Rini di Stasiun Kereta

Melakukan perjalanan sendiri itu nikmat. Saya suka. Beberapa kawan bertanya ‘Emang enak jalan-jalan sendiri?’. Saya jawab, ‘Enak. Nikmat.’ Dan mereka pun melontarkan pertanyaan susulan ‘Nggak kesepian nggak ada teman ngobrol?’

Kesepian? Nggak ada teman ngobrol?

Giliran saya yang terbingung-bingung. Kok bisa kesepian? Kok bisa nggak ada teman ngobrol? Bukannya pasti di perjalanan, kita akan bertemu dengan orang baru?

….

Sore itu telah merambat menuju malam; saya sudah duduk manis di salah satu kursi plastik di stasiun, baris ke dua, bersama dengan orang-orang lain. Hari itu, perjalanan solo saya entah untuk yang keberapa kalinya. Naik kereta. Saya datang terlalu cepat, kereta baru akan berangkat empat puluh lima menit lagi. ‘Di jalur dua’ kata salah satu petugas berseragam.

Wajah-wajah manusia di stasiun ini menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Orang yang duduk di sebelah kiri saya terlihat sedih (hm, mungkin dia akan meninggalkan atau ditinggalkan oleh orang-orang tercinta), sebelah kanan saya, kosong. Orang yang barusan melintas terlihat gembira dengan terburu-buru (mungkin ia akan bertemu dengan sahabat-sahabat hati). Di depan saya, seorang anak kecil menjerit-jerit heboh, dengan suara melengking yang annoying, sementara sang ibu mencoba menenangkannya. Beberapa manusia berseragam yang sempat saya jumpai dari peron sampai di dalam, terlihat penat.

Saya tidak berani menyapa orang yang duduk di sebelah kiri saya. Ia terlihat terlalu sedih. Saya juga tidak menyapa orang yang melintas, ia tampak terlalu terburu-buru. Menyapa ibu-ibu yang anaknya menangis makin keras? Nggak deh. Makasih. Saya berharap banyak pada manusia yang bakal menduduki kursi sebelah kanan saya. Semoga saya bisa mengobrol dengannya; sehingga empat puluh lima menit menunggu kereta berangkat, tidak akan terasa basi.

Tak berapa lama, muncul seorang perempuan bertubuh mungil, dengan rambut sebahu yang dikuncir kuda. Ia mengenakan jaket putih dan celana selutut. Di antara jari telunjuk dan tengahnya terselip sebatang rokok. Ekspresi wajahnya galak. Perempuan itu membantingkan bokongnya di kursi sebelah kanan saya. Sejurus kemudian ia khusyuk dengan bacaannya.

Hm. Sapa… enggak… sapa… enggak… sapa…

Eh, tapi mukanya galak.

Lagipula buku yang dibacanya menunjukkan bahwa ia tidak ingin diganggu.

Sambil membaca, ia menghisap rokok, menahannya asapnya sejenak, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Seketika asap putih mengelilingi dirinya. Tidak sekali pun saya melihatnya mendongak.

Jadi, bagaimana saya bisa menyapanya? Lagian, gimana coba cara memulai menyapa? Dan, sekali lagi, wajahnya galak.

Anak yang menangis di depan saya berteriak-teriak semakin menjadi.

Perempuan mungil itu mendongak, mengernyitkan kening sejenak sambil berdecak. Wajahnya terlihat semakin galak.

Hm, kalau melihat itu, saya menilai, bahwa perempuan mungil ini sejenis pembenci anak cengeng. Sama seperti saya. Wah, kalau begitu, mungkin kami bisa nyambung. Saya bisa mengganti komunikasi fatik standar “Mbak, mau ke mana?”, dengan “Mbak nggak suka anak kecil cengeng ya?”

Wah, tapi bagaimana kalau selain tidak suka anak kecil yang cengeng, ia juga tidak suka dengan orang asing yang tanya-tanya?

Perempuan mungil tersebut masih saja membaca. Dan selama itu pula saya sibuk menilai.

“Jangan nangis, ya Dik. Cup..cup…” ibu di depan saya tampak kepayahan menenangkan tangis anaknya yang tak kunjung mereda. Satu tindakan yang percuma, karena alih-alih tenang, sang anak semakin gila-gilaan menangis. Ih, kesambet apa sih anak tersebut.

Saya mendelik pada anak itu, berharap sang anak ketakutan dan terdiam, seperti keponakan-keponakan saya, yang selalu bilang ‘Hiy, tante Okke udah melotot, jangan berisik, ntar dimarahin.”. Yah, tapi anak kecil itu bukan keponakan saya; alih-alih diam seperti keponakan saya kalau saya melotot, ia malah mengabaikan saya.

Setelah beberapa saat meregangkan otot mata secara maksimal— dan merasa kalau saya bertahan dalam posisi demikian selama beberapa menit lagi, maka bola mata saya akan terlepas dari rongganya, akhirnya saya menyerah; saya bersiap untuk menjauh saja, daripada kepala senut-senut mendengar lengkingan tangisnya.

Di saat yang bersamaan, dari sudut mata, saya melihat perempuan mungil tadi bergerak juga.
Wah! Sepertinya dia juga memutuskan untuk enyah. Eh, sebentar. Nggak deng. Tunggu— tunggu. Perempuan mungil berwajah galak itu menyondongkan tubuhnya mendekati kursi tempat ibu si anak cengeng tadi duduk.

Nah lo, dimarahin deh tu anak. Pikir saya.

“Eh, kenapa nangis,Dik?”

Saya melongo. Wajah perempuan mungil itu melunak, suaranya pun terdengar lembut. Mengingatkan saya pada Ibu guru TK favorit saya jaman dulu. Dan saya pun tambah bengong lagi, ketika perempuan mungil tadi tanpa meragu, berpindah ke sebelah sang ibu. Setelah sejenak berkenalan, saya mendengar suaranya lagi, membujuk — tidak, merayu tepatnya, sang anak. Sepuluh menit kemudian, ajaib, yang tersisa pada anak itu hanya tinggal isak dalam nafasnya.

Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar dengan jelas. Bukan kereta saya — tapi kereta si Ibu dan si anak cengeng tadi. Sang ibu tampak berkemas terburu-buru, dan mengucapkan terima kasih pada sang perempuan mungil, lalu bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh, menuju ke sebuah kereta yang berada di lintasan lima.

Perempuan mungil tadi melambai pada sang anak, yang dibalas dengan malu-malu.

Kemudian, ia membalik badannya, menuju kursi di sebelah kanan saya. Ia menatap saya lalu tersenyum sekilas dan duduk kembali di sebelah kanan saya.

“Hebat, kamu. Bisa nenangin anak kecil.” Puji saya. Ia yang baru saja akan kembali menenggelamkan dirinya dalam bacaan menoleh.

“Yah, memang kerjaan saya gitu tiap hari…” jawabnya, dengan — hey, kemana wajah galak itu?
“Oh gitu ya? Memang kerjaan kamu apa?”

“Sebut aja, funky teacher…” jawabnya sambil tersenyum, “…nama saya Rini.”

Dan saya pun menyambut uluran tangan tersebut. Penilaian saya berubah seratus delapan puluh derajat.

Yah, sampai sekarang saya masih bingung, kenapa orang mengidentikkan perjalanan sendirian dengan kesepian dan tidak ada teman ngobrol?

Sebuah tulisan fiksi yang dibuat sebagai PR kelas nulis eksprimen yang saya ikuti. Rini adalah salah satu kawan sekelas, bertampang galak. Profesinya adalah guru TK.

catatan : ini teh piksi, yah piksi *sengaja pake p*

4 Responses to “Rini di Stasiun Kereta”

  1. murni Says:

    Hmm.. enak juga. mungkin disitulah letak tantangannya ya. Cumaaa, harus lebih hati2 aja. Kan berarti cuma diri kita sendiri yg mengurus apa2 yg dibutuhin, termasuk ngingetin yg gampang kita lupa. Extra kesadaran. Jgn seperti lagi main film “lost in somewhere.” (lost in somewhere tuh karangaan gue alias ngasal :-p)

  2. herru Says:

    tante okke, tante okke, terusin atuh ceritanya, seru nih kalo dilanjutin…:D

  3. pipit Says:

    ke.. emang ikut kelas nulis di mana?

  4. -may- Says:

    Loe yakin ini fiksi, bukan ingatan bawah sadar? Dan namanya Rini, bukan Maya ;)?

    Tokoh loe gw banget. Sangar, duduk baca gak lihat kiri-kanan, tapi gw suka anak kecil ;)

Leave a Reply