Hal Baru? Coba Aja.
Posted: May 29th, 2009 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |
Versi Indonesia Butterflies - Susanne Gervay
Neng, ada dua kiriman, satu dari gramedia, satu dari Melly.
Begitu SMS yang saya terima saat sedang tidak berada di rumah. Saya langsung meminta si pengirim SMS -ibu saya — untuk membuka kedua paket tersebut.
‘Yang dari Melly kue putri salju, yang dari Gramedia lima biji novel judulnya Butterflies.’
Wah. Saya jadi nyengir sendiri mendengar bahwa isi paket dari Gramedia adalah lima eksemplar novel berjudul Butterflies karya Susanne Gervay. Salah satu dari novel yang pernah saya terjemahkan. Novel ini adalah kiprah pertama saya di dunia penerjemahan fiksi komersial *tsah*. Biasanya sih, proyek terjemahan saya selalu ‘proyek tolong’ (eh tolong terjemahin ini dong, ntar gue traktir deh lu’. Atau, ‘eh tolong terjemahin dong. Thanks yah’. Begitu kira-kira.) Dan selalu menerjemahkan segala teks non-fiksi.
…Kapan bisanya, kalau nggak pernah mulai? Dan kapan coba kita bisa tahu batas kemampuan kita, kalau tidak mencoba?
Sudah lama juga sih saya mengerjakannya, kalau nggak salah, sekitar bulan Oktober 2008. Novel ini mengisahkan seorang remaja yang bagian wajahnya rusak karena pernah terbakar semasa kecil dan bagaimana ia menghadapi masa remajanya. Ceritanya bagus, menurut saya. Inspiratif buat remaja.
Saat ada yang tahu bahwa saya sedang ”mencoba untuk menjadi penerjemah’, saya sempat menerima tanggapan : “Lu kan ga pernah menerjemahkan secara profesional? Kok berani-beraninya terima kerjaan ini.”
Saya bilang, justru karena belum pernah coba, kenapa nggak?
Kemudian mereka bilang lagi, bahwa mengalih bahasa itu tidak hanya membutuhkan kemampuan berbahasa tertentu, tapi ada tata caranya tersendiri dan lalala, endeswey endeskoy.
Bagi saya, mereka lebay. Yang saya lakukan, mengalih bahasa, yang saya percaya, biar pun tidak memiliki pengalaman, tapi saya bisa belajar sambil jalan . Lagi pula, saya sudah mendapat rambu-rambu teknis melalui e-mail . Kalau mereka bereaksi demikian saat saya bilang saya akan — oke, istilah ini pernah saya pakai — menerbangkan pesawat fokker, ya masih wajar.
Tapi ini (cuma) menerjemahkan kok. Dan tolong, istilah ‘cuma’ yang saya pakai, bukan bermaksud untuk menggampangkan aktivitas menerjemahkan. Nggak kok, tapi kalau dibandingkan dengan menerbangkan pesawat fokker?
Fokker gitu lho.
Lah dibahas.
Tsk, orang-orang nih ya.
Memang sih, sewaktu mengerjakannya memang ada beberapa kendala. Pertama, kalau di urusan fiksi, saya terbiasa dengan menulis bebas, kalau pun menulis berdasarkan sesuatu yang lain, ya mengadaptasi (naskah film menjadi teks novel). Ketika mengadaptasi, yang saya lakukan adalah membaca keseluruhan, membayangkan (dan memvisualisasikan) keadaan, lalu membuat narasi deskriptif berdasarkan hasil visualisasi saya; saya diberi kebebasan untuk itu. Nah, cara kerja bebas-terserah-saya seperti itu kadang-kadang terbawa saat saya mengalihbahasakan. Ya, nggak jadi ngarang bebas juga sih, tapi ada beberapa bagian, karena keasyikan, rem saya blong.
Hasilnya?
“Sebisa mungkin setia sama naskah asli yaaaa…”
Begitu kata pihak Gramedia, sambil mengembalikan naskah hasil terjemahan saya.
Hihi. Ya maab.
Kemudian, karena ingin setia, saya jadi benar-benar terikat dengan naskah dan tanpa sadar saya menggunakan bahasa baku nan kaku. Saya lupa bahwa yang sedang saya terjemahkan ini adalah naskah teenlit yang pembacanya adalah (tentunya!) remaja. Jadi ‘Plis deh’, ‘Bo’, ‘Ah masa siiiih?’ itu sangat diperkenankan.
Ahem. Dikembalikan lagi. Dan harus direvisi. Oke, setia pada naskah asli, tapi boleh berbahasa gaul. Noted.
Secara keseluruhan, naskah selesai dalam waktu tiga minggu. Melalui Butterflies, sebagai naskah perdana yang saya alih bahasakan, saya belajar sangat banyak, terutama dari kesalahan-kesalahan yang saya buat. Dan proses mengalihbahasakan Butterflies ini mengingatkan saya dengan beberapa proses ‘belajar hal baru’ yang pernah saya alami, mulai dari mendesain website, mengedit film, backpack traveling, menjadi dosen, belajar bahasa, menjadi guru SMU, menulis dan menerbitkan novel, menjadi pekerja sosial, menjahit dan seterusnya.
Banyak ya bok, kesalahan-kesalahan yang saya perbuat di masa-masa awal saya mencoba hal-hal baru tersebut. Kesalahan bodoh, konyol dan menggelikan. Jangan ditanya seberapa sering saya diketawain. Hehe.
Beberapa kali — setiap saya hendak mencoba hal-hal baru, dan bukan cuma soal menerjemahkan— selalu muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya intinya ‘Emang lo bisa, kan lo belum pernah? Ntar ngaco lagi.”
Kebisaan terhadap sesuatu itu kan jelas melalui proses belajar. Saya rasa dengan langsung terjun mencoba adalah salah satu cara belajar juga. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama ‘proses’ belajar itu wajar-wajar saja kok. Lagian, kapan coba bisanya, kalau tidak memberanikan diri untuk langsung terjun mencoba?
Oh ya, tadi siang saya ketemuan dengan Djeung May yang kebetulan sedang punya hajat di Bandung. Dalam sesi ngomongin dan ngetawain orang ngobrol kami, dia sempat bertanya ‘Kalau ngetranslate secara simultan bisa nggak lo?’
Saya segera menjawab ‘Nggak!’ — karena sudah pernah dicoba. Saya punya masalah besar di urusan konsentrasi, biasanya setengah jam pertama saya masih mampu fokus, lewat dari situ, ke Baghdad yuk. Sudah terbukti beberapa pertemuan semasa saya menjadi pekerja sosial dan (tanpa sempat menghindar atau diberi kesempatan beralasan) didaulat menjadi translator Tetun-Inggris Indonesia berakhir dengan lost in translation, karena lewat dari setengah jam, sudah bisa dipastikan pikiran saya melayang-layang atau malah sibuk gambar-gambar. Eh, nggak ding, pernah sekali pertemuan sukses, tapi sudahnya saya bete dan sakit kepala.
Sekali lagi, saya percaya, selalu ada yang pertama kalinya dalam melakukan segala hal. Kapan belajar/bisanya, kalau nggak pernah mulai? Dan satu lagi, kapan coba kita bisa tahu batas kemampuan kita, kalau tidak mencoba?
Eh iya, ini dia paket dari Melly. Doh, saya lupa kalau orang rumah demen ngemil semua, jadi begitu tiba di rumah, isi stoples plastik tersebut sudah tinggal setengah dan susunan kuenya sebenarnya sudah tidak layak foto, karena diacak-acak tangan para pengemil. Tapi ya sudahlah.

Kue Putri Salju dari Melly. Thanks! :)
Terima kasih, Mellyyy! Putri Saljunya enak. :)
Daaaan, saat menuliskan entri ini, tiba-tiba adik Shasya datang ke rumah, mengantarkan Bacang. Hehe. Ini dia.

bacang dari Shasya. Sori gambarnya blur. Mau foto ulang baterai habis. Nuhun nyak! :)
Dan ini konversasi berbalas SMS untuk mengucapkan terima kasih, yang memberi saya pengetahuan baru soal ‘Sembahyang Bacang’ (tapi sudah sedikit dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia yang rada baik dan benar. Aslinya sih, Nyunda.)
Sya, bacang nih, makasih ya.
Hah? Sudah sampe? Sip,lah. Dicobain ya, ada ketan, ada beras kayaknya sih. Kemarin kan ada acara sembayang bacang, sembahyangnya enggak, bacangnya aja lah.
Sembahyang bacang apaan sih?
Katanya sih untuk orang Cina ada yang namanya sembahyang bacang untuk ngedoain arwah nenek moyang gitu, jaman dulu sih, bacangnya dihanyutkan di sungai.
Oh, I see. Daripada dihanyutkan, mending dimakan nggak sih? :D
Anyway. Thank you, Shasya.
Saya ulang tahun enggak, dapat kiriman banyak.
Ada yang mau ngirim sesuatu lagi buat saya?
Monggo lho.
Hehehe.



huhuy,
enak bener lo dapet kiriman banyak. :P
jeng, bukunya kan 5 biji yak.. gimana klo dikirimin satu buat saya *ditimpuk buku butterflies*
saya masih ingat muka kakak waktu jadi penerjemah 3 bahasa itu. Hahahaha… Tapi memang pusing, menerjemahkan 3 bahasa langsung, harus switch dari satu bahasa ke bahasa lain dengan cepat. :D
Nyantai aja, Neng, nerjemahin novel mah gak kayak nerjemahin dokumen hukum ;) Selama gak mengubah arti, dan enak dibaca, why not?
Beneran ceritanya inspiratif buat remaja? Ntar gw beli buat Ima, dan kalo ada terjemahan yg aneh.. tenang aja, pasti gw cela ;)
mbak okke enak ya dapet kesempatan nyobain berbagai macem profesi… multi talented banget…. sampe detik ini aku baru dapet nyobain 3 profesi…. jadi account executive, sekretaris, sama webmaster….
pengen deh njajal yg laen :D
nyet..lu pernah nyadar gak how blessed you are.. :)
salaman buat tugas nerjemahinnyaaaaa! dari yang diminta tolongin temen (terjemahan simple) sampe yang disuruh bos (paper tentang perikanan, kelautan, perminyakan, sama peraturan pemerintah >> yasalam amit-amit susahnya)… Dan semua otodidak, makanya dalam prosesnya kadang-kadang suka jadi terlalu baku, susunan kalimatnya aneh, yada yada yada… tapi emang di situ proses belajarnya yah :D
maaf ini malah kayak ngulang isi poin2 di atas…
salam kenal ya neng Okke! :D
Sis (panggil sis ajah yahh, coz i’m younger) Hihihi, maap… Nice post.. Seneng mencoba hal baru tapi saat sudah memulai dan menjalani, kembali mikir lagi, is this what I want to do??? Or there is any other thing I can do which can rock my life ?? FFuuhh, any suggest?
masya oloh
gua baru baca postingan yang ini.
hua, bacangnya, iya sama2 makasih jugaaa !
hihihi…
anjis ieu ti bulan 5 !!