Pusat Kebugaran Spiritual

..Ada kecenderungan perilaku yang menganggap bahwa agama itu… semacam pusat kebugaran spiritual

Sepulangnya saya dari perjalanan panjang nan hardcore tahun lalu, saya sempat sakit, dan harus menjalani beberapa terapi sampai sekitar bulan Mei 2009 kemarin. Terima kasih dan salam kompak selalu untuk kurang gizi, asupan nikotin dan kafein berlebih, daerah-daerah dengan tingkat kebersihan yang rendah dan stress di lapangan. (Okay,terdengar sangat menyedihkan ya? Terutama soal kurang gizi-nya itu lho, memalukan.)

Gara-gara itu, saya sempat mencapai satu titik di mana saya mendapat pencerahan soal kesehatan. Saya seolah mendapat wahyu dari entah siapa yang mengatakan bahwa berolahraga teratur adalah hal yang sangat penting dilakukan.

Karena hal tersebut, maka saya pun mulai survey ke beberapa pusat kebugaran; karena saya bukan penggemar olahraga yang menggunakan bola dan lari-lari di track lari, maka pilihan saya ya seputar yoga, pilates, body language, senam aerobik, berbagai macam dansa, oh ya, sempat terpikir aikido atau taichi.

Berhubung saya belum bisa menentukan pilihan, maka saya mengambil program sekali datang bayar. Saya sempat memilih beberapa jenis olahraga, yoga pernah, body language pernah, senam aerobik pernah — yang ternyata, sama sekali tidak bisa saya nikmati. Jadi saya menjalaninya hanya seminggu, paling lama sebulan.

Nah, yang ngeselin adalah setiap saya tidak pernah datang lagi ke salah satu kelas yang saya ikuti, pasti saya dihubungi oleh pihak pusat kebugaran tersebut, ditanya begini, ditanya begitu, dibujuk-bujuk. Pernah saya jujur bilang, bahwa saya nggak cocok dengan olahraga pilihan saya dan memutuskan untuk mencari olahraga yang lain. Kalau kebetulan pusat kebugaran yang bersangkutan punya program yang saya inginkan, maka orang tersebut pasti bakal menawar-nawarkan program tersebut pada saya; kalau kebetulan tidak, pasti dengan banyak jurus rayuan,mereka berusaha meyakinkan bahwa olahraga di tempat mereka sudah tepat, bahwa olahraga itu butuh proses yadda-yadda bla-bla. Bok kelihatan sekali bahwa mereka takut kehilangan satu pelanggan — agak heran juga sih, apa artinya juga kehilangan seorang saya padahal mereka masih punya banyak pelanggan lain. Pernah nih, saya kelepasan aja gitu bilang, mau mencoba olahraga lain di tempat lain, walhasil saya pun mendapat informasi nggak perlu tentang keunggulan pusat kebugaran mereka, dengan pusat kebugaran yang nggak sengaja saya sebut.

Doh, padahal, suka-suka pelanggan dong, ya, mau milih layanan yang mana dan di mana?

Kalau kata teman saya sih : ‘Namanya juga bisnis, satu pelanggan berarti lah, bok.’

Pada akhirnya, saya memilih renang, nggak keringetan lengket, main air dan nggak pakai bola (yup, saya nggak suka olahraga pakai bola). Tapi teteub nggak rutin, apalagi setelah melihat hasil medical check-up bahwa saya sudah baik-baik saja. :D

…..

Jumat (28/8) rupanya menjadi ‘Perjamuan Terakhir’ bagi umat muslim dan rohaniwan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan. Tukang becak dan kaum miskin yang biasa memperoleh menu buka puasa seharga Rp 500, harus gigit jari sejak aparat Kepolisian Kota Besar Surakarta melarang program buka puasa murah itu.

Adalah Kepala Satuan Intelkam Komisaris Jaka Wibawa dan staf yang mendatangi gereja pada Kamis (27/8). Intinya, kepolisian melarang kegiatan sosial yang sudah berlangsung 13 tahun itu dengan alasan ada sebagian umat Islam yang keberatan. Konon, polisi tak menyebut nama dan organisasi yang mengatasnamakan umat Islam itu.

Lengkapnya baca di sini

Membaca tulisan di atas, walau agak miris dan mengutuk pengotak-kotakan agama, tapi saya sekaligus berpikir bahwa hal ini wajar (menggantikan kata klasik, saking basinya) dan sering banget terjadi. Saya mendengar begitu banyak kasus serupa terjadi di lapangan; bahkan saya pun pernah mengalaminya sendiri di sebuah desa di Bantul, pasca gempa bumi di tahun 2006 lalu. Waktu itu saya dan seorang teman diminta untuk menjalankan kelas terapi psikososial anak-anak oleh seorang kawan yang memiliki sebuah LSM di Jawa Tengah sana. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu diadakan, disamping membantu bebersih puing-puing rumah dan pengobatan luka, untuk melepaskan trauma pada anak-anak.

Begitu turun ke lapangan dan disambut oleh tulisan super besar dengan tulisan : HIDUP BOLEH SUSAH TAPI JAGA AKIDAH, perasaan saya sudah nggak enak saja. Saya mendapat firasat bahwa program terapi psikososial yang sudah kami rencanakan terancam bubar jalan dengan sukses.

Menurut kawan-kawan yang di lapangan, tulisan-tulisan tersebut baru muncul beberapa hari belakangan sebelum kami tiba. Awalnya sih gara-gara (pada akhirnya, setelah beberapa hari di lapangan) masyarakat tahu bahwa sebagian besar orang-orang yang membantu mereka itu ‘pergi ke gereja’. Hal ini membuat isu Kristenisasi merebak.

Dan benar saja, perizinannya susah setengah mampus; pihak-pihak berwenang mengeluarkan sejuta alasan begini-lah, begitu-lah. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk membatalkannya saja — nggak boleh maksa dong, kalau mereka nggak mau. Tul gak? Akhirnya, kami hanya mengadakan kunjungan dari rumah ke rumah, nginthili para perawat mengobati luka para korban, bercerita-cerita dengan anggota keluarga korban dan bermain dengan anak-anak mereka.

Untungnya saat itu saya ‘membawa’ tiga orang mahasiswa (sekarang mantan) yang dengan catatan beragama Islam, mereka mengadakan pendekatan pada beberapa orang,menjelaskan maksud kami.

Singkat kata, mendadak salah seorang warga mengusulkan kami untuk membuka kelas khusus bagi anak-anak. Ihiw, gayung bersambut banget. Dan berhubung ini adalah keinginan warga, ya sudah, pihak-pihak yang berwenang nggak bisa ngapa-ngapain dong. Kami diberi waktu satu hari, dua jam (saja!) dengan petunjuk pelaksanaan dan batasan dan larangan ini-itu, yang membuat saya berpikir ‘Ih, siapa juga yang mau ngristenin anak-anak?’

Pada hari pelaksanaannya, kami diawasi. Bahkan ada kejadian di mana anggota ormas setempat mendadak inspeksi dan hendak membubarkan acara. Tapi untunglah, warga membantu ‘melindungi’ kami dan anak-anak mereka yang ada di dalam. :)

Anyway, mendadak saya seperti melihat ada kesamaan antara fenomena parno-kristenisasi ini dengan pusat kebugaran yang berusaha mempertahankan konsumennya.

Ada kecenderungan perilaku yang menganggap bahwa agama itu bukan urusan pribadi alias hubungan personal antara individu dengan Sang Penguasa Jagad, tapi ya sebagai institusi yang harus menyelamatkan manusia sebanyak-banyaknya dengan membuat orang menjadi ‘konsumen’ institusi mereka. Agama itu, jadi semacam pusat kebugaran spiritual. CMIIW, saya melihat kecenderungan ini kuat di agama Islam dan Kristen; dengan istilah Kristenisasi dan Islamisasi yang kondyang dan meresahkan masing-masing penganut agama.

By the way, mungkin pernyataan saya selanjutnya bakal terdengar dungu sekali; tapi sejujurnya sampai sekarang saya nggak ngerti, kenapa sih agama itu getol banget mencari konsumen? Dan seolah takut banget kalau konsumennya hilang.Kenapa sih nggak sendiri-sendiri saja, memercayai dan menjalani apa yang dipercaya masing-masing. Kalau pun ada yang mau berpindah dari satu pusat kebugaran spiritual yang satu ke pusat kebugaran spiritual yang lain; itu juga urusan masing-masing kan? Lagipula, nggak seperti pusat kebugaran jasmani yang saya ikuti; dengan kehilangan satu konsumen potensial, artinya kehilangan pemasukan — kerugian apa yang di dapat kalau ada konsumen pusat kebugaran spiritual ini berpindah ke tempat lain?

Heyah, ngelantur. Lanjut.

Nggak saya pungkiri, kalau memang ada yang namanya misi-misi pekabaran injil dengan menyentuh masyarakat dari berbagai aspek, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya sambil sekaligus ‘berdakwah’. Walaupun kelompok-kelompok tersebut berdalih bahwa ‘Semua dikembalikan pada individu masing-masing’, tapi tetap saja, buat saya itu salah satu cara untuk menambah konsumen institusi agama. Saya nggak tau ya di agama lain bagaimana.

Sialnya, karena (mungkin) cara pendekatan terhadap masyarakatn seringnya melalui kegiatan sosial, maka semua kegiatan sosial, pasti bakal di-cap sedang melakukan usaha marketing institusi agama. Semua digeneralisasi. Lucu banget, sewaktu pulang dari perjalanan sosial yang bikin saya sakit kemarin, saya sempat menerima banyak pertanyaan, yang intinya apakah saya di sana untuk misi pekabaran injil?

Ketika saya jawab bukan, pasti semua orang yang bertanya bakal mengerutkan kening,”Kok bukan?”

Ya emang bukan, karena saya dan teman-teman yang turun di lapangan memang nggak bergerak di bidang itu. Sebagai informasi, kami bergabung dalam satu organisasi peace-making, jadi tugas kami ya ngurusin orang supaya berdamai di daerah konflik, mulai dari memperkenalkan cara berkomunikasi tanpa kekerasan, pengenalan diri, mediasi, sampai membuka beberapa kursus hardskill yang sekiranya berguna bagi orang-orang di tempat tersebut untuk mencari kerja, biar nggak nganggur, biar nggak mabok-mabokan dan membuat kerusuhan. Gitcu. Jauh kan, dari pekabaran injil?

Nggak semua yang mau turun ke lapangan itu adalah orang-orang yang sedang marketing agama. Cuma gara-gara ada kelompok yang seperti itu, yang masuk dalam kategori ‘nggak semua’ ini sering kena getahnya, harus menerima kecurigaan masyarakat setempat.

Oh ya, untuk kasus yang saya kutip sebelumnya, pada akhirnya larangan buka puasa murah tersebut dicabut

Alhamdulillah….. Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Surakarta mencabut larangan penyelenggaraan buka puasa murah oleh GKJ Manahan. Karena itu, pihak gereja akan kembali menyediakan menu murah untuk masyarakat tak mampu itu mulai Selasa (1/9). Kali ini, tidak di kompleks gereja, namun di trotoar jalan depan gereja. Perjamuan Terakhir untuk Muslim, semoga tinggal kenangan, menjadi pengingat kita semua akan perlunya persaudaraan.

Pelarangan secara lisan oleh Kasat Intelkam Komisaris Jaka Wibawa itu dianulir secara lisan pula oleh Wakapoltabes Ajun Komisaris Besar A. Marhaendra, Senin (31/8) siang, saat Marhaendra menerima belasan anggota delegasi organisasi kemasyarakatan dan wakil GKJ Manahan di kantornya.

Selanjutnya, baca di sini

Syukurlah. Karena, kenapa juga harus mengorbankan orang yang membutuhkan, hanya karena takut kehilangan konsumen?

Dan —oh i hate my last paragraph, kedengeran sok tau, tapi — tanpa mengacu pada pihak yang disebutkan dalam kasus tersebut; mungkin ada baiknya, bagi pihak-pihak yang memang beneran berniat membantu sesama, tanpa ada agenda tambahan, melakukan programnya dengan lebih bijaksana. Nggak terlalu mencolok dan mentereng mengatasnamakan satu pusat kebugaran spiritual tertentu dan mencari tempat yang netral, misalnya?. Dalam kesehariannya membaur dengan lingkungan, tidak bersikap eksklusif (sehingga bikin orang nggak berpikir, ada maunya aja, bersikap baik deh), atau, ada yang bisa menambahkan?

:)

15 Responses to “Pusat Kebugaran Spiritual”

  1. blontank poer Says:

    asyik… senang saya bisa wisata kebugaran di sini. andai masih ada rudy (fx rg) di sana, titip salamku untuknya ya, mbak mirah… :p

    matur nuwun

    okke! : waduh, mas, aku ndak kenal dalam artian pernah ngobrol sama mas rudy, jeh :) Selamat berwisata!

  2. iyra Says:

    soal larangan buka puasa murah itu….orang muslimnya kemana? main larang-larang aja tapi ga ada solusi..kalau ada organisasi muslim yang menyediakan gantinya kan bagus..ga ngerugiin orang yang butuh.

    suka gemes… orang islam jumlahnya paling banyak..tapi ga bisa bikin kegiatan sosial yang seperti itu

    lagian masalah agama kan masalah hati..mau diapain juga kalau sudah beriman ya ga mungkin berubah. sighhh

    eh saya islam loh..

    okke! :eh ada kok, ada organisasi Islam yang terjun dalam kegiatan sosial. serius… :)

  3. arie-sa Says:

    yeah.. namanya juga Indonesia Raya!

    ayo senyum semua :)

    okke! : kenapa dengan Indonesia Raya?;-)

  4. desty Says:

    dugaan adanya marketing agama itu membuat kebaikan susah untuk ditebar

    okke! : yang jelas yang namanya suudzon itu nggak menguntungkan buat apa pun, ga cuma soal menebarkan kebaikan aja…

  5. JJ Says:

    “Lagipula, nggak seperti pusat kebugaran jasmani yang saya ikuti; dengan kehilangan satu konsumen potensial, artinya kehilangan pemasukan — kerugian apa yang di dapat kalau ada konsumen pusat kebugaran spiritual ini berpindah ke tempat lain?”

    Ya sama.. kehilangan pemasukan juga. Udah pernah denger tentang pusat kebugaran spiritual yang sekali ngedarin kantong dalam SATU ibadah sampe EMPAT kali? :-D

    okke! : Mari samakan persepsi,Jen. Pusat kebugaran spiritual yang gue maksud di entri ini adalah agama, bukan tempat ibadah (atau gereja). Gue rasa kalo satu agama takut kehilangan umat karena masalah duit seperti yang lo bilang, kok ya dangkal bener. Gue amat nggak yakin bakal ada pengaruhnya di soal finansial bow ;-) Ini sih ya karena ada konsep selamat-menyelamatkan umat aja.

  6. bintang Says:

    saya sendiri bingung dengan islamisasi ataupun kristenisasi yang merebak di tengah2 kegiatan sosial. kayaknya plus minus suatu agama adalah suatu pilihan pribadi, kalo mo sosial ya sosial aja, penyebaran agama jg yg jelas2 aja ngga pake ditutup2in.
    tapi kayaknya ngga mungkin ya mbak okke??orang2 udah ngga mikir jernih.

    hahaha *miris*

    okke! : ngng, mungkin kalo jelas-jelasan takut digebukin kali ya? hahaha…

  7. bubble-pinkz Says:

    mungkin karena pusat kebugaran spiritual yg lain kebanyakan konsumen, sehingga mereka takut konsumennya menghilang dan akhirnya tidak lagi menjadi pusat kebugaran spiritual dengan konsumen terbanyak di Indo… sementara pusat kebugaran yg satunya ingin menarik konsumen sebanyak2nya… tapi sayang caranya banyak yg salah….

    btw… mba… tolong comment di blog aku di postingan yg paling awal yach…. penting nech…. need your answer please…. thx’s… hehehehehehe…. :-)

  8. nella Says:

    hahahaha…nista ih, mengaku kurang gizi di depan khalayak ramai. :))

  9. fenny Says:

    bener nih analoginya ma pusat kebugaran, olahraga itu cocok2an, yang pusat kebugaran spiritual juga kan cocok2an, biar kata kristen juga ada banyak banget, islam juga ada aliran masing2, dankalau lagi ketemu marketing pusat kebugaran spiritual itu gw suka bingung mau reaksi apa, klo ditolak mentah2 tar marah, bisanya iya-iya, oh gitu ya…hahaha…. klo yang pusat kebugaran bener kan bisa langsung bilang aja, saya ga mau pak, titik. hehe…

  10. Shasya Pashatama Says:

    rasanya gua suka tulisan lu yang ini. great minds think alike, remember ?
    komen seriusnya nanti. belum selesai baca :)

  11. K Says:

    Well done! What an excellent post.
    “Ada kecenderungan perilaku yang menganggap bahwa agama itu bukan urusan pribadi alias hubungan personal antara individu dengan Sang Penguasa Jagad, tapi ya sebagai institusi yang harus menyelamatkan manusia sebanyak-banyaknya dengan membuat orang menjadi ‘konsumen’ institusi mereka…”
    Paling susah mengedepankan konsep ini lho sama beberapa temen2 , yang kadang2 lupa….its so personal, bukan urusan siapa2 kecuali yourself & God.
    Dan setuju re:hidden agendas (last paragraph)…kita semua kan manusia…apapun agamanya…ya toh?
    K

  12. jd Says:

    Untungnya musim nyontreng masih 5 tahun lagi. Menarik juga kalo sekalian bahas pusat kebugaran parpol ;p

  13. nita Says:

    “Dan —oh i hate my last paragraph, kedengeran sok tau, tapi — tanpa mengacu pada pihak yang disebutkan dalam kasus tersebut; mungkin ada baiknya, bagi pihak-pihak yang memang beneran berniat membantu sesama, tanpa ada agenda tambahan, melakukan programnya dengan lebih bijaksana. Nggak terlalu mencolok dan mentereng mengatasnamakan satu pusat kebugaran spiritual tertentu dan mencari tempat yang netral, misalnya?. Dalam kesehariannya membaur dengan lingkungan, tidak bersikap eksklusif (sehingga bikin orang nggak berpikir, ada maunya aja, bersikap baik deh), atau, ada yang bisa menambahkan?”—> paragraf ini bagus Mbak, i heart it alot…

    sebagai orang yg terekspos dgn pendidikan formal lebih tinggi, semestinya kita lebih bijaksana dalam melakukan segala sesuatu. yang sering menjadi masalah adalah karena sebagian besar kegiatan sosial dari pihak gereja itu lebih banyak didasari untuk mengumpulkan domba2 yg hilang. dan stigma ini kuat bgt melekat di kepala orang. jadi yg disebut saling menghargai itu benar2 harus dilakukan inside out, ngga hanya dipermukaan saja^^

  14. bistok Says:

    menurut saya ga masalah ada marketing agama, kalau ngomong yg marketing ini salah sama aja kayak ngomong yg marketing kartu kredit salah atau produk2 marketing lainnya. yang jadi masalah itu orang2 yg lain, yg masalahin jika orang pindah agama dari x ke y. karena seperti yang anda bilang, masalah Tuhan itu adalah masalah pribadi orang ke Tuhan.

    Orang2 yg pergi ke misi pekabaran injil itu atau dakwah2 itu menurut saya ga salah. contoh, dalam model pekabaran injil orang2 belanda, mereka mendirikan sekolah, membangun daerah dll. selama tidak ada orang yg dipaksa untuk memeluk agama tertentu untuk menggunakan fasilitas x yg dibuat oleh misi tersebut menurut saya, ga ada masalah karena toh masyarakat diuntungkan dengan keberadaan mereka.

  15. may Says:

    ikut nimbrung, ya Mba.. asik baca blognya, sambil dapet pencerahan :)

    kadang manusia suka lupa ya kalau manusia lainnya punya hak asasi :)

    Yah, anggap aja pembelajaran supaya kita ngga seperti itu ya, Mba. Biar orang tahu kalau kita nggak perlu “ditebengi” dengan hal macem-macem untuk berbuat baik, hehehe…

    Peace, ah.. salam kenal ya , Mba. sambil besok aku mau cari bukunya karangan Mba yang terbaru, hahaha…

Leave a Reply