Emansipasi Genjot Becak
…Emansipasi, jatuhnya hanya di tataran aktivitas fisik saja. Ngangkat tas berat-lah, jadi tukang becak-lah, nraktir cowok-lah. Padahal soal ’sama kuat secara fisik’ ya nggak ada urusannya dengan emansipasi.
Terus terang saja, beberapa tahun belakangan ini saya kurang berminat dengan kata ‘emansipasi’ dan perayaan Hari Kartini (Waduh, dimarahin deh sama pahlawan pembela perempuan. Hehe). Lagian emansipasi yang sekarang ini bukannya emansipasi musiman? Tanggal 21 April aja, panen deh kata emansipasi. Hari-hari lain? Ke mana aja?
Cuma hari ini saya tergelitik untuk menulis (sekalian posting lagi, sudah lama banget ya saya nggak posting?)
Gara-garanya, hari ini mendadak status FB atau twitter dari kebanyakan perempuan mengandung kata ‘emansipasi’. Nggak apa-apa juga sih . Nah, yang menggelikan adalah balasan dari status ‘emansipasi’ tersebut; ‘Perempuan ngomongin emansipasi, kalau disuruh genjot becak mau nggak?’ (atau aktivitas fisik sejenis,lah)
Awalnya saya cuma cengar-cengir saja, basi amat - pikir saya. Cuma, barusan banget saya mencuri dengar percakapan sejenis, sewaktu saya makan di sebuah pujasera. Seorang perempuan bersemangat ngomongin emansipasi, lalu teman-teman prianya mendadak bilang ‘Emansipasi, emansipasi, kalo tas berat dikit, minta tolong.”
Jah. Jadi saja, saya terdorong untuk menulis lagi :D
Coba tanya deh, apakah saya mau menjadi tukang becak (atau kuli bangunan dan sejenisnya), saya bakal menjawab dengan sukarela dan lantang : NGGAK!
Kenapa?
Karena saya (beruntung) mendapatkan kesempatan untuk memperkaya diri dengan pendidikan formal dan memiliki skill lain, yang memungkinkan saya untuk memilih jenis pekerjaan lain, selain jadi tukang becak. (Dan saya bertanya kembali, kepada para pria : kalau kalian punya pendidikan formal dan memiliki skill lain yang memungkinkan kalian memilih jenis pekerjaan lain selain jadi tukang becak, maukah kalian jadi tukang becak? :P)
Dan coba tanya lagi, kalau misalnya tas saya berat, apakah saya bakal memaksakan diri untuk mengangkatnya sendiri? Ya enggak juga lah. Minta tolong saja atau nyuruh dan bayar orang, jangan maksain diri kayak orang susah dong. (@sombongunite banget nggak sih? Haha)
Itulah yang membuat saya malas membahas ‘emansipasi’, karena entah kenapa, kebanyakan orang, kalau membahas masalah emansipasi, jatuhnya hanya di tataran aktivitas fisik saja. Ngangkat tas berat-lah, jadi tukang becak-lah, nraktir cowok-lah. Padahal buat saya, soal ’sama kuat secara fisik’ ya nggak ada urusannya dengan emansipasi.
Sebab secara etimologis, emansipasi atau emancipation, yang berkata dasar emancipate berasal dari bahasa Latin : emancipatus/emancipare, yang artinya : declare (someone) free, give up one’s authority over. Sedangkan menurut kamus, arti dari emancipate sendiri adalah : (1) to free from restraint, influence or the like; (2) to free (a slave) from bondage.
Pokoknya, intinya bebas (membebaskan), merdeka (memerdekakan)
Nah, pertanyaan terbesar saya adalah, apakah tukang becak perempuan adalah bukti emansipasi?
Saya rasa enggak, dalam salah satu perjalanan di Jawa Tengah, saya pernah bertemu dengan seorang perempuan tukang becak, karena tertarik, maka saya pun menyempatkan diri untuk mengobrol, ia bilang, ia terpaksa. Suami sakit dan dia tidak punya keahlian lain, ia bilang, kalau saja ia punya keahlian lain serta kesempatan untuk memilih pekerjaan lain, tentu ia akan memilihnya. Dan di beberapa kesempatan lain, saya juga sempat bertemu dengan beberapa pekerja fisik yang berjenis kelamin perempuan, semua sama-sama berkata, kalau mereka punya pilihan lain, pasti mereka memilih untuk tidak menjadi pekerja kasar.
Nah masih kekeuh, bilang tukang becak perempuan adalah bukti emansipasi? Bok, itu mah terpaksa, keterpaksaan memilih pekerjaan kasar karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Dan saya rasa, ini juga berlaku untuk pekerja kasar pria.
Lalu soal ngangkat tas berat, bo, ngapain gagah-gagahan dan kekeuh ngangkat barang berat, padahal pilihan ditolongin orang ada? Hehe. :)
Memang sih, dari kecil otak kita dicekoki tentang kisah heroik RA Kartini yang berjuang agar perempuan lebih dihargai dan diberikan kebebasan serta hak yang setara dengan kaum laki-laki khususnya dalam hal pendidikan, karena waktu itu memang perempuan belum merdeka dan terepresi dalam hal tersebut.
Cuma jadinya kita begitu terbiasa mengatakan bahwa emansipasi adalah (hanya) kesetaraan hak : laki-laki boleh sekolah tinggi, perempuan juga. Laki-laki berkarya di luar ranah domestik, perempuan juga. Bahkan ujung-ujungnya jadi ‘menyamakan kekuatan fisik’ antara laki-laki dan perempuan : ya genjot becak lah, ya jadi kuli bangunan lah. Malah entah kenapa, ada kecenderungan menuntut perempuan untuk harus gagah lah, nggak boleh menyek-menyek lah, harus jadi superwomenlah dan lain sebagainya. Kepikir nggak, dengan penilaian-penilaian ini, kita justru mengikat, tidak membebaskan perempuan-perempuan yang tidak gagah, menyek-menyek dan nggak suka jadi superwomen? :D
Anyway, wahai pria, emansipasi adalah tentang pembebasan mental. Bukan tentang genjot becak. Atau tentang mentraktir saat kencan (d’oh!)
Dan, untuk semua perempuan (termasuk saya sendiri), apakah kita yakin kita telah membebaskan mental kita dari perbudakan?
Apakah kita telah merdeka mengemukakan opini kita sebagai perempuan? Apakah kita telah bebas mengekspresikan keperempuanan kita tanpa khawatir penilaian orang? Apakah kita telah merdeka dan berpikir bahwa yang namanya menikah, hamil dan beranak adalah pilihan, bukan tuntutan? Apakah kita telah terbebas dari konsep perempuan cantik-menawan yang didoktrinkan oleh media massa?
Dan tentu saja masih banyak apakah lainnya.
Lalu, apakah kita juga telah membebaskan sesama perempuan?
Apakah kita telah bebas dari perbudakan dikotomi perempuan baik-baik dan perempuan nakal? Yakin kita tidak merepresi perempuan yang berani menampilkan seksualitasnya dengan penyebutan ”perempuan nakal’ ? Yakin kita bisa bebas dan tidak memberi label perempuan pedandan adalah perempuan kurang pintar? Yakin kita tidak merendahkan perempuan-perempuan yang memilih untuk menjadi full time mom?
Dan masih banyak juga tentunya ‘apakah-apakah’ yang lain….
Yakiiin?
Atau jangan-jangan emansipasi yang diributkan itu masih jadi PR buat kita semua?
Emancipate yourself from mental slavery
none but ourselves can free our mind
(Redemption Song, Bob Marley)



22 Responses to “Emansipasi Genjot Becak”
nggenjot becak kalo itu yang cuma bisa di lakukan untuk keluarga kenapa enggak :P
okke : ‘kalo cuma itu yang bisa dilakukan’ artinya tidak bebas/merdeka punya pilihan dong ya? ;-)
persis katanya tante Virginia Woolf, “The history of men’s opposition to women’s emancipation is more interesting perhaps than the story of that emancipation itself”
okke! : mbeer. :)) Fenomenanya kan orang2 sibuk aja sendiri, laki vs perempuan :D
betul 100% untuk 1 hal: udah lamaaa banget gak posting di blog sepatumerah.. kemana aja mbak hehe..sibuk di projek baju yah ^o^
okke! : nggak, sibuk twitteran sama main games. Hihihi ;))
Well… Gw salut ama wanita yg mau berjuang dengan emansipasi… Ya but somehow, women still women.. Men are men…
There are things that women don’t do…the same as men… So leave it like this.. Kartini just an icon but gender equality has happening during colonialism with less exposed…
okke! : yup, apa kabar dengan Cut Nya Dien ya? :D
soal emansipasi… aku masih agree bahwa itu tergantung dari cara kita (wanita) bersikap juga..
tunjukkan ke orang bahwa kita memang layak untuk disetarakan dengan yang lain.. masyarakat terima atau tidak itu urusan nanti, pokoknya kita action dan buktikan dulu..
kalo kitanya aja uda merasa “layak dinomorduakan”, jangan heran kalau orang lain memperlakukan kita sebagai yang “lebih lemah”, “gak cocok untuk bidang tertentu”, dsb..
mindset dan penilaian kita terhadap diri sendiri itu menentukan segalanya..
okke! : kata Bob Marley juga, emancipate yourself from mental slavery :D
setuju mbak okke!
kadang term ‘emansipasi’ justru dipake para pria untuk menjadikannya tameng mengesampingkan aspek kemanusiaan..
lagi musim yah ngebahas kartini2an? saya juga kena efek2 musimannya. hahuhaua
okke! : gw baca entri-mu. Mber, kalo emansipasi dipahami sebatas tataran aktivitas fisik, repot bok, orang bisa jadi nggak manusiawi. BTW, emang lagi musim kan, ngebahas Kartinian, kan tanggal 21 April, kita berdua… er, korban mode? :))
Wanita selalu mendapat tempat istimewa di mata dan hati laki2..dimata Nabi pun..laki2 hanya menempati peringkat keempat..setelah pertama,kedua,dan ketiga ditempati ibu..
Tuhan menciptakan wanita dan laki2 itu berbeda..dari dulu memang berbeda. Kalo sudah berbeda..ya jangan disama2kan..karena gak akan bisa sama…..
Alangkah baiknya jika mereka saling melengkapi dan saling mengisi..
okke! : haha, ini copy-paste dari wall FB-nya Ajeng yah? Ya udah jawabannya juga copy-paste, Sampe lebaran kadal juga cowok dan cewek akan selalu beda. Yuk mari. :P
Jiahh, tante okke emang paling bisa membahasakan sesuatu (gw tadinya mu bikin postingan serupa, tapi masih bingung dengan penggunaan kata-katanya *tsaah*). Satuju pisan lah sama semua isi tulisan inih!
okke! : Neng popih, untuk banyak hal sepikiranlah kita. :D Kumaha ceu? Udah lahiran? :)
Iyah, setuju sama Om Bob (dan Mba Okke tentunya). Emansipate yourself!
Kita perempuan seharusnya jadi orang yg lebih dulu ngerti, ‘emansipasi itu apa’. Jadi ga asal ‘bunyi’, yg ujung2nya kl dikasih pertanyaan soal ‘genjot becak’ udah bingung sendiri. Gw paling males kl pas ngomongin emansipasi jd merembet2 ke banding2in soal fisik. Udah tahun 2010 pertanyaannya masih aja cupu.
Eniwei, menjawab pertanyaan lo, gw sejujurnya blom yakin kl mental gw sudah bebas dari perbudakan dikotomi. :)
okke! : berarti masih PR dong ya buat semua :)
Setuju sama mbak Okke!
ga suka banget dengan alesan emansipasi, terus para pria itu gak mau ngasih tempat duduk di busway..hehehe..
Btw, kok yang dirayakan cuma Kartini aja ya? Kenapa Cut Nya Dien engga? Dewi Sartika? Christina Martha Tiahahu? atau HR Rasuna Said? :)
okke! : mungkin karena yang lain nggak surat-suratan? Jadi kurang terekspos hihi.
just share this in my FB link … sepakat bgt sama mba’ Okke .. Emansipasi wanita bukan cuma soal kemampuan fisik .. tapi lebih ke pembebasan cara berpikir.
btw .. baru inget lagi klo HR Rasuna Said is a woman’s name ya … xixixi .. thanks mba’
okke! : iya, Rasuna Said itu perempuan, terima kasihnya ke Dela dong, kan dia yang ngingetin :)
Dari etymonline.com “Also used in ref. to women who free themselves from conventional customs (1850).” Kalo pria ingin membebaskan diri dari conventional customs jg masih bisa dibilang emansipasi pria ndak ? Males bawain belanjaan istri misalnya :P.
okke! Jah, fisik lagi. Gini aja deh, pake contoh ‘bawa belanjaan istri’. Kalo urusan itu kaitannya cuma karena conventional custom, gw pikir ya nggak apa-apa membebaskan diri. Tapi masalahnya, kalo belanjaannya berat? Dan sang istri kerepotan bawa sendiri? Ini urusannya bukan emansipasi, tapi… manusiawi nggak membiarkan orang kesusahan dan ga dibantu? Udah bukan cowok-cewek lagi ini mah. Dan kalo gue pribadi sih, ngeliat nyokap repot bawa belanjaan, gw bakal bantu, karena gue manusiawi. *halah* :P
Sebenarnya kan tinggal bilang gini aja, Kke, “Kalau tatarannya fisik, loe lihat noh ibu2 tukang cuci! Nggak usah merasa diri superior karena mampu nggenjot becak deh! Tenaga yang dibutuhkan dengan jadi tukang cuci sama kok!”
Jadi… basi deh cowok2 yang memakai fisik untuk membuktikan ketidaksetaraan ;-)
okke! : jangan-jangan teteub nggak tau kalo nyuci itu berat, karena pada kebiasaan dicuciin orang rumah atau laundry? :D
Saya cowok nih. Saya sih pengennya mo cewek mo cowok bebas-bebas aja ngemukain pendapat ataupun milih jalan idupnya. Masalahnya, pertanyaannya, konteks kebebasan seperti apa sih yang dipengenin sama orang-orang? Okke sih udah jelas ngemukain pendapatnya. Lah, tapi Ke, emang itu yang dipikirin sama perempuan-perempuan lain, sehingga juga ngundang komentar miring dari cowok soal emansipasi yang ngebawanya ke aktivitas fisik?
Bahkan rata-rata dari kita juga masih kabur pemahamannya soal apa itu gender. Ada yang malah nyamain antara gender dengan jenis kelamin. Padahal setau saya, gender itu adalah peran yang didasarkan pada jenis kelamin, tapi sama sekali bukan jenis kelamin itu sendiri.
Nah, di kondisi kayak gini, ya emang ruwet jadinya masalah yang awalnya nggak ruwet kayak emansipasi itu tadi…
okke! : ya emang nggak semua juga sih yang berpikir/punya opini sama :) Kudunya pelatihan gender dibanyakin, biar pada ga salah kaprah dan ga ujung2nya jadi saling nyalah-nyalahin, kesannya laki-perempuan itu ‘musuhan’, padahal buat gue sih, dua-duanya sama-sama korban kebudayaan yang patriarkal. :)
Semangat banget balesnya :)) Walaupun belanjaannya sedikit di Indonesia gw bisa tetep ditegor mertua. Di sini tidak.
Itu point gw, bahwa breaking free from conventional custom bukan cuman masalah wanita.
Di sini biasa aja cewe bawa belanjaan sendiri, boncengin cowonya naik sepeda ke rumah mertuanya, gak ada yang nyelepet :P
okke! : huh? Ya emang bukan. :) Nggak cowok dan nggak cewek jadi ‘korban’ conventional custom kok *yak udah 2x gw ngereply gini*. Yang jadi masalah emang cuma mindset kok, mindset basi yang ujung2nya bikin urusan bawa-ngebawain barang ajaaaa diributin. Bayar tukang angkut aja napa? hehe :P
huhuhuhu.. setuju mbak okke !
numpang curhat neh, smp saat ini yg katanya udh emansipasi tp lowongan d IT masih banyak yg syarat d awal tertulis u/ cowok padahal ga menutup kemungkinan cewek jg capable
okke! : nyamar jadi cowok aja gimana? *saran ga penting* :))
Yah apa sih yang gak musiman? :p Ngeblog juga musiman :D
Btw, musiman itu juga sama dengan pengkotak2an pola pikir ya :)
okke! : apah? ngeblog musiman? Elu kali, bukan gue :P
PS.
Musim itu nama penyanyi dangdut, Musim Alatas.
salam kenal mba..
wah berarti selama ini aku salah mengerti ttg emansipasi..ehehehe..
hmmm….payah… ternyata PR saya masih seabreg…..Terima ksih sudah mengingatkan, Mbak :)
eman-emansipasti … pa khaar bu lama ga kontak
Okke, bagus banget tulisan yang ini, permisi re-post di FB gw boleh yaaa…makasih Okke!
wacksss…, sampe bikin postingan #emansipasi toh ternyata si mba’..( tetep pake hestek biar gampang di search :))) ) ,badewe saya jg bingung kadang org asal nyablak aja soal arti kata emansipasi = persamaan hak..
Leave a Reply