...hidup adalah taman bermain raksasa yang harus dijelajahi. Jadi, yuk, kita main bareng!

Keuntungan Spiritual, Ke Laut Aja?

Posted: May 19th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |

Jadi, sebelum kalian semua termuntah-muntah akibat nantinya saya akan sering mempublikasikan beberapa hasil sewing project saya, maka sekarang saya peringatkan terlebih dahulu : ntar saya bakal sering pamer hasil jahitan lho (DAN TOLONG! Tolong, sekali lagi tolong, jangan tanya, dijual apa nggak, apa lagi nanya harga, warna dan ukuran…)

…apa memang sudah tidak musim untuk melakukan sesuatu, hanya karena suka?

Saya suka berketerampilan tangan. Merajut. Crocheting. Juga menjahit. Namun untuk yang terakhir, saya menyebut diri saya sebagai penjahit-tidak-tertib, karena ya memang sangat tidak tertib, bayangkan, tanpa pengetahuan memadai mengenai pola, saya nekad membuat baju dengan pemecahan pola serba kira-kira. Kira-kira kepala masuk. Kira-kira tangan masuk. Kira-kira lebarnya segini. Kira-kira panjangnya segitu. Dan kira-kira yang lainnya. Untuk kasus ini, kemungkinan perbandingan antara gagal dan suksesnya ya sekitar 50:50, lah, walaupun masih bisa dipakai setelah dimodifikasi (niat blus berlengan dan berkerah, keluar ruang jahit, blus tanpa lengan dan kerah — tapi ini trik yang TERLALU sering saya pakai). Atau, nggak jarang juga, saya mengambil baju yang saya gemari modelnya untuk dibongkar, dijiplak polanya di kain lain, untuk kemudian diwujudkan menjadi pakaian lain. Yang terakhir risiko gagalnya memang kecil sih, tapi yang menjadi masalah adalah — sebagai orang yang dari kecil dijuluki ‘terima bongkar tidak terima pasang’ — saya selalu terlalu malas untuk menyatukan hasil bongkar baju contoh saya. Ujung-ujungnya, ya, baju yang tercerai-berai tersebut, saya serahkan pada tukang jahit, untuk disatu-satukan. Bayar setengah harga jahit.

Sungguh satu kebiasaan yang sangat tidak sehat, bukan?

Anyway, setelah sekian lama menjadi penjahit yang tidak tertib, maka saya memutuskan untuk mengikuti kursus jahit beneran. Apalagi setelah terinspirasi oleh Novita (dan kalian harus lihat seluruh karyanya. Siapa coba yang nggak mupeng? Yang jelas bukan saya.)

Dan, tahu reaksi semua orang?

Ada beberapa variasi.

Yang pertama adalah, mereka mengeluarkan satu pertanyaan : “Ngapain?” — Diucapkan dengan kening berkerut-merut. Dan jawaban saya selalu sama : ‘Pengen aja.’ Kalau pertanyaan ‘ngapain?’ ini sudah muncul, maka, akan ada pertanyaan susulan : ‘Ntar memangnya mau terima jahitan?’

Dan, saya pun menjawab ‘Memangnya harus ya terima jahitan kalau sudah bisa jahit?’. Karena sejujurnya, saya sama sekali nggak kepikiran untuk menerima jahitan dari siapa pun. Lha wong kalau ada orang yang bilang ‘Bikinin gue dong!’, jawaban saya selalu sama : ‘Males!’ — beda kasus kalau saya memang pingin menghadiahi orang ya. Seperti menghadiahi nenek saya sebuah blus.Seperti rencana saya untuk membuatkan atasan untuk ibu saya. Seperti rencana saya untuk membuatkan Thai Pants nan mudah seperti ini pada si pacar.

(Tapi, teteub ya, sumpah, saya suka ilfil menghadiahi seseorang kalau orang tersebut banyak request. Pernah tuh, saya batalkan rencana saya untuk memberikan sesuatu pada seseorang, gara-gara terlalu banyak permintaan dan berdeadline. Duh, dihadiahi, mbok ya nrimo saja. Dan, oh ya, saya menolak permintaan pacar untuk membuatkan semacam thai shirt.  Walaupun mudah, saya bilang ‘Sorry, nggak terima request.’

Sampai mana tadi? Oh, reaksi yang pertama. Sekarang, reaksi yang kedua, mereka biasanya berkata begini,”Oh, itu bisa jadi bisnis yang bagus tuh, menguntungkan. Tante gue aja baru selesai kursus langsung dapet banyak orderan.’

Yeiy, siapa yang mau bisnis?

Saya mengikuti kursus ini, cuma karena ingin saja. Sama sekali tidak ada motivasi menjadikannya sebagai bisnis. Cuma karena ingin bermain. Tidak (atau belum kepepet? ;D) melacur (bo, kata terakhir,sepertinya kata favoritnya siapa yaaaa? Hahaha. Pis ah.)

Yah begitulah.

Di saat yang bersamaan, ada dua teman saya yang memiliki kasus yang sama.

Yang satu mendadak mengikuti les piano klasik, di usianya yang dua puluh enam tahun. Sebagai informasi, dia menguasai beberapa alat musik secara otodidak dan saya bisa melihat ia sangat menikmati ‘persentuhan’nya dengan alat-alat musik. Sama seperti saya, ia mengikuti les tersebut, hanya karena ingin, bukan karena ia ingin menjadi pemusik professional.

Yang satu, mendadak belajar bahasa Spanyol melalui DVD dan beberapa kartu belajar bahasa. Dan alasannya ‘Pengen aja. Abis kayaknya keren kalo bisa bahasa Spanyol.’

Dan reaksi orang pun sama ‘Ngapain?’

Berdasarkan cerita teman saya yang belajar piano, semua orang bilang ‘Sudah telat — kalau ingin jadi pianis handal seharusnya bla..bla..bla’. Sedangkan untuk teman saya yang sedang belajar bahasa Spanyol, orang-orang kemudian menyarankannya untuk belajar Mandarin atau bahasa Jepang, “Lebih kepake dan jelas juntrungannya.”

Kalau dipikir-pikir, sepertinya konsep ‘Ya pengen aja’ itu tampak tidak (terlalu) wajar dalam mengikuti proses belajar ini itu. Pasti harus ‘kepake dan jelas juntrungannya.’ Pokoknya, kalau tidak membawa keuntungan (material) atau berbau-bau untuk mengejar prestasi, ngapain?

Belajar menjahit, supaya nantinya bisa buka penyedia jasa penjahitan. Belajar menyanyi, supaya bisa rekaman. Belajar bahasa Inggris, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional, nantinya bakal mudah dapat pekerjaan kalau menguasai bahasa ini (padahal sih, nggak juga kali.). Belajar bahasa Mandarin, karena bahasa ini dipakai dalam dunia perbisnisan-entah-apalah. Menguntungkan jika ingin membina hubungan-dagang-apalah.

Bahkan teman-teman saya, memasukkan anaknya ke beberapa kursus juga dengan alasan yang kurang lebih sama — atau lebih tepatnya, untuk mengejar prestasi. Kursus gambar, biar si anak jadi jago gambar dan menjadi juara menggambar (bukan karena anak saya suka menggambar), kursus piano, biar jago bermain piano (bukan karena anak saya suka bermain piano), belum lagi balet, belum lagi renang, belum lagi… banyak,lah. Masih untung kalau kebetulan anaknya suka, kalau nggak, duh, Nak, malang benar nasibmu.

Jadi kepikir nih, apa memang sudah tidak musim untuk melakukan sesuatu, hanya karena suka? Apa memang hari gini, semuanya harus dikait-kaitkan dengan keuntungan material yang didapat hasil dari melakukan sesuatu?

Apa kabar dengan keuntungan spiritual ya? Ke laut aja gitu?

Anyway, saat menulis ini, mendadak saya teringat satu paragraf yang ada di awal halaman lima belas dari buku Eat Pray Love-nya Elizabeth Gilbert.

… there are twelve of us studying together, of all ages, from all over the world, and everybody has come to Rome for the same reason — to study Italian just because they feel like it. Not one of us can identify a single practical reason for being here. Nobody’s boss has said to anyone,”It’s vital that you learn to speak Italian in order for us to conduct our business overseas.”

Baik Liz, teman saya yang belajar piano klasik, teman saya yang belajar bahasa Spanyol atau saya yang belajar menjahit, melakukan apa yang kami lakukan, hanya karena kami suka.

Untuk bersenang-senang.

Karena sebenarnya hidup ini taman bermain, jadi bermain dan bersenang-senanglah,dengan cara yang disuka. Yuk, ah, sudah, cukup, jangan melulu mikir hal-hal duniawi *halah*.

Kalau pun nantinya dari bersenang-senang melakukan apa yang kau suka, tiba-tiba ‘menghasilkan’  atau , kalau nantinya kau kepepet dan menggunakan apa yang kau senangi sebagai alat bertahan hidup, itu beda lagi urusannya.  Cuma, kayaknya, kalau sudah begitu, kau harus ganti hobi deh. Tau dong ya, kalau  semua hal yang menyenangkan, kadar  bersenang-senangnya jadi kurang pol, kalau dihubung-hubungkan dengan perkara finansial?  :P

BTW, ini sebuah entri yang terinspirasi dari sebuah SMS : ‘Eh lo mau nggak melacur bikin skenario FTV?’. Well, walau sebenarnya saya penasaran dengan proses bikin skenario, tapi mendengar kata ‘melacur’, malah jadi ilfil. Dan saya pun membalas,”Nggak. Moodnya nggak lagi melacur, tapi lagi pingin bermain.”

:P


19 Comments on “Keuntungan Spiritual, Ke Laut Aja?”

  1. 1 biyan said at 00:52 on May 20th, 2009:

    huhuhu… sirik.
    Mbak Okke multi-talenta dan kayak ga pernah abis energi gitu…. :(

    okke! : pada dasarnya, saya selalu semangat kalo disuruh main hehehe… :D

  2. 2 nella said at 06:54 on May 20th, 2009:

    Everyday is a good day to play :)
    mari bersenang-senang…

    okke! : yuk mariii…. :D

  3. 3 murni said at 11:44 on May 20th, 2009:

    Yup! Kalo suka, napa ngga ya, Kke.. ;-)

    okke! : Iye, dan kalo nggak suka, ya jangan :D

  4. 4 fenny said at 14:17 on May 20th, 2009:

    sebenernya sih klo punya anak nanti, pengen ngelesin macem2, biar itu anak pernah ngerasain megang piano, ato belajar gambar, ato balet, ato apa gitu, terus biar dia sendiri deh yang milih, suka ato ngga. klo ngga, ya sudah, intinya sih pernah mencicipi, sedikit2 bisa, terus dengan sendirinya ketemu deh bakatnya…hahahahahaha…

    agak oot nih…=P

    okke! : wadoh, banyak bener, si (calon) anak jadi pusing ga? hehehe

  5. 5 ezra said at 15:35 on May 20th, 2009:

    temen saya ada yg mo blajar tenis supaya gampang kalo mo ngeloby ke bos2. diajak main tenis bareng aja. hhh…. malesin..
    kasian amat sih, ga menikmati apa yg dia lakukan.

    btw, kelimaaxxx…
    mencapai kelimax.
    ahahaha….

    okke! : Tapi doi *alah doi* sebenernya suka tenis ga? ;-) BTW, gila, kelimax bok, padahal gak ada kata verifikasi lho :P

  6. 6 nita said at 01:06 on May 21st, 2009:

    nyeeeett!!

    gue dong bulan depan kursus njahiiitttt :P

    okke! : ahaaay… kursus njahit sobekan hatiiii???=))

  7. 7 Pipit said at 02:41 on May 21st, 2009:

    love what you do and do what you love, a phrase from one of my friend email signature.

    wouldn’t it be great if everyone can do that and still make a decent living out of it?well, a wishful thinking at least for me.

    did i mention i like your blog?

    …punten…

    okke! : sometimes i lose the fun of doing what i like if i make money out of it. And I hate it. Kurang pol rasanya :D haha. Or may be it’s just me. :D

    BTW, you just did.Thanks.;-)

    Mangga ateuh.

  8. 8 achie said at 11:16 on May 21st, 2009:

    emang deh orang2 suka pada sirik. nggak bisa liat orang lain mau belajar. :D
    by the way aku juga lagi belajar jahit loh mbak. bukan buat terima pesenan, emang pengen aja. haha :D

    okke! : tos dulu! ;-) Ayo pamer karya…

  9. 9 any said at 15:14 on May 21st, 2009:

    hehe. saya anaknya penjahit tapi gak pengen jadi penjahit profesional. alah. soalnya suka emosi aja kalo liat ibu ngadepin klien yang bawel. daripada nanti pelanggannya babak belur, mending saya gak terjun ke dunia jahit menjahit. hehehe

    okke! : nah itu dia… :D kalo jadi sebel gara2 klien kan, kepuasan bersenang-senangnya berkurang ;-)

  10. 10 Ade said at 16:30 on May 21st, 2009:

    Dah lama euy ‘eat, pray, love’ masuk wish list tapi belum kebeli jugaa.. bagus ya ke?

    okke! : buat gw pribadi sih, bagus, tapi gak ‘wah’ banget… :) Cuma orang2 bilang ‘wah’… jadi mending baca aja…

  11. 11 Shasya Pashatama said at 02:38 on May 22nd, 2009:

    jadi kalo sms tawaran kerjaannya gak pake kata ‘melacur’? boleh juga kali ya :)

    okke! : haha, ga tau juga bok. tergantung ceritanya,lah… *belagu*

  12. 12 JJ said at 08:34 on May 22nd, 2009:

    Gue suka tampilan barunyaaaa! LUCU!

    okke! : makasiiiy. :) Kalo guenya gimana? *pletak*

  13. 13 Toko Sepatu lukis lucu dan cute said at 22:00 on May 22nd, 2009:

    sepatu lukis lucu,Sepatu ceweq, Bahan canvas,Lukisan gadis,Jual sepatu lukis lucu, sepatu lukis cantik, sepatu lukis remaja, sepatu lukis keren, sepatu lukis gaul, sepatu lukis unik, sepatu lukis fashion,toko sepatu lukis lucu

    okke! : Baguuus! Jualan dianya! BTW, nama domainnya spokat bok! Gw ntar kalo sepatumerah.net udah abis, ganti domain dengan nama spokatmoker.net ah… hihihi

  14. 14 sunardi said at 12:12 on May 23rd, 2009:

    Saya malah udah nulis besar-besar di dinding kantor, “Make work play, and you’ll be playing all your life.”

    Tapi tetap aja, hehehe… gak banyak ngaruh…. :). Ngiri juga sama Mbak Okke.

    okke! : Sirik lantaran? ;-)

  15. 15 mela said at 16:04 on May 24th, 2009:

    jadi inget tuh… pas kemarin mulai kursus rajut….
    diginiin ama temen… “ih… ngerajut… kayak nenek-nenek aja”…
    yeee… biarin deee… walaupun hasil rajut untuk yang gede-gede belum jadi karena seringan bosen ^_^… tapiii… buat baju anak en tas… lumayan juga bisa buat pamer… hihihi…

  16. 16 Ash! said at 16:06 on May 24th, 2009:

    Mbak Oks, aku gak nanya dijual apa gak loh. Aku cuman bilang maauuuuu hahaha…
    Aktivitas bermainku tidak lagi menimbulkan rasa senang. Mungkin butuh permainan baru….

  17. 17 elyas said at 18:14 on May 26th, 2009:

    sering banget juga punya pengalaman yang sama… “ngapain”… tapi entah karena saya yang masih labil jadi kadang malah suka kepancing dan mikir “iya ya ngapain juga?”…. jadinya alhasil tambah malas seperti sekarang,,,,

    sepertinya memang haru membulatkan tekad

  18. 18 nYam said at 07:54 on July 31st, 2009:

    yep…..itu jg yg gw dapet waktu orang-orang tau gw mulai kursus. dan akhirnya pada minta dibikinin. hyee…resiko kecewa tanggung sendiri yah.

    padahal, ngeliat ankaa seneng pake baju hasil jahitan gw tuh udah seneeeeng banget.

  19. 19 Lala Bohang said at 06:05 on March 18th, 2010:

    Hihihi … maklum manusia itu kalo gak komentar mulutnya “gatal” jadi biarkanlah mereka berkomentar biar hatinya jadi agak “lapang”

    dan buat yang dikomentarin… anggap aja beramal mendengarkan ocehan mulutnya yang “gatal”

    Tetap bermain Okke!
    I always love ur writing :)


Leave a Reply