Ngritik Vs Nyela.

…kadang orang-orang nggak bisa membedakan antara nyela sama ngritik. Itu beda, Jendral!

Baru saja saya selesai mengetikkan status : ‘Hello, Y!Messenger, lama tak bersua’, tiba-tiba terdengar bunyi ‘plop!’ dan….

HAI, Mbaaaak, kemana ajaaaa…..

Seseorang menyapa saya. Saya mengenal dirinya empat tahun yang lalu. Walau tidak pernah bertemu langsung, tapi kami pernah rutin chatting. Awalnya saya menerima e-mail keluhan atas template blogger yang saya buat dan saya submit ke blogskin.

Ada yang pernah bilang, HTML itu hanya cocok buat orang yang teliti, bukan orang yang ceroboh seperti saya. Mungkin benar, karena dari sepuluh template yang saya submit ke web itu, pasti setidaknya ada dua yang ‘keliru’, sehingga menyebabkan seluruh fungsi blogger tidak berjalan semestinya pada template yang saya buat. Dan kebetulan, orang ini adalah salah satu korban kekeliruan saya. :)

Jadi singkat kata, karena merasa bertanggung jawab atas kekacauan yang saya buat, saya pun membantunya untuk memperbaiki kesalahan template pilihannya. Sejak saat itu kami pun sering chatting via Y!M. Dulu, dia termasuk orang yang super produktif mengupdate blognya. Bayangkan, sehari, bisa tiga sampai empat kali update. Kalau cuma update status di layanan microblogging sih, sehari sepuluh kali masih bisa disebut ‘biasa’, tapi ini ngeblog!

‘Gue suka banget nulis blog.’

Begitu akunya, saat saya berkomentar bahwa dia gila. Cuma sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu, kami jarang berhubungan lagi. Dan satu saat, ketika saya membuka blognya, muncullah kalimat :

Maaf, blog yang Anda cari tidak ada. Meskipun demikian, nama ********* tersedia untuk didaftarkan!

Blognya sudah dihapus, ternyata.

Kemudian terdengar bunyi ‘plop!’ lagi. Di layar kanal cakap maya saya muncul sederet kalimat darinya.

Gue ngikutin blog lu. Gila ya lu, Mbak. Konsisten amat ngeblog!

Dan ketika saya tanya, apa dia masih ngeblog, dia bilang nggak. Selidik punya selidik, ternyata dia berhenti ngeblog gara-gara terganggu oleh beberapa komentar dengan tipe lempar-komen-sembunyi-identitas, alias komentar anonim; yang kurang lebih mengatakan bahwa blognya nggak penting-lah, nggak mutu-lah, dia nggak bakat nulislah, tulisannya nggak ngasih pengetahuan atau inspirasi apa-apa-lah dan seterusnya.

Gue emang nggak jago nulis sih, Mbak. Orang yang ngeblog sekarang kan pada jago nulis. Minder juga gue ngebandingin dengan tulisan gue.

Begitu katanya. Ketika saya tanya lagi, soal masih suka atau nggaknya dia ngeblog, dia mengaku masih suka. Banget.

Hm, masih suka, tapi berhenti karena ‘kritik’ orang-orang.

Tiba-tiba saya jadi teringat pada diri saya sendiri. Saya suka menggambar. Dari kecil. Saya menggambar di pelajaran menggambar, matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS dan seterusnya. Saya menggambar di buku gambar, buku tulis, buku teks sampai buku teman, mungkin kalau nggak serem, saya sudah menggambar di buku catatan guru saya. Dan ini satu pengakuan, saya juga suka menggambar di meja kelas dan di tembok juga (jangan bilang-bilang guru saya!). Saking sukanya saya dengan menggambar, saya bercita-cita untuk masuk ke universitas yang ada pelajaran gambarnya :)

Eh masuk dong! Saya masuk ke fakultas gambar-gambar seni rupa dan desain. Seharusnya saya senang dong, ya? Kan judulnya masuk ke ‘wadah’ yang cocok. Tapi ternyata oh ternyata, saya malah tersiksa, terutama di tingkat satu, di mana pelajaran gambar bentuk (sialan) dan gambar konstruk (keparat) itu ada. Kenapa? Soalnya kawan-kawan saya jago gambar semua, dan saya kerap membandingkan gambar saya dan gambar kawan-kawan. Jauuuh, bagai langit dan bumi. Minder lah, pokoknya.

Apalagi setelah mendengar beberapa celetukan nyebelin, macam : ‘Lu kok bisa lulus tes sih?’, atau ‘Anak SR (Seni Rupa) kok nggak bisa gambar?’

Eh jadi inget, satu hari, saya berniat untuk menggambar sebagus yang saya bisa, waktu itu media gambarnya adalah cat air. Buat saya, gambar saya waktu itu sudah oke. Maksimal. Lalu saya mendengar celetukan ‘GILA! Bagus banget ni gambar! Siapa sih yang buat?’

Saya GR dan menoleh.

‘Oh gambar gue deng.’ kata sumber suara, yang ternyata sama sekali tidak sedang melihat gambar saya; tapi melihat gambarnya sendiri. ‘Bukan gambar lu…’ katanya sambil melirik pada saya.

Kamfret.

Memang sih, semua celetukan itu diajukan dengan nada bercanda, tapi lumayan mengiris hati, ya bok. Yang jelas, selama kuliah, saya justru jadi jarang menggambar kecuali untuk tugas. Apakah saya masih menggambar iseng-iseng dan senang-senang? Tentu masih, tapi diam-diam. Males dikomentarin. Begitu ada orang di sekitar yang memerhatikan saya menggambar, langsung saja tekanan batin. Cuma karena kebutuhan ekonomi yang mendesak *alah! Bilang aja butuh uang saku tambahan!*, saya ‘memaksa’ diri saya menjadi seorang guru gambar anak-anak, menyenangkan sih, soalnya saya nggak pernah menerima celaan sih, dari mereka :)

Sampai satu saat, sekitar tahun lalu seorang teman menyambangi saya dan ia mengaku, setelah sekian lama, akhirnya ia menggambar lagi dan katanya ‘Seneng banget ih, gambar lagi.’ Ia menunjukkan gambar-gambarnya, she’s talented. Bagus-bagus bok.

Tapi bukan itu poinnya, melainkan saya melihat betapa ia menikmati saat-saat menggambar tersebut. Ini mengingatkan saya saat masih kecil, di mana yang namanya menggambar itu adalah aktivitas yang menghibur hati. Mendadak saya ingiiiiiin sekali menyentuh alat-alat gambar.

Atas hasutannya, maka saya pun membeli cat air dan mulai menggambar. Senang ih menggambar lagi. Tapi teteub minder ya bok, untuk menunjukkannya pada orang banyak. Bahkan saat partner membujuk-bujuk saya untuk memperlihatkan gambar-gambar yang saya bikin, dengan keras saya menolak,”Ga mau ah! Jelek.’ — apalagi, saya tahu bahwa partner itu ‘dewa’ menggambar. :D

‘Sebenernya gambar itu ga ada yang jelek lagi. Gimana pun bentuk visualnya, ya emang itu garis tangan lo.’ Itu bentuk rayuannya agar saya mau memperlihatkan gambar saya.

Dan, sukses. Saya pun mempublikasikan entri percobaan awal gambar saya setelah bertahun-tahun puasa menggambar. :)

Partner terus menerus bilang, ‘Ga penting kali, bagus atau enggaknya. Yang penting seneng-seneng saat prosesnya aja lah.’

Dipikir-pikir iya juga ya? Kenapa saya jadi berhenti melakukan apa yang saya suka gara-gara ‘kritik’ orang? Seharusnya saya ambil sikap
sebodo teuing (masa bodo amat), yang penting hati senang, orang nggak suka ya bukan urusan saya.

Dan mulailah saya berani memasukkan kategori ‘ilustrasi‘ di blog ini. Biarpun kalau dilihat-lihat lagi, saya masih payah terutama diurusan menggambar orang dari samping dan tangan. Bodo amat, yang penting hati senang! :)

Selama saya ‘memamerkan’ hasil karya, ia selalu berkata ‘Lucu nih yang ini, tapi….’ — dan ia pun menunjukkan beberapa kekurangan saya, memberi tahu (dan contoh_ tentang berbagai teknik menggambar.

Ada yang bilang, (semacam) kritik itu –bagaimana pun bentuknya– bagus, karena bisa membangun dan membentuk seseorang menjadi lebih baik. Iya sih memang benar, tapi kadang orang-orang nggak bisa membedakan antara nyela sama ngritik. Itu beda, Jendral!

Saya jadi ingat ada seorang dosen yang dengan bangganya pernah berkata bahwa ia biasa bersikap ‘keras’ pada mahasiswa-mahasiswanya. Ia bilang, ia pernah merobek pekerjaan seorang mahasiswa di depan kelas, katanya sih, ia ingin agar sang murid terpacu untuk membuat karya yang lebih baik lagi. Ehm, yang saya tahu sih, mahasiswa tersebut jadi pundung dan nggak mau kuliah lagi selama dosennya masih dia. :P

Nyela adalah ketika kau mematahkan semangat orang dengan kata-katamu. Ngritik adalah ketika kau meyakinkan orang lain bahwa ia bisa melakukannya dengan lebih baik.

Antara ‘Ih, jelek banget sih ini?’ dengan ‘Ini masih bisa disempurnakan lagi.’ beda dong ya?

Nyela ketika kau ‘menyerang’ seseorang, ngritik adalah ketika kau fokus pada pekerjaannya, bukan pada dia secara personal.

Nyela ketika kau cuma bilang hal-hal buruk tanpa solusi. Ngritik, kau datang dengan solusi.

Nyela adalah ketika kau impoten menempatkan dirimu di posisi orang yang bersangkutan; kau lakukan di depan umum, kau bandingkan dirinya dengan orang lain. Ngritik adalah ketika kau bisa berempati, membayangkan apa rasanya berada di posisinya.

Nyela adalah ketika kau lupa (secara subjektif) bahwa ada hal-hal baik juga yang pernah dilakukan seseorang (karena keburu sebel misalnya). Ngritik adalah ketika kau dengan objektif melihat bahwa ada kualitas baik juga dari dirinya dan tanpa ragu mengemukakan hal tersebut.

Tapi yang paling penting adalah, ngritik itu karena kau peduli pada seseorang dan ingin ia menjadi lebih baik lagi. Kalau nyela? Ya gitu deh.

Bisa kelihatan jelas, apakah komentar anonymous yang diterima sang-empunya blog, itu celaan atau kritik.

(Tapi sayang ya bok, padahal yang komentar nggak dikenal ini, kenapa dipikirin?)


‘Ya biarin lah orang mau bilang apa soal blog lo, lo kan ga dikasih makan juga sama mereka…’ Akhirnya saya berkata demikian pada dia-yang-berhenti-ngeblog-karena dicela.

Dia bilang sih, dia akan mencoba ngeblog lagi.

Ditunggu :) Jangan biarkan celaan menghentikan kesenang-senangan. Dan jangan tolak kritik untuk memaksimalkan kesenang-senangan itu!

;-)

41 Responses to “Ngritik Vs Nyela.”

  1. bintang Says:

    Yang penting prosesnya, kesenangannya karena menulis di blog bagi saya adalah untuk kepuasan saya sendiri, sukur2 kalo ada orang lain yang suka, kalo ngga juga ngga masalah. hehehehhe

    okke!: hajar terus, yang penting senang :D

  2. desty Says:

    aduh..kalo hidup hanya untuk menyenangkan orang lain,ngapain hidup?
    blog gw jg pernah dikritik ama suami sendiri,dibilangin ga mutu,ga ada temanya. cuek aja.. gw bkn blog bukan buat dia seorang kok..tp lebih ke diri gw sendiri.
    btw,gw suka kritik dan nyela versi teh okke :)

    okke! : mungkin tergantung orangnya yah, ada juga orang yang ga tahan dicela :)

  3. Shasya Pashatama Says:

    kalo komentaran lantaran baju dan sepatu ga matching itu nyela apa ngritik sih bok?

    okke!: tergantung, kalo kita (kita? gw kali ya) ga kenal orangnya, kayaknya arahnya ke nyela deh… kalo kenal biasanya,suka gw kasih solusi :))

  4. atta Says:

    Katanya kalau orang nyela itu lebih karena dia tahu dia gak bisa sebaik kita. Hihihi.

    Ilustrasi lo keren-keren; tulisan lo apalagi ;)

    okke! : terima kasiiih,attaaaa…. :)

  5. mela Says:

    anggap aja nyela itu… omongan orang yang siriikkk sama kemampuan kita…

    cueek ajaa… pede sendiri dalam hati… kalo kita konsisten en ngelakuin apa yang kita seneng… lama-lama dia tambah siriikkk ngeliat kita hepi… en malah ngikutin diam-diam… hihihi…

    okke!: iya,Mel…lempeng aja :) Pokoknya senang sendiri aja.

  6. nisye Says:

    Mbaaaakk Sepatu meraaahhh… Aku suka sama blognya mbak, and baru kali ini memberanikan diri utk kasih komen hehhehe :-)

    setuju aku sama semuaaa perbedaan yg mba paparkan diatas, ada beda yg tinggi antara: Ngritik and Nyela….

    Aku salah satu yg kena korban disela abis2an hahhaha :-)

    tapi namanya udah hobi ya bok, kalo lagi mau nulis, ya dilanjutkan aja heheh :-)

    okke! : Biarin aja anjing menggonggong, tapi nisye berlalu hihihi…

  7. benx Says:

    memang mbak, orang yang suka nyela itu kurang ajar banget.
    kemaren aja, dah susah-susah ngantri tajilan di masjid komplek, eh tiba-tiba aja anaknya pak RT nyela saya. padahal kan harusnya ga peduli status harus antri.

    hehehehe.

    piss, mbak ;-D

    okke! : Kemarin di kasir supermarket sama di antrian ATM juga gw ngalamin gitu. Diapain enaknya? Tampol aja gitu?:P

  8. Erwin Wijaya Says:

    Saya yang sering down karena permainan gitar saya dicela ataupun dikritik habis2an, sempat juga merasa tidak ingin bermain lagi. Baca artikel mbak, saya jadi inget kalau saya main gitar karena itu menghibur hati saya dan ga seharusnya saya berhentimelakukan hal yang membuat saya bahagia, karena celaan orang lain

    Jadi, terima kasih banyak atas tulisan yang sangat menginspirasi ini:)

    Okke!: sama-sama! Yuk,Erwin, kita main gitar lagi :D

  9. Eka Situmorang - Sir Says:

    Mbak Okkkeeeeeeeeeeeee
    tau gak… gue hampir berhenti ngeblog juga suatu waktu.
    Gara2 komen2 aneh juga, plus ada yg jiplak blog gue :D
    Beruntung ada temen2 yang gak lelah pompain semangat, alhasil pas balik blogging biar gak malu, gue bilang aja gue renovasi blog selaama beberapa saat vakum :D smart kan hehehehe

    tapi setuju banget… harusnya kita tuh memberik input yg konstuktif bukan nyela yg mematikan semangat org lain.

    salam, EKA

    okke!: Bok,kalo ada yang ngejiplak artinya blog lo bagus kaleeee…:D

  10. KuyaKayu Says:

    wah mbak okke, pas banget ni aku baca blog nya lagi bahas ginian.

    Gimana kalo ada yg bilang hasil karya yang kita buat setengah mati dengan kata2 “Design lu Sampah” . itu termasuk nyela atau ngritik? :D jadi kayak forum tanya jawab neh ahaha xD

    okke! : Jadi begini dik Kuyakayu *alah*.:P Gue ga tau, karena ga ngeliat kejadian langsung *tsah!*, tapi bisa keliatan kok, dia bilang gitu karena peduli dengan desain lo dan pengen lo lebih baik lagi, atau emang cuma lempar celaan terus melenggang kangkung ga ngasih masukan. :)

  11. Bulbul Says:

    Hwaaa…mba okke nih selalu bisa menjelaskan sesuatu dg simpel tp bermakna daleeemmm. Trus bilang “bener bgt!!” :D tengkyu mba!

    okke! : sama-sama,Bulbul…:)

  12. nYam Says:

    waktu bikin kue pertama buat (waktu itu) calon suami, katanya: yang penting dah nyoba. padahal yakin banget abis itu dia sakit perut.

    waktu bikin kemeja pertama buat suami, langsung dipake ke rumah temen. bangga judulnya. padahal ya kerahnya amburadul.

    tapi liat kaya gitu, jadi tambah semangat untuk nyoba lagi lagi lagi dan lagi (sampe diultimatum ga boleh beli kain lagi sebelum stok habis he he he)

    nice post Mbak…

    okke! : Ah! Tos dulu, gw juga sedang berpuasa membeli kain sekarang, sampai semuanya jadi baju! hahaha. ternyata sindrom orang ngejahit gitu yah :D

  13. Vicky Laurentina Says:

    Saya nggak bisa bedain nyela dengan ngritik..tapi saya nggak suka banget sama orang yang nyela atau ngritik tanpa menawarkan solusi. Misalnya kalo dibilang gambarnya jelek, ya kasih taulah mestinya jeleknya di mana, apakah warnanya yang buram, atau bentuknya yang kaku, atau obyeknya kurang fokus, dan lain-lain. Kalo blog dibilang jelek, ya kasih tau blognya jelek di mananya, apakah kalimat-kalimatnya nggak beraturan, atau topiknya membosankan, atau widgetnya kebanyakan. Jadi kan pembuat karyanya bisa introspeksi diri dan nggak cuman sekedar pundung karena dijelek-jelekkan saja.

    okke! : :)

  14. fara Says:

    hallo mbak sepatu merah,,
    blogwalking dan first visit nih hhhe

    tp pas pertama kali liat blog ini sy tertarik lo sm ilutrasi2 nya solanya saya suka gambar juga,,,dan mirip sama cerita mbak,,bedanya sy gak kuliah dijurusan gambar2an itu,,lebih tepatnya gak keterima,,padahal cita2 dari kecil mau jadi arsitek,,eh skrg jadi insinyur sipil :D (blum resmi sih hhee)

    gudluck trus yh sm ilustrasinya ^^

    umm berhubung postinganya tentang kritik dan nyela,,tp komenya gak nyambung gpp y,,abis sy kurang suka dua2ny,,sukanya dikasi saran (semua org jg sukanya dikasi saran ya,,yg gak enaknya mana mau hhee)
    tapi setau saya kritik mebangun itu ada,,klo nyela membangun belum pernah denger ;P

    okke! : kalo kritik berbentuk saran,gimana? :D

  15. arya nasoetion Says:

    Paling sebel kalau dapet komen nyela gitu anonim. Paling enggak kalau dia ngasih identitas masih mending lah…

    Apa kabar Mbak Okke? Udah lama ga maen ke sini :)

    okke! : halo Arya! ih, udah ngeluarin buku aja kamu :) Congrats yah *maab telat*

  16. cha Says:

    Sukaaaa sama definisi nyela dan ngritiknya,,kke!!!! Kalo gw sih untuk blog ya, karena itu blog suka2 gw, jadi kalo ada anonim yang komen jelek langsung di delete aja,, udah nyela, anonim pula,yuuuks….

    okke! : padahal kan udah ga musim ya lempar komen sembunyi identitas…

  17. Wulan Aquariyanti Says:

    definisi nyela sama ngritiknya bagusss! dan sayangnya nyela lebih gampang daripada ngritik ya..
    *sigh

    okke! : iya sih *sigh* hehe..

  18. murni Says:

    Makanya gue ngeblog ngga gitu ngarep komen2 kayak jaman dulu, Kke. Biar secara psikologis gue ngga tergantung pendapat orang lain. Kalo ada yg komen nyenengin gue terima dgn senang, kalo melemahkan semangat tinggal gue delete aja, deh. (secara gw ngga secuek elo, si) :D

    okke! : eh,tapi kalo udah ngedelete, berarti sempet baca dong komen melemahkan itu…

  19. Bang Aswi Says:

    Inilah menariknya bagaimana kita me-manajemen-i kritik. Saat pertama kali meluncurkan buku bersama dua penulis yang sudah terkenal duluan, saya bangga. Pas di-launching dan dibahas oleh dua penulis yang jauh lebih terkenal lagi, saya pun down. Bagaimana nggak, yang satu ngebahasnya pun nggak, sementara yang satu lagi meluluhlantakkan idealisme saya sebagai penulis. Ada mungkin, tiga hari tiga malam saya tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu dan MARAH. Akhirnya, saya menghibur diri bahwa inilah tantangannya. Saya pun bangkit dan ingin menunjukkan bahwa saya bisa lebih dari yang dikritiknya. Dan inilah saya sekarang. Orang yang mengkritik itu [Joni Ariadinata] pada akhirnya menjadi sahabat untuk saling tukar pikiran. ^_^

    okke!: halo Bang Aswi, kalo soal pembahasan ‘negatif’ untuk karya sih, saya ngerasa ada dua kemungkinan, emang tulisannya jelek (objektif), atau emang kita nggak bisa menuhin selera (subjektif) orang. :D hehe. Anyway, Sampe sekarang, tiap mau rilis buku baru, saya selalu ngasih liat ke beberapa orang yang saya percaya bisa objektif, yang sama lah dengan Bang Aswi dan Bang Joni, jadi teman tukar pikiran dan penyilet-nyilet tulisan :)

  20. murni Says:

    hehehe Iya, Kke. But at least, ngedelete berarti melupakan. Kalo cuma ‘pait’ tapi masih berguna nantinya si, gpp ya, Kke? :)

    okke! :hehehe, iya deh, gpp :)

  21. Ade Says:

    Nyela sih paling enak.. hehehe.. ga pake mikir soalnya :-D
    cuman bilang jelek atau ga bagus tapi ga ngasih solusi
    nyela mungkin juga karena sirik kali ya
    sirik karena tak mampu huhuhuhu :mrgreen:

    okke! : bisa jadi karena pada dasarnya emang pengen nyela aja, tanpa sirik *semacampengalamanpribadi*

  22. ika Says:

    hahhahha….saya juga mhswi sr yg paling enek kalo disuruh menggambar(bentuk yg realis itu) tapi seneng kalo udah main2 objek. mbak dlu yg nulis kamarcewe ya??? baru nemu blog ini lagi….salam kenal ya…..

    okke! : iye, dulu gw yang nulis kamarcewek bareng ninit… salam kenal juga :)

  23. -may- Says:

    Kalo buat gw sih “Nyela & Ngritik, Sama Enaknya, Sama Ribetnya” ;)

    okke! :argh! itu tagline lajang dan nikah-nya tary! :D

  24. Yessi Says:

    tau g mb okke..blog gw..ada yang bilang ga mutu n buat dia pengen fifis..gila ya?tapi gw cuekin aja..hehehe..

    okke! : fengen fifis? gw sih fengen fifis kalo abis minum panta…hehehehe….

  25. mandhut Says:

    mbak okke, saya termasuk orang yang dari kecil suka gambar loh :D, terus pengen masuk SR juga, tapi ga kesampean, karena ga boleh sama orang tua, jadinya masuk jurusan lain deh.

    sekarang nyesel si kenapa ga masuk SR dulu, tapi yasudahlah :D. Mbak Okke beruntung banget bisa mengejar mimpi :)

    btw, setuju banget tuh yang nyela sama kritik :)). dari dulu berpikir2 apa bedanya, hahaha :)).

    aku selalu liat gambar mbak okke, dan menurutku gambar2nya berkarakter loh ;). setuju tuh kata temen mbak okke, kalo soal gambar, bagus tuh relatif, kalau yang gambar seneng, ya hasilnya bagus2 aja kok :)

    okke! : tapi biar ga masuk SR kan masih bisa teteub gambar? ;-)

  26. manusia bodoh Says:

    Nice posting mbak…!!!
    ini dia posting yang membuat semangat…!!!
    terima kasih mbak, sebab saya juga masih minder kalau melihat postingan dari teman-teman yang kata-katanya sangat bagus sedangkan hasil postingan saya gak ada sempurnanya sama sekali, Akhirnya jadi semangad lagi nih ngeBLOG

  27. oeoes Says:

    Yup benar mbak peduli orang, lha wong kita ngeBLOG untuk cari kesenangan kok, mau dicela kek, dicaci, dicemooh, urusan dia, yang penting Keep Blogging n Posting

  28. Cely Says:

    wah kok mirip.. saya jg ga bisa gambar orang dr samping, gambar tangan dan jari2nya, cowok, kaki dan jari2 kaki..hehe… dulu sempet gak pe-de sehingga akhirnya malah ndak pernah nge-gambar, atau baru coret2 dikit dah males nerusin karena merasa gak bakat… akhirnya skrg sedang kembali memperbanyak frekuensi menggambar..mau gimana juga hasilnya, yg penting hati seneng kan..hehe..

  29. alfaharahap Says:

    nge-blog, adalah sarana utk menulis bagi orang2 yg tidak jago menulis. menulis, pada dasarnya adalah memulai menuliskan sesuatu, apa saja, dan bagus atau tidaknya, seperti kata anda, tidak bisa dinilai begitu saja.

  30. deti Says:

    suka sama tulisan yang ini. bikin semanga. thx ya mbak okke!!!

  31. Dian Says:

    Mending punya blog yang ga mutu tapi hasil buah pikiran sendiri, bukan dari copy paste tulisan orang tanpa ijin.

  32. riri Says:

    suka bangeeet baca tulisaan ini mbaaa…
    dari dulu pgn nyoba ngeblog tapi slalu ga pede,,skrg bnr2 niat ah mo mulei nulis
    trus trus satu lagii…gambar2 cat airnya tuh baguuusssss mbaaaa…
    aku jg sk bgt gmbr,,terobsesi masuk SR (tapi ga ktrima2 hhe..),dl suka bgt gambar dimana2 juga, dan jadi berhenti gr2 patah hati ga ktrima di SR heuheu..
    dan stlh lihat gmbr mba lg,,jd pgn gambar2 lagii dehhh
    uhhh mba okke amat sangat meng-inspirasi deeeehhh hihihi
    mksh bgt yaaa mba okke…

  33. ivy_puppy Says:

    Topic na bagus bgt mbak okee..
    huuh… bnr bgt!

    nyela n ngritik itu beda abiez!
    yg satu dgn niat baik.. yg satu lg ga pake mikir…
    nicee… ^^

  34. kasep Says:

    salam kenal mba,

    pernah banget nih gw mba ketemu orang kayak gini, gak bisa bedain nyela dengan kritik, padahal sedang sama2 berada dalam kerjasama profesional ,

    huh mestinya gw dengerin orang2 yang berkata ke gw “cabut aja pakunya klo udah ganggu roda” alias i should’ve fired this dude!

    tema bagus mba,realistis sehari2

    gud day

  35. mahasiswa Says:

    artikel yang bagus,tante.. he3.. senang bisa mbacanya di saat yg tepat.. smangat ah! ha2.. ;)

  36. yuli Says:

    wah….. bgs bgt artikelnya……

  37. yuli Says:

    wah…… artikelnya bagus kak :)

  38. lala bohang Says:

    nice …

    acuhkan celaan
    terima kritikan

    itulah kunci untuk jadi orang yang lebih baik :D

  39. Rifi Says:

    Senyum2 sendiri bacanya..
    Inget kakakku yang aku anggep jago gambar, tp langsung ga PD begitu masuk Seni Rupa ITB :D

    Sama seperti dirimu, dia juga pernah terdampar di Ateja (bener ga sih)? :DD

  40. Indah Says:

    Ahahaha.. dari dulu ngga pernah demen ama kata “kritik” karena kesannya sendiri udah negatif dalam benak gua, ahahaha :D

    Tapii kalo ngeliat penjelasan di atas sih “kritik” itu ternyata bisa positif juga yaa (walau gua tetap lebih milih kata “saran” sih, hihihi).

    Postingan yang ini mantapss.. mengingatkan kembali untuk tetap melakukan apa yang emang kita sukaa.. no matter what they sayy ^o^

    Makasih yaa atas sharingnyaa ;)

  41. Mujacko Says:

    Mau kritik..
    Tapi tulisan inspiratif kaya yg diatas apa yg kurang ya ?
    Mau nyela’..
    Tapi tulisan bagus yg diatas mana jeleknya ya ?
    Terpaksa.. cuma bisa muja eh, muji doank
    Good post mbak, inspiratif, tertata apik, ga kaku, dan punya bobot. Love it..
    Ga nyesel karna salah klik pas mau nyari game online.. hehe..

Leave a Reply