berbanding terbalik
dengan tinggi hak sepatu yang mereka pakai.
Tadi, sepulangnya saya mengantar Bapak Seniman Rajah itu kembali ke habitatnya *nganternya sampai stasiun doang sih*, penyakit ketidakkompakan otak dan segala otot serta syaraf motoris yang saya idap kambuh lagi. Alih-alih mengarahkan mobil menuju rumah, ealah, saya malah membelok ke sebuah *ehm* mall. Padahal itu tinggal se-jam lagi menuju tutup, lho.
Saya berkeliling-keliling dan pada akhirnya berhenti di salah satu gerai kosmetik. Warna dan bentuk visual packaging produk memang selalu menjadi magnet saya, barisan tester tersebut menggiurkan sekali, pot-pot mini eyeshadow nuansa ungu, hijau, cokelat, berbaris-baris tube lipstik cair, botol-botol nail polish. Duh Gusti, kuatkan hambamu, itu cetus saya dalam hati. Tapi begitu sang pramuniaga menghampiri, mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapanya — maka saya pun pura-pura budeg, padahal Gusti sudah teriak-teriak keras di hati saya ‘Jangan beliiii! Boros!’. Singkat kata, eye-shadow empat warna nuansa ungu masuk ke dalam messenger bag saya (setelah dibayar tentunya dong ah!)
Untung terdengar suara mbak announcer yang woro-woro bahwa mall tersebut akan tutup, jadi saya langsung mengarahkan kaki ke tempat parkir dan pulang, tanpa sempat membeli apa-apa lagi!
Di rumah, saya pun mencoba hasil buruan saya. Duh, senang. Kayaknya sudah lama banget saya nggak melakukan sesi eksperimen dandan malam-malam sebelum cuci muka dan tidur.
Belum lagi selesai poles sana poles sini, seseorang menelepon saya. Si Mbak itu bertanya, saya sedang apa.
“Sedang dandan!” jawab saya.
Dan dia pun tertawa. Lalu entah untuk kepentingan apa, dia membuat pernyataan bahwa dia nggak suka dandan buanget. Sampai sini, saya masih berpikir okay deh, preferensi orang kan beda-beda. Tapi yang bikin agak sebal adalah kalimat-kalimat yang ia katakan berikutnya. Bahwa perempuan (yang) memakai pulasan make up (ia memperluas dengan mereka yang memakai high heels dan pakaian mini) dikarenakan mereka tidak memiliki hal-hal lain untuk ditonjolkan atau tidak punya modal lain untuk menarik perhatian (lawan jenis) selain bodi. Blah. Teori ngarang. Bahkan ia melontarkan dalil-dalil yang bagi saya terdengar menyebalkan.
Kecerdasan perempuan berbanding terbalik dengan tinggi hak sepatu yang mereka pakai, tebalnya make up yang terpulas di wajah tapi berbanding lurus dengan minimnya pakaian mereka.
Diiih. Ngaraaang. Saya suka dandan. Eksprimen mengkombinasikan dan memulas warna itu semacam terapi yang bikin hepi. (hee terapi-hepi, rhyming). Tapi apakah dengan demikian saya jadi dangkal?
Saya? Dangkal?
NYAENGGALAAAAAHHH….
Dan, saya, berdandan karena tidak punya modal lain untuk menarik perhatian?
Menurut loo?
(Oke, silahkan, lempar saya dengan sandal. Eits, nggak kena.)
Anyway, beberapa kali saya membaca blog (yang dengan catatan) pemiliknya adalah perempuan, yang membahas soal dandan-berdandan ini. Nggak tau kenapa, isinya kok jahat sekali dan menyakitkan hati (sesama perempuan). Entri-entri tersebut sangat menyudutkan para perempuan yang senang berdandan (plus memakai hak tinggi atau baju minim); dan ini yang tipikal (plus bikin eneg), mereka membandingkan para pedandan dengan diri mereka sendiri, dan menuliskan pernyataan-pernyataan bahwa mereka (sang empunya blog) tidak suka berdandan, senangnya memakai sepatu keds atau boots, bergaya tomboy dan seterusnya dan seterusnya, karena mereka semacam perempuan nan cerdas serta tangguh binti tidak manja. Secara tersirat (bahkan ada juga yang tersurat) menggeneralisasikan para perempuan pedandan sebagai perempuan-perempuan dangkal.
Ouch.
Lalu, saya pernah mencari tutorial untuk riasan mata smoky eyes di youtube, dan saya menemukan beberapa video yang oke punya, sangat jelas langkah-langkahnya. Dalam setiap tayangan video, pastiii ada saja komentar pedas yang menyudutkan si pemberi tutorial. Ada yang bilang make up tebal itu tidak bisa menutupi kualitas seseorang, mereka murahan, bitch dan segala kata yang malesin lagi. Alah. Sudah bagus mereka mau berbagi ilmu (bagi orang-orang yang gagap smoky eyes seperti saya ini.Haha) — lalu dasar iseng, saya pun menelusuri para pemberi komentar pedas, tau nggak? Kebanyakan perempuan bok!
Sesama perempuan,lho! Apalagi untuk kasus ini, mereka (pemilik blog serta pengomentar video) kan tidak kenal secara personal dengan perempuan-perempuan-senang-dandan yang mereka cela sebagai perempuan dangkal?
Apa memang sifat alami-nya perempuan seperti itu ya? Tidak seperti pria-pria yang kalau saya lihat dari sekeliling saya sih, jiwa brotherhoodnya tinggi, perempuan justru susah untuk akur satu sama lain. Terlalu kompetitif, mungkin?
Lalu, ketidak-akuran tersebut memunculkan berbagai macam opini, penilaian-penilaian bahkan sampai stigma-stigma yang merepresi perempuan sendiri. Ya itulah contohnya : hak tinggi-kecerdasan pendek, make-up tebal-intelektualitas tipis, baju minim-otak minim, perempuan single nggak laku, perempuan menikah terpaku (padahal lajang dan menikah, kan sama enaknya, sama ribetnya ya?), ada stigma perawan tua, stigma perempuan murahan, stigma demenan bule, ada stigma lesbian, ada yang bilang perempuan berkarir di rumah menyalahi kodrat, ada yang bilang perempuan di rumah saja gagap emansipasi daaaaaaaaaaaan masih banyak lagi.
Ini kan membuat para perempuan jadi susah bergerak karena dibatasi oleh opini, penilaian-penilaian dan stigma-stigma tersebut? Membuat perempuan-perempuan susah berekspresi?
Ya, saya tahu, bahwa opini dan penilaian-penilaian tersebut ada yang memang sudah dari sononya beredar dalam masyarakat tanpa ketahuan apa jenis kelamin para pencetusnya, cuma, kok, ketika ada perempuan yang terkena opini, penilaian-penilain bahkan stigma-stigma tersebut, alih-alih membela, para perempuan (yang kebetulan tak terkena) kok malah ramai-ramai menyetujui dan merayakannya?
Padahal kan, sesama perempuan seharusnya saling membebaskan, saling mendukung dan saling melindungi? Mau jadi perempuan pedandan, berpasangan dengan bule, mau lesbian, mau berkarir, mau di rumah saja, mau nikah dan beranak pinak, mau apa kek…. ya biarkeun saja, tokh? Kalau perempuan-perempuan itu senangnya demikian.
Okeh. Secara sebenarnya saya orang yang nggak begitu senang tampil, jarang-jarang ya bo, saya memajang fotmukdir alias foto muka diri di entri blog ini. Tapi, untuk entri yang ini saya mendadak pingin pamer. Kalian tabah yaaa.
Ini, hasil eksperimen eyeshadow ungu saya. Maaf kualitas foto buruk, saya memotretnya dengan hp, kamera saya habis baterai.

Fotmukdir : Purplish Eyeshadow
Yayaya… sayaaa tak peduliii kaliaaaan mau bilang apaaaa.
Syalalalalaaaa.
Besok cari eyeshadow ijo, aaaah…
:D
Oh, ya, trik pullquote ala majalah di atas, saya ambil dari mandarindesign.com
Semacam Update Ketagihan. Hahaha.

Fotmukdir kok ketagihan : Greenish Eyeshadow
untung sepatu saya flat….*siul-siul*
emang sirik tanda tak mampu ya, ke? makanya muncul berbagai macam stigma di atas…
okke!: iya, sepatu saya juga flat, abis kapok pernah malu karena sepatu hak tinggi *dum di dum*hasilnya.. bagus kok.. cantik.. :))
okke! : terima kasih om tegar :Dah, sepatu saya banyak, ada yang teplek ada yg high heels. tergantung keperluan dong, gyahahaha…… *sombong*
tapi bukan berarti kadang pinter kadang bodse kan? hihihi… makanya jangan suka pada generalisasi dong ah :)
okke! : Kepinteran kok fleksibel :P hayah, gw lupa, gw ngereply lo apaan sebelumnya...sepatu saya keds, soalnya kalo pake flat shoes atau hi-heels.. kepleset.. ga bisa dipake balapan naik tangga :P
kadang2 emang saya suka sarkastik sendiri ama teman2 perempuan yang lebih milih riweuh ama dandanan ketimbang hal lain..
tapi saya senang.. soalnya meski riweuh2an soal dandan.. mereka top2 deh ;)
okke! : mbok ya biarkeun saja lah semua perempuan berbahagia dengan pilihan masing-masing...Mau dong Link tutorial buat smoky eyes…. Hehehe
okke! : cari pake keyword smoky eyes+tutorial atau smoky eyes how to deh, banyak.hahha…
sepatu fav sy jg teplek.. tp ga bearti anti pke heels jg…
wong edan aje.. kapasitas otak dinilai dr tinggi renda na heels!
mgk yg ngomong py phobia sm heels kali.. ga berani make jd ngejelek2in..
wwkkwkw….
eyeshadow na bgus koq…
ajarin dunk!!
mash ga bs make eyeshadow ne..
>,<
okke! :kmrn prasaan gw jawab how to-nya ya? ternyata di youtube juga banyak, cari deh. keywordnya eyeshadow how to.
siip.. baiklah ;)
btw: thx buat link Mandarin Design-nya ^^
okke!: sama-samajustru pake high heels tuh butuh skill lageee…balancing skill…hi3…coba aja pake high hills di landasan yg ga rata/rumput/tangga, pusing kan?!?…gue aja bisanya cuman ampe 5 centi, kl lebih dari itu ampun deh!note:always have a spare of flat sandal (sandal jepit) when you are wearing heels. :)
okke!: iye, kudu skillful, kalo enggak akan terjadi hal yang memalukan. :Dquote:
“keterampilan jalan tingkat tinggi tuh! Kalo ga berskill, bakal terjadi banyak hal yang memalukan”
Seperti keplitek dengan sukses di panggung pelaminan kerabat, dan disaksikan oleh berpasang-pasang mata?
atau seperti…
okay, okay, saia menyingkir sadja…
okke! : husyah! Coba yah, aib temennya jangan dibeberkan...X-(Hasil kurang OK di foto itu akibat kamera, produk, ato tampang loe? HAHAHA..
Tapi mungkin juga akibat gw gak suka dandan ;)
*soalnya gw punya bagian2 lain untuk ditonjolkan sih, berlebih malah ;) Lebih beberapa kilo ;)*
okke!: sialan lu. :P Jelas kameeeraaaaa lah, lha wong gw belinya produk bagus. *ngeloyor cari kaca, meyakinkan diri soal tampang*. Maksudnya tonjolan *halah* dalam dunia persiletan? kok satuannya kilo sih? ;-)gw punya temen kuliah,,,
dateng ke skolah pake heels, dress, full make up
but u know what, she holds a double degree, and she’s one of the smartest girl in class
emang dasar sirik aja kali tuh yg stereotype heels=stupid,,,hehehe
*yg belakangan ini baru suka pake heels =P*
okke! : kalo soal heels mah, gue takluk dah.:Ddan lu pikir lu cantik?
okke! : gw ga ngerasa cantik,kok. Tapi ngerasa keren. *hihi* piss..pisss...mungkin bener, biasanya selalu ada ‘kompetisi’ sesama perempuan?
okke! : gue yakin ada, dan gw juga ga lepas dari itu. Hipotesa sementara, masyarakat patriarki itu tidak ngasih keuntungan bagi perempuan untuk menunjukkan/menampilkan eksistensinya, jadi perempuan secara umum harus berusaha lebih keras spy eksis di tengah masyarakat yang 'cowok' ini, ini menimbulkan perasaan insecurity, dan kecenderungan cewek2 untuk kompetitif spy 'menjadi yang terbaik', paling cantik, paling pinter, paling lucu, paling berhasil dst dst. Tapi ini baru hipotesa, gw males riset. hehe..
hihihi gw termasuk tipe cew gak bisa dandan (kekekek tapi aslinya seneng loh didandani)… hoam kalo soal hak tinggi gak kuatttttt, 5 menit da pengen nyopot spatu…
okke! : :)semenjak kerja kantoran gw baru ngerasa banget perlu-nya berpenampilan oke, dandan (okelah gk mesti) dan heels included!
awalnya sih gak nahan pake heels >5cm tapi pas liat diri sendiri di kaca,
‘wooooooow betis gw langsing bagus gila anjirrrr!!!!’
walo menderita gw tahan deh demi betis langsing
T_T
okke! : no pain no gain, eh? ;-)Tonjolan LEMAK, Kke… mosok mesti diperjelas seeh???
okke! : Hahahah, ditanggepin! :Dsuka takjub kalo ngeliat mbak2 pake high heels kalo lagi clubbing, trus tetep lincah gitu geraknya… aku yg pake sandal teplek ajah kadang suka pegel kaki pas pulangna.
Aku paling banter bisa pake yg 5 cm. Pernah sekali pake 7 cm pas acara metatah a.k.a potong gigi, tapi asli cuman duduk manis doang xixixixi
Kalo dandan sih, karena males n ga bisa :D, kalo dandan sendiri yg ada ujung2nya tambah hancur bukan tambah cantik… kalo pas ada yg mau dandanin sih ga nolak…. :D
kalo korelasi kayae ga ada deh… la wong sahabatku yg dokter dengan iq diatas rata2 doyan banget dandan, plus narsis xixixiixix sampe kadang suka kuledekin kalo kaya gitu jangan2 pasien co nya ppura2 sakit terus :D
mungkin cuman sirik aja kali ye… soale kadang aku yo sirik kalo liat mbak2 pake high heels plus dress nan seksi pas clubbing, abisna aku ga bisa pake high heels dan berarti ga pake dress seksi juga ( ga pantes dipaduin ma sandal teplek nan butut ku soale )
okke! : ha? kenapa sirik? ;-)sadar diri gue. maklum gue gak bisa gak pake hak tinggi-tinggi. itu memang penyamaran bagi betis yang bisa disangka berasal dari para mamang-mamang penggeos becak :D
kok jadi bahas sepatu
pa kabar kke?
okke! : Baik, Mel :) Iya nih, gw juga bingung, napa banyak yang bahas sepatu jadinya....aku termasuk penggemar flat shoes seh..
tapi bukan berarti g senang make high heels..asal g tinggi2 amat seh bolehlah..bukan karena g cerdas kalee…tapi g kuat berdiri lama2 dengan ketinggian sekian cm diatas tanah..hehehe…
btw, ternyata mbak okke ini orangnya cantik juga ya…soale udah lama ngefans diam2…
salam hangat buat mbak okke… :)
okke! : sama dong, saya juga penggemar flat shoes. :D *tos dulu*Yang ”Purplish Eyeshadow” keren deh…
okke!: thank you :) berminat mencoba?akhirnya aku tahu tampang penulis buku istoria da paz.. *out of context, i know*
intinya dont judge a book by its cover lah ya.. *tapi herannya setiap kali melihat cowok, aku selalu menjudge a book by its cover..hohoho.. cowok2 gendut atau berotot berarti memiliki uang banyak..cowok2 yang terlalu konclong, selalu tibul pertanyaan apakah kamu gay?? melihat cowok2 nerd..oke,gw tahu ipk lo 3,5 ke atas.*
waduh beneran out of context..hehuheuheuheu..
bukunya wokey btw.. jadi pengen ketemu dion dalam situasi nyata..hehehe.
okke! : gue kenal beberapa yang mirip-mirip dion di kehidupan nyata. Berminat? *wink* hahanyet, kok lu jadi mirip kakaknya elma theana?!
okke!: Hahahah.. serius lo? eh, btw nama tu orang siapa sih? Gw kok lupa...sepatu saya flat, ga seneng dandan berlebihan dan ga suka rok mini.. jadi saya??? hehehehe… ;)
okke! : hmm, lemme think, berhubung saya nggak kenal meidy secara personal, maka bagi saya, anda adalah... penggemar sepatu flat, ga seneng dandan berlebihan dan ga suka rok mini. :PMAUUUUUU AISEDOW UNGUUUUUUU!!!
ah yang bilang bilang kek gitu, gue yakin mereka sebenernya pengen dandan tapi gak bisa, jadinya nyinyir. Atau sebenernya pengen mamerin bodi,tapi bentuk gak menunjang, makin nyinyir.
nyinyir ya gue.
nitip dong nyet yang ungu unguuu
okke! : seriusan lo mo nitip? :PPerempuan yang berani eksis dengan cara apapun adalah sexy bitch.
Perempuan yang hobinya cuman menghina dengan cara apapun adalah skanky bitch.
Ketika bitch ketemu bitch, hasilnya adalah perang kompetisi mencemooh.
Siapakah bitch yang akan bertahan jadi pemenang?
Viva la bitch! Lhoo..?
okke!: Haha, coba ya itu istilah bitch-nyaa :)). Ga akan terjadi apa-apa kalo cewek2 tuh waras. :Dke, geulis ighhh… bener lho itu komen yg bilang elo mirip elma theana ;-)
btw, kok sama yaaa… gw jg lagi suka eksperimen sama warna-warna & rajin banget liat youtube buat belajar dandan.
okke! : hihihi, emang enak semua tutorial yang hratis itu.. :Dcantik mba okke… aku suka yg ungu mba, hehehehe…btw, kakaknya elma nama nya rency milano
okke! :rency milano! Thank you. Kemarin pnasaran dan ga ada yang tau :Dsama sama mba…
ga stuju deh sama kecerdasan perempuan di samakan dengan high heels,,,
tapi kadang2 bern juga sih,,ada aja yang bodynya ok,,pke high heels dan make up setebel humburger,,,otak kosong,,,
tapi ga berarti yg pke keds otak nya smart,,ga juga…
semuanya kembali ke orang nya masing2
klo gw sih menilai orang yg pke high heels itu,,suatu skills,,soalnya khan ga smua cewe bisa pke hihghells….
bener ga??
ehm ehmm…lingkungan kerjaku juga sebenarnya tidak begitu mendukung terhadap tampilan fisik cantik dan kinclong, soalnya kita kerja lapangan. hehe.. tapi aku cuek. kalau lagi pingin dandan lengkap, ya dandan aja. kalau lagi nggak pingin dandan lengkap, ya nggak usah. tapi tetep dandan. ntah itu pakai blush, ntah itu pake eyeliner. kupikir menjadi cantik itu bagian dari membahagiakan diri sendiri ya, bukan untuk mengesankan orang lain.
tapi aku juga nggak reseh sama perempuan yang nggak suka dandan. bener kata mbak okke, biarkan saja. mereka yang suka dandan, ya biarkan. mereka yang nggak suka, ya dibiarkan saja. asal nggak bakar rumah tetangga, nggak masalah to?
ehm….menambahkan sedikit, aku juga belum bisa berdamai dengan heels, hehehe.. keadaan belum mendukung sih…
gw suka banget sama high heels, meski jarang make. pokoknya kalo liat high heels *dan mesti yang lebih dari 5 cm* rasanya selalu pengen beli. tapi untungnya rada nyadar diri, karena jarang bisa make, mubadzir juga kalo misalnya jarang dipake kan.
tapi gw sendiri gak setuju dengan orang2 yang menyudutkan orang yang suka dandan. i’ve been in that position, and i kinda regret that. hak setiap perempuan untuk tampil secantik yang mereka inginkan dan mereka bisa, urusan otak sih itu mah lain lagi lah bagiannya.
malah banyak kan sekarang wanita yang cantik, dandan, dan berotak… jadi keknya stigma begitu udah nggak jaman lagi. berarti yang ngeluarin stigma gitu, mungkin selama ini tinggal di museum :P
Nurut aku sih jaman sekarang justru kemampuan otak aja nggak cukup, harus didukung pinter dandan juga. Mau nggak mau harus diakuin, first impression orang pasti dari penampilan dulu. Good look, good skill, what else?
aku suka ungunya Kke..:) meni janda menjanda,
suka..
bhoahaaaha..kalau menurut saya mah, alas kaki paling nyaman dipake ya sendal jepit,tp ga mungkin kan ke kondangan pk sendal jepit..jd penampilan mah paling baik ya sesuai kebutuhan aja..kalo lg kondangan butuh pk heels ya pake walo beresiko keplitek dengan sukses di panggung pelaminan kerabat, dan disaksikan oleh berpasang-pasang mata (pengalaman siapa sih ini?), butuh pake eye shadow ungu ya pake, lg butuh pke dress seksi ya pake, and so on..sy pribadi seneng pake boots dan jarang dandan, bukan krn ga suka, tp krn gampang jerawatan..-_-”
ga perlulah yg ga nyambung disambung2in..btw, really love ur blog, jangan selingkuh sama twitter terus dongg..atau tetap selingkuh tp tetep sering ngeblog..heheheh..*pembacapenuhtuntutan*
Setuju dg okke!!
Perempuan yang suka dandan = tidak pintar?? salahhhh….
Dosen gue, satu2nya dosen perempuan di jurusan gue, doktor teknik elektro sebuah univ. di australia selatan, modis dan dandan abiss… padahal dia pinter, cerdas, memenangkan berbagai award tingkat dunia…