Yelloveflies : Mimpi Yang Kesampaian.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa menginspirasi siapa pun yang bermimpi untuk menerbitkan novel di luar sana. Atau siapa pun yang memiliki mimpi apa pun. ;-)

Paket Kiriman Yelloveflies
Paket serba kuning itu tiba sekitar tiga minggu yang lalu. Berisi sebuah novel berjudul Yelloveflies, dengan bonus packaging yang cantik, beberapa lembar stiker serta t-shirt. Pengirimnya adalah sang pengarang sendiri, Nita Trismaya.
Sekitar pertengahan bulan Desember, Nita Trismaya atau Mbak Nita, begitu biasanya saya memanggilnya, menelepon. Ia menceritakan tentang novelnya yang akan terbit di tahun 2009 ini.
Menulis Teenlit
“Genrenya Teenlit sih, Ke…” begitu ia membuka pembicaraan kami melalui telepon.
Perempuan lulusan Kriya Tekstil Institut Kesenian Jakarta tahun 87, serta program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung Program Studi Desain ini memang senang membaca, sejak SD ia telah membaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijk (Buya Hamka), serial petualangan Lima Sekawan karya Enid Blyton, karya-karya Marga T, Mira W, Maria A. Sardjono dan Motinggo Busye. Cerita-cerita bersambung di majalah Femina pun dilahapnya. Selain fiksi, ia juga menyenangi kisah-kisah biografi tokoh dunia seperti Ann Boleyn serta Soekarno. Sejak saat itu ia sering berkhayal untuk menjadi penulis, belum ada keberanian untuk mewujudkannya. Tapi salah satu puisinya pernah dimuat di Kawanku, waktu ia kelas 6 SD tahun 1981, ia sudah lupa judulnya, tapi temanya tentang kematian seorang sahabat.
“Bangganyaaaa… minta ampyun! Satu sekolah sampe tau.” begitu cetusnya sambil terkekeh.
Dari sekian banyak genre yang ada di dunia literasi, ia memilih teenlit.
Ini karena Mbak Nita yang lahir bulan Oktober 1968 ini, dalam kesehariannya banyak sekali bergaul dengan remaja. Profesinya yang dosen memungkinkannya untuk mengenal banyak mahasiswa yang baru lulus SMA, ditambah lagi dengan keberadaan sepupu-sepupunya yang masih bisa dikategorkan remaja. Ia melihat bahwa dunia remaja itu memiliki banyak hal menarik yang bisa diangkat dalam sebuah tulisan. Dari pengamatan, ia melihat bahwa remaja itu selalu butuh idola, butuh panutan yang berasal dari kalangannya sendiri; misalnya artis remaja tertentu, penyanyi tertentu atau tokoh novel tertentu, karena remaha sedang berada dalam proses pencarian identitas diri. Ia ingin memberikan kontribusi yang berguna dan bisa jadi contoh buat remaja.
“Aslinya gue buta banget soal kondisi remaja jaman sekarang, karena udah pasti beda banget dengan masa remaja gue dulu; mulai dari gaya bahasa, trend, kebiasaan, kesukaan, cara bergaul dan masih banyak lagi.”
Ia mengakui bahwa masalah utamanya memang perbedaan usia, jaman, kebiasaan dan gaya hidup. Dan bagaimana ia bisa mengolah gaya tulisannya supaya bisa diterima kalangan remaja, entah itu dari gaya leluconnya, penokohan karakter utamanya.
“Nyambung nggak ya, gaya becanda gue yang udah STW ini dengan gaya becanda anak-anak jaman sekarang, atau apa remaja seneng dan bisa mengidolakan karakter utama novel gue?Istilah kerennya, bisa nggak sih gue ngedapetin spirit remajanya? itu kesulitan utama buat gue. Mungkin kalo yang masih remaja di masa kini, hal itu bukan masalah. Bener nggak?” katanya.
Namun ‘kebutaan’ soal kondisi remaja sekarang tidaklah menjadi penghalangnya. Hal itu justru membuatnya tertantang. Learning by doing, katanya.
Malah, setelah ia mulai menulis, ia justru sangat menikmatinya.
“Ternyata nulis teenlit itu asik banget. Istilah jadulnya, bisa santai tapi serius. Gue bisa mengisahkan sesuatu yang kira-kira ada pesan moralnya untuk remaja, tanpa merasa menggurui; diselipkan dalam obrolan tokoh-tokohnya atau sambil bercanda. Jujur, waktu nulis gue ngerasa terhibur banget, ketawa-ketawa sendiri, sambil berharap, para pembaca novel gue juga bereaksi sama. Jadi, penulis dan pembaca sama-sama terhibur.”
Yelloveflies ini bercerita tentang kisah remaja di masa SMA mereka. Tokoh utamanya adalah Cheri, seorang cewek tomboy yang malas pacaran, tapi terpaksa harus menelan ludahnya sendiri ketika bertemu dengan Mikka, seorang cowok badung, hobi balap motor liar. Dalam Yelloveflies, terdapat beberapa tokoh yang berperan sebagai teman, musuh dan keluarga. Intrik-intriknya khas remaja; siapa pun yang membacanya, tanpa peduli umur berapa pun, pasti mendadak merindu masa remaja lagi.
Tapi Yelloveflies ini tidak melulu berpusat pada cerita cinta, melainkan juga membahas latar belakang psikologis, masalah keluarga, baik para tokoh protagonis dan antagonis yang menjadi penyebab para tokoh bersikap demikian, serta bagaimana para tokoh menyelesaikan masalah masing-masing.
Sebuah Proses Panjang Menerbitkan Naskah Sendiri.
Yang menarik dari novel Yelloveflies ini adalah, Mbak Nita, alih-alih menyerahkan naskah ke penerbit, ia lebih memilih untuk menerbitkan dan mendistribusikan sendiri naskah ini.
“Novel ini benar-benar yang pertama banget gue tulis. Gue bikin sekitar tahun 2006. Pas udah jadi, gue minta temen-temen baca dan ngasih kritikan. Hasilnya Alhamdulillah, positif. Berbekal saran dan kritikan itu, gue beranikan diri untuk mengirim naskah ini ke sebuah penerbit terkenal. Tapi tiga bulan kemudian, dikembalikan alias ditolak.”
Hal itu tidak membuat Mbak Nita berputus asa, ia merevisinya kembali setelah memperkaya referensinya pada dunia remaja dengan membaca novel-novel teenlit bestseller. Ia mengirimkan naskah yang telah direvisinya ke penerbit lain. Sekian lama tidak ada kabar, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menarik naskahnya.
“Kata orang dari penerbitnya, naskah tersebut terlalu tebal. Mungkin editornya jadi malas baca, sementara gue ini kan bukan apa-apa di dunia tulis menulis.”
Dari dua kejadian tersebut, ia memutuskan untuk menerbitkan sendiri. Bisa dikategorikan nekad, namun tekadnya bulat karena ia merasa bahwa kesempatan itu sebenarnya ada, tapi belum terbuka. Sementara soal dana, dengan jujur ia mengaku, ia tidak memiliki dana untuk itu, tapi —setelah proses yang alot juga— ia mendapatkan seorang donatur yang berbaik hati mau mensponsorinya.
Berbekal dana plus rasa penasaran yang menggunung, Mbak Nita mencari orang yang bersedia menjadi mentornya, untuk menunjukkan apa saja kesalahan dalam tulisannya, sampai ditolak berkali-kali.
“Akhirnya gue dapet orangnya, namanya Jerry, sesama anak IKJ”
Maka, dimulailah proses yang sangat panjang ini. Mereka berdiskusi, membongkar semua naskah, mencari kesalahan, kekurangan dan kelebihan. Dari sana, wawasan Mbak Nita terbuka. Dari Jerry, Mbak Nita belajar untuk menerima kritik yang sangat jujur sekaligus membangun. Ia juga mendapatkan kesadaran, bahwa untuk penulis pemula, perlu sekali seorang mentor, yang bisa dijadikan guru dan pemberi kritik yang membangun.
Proses selanjutnya adalah mencari editor. Dari hasil berdiskusi dengan editor, Mbak Nita bukan hanya mendapatkan perbaikan-perbaikan tata cara menulis belaka, tapi juga mendapatkan banyak sekali masukan. Tahap berikutnya adalah tahap paling menarik, yaitu tes market. Dalam tahap ini, Mbak Nita nekad menyambangi beberapa SMU di Jakarta. Untuk mempermudah, ia memilih sekolah almamaternya; SMA 70 dan SMP Al-Azhar, plus satu SMU lagi, yang ia masuki dengan berbekal nekad dan sok akrab, yaitu SMUN 1.
“Buat gue yang bukan remaja lagi, tes market itu adalah wajib. Supaya gue tahu persis apa tanggapan langsung dari para remaja tentang tulisan gue.”
Dan Mbak Nita mendapatkan banyak sekali hal-hal menarik dari anak-anak SMU tersebut. Banyak sekali masukan yang membikin Mbak Nita terkaget-kaget; karena mereka kritis dan sangat memperhatikan detil yang pada awalnya tidak dianggap penting olehnya.
“Contohnya, soal pemberian nama untuk tokoh-tokohnya. Katanya, nama tokoh-tokoh di novel gue ada yang jadul banget , ada yang bilang kurang unik, ada yang ngasih usulan berbagai nama sesuai karakter tokohnya.”
Bahkan ada juga masukan soal detil raut wajah, sifat, gesture, latar belakang masing-masing tokoh, jalan cerita, ending cerita, bahkan sampai ilustrasi cover, penggunaan font dan harga! Setelah proses tes market selesai, Mbak Nita mendiskusikan hasilnya dengan mentor dan editornya lalu memulai lagi proses perbaikan, tanpa melepaskan beberapa alur yang sudah bagus.
Setelah itu, tibalah proses membuat ilustrasi dan cover ke desainer grafis, yakni Dessy Wahyuni dan Nuraini Farida, yang ia dapat dari hasil pertemanannya. Konsep ilustrasinya sendiri adalah unik dan beda, tapi bisa menggambarkan keseluruhan novel ini. Warna yang dipilih adalah kuning, sementara bentuk-bentuk yang ada dalam cover tersebut adalah pendar cahaya, hati dan kunang-kunang.
“Semuanya diharapkan mewakili karakter remaja yang ceria, penuh semangat, optimis, cerdas, penuh ingin tahu. Kuning adalah warna kesukaan Cheri, tokoh utama novel gue. Hati untuk menggambarkan sebentuk kasih sayang yang berlimpah, tak ada habisnya, kisah cinta remaja yang ringan dan lucu. Kalo kunang-kunang, itu serangga favorit Cheri.” ia menjelaskan konsep cover novelnya dengan bersemangat.
Sembari menunggu proses pengerjaan cover, ia juga mulai mensurvey distributor yang kira-kira kredibel, sekaligus mengadakan perbandingan harga. Berdasarkan rekomendasi seorang teman, ia mendapatkan satu distributor yang pada akhirnya menjadi rekanannya. Dengan distributornya, ia telah mencapai satu kesepakatan, terutama soal pembagian keuntungan, pembagian rabat, proses distribusi dan ke toko buku mana saja nantinya buku tersebut diedarkan.
Proses pencarian percetakan pun bukanlah hal mudah. Ia juga harus mengadakan survey dan mengadakan perbandingan harga.
“Sebenarnya percetakan banyak banget. Yang murah juga banyak banget. Masalahnya adalah, gue harus menjaga kualitas buku secara fisik plus kepercayaan soal kerahasiaan naskah. Tapi untuk selanjutnya, terserah kata hati masing-masing. Mau pilih distributor yang mana, atau percetakan yang mana.”
Akhirnya ia mencapai proses pra cetak alias pengalihan naskah dalam format cetak.
“Tapi bukan berarti kesibukan gue berakhir, gue masih harus menyunting naskah, memeriksa kembali kalimatnya satu demi satu sebelum masuk proses cetak. Soalnya, kalo udah di cetak, ya gak bisa dirubah lagi, kecuali kita mau bayar biaya plat cetak yang baru dengan harga yang dihitung2 ternyata mahal banget. Kalo untuk nyetak pertama, harganya udah termasuk biaya separasi warna untuk cover, plat cetak untuk cover dan naskah, di luar biaya pra-cetak. Jadi kalo bisa, naskah harus diperiksa lagi sebelum menyesal…..” katanya.
Sementara untuk cover sendiri, yang diperiksa umumnya adalah kualitas warna, apakah sesuai dengan keinginan kita, karena setelah dicetak ber Untuk cover, yang diperiksa umumnya adalah kualitas warnanya, apakah sesuai dengan keinginan kita, karena setelah dicetak berupa dummy, warna bisa berbeda, sekitar 5 persen. Sebelum naik cetak, kita periksa lagi contoh warnanya. Istilahnya, proof warna. Bisa sampai dua atau tiga kali perubahan contoh warna sampai kita dapat yang mendekati aslinya.
“Pokoknya, jangan lupa, periksa kesepakatan perjanjian kerja dengan distributor dan percetakan supaya nggak ada masalah di kemudian hari. Banyak-banyak diskusi dengan pihak mereka. Jangan segan untuk banyak bertanya. Sekali lagi, learning by doing, sangat berlaku. Umumnya, mereka malah senang ditanya macam2 selama itu masih berhubungan dengan bidangnya.” ceritanya,”Eh, ada satu lagi. Karena gue nerbitin sendiri, gue harus punya perusahaan penerbit untuk ngedapetin ISBN semacam nomor induk buku kita nanti di arsip Perpustakaan Nasional. Maka, gue bikin. Crafty Publishing. Bikin logonya. Bikin alamatnya. Orang percetakan yang nolong ngurusin semua itu ke Perpustakaan nasional.”
Kalau urusan naskah dan cover sudah selesai, menurutnya kita tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu di rumah. Naskah akan diantar ke distributor dan juga ke rumah kita, soalnya kita mendapat jatah juga sekitar lima belas sampai dua belas buku.
Kesibukan terakhirnya sekarang adalah mengurus launching buku yang belum bisa ia ceritakan dengan tuntas, karena ia masih belajar.
“Yang enak sih, kalo duitnya banyak, serahin aja ke ahlinya, alias EO.” ia berkata sambil terkekeh.
Menurutnya, Yelloveflies membuatnya bekerja dengan jabatan rangkap, jadi penulis, jadi penerbit, juga jadi event organizer.
Untuk meraih mimpi, dibutuhkan sebuah proses yang panjang. Jika ada yang bisa meraihnya dengan cepat, bersyukurlah, karena itu adalah keberuntungan. Namun, akan ada kepuasan tersendiri, jika bisa meraihnya dengan susah payah.
“Ribet. Tapi gue puas, mimpi gue kesampaian.” katanya manis.
Maju terus Pantang Mundur
Ia percaya bahwa semuanya berjalan dengan seijin Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Suci. Bahwa semua ilmu, kemampuan, kepintaran dan keberhasilan adalah anugerah dan pemberian Tuhan. Yang terpenting adalah terus berusaha, tanpa putus asa.
“Pokoknya, buat gue sih, maju terus pantang mundur. Kalo maju kena, mundur juga kena, coba deh sekali-sekali nyamping, kali-kali aja ada celah.” pungkasnya dengan kocak.
……
“Soal Mikka naksir gue, itu hak dia. Dan terserah gue mau balas naksir atau enggak.”
“Tapi Mikka tuh cocok banget buat elo. Kalian pasti bakal jadi pasangan serasi.”
“Kita lihat aja nanti.”
“Kalo bener Mikka naksir lo, kira-kira lo mau nerima atau enggak?”
Cheri tertawa kecil seraya berkata,”Tergantung. Elo sendiri kan tau kalo gue belum pengen pacaran? nah kalopun suatu hari nanti akhirnya gue pacaran, itu tandanya gue bener-bener suka.”
“Alias kena batunya, hehe…” imbuh Tessa, disambut lemparan bantal dari Cheri.
Cheri adalah tipikal cewek tomboi yang senang bergaul dengan cowok-cowok tanpa ada keinginan untuk pacaran atau naksir salah satu dari mereka. Namun, sewaktu cinta itu datang, bagaimana ia bisa menolaknya?
“Sebuah kisah sederhana tentang persahabatan dan cinta, tapi Nita sebagai penulis baru yang berbakat mampu mengolahnya menjadi jalinan kisah yang istimewa dan mengandung nilai-nilai positif bagi remaja. Kekuatannya menulis secara detil, mengajak kita untuk berimajinasi, ikut menjadi bagian dari cerita.” (Jeremias Nyangoen, aktor, pekerja seni, penulis skenario, produser film.)
Such a cute love story, dengan bumbu kekonyolan dan intrik remaja. Jadi pengen remaja lagi dan jatuh cinta lagi.” (Okke Sepatumerah, blogger, penikmat hidup)
Yelloveflies sudah beredar di toko-toko buku besar di Indonesia.
Kalau ada yang ingin tanya-tanya langsung ke Mbak Nita Trismaya, bisa kirim e-mail ke craftypublishing@yahoo.com
update (nyolong dari facebooknya mbak Nita) : reportase launching Yelloveflies di Aneka Yess!

Launching Yelloveflies di Aneka Yess!



12 Responses to “Yelloveflies : Mimpi Yang Kesampaian.”
hebat!
Selamat ya, Nita. Ikut seneng denger(baca)nya :-)
Duh, kapan ya gue bisa self-publishing? Biar gak usah ngandelin penerbit yang reseh, susah diajak kerjasama, dan gak mau keluar duit buat promo… *sektoraaaaaaaaal*
“Menurutnya, Yelloveflies membuatnya bekerja dengan jabatan rangkap, jadi penulis, jadi penerbit, juga jadi event organizer.”
Such a long process, and it sounds cool. Really.
Tapi yang masih berputar di otak gue, ya kendala yang satu itu: resources. Salut buat Nita yang berhasil menggandeng donatur (investor?) untuk mewujudkan mimpinya. Kayaknya amat-sangat layak dicoba untuk yang berminat self-publishing tapi nggak punya dana, yang mana gue yakin seyakin2nya, banyak yang seperti itu.
Kalau Nita baca ini, mungkin boleh bagi2 tips tentang cara menggandeng donatur baik hati? :-)
Dan kalau launching & promo bukunya udah jalan nanti, gue sangat tertarik untuk tahu lebih banyak tentang prosesnya. Siapa tahu bisa jadi langkah awal dari sesuatu yang bahkan belum kesampaian, tapi sangat ingin gue wujudkan suatu saat nanti. Hehehe.
Tulisan yg bisa memberikan semangat buat punya mimpi. Selamat buat Nita. Juga buat Okke yg tulisan-tulisan dng gaya khasnya. Salam kenal.
Mba okke, mba nita kan skrg dah jadi penerbit juga tuh, apakah artinya kedepannya dia juga bisa membantu menerbitkan tulisan penulis-penulis baru???
Kalo bisa dimana bisa menghubungi beliau?? siapa tau ada diantara temen-temen ada yang mengalami hal yang sama yang dihadapi olej mba nita dulu, terbentur dimasalah penerbitan :D
kke, gak nanya abis modal berapa kira2? :D
wah,
satu lagi tulisan inspiratif…
this is a great…
hmmm….
i have a dream like this…
can i learn from you?? ^^
pengen de bisa nerbitin buku ku seperti ini..
ada tips ga??
hehe
Ternyata prosesnya lumayan berliku yaa untuk nerbitin buku sendiri, huehehe.. Tapii pasti lebih memuaskan tuh yaa begitu udah selesai semuanya :D
ok!!!buangetssss the…….
Mbak,aku br bc buku mbak yg sweet edelweiss,trus ktagihan pgn bc yg yelloveflies ini.Tp brhubung buku lama,kyanya agak susah u ngedapetinnya skrg ini di toko2 buku!So,dimn kira2 aku msh bs beli buku yelloveflies ini?thanks!
hai wulan
seneng bisa kenalan via blog teman baikku ini… (numpang ngobrol ya, Ke? hehe)
btw, mau ngasih tau aja novel Yelloveflies masih tersedia di beberapa cab Gunung Agung dan Gramedia Jakarta: Grand Indonesia, Pondok Gede, Pejaten dan Bintaro.
So enjoy read it, and thanks a lot…
Assalamu ‘alaikum
Mbak nita, ini saya guru amin fathur sma 32 jakarta, menindaklanjuti tawaran mbak nita untuk membimbing siswa sma 32 jkt dalam hal menulis, saya sudah konfirm ke siswa, alhamdulillah cukup banyak yang berminat untuk ikut. Tentang waktunya, kalau hari jumat di bulan Oktober selepas sholat jumat, mbak nita bisa tidak?, sekalian kami mau kaitkan dengan peringatan sumpah pemuda ( Bulan Bahasa).
atas kebaikhatiannya saya ucapkan terima kasih
trimaksih
Wassalam
amin fathur
Leave a Reply