HottaLotta And Cyber-Bullying

“Ih, tapi gue kan ga ikut-ikutan komen jahat di HottaLotta?’ protesnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah terlibat pembicaraan mengenai bullying. Seorang rekan protes karena anaknya yang masih SD kelas 1 mengalami tindakan bullying di sekolahnya. Dan dia pun menistakan tindakan macam itu. Saya yang mendengarnya jadi tertawa sendiri, karena tepat beberapa hari sebelumnya, saya menerima e-mail darinya yang merekomendasikan sebuah blog.

Sebenarnya, bukan dia doang sih yang mengirimi saya URL blog tersebut, ada kali sekitar  lima e-mail bernada sama. Seluruh e-mail tersebut diberi pengantar kurang lebih sama : ‘Liat deh, lumayan buat ketawa-ketawa.’ atau ‘hiburan hari ini’.

Blog yang dimaksud adalah blog milik Tara, yang beralamatkan di http://hottalotta.blogspot.com . Kebetulan hari itu saya sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk memerhatikan secara seksama si hottalotta ini. Saya cuma melihat sekilas. Another fashion blog. Tanpa bermaksud menjadi party pooper, saya nggak merasa ada yang lucu di blog milik Tara, yang bermimpi menjadi fashion stylist dan fashion designer. Saya cuma merasa bahwa segala outfit dan pose yang terdisplay itu aneh. Mungkin ini selera humor saya saja ya, buat saya ‘aneh’ itu nggak lucu dan lucu itu nggak harus aneh.

Baru sekitar beberapa hari kemudian, karena beberapa kali membaca link atau nickname sang empunya blog di timeline twitter saya, juga gara-gara mendapat e-mail lagi, yang merekomendasikan blog itu lagi, dengan kata pengantar ‘Gue dari ketawa-ketawa sampai miris bacanya’, saya jadi tertarik dan mulai meneliti satu demi satu entri-nya.

Dan memang miris sekali membaca komentar-komentar di sana, yang didominasi oleh mahluk-mahluk bernama ‘anonymous’ . Seriously, jahat sekali. Semuanya berisi celaan dan hinaan. Dari celaan taste, fisik dan intelejensia; dan dengan kata-kata yang menurut saya nggak difilter sama sekali.

Mendadak saya jadi teringat kasus Ophi A Bubu. Kalau ada yang belum tahu Ophi A Bubu siapa; dia adalah seorang remaja yang gemar menulis dengan bahasa Alay di notes-notes Facebook-nya. Untuk saya pribadi, tulisan dengan bahasa ini cukup ganggu, karena saya nggak terbiasa membaca  ‘aku’ jadi ‘aquwh’, ‘kamu’ jadi ‘kmuwh’, ‘mau’ jadi ‘mawh’ etc. Ophi A Bubu ini mendadak kondang gara-gara notes-notesnya, sampai-sampai entah siapa ada yang dengan niatnya membuat semacam fanpage, yang tentunya isinya celaan-celaan sadistis. (Cuma barusan dicari-cari sudah nggak ada)

Satu hal yang sama yang terlintas dalam benak saya melihat kasus HottaLotta dan Ophi A Bubu adalah : bullying.

Istilah bullying ini berarti adalah perilaku menyerang berulang-ulang yang di arahkan pada orang lain secara sengaja, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Tindakan ini dimaksudkan untuk menyakiti target, membuat target menjadi powerless - sekaligus membuat pelaku merasa berkuasa.  Semacam penindasan lah. Yang jelas, bagi pelaku, tentu menyenangkan, tapi bagi korban? Yang ekstrim, korban bisa mengalami gangguan mental/perilaku, bisa jadi stress dan depresi (Saya jadi mikir, ini pelaku apa nggak bisa menempatkan diri di posisi korban apa?)

Anyway, kasus bullying ini kayaknya sudah nggak asing lagi deh. Beberapa kali saya melihat perilaku bullying ini di beberapa film, terutama film remaja, Bridge of Terabithia, adalah salah satu film terakhir yang saya tonton yang ‘mengandung’ kasus bullying di dalamnya. Mungkin di sinetron remaja di TV Indonesia banyak juga kasus bullying/gencet-gencetan, nggak tau juga, soalnya sekarang saya termasuk jarang nonton TV lokal. Yang saya ingat sih  salah satu adegan sinetron Bidadari yang dibintangi oleh Marshanda jaman dulu. Lalu ada satu lagi, film Barb13 yang dibintangi oleh (CMIIW) Tikam,  Cathy Sharon dan Desta Club80s.

Ada beberapa tipe bullying, yakni :

  1. Verbal, yakni menggunakan kata-kata yang menyakitkan, seperti penggunaan panggilan ‘Si Goblok’, ‘Si Pendek’, ‘Si Selera Rendah’  dan semua yang sifatnya kata-kata yang mampu membuat target sakit hati.
  2. Fisik, yakni menyerang secara fisik, meninju, menggigit, mendorong, atau barang-barang personal target diambil tanpa persetujuan (semacam malak), termasuk juga pelecehan seksual.
  3. Sosial, yakni diisolasi dari lingkungan pergaulan, dicuekin, dimusuhi etc.
  4. Psikologis/Mental, ketika seseorang diancam atau diintimidasi
  5. Homophobic bullying, yakni penindasan karena target adalah seorang homoseksual (gay/lesbian), diduga homoseksual (karena perilakunya) — seringnya sih, yang kelihatan kalau seorang cowok berperilaku melambai, pasti mendapat perlakuan tidak enak dari lingkungannya.

Dan yang terakhir, yang baru dimasukkan ke dalam tipe bullying adalah cyber-bullying, yang oleh wikipedia didefinisikan sebagai sebuah perilaku untuk menyakiti seseorang/target dengan menggunakan internet, telepon genggam atau gadget lain, dengan mengirimkan teks atau gambar. Jelas banget apa yang dialami oleh Ophie A Bubu dan HottaLotta adalah cyber-bullying.

Inti dari tindakan bullying ini sebenarnya adalah pemenuhan rasa lapar ‘kekuasaan’ atau keinginan untuk dianggap/merasa berkuasa. Kalau sering menonton film dengan scene bullying kita bisa lihat, orang yang memiliki kecenderungan untuk menjadi pelaku adalah mereka yang memiliki kekuatan. Secara sosial mereka kuat mungkin semacam mahluk-mahluk alpha. Secara stereotype, biasanya pelaku  tindakan ini adalah bintang basket/cheerleader blonde, kaya, cantik. Dan yang menjadi korban/target adalah mereka yang dianggap ‘aneh’ : penampilan berbeda, tingkah laku berbeda, ras  berbeda, agama berbeda — yang kalau di film, divisualisasikan sebagai sosok-sosok culun nan ndeso - type omega banget lah.

Nah, kalau kasus cyber-bullying sendiri, kenapa?

Situs http://www.stopcyberbullying.org mengatakan bahwa penyebab terjadinya cyber bullying ini bisa jadi karena dendam, kemarahan atau perasaan frustasi. Bisa juga karena pelaku memang nggak punya kerjaan, sedangkan ‘mainan’ berbau teknologi banyak tersedia di sekeliling mereka; jadinya iseng dan pingin cari keributan. Atau bisa jadi, pelaku adalah orang-orang yang di kehidupan nyatanya termasuk golongan ‘nggak dianggap’ atau tidak punya kekuatan, dengan melakukan cyber-bullying mereka merasakan bagaimana rasanya jadi ‘orang yang berkuasa’.

Yang gawat dari cyber-bullying adalah, orang bisa merasa terlindung di balik anonimitas. Dan kebayang, kan, ketika seseorang sudah berpikir ‘ah nggak ada yang tau ini’, maka dia  bisa melakukan BANYAK hal. Ya lihat saja-lah, gimana ancurnya komentar-komentar di blog hottalotta.

Anyway, saya pun bilang pada kawan saya (yang anaknya mengalami bullying di sekolahnya), saya bilang, kalau mau menista tindakan bullying, ya konsisten, jangan terlibat dalam tindakan bullying juga. Eh, dia protes, katanya, dia TIDAK PERNAH melakukan tindakan bullying pada siapa pun. Lalu saya ingatkan dengan tindakannya tertawa-tawa melihat blog HottaLotta.

“Ih, tapi gue kan ga ikut-ikutan komen jahat di HottaLotta?’ protesnya.

Ya, dalam kasus bullying, sebenarnya ada tiga roles yang terlibat di dalamnya : The Bully (Pelaku), Victims (Korban) dan Bystander (Saksi/penonton). Penonton/orang yang menjadi saksi, bisa dibagi dua : (1) Orang yang menikmati/ikut-ikutan tertawa saat kejadian bullying ini berlangsung (2) Orang yang sebenarnya kasihan pada korban, tapi tidak berbuat apa-apa dengan berbagai alasan : nggak mau kepo, takut jadi sasaran berikutnya, atau simply nggak peduli etc.

Seringkali kita merasa bahwa kita tidak terlibat dalam kasus bullying jika kita bukan pelaku atau korban. Padahal dengan menjadi bystander dan tidak melakukan apa-apa pun, artinya kita sudah memiliki peran besar membiarkan tindakan ini berlanjut.

Untuk kasus HottaLotta, kawan saya yang ikut-ikutan mentertawai jelas sudah terlibat dalam kasus bullying ini. Saya rasa, saya pun juga terlibat dalam tindakan cyber-bullying dengan target HottaLotta, karena (tadinya) saya mengambil sikap bukan urusan gue/tidak peduli :)

Aaanywaaay, selama 4 hari belakangan ini, saya jadi rajin menyambangi HottaLotta dan melihat begitu banyak perubahan outfit dan posenya. Ada beberapa komentator (yang teteub ya bok, berlindung di balik anonimitas) yang memberi saran fashion padanya, mengoreksi kesalahan grammar/struktur bahasa Inggrisnya; dan Tara (sang pemilik HottaLotta) mengikutinya. Tapi masih ada juga yang mencela-cela.

Namun yang saya herankan adalah, mulai bermunculan beberapa komen, terutama beberapa entri terakhir, yang mengatakan bahwa blog itu nggak seru lagi. Nggak ada yang bisa diketawain.

Eh?

Perasaan di entri-entri sebelumnya para komentator ‘memaksa’ pemilik blog untuk berubah deh, lah begitu berubah, kok ya salah juga?

Apa memang sebenarnya hidup itu sudah susah, ya? Sehingga dibutuhkan target bullying, sebagai hiburan? Pokoknya harus ada orang yang lebih susah aja, untuk membuat diri mereka merasa lebih baik? Kalau memang gitu, pantes saja orang-orang doyan pada berita-berita buruk seleb di infotainment. :P

Entahlah.

Oh iya, saya sempat menyambangi *niat!* halaman Lookbook dari si pemilik HottaLotta dan membaca satu quote yang dibuatnya sendiri.

” to be successful we have to go through various obstacles such as the ridicule of others “  (Quotes by myself)

Oh well, hidup itu keras, Jendral. Dan lebih keras lagi bagi mereka yang sedang berjuang meraih mimpi.

Http://lajangdanmenikah.com sudah kembali bisa diakses dengan normal sekarang, maaf atas ketidaknyamanan anda beberapa hari belakangan ini. *Tsah*. Dan Celoteh Bocah Project, masih berlangsung loh, kalau kalian mendengar celoteh lucu anak/anak teman/keponakan/anak nemu, monggo dikirim ke lajangdanmenikah@gmail.com dengan subject Celoteh Bocah Project. Ditunggu!

24 Responses to “HottaLotta And Cyber-Bullying”

  1. Dodol Surodol Says:

    Entri yang bagus dan menyentuh. Terima kasih.

    okke! : sama-sama. *ctuks!* :D

  2. JJ Says:

    Okkeeee… thank you for writing this. Gue pun kasihan sama Ophi A Bubu, dulu sempet main ke FB-nya, yaoloh parahnya. Tampaknya di dunia maya orang bisa bersikap seribu kali lebih jahat dari di dunia nyata. Apa jangan2 ini kompensasi dari kemarahan yg gak bisa tersalurkan di dunia nyata?

    okke! : Bisa jadi bow, ntahlah. Kali di dunia nyata mereka justru yang tertekan? Bisa juga karena kebanyak waktu luang. Kalo gue sama elu, pas banyak waktu luang biasanya nulis, main games atau main detektif2an (hahaha! sektoral), kalo ini kali ga tau mau ngapain. :))

  3. Robert Says:

    Inspiring. Ditulis dgn bahasa yg tajam tp tidak mencoba menggurui. Biar begitu, saya cukup respek dgn Tara yang seolah punya mental titanium, biarpun sudah dicerca seribu anonymous. Jujur walaupun saya juga sering ketawa ngeliat Hottalotta di posting-postingan awal, saya tdk akan bertahan sekuat Tara bila dibully seribu anonymous seperti itu :-)

    Regards.

    Okke : gue ga yakin mental titanium juga sih, bisa jadi tindakan self-defence, nunjukin ke orang2 bhw diapa2in juga ga ngaruh :D and THAT annoys all those anonymous bullies. =))

  4. GossipGirl Says:

    saya termasuk yang sedih ngeliat tara di bully gini. kayanya…kayanya loh ya, dia punya potensial menjadi lebih bagus seperti harapan para pembaca yang mayorits suka menghina ini kalau dia punya akses ke pakaian2 yang lebih mainstream. just my 2 cents.

    xoxo

    okke : er, punya akses seluas-luasnya ke berbagai fashion items/lessons tepatnya:D

  5. sita Says:

    saya juga buka hottalotta setiap hari abis seru sih hehe, beberapa anonymous yang ngomongnya pedes2 tanpa saran yang berguna itu memang kemungkinan besar hanya melakukan pelampiasan. tapi saya mengikuti hottalotta dari blog itu baru dibuat, awalnya Tara membalas komen2 para anonymous dgn gaya sangat sombong padahal komen dr anonymous tersebut biasa2 aja, gak menghina, hanya menyatakan bahwa mereka kurang setuju dengan gayanya si hottalotta dan memberika sedikit saran. nah mulai disitulaaah, banyak anonymous yg ngata2in dia dengan kasar karena mungkin mereka gemes kali yaa heheh.. tapi tetep aja sih, kasian dia.. saya sih melihat2 aja, gak pernah ikut komen :p

    okke : hello, silent bully :D hehe peace! ntah lah, ga ga baca komen dari awal, capek bok. Cuma kepikir aja, cara ‘penyampaian’ saran bisa ngaruh juga ke penerimaan. ’salah’ dikit bisa bikin orang defensif. IMO lho.

  6. tara Says:

    makasih udah membahas cyber bullying yg dilakukan terhadap blog gw, secara jujur cara paling ampuh untuk menghadapi cyber bullying cuma satu , kita harus menghadapinya dengan senyum, karena setiap orang itu bebas berpendapat apapun itu, positif atau negatif. Dan kenapa gw tetap bertahan diantara serbuan celaan oleh para anonymous karena gw yakin someday gw bisa membuktikan kalau gw bukan seperti yang mereka kira selama ini. I’ll prove it ….

    okke : don’t thank me. I didn’t write it for you, cuma nulis apa yang kepikir:) Anyway, good luck!

  7. khansa Says:

    wah uda nunggu2 jg nih blogger yg mmbahas Tara n berharap bs mnyadarkan para anonim2 tsb. iya ikut kasian sih ma tara, palagi aku cm jd silent reader doang, maaf ya Tara :(

    btw, aku ga yakin ini komen dari Tara beneran,

    ” tara Says:
    December 22, 2009 at 02:16

    makasih udah membahas cyber bullying yg dilakukan terhadap blog gw, secara jujur cara paling ampuh untuk menghadapi cyber bullying cuma satu , kita harus menghadapinya dengan senyum, karena setiap orang itu bebas berpendapat apapun itu, positif atau negatif. Dan kenapa gw tetap bertahan diantara serbuan celaan oleh para anonymous karena gw yakin someday gw bisa membuktikan kalau gw bukan seperti yang mereka kira selama ini. I’ll prove it …. ”

    dia slalu pake nama I MADE DWI ANTARA (cmiiw)

    okke : hehe ternyata doi kaan ? :D

  8. khansa Says:

    ahhh ralat… stelah nanya Tara langsung, tnyata emg bener comment dia.. hihi..

  9. Shasya Pashatama Says:

    dan gua terlambat menyadari kalau yang gua lakukan (atau gua pikirkan) adalah tindakan bullying, yang ada di pikiran gua waktu melihat blognya adalah, ya lucu aja. gua baru menyadari kalau blog dia jadi dinistakan banyak orang, setelah melihat komen-komen yang (hampir) semuanya dari anonymous, baru gua menyadari, maaaan…… that’s rude :)

    dan belakangan gua menyadari kalo dia itu orangnya manis2 aja menanggapi cercaan yang segitu hebatnya. kalo gue, udah gue tutup kali blognye :)

    okke : mekanisme bela dirinya beda kali. :D Dia kekeuh jalan terus, elu (dan gue juga keknya) antara nyolot balik (ini most likely terjadi hahaha), memoderasi komentar atau kabur.

  10. bukanalay Says:

    Sy slh satu pembaca yang bc blog mbak dan yang suka ke blog hottalotta juga. Emang kasian sih, mknya saya suka ngsh2 masukan gt ke dia. Sy cuma wondering, mbak kenapa ngebelain dia sih, sampe bela2in bikin tulisan ky gini? :D

    Cuma wondering loh.

    okke : yak, komentatornya Tara pindah ke sini semua :)) Anyway, nggak, saya sih ga ngebelain dia sama sekali, saya selalu nulis apa yang pengen saya tulis, dari dulu pas kasusnya Ophi A Bubu itu udah pgn, cuma ga sempet :D

  11. penikmat hottalotta Says:

    Ngapain juga capek2 belain Tara? He will never reach his dreams anyway, mengingat taste-nya kek gitu. Gw yakin Mbak Okke ga buta, karena barusan gw ngeliat arsip-nya mbak, you have such a good taste about fashion and art. Bisa dong nilai, dia kaya gimana. Org kaya dia mah ga pantes dibelain, Mbak.. :D

    okke : dibilangin saya ga ngebelain dia, saya cuma nulis apa yang pengen saya tulis :D. Soal punya taste atau enggak, mbok ya biaarrr. :D Juga soal kemungkinan dia ngeraih mimpinya, biarin ajaa. time will tell :)

  12. JJ Says:

    Oh my. Two last comments scared the hell outta me. :-P

    okke! : Anonimitas itu emang ganggu, mbok kalo mo ngomong ya pake identitas. both of them using email setipe, semacam blabla@blabla.com. Kompakan? Er, tapi IP-nya sama lho, Jakarta gitu deh. *Eh, gw udah bilang belum kalo di sini ga bisa anonymous beneran?* ;-)

  13. Ibeth Says:

    Ma kasih tulisannya… sudah jadi pengingat, diam itu bukan berarti nggak ikutan bully. Dan eerrrrr, saya nggak diem2 amat sih, sempet ngejadiin HottaLotta ini becandaan internal juga *lakban mulut abis inih*

    okke : hehehe, tapi ga ikutan komen anonim kan? Itu nista banget kalo gitu :))

  14. teewee Says:

    well, after you post it then tara make another post dan kembali dicela :)) Haduh. :D

    okke : Haha, ya sud lah, biarkan saja. Mungkin mereka dapet hiburan dengan mencela-cela secara anonim. Selera ‘humor’ orang kan ga sama. :)) :D

  15. widya Says:

    wah… bagus banget tulisannya, harusnya bisa dikirim ke majalah/koran niiihhh, aku yakin banyak yang akan “tertampar” dengan tulisan ini, karena mungkin banyak orang yang melakukan cyber-bullying tapi tak menyadarinya….

  16. dela Says:

    hola mbak okke!

    aku pernah baca komen2 di blognya tara ini, dan pernah minta para anonim itu buat setidaknya nyantumin identitas, jadi komunikasi bisa dilakukan dua arah.
    eh, malah aku dibilangin pingin terkenal :(
    bete deh..
    *curhat*

    anyway, bener kok, ini bukan tentang si tara itu punya taste ato enggak, tapi etika orang-orang aja, terutama para anonim2 itu.
    nice writing mbak.. :)

  17. Olip Says:

    Mbak Okke, menurut saya seh bukan karena orang makin susah terus jadi pada bully-bully gitu. Tiap orang tampaknya memiliki kecenderungan untuk bully-bully (termasuk saya :P). Pada umumnya kan orang-orang ga berani ngejek blak-blakan di depan orangnya langsung. Dan dunia maya membuka kesempatan luas bagi siapapun untuk sepuasnya bullying orang tanpa membuat citra dia tercela, dengan bersembunyi di balik anonymous. Kalo pun pake identitas, jarak di internet telah membuat bullyer merasa aman untuk bisa berkata seasalnya.
    Saya setuju klo perlu ada sertifikasi pengguna internet. Mana yg bisa mengendalikan diri, mana yg ngga. Karena klo ga dikendalikan, saya ga heran klo suatu saat perang di masa depan dimulai dari perseteruan internet. Maap panjang banget :P

  18. Wulan Aquariyanti Says:

    Wah, gw telat baca ini. Very good writing. Gw juga ga setuju sama cela mencela ’style’ orang di internet. Kalaupun ada yg ‘ganggu’, ya udah jangan diikutin, tapi juga jangan dijahatin. :)
    Somehow jauh di dalam lubuk hati si pencela, mereka harus mengakui kl si orang yg style-nya ganggu ini berhasil menarik perhatian mereka. Bodoh kl sampai perhatian itu bikin mereka jd jahat. Apalagi kl jahatnya sambil anonymous. Penakut yg berani jahat. :P

  19. senny Says:

    gue belum baca blognya sih dan ga mau baca juga (takut jadi bystander)
    cuma yah bok, kalo menurut gue mengkritik itu juga ada tata kramanya, harus cari pilihan kata yang tepat biar ga menyakitkan
    dan menjadi jahat dengan anonymous itu adalah pengecut

    *anyway, gue ini waktu TK sempet jadi korban bully, jd gue tahu banget gimana rasanya ada di posisi itu

  20. miund Says:

    dear okke,

    reaksi gue seperti juga mungkin reaksi sebagian orang pada awalnya ya ketawa2 baca blog Tara. tapi lama2 gue agak jengah ya baca komen2 para anonymous yang sungguh gak enak dibaca itu. gue ga ngebayang yg punya blog dihina tiap hari tiap jam. secara gue cuma mengusulkan keffiyeh yang which is apparently so 2007 itu aja dirajam “ahli2 fesyen” huakakakak!

    cuma pengen bilang gitu aja kok, you’ve pointed out every bit that i wanted to say anyway. dia jadi serba salah memang, but looking from my professional point of view, Tara can generate a hell lot of money with all those traffic coming to his blog if only he knows how. susah bok nyari traffic reguler kaya gitu. don’t you agree? ;)

  21. Melissa Says:

    Nice post Mbak Okke :) Saya ngga pernah baca blog hottalotta sebelumnya ataupun kasus Ophi A Bubu, tapi saya pernah liat beberapa website luar negeri yang melakukan cyberbully (tentang selera fashionnya, layout blognya, foto-foto si pemilik, sama kasus Tumblr yang sempet heboh banget). Trus jadi keinget juga sama video di Youtube yang pemiliknya hobi make-up lalu sering ngasih contoh cara-cara pake make-up di videonya dan berujung dengan dicela habis-habisan.

    Walaupun sebagian besar itu anonymus, tapi ada juga beberapa orang yang berani pake nama asli dan akhirnya berdebat seru dengan si pemilik yang kadang-kadang, lucunya, malah jadi diskusi yang hangat trus ga jadi cela-celaan lagi hehehe

    Menurut saya sih para anonymus itu pengecut banget, sok berani nyela orang tapi ngga berani diajak komunikasi lebih lanjut :)

  22. Berti Alia Says:

    Terima kasih sekali sudah menjelaskan tentang “bahasa Alay”.
    Kalau ada mahasiswa yang mengumpulkan esai dengan ejaan seperti itu langsung gue tegaskan tentang Bahasa Indonesia baku.

    okke! : tapi tau dong ya, poin entri-nya bukan tentang bahasa Alay :))

  23. farhanah Says:

    terimakasih tulisannya. tulisan ini saya temukan waktu saya googling ttg cyberbullying, dan pas banget emang saya googling itu karena baru baca blognya hottalotta itu. :)

  24. the blue nowhere Says:

    nice post..

    dengan memposisikan kita sebagai target cyber-bullying, kita bisa mendeteksi orang yang mempunyai masalah dengan kita.

    namun, perlu diperhatikan isolasi variabel. yakni dengan menerapkan barrier yang tampak bagi kita tetapi tidak tampak bagi pelaku cyber-bullying.

    saya pernah coba metode ini untuk mengorek perasaan dan perbuatan seseorang di dunia nyata (secara kebetulan saya temukan metode ini).

    pasalnya sebelum metode tersebut ditemukan dan diterapkan, masih terlalu banyak kemungkinan. metode tersebut yang memfiltrasinya.

    facebook merupakan perangkat yang baik untuk melakukan itu. selain itu, kita juga harus mengerti bahwa kita sedang menjadi target, sehingga perlu pengendalian emosi yang baik sehingga situasi terkendali.

    kerap kali metode ini menyebabkan pelaku cyber-bullying kebakaran jenggot, sehingga pengawasan perlu dilakukan secara rutin sehingga sewaktu-waktu kita siap menghapus akun facebook kita.

Leave a Reply