Menguping Teman Semeja.
Posted: June 1st, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |…Saya mah, mereun (mungkin) dapet pahala karena niat nolong
Teman mengobrol saya sedang pergi sebentar. Katanya ingin memesan sayur asam lagi. Saya tetap melanjutkan makan. Ini adalah sebuah rumah makan murah meriah di bilangan jalan Diponegoro Bandung. Saking murahnya, pengunjung selalu meriah alias ramai. Sekarang saja, walaupun sudah lewat dari jam makan siang, masih tetap penuh. Pengunjung yang baru saja membayar di kasir, seringnya harus menyipitkan mata dan memanjangkan leher untuk mencari-cari kursi kosong.
Agar semua hepi, dibutuhkan kerelaan untuk berbagi meja. Seperti yang saya dan teman makan saya lakukan. Meja yang dilengkapi oleh bangku panjang yang saya duduki cukup untuk empat orang duduk normal, bisa sampai enam atau delapan kalau duduk rapat-rapat ala bangku angkot. Tapi kami hanya berempat. Saya, teman makan saya yang sedang pergi, seorang perempuan dan seorang laki-laki berusia kira-kira berusia awal empat puluhan. Mungkin suami istri. Soalnya, berdasarkan hasil saya sesekali menguping, mereka membahasakan diri mereka dan pasangannya sebagai ‘Papah’ dan ‘Mamah’. Bukan Pipi dan Mimi, itu sih Krisdayanti.
“Terus Papah ngasih ke orang itu?” cetus sang perempuan.
“Iya.” Jawab sang pria dengan suara super santai.
“Atuh, si papah teh kumaha (gimana). Sekarang udah banyak tau, penipuan kayak gitu. Kebiasaan deh. Jangan terlalu gampang kasian lah…”
Sang pria diam. Dari ujung mata saya bisa melihat bahwa ia begitu menikmati makanannya. Ini rupanya membuat sang perempuan gusar. Masih dari sudut mata, saya bisa melihat perubahan air mukanya, dari yang berkerut-merut…. Bertambah kerut merut.
“Ngasih berapa?”
“Seratus…”
“Seratus… ribu?”
“Iya.”
“Masya Allah, Papaaaah. Seratus ribu mah bisa buat belanja berapa hari atuuuuh.” Perempuan tersebut lupa mengendalikan volume suaranya.
“Aduh, buat nolong orang kesusahan, nggak apa-apa atuuh.” Teteub, sang pria menjawab santai — cenderung cuek malah.
“Nolong orang. Nolong orang. Ditipu, ituh. Emang dia ngomong apa sih, sampe Papah ngasih duit tadi?”
“Hmm…” sang pria berusaha untuk menelan makanannya, kemudian menggelontor tenggorokannya dengan — menurut perkiraan saya — teh pahit panas,”Katanya dia baru sampai Bandung tadi pagi, tasnya diambil di bis, hilang sekalian dengan dompet-dompetnya dan dia mau pulang ke Bogor.”
“Aduuuh, Papah emang nggak tau apa, alesan kayak gitu udah sering banget dipake buat nipu. Gimana sih?”
“Udah,lah, Mah. Siapa tau bener dia kerampokan dan emang nggak niat nipu. Nggak usah suudzon.”
“Hu-uh!” perempuan itu mengeluarkan suara sedikit melengking bercampur dengan dengusan napas,”Kalo ditipu?”
Teman makan siang saya datang menghampiri dengan cengiran jahil khasnya. Di tangannya terdapat semangkuk sayur asam.
“Sorry, Non, lama…” katanya sambil duduk di hadapan saya,”Ngantrinya panjang gitu yak.”
Dan ia pun mulai melanjutkan makan, sambil menyambung cerita yang sempat terhenti. Tapi telinga saya tetap terarah pada konversasi perempuan dan laki-laki yang tidak saya kenal tersebut.
“Ya dosanya di dia, kan? Bukan urusan saya lagi. Saya mah, mereun (mungkin) dapet pahala karena niat nolong.”
“Tapi seratus ribu, gitu looooooh….” Suara sang perempuan meninggi.
“Aduh, rejeki mah ntar dateng lagi. Udah atuh, Mah, makan. Jangan ngomel melulu. Ntar makanannya percuma, nggak jadi daging. Sok nih…” katanya sambil menyodorkan besek berisi lalapan dan menggeser cobek berisi sambal dadak.
Saya pun cengar-cengir sendiri mendengarnya.
“Non?” suara teman makan saya membuat saya gelagapan.
“Y-ya? Apaan? ” saya memfokuskan perhatian padanya.
“Lu nggak dengerin gue ngomong ya?”



hihihi…ketauan nguping deh……….
Bakso Malang bukan?
*sok mikir*
kira2 neng okke dapat pahala ga ya karena dengerin si mamah ngomel? secara si papah lbh fokus ke makanannya..hehe
klo saya suka ngupingnya di angkot ke.. hehehehehe…
Rumah Makan Bancakan yang di Trunojoyo itu? Aku pernah satu kali makan di sana. Emang rame banget. Tapi kalo aku sih gak gitu cocok. Mungkin pengaruh tempat makan dan minumnya yang dari kaleng itu.. :-)
*lho kok malah bahas tempat makannya?*
klo ga salah Bancakan udah masuk Trunojoyo :)
*he-em.. enak & murah