall di jakarta lebih keren dari disini?”, “orang indonesia ada yang punya mobil lebih dari 2???”, “ke jakarta bisa naek pesawat langsung dari sini???” —> yang ini bikin gue mo pingsan pas denger, gyahahahha…

    okke :
    atau, apa? Ada yang nikah ngundang 1000 orang? =)) Indonesia emang miskinnya ga merata. (bukan kaya-nya ya bow) :D

  16. -may- Says:

    Tetapi, apakah realitas itu, Kke?
    Kalau kita nonton “Bleep: Down the Rabbit Hole”, maka sesungguhnya semua realitas itu adalah persepsi. Tidak ada yang benar2 nyata di dunia ini :)

    okke!:
    Eh iya ya? Keknya gue emang salah pake istilah, kudunya ‘nyata’/kenyataan kali ya? :D Pokoknya gini deh, intinya, bahwa ada orang Indonesia yang masak pake kayu bakar, itu nyata. Bahwa Anang cerai sama KD itu kenyataan, KD deket2 sama Raul itu kenyataan, cuma media mengkonstruksikan seluruh kenyataan-kenyataan itu (baik dengan narasi, menampilkan sebagian, menyatu-nyatukan berita etc etc lalala lilili) dan menciptakan kenyataan baru. I know you got my point. Atau mungkin dirimu punya istilah lain yang lebih tepat?

  17. sendy_c Says:

    wah bahasan yg menarik, mba! saya jd mulai berpikir jg ini :-D

    btw, salam kenal

Leave a Reply