...hidup adalah taman bermain raksasa yang harus dijelajahi. Jadi, bermainlah!

Malam Kudus : Banyak Tikus, di Rumah Yesus.

Posted: December 9th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |

Kenapa juga ya saya dulu mesti kesinggung? Siapa tau di rumah Yesus memang benar ada tikusnya. :D

Saya mencintai  atmosfer jelang Natal. Mungkin ini terdengar kekanak-kanakan sekali, tapi gimana dong, saya memang suka melihat  segala macam atribut hijau, merah, emas dan putih di mana-mana. Saya suka melihat gambar atau boneka Sinterklas di sana-sini, biarpun sejujurnya saya menganggap Bapak tua berjanggut dan berpiyama merah bulu putih itu nggak kontekstual banget dengan Indonesia. Saya suka momen bersama-sama berburu kado Natal dan membungkusnya. (Oh, tentu saja, Natal —seperti hari raya lainnya — adalah excuse yang baik untuk bersikap konsumtif. Ha!). Saya suka bersama-sama memasang dan menghias pohon Natal dengan Ayah, Ibu dan Nenek (yang sudah 3 tahun - termasuk tahun ini- kelewat melulu). Saya suka membuat kue kering dengan Ibu dan Nenek saya (kalau Ibu nggak males). Saya suka reuni keluarga dan seterusnya-dan seterusnya.

Oh hampir lupa, saya juga suka lagu-lagu Natal londho dengan berbagai versi. Rudolph The Red Nosed Reindeer. I saw Mommy Kissing Santa Claus. O Holy Night, atau lagu kojo yang sepertinya semua orang, sampai yang non Kristen pun tahu : Silent Night atau Malam Kudus.

Ngomong-ngomong soal Silent Night atau Malam Kudus, saya jadi ingat jaman-jaman SD, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Waktu itu saya mengikuti kegiatan Pramuka, saat jeda latihan semaphore, seperti biasa saya ngumpul-ngumpul dengan teman-teman. Ada beberapa teman yang duduk berkelompok sambil cekikikan. Penasaran dong si saya ini; saya mendekati mereka. Anehnya, begitu melihat saya, mereka terdiam.

“Ada apa sih? Ada apa sih?” tanya saya dengan nada mau tauuu aja.

Selama beberapa saat, mereka menyembunyikan hal yang membuat mereka senang. Kesal dong, kesannya mereka menyembunyikan sesuatu dari saya. Manyunlah saya. Saya memaksa teman terdekat saya untuk bercerita. Awalnya ia masih bungkam. But I always get what I want *belagu*, dengan cara yang saya sendiri lupa, akhirnya, jelang waktu berlatih lagi, mendadak ia berbisik,”Jangan marah ya, tadi kita nyanyi-nyanyi.”

“Nyanyi apa?”

“Malam Kudus.”

Lho? Ngapain juga mereka menyanyikan lagu Malam Kudus, padahal waktu itu bukan Desember dan setahu saya mereka tidak merayakan Natal.

“Tapi dirubah liriknya…”

“Jadi gimana?”

“Tapi jangan marah yaaaa…” wajahnya tampak kuatir.

“Enggak! Cepetan!”

Dan teman saya pun, dengan lirih bersenandung sambil tertakut-takut,” Malam kudus…. banyak tikus… di rumah Yesus…”

Oke. Dan saya pun merasa sangat marah.  Teman saya sampai bilang,”Tuuu kan, tau gitu aku nggak bilang…”

Selama sekitar dua minggu saya menjauh dari mereka, sampai mereka meminta maaf.

Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, tolol juga rasanya ya? Ngapain juga saya merasa tersinggung lagu ‘Malam Kudus’ digubah dengan kreatif dan walaupun nadanya nggak masuk dan maksa banget, tapi berima seperti itu? Memangnya saya penciptanya? Apa ada aspek kehidupan saya yang dirugikan gara-gara lagu tersebut dibuat parodi? Ya enggak juga.

Konyol binti Tolol aja.

Ada contoh kasus lain, dulu saya menggemari New Kids On The Block mati-matian. Saya pernah berantem dengan seorang teman laki-laki yang mengata-ngatai boysband 90-an ini banci. Berantem beneran. Saya masih ingat garis-garis bekas cakaran saya di lengan teman laki-laki saya itu dan beberapa helai rambut yang tercabut dan berada di tangan saya. Emang bener ya, cewek kalau berantem, senjatanya cakar dan jambak. :D

Dan sekarang, setiap memikirkan itu, saya sering ketawa sendiri. Ngapain juga merasa tersinggung, memangnya NKOTB itu siapanya saya? Bukan siapa-siapa! Nyadar saya eksis juga enggak ! Dan apakah setelah kawan saya mengata-ngatai NKOTB  banci, mereka jadi sakit hati? Ya, enggak juga. NKOTB  mana kenal kawan saya? (Kalau kawan saya kenal, tentunya saya lebih memilih berbaik-baik dong ah, biar dikenalin juga.*halah*) :D

Kelakuan, kelakuan.

…….

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2007, gara-gara susah tidur, tanpa sengaja saya terjebak dalam sesi diskusi berdiskusi sekelompok aktivis perdamaian. Agak bikin nyut-nyutan mendengar obrolan mereka, malam-malam setelah seharian penat beraktivitas; tapi mau pergi juga nggak enak ati. Akhirnya saya pun menjadi menjadi pendengar yang budiman. Dari sekian banyak topik, tentang daerah konflik, tentang -isme-isme, tentang isu-isu politik yang bikin mblenger, saya tertarik pada pembicaraan mengenai anti nasionalisme.

Bahwa menurut mereka, nasionalisme bukanlah hal yang baik. Dengan doktrin-doktrin yang dicekoki sedari kecil, bahwa seseorang harus mencintai negaranya, harus membela negaranya, membuat orang-orang bereaksi dan berpikir sempit. Kepedulian hanya sebatas negaranya saja. Membela pun ya membela negara sendiri. Pokoknya terkotak-kotak.

Mereka semua menganut anti nasionalisme. Bukan berarti mereka tidak mencintai negaranya;tapi mereka memilih untuk melepaskan pola pikir terkotak-kotak dan menjadikan diri mereka sebagai world citizen; dan mencoba untuk berpikir lebih luas, dan melebarkan kepedulian mereka terhadap seluruh penduduk dunia. Lintas batas negara, lintas ras dan lintas agama. Jadi bagi mereka, tidak ada istilah bela agama, bela ras dan bela negara, yang ada bela umat manusia. Tidak ada kotak-kotak.

Itu kata mereka, tapi saya sih berpikir, dengan mengklaim bahwa mereka adalah penganut anti nasionalisme saja, mereka juga sudah membuat kotak  tersendiri. :)

Anyway, dalam perbincangan yang jadinya membuat saya begadang semalaman dan besoknya terkantuk-kantuk itu, saya jadi berpikir; nggak bisa dipungkiri bahwa manusia itu terbiasa dengan pengkotak-kotakan,bukan hanya kotak kebangsaan seperti yang dibahas oleh kawan-kawan saya, tapi banyak kotak lain. Kotak terkecil adalah keluarga. Ada kotak gender, kotak agama, kotak ras, kotak suku, kotak kebangsaan,kotak hobi,kotak pekerjaan,kotak penggemar PERSIB, kotak Hooligan dan kotak-kotak lainnya. Saya rasa sih wajar, kotak-kotak itu kan semacam wadah identitas. Saya bagian dari kotak keluarga Iskandar dan Adam (hehe,ketauan deh nama keluarga besar saya), saya perempuan, saya kakak, saya Jawa, saya Kristen Protestan, saya penggemar New Kids On The Block, saya anak seni rupa dan seterusnya.

Nah, kalau sebagai wadah doang sih, kayaknya nggak jadi masalah ya. Cuma, yang terjadi dan yang saya rasa sih, sejak kecil saya ‘didoktrin’ untuk ‘mencintai’ kotak-kotak di mana saya berada.

Mencintai kotak-kotak kita juga nggak salah.

Tapi, seringnya doktrin-doktrin yang ditanamkan di otak, membuat kita kemudian mengidentifikasikan diri kita pada kotak tersebut. Jadi kotak-kotak tersebut bukan sekedar wadah identitas, tapi dijadikan sebagai diri kita sendiri. Kita meletakkan ego kita pada si wadah. Saya adalah Kristen, Kristen adalah saya.  Saya adalah Jawa,Jawa adalah saya. Saya adalah NKOTB, NKOTB adalah saya.  Saya adalah Persib, Persib adalah saya.

Apa jadinya kalau sudah begitu?

Karena manusia itu emang dari sononya punya kecenderungan egosentris alias menganggap diri sendiri adalah pusat dari segalanya; muncul deh, perasaan-perasaan cinta banget pada (kotak-kotak) saya, bahwa (kotak-kotak) saya yang paling benar, tidak ada yang boleh menganggu gugat (kotak-kotak) saya. Jadinya saya super-sentitit sensitif, kalau (kotak-kotak) saya terganggu, ngamuk. Mending kalau ngamuknya karena gangguan yang akbar, ini, bahkan untuk gangguan yang sebenarnya nggak esensial pun marah. Jadi subjektif dan irasional.

Ya seperti kasus pemlesetan lagu Malam Kudus atau ngamuknya saya saat NKOTB disebut banci itulah. Saya merasa tersinggung dan sakit hati ketika lagu ‘Malam Kudus’ yang dengan catatan adalah lagu andalan umat Kristen saat Natal diplesetkan; saya marah ketika NKOTB disebut banci.

Dan contoh-contoh di luar saya; pendukung tim sepakbola tertentu yang mengamuk sampai membuat kerusuhan saat tim mereka kalah. Padahal apa dunia mereka berakhir gara-gara tim tersebut kalah? Ya kagak lah. Tawuran antar SMU gara-gara ejek-ejekan almamater.Banyaklah contohnya, mungkin anda bisa menyebutkan contoh-contoh lainnya.

Saat ini saya memang masih hidup dalam kotak-kotak tersebut (siapa coba yang enggak?), tapi selama sepuluh tahun belakangan ini saya berada dalam lingkungan sosial (di dunia nyata) yang ‘nggak gitu-gitu amat’ untuk  masalah pengkotak-kotakan itu, jadinya saya nggak sensi-an. Dan, jujur saja, belakangan ini saya malah menganggap kotak-kotak tersebut nggak penting!

Cuma jeleknya, karena terbiasa berada dalam lingkungan sosial demikian, ketika berada di luar lingkungan sosial saya (di dunia nyata), sikap menggampangkan tersebut suka terbawa. Saya pernah membuat seseorang yang baru saya kenal ngambek gara-gara saya bilang “Udah, makan aja, nggak usah sungkan-sungkan, kayak Jawa aja lo.” (padahal saya sendiri Jawa, dan sumpah itu cuma becanda!)

Er, contoh lain lagi deh, saya sempat tanpa sengaja, ‘mengganggu’ kotak lain di luar saya.  Ini ya gara-garanya kadang saya kalau ngomong suka nggak terkontrol dan twitter — dengan kemudahan menulis apa yang terpikir dan mempublishnya dalam hitungan detik — benar-benar tidak mampu membantu saya untuk mengerem perkataan. Salah satu eh dua deng, tweet saya membuat saya diomeli beberapa orang.

Saat itu kebetulan Hari Raya Qurban, karena butuh membeli sesuatu, saya pun keluar rumah jalan kaki, kebetulan di rumah saya ada mesjid yang lapangannya dijadikan tempat memotong Qurban. Iseng lah saya, mendekati kerumunan.

Entah saya yang berhalusinasi, entah tidak, tapi saya melihat sapi yang hendak dipotong mengeluarkan air mata. Buru-buru saya berlalu sambil bergidik, melewati beberapa sapi dan kambing yang akan dipotong. Yang terpikir oleh saya adalah : Pembunuhan massal.

Saya pun men-tweet apa yang terpikir :

Turut berduka cita atas pembunuhan massal yang terjadi hari ini.

Nggak jauh dari tempat tersebut, saya melihat ada beberapa ekor kambing yang diikat, saya tanyalah pada orang yang kebetulan ada di dekat sana.

“Ini mau dipotong juga?”
“Nggak,Neng. Yang ini mah nggak kejual.”

Entah kenapa, yang terpikir dalam benak saya adalah “Beruntunglah kalian wahai domba yang nggak terjual, tahun ini kalian nggak mati.”

Dan langsung saya tweet :

Mengucapkan selamat pada domba-domba yang nggak kebeli. Selamat, kalian luput dari pembunuhan massal.

Akibatnya?

Saya diomelin ya bok oleh beberapa orang, omelannya dengan perkataan yang cukup silet.

Ya sudah, karena memang tidak ada maksud mencela dan memang arahnya sama sekali tidak untuk mengganggu kotak lain, alias hanya menulis apa yang terpikir, ya saya minta maaf saja. Urusan beres. Nggak perlu defensif dan berpanjang-panjang adu argumentasi, karena saya yakin, tidak akan ada ujungnya.  Bahkan pada akhirnya, mereka juga minta maaf karena telah mengeluarkan kalimat silet.

Tapi saya jadi berpikir, lain kali, kalau mau mengeluarkan statemen, harus lebih hati-hati. Masih banyak orang yang marah kalau ‘kotak’nya sedikit terganggu.

:)

Eh iya balik lagi ke soal Malam Kudus. Kenapa juga ya saya dulu mesti kesinggung? Siapa tau di rumah Yesus memang benar ada tikusnya. :D


22 Comments on “Malam Kudus : Banyak Tikus, di Rumah Yesus.”

  1. 1 JJ said at 16:15 on December 9th, 2009:

    “Saya suka melihat gambar atau boneka Sinterklas di sana-sini, biarpun sejujurnya saya menganggap Bapak tua berjanggut dan berpiyama merah bulu putih itu nggak kontekstual banget dengan Indonesia.”

    Jadi… mendingan pake blangkon dan sarung aja gitu biar kontekstual? *kabur*

    okke! : that’s a brilliant idea…. NOT. :D

  2. 2 Dodol Surodol said at 18:32 on December 9th, 2009:

    Jangan sampe di rumah Yesus banyak tikus deh. Entar orang-orang ‘religius’ pada miara tikus banyak-banyak, meneladani Yesus.

    okke! : tikus putih yang buat dipiara lucu kali, gemesin, pengen diremes *sadis* :D

  3. 3 desty said at 23:01 on December 9th, 2009:

    kalo ga salah ya,pernah lihat film kartun ttg tikus2 yg tinggal di dalam piano gereja. somehow..gr2 tikus itu lagu silent night tercipta. :D

    okke! : TUH KAN! Emang ada tikus… eh bentar,tapi bukan di rumah Yesus ya? :D

  4. 4 kodok said at 02:37 on December 10th, 2009:

    kotak kadang bisa bikin kita nyaman karena tau ada orang orang yang berpikiran sama dengan kita, jadi ada ‘order’ yang diikuti, cuma terus jeleknya jadi tumbuh ego dari kotak itu, nah itu yg kayanya parah.

    dulu saya gila Arsenal, semua yg lawan arsenal kena cemooh dari saya.
    hehehe.
    tapi sekarang udah enggak, mendekati kitab wahyu, damai aja. lagian arsenal gak lagi bagus2amat. hahaha.

    saya stuju banget sama world citizens.

    okke! : pria dan tim sepakbola-nya. :D

  5. 5 soe said at 04:13 on December 10th, 2009:

    bisa meletakkan diri dalam kotak adalah hal yang baik, soalnya, yang gagal juga jadi bermasalah = gagal mencari jati diri….. trus, kita mesti berkelana dgn tas ransel untuk mencari jati diri deehhh…. kaya tema2 film laga, hahahaha!! Tanpa bermaksud rasis, saya pun sudah mati rasa ketika ada yang bilang “cina!!” Lah memang keturunan cina, gimana??

    okke! : Yah seperti saya yang Jawa, mau gimana lagi kalo ditakdirkan di kotak yang itu… :D

  6. 6 iyra said at 04:50 on December 10th, 2009:

    jaman-jaman SD, di Lhokseumawe, Aceh Utara< << waaa mbak okke anak lhokseumawe?? dimana? daku juga..haha...*OOT*

    okke! : Iyee, gue tau… lu temennya adik gw kan? Gw di PIM tinggalnya, SMPN 1 Lhoks sekolahnya, jaman gw SMP, di PIM belum ada SMP :P

  7. 7 Shasya Pashatama said at 08:01 on December 10th, 2009:

    Tikusnya baik jadi masuk surga? ehehe…

    Kalo gue, suka sama kotak-kotak yang ada di tengah kita. Gua Cina, Lu Jawa, dan kita baik-baik saja. Kebetulan kita sama2 penggemar NKOTB, hihihi….

    Yang penting jangan juga maksain harus sama kan ya ? Iya kita sama2 orang Indonesia, tapi gue keturunan Cina, lu suku Jawa, laki gue Batak, dan seterusnya. Semua dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang penting akur kaaan :)

    okke! : ah, pergaulan kita bhinneka tunggal ika kali,pun! :))

  8. 8 Wulan Aquariyanti said at 01:26 on December 11th, 2009:

    Hahaha.. gw ketawa sendiri baca soal tikus sama domba.
    Kl ga ada kotak-kotak ga seru kali ya mba. Plain. Emang kl dipikir2 kita gampang banget emosi dengan alibi ‘menjaga kotak kita’. Padahal kl mau berdiri di antara kotak-kotak itu malah seru.

    okke! : iya, jadi bisa saling ngerti dan mengharmoniskan antar kotak.*ALAAAH!*

  9. 9 senny said at 16:18 on December 11th, 2009:

    emang di rumah Yesus beneran ada tikusnya ya? *dibahas

    eh tapi I don’t celebrate xmas but i like it when it’s coming

    okke! : Knaps? Kayak di pelem-pelem? Kurang saljunya aja yak? :D

  10. 10 TeeWee said at 19:47 on December 11th, 2009:

    Mba, aku salah satu orang yg ‘nyilet2′ mbak pas kemarin. Maab yah. Emang, aku salah satu orang yang cepet ksinggung klo ‘kotak’ aku keganggu.

    Soalnya seblmnya aku smpt tuh ngliat salah satu pnulis juga yg nulis soal gn, tapi dah gt ditegur byk org malah dia yg nyolot. Heran.

    Aku kira Mba jg bakal gt. Tyt gak. :) Makanya aku jd ga enak ati udah marah2 tajem gt. Hihi. Tp tweetnya dah diapus kok. :D

    okke! : Gpp kok. Kenapa diapus? Anyway, twitter itu tempat publik/terbuka, beda banget sama lingkungan pertemanan saya yang emang ngasal. Di twitter, orang yang bisa liat/baca tweet kita macem-macem, jadi buat saya sih, saya yang salah tempat ngeluarin statemen yg —- walaupun kata saya biasa, tapi kata orang —- menyinggung seperti itu. Agak egosentris juga kalo misalnya nyolot :D

  11. 11 lenje said at 11:38 on December 12th, 2009:

    Kotak saya: Kristen sekuler.

    Kotak ibu saya: Kristen … mmm. apa ya? Gaya Pantekosta/Karismatik gitu deh (agak susah dibilang sebagai ‘radikal’ atau ‘puritan’).

    See, dalam kotak ‘Kristen’ itu pun ada kotak2 lagi, dan bisa menyebabkan perselisihan, sedikitnya debat (it just happened today! :D)

    On a *rather* religious note: Dalam rumah Yesus kan emang ada tikus Ke :). Yesus lahir di kandang kan? Pasti banyak tikus. Tapi tikus adalah binatang yang bisa ada di mana aja, mulai dari kandang bosok sampe istana megah. Jadi rumah Yesus bisa di mana aja juga :))).

    Merry Advanced Christmas! :)))

    okke! : kotak gue : Kristen protestant dalam arti kristen tukang protes :)). Emang iya, kotak-kotak ada kemungkinan saling ganggu,cuma kalo dalam lingkup kecil, ga terlalu gimana-gimana banget efeknya, karena kita udah tau karakter orang perorang,kalo lingkup yang gede, yaa gitu deh. BTW, iya di ‘rumah’ Yesus emang sangat mungkin ada tikusnya, jadi berasa percuma marah2 waktu kecil dulu :)) Selamat Natal kecepetan juga!

  12. 12 uriplanggeng said at 03:47 on December 14th, 2009:

    hehe..lucu juga ini, mungkin bisa jadi ide buat kotbah natal….gubrak!!!! ntar malah ada lomba pelihara tikus buat pereyaan natal…lucu mungkin ya…wkwkw

  13. 13 uriplanggeng said at 03:49 on December 14th, 2009:

    hehe..lucu juga kali ya, buat kotbah natal…gubrak!!! atau malah buat lomba pelihara tikus sebagai peryaaan natal…hemm..lucu-lucu..wkwkw

  14. 14 Cely said at 00:19 on December 16th, 2009:

    pengen denger lagu versi lengkapnya deh :D

  15. 15 dela said at 03:30 on December 16th, 2009:

    aku selalu suka natal walopun bukan christmas!!! :)
    suasananya warm banget..
    dan..
    walopun aku bukan kristian, tapi kayaknya bakal tersinggung juga deh kalo misalnya lagu Malam Kudus..

  16. 16 Dez said at 10:22 on December 17th, 2009:

    lho. wajar aja dong..
    NKOTB itu emang ideologi -_-”/
    perjuangkenn

  17. 17 liyak said at 07:59 on December 21st, 2009:

    memang harus ada kotak-kotak itu. Tuhanku bilang kita diciptain berbeda-beda untuk saling mengenal. senang mengenalmu saudaraku :D

  18. 18 ferdi susanto said at 15:53 on January 3rd, 2010:

    kotak - kotak di kotak - kotakin, bukan memang sengaja di buat seperti itu dari sananya. pernah ngebayangin ga mbak klo semua orang di dunia ini punya pendidikan yang sama, punya doktrin yang sama, punya bahasa yang sama. jadinya ky gimana di dunia ini kita hidup. ga bakal ada istilah si jahat dan pembela kebeneran, ga bakal ada neraka dan surga. semua bakal terasa anyep ga siyy…? menurut saya perbedaan itu baik, cuman gi mana caranya kita bisa hidup saling berdampingan dan saling mengisi di antara perbedaan itu. itu yang mesti terus kita lakukan, pelajari dan jalanin. ( bingung ga mbak ? , saya juga bingung sama coment saya, hee hee hee )

  19. 19 jual sepatu said at 00:54 on January 8th, 2010:

    kalo di rumah yesus ada tikus, y tikusnya harus di singkirkan, tul ga?

  20. 20 Ina Eltrina said at 04:24 on January 15th, 2010:

    Okke…. Na ingat banget kamu tuh maniak NKOTB. Segala macam benda berbau NKOTB diburu dan dikoleksi, kadang bikin iri beberapa teman dikelas ya… ha..ha..ha… Na suka baca tulisanmu. Sukses ya…

  21. 21 regina said at 09:57 on January 20th, 2010:

    hmmm Yesus bukan hanya di rumah yg banyak tikus kali mba, Yesus malah lahir ditempat yg paling hina, di kandang domba. justru itu yg menjadi teladan kita umat kristiani kan? hehehe Jbu mba Okke

  22. 22 eLiKa said at 09:07 on January 27th, 2010:

    well, setiap org pasti punya masalah sendiri dgn ‘kotak-kotak’ itu. Tapi lebih prihatin jika ada seorg teman yg “terlalu berlebihan” dalam menjaga ‘kotak-kotak’nya. Dan saya pernah menjadi salah satu korban yg menyedihkan karena itu. Saya pun tak menyangka akan mendapat respon kata-kata “bunuh” seperti itu :-(
    Humm, setiap org memang punya hak untuk bersikap fanatik akan apapun itu, tetapi seharusnya tetap dibarengi dgn logika dan rasionalitas kan …
    At least, mikir dulu dong sebelum mengucapkan sesuatu. Lidah memang tak bertulang.


Leave a Reply