GPK (Gondrong Penuh Kasih)*
Yang repot kalau kemudian stereotip (negatif) ini ditindak lanjuti menjadi purbasangka terhadap seseorang, yang berbuah pada perilaku antipati
Beberapa waktu yang lalu saya ke salon, untuk potong rambut. Saya harus menunggu sejenak, karena kebetulan seluruh mbak-mbak yang biasa memotong rambut saya sedang menangani pelanggan yang telah datang sebelum saya. Baru sekitar 5 menit menunggu, datanglah seorang ibu yang menggandeng — menyeret, tepatnya — seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih 5 tahun-an. Si bocah manyun. Ia dan ibunya duduk di samping saya.
Dari hasil perngupingan, saya menyimpulkan bahwa si bocah nggak mau dipotong rambutnya. Si anak terus merengek dan merengek dan merengek dan merengek, yang membuat saya bersyukur, nggak punya anak. Pusing kali ya bok. Tapi yang membuat saya tertarik adalah salah satu kalimat dari ibunya :
“Tau nggak sih, kamu cowok, cowok rambutnya harus pendek. Cowok yang gondrong itu penjahat.”
Nah sampai sini, tanpa bisa ditahan saya menoleh pada si ibu sambil mengerutkan kening.
Yang gondrong, penjahat katanya?
Yah, mungkin nih, si ibu itu hanya ingin agar anaknya berambut pendek rapi, supaya tidak bermasalah di sekolahnya, tapi menyebutkan bahwa Cowok yang gondrong itu penjahat, agak-agak bahaya nggak sih?
…
Stereotip, alias pelabelan sembarangan atas satu orang atau satu kelompok tertentu dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan / keunikan-keunikan individual, bukanlah hal yang ajaib sih sebenarnya. Jadi kasus di atas juga bukanlah contoh yang aneh. Jujur saja, saya pun kadang sulit lepas dari hal tersebut.
Ada beberapa contoh kasus stereotip yang sering terjadi dalam masyarakat :
- Berdasarkan ras/kesukuan/kebangsaan/kenegaraan : semua orang Cina berbakat dagang, semua orang Jawa lemah lembut, semua orang Batak atau Ambon jago menyanyi, semua bule liar. Orang Indonesia tukang teror.
- Berdasarkan gender : cewek nggak jago nyetir, cowok berpikir logis.
- Umur : semua orang yang berusia muda tidak bijaksana, semua orang tua pelupa.
- Agama : orang Kristen suka mengkritik kehidupan sekuler orang lain, bersikap holier-than-Thou dan hobi mengkhotbahi orang lain.
- Profesi : semua Sales Promotion Girl bisa di’ajak-ajak’, penari cowok pasti gay, semua dokter pasti tulisannya jelek, semua seniman dekil, bau karena jarang mandi dan seterusnya (Oh ya, terima kasih buat yang membantu saya memberi contoh soal stereotip profesi. Lihat di sini untuk contoh-contoh lain stereotip profesi )
- Atribut yang menempel pada seseorang : kalau di film/sinetron, orang berkacamata pintar dan kuper, penjahat harus gondrong - bertato dan mukanya codet sana sini, cewek yang memakai pakaian pamer paha dan dada cewek nggak bener, pria berjanggut memakai baju koko dan kopiah adalah anggota kelompok Islam fundamentalis atau gaswatnya : tukang sebar bom teror.
- Perilaku, semua cewek yang merokok atau suka pulang malam cewek nggak bener juga.
- Organisasi/Institusi tertentu, seperti, anak ITB pasti pinter dan suka belajar (Ehm, jadi inget, kemarin saya nggak sengaja menonton Take Me Out Celebrity *sumpah! Nggak sengaja!*, salah satu kontestan cewek menolak si single guy dengan alasannya kurang lebih seperti ini : “soalnya dia anak ITB sih, anak ITB kan individualis dan suka belajar, sementara saya suka diperhatiin. ” — Err… anak ITB suka belajar? Ga semua kali! )
- Dan lain-lain, kalau ada yang bisa nambahin monggo lho.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa hal tersebut adalah wajar, bahkan tak terelakkan. Ini karena dua hal : (1) Ada kecenderungan manusia untuk membagi dunia ke dalam kelompok dua kelompok, kelompok ‘kita’ dan ‘mereka(-mereka)’, yang memiliki persamaan-persamaan latar belakang/karakter/apapun dengan kita, masuk kelompok ‘kita’, yang berbeda, masuk kelompok ‘mereka’. (2) Manusia agak malas untuk banyak melakukan kerja kognitif untuk merespons SEMUA orang dengan keunikan masing-masing, lagian memang rada repot juga sih.
Pengelompokkan dan kemalasan melakukan kerja kognitif tersebut adalah kombinasi yang tepat untuk menciptakan asumsi-asumi/konsep-konsep tertentu tentang individu dalam kelompok-kelompok ‘mereka’, sambil mengabaikan fakta bahwa sebenarnya setiap manusia itu berbeda-beda.
Penstereotipan itu sebenarnya nggak berbahaya selama itu tetap disimpan dalam otak saja, ya paling dalam benak kita muncul ekpektasi-ekspektasi tertentu terhadap seseorang; dan kita bakal kecewa atau terkaget-kaget kalau ternyata apa yang terjadi tidak terwujud. Misal, karena menganggap semua cewek nggak jago nyetir, begitu ketemu yang jago, kaget. Atau kecewa karena nggak semua anak ITB suka belajar. :P
Yang repot kalau kemudian stereotip (negatif) ini ditindak lanjuti menjadi purbasangka terhadap seseorang, yang berbuah pada perilaku antipati. Antipati pada orang Cina, karena katanya semua orang Cina menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan bisnisnya. Para homophobia antipati pada penari cowok karena berasumsi bahwa semua penari cowok adalah gay. Atau si bocah cilik yang ibunya bilang bahwa cowok gondrong sama dengan penjahat, bisa jadi ntar-nya dia jadi ketakutan pada pria-pria gondrong.
Wujud yang paling ekstrim dari purbasangka ini adalah sikap-sikap diskriminasi, alias sikap tidak adil terhadap seseorang, semata-mata hanya karena orang tersebut adalah anggota dari kelompok tertentu. Seperti yang dialami si Zainal kawan saya, yang Muslim, berjanggut — ia sedikit dipersulit untuk urusan keimigrasian di salah satu negara Barat. Atau kawan saya yang lain, yang bertatto sebadan-badan, sempat kesulitan mencari tempat kost karena semua pemilik kost menganggap ia mantan residivis. Atau si bocah cilik yang ibunya bilang bahwa cowok gondrong sama dengan penjahat, bisa jadi ntar-nya ketika sudah besar, si anak bakal menjadi pembasmi cowok gondrong, karena menganggap cowok gondrong itu berbahaya bagi masyarakat (lebay, Ke, lebaaay)
Aaaanywayyy, ngomong-ngomong soal ibu yang bilang bahwa cowok gondrong adalah penjahat, saya penasaran, ada berapa cowok gondrong sih yang dia kenal? Perasaan banyak deh, cowok GPK (Gondrong Penuh Kasih)*, yang sebelas-dua belas dengan BTL (Bertato Tapi Lembut).
Untuk mengakhiri entri ini, pada akhirnya saya potong rambut —- dan sekarang penampakan model rambut saya seperti Joan Jett. *sigh*
:D
A human being is a single being. Unique and unrepeatable. (Eileen Caddy)
*Gondrong Penuh Kasih = istilah yang bersumber dari @dyanti



11 Responses to “GPK (Gondrong Penuh Kasih)*”
nambah 1 lagi mba…
PNS itu pasti pemalas
beuh… saia akan merubah stereotip itu!! >:D
btw,salam kenal :)
okke! : atau jadi PNS enak, pulang kantor jam 12, alias dari makan siang, ga balik2 kantor. Hehehe.
Salam kenal juga :)
topik yg asik nih, ke. gue juga peduli sama masalah ’stereotip’ dan ’stigma’ di masyarakat.
gak usah heran kalo pas kampanye legislatif ngeliat baliho caleg majang koleksi keris. buat kita mungkin non sense, tp buat masyarakat lain (gak cuma kelas bawah ya, yg membedakan itu kemampuan nalar bukan strata) punya keris = sakti = cocok jadi pemimpin.
yg gak ngenakin karena gue sempat jadi korban juga. begitu temen gue yang muslim taat tahu kalo gue keturunan Arab, langsung beda sikapnya. keturunan Arab di Indonesia memang agak diistimewakan beberapa kalangan, ini juga gara2 stereotip. dan gara2 stereotip itu, si temen mau beda pendapat ama gue aja dia jadi segan. masih untung dia nggak manggil gue Habib. LOL. apa kabarnya tuh koleksi bokep gue di rumah… :D
okke : LOL, tapi di elu kan posisinya lu diuntungin, HABIB Aan! hihi
bahasan yang menarik.. ;)
sayangnya saya masih keukeuh berada di dalam golongan masyarakat yang stereotip khususnya untuk contoh kasus nomer 7.. yang nomer laen2.. gak segitunya.. :D
okke! : Ya nggak apa-apa juga sih berasumsi gitu untuk contoh no 7, bebas aja, sama bebasnya seperti saya yang selalu mencoba tidak menilai orang dari apa yang tampak di luaran doang ;-)
Yak, nomor 7..
*sigh*
Kenapa dengan itu?! Kenapa??
Perasaan saya cewek ‘beneeeur’ deh. :p
okke! : iyaaaa! Why - oh - why? *drama*
tambahan mba’ Okke …
Anak motor pasti orang jahat .. sombong … sok jago .. nora’ …
Sampe ada tuh blognya yg bikin kuping panas anak motor .. padahalkan ga semua gitu .. aku dah jadi anak motor dari thn 2003, kaga pernah tuh gebrag mobil, naik trotoar, melanggar lampu merah, klakson2 pas baru aja ijo … motor cuma di kasi box blakang buat naro tas supaya lebih bisa ngendaliin motor n ga ribet sama tas … tp di judge “anak nakal” sama si pemilik blog .. huhu .. *curcol*
okke! : ah iyaa, anak motor juga! Semua dicap brandalan. :D
tambahan, mbak Okke…
gara-gara kasus Gayus yg kemarin sempet heboh, temanku yang kerja di institusi itu ngeluh karena uang kost bulanannya tiba-tiba dinaikkan. Itu diskriminasi bukan? Hehe…
okke! : tentu saja diskriminasi. Gara-gara gayus setitik, mahal yang kost seinstitusi =))
1 lagi tambahan lagi nih,
perempuan nikah ama bule muka “pembantu”, yang sering menjadi pertanyaan saya kaya’ apa sih definisi muka pembantu?
okke! : been there :D dan masih ga nemuin definisi muka pembantu. Anyone? =))
Eh, suami gw waktu pacaran dulu gonjes, lho, Kke. Dan dia MEMANG penjahat! Buktinya, dia mencuri hati gw… HAHAHAHAHA….
okke! : Hahaha, mendadak inget salah satu #anjinggombal-an gue : i am gonna sue you for stealing my heart. Ahaay. :))
Entah, tapi kecenderungan saya selalu ingin memancing orang untuk men-stereotipe-kan saya ke dalam kotak-kotak pemikiran mereka.
Sejak SMA saya gondrong karena sekolah di Debritto dan saya senang membebaskan orang berpikir “Anak nakalll!!!”:)
Sejak 2003 saya tattooan dan senang membebaskan orang2 melototin tattoo saya entah karena serem, mengutuk atau cinta..
Ah, tapi yang terakhir tampaknya salah :)
wih, seneng dh pas blogwalking nyampe ke blog ini..:p
salam kenal ya, mbak okke..
aku mau ikutan protes dong (meskipun telat)..:p
aku pake jilbab n pas kuliah aku pacaran ma senior yang gondrong n ’sangar’ (baca:tegas, soalnya dia aktivis:p)
sekarang? mantan senior gondrong (soalnya skrg ga gondrong lg :p) satu ini toh terbukti jadi suami yang bertanggungjawab n lembut hatinya, sampe2 nyokap seneng ngeliat kita krn ‘anaknya selalu disayang2′, hihi..
makan deh tuh stigma cowok gondrong ga bener..ga dpt cowok gondrong yg penyayang looh:D
Hmmm,,, bagus nih topiknya. Saya stuju,,. Btw, saya sekarang juga sedang mengalami cobaan yang tidak mengenakkan tentang stereotipe kyk gitu,,. :( ada yang bisa bantuin ga,,?
Aq co keturunan arab, punya temen deket, cewek, dia keturunan jawa,,. belakangan ini dia tiba2 ga suka sama aq, n sekarang dia udah ninggalin aq, g mau temenan sama aq.. Tau alasannya?? Cz menurut temen2nya, co keturunan arab tu banyak yang g bener! cuma manfaatin aja, terus akhirnya nyakitin!
maksudnya apa coba??
padahal aq dah buktiin bahwa aq bukan co kyk gt, dan dia juga tau bahwa aq g seperti yang dikatakan temen2nya. tapi dia tetep menganggap aq masih termasuk golongan “mereka yang g bener”,,,. :(
malangnya nasibq,,
Leave a Reply