Tokoh Spiritualku Sayang, Tokoh Spiritualku Malang.
Posted: March 2nd, 2010 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |…. hal ini membuat ‘tokoh spiritual’ dan sebangsa ‘motivator kehidupan’ atau penulis buku-buku swabantu* menjadi satu pekerjaan menarik untuk menangguk keuntungan banyak :)
Memang ya, twitter itu bikin orang yang sebenarnya nggak begitu tertarik dengan perkembangan dunia —seperti saya— mau nggak mau ‘terpaksa’ mengikuti-nya. Gimana enggak, seluruh berita terjembreng di timeline saya dengan variasi rangkaian 140 karakter yang menarik, yang seringnya membuat saya penasaran, dan mengklik tautan menuju sumber berita yang terpercaya.
Nah beberapa malam yang lalu, tanpa sengaja saya melihat tweet seseorang yang menyebutkan nama AK, seorang tokoh spiritual kondang yang dituduh melakukan pelecehan seksual yang melibatkan murid-muridnya. Saya nggak tau, berita itu benar atau tidak, tapi entah kenapa, saya langsung teringat beberapa kasus ‘miring’ yang dilakukan oleh orang-orang berprofesi serupa yang terjadi belakangan ini. Mulai dari kasus kepleset omong ngetweet yang dilakukan moderator seorang motivator kondang, kasus pendeta pujaan sejuta umat yang dikabarkan bercerai sampai kasus Dai dan poligami yang pernah heboh beberapa tahun yang lalu.
Sebenarnya peristiwa-peristiwa ‘miring’ itu sama sekali nggak ada ngaruhnya sih di saya. Soalnya saya nggak pernah memuja mereka. Cuma, ada yang menarik bagi saya, dan tentu saja bukan soal keplesetnya mereka,melainkan reaksi dari masyarakat.
Masyarakat umum membicarakan perkara tersebut dengan hebohnya, sampai-sampai kasus ini sudah seperti bencana nasional banget. Banyak banget yang mengatakan : ‘Tokoh spiritual/motivator kok gitu…”.Dan orang-orang yang tadinya adalah groupiesnya kemudian patah hati.
Untuk kasus pendeta yang bercerai, kebetulan seorang kawan adalah pemuja tokoh tersebut. Setiap saat bertemu dengannya, kalau pembicaraan menyangkut ke urusan spiritual atau kerohanian, pasti nama pendeta tersebut kesebut lagi, kesebut lagi. Begitu saya tunjukkan berita tentang kasus perceraiannya, saya bisa melihat kawan saya itu merasa pahit dan kecewa.Masih untung semangatnya di soal rohani dan spiritual nggak mendadak loyo. :)
Soalnya saya SERING banget mendengar ada beberapa teman yang menolak berurusan dengan perkara rohani dengan alasan ‘Gue liat banget kelakuan tokoh-tokoh spiritualnya negatif kayak gitu, bikin gue males aja…’
Anyway, biarpun nggak pernah segitunya ngefans dengan tokoh spiritual apapun, saya pernah juga beranggapan bahwa yang namanya tokoh spiritual itu harus ’suci’ dan bebas dosa.Nggak boleh salah! Situ kan tokoh spiritual, kalau bikin salah, apa kabar kehidupan spiritual sejuta umat?
Cuma (untungnya) saya dikasih kesempatan untuk kenal secara pribadi berbagai orang yang kebetulan ‘memakai pakaian’ tokoh spiritual dalam berbagai bentuk.
Mereka makan apa yang kita makan *ya iyalah*. Mereka bisa merasakan happy. Mereka bisa pundung bin mutung. Mereka pernah marah,bahkan murka sampai memaki-maki. Mereka menangis juga saat sedih. Mereka kadang-kadang bandel-bandel. Mereka juga bisa lelah dicurhatin spiritual oleh sejuta umat. Mereka juga jadi norak dan menyek-menyek kalau lagi jatuh cinta. Mereka pasti punya libido (ha!). Mereka benar-benar mirip dengan saya (dan anda). Mereka… manusia, yang punya keinginan daging. ;-)
Yup, mengenal mereka secara pribadi, membuat saya bisa melihat mereka ’sebagai manusia biasa’, bukan manusia-cemerlang-tanpa-cela. Hanya kebetulan saja mereka berada di jalan yang benar memilih/terpilih/terjebak jalan hidup (atau pekerjaan) yang job description-nya adalah menenangkan/menginspirasi umat secara spiritual.
Ya tau dong, jaman ini kan jaman edan, kita ini hidup di dunia yang edan, bikin stress dan depresi, jadi manusia selalu butuh hil-hil yang mustahal berbau spiritual/religius, untuk memberi ketenangan, harapan, kebahagian endeswey-endeskoy. Banyak yang sengaja bela-belain melakukan semacam perjalanan spiritual, pencarian spiritual dan lain-lain spiritual dengan bentuk yang berbeda-beda, secara abstrak maupun konkrit. Saya juga kok. ;-)
Tapi bukannya yang memberi ketenangan, harapan, kebahagiaan endeswey-endeskoy itu ‘jalan’nya? ‘Cara’nya? Tokoh-tokoh spiritual mah cuma manusia (seperti kita) yang jadi ‘toa’-nya, karena kebetulan mereka pernah menjalani/mendalami ‘jalan’ atau ‘cara’ spiritual tertentu. Jadi ya, agak aneh kalau kemudian si tokoh-tokoh spiritual itu dikultuskan/dipuja-puja kayak gitu. Dan agak lucu ya, kalau kemudian, ketika sekali sang tokoh spiritual kepleset, sak jalan/cara spiritualnya ditinggal (padahal sebelumnya, beuh, mengklaim jalan-nya/cara-nya yang paling benar,membawa ketenangan, membawa harapan, kebahagiaan dst dst.). Jiah, kalau emang beneran bikin tenang mah, ngapain ditinggal? :P
Atau ini terjadi karena pada dasarnya manusia susah percaya akan sesuatu yang tak kasat mata? Konsep spiritual yang mengawang-awang itu rumit bin musingin, jadi mereka membutuhkan role model untuk memproyeksikan ajaran spiritualnya? Karena kebetulan para tokoh spiritual tersebut yang mengajarkan konsep-konsep tersebut, terjebaklah mereka, orang melupakan bahwa mereka manusia yang bisa kepleset dan jatuh jungkir balik melakukan hal-hal yang nyeleneh atau di luar ajarannya. (sekali-sekali atuh, kali mereka bosen juga hidup ‘lurus’. hihi)
Au ah.
Jadi ingat obrol-mengobrol dengan dua orang kawan dekat saya, yang satu kebetulan adalah lulusan teologi, sedangkan yang satunya masih mahasiswa teologi.
Yang satu menolak fitrah (sesuai dengan pilihan kuliah)nya menjadi pendeta karena menurutnya menjadi pendeta itu berat, selalu menjadi sorotan. “Susah Kak, jadi pendeta itu tanggung jawabnya besar, nggak boleh salah. Salah sedikit dicerca jemaat.” .
Sedangkan yang satu, sambil bercanda pernah memlesetkan lirik lagu-nya Seurieus, katanya ‘pendeta itu juga manusia, punya rasa, punya hati.’ — gara-gara kerap menerima komentar ‘Calon pendeta kok gitu…’
Waktu itu saya cuma ketawa-ketawa dan bilang ‘Rasain, siapa suruh…’ yang dibalas dengan pelototan mereka. Di mata saya, jadi mereka itu berat bok bebannya. Kasihan. Kudu terlihat sempurna terus. Kebayang nggak, capeknya? Jadi, sebagai sesama manusia, manusiawilah, maklumi sajalah kalau mereka melakukan kesalahan, nggak usah lebay menanggapinya. Hihi. :D
Aaanyway, kalau saya sendiri jujur nih, agak antipati dengan tokoh-tokoh yang dipuja keterlaluan. Sekali lagi, kita hidup di jaman edan dan manusia butuh ’sesuatu’ untuk meredakan kekhawatiran kita dalam menghadapi segala ke’edan’an yang ada. Nah, hal ini membuat ‘tokoh spiritual’ dan sebangsa ‘motivator kehidupan’ atau penulis buku-buku swabantu* menjadi satu pekerjaan menarik untuk menangguk keuntungan banyak, Laku bok. Selama mereka tahu cara yang pas untuk ‘menyentuh’ orang-orang yang haus akan apapun yang berbau spiritual, mereka bakal sukses (dan jadi pujaan). Oh well. Tokoh spiritual is overrated. Lebay ah lebay.
(Abis ini saya dilemparin deh sama penganut aliran spiritual apa pun,hihi..)
*swabantu : self-help. Kata baru yang baruu saja saya tahu dua minggu lalu. Senang bisa menggunakannya sekarang :))



Hahaha… gw tuh sebenernya lagi nge-draft tulisan tentang susahnya jadi Presiden RI, karena nggak boleh salah sama sekali. Harus sempurna, kalau bisa jadi dewa :)
Eh… sekarang loe nulis tentang “betapa susahnya” menjadi tokoh spiritual :)
Tapi sebenernya sih, Kke, [beberapa] tokoh spiritual itu sendiri punya andil terhadap pengultusan diri mereka. Soalnya [beberapa] sering muncul dengan topeng serba-bijak-bestari… seolah2 mereka bukan manusia yang bisa bikin salah. Akibatnya? Yaaah… semakin tinggi terbang, semakin sakit kalau jatuh ;-) Deep impact, bukan begitu ;-)?
sudut pandang yang menarik,
ya kadang terlalu mendewakan satu tokoh tanpa sadar kalo dia juga manusia biasa..
seharusnya ya sadar akan konsekuensi dari manusia apa adanya itu ya :)
sebenernya terlalu mendewakan seorang tokoh juga tidak terlalu baik. jatuhnya musyrik kalau di agama saya..
tapi, memang sulit sekali mempercayai sesuatu yang spiritual, apabila tidak memiliki panutan untuk itu, sayang panutan itu kadang tidak “dimanusiakan”.
kalo menurut gue sih intinya jgn terlalu ngefans sama orang, jangankan tokoh spiritual, ngefans berlebihan sama rock star aja nggak boleh
karena ketika seseorang ngefans sama orang lain, maka ekspektasinya pada org tersebut akan tinggi dan ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi maka yang tersisa hanyalah kekecewaan
*halah
Kalo mengutip lagunya The Rolling Stones ‘it’s the singer, not the song’ …
…di mana seharusnya fokus ke lagu, tapi ya gimana, yang keliatan the singer..
..saya suka kasian ama orang orang yang punya tokoh spiritual .. kesannya kalo ga ada si tokoh mereka jadi orang yang hilang ..
nice blog sist :)
okke! : Sankyuu :)
dilempari lemper mbak okke, hehehhee……..
Sejujurnya itu adalah hal yang memberatkan dr pandangan masyarakat kita bahwa tokoh2 ini harus terlihat perfect mulu, melenceng CELA!, melenceng, CELA,……melenceng, CELA……hehehhe……
Hidup lurus terus bosan kaliiiii, kadang2 kriting2…..gapapa dunk……..mereka juga sama kayak kita kok.
okke ! : ngng, lempar lontong isi aja, ga suka lemper, ga kenyang. :)) hehe. Iye,kebayang betapa membosankannya hidup lurus-lurus, nakal-nakal sikit gpplah *halah, nyaranin yang ga bener*
Saya setuju ama mbak Okke! Barusan juga saya bikin postingan dengan tema sejenis d blog….Ketika kita sudah sampai dengan tahap mengkultuskan seseorang,…. hasilnya kita jadi ngga bijaksana, kurang bisa berpikir jernih. Pada tahap tertentu, saya bahkan melihat beberapa orang, berani untuk tidak mengkultuskan seseorang yg sll digambarkan gondrong, berjenggot dan pakai jubah. Demi menjaga “kesehatan berpikir”
Kalo saya mengidolakan MJ, ngga peduli dia tersandung kasus hukum berat, secara dia juga ga kenal saya. Kita ga mungkin ketemuan. Daaaa….n yg saya idolai “ternyata” cuma karya musiknya, ama kecintaan nya pada bumi (itupun karena terekspos media) ya sutralah, hidup dia ya dia yg punya! Ngga ngurus! hahaha!!
pesan moral…
jgn pernah mau jadi fans…
Saya sih ga suka jg terlalu ngefans. Cuma ambil sisi2 positifnya aja, tanpa harus mengkultuskan :D
*blog sy jg isinya ada soal motivasinya*
wah..dari postingannya kita bisa menarik kesimpulan jangan mendewakan ataupun ngefans banget sama orang bisa bahaya…
Guru spiritual saya malah gak tahu sama sekali spiritual itu apa… hahaha…
Dia adalah anakku yang paling kecil…