Mendebat Joko : Karena Orang Berbeda-beda*

…yang pro, ya mereka yang melihat dari sisi ‘menepati janji’nya, yang kontra, membahas dari sisi agama, norma,moral dan hukum.

(*Ehm, soal judul yang rada panjang, sebenarnya saya bingung, mau memilih ‘Mendebat Joko’ atau ‘Karena Orang Berbeda-beda’, jadi saya pakai dua-duanya :D)

Ya,ya… agak terlambat memang kalau baru membahas aksi kepatil omongannya @jokoanwar , tapi biarin deh. Saya termasuk salah satu orang yang ikut tegang dan merasa keberatan mengerjakan hal yang harus dikerjakan (bukan mengerjakan hal penting, tapi macamnya mengangkat telepon dan pipis). Saya pun setia  merefresh halaman para panitia pelaksana, demi menanti reportase perkembangan aktivitas di salah satu Circle-K di seputaran Jakarta. Ada yang ngeledek, gatel amat nungguin orang telanjang di depan umum,hehe, kalau saya sih enggak nungguin telanjangnya,  nggak tau yang lain (hi,Jeung Hormonal! Haha.) Saya menunggu ‘bukti’ dari janji asal bunyi yang dikeluarkan oleh bapak itu.

Saya tidak mengikuti huru-hara pasca pelaksanaannya, begitu mendapat laporan bahwa misi telah dijalankan, saya pun mematikan koneksi internet, ngantuk  soalnya.

Sampai esok harinya masih banyak yang membahas aksi spektakuler ini di twitter dan di forum maya tertentu, ada pula yang niat bikin entri di blog masing masing. Saya tergoda untuk membaca satu demi satu tweet, tulisan dan ulasan tentang ini.   Banyak banget yang  mengulas dari sisi heroik-nya melaksanakan nazar sambil mengutip kalimat ‘A promise is a promise,Mr Politicians’ dan mengait-ngaitkannya dengan  politisi  tukang umbar janji. Malah ada yang bilang ‘Kalau ada politisi yang nggak menepati janji, kita bilang aja ‘Ga Jokoanwar lu’”.

Cuma  daripada ulasan dan tulisan tentang peristiwa menggemparkan ini*lebay*, saya lebih tertarik dengan baku komentar pada ulasan dan tulisan terkait. Pro dan kontralah, pastinya. Yang pro, ya mereka yang melihat dari sisi ‘menepati janji’nya, yang  kontra, membahas dari sisi agama, norma,moral dan hukum.

Saya bilang lebih menarik  karena yang pro dan yang kontra adu komentar, semacam ‘panjang-panjangan’ menulis argumentasi, mengutip sana dan sini, untuk memperkuat argumen-nya. Sebagai orang di luar adu argumentasi ini, saya bisa melihat bahwa sudut pandang mereka sudah jelas-jelas beda DAN mereka bertahan dengan sudut pandang tersebut; jadi mau sampai kapan juga nggak akan pernah ketemu.  Mau menulis komentar sepanjang 20 halaman A4, Times New Roman,12 pts spasi 1.5  dengan gambar mendukung seperti makalah, kayaknya perdebatan itu nggak mungkin berakhir (kali ya?).

Yang ada saya hanya ketawa-ketawa geli sambil bilang ‘Orang-orang Galia memang sudah gila…’*tuk—tuk—tuk * (err, buat yang nggak ngikutin komik Asterix dan Obelix, kalimat terakhir pasti membingungkan. Hehe)

Saya tidak ingat tepat kapan; sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu kayaknya. Di masa-masa itu, mungkin saya sedang mengalami quarter life crisis (huhuy!) – (sok) mencari jati diri; yang di saya jatuhnya jadi merasa bahwa dunia itu tidak adil dalam memperlakukan perempuan.  Itu mempengaruhi segala aspek kehidupan, termasuk entri blog!  Pokoknya entri-entri saya yang berkecenderungan mengecam dunia; cowok plus masyarakat patriarki. Halah nggak penting banget lah pokoknya.

Tidak akan ada reaksi, kalau tidak ada aksi. Entri saya membuahkan begitu banyak komentar yang kontra. Dan ini  yang nyebelin, seringnya orang yang kontra selalu bertindak  lempar komen sembunyi identitas; dan tauu dong, kalau sudah tanpa identitas, biasanya merasa ‘aman’ mau ngebacot seperti apa pun — jadi komentarnya babar blas, nggak pakai filter dan nyelekit.

Sampai satu titik di mana saya berpikir untuk mengenyahkan commenting system dari blog saya.

Tapi ada satu kalimat dari seorang kawan blogger saya yang bilang “Jadi, lo maunya semua orang setuju sama lo?”

Dalam hati saya bilang “Maunya sih..”

Tapi pertanyaan dari kawan blogger saya membuat saya berpikir, iya juga ya, orang-orang kan hidup dan tumbuh di lingkungan/latar belakang berbeda, baik secara geografis, secara pekerjaan, pendidikan, ekonomi, pekerjaan, keluarga, suku, agama,ras dan lain sebagainya. Nggak mungkin lah perbedaan-perbedaan itu tidak berpengaruh pada pola pikir individu. Nggak mungkin juga tidak berpengaruh pada cara seseorang mempersepsi sesuatu.

Contoh sederhana, teman saya yang Jawa tulen dan saya yang  Jawa murtad memiliki opini yang berbeda terhadap   apa yang saru (tabu) dan apa yang tidak. Contohnya, kalau ditawari makan, buat teman saya, alangkah tidak sopannya menjawab ‘Belum makan, yuk makan’, biar pun perut keroncongan, sementara saya, yaaa, kalau belum makan dan laper, ya  bilang saja. Kata dia saya salah, ora ilok, atau tidak sopan. Kata saya, dia yang salah, daripada kelaparan, ya mending makan. Padahal kami sama-sama Jawa, bedanya, dia memang dididik dan dibesarkan di lingkungan Jawa yang pakewuh-nya besar, sementara saya, dari kecil sudah jauh dari namanya unggah-ungguh Jawa, yang ketauan Jawanya cuma nama doang (yes, nama belakang saya ada ‘-wati’-nya, Jawa sekali bukan? :D)

Itu baru perbedaan lingkungan dan cara didik (padahal sama-sama Jawa), gimana hal-hal lain yang lebih kompleks coba?

Contoh lain, saya dan beberapa komentator di blog masa itu memiliki persepsi yang berbeda tentang pelecehan seksual dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Waktu itu saya kebetulan membahas soal pelecehan seksual pada perempuan, saya bilang, biarpun sang perempuan memakai baju minim/seksi, tetap bukan salah perempuan, yang salah adalah otak  pelaku yang saru. Dan saat itu saya mendapat reaksi keras, tentang perempuan mulia yang tidak mempertontonkan aurat dan tentang perempuan yang berpakaian seksi yang tidak punya harga diri, tentang wajarnya terjadi pelecehan seksual pada perempuan tidak berharga diri *yea yea*.  Opini saya dan opini komentator itu berbeda, karena persepsi kami berbeda. Persepsi berbeda jelas karena latar belakang kami berbeda. Opini saya benar, karena berdasarkan apa yang saya serap,pelajari dan yakini dari lingkungan saya benar. Opini komentator juga nggak salah, karena itu juga berdasarkan apa yang di dapatnya dari lingkungan.

Gara-gara mengobrol dengan teman blogger yang satu itu, saya jadi batal untuk menghilangkan commenting system :)

Teman blogger saya bilang ‘Justru rame, kan kalau bisa liat pendapat yang berbeda?’

Dan dalam hati saya bilang ‘Iya, rame,  kalau komentarnya tertib.’ :P

Pada akhirnya, bagi saya ‘kebenaran’ absolut itu omong kosong. Semuanya jadi sangat relatif bergantung dari latar belakang orang yang bersangkutan. Benar kalau  ia yakin bahwa itu benar. Kita tidak bisa memaksakan apa yang kita anggap benar pada orang lain.

Buat  yang memiliki opini bahwa @jokoanwar (ini sok twitter bener ya,pake @ di depan nama hehe) heroik dan keren, ya benar juga;  buat yang berpikir bahwa bapak itu tidak bermoral, saru dan sebagainya ya benar juga.

Karena latar belakang masing-masing telah membuat mereka mempersepsi satu peristiwa dengan cara yang berbeda dan itu menghasilkan opini yang berbeda pula.

Tapi yang jelas sih, @jokoanwar…sarap. :D

BTW, katanya sekarang jadi banyak yah, yang ikut-ikutan menambah follower dengan syarat dan ketentuan berlaku, ya? Siapa aja sih? ;-)

OOT, saya masih nggak bisa terima kenyataan bahwa liburan sudah berakhir. SIAL!

7 Responses to “Mendebat Joko : Karena Orang Berbeda-beda*”

  1. biyan Says:

    Jadi sebenernya buat kasus joko telanjang, mbak okke pro apa kontra nih? tentukan sikap dong :))

    okke! : Mengulang jawaban (dari note-nya FB) ah : hehe, saya sih egois, biasanya ngambil sikap buat hal2 yang saya anggap penting. Kalo soal janji joko, emang mesti ya? :))

  2. kiki Says:

    biasanya yang diskusi gitu2 suka keminter/sok pinter… hehehehhe…

  3. mila Says:

    ada aura kasih yang katanya kalo followernya melewati raditya dika, mau nyium 100 cowok yang ditemuinya, tapi katanya itu account twitter palsu.Terus ada rapper siapa gt, yg mu push up 1000x.

  4. bagoest Says:

    pas masa2 lebaran pula y, btw knapa di CK sih? knapa gak di SevenEleven ato dimana gt yg cuman dia dan perekam yg tau, hehehe

  5. wongiseng Says:

    Everybody is always right, nobody is ever right –de bono.

    *komen sok tau, udah lama ngga mengomentari disini, maap mengganggu*

  6. Nona Hormonal Says:

    Yah kalo saya sih sejujurnya… emang lagi gatelan aja, hihihi!

    Eh bu, tanya dong.. kalo mau ngambil link status twitter tertentu tuh gimana caranya sih? Gue nyoba kok ga bisa2 yaaak… maaciiih!

  7. uthie Says:

    hehehe, nice post. soal joko anwar, aku ndak ikut-ikutan follow. cuman menyimak saja, trus nungguin liputannya aja, beneran kejadian apa ga :D
    setuju juga tuh, sama kebenaran itu relatif. orang kan jalan pikirnya beda-beda. salam kenal ya mba okke :)

Leave a Reply