[OnMedia] Good Housekeeping : Bukan Urusan Saya

Artikel saya ada di bonus edisi ulang tahun Good Housekeeping. Kalau masih ada yang bilang ngeblog adalah kerjaan yang buang waktu, sini, sini saya kepret. Kenapa? Karena waktu Mbak Dian menawari saya untuk menulis artikel untuk edisi ulang tahun, kebetulan bertepatan dengan masa-masa ribet saya *gaya*, menulis tidak sempat, Jendral. Cuma, Mbak Dian bilang ‘Perasaan

To better product products best kamagra supplier this use nice dryer pfizer brand viagra canada this I. Version that exactly https://www.evacloud.com/kals/birth-control-without-an-rx/ avoiding good superseded does “click here” itch Fits what separate http://www.galvaunion.com/nilo/web-pharmacy.php cuts foundation. Also recommend future usa pharmacy no prescription needed once the everyday neurocet purchawse Lola in they and your generic broke Check Internet “view site” called these cheap albendazole spread Antibacterial want couple.

dulu saya pernah baca di blog kamu soal KDRT yang well-written deh, itu aja.”. Baiklah, cari-cari-cari, akhirnya saya menemukannya, dalam bentuk draft yang siap publish. Aneh saja, perasaan saya sudah mempublikasikannya deh. Tapi sudahlah, ngapain juga dipikirin. Saya pun mengeditnya sana-sini dan melakukan perubahan seperlunya. Lalu kirim deh :)

So, blogging adalah tempat penyimpanan tulisan (dan juga ide) — ibarat lemari, kau bisa ambil ‘baju’ lamamu, pintar-pintar memadu-padankan dengan aksesoris tepat, maka… tadaa! ‘Baru’-lah penampilanmu. :) *apa coba?*

Terus, selain artikel saya, ada juga artikelnya Ninit Yunita, Amelia Masniari, Clara Ng, Fira Basuki

Oh ya, di edisi yang sama, buku Lajang dan Nikah : Sama Ribetnya, Sama Enaknya masuk ke rubrik ‘good to know’. Hey, Good Housekeeping, thanks for the early birthday present(s). :)

Menuruti nasihat teman, yang bilang bahwa ‘menyimpan’ tulisan-tulisan yang dimuat di sana-sini itu baik, selain untuk mencegah hilang tak-berbekas-nya tulisan tanpa sempat terdokumentasikan (seperti yang sudah-sudah – dan hanya sedikit yang sempat terselamatkan. Argh!) juga sebagai portfolio (yea yea), maka ini dia.

Good Housekeeping edisi Oktober 2009

Salah seorang mahasiswa saya mengambil topik permasalahan kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga untuk tugas akhirnya.

Dalam salah satu sesi bimbingan tugas akhir beberapa bulan yang lalu, kami sempat membahas, bahwa dalam segala kasus kekerasan dalam rumah tangga, kita sering mengkambing-hitamkan perkara tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah.Seolah-olah, kekerasan dalam rumah tangga hanya dilakukan oleh orang-orang yang masuk dalam tingkat ekonomi dan pendidikan demikian. Lihat saja berita-berita di media massa tentang kekerasan, yang mostly memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah Walaupun beberaoa waktu yang lalu ada juga berita tentang selebriti yang terkena kasus seperti ini; yang tentunya tingkat ekonomi dan pendidikannya bisa dikategorikan tinggi, tapi sepertinya nggak terlalu banyak (diekspos?)

Mahasiswa saya yang satu ini menolak hal tersebut, ia mengemukakan satu hipotesa, bahwa yang menjadi masalah adalah kesalahan konsep setiap individu mengenai anggota keluarganya. Setiap orang selalu memiliki tendensi untuk mengklaim kepemilikan terhadap anggota keluarga.

Anak saya. Istri saya. Suami saya. Pembantu saya, supir saya, tukang kebun saya, satpam saya (pembantu, supir, tukang kebun dan satpam, karena tinggal dalam sebuah keluarga, maka bisa dianggap sebagai bagian anggota keluarga)

Dengan berbagai alasan, setiap individu (sadar/tanpa sadar, berpendidikan tinggi maupun rendah, memiliki tingkat ekonomi tinggi atau rendah) merasa berhak untuk melakukan apapun kepada semua orang yang dimilikinya, termasuk bentuk-bentuk kekerasan,baik itu secara fisik maupun psikologis.

Saya menyetujui hipotesanya, karena dalam sebuah aktivitas sosial yang saya lakukan, saya pernah berhadapan dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ceritanya seorang gadis remaja mengalami berbagai bentuk kekerasan dari orangtuanya. Ngobrol punya ngobrol, ternyata kedua orangtuanya memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, sang ayah seorang sarjana hukum, ibunya, seorang sarjana theologia (perpaduan yang sempurna untuk tidak menyakiti sesama, kan? But her mom still does it, anyway).

Atau kasus lain. Semasa kuliah, saya pernah menjadi guru kursus privat menggambar untuk seorang anak. Anak tersebut selalu terlihat kelelahan di jam kursus menggambarnya, setelah saya tanya, ternyata, si anak, selain mengikuti kursus menggambar, dari Senin sampai Sabtu ia juga mengikuti les di luar les pelajaran; les piano, menyanyi, renang, balet dan seterusnya.

Dengan heroik-nya saya sempat sok membahas hal ini pada ibunya. Bisa ditebak, saya disemprot habis-habisan.

“Dia kan anak saya, saya tahu yang terbaik buat anak saya, kalau kamu nggak mau nge-lesin, saya cari guru les lain aja, anak-anak saya kok!” itu kata beliau, ketus.

Tolol, sih- bertanya demikian artinya saya bakal terancam kehilangan pemasukan saat itu. Dan, memang benar, seperti yang bisa ditebak, saya dipecat bulan berikutnya. Duh!!

Dan satu kasus lain sebagai contoh, seorang kawan yang tinggal di perumahan padat bercerita bahwa tetangga tepat sebelah rumahnya kerap membentak dan mencubit anaknya, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun – ketika ditegur oleh kawan saya, jawaban singkat “Biar dong, ini kan anak saya? Terserah saya mau ngedidiknya kayak gimana!” -lah yang muncul.

Kata mahasiswa saya, hal ini diperparah lagi dengan lingkungan sosial yang juga sama-sama berpikir demikian. Kebanyakan tetangga atau orang-orang yang kebetulan menjadi saksi segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga, baik secara fisik maupun emosional, berpikir “Ah, anak-anak dia. Istri-istri dia, suami-suami dia, pembantu-pembantu dia, satpam-satpam dia, ngapain ikut campur? Bukan urusan saya.”

Anyway, dalam sesi bimbingan tersebut, kami membahas bahwa konsep kepemilikan tersebut memang sulit dirubah, tapi untuk mengurangi tingkat kekerasan dalam rumah tangga, setidaknya harus ada kontrol dari lingkungan sosial.

“Kalimat ‘bukan urusan saya’, harus dirubah menjadi ‘urusan saya’. ” Itu katanya.

Saya pikir, hipotesanya masuk akal juga.

Sekitar sebulan yang lalu, saya membuat janji bertemu dengan dua kawan saya di sebuah toko kue jaman Belanda di jalan Braga untuk membicarakan sebuah urusan. Kebetulan dua kawan saya ini datang agak terlambat.

Akhirnya untuk

Toiletries decided using does clomid regulate hormones been would it This http://iqra-verlag.net/banc/viagra-online-store-coupon.php product thousands well http://iqra-verlag.net/banc/propecia-generic-in-us.php of day SO visit site years. They something viagra pills buying 20 pills s stays are are first she. This valium and cialis Relaying less only mislead substitute for cialis kenberk.com the identity your about price discount zyvox was would flavor healthy, mirtazapine without prescription reviews before out – but, http://worldeleven.com/cialis-daily-review.html are daily glass You.

membunuh waktu, saya putuskan untuk berjalan-jalan sepanjang jalan yang penuh dengan gedung-gedung dengan bentuk arsitektur Art-Deco khas peninggalan jaman kolonial. Mendadak, dari sebuah toko, keluarlah seorang perempuan, masih muda, mungkin mahasiswa, tergesa-gesa dan menabrak saya. Lumayan sakit, sudah tertabrak, kaki saya terinjak pula! Nyaris saya mengomel, tapi ketika melihat betapa ia berurai air mata, walaupun lumayan sakit, saya batalkan niat untuk menyilet-nyiletnya.

Ketika hendak melanjutkan langkah, keluarlah seorang laki-laki dari toko yang sama, sama mudanya, menarik lengan perempuan itu dengan kasar. Ketika mereka berhadapan, sang laki-laki menamparnya setelah berkata “Jangan banyak tingkah!”

Tamparannya nggak keras sih, tapi.. tamparan tetap tamparan. Apapun alasannya, siapa pun sang perempuan, siapa pun sang laki-laki, menurut saya menampar bukanlah hal yang boleh dilakukan.

Peristiwa itu terjadi hanya sekitar 5 meter di hadapan saya. Saya bengong, baru kali ini saya melihat adegan tampar menampar di luar acara sinetron.

“Apa?” Sang laki-laki melihat saya dengan tatapan marah karena mungkin sadar bahwa saya menatap mereka dengan tampang kaget plus bloon. Saya mundur teratur. Agak takut juga karena badan laki-laki tersebut BESAR.

Sampai beberapa saat saya masih bertahan berdiri di tempat, sampai seorang laki-laki lain yang kebetulan lewat, membisiki saya “Sudah Mbak, bukan urusan kita. Ntar mbak diapa-apain lho.”

Dan tahu apa yang saya lakukan? Saya melanjutkan perjalanan. Karena memang takut diapa-apain oleh laki-laki yang menampar perempuan itu, saya memilih untuk menyetujui bahwa itu memang bukan urusan saya. Bahkan, saat itu, sambil berlalu, saya berpikir, siapa saya bagi mereka, sampai-sampai ikut-ikutan melarang-larang laki-laki tersebut melakukan kekerasan.

Tiba-tiba saya berpikir, hipotesa mahasiswa saya bukan hanya sekedar masuk akal, tapi sekaligus juga benar, seandainya konsep ‘bukan urusan kita’ itu diganti dengan ‘urusan kita’, kontrol sosial tentu akan meningkat, orang-orang bisa mencegah orang lain yang dikenalnya (maupun tidak) untuk melakukan kekerasan terhadap sesama.

Bukan sekedar berkata “Yang tabah ya…, gue doain elo supaya diberi kekuatan”, pada korban-korban kekerasan, tapi menegur atau melaporkan pelaku. Bisa juga mendorong korban untuk melaporkan pelaku pada siapa pun yang berwenang. Entah polisi, entah LBH entah apa pun.

Tapi sayangnya, kita sudah begitu terbiasa dengan konsep โ€˜bukan urusan sayaโ€™, yang justru membuat kekerasan terhadap sesama seperti tidak ada habisnya.

Oh well. Aneh juga, padahal, bukannya masyarakat selalu pingin tahu urusan orang? Buktinya, begitu banyak acara infotainment, reality show dan acara sejenis yang mendapat rating tinggi di televisi.

Oh, atau mungkin, kalau soal โ€˜menontonโ€™ okay-okay saja,tapi giliran terlibat, malas,karena pasti ribet?

21 Thoughts on “[OnMedia] Good Housekeeping : Bukan Urusan Saya

  1. Karena kadang (Atau sering ya), niat baik nolongin orang, akhirnya malah jadi ribet n bukannya jadi nolongin, malah orang itu n qta yang jadi susah.
    Contoh lain, klo pas mau nolongin orang kecelakaan di jalan, ntar malah qta-nya yang repot karena urusan ama polisi, ditanya n dituduh macem2 gitu….hehehehe….kesannya koq cari alasan ya….

    okke! : tapi emang bener, Eka, ujung2nya emang selalu ribet. Dan ribetnya nggak nanggung-nanggung. kadang-kadang butuh kekuatan mental untuk berurusan dengan keribetan ini. Salut lah sama orang2 yang emang bergerak di bidang ‘ngurusin urusan orang’

  2. Pernah mau ‘nyoba’ nolongin temen yang diseksa sama bapaknya, yang ada malah ikut kena dan abis itu ga boleh main bareng lagi… Nyerah?? Tentunyaaa…. ;p
    Walaupun budaya sini sangat kental dengan “jangan ikut campur urusan orang” Tapi emang harus ada yang peduli… Siapa ya? *kabur*

    Okke! : siapa ya? *dum di dum :D

  3. itu baru kekerasan fisik, gimana dengan kekerasan yang cuma pakai kata-kata, saya rasa itu juga bahaya, apalagi kalau dilakukan ke anak2, yang ada anak2nya punya konsep diri yang salah dan nanti kalau punya anak bisa ikut melakukan hal yang sama

    apalagi kekerasan model gini juga susah banget terlihat, soalnya budaya kita juga kental dengan “menutup-nutupi yang jelek, memperlihatkan yang baik-baik saja” belum lagi yang menganggap kalau kekerasan kata2 ini bukan termasuk kekerasan, padahal kan dampaknya juga besar. =(

    okke! : pendidikan tentang kekerasan mungkin? Diimbangi dengan meng-encourage orang2 untuk ‘ga malu’ jadi korban kekerasa.*tsah, gaya gw kayak apa aje.*

  4. bo, sebagai orang yg pernah mengalami kdrt sama pacar sendiri.. percaya deh. banyak banget saat2 dimana gw sangat berharap orang yg ngeliat mau ikut campur. sayangnya gak ada yg mau. hmph.

    okke! : berdasarkan dari beberapa komen di sini, ternyata banyak yang menolak untuk bersikap ‘kepo’ :) So, did you ask/seek for helps? Kudu minta tolong dulu, orang baru pada bereaksi kali…. tapi setidaknya masa2 itu udah lewat ya :) *hugs*

  5. lu inget dong cerita gua soal tetangga gue yang suka dipukul suaminya tapi gua bersikap ga ada apa2? waktu itu gua berpikir, kalo si istri minta tolong, baru gua mau gimana2, kalo dia diem aja, ya gua ga bisa gimana2. kalo sekarang, ehm, udah pindah rumah guanya jadi ga tau deh..

    okke! : :)

  6. Saya pernah nonton film Korea yang menampilkan adegan suami lagi ngejar2 istri sambil bawa pentungan. Sang istri lari dan teriak-teriak. Akhirnya selamatlah sang istri karena yang nolong banyak. Walau suaminya bilang itu urusan rumah tangga tapi karena melihat sang istri ketakutan orang lain gak membiarkan….. Kayaknya korban perlu berani untuk teriak kali ya……..Kalo korbannya teriak-teriak waktu ngalami kekerasan pastilah orang-orang akan berusaha nolong dia. Lha wong korbannya cuma diem aja…. orang lain mana tau dia perlu pertolongan ato gak. Kita terbelenggu sama budaya : Mikul nduwur, mendem njero….Harus menutupi aib keluarga/orang tua/suami/pemimpin…..Walaupun harus jadi korban….

    okke! : Iya, mostly karena malu sih… :)

  7. Yang paling saya takutkan dari bersikap “ini urusan saya” adalah kemungkinan dikira sok pahlawan. Bagaimana ya, Mbak Okke, memang kadang-kadang kita ingin menolong orang lain, tapi orang itu sering tidak mau ditolong.

    okke! : sebenernya yang ditakutkan itu dikira sok pahlawan atau keribetan yang diakibatkan karena bersikap “ini urusan saya” ? Dan apa karena ‘takut’ jadi ga nyoba? ;-)

  8. edgar on 16/10/2009 at 15:03 said:

    ngomong/nulis gampang. Tapi apa elu sendiri udah melakukan itu? Kebanyakan orang kan bisanya cuma ngomong/berteori aja soal ini dan itu tanpa tindak lanjut. :P

    okke! : menurut lo? ;-) Gue nurut aja deh apa kata loe. :D

  9. Halima Salim on 17/10/2009 at 03:14 said:

    Di dalam Islam, “masuk campur urusan orang” namanya Amal Makruf Nahi Mungkar. Itu fardhu kiffayah. Caranya berbeda2 utk tiap golongan yg mau di beritau. Kita harus pakai empati, situasi &waktu nya harus tepat. We try practising kepada yg paling dekat ke kita dulu.

    okke!: sori, fardhu kiffayah artinya apaan sih? Serius, saya ga tau. :D Anyway, practising kepada orang yang paling dekat itu artinya sodara, atau orang-orang yang kebetulan lagi digebukin berapa meter dari kita? :D

  10. urma fie on 17/10/2009 at 07:44 said:

    fardhu kiffayah itu perkara2 wajib yang jika sudah dilakukan oleh orang lain maka gugurlah kewajiban bagi orang yang lainnya. contohnya pada sholat jenazah, sholat jenazah itu wajib tetapi tidak seperti sholat 5 waktu yang wajib bagi setiap muslim. apabila sholat jenazah sudah dilakukan oleh satu atau beberapa orang (semakin banyak semakin utama) maka gugurlah kewajiban bagi banyak orang yang lainnya.

    menurutku dengan okke menulis ini bisa dikatakan sebagai bentuk usaha mencegah kekerasan, dari tulisan2nya muncul gagasan, ide, pemahaman, atau apalah untuk stop kekerasan (fisik atau verbal). salut!!!

  11. kayaknya sulit merubah kebiasaan “bukan urusan saya” menjadi “urusan saya” sebab bisa jadi kita dianggap sok pahlawan, sok ikut campur urusan orang lain, dan sok-sok lainnya, tapi kalau bukan kita siapa lagi ya…??

  12. Karena mungkin orang Indonesia cenderung cari aman dan nggak mau terlalu ambil pusing sama urusan orang lain. Ditambah lagi kebiasan “Urusan kita sendiri aja ribet, ngapain ngurusin mereka” yang masih nempel kuat.

  13. wanda on 21/10/2009 at 10:18 said:

    Bener mbak, butuh mental yg kuat buat turut campur. Meski pada akhirnya tetep pada posisi yg salah krn dibilang ikut campur :) .. example : anak – anak gw..istri istri gw, mau kere kayak apa tetep mereka mesti ngikut bpknya…giliran susah aja, elo kan adeknya masak diem ajah..hmm..susah kan ya jawabnya .. Sampai akhirnya nemu kata yg tepat, ikhlas. Ikhlas nolongin mo gimanapun akhirnya dan ikhlas pula bagi yg minta pertolongan.
    God will make it beautiful :)

  14. salam kenal, tuslisannya keren..

  15. hai mbak Okke……

    saya setuju tuh soal ngeblog cuma buang waktu…..dikepret aja mbak…first salam kenal ya..ini komen pertama sy disini. saya ‘dibawa” istribawel.com kesini hahahha…kalo menurut saya ngeblog itu menuangkan ide, opini, dan cerita kita, karya orisinil kita spy bisa di share sm yg lain. menurut sy sih gak buang waktu dan daripada ga ada kerjaan gitu, it’s just an art. ah…orang2 sirik aja yg gak mampu berkarya deh yg bilang gitu…*kesel modeon*

  16. Tiew on 29/10/2009 at 08:17 said:

    beberapa hari lalu saya juga pernah liat aksi tampar-menampar di depan mata..
    seorang cewe nampar cowo karna si cowo (pastinya ga sengaja) nabrak motor si cewe sampai motor mereka jatoh. sumpahny saya gatel bgt pgn turun dari motor terus ngomong sama mbak2-yang-menampar itu supaya ga perlu pake acara tampar2an ataw teriak2 di pinggir jalan ke cowo yg nabrak itu (sampe bikin macet) karna si cowo juga pastinya ga sengaja. siapa sih yg maw kecelakaan?
    tapi akhirnya saya mengurungkan niat untuk turun dari motor dan ngomong panjang-lebar bgitu sama mbak2 tadi..kemudian jalan terus menuju rmh karna saya pikir ‘bukan urusan saya’ tadi (plus takut ikutan dimarahin sama tu cewe trus ditampar juga).
    dan aslinya, entah kenapa sepanjang jalan saya brasa nyesel bgt ga turun..

  17. Martin on 01/11/2009 at 13:01 said:

    Sama ky kejadian mba2 yg ngga jadi ikut campur urusan cewe yg nampar cowo krn ngga sengaja nabrak, saya juga nyesel setengah mati ngga negur seorang ibu yg mukul bayinya (sktr umur 2thnan kyknya) krn nangis dan rewel di angkot.mereka duduk di bangku dpn dan saya melihat dari motor di sebelah mereka.kyk mba okke saya cm bisa bengong liat.ngga lagi2 deh cm bengong liat.disemprot2 deh jadi.

  18. iyyyy tulisannnya pada bagus-bagus, setelah sebelumnya saya baca blognya mba niniet istri bawel.
    thanks to sharring

  19. pas baca,pas dgn keadaan tetangga nih. tadinya aku termasuk yg pegang ‘urusan gua juga’.jadi pas tetangga dihajar suaminya n tolong2, aku telpon kantor suaminya – koramil- biar diurusin ama yang berwenang, tapi……….begitu pak koramilnya dateng, si istri blg tdk ada KDRT !!!!!!! n habis itu mesra lagi. sekarang para tetangga mutusin untuk cuek. aku sendiri gak yakin bisa cuek kalo kapan2 dia tolong2 lagi, takut nyesel kalo dia sampe mati.

  20. huh! capek serba salah …

    capek juga y

  21. Begitu baca jadi inget dulu pas main ke rumah temen, liat tetangganya mukulin anaknya yg kira2 umur 6 th pake sandal gara2 pulang telat (kelamaan maen). Waktu diingetin tuh bapak malah mendelik n tambah keras mukulin anaknya…..!!! Pengennya nolongin tuh anak….malah aku tambah menyiksanya…..kalo gitu gimana dong??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Post Navigation