Perempuan Kuat Itu Bernama : Me
Posted: November 26th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |Ada suara-suara dalam otak saya yang berkata : ‘Hei,kalau lu yang ngalamin kasus perkosaan, lu berani gitu nggak?’
Saya mengenal Me di tahun 2003, dalam persinggahan saya saat perjalanan penelitian menuju Flores Timur. LSM tempat Me bekerja dengan baiknya menampung saya selama proses pencarian data. Beberapa kali saya ‘ikut-ikut’an Me dan kawan-kawan menuju camp pengungsian masyarakat Timor Leste.
Saya kagum dengan apa yang Me lakukan. Saya tahu, tidak mudah menjadi seorang perempuan pekerja sosial yang langsung turun ke lapangan. Dibutuhkan mental yang kuat untuk itu. Dan Me mampu. Saya bisa melihat keakrabannya dengan para pengungsi di kamp, bahkan sampai bermalam di tempat tersebut.
Dan di malam-malam selama saya tinggal di sana, kami dan beberapa teman relawan perempuan kerap menghabiskan waktu untuk mengobrol dalam kamar, berbagi pengalaman, tertawa-tawa, bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar (dia yang bermain gitar, tentunya. Bukan saya). Bagi saya, Me — yang waktu itu masih berkuliah di jurusan Theologia — adalah : relawan calon pendeta yang gila. Dalam beberapa kali perkunjungan ke kotanya, saya selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya,walau sebentar. Menyenangkan, apalagi jika mengobrolkan masalah ‘menjadi perempuan dalam masyarakat patriarki’. :)
Dua malam yang lalu, seorang kawan memforward sebuah e-mail. Itu adalah e-mail disertai attachment calon naskah Me. Sebagai pengantar dalam e-mailnya ia menulis demikian :
Shalom,
Saya merasa perlu mengirimkan tulisan ini. Tulisan ini akan dipublikasi bersama empat tulisan perempuan muda lainnya dalam satu buku. Sekarang buku itu dalam persiapan untuk naik cetak. Saya memantapkan hati untuk tidak memakai nama samaran, dengan sadar akan konsekuensinya. Entah kenapa saya tidak peduli dengan konsekuensi yang mungkin akan muncul secara negatif. Tujuan saya hanya ingin menguatkan sahabat-sahabat perempuan yang mungkin punya pengalaman yang sama atau masih mempunyai dendam pada laki-laki yang pernah menyakiti mereka. Saya ditelepon oleh beberapa teman yang bekerja keras untuk memperindah desain bukunya; mereka terus menanyakan tentang kesiapan saya terhadap konsekuensi negatifnya.
Saya berharap kawan-kawan bisa mendukung saya dalam situasi yang mungkin sulit, sebagai dampak dari publikasi. Terima kasih.
Salam,
Me.
Maka segera saya pun mendownload naskah tersebut dan membacanya dengan seksama. Beberapa kali saya tersentak, menahan napas, bahkan mulai dari tengah tulisan sampai ke akhir, saya menangis.
Sayangnya, (tapi tentu saja) saya tidak boleh mengcopy-paste tulisan itu di sini. :)
Tidak,tulisan ini bukan tulisan berbahasa puitis berbunga-bunga, ini adalah sebuah tulisan mengenai transformasi perjalanan hidupnya, dari kecil hingga ia dewasa. Bahasa yang ia gunakan pun lugas dan diceritakan dengan tegar. Saya tidak menyangka bahwa di usia 5 tahun, Me pernah mengalami perkosaan yang dilakukan oleh keluarga dekatnya sendiri. Hal ini memaksanya untuk harus bolak-balik ke rumah sakit umum dan kantor polisi. Pengalaman kekerasan seksual itu membuatnya merasa tidak berdaya, rendah diri, malu, sendirian dan tidak berarti.
Sampai satu saat, dalam pekerjaan sebagai relawan, ia mendapat tugas untuk menangani permasalahan perkosaan di kamp pengungsi. Awalnya ia menolak, karena hal tersebut mengingatkannya pada pengalaman masa lalu. Namun, tugas adalah tugas. Dalam tugas tersebut ia justru berkenalan dengan banyak korban perkosaan — dan menyadari bahwa ia tidak sendirian. Ia bahkan bersahabat dengan seorang anak kecil berusia 9 tahun yang juga menjadi korban. Melalui proses yang cukup panjang, akhirnya ia bisa memaafkan dan berdamai dengan pelaku — dan menjadi dirinya seperti sekarang ini.
Anyway, tulisan Me membuat saya tergerak untuk mengirimkan e-mail padanya
Me yang baik,
Saya baru saja selesai membaca tulisan kamu. Saya sampai menangis membacanya. Tapi di saat yang sama, saya juga kagum. Sejujurnya saya tidak pernah menyangka kamu pernah mengalami kekerasan seksual semacam itu. Salut karena kamu tidak menjadikan pengalaman tersebut sebagai penghalang untuk melangkah dan berkembang. Salut juga karena Me memutuskan untuk tidak memakai nama samaran, ini adalah satu keputusan yang sangat besar,mengingat masyarakat sosial yang terkadang sangat dangkal dan picik.Saya rasa ini adalah satu cara yang sangat luar biasa untuk menguatkan seluruh sahabat perempuan yang memiliki pengalaman yang sama. Lebih jauh lagi, ini bisa jadi pemicu agar seluruh perempuan korban kekerasan seksual berani berbicara selantang mungkin. Selama ini, yang terjadi adalah ketika mengalami kekerasan seksual, maka sang korban dan keluarganya justru menyembunyikan diri, karena malu dan sebagainya. Padahal dengan menyuarakan apa yang terjadi, justru kekerasan terhadap perempuan akan semakin bisa ditekan.
Saya rasa, semua orang yang peduli dengan perempuan mendukung langkah Me. Kalau pun ada orang-orang yang berpikiran negatif, saya rasa wajar, karena masyarakat sosial itu dangkat dan picik. Mungkin nantinya, Me akan menjadi sorotan, orang-orang mungkin berpikir macam-macam tentang Me. Tidak apa-apa, orang yang ingin membawa perubahan memang sering pada awalnya dianggap aneh. Tapi justru orang-orang yang berani memulai ini akan menyadarkan dan mengingatkan orang-orang lain yang sebenarnya memiliki pemikiran serupa, tapi terlalu pengecut untuk bergerak (seperti… saya,contohnya), untuk lambat laun ikut bergerak.
Dan perubahan itu akan terjadi jika semakin banyak orang yang bergerak. Mungkin tidak bisa instan terlihat, tapi perubahan itu ada.
Semoga sukses Me, Tuhan memberkati di setiap langkah Me.
NB. Kasih tahu saya kalau bukunya terbit. Saya bakal beli!
salam.
Send.
Namun, setelah notifikasi pesan terkirim, tulisan Me membuat saya terus menerus berpikir. Bahkan sampai besoknya. Sampai sekarang, malah! Sehingga saya tergerak untuk menuliskan entry ini.
Kalau saya yang mengalami apa yang dialami oleh Me, apakah saya mampu untuk bersikap sekuat dia? Apakah mampu saya menampilkan diri saya untuk membantu sahabat-sahabat perempuan yang pernah memiliki pengalaman yang sama?
Untuk masalah pelecehan seksual, saya masih sanggup melakukannya. Saya telah berhasil melenyapkan pemikiran bahwa, ketika saya mengalami pelecehan seksual, maka yang salah adalah saya; saya telah berhasil mendepak jauh-jauh pemikiran ‘mungkin’ : mungkin pakaian saya terlalu seksi, mungkin tingkah saya terlalu mengundang, mungkin ini dan mungkin itu. Saya meyakini, jika saya (dan semua orang lain, perempuan atau laki-laki, anak kecil atau orang dewasa) mengalami pelecehan seksual, tidak ada yang salah dengan diri sendiri, yang salah adalah otak pelaku yang ngeres dan impotensi pelaku untuk menjaga perbuatannya. Hey, katanya manusia itu adalah mahluk yang paling berakal budi? Apa kabar dengan akal budi, hey para pelaku pelecehan seksual, sampai kalian tidak bisa mengendalikan perbuatan kalian untuk tidak menyakiti orang lain?
Untuk masalah pelecehan seksual, saya sangat mampu untuk dengan ringan sambil bercanda berkata ‘kurang ajar, toket/pantat gue dipegang. Dasar binatang otak ngeres. Kali kambing kalau dilipstikin digrepe-grepe juga…’ — atau,’Gila ya tu orang ngomongnya gak difilter, gak pernah dididik bener sama orangtuanya kali ya?’ . Lalu menganggap apa yang saya alami sekadar kesialan belaka, seperti kepleset jatuh di jalan. Saya juga bisa membuat orang lain yang menjadi korban untuk berhenti menyalahkan diri sendiri, apalagi sampai merasa hina/kotor.
Tapi pelecehan seksual, baik verbal maupun non verbal, jelas hal yang SANGAT BERBEDA dengan perkosaan. Bahkan tidak bisa dibandingkan sama sekali.
Apakah saya mampu untuk bersikap seperti Me?
Pikiran tersebut terus menerus mengganggu saya. Isi balasan e-mail saya jadi terdengar basi. Ada suara-suara dalam otak saya yang berkata : ‘Hei,kalau lu yang ngalamin kasus perkosaan, lu berani gitu nggak?’
Saking terganggunya, saya sempat melemparkan isu ini di twitter saya. Bahkan saya sempat bertanya-tanya dengan beberapa orang. Saya mendapat jawaban dari dianarakeren :
krn masyarakat dg bodohnya akan mengucilkan, mencela, dan perempuan itu akan makin trauma. gw pernah diomelin pimred gara2 itu.
Dan saya tanya, kenapa dimarahi oleh pimred?
gak menyamarkan namanya. kata pimred gw: “derita dia udah berat. ekses dari berita ini bakal nambah2in deritanya aja.”
Lalu ada jawaban lain, dari roro_ira_r :
persepsi lama yg salah.perempuan knapa2 ad bkasnya dan laki ngga+bnyk orang malah nyalahin korban.abis kecentilan,sok sexy,etc
Dan masih ada beberapa jawaban-jawaban yang menyatakan bahwa itu adalah aib. Hidup harus berjalan, tanpa stigma ‘perempuan bekas diperkosa’ juga tanpa rasa belas kasihan orang. Ini sungguh tidak adil, bukan maunya korban kan untuk diperlakukan demikian? Kenapa korban yang harus menanggung beban demikian? Sementara mungkin pelakunya melenggang kangkung. Saya jadi teringat dengan salah satu episode Kick Andy yang membahas kasus status anak di luar pernikahan — salah satu narasumber adalah korban perkosaan yang hamil dan melahirkan anak. Korban berjilbab tersebut dipakaikan topeng ala Mardi Gras. Ia menyembunyikan identitasnya karena beban malu. Bukannya yang seharusnya malu adalah pelaku? Tapi (mungkin) begitulah masyarakat sosial memperlakukan korban dan pelaku perkosaan.
Saya menghela napas lagi. Saya tidak berharap hal itu terjadi pada saya. Semoga tidak. Tapi suara-suara yang mempertanyakan apakah saya berani bersikap seperti Me, jika saya mengalami perkosaan terus menerus mengganggu saya.
Saya tidak tahu jawabannya.
Tadi pagi saya mendapat jawaban dari Me, yang mengucapkan terima kasih atas dukungan saya. Namun ada salah seorang penulis yang merasa ragu. Di awal penulisan buku ini, mereka telah membuat komitmen, jika mendadak salah satu saja dari penulis berubah pikiran, maka buku tersebut ditunda atau dibatalkan.
Apa pun yang terjadi, dengan atau tanpa buku tersebut,saya tetap menganggap Me dan kawan-kawannya adalah perempuan yang kuat dan inspiratif.
Tulisan ini saya persembahkan untuk Me dan kawan-kawannya. Salut.
Sebagai penutup, ada satu lagu yang saya sukai, yaitu I am Woman - Helen Reddy.
I Am Woman
Words and Music by Helen Reddy and Ray Burton
I am woman, hear me roar
In numbers too big to ignore
And I know too much to go back an’ pretend
’cause I’ve heard it all before
And I’ve been down there on the floor
No one’s ever gonna keep me down again
CHORUS
Oh yes I am wise
But it’s wisdom born of pain
Yes, I’ve paid the price
But look how much I gained
If I have to, I can do anything
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am woman
You can bend but never break me
’cause it only serves to make me
More determined to achieve my final goal
And I come back even stronger
Not a novice any longer
’cause you’ve deepened the conviction in my soul
CHORUS
I am woman watch me grow
See me standing toe to toe
As I spread my lovin’ arms across the land
But I’m still an embryo
With a long long way to go
Until I make my brother understand
Oh yes I am wise
But it’s wisdom born of pain
Yes, I’ve paid the price
But look how much I gained
If I have to I can face anything
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am woman
Oh, I am woman
I am invincible
I am strong
FADE
I am woman
I am invincible
I am strong
I am woman



semoga bukunya terbit… gw mo beli..
well, sering baca blog km, tapi baru pertama kali comment u/ entry ini. tersentuh banget. jadi diingatkan lagi tentang banyak hal :) thanks to me untuk keberaniannya menulis dan kembali mengenang apa yang terjadi pada dirinya and thanks to mbak okke, karena mau meluangkan waktu menulis entry yang sangat inspirasional ini. Mau beliii bukunyaa! :)
sejauh yg saya kenal, emg Me adalah seorang perempuan yg inspiratif!
sn sabar bwt baca bukux,,, :)
bener sih, sebenarnya dalam kasus pemerkosaan kan kita ’sama sekali tidak bersalah’ kenapa kita malu ya? Sebenarnya hampir sama dengan kecelakaan kan :)
biasanya orang akan menjudge, itu karena ‘misalnya’ baju yang mengundang dll, aku pikir itu bullshit banget, mana ada orang sengaja ingin diperkosa. :(
semangat maju buat Me :) kalau bukunya jadi keluar, di inform ke kita ya :)
Membaca postingan ini, jadi keinget buku-nya Somaly Mam “The Road of Lost Innocence”. Dengan keberanian Somaly menuliskan bhw dia korban perkosaan dan chiildren traficking. Mudah-mudahan Me juga berani membuka kebobrokan orang-orang yg bisa memuaskan nafsu binatangnya.
Semangat utk Me…..!!
gua pernah mengalami pelecehan seksual yang sumpah menyebalkan banget. dan waktu gua nangis2, orang di rumah bilang gini, “udahlah, kayak diapain aja”
sianj****ng.
pardon.
ke, somehow i felt connected with Me. Pengalaman masa kecil gw mirip, ya bukan perkosaan, tapi juga bukan sekedar toel-toel atau verbal abuse, tapi pengalaman ini membuat gw trauma beberapa taun bahkan sampe benci kesumat ama laki. Gw salut sama Me yang berani sampai mempublish kisahnya. Gw baru berani cerita di forum aja, karena ya memang gak mudah membagi ini ke. eh kasih tau judul bukunya ya nanti
iya juga sih..knapa si korban mesti malu ya? mungkin karna takut di-judge macem2 sama orang2 di skitarny??
mba oke, kalo bukunya udah keluar kasih taw ya? plus judulny juga..
saya org pertama yg bakal beli! he..
salut! sampe mata berkaca-kaca :)
Me, akan menjadi inspirasi bagi banyak perempuan utk tidak malu lagi mengungkap kebenaran.
keputusan untuk membuat sebuah buku dengan tidak memakai nama samaran adalah bukti bahwa Me tidak ingin terus berkutat dengan masa lalu dan tak harus malu dengan itu.
sejauh yang beta tau, hingga hari ini Me masih tetap orang yang ramah dengan siapapun…
salut untuk Me, juga salut untuk Mba Okke yg membagi kisah ini di sini. semoga terbitnya buku Me bisa membuka mata dan menyadarkan kita akan pentingnya dukungan kepada perempuan2 lain yg menjadi korban.
saya salut dgn Me.. saya pun ingin bebas dari rasa hina yang melekat karena perbuatan yang kita sendiri menganggapnya kotor yang membuat kita kadang merasa diri sebagai pendosa. akhirnya kemampuan kita seakan terhalang dengan selaput tipis yang sulit ditembus itu..! Me mampu memaafkan orang lain dan terlebih dirinya sendiri
Dear all
Entri ini sengaja saya tulis untuk menunjukkan dan meyakinkan Me dan kawan-kawan bahwa ada yang mendukung mereka PLUS bahwa cerita mereka inspiratif. Makasih ya buat yang sudah memberikan komentar positif buat mereka.
Love
Okke
ke, maap saya cuplik satu paragraf dr post ini ke forumku, kebetulan udahlama aga gerah ttg pelecehan verbal di forum.
dan hari ini kami para cewe protes
dankebetulan kok pas baca entri ini yang sedikit related
ini link post nya, ups ga bs pasang link ya/? ya udah direct :D http://www.kaskus.us/showpost.php?p=140740920&postcount=1281
tlg email saya klo okke ga berkenan ya