...hidup adalah taman bermain raksasa yang harus dijelajahi. Jadi, bermainlah!

Mereka memanggilnya ‘Perawan Tua!’

Posted: June 22nd, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |

Perawan tua. Terakhir saya pakai sekitar enam bulan yang lalu, untuk guyonan dengan teman-teman lain, yang masih lajang dan berusia tiga puluh lebih

Seorang teman menelepon saya sekitar awal minggu lalu. Ia perempuan lajang, nyaris kepala empat dan bisa dikatakan memiliki posisi cukup tinggi di tempat kerjanya. Satu hal yang khas dari dirinya adalah, kalau ngomong super saklek. To the point banget. saya sering mencelanya dengan ‘(nama suku dengan karakter stereotipe saklek) banget sih lo!’. Dan setiap saya malas mengemukakan pendapat demi menghindari friksi, maka dia pun bilang ‘Jawa bener sih lo..’ :) Dan satu lagi yang annoying bagi orang-orang yang clumsy setengah mati seperti saya, dia perfeksionis.

Anyway, kembali lagi. Saat bertelepon saya bisa mendengar kegusaran dalam nada suaranya. Katanya, entah karena apa sejak awal tahun 2009, sebagian besar tim kerja lamanya dipecah belah ke tim lain, sebagai gantinya, masuklah beberapa fresh-graduate (banget).

“Lo tau dong ya, fresh-graduate itu gimana, masih bawa-bawa sikap kampus banget. Nggak bisa dong kayak gitu ya? Dan gue, berhubung dititipin pesan buat ngebimbing, ya gue coba dong, bikin semacam orientasi kerjaan buat mereka. Dan ngebimbing lah.”

Saya terus mendengarkan apa yang dia lakukan pada anak-anak baru tersebut, yang menurut saya, ya khasnya dia banget. Hanya orang-orang yang sudah mengenalnya yang menganggap hal tersebut biasa dan tidak pernah memasukkan perkataannya ke hati. Rugi dimasukkan ke hati, dan dipendam lama-lama, lha wong bisa dipastikan, sejam kemudian — apalagi jika sudah di luar lingkup pekerjaan — dia sudah lupa kok

“Dan gue denger dengan kuping gue sendiri, pas jam makan siang, anak-anak itu bergerombol ngomongin gue, mereka pikir gue lagi keluar kali ya. Mereka ternyata sebel sama cara gue. Tapi yang bikin gue sebel banget, mereka bilang : dasar perawan tua…”

Astaga, perawan tua, istilah jadul beneur, itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut saya. Namun, teman saya tidak memerhatikan, ia terus bercerita. Hal itu bukan sekali-dua kali saja terjadi, tapi seringkali. Dan, selalu keluar saat ia baru melakukan penertiban terhadap anak-anak ingusan baru lulus ini. Dari nada suaranya, saya bisa mendengar bahwa sebenarnya ia bukan sekedar sebal, tapi sakit hati.

Perawan tua. Terakhir saya pakai sekitar enam bulan yang lalu, untuk guyonan dengan teman-teman lain, yang masih lajang dan berusia tiga puluh lebih. (Ini informasi tambahan nggak terlalu penting juga sih, tapi waktu itu saya dan teman-teman berandai-andai, kalau punya band, enaknya bandnya bernama apa. Salah seorang dari kami nyeletuk, “Old Virgin aja.”. Kerutan di kening kami berubah jadi tawa gara-gara, menurut si pencetus ide, nama tersebut terjemahan harafiah dari ‘Perawan tua’, ia berpikir nama tersebut cocok buat band kami, karena semua masih single di usia segitu. HA). Jadi, bagi saya pribadi, istilah perawan tua itu ya, bukan hal yang besar.

Walaupun jika secara objektif kita tilik lagi *anjis, bahasanya*, istilah perawan tua itu dibuntuti segala stigma yang memiliki kecenderungan negatif; mulai dari nggak laku, (karena nggak laku jadi) menyebalkan, jahat pada sesama perempuan terutama yang muda, ganjen dan gatel pada pria-pria muda dan seterusnya.

Tapi tetap, nggak tau juga apa rasanya jika celaan ‘perawan tua’ itu ditujukan pada saya langsung, soalnya sejauh yang saya ingat, belum pernah tuh saya mengalaminya. Mungkin saya memang belum cukup tua untuk dicela demikian. ;-). Dan becandaan ‘Old Virgin Band‘ itu pun membuat saya semakin sulit untuk membayangkan bagaimana rasanya jika disebut ‘perawan tua’, karena pasti yang bakal teringat ya segala celetukan konyol teman-teman.

Namun, biarpun saya nggak bisa berempati dengan ‘luka’ kawan saya itu, saya jadi ingat sebuah perbincangan dengan seorang kawan, tentang kekerasan seusai training mengenai kekerasan ini sendiri. Saya jadi berpikir bahwa kawan saya ini mengalami kekerasan secara verbal.

Ya,ya, mungkin bakal ada yang bilang bahwa saya berlebihan dan teman saya sensi aja, karena pada umumnya kalau kata ‘kekerasan’ disebutkan, maka yang terlintas dalam benak adalah segala bentuk tindakan agresif yang destruktif pada (fisik) orang lain; ya seperti perang, penyiksaan, atau mungkin KDRT seperti yang dikisahkan dalam Mano-drama atau Cici Farami-drama. ;-) Pokoknya segala tindakan yang mengakibatkan kerusakan yang jelas terlihat (pada fisik pihak lain), itulah kekerasan, kalau tidak, ya bukan.

Makanya, kalau ditanya ‘Pernah melakukan tindak kekerasan atau tidak?’, maka pasti jawaban sebagian besar orang ‘Ya enggak lah’


Ya enggaklah, gue nggak pernah nyiksa anak-istri-orang lain. Ya enggaklah, gue nggak pernah ngerusak ini-itu. Ya enggak,lah….

Memang, mengakibatkan orang lain terluka dan babak belur secara fisik itu adalah kekerasan (ya iyalah), tapi bukan hanya luka fisik thok, luka emosional, psikologis juga termasuk. Dan bukan hanya pada orang lain, juga pada diri sendiri.

Bukan hanya menyetrika pembantu rumah tangga saja yang bisa dikategorikan kekerasan. Menyuit-nyuiti cewek cakep yang melintas, jika ‘target’ merasa terganggu secara psikologis, termasuk kekerasan. Membanting pintu karena marah, juga. Mencela fisik, juga. Menganggap diri tak berharga, itu juga lho.

Bahkan, pada akhirnya, dari perbincangan tersebut, kami menyimpulkan bahwa sebenarnya yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan, bukanlah aksi seseorang pada orang lain, tapi dampak dari aksi tersebut pada pihak tertentu. Apa yang dianggap tindakan biasa-biasa saja, kalau ternyata memberi dampak buruk, itu sudah termasuk kekerasan. :)

Memang sih, jadinya kok subjektif ya? Soalnya setiap orang kan memiliki latar belakang sosial, budaya, pendidikan yang berbeda-beda, yang menyebabkan persepsi terhadap suatu aksi berbeda-beda.Tapi ya, gitu deh, aksinya menjadi tidak penting, efeknya penting, karena ada yang terluka.

Ini benar-benar saya rasakan sewaktu saya mendapat kesempatan tinggal dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Salah seorang teman ternyata sangat tidak terbiasa dengan bercandaan sembarangan dan dibesarkan dalam lingkungan yang serba lembut. Saya lupa pernah mengatakan apa, tapi sumpah, kalimat yang sudah saya lupakan (karena saya pikir nggak penting), ternyata membekas lama. Ouch.

Atau contoh lain, bagi saya, yang kata ibu saya dibentak sedikit saja bisa pundung seminggu (ini berlebihan), kata-kata kasar yang diucapkan/dituliskan dengan intonasi atau tone dan manner keras, yang dikemukakan dalam konteks tidak bercanda itu memberikan efek lumayan juga, seriously. Tapi, bagi sebagian orang tidak. Bagi sebagian orang kalimat ‘Autis’ yang disebutkan dalam konteks bercanda, bisa melukai, tapi bagi sebagian yang lain, biasa saja. Bagi kawan saya, celaan ‘perawan tua’ tersebut menyakitkan, entah karena apa, bagi saya tidak. Benar-benar subjektif.

Entri ini bukan himbauan untuk menghentikan segala tindakan yang memiliki kemungkinan menyakiti, susah juga. Ntar jadi makin banyak aja causes di facebook, ya ‘Stop using ‘perawan tua’ in your daily jokes‘ lah, ya Stop using ‘cantik itu relatif, jelek itu absolut’ lah dan seterusnya. :D

Tapi saya cuma berpikir bahwa yang namanya ‘kekerasan’ itu memang sulit dihindari, sadar tidak sadar, setiap orang pasti pernah melakukan kekerasan pada orang lain (dan diri sendiri?), dan sangat besar kemungkinan tindakan seseorang mengandung kekerasan. Bukan soal celaan ‘Dasar Perawan tua, yang diucapkan karena anak-anak baru kesal dengan sikap teman saya saja, bahkan bercandaan, celaan iseng, ucapan-ucapan asal tanpa dipikir — yang dengan segera terlupa begitu terluncur dari bibir — memiliki potensi kekerasan bagi orang lain, dan membekas lama. :)

Yah kemarin saya sempat berpikir dan berniat untuk meminimalisir segala kemungkinan tindak kekerasan yang bisa saya lakukan, salah satunya, dengan berhenti mencela walaupun ada sesuatu yang sangat menggelikan sliweran di depan saya.

Oke, baiklah, itu agak susah.
Mungkin begini saja, saya berniat untuk hanya menyimpan celaan saya dalam hati, tidak melisankannya *alah melisankan*, maksudnya : nggak diomongin (Atau ditulis di commenting system? :D)

:D


22 Comments on “Mereka memanggilnya ‘Perawan Tua!’”

  1. 1 desty said at 01:36 on June 23rd, 2009:

    ‘cantik itu relatif, jelek itu absolut’
    itu kekerasan ya? kirain fakta…hehe

    okke! : tergantung ngomong sama siapanya sih, Des. Cobain aja deh, sama beberapa orang, untuk tau mana yang kekerasan mana yang fakta bukan. hehe

  2. 2 Lina said at 01:48 on June 23rd, 2009:

    kaya harus mulai belajar tidak melisankannya…….kata lagu sih……lidah kan ga bertulang……hihihihi……….ada juga pepatah mulutmu harimaumu……….

    okke! : iye, daripada daripada, kan mendingan-mendingan. Secara kita idup ga sendiri di dunia :D

  3. 3 mela said at 01:50 on June 23rd, 2009:

    Wah..klo aq skt hati banget..klo dicela sm org yg g kenal dkt ama aq..
    Lah..mana tau maksud dia itu nyindir..ngejek..ato becanda..trs klo dibalas nyela..blm tau bts dia dicela smpe dmn ^_^..en blm tntu tuh org bs trm jg..jd males kan?..
    Kalo udh kenal dkt siy..biasanya g trlalu dipikir..paling ntr jg lupa..ato malah balik cela2 an..he3..

    okke! : cuma bates cela-celaan sama temen juga ga ketauan, ya nggak sih? Mendadak gw jadi mikir, jangan-jangan orang yang dicela ketawa-ketawa seolah ga papa, padahal apa-apa. Karena pernah juga, gw dicela, tapi gw sok ketawa2 aja, padahal sebel.

  4. 4 Melly said at 05:58 on June 23rd, 2009:

    Kalo saya sih terserah aja orang mau ngatain apaan…asal jangan terdengar di kuping saya :))

    Tapi sependapat jg sih sama Mela, kalo yang ngatain orang ga kenal deket. mau serius atau becanda, saya sih kurang suka

    Tapi kalo yang dah kenal deket mah, cela balik aja ^_^

    okke! : cela balik, cela-celaan terus brantem ? hihihih….

  5. 5 mira said at 14:13 on June 23rd, 2009:

    perawan tua biasa ny emang gitu y mba; perfectionis dan jutek. cowo bukanny ga ada yg mau, tapi serrreemm. guruku ada yg gitu; killer bgt dan masih “old virgin” di usia ny yg ke-41. eh abis itu dia dilamar dan menikah; sikap ny berubah lhoo. jadi intiny; perawan (ataupun perjaka) tua itu emang sensian dan menutupi kesendirianny dengan bersikap dingin dan judes. wakakak..

    -salam kenal-^^

    okke! : Oh, emang saya ngebahas soal perempuan yang belum menikah di umur (yang dianggap) telat, Say? ;-) Salam kenal balik.

  6. 6 senny said at 14:33 on June 23rd, 2009:

    saya berniat untuk hanya menyimpan celaan saya dalam hati, tidak melisankannya

    NOTED!

    haha… bsk2 klo ketemu trus nyela org traktir es teh manis yah… kali aja bisa dapet es teh manis segalon gara2 hobi nyelanya itu

    okke! : ARGH! Baiklah… *sigh*

  7. 7 Ade said at 16:00 on June 23rd, 2009:

    Temen deket sekalipun, tapi klo kondisi perasaan lagi ga enak palagi mo deket2 tamu bulanan itu, kadang suka bikin sebel juga loo.. :-(
    Jadi? mendingan di simpan dalam hati aja kali yaa..
    cari becandaan yang ga cela2an lebih aman kayaknya :-D

    okke! : :) bermain aman judulnya…. hehehe

  8. 8 cha said at 04:17 on June 24th, 2009:

    Gw juga lagi berusaha simpan dalam hati aja niy ke! Kecuali temen2 deket ya, kalopun dia sakit ati pasti bilang, jadi gw bisa minta maap,,hahahahha…

    okke! : Yah, ibaratnya porselen pecah, dilem juga retaknya masih kelihatan, daripada ngelukain terus minta maaf dan menyisakan bekas luka, mending enggak.. hehehe… *gileee, sok bijak bok!*

  9. 9 ririe said at 08:04 on June 24th, 2009:

    setuju mbak.. mohon jangan jadikan kata2 “perawan tua” sebagai bagian dari joke!!
    it hurts.. untuk orang2 yang merasa dirinya seperti itu.. pikirkan oranglain dunks kalo mo bicara!
    jadi, memang much more better.. jangan gunakan kelemahan seseorang sebagai bahan celaan.. **haha, sok bijak yah:)**
    btw, met kenal mbak..

    okke! : iya, bisa jadi kata ‘perawan tua’ itu pedih buat orang-orang tertentu, karena stigma (negatif) yang terkandung di dalamnya. mana ada sih orang yang seneng dikasih label negatif :) Salam kenal juga…

  10. 10 murni said at 10:45 on June 24th, 2009:

    Biarpun ngakunya: it’s ok, gue gak married juga fine aja (ngikutin lagu) ….. etc, yg intinya ngakunya gak terikat keharusan married, tetap saja, celaan ‘perawan tua’ itu nyilet. Soalnya kayak yg udah lo tulis, diikuti stigma yg mengarah negatif. Terpinggirkan, tidak diingini. Lha orang ngga married kan bukan berarti apatis sama komunitas, so wajar jika tetap ingin dihargai seperti yg married.

    Makanya waktu sesama pasien di rawat inap dulu ditanya seorang suster muda (dengan baik2), apakah sudah menikah, jawabannya bukan “tidak” atau “belum” (kebalikan dari yg married) tapi koq langsung kedengeran politis (bagi gue): “I enjoy my single life…” (meskipun dengan baik2 juga)

    okke! : iya, emang kenyataan melajang sampai usia-pantas-nikah itu, emang susah diterima sama orang, dan gw liat perlakuan orang-orang juga ‘tidak adil’ Jadinya orang-orang yang lajang (mungkin) ngerasa gerah, bukan karena kelajangannya, tapi karena perlakuan orang2. :)

  11. 11 Pipit said at 03:11 on June 25th, 2009:

    ga semua pernikahan itu indah & ga semua org yg sendiri itu menyedihkan. itu semua tergantung yg ngejalaniin. nah kl orgnya tua tp ga pernah nikah trus ga perawan, namanya apa dong?…pis ah. spt biasa numpang lewat. punten.

    okke! : nah, kalo itu gw ga tau namanya… :D mangga ateuh…

  12. 12 nenden said at 04:08 on June 25th, 2009:

    saya udah temasuk perawan tua blm yah?!?
    hehehehehe…

    okke! : nah, itu kan gimana pemikiran aja. kalau merasa perawan dan tua, ya perawan tua lah dirimu, Jeung! Hihihi…
    Kumaha, damang neng? :D

  13. 13 Citra said at 11:47 on June 25th, 2009:

    Ini akibat pepatah lama yang mengatakan, “Lidah Tak Bertulang”. Jadi, (khususnya cewe2 neh) suka ngomong ga pake dipikir?! Setelah kena batunya, baru kita pada nyadar. Bahwa omongan ‘nyelekit’ termasuk tindakan pembunuhan karakter !! Kaya’nya terlalu didramatisir yah?? hehehe…

    Salam Kenal ^_^

    okke! : Salam kenal balik ^^

  14. 14 lenje said at 12:08 on June 25th, 2009:

    Hm, kalo ada yang nyebut gue dengan “dasar perawan tua”, gue bakal jawab, “siapa bilang gue perawan, yeeee… ” :D

    okke! : heheheh :D

  15. 15 lala bohang said at 19:04 on June 25th, 2009:

    Celaan dalam bentuk apapun memang sebaiknya disimpan dalam hati aja :)
    ato gak kalo celaan udah di ujung lidah bayangin aja kita jadi orang si penerima celaan … hati kita bakal senang atau ga kalau digituin?

    Nice writing as always …

  16. 16 Lala Purwono said at 01:33 on June 26th, 2009:

    Pepatah mengatakan, “Mulutmu Harimaumu”
    Kita nggak akan pernah tahu seberapa dahsyat kata-kata yang keluar dari mulut kita berimbas kepada orang lain. Jadi mendingan, jaga baik-baik.

    Cuman, ada lagi yang mengatakan, “We could never make anyone, in anytime, happy”
    Jadi, ya sudahlah… Kalau memang sudah menjaga mulut baik-baik tapi tetap masih ada orang yang tersinggung, itu artinya, yaa… mmm… apes aja kali! hehehe….

    Btw,
    Good morning, Mbak Okke!

  17. 17 vita said at 08:23 on June 26th, 2009:

    tadi malem baru aja dinasehati bhante/bhiksu yang kebetulan kita memang berteman, ya intinya sama, jangan melukai orang lain dengan ucapan dan perbuatan.
    saya juga dikasih tau juga ma gebetan, kalo kata2 saya itu lebih pedas daripada cabe rawit
    i think i hurt people with that :(

    *malah curhatt

  18. 18 nita said at 14:16 on June 26th, 2009:

    anak bau kencur mah jangan didengerin. mereka kesannya kayak yang udah banyak pengalaman aja kalo ngomong, padahal baru patah hati sekali aja ceritanya udah kayak yang di sinetron. beuh. *sebel ama anak trening bau kencur*

  19. 19 ivy_puppy said at 04:30 on June 27th, 2009:

    bravo…
    topic na coolz…
    benar bgt tuh!! kekerasan bkn cm fisik ato yg terlihat, biasanya luka krn perkataan jauh lbh dalam n sulit buat diobatin dibanding luka fisik..
    maka na ada pepatah
    “mulutmu harimaumu.. ”

    sip..
    akan dicoba utk menahan diri n tidak menyela!
    yaaa..paling kl kepepet duank deh!! >,<

    salam kenal mbak okke..

  20. 20 dee_tresna said at 13:46 on July 2nd, 2009:

    teorema relativitas nih???
    emang sih bagi sebagian orang sebutan perawan tua gak nyakitin - la iya yang bersangkutan gak pernah jadi perawan tua or simply emang kenapa kalau perawan tua? gak ganggu orang ini

    tapi bagi yang tersakiti tentu itu adalah verbal abuse.
    trus verbal abuse kan banyak macemnya dan kembali ke teorema relativitas kan
    toh kalau di celain orang tentu akan bueeettteee tapi terpaksa mikir juga - emang gak pernah nyelain orang gitu??? ya udah lah inilah hidup mari mencela dan di cela dalam damai…hehehehe

    good luck buku nya ya

  21. 21 ismaa said at 02:35 on July 5th, 2009:

    setujulah sama campaign Stop using ‘perawan tua’ in your daily jokes‘
    sarkastik banget ituuh,,
    yang ngomong si mungkin selintas aja,no certain purposes..tapi yang diomongin,pasti sebeeel.

  22. 22 priscilla said at 08:14 on July 10th, 2009:

    mgkn kl teman dekat saya yang bicara “perawan tua” atau ledekan lainnya, saya nda merasa terganggu kali yah.. tapi kl org lain yang nda tau apa2, nda kenal dekat, trus ledekin gitu.. hm… mgkn bisa marah..

    tapi yah kita emank kud sortir dulu setiap perkataan yang akan keluar dari mulut kita, even teman yang kita tuju tidak marah, bisa ajakan org lain yang dengarnya marah.. contohnya kalimat “lo autis banget c ma BB lo….” kalimat itu mgkn nda menyakitkan bagi teman yang kita tuju, tapi org lain/org tua dengan anak yang autis akan tersinggung. hal simpel yang kadang suka nda sadar kita ucapkan demi guyon semata..

    peace ^_^


Leave a Reply