Kenapa juga ya saya dulu mesti kesinggung? Siapa tau di rumah Yesus memang benar ada tikusnya. :D
Saya mencintai atmosfer jelang Natal. Mungkin ini terdengar kekanak-kanakan sekali, tapi gimana dong, saya memang suka melihat segala macam atribut hijau, merah, emas dan putih di mana-mana. Saya suka melihat gambar atau boneka Sinterklas di sana-sini, biarpun sejujurnya saya menganggap Bapak tua berjanggut dan berpiyama merah bulu putih itu nggak kontekstual banget dengan Indonesia. Saya suka momen bersama-sama berburu kado Natal dan membungkusnya. (Oh, tentu saja, Natal —seperti hari raya lainnya — adalah excuse yang baik untuk bersikap konsumtif. Ha!). Saya suka bersama-sama memasang dan menghias pohon Natal dengan Ayah, Ibu dan Nenek (yang sudah 3 tahun - termasuk tahun ini- kelewat melulu). Saya suka membuat kue kering dengan Ibu dan Nenek saya (kalau Ibu nggak males). Saya suka reuni keluarga dan seterusnya-dan seterusnya.
Oh hampir lupa, saya juga suka lagu-lagu Natal londho dengan berbagai versi. Rudolph The Red Nosed Reindeer. I saw Mommy Kissing Santa Claus. O Holy Night, atau lagu kojo yang sepertinya semua orang, sampai yang non Kristen pun tahu : Silent Night atau Malam Kudus.
Ngomong-ngomong soal Silent Night atau Malam Kudus, saya jadi ingat jaman-jaman SD, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Waktu itu saya mengikuti kegiatan Pramuka, saat jeda latihan semaphore, seperti biasa saya ngumpul-ngumpul dengan teman-teman. Ada beberapa teman yang duduk berkelompok sambil cekikikan. Penasaran dong si saya ini; saya mendekati mereka. Anehnya, begitu melihat saya, mereka terdiam.
“Ada apa sih? Ada apa sih?” tanya saya dengan nada mau tauuu aja.
Selama beberapa saat, mereka menyembunyikan hal yang membuat mereka senang. Kesal dong, kesannya mereka menyembunyikan sesuatu dari saya. Manyunlah saya. Saya memaksa teman terdekat saya untuk bercerita. Awalnya ia masih bungkam. But I always get what I want *belagu*, dengan cara yang saya sendiri lupa, akhirnya, jelang waktu berlatih lagi, mendadak ia berbisik,”Jangan marah ya, tadi kita nyanyi-nyanyi.”
“Nyanyi apa?”
“Malam Kudus.”
Lho? Ngapain juga mereka menyanyikan lagu Malam Kudus, padahal waktu itu bukan Desember dan setahu saya mereka tidak merayakan Natal.
“Tapi dirubah liriknya…”
“Jadi gimana?”
“Tapi jangan marah yaaaa…” wajahnya tampak kuatir.
“Enggak! Cepetan!”
Dan teman saya pun, dengan lirih bersenandung sambil tertakut-takut,” Malam kudus…. banyak tikus… di rumah Yesus…”
Oke. Dan saya pun merasa sangat marah. Teman saya sampai bilang,”Tuuu kan, tau gitu aku nggak bilang…”
Selama sekitar dua minggu saya menjauh dari mereka, sampai mereka meminta maaf.
Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, tolol juga rasanya ya? Ngapain juga saya merasa tersinggung lagu ‘Malam Kudus’ digubah dengan kreatif dan walaupun nadanya nggak masuk dan maksa banget, tapi berima seperti itu? Memangnya saya penciptanya? Apa ada aspek kehidupan saya yang dirugikan gara-gara lagu tersebut dibuat parodi? Ya enggak juga.
Konyol binti Tolol aja.
Ada contoh kasus lain, dulu saya menggemari New Kids On The Block mati-matian. Saya pernah berantem dengan seorang teman laki-laki yang mengata-ngatai boysband 90-an ini banci. Berantem beneran. Saya masih ingat garis-garis bekas cakaran saya di lengan teman laki-laki saya itu dan beberapa helai rambut yang tercabut dan berada di tangan saya. Emang bener ya, cewek kalau berantem, senjatanya cakar dan jambak. :D
Dan sekarang, setiap memikirkan itu, saya sering ketawa sendiri. Ngapain juga merasa tersinggung, memangnya NKOTB itu siapanya saya? Bukan siapa-siapa! Nyadar saya eksis juga enggak ! Dan apakah setelah kawan saya mengata-ngatai NKOTB banci, mereka jadi sakit hati? Ya, enggak juga. NKOTB mana kenal kawan saya? (Kalau kawan saya kenal, tentunya saya lebih memilih berbaik-baik dong ah, biar dikenalin juga.*halah*) :D
Kelakuan, kelakuan.
…….
Pada suatu hari di pertengahan tahun 2007, gara-gara susah tidur, tanpa sengaja saya terjebak dalam sesi diskusi berdiskusi sekelompok aktivis perdamaian. Agak bikin nyut-nyutan mendengar obrolan mereka, malam-malam setelah seharian penat beraktivitas; tapi mau pergi juga nggak enak ati. Akhirnya saya pun menjadi menjadi pendengar yang budiman. Dari sekian banyak topik, tentang daerah konflik, tentang -isme-isme, tentang isu-isu politik yang bikin mblenger, saya tertarik pada pembicaraan mengenai anti nasionalisme.
Bahwa menurut mereka, nasionalisme bukanlah hal yang baik. Dengan doktrin-doktrin yang dicekoki sedari kecil, bahwa seseorang harus mencintai negaranya, harus membela negaranya, membuat orang-orang bereaksi dan berpikir sempit. Kepedulian hanya sebatas negaranya saja. Membela pun ya membela negara sendiri. Pokoknya terkotak-kotak.
Read the rest of this entry »