Archive for 2009

Heart Block : Biarkan Cinta Menemukanmu. A (new) Novel By Okke ‘Sepatumerah’

Telah terbit, Heart Block : Biarkan Cinta Menemukanmu. A Novel by Okke ‘Sepatumerah’ (ini saya! *halah*), terbitan Gagas Media.

Thank you buat Christian ‘Ino’ Simamora dan Gita Romadhona atas ketabahannya menghadapi ke’pundung‘an saya dalam proses penyelesaian novel ini =)) Peace yow! Jangan kapok. Thank you juga buat Sitta Karina yang rela meluangkan waktunya untuk menuliskan kata pengantar buat novel ini.

Dan sebagai mahluk visual, saya harus mengakui, Gagas Media memang keren dalam menangani urusan visual novel : love the cover (Thanks, Pak Jefri Fernando), ilustrasi pembatas bab, tipografi, dan layoutnya. Saya puas banget.

Selamat Menikmati.

PS : tau kan arti kata ‘pundung’? Tanya deh sama teman2nya yang orang Sunda. :P

Heart Block : Biarkan Cinta Menemukanmu (A Novel By Okke 'Sepatumerah')

Cara terbaik untuk jatuh cinta
adalah mencintai seolah-olah kau belum pernah terluka sebelumnya.

Senja adalah penulis sukses yang sedang berada di puncak karier. Publisitas dan ketenaran sudah di tangan—tapi kenapa tak bahagia? Dia merasa dunia di sekitarnya menuntut terlalu banyak. Terlalu banyak mengomentari kekurangan dan kealpaan, seolah-olah kebahagiaan mereka terletak di kejatuhan Senja.

Tak hanya itu, dia juga menemui ketakutan terbesar: kreativitasnya buntu. Khawatir deadline yang dekat memperparah masalah, Senja mengambil jalan pintas yang paling gampang saat ini: menyepi dan menyelesaikan naskah. Hanya itu yang terpikir di dalam benak Senja sekarang… sampai dia bertemu seorang pelukis bernama Genta.

Genta.
Bentuk dari sesungguhnya cinta yang selama ini dua cari.

Writers’ block memang bisa menimpa semua penulis—bahkan tekanannya cukup membuat traumatis bagi sebagian orang. Namun dengan menikmati kisah pontang-panting Senja di buku ini, semoga dapat menjadi hiburan dan pembelajaran informal yang bagi para penikmat buku: pembaca, penulis, maupun penulis aspiratif!

(Sitta Karina, novelis, kontributor Cerpen CosmoGirl! Indonesia)

Hadiah Buat Sinterklas

PS : Perasaan saya pernah berikrar mau gambar seminggu sekali yak? *sigh* Ternyata itu ikrar yang terlalu ambisius. Anyway, met liburan semua!!!

HottaLotta And Cyber-Bullying

“Ih, tapi gue kan ga ikut-ikutan komen jahat di HottaLotta?’ protesnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah terlibat pembicaraan mengenai bullying. Seorang rekan protes karena anaknya yang masih SD kelas 1 mengalami tindakan bullying di sekolahnya. Dan dia pun menistakan tindakan macam itu. Saya yang mendengarnya jadi tertawa sendiri, karena tepat beberapa hari sebelumnya, saya menerima e-mail darinya yang merekomendasikan sebuah blog.

Sebenarnya, bukan dia doang sih yang mengirimi saya URL blog tersebut, ada kali sekitar  lima e-mail bernada sama. Seluruh e-mail tersebut diberi pengantar kurang lebih sama : ‘Liat deh, lumayan buat ketawa-ketawa.’ atau ‘hiburan hari ini’.

Blog yang dimaksud adalah blog milik Tara, yang beralamatkan di http://hottalotta.blogspot.com . Kebetulan hari itu saya sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk memerhatikan secara seksama si hottalotta ini. Saya cuma melihat sekilas. Another fashion blog. Tanpa bermaksud menjadi party pooper, saya nggak merasa ada yang lucu di blog milik Tara, yang bermimpi menjadi fashion stylist dan fashion designer. Saya cuma merasa bahwa segala outfit dan pose yang terdisplay itu aneh. Mungkin ini selera humor saya saja ya, buat saya ‘aneh’ itu nggak lucu dan lucu itu nggak harus aneh.

Baru sekitar beberapa hari kemudian, karena beberapa kali membaca link atau nickname sang empunya blog di timeline twitter saya, juga gara-gara mendapat e-mail lagi, yang merekomendasikan blog itu lagi, dengan kata pengantar ‘Gue dari ketawa-ketawa sampai miris bacanya’, saya jadi tertarik dan mulai meneliti satu demi satu entri-nya.

Dan memang miris sekali membaca komentar-komentar di sana, yang didominasi oleh mahluk-mahluk bernama ‘anonymous’ . Seriously, jahat sekali. Semuanya berisi celaan dan hinaan. Dari celaan taste, fisik dan intelejensia; dan dengan kata-kata yang menurut saya nggak difilter sama sekali.

Mendadak saya jadi teringat kasus Ophi A Bubu. Kalau ada yang belum tahu Ophi A Bubu siapa; dia adalah seorang remaja yang gemar menulis dengan bahasa Alay di notes-notes Facebook-nya. Untuk saya pribadi, tulisan dengan bahasa ini cukup ganggu, karena saya nggak terbiasa membaca  ‘aku’ jadi ‘aquwh’, ‘kamu’ jadi ‘kmuwh’, ‘mau’ jadi ‘mawh’ etc. Ophi A Bubu ini mendadak kondang gara-gara notes-notesnya, sampai-sampai entah siapa ada yang dengan niatnya membuat semacam fanpage, yang tentunya isinya celaan-celaan sadistis. (Cuma barusan dicari-cari sudah nggak ada)

Satu hal yang sama yang terlintas dalam benak saya melihat kasus HottaLotta dan Ophi A Bubu adalah : bullying.

Istilah bullying ini berarti adalah perilaku menyerang berulang-ulang yang di arahkan pada orang lain secara sengaja, baik dalam bentuk fisik maupun verbal. Tindakan ini dimaksudkan untuk menyakiti target, membuat target menjadi powerless - sekaligus membuat pelaku merasa berkuasa.  Semacam penindasan lah. Yang jelas, bagi pelaku, tentu menyenangkan, tapi bagi korban? Yang ekstrim, korban bisa mengalami gangguan mental/perilaku, bisa jadi stress dan depresi (Saya jadi mikir, ini pelaku apa nggak bisa menempatkan diri di posisi korban apa?)

Anyway, kasus bullying ini kayaknya sudah nggak asing lagi deh. Beberapa kali saya melihat perilaku bullying ini di beberapa film, terutama film remaja, Bridge of Terabithia, adalah salah satu film terakhir yang saya tonton yang ‘mengandung’ kasus bullying di dalamnya. Mungkin di sinetron remaja di TV Indonesia banyak juga kasus bullying/gencet-gencetan, nggak tau juga, soalnya sekarang saya termasuk jarang nonton TV lokal. Yang saya ingat sih  salah satu adegan sinetron Bidadari yang dibintangi oleh Marshanda jaman dulu. Lalu ada satu lagi, film Barb13 yang dibintangi oleh (CMIIW) Tikam,  Cathy Sharon dan Desta Club80s.

Read the rest of this entry »

Celoteh Bocah Project

Kalau nguping jakarta, ngupingin celoteh orang-orang dewasa, nah kalau ‘Celoteh Bocah Project’ ini, ya jelas celoteh para bocah yang dimuat.

Heu,gara-gara lupa bayar, http://lajangdanmenikah.com sudah 3 hari ini off. Sedang diurus, supaya bisa kembali ‘bener’. Untuk sementara, buka saja http://lajnmen.blogspot.com (Iya, tau, jelek bener namanya :D)

Anyway, ceritanya lajangdanmenikah.com membuka satu project baru nih, yaitu project Celoteh Bocah. Ide awalnya karena kami sering banget denger anak-anak itu mengatakan sesuatu yang bikin ketawa, jadi kami pikir, lucu juga kalau kelucuan-kelucuan celoteh bocah tersebut dikumpulkan. Kalau nguping jakarta, ngupingin celoteh orang-orang dewasa di Jakarta, nah kalau ‘Celoteh Bocah Project’ ini, ya jelas celoteh para bocah yang dimuat, bocah di mana saja.

Nah, project ini terbuka bagi semua orang. Asli siapa saja boleh ikutan.

Caranya, kalau misalnya kebetulan anda mendengar anak-anak anda atau keponakan anda, atau anak-anak teman anda mengatakan sesuatu yang lucu/ kocak/ sweet, kalian bisa mengirim e-mail ke lajangdanmenikah@gmail.com, sertakan nama pengirim (dan blognya kalau ada), nama dan umur sang bocah. Kalau mau masukin foto anaknya juga boleh. :) Umur bocah sampai kurang lebih kelas 6 SD ya, lewat dari situ soalnya udah pra-remaja. Oh iya, jangan lupa tulis : Celoteh Bocah di subject e-mailnya ya.

Celoteh bocah ini bakal ditampilkan setiap Sabtu, di lajangdanmenikah.com :)

Ditunggu ya…

Malam Kudus : Banyak Tikus, di Rumah Yesus.

Kenapa juga ya saya dulu mesti kesinggung? Siapa tau di rumah Yesus memang benar ada tikusnya. :D

Saya mencintai  atmosfer jelang Natal. Mungkin ini terdengar kekanak-kanakan sekali, tapi gimana dong, saya memang suka melihat  segala macam atribut hijau, merah, emas dan putih di mana-mana. Saya suka melihat gambar atau boneka Sinterklas di sana-sini, biarpun sejujurnya saya menganggap Bapak tua berjanggut dan berpiyama merah bulu putih itu nggak kontekstual banget dengan Indonesia. Saya suka momen bersama-sama berburu kado Natal dan membungkusnya. (Oh, tentu saja, Natal —seperti hari raya lainnya — adalah excuse yang baik untuk bersikap konsumtif. Ha!). Saya suka bersama-sama memasang dan menghias pohon Natal dengan Ayah, Ibu dan Nenek (yang sudah 3 tahun - termasuk tahun ini- kelewat melulu). Saya suka membuat kue kering dengan Ibu dan Nenek saya (kalau Ibu nggak males). Saya suka reuni keluarga dan seterusnya-dan seterusnya.

Oh hampir lupa, saya juga suka lagu-lagu Natal londho dengan berbagai versi. Rudolph The Red Nosed Reindeer. I saw Mommy Kissing Santa Claus. O Holy Night, atau lagu kojo yang sepertinya semua orang, sampai yang non Kristen pun tahu : Silent Night atau Malam Kudus.

Ngomong-ngomong soal Silent Night atau Malam Kudus, saya jadi ingat jaman-jaman SD, di Lhokseumawe, Aceh Utara. Waktu itu saya mengikuti kegiatan Pramuka, saat jeda latihan semaphore, seperti biasa saya ngumpul-ngumpul dengan teman-teman. Ada beberapa teman yang duduk berkelompok sambil cekikikan. Penasaran dong si saya ini; saya mendekati mereka. Anehnya, begitu melihat saya, mereka terdiam.

“Ada apa sih? Ada apa sih?” tanya saya dengan nada mau tauuu aja.

Selama beberapa saat, mereka menyembunyikan hal yang membuat mereka senang. Kesal dong, kesannya mereka menyembunyikan sesuatu dari saya. Manyunlah saya. Saya memaksa teman terdekat saya untuk bercerita. Awalnya ia masih bungkam. But I always get what I want *belagu*, dengan cara yang saya sendiri lupa, akhirnya, jelang waktu berlatih lagi, mendadak ia berbisik,”Jangan marah ya, tadi kita nyanyi-nyanyi.”

“Nyanyi apa?”

“Malam Kudus.”

Lho? Ngapain juga mereka menyanyikan lagu Malam Kudus, padahal waktu itu bukan Desember dan setahu saya mereka tidak merayakan Natal.

“Tapi dirubah liriknya…”

“Jadi gimana?”

“Tapi jangan marah yaaaa…” wajahnya tampak kuatir.

“Enggak! Cepetan!”

Dan teman saya pun, dengan lirih bersenandung sambil tertakut-takut,” Malam kudus…. banyak tikus… di rumah Yesus…”

Oke. Dan saya pun merasa sangat marah.  Teman saya sampai bilang,”Tuuu kan, tau gitu aku nggak bilang…”

Selama sekitar dua minggu saya menjauh dari mereka, sampai mereka meminta maaf.

Kalau sekarang dipikir-pikir lagi, tolol juga rasanya ya? Ngapain juga saya merasa tersinggung lagu ‘Malam Kudus’ digubah dengan kreatif dan walaupun nadanya nggak masuk dan maksa banget, tapi berima seperti itu? Memangnya saya penciptanya? Apa ada aspek kehidupan saya yang dirugikan gara-gara lagu tersebut dibuat parodi? Ya enggak juga.

Konyol binti Tolol aja.

Ada contoh kasus lain, dulu saya menggemari New Kids On The Block mati-matian. Saya pernah berantem dengan seorang teman laki-laki yang mengata-ngatai boysband 90-an ini banci. Berantem beneran. Saya masih ingat garis-garis bekas cakaran saya di lengan teman laki-laki saya itu dan beberapa helai rambut yang tercabut dan berada di tangan saya. Emang bener ya, cewek kalau berantem, senjatanya cakar dan jambak. :D

Dan sekarang, setiap memikirkan itu, saya sering ketawa sendiri. Ngapain juga merasa tersinggung, memangnya NKOTB itu siapanya saya? Bukan siapa-siapa! Nyadar saya eksis juga enggak ! Dan apakah setelah kawan saya mengata-ngatai NKOTB  banci, mereka jadi sakit hati? Ya, enggak juga. NKOTB  mana kenal kawan saya? (Kalau kawan saya kenal, tentunya saya lebih memilih berbaik-baik dong ah, biar dikenalin juga.*halah*) :D

Kelakuan, kelakuan.

…….

Pada suatu hari di pertengahan tahun 2007, gara-gara susah tidur, tanpa sengaja saya terjebak dalam sesi diskusi berdiskusi sekelompok aktivis perdamaian. Agak bikin nyut-nyutan mendengar obrolan mereka, malam-malam setelah seharian penat beraktivitas; tapi mau pergi juga nggak enak ati. Akhirnya saya pun menjadi menjadi pendengar yang budiman. Dari sekian banyak topik, tentang daerah konflik, tentang -isme-isme, tentang isu-isu politik yang bikin mblenger, saya tertarik pada pembicaraan mengenai anti nasionalisme.

Bahwa menurut mereka, nasionalisme bukanlah hal yang baik. Dengan doktrin-doktrin yang dicekoki sedari kecil, bahwa seseorang harus mencintai negaranya, harus membela negaranya, membuat orang-orang bereaksi dan berpikir sempit. Kepedulian hanya sebatas negaranya saja. Membela pun ya membela negara sendiri. Pokoknya terkotak-kotak.
Read the rest of this entry »

Menjual Kinarya :)

—TERJUAL SEMUA—

Sudah terjual semua sejak kemarin, maaf ya semua. :D

Akibat bongkar-bongkar laci, saya menemukan beberapa items Kinarya yang terselip. Kinarya adalah brand perhiasan yang pernah saya dan sahabat saya - Ella bangun bersama di tahun 2006. Ini dia items-nya. Dan saya berniat menjualnya sekarang. Bahan stainless steel yang dietsa. Tali kalung kulit artifisial.

Kalau ada yang berminat e-mail saya di: okke77@yahoo.com.

Anting Kinarya. Kode A1

Anting Kinarya. Kode A2

Kalung Kinarya. Kode K1 dan K2

Perempuan Kuat Itu Bernama : Me

Ada suara-suara dalam otak saya yang berkata : ‘Hei,kalau lu yang ngalamin kasus perkosaan, lu berani gitu nggak?’

Saya mengenal Me di tahun 2003, dalam persinggahan saya saat perjalanan penelitian menuju Flores Timur. LSM tempat Me bekerja dengan baiknya menampung saya selama proses pencarian data. Beberapa kali saya ‘ikut-ikut’an Me dan kawan-kawan menuju camp pengungsian masyarakat Timor  Leste.

Saya kagum dengan apa  yang Me lakukan. Saya tahu, tidak mudah menjadi seorang perempuan pekerja sosial yang langsung turun ke lapangan. Dibutuhkan mental yang kuat untuk itu. Dan Me mampu. Saya bisa melihat keakrabannya dengan para pengungsi di kamp, bahkan sampai bermalam di tempat tersebut.

Dan di malam-malam selama saya tinggal di sana, kami dan beberapa teman relawan perempuan kerap menghabiskan waktu untuk mengobrol dalam kamar, berbagi pengalaman, tertawa-tawa, bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar (dia yang bermain gitar, tentunya. Bukan saya). Bagi saya, Me — yang waktu itu masih berkuliah di jurusan Theologia — adalah : relawan calon pendeta yang gila. Dalam beberapa kali perkunjungan ke kotanya, saya selalu menyempatkan diri untuk mengobrol dengannya,walau sebentar. Menyenangkan, apalagi jika mengobrolkan masalah ‘menjadi perempuan dalam masyarakat patriarki’. :)

Dua malam yang lalu, seorang kawan memforward sebuah e-mail. Itu adalah e-mail disertai attachment calon naskah Me.  Sebagai pengantar dalam e-mailnya ia menulis demikian :

Shalom,

Saya merasa perlu mengirimkan tulisan ini. Tulisan ini akan dipublikasi bersama empat tulisan perempuan muda lainnya dalam satu buku. Sekarang buku itu dalam persiapan untuk naik cetak.  Saya memantapkan hati untuk tidak memakai nama samaran, dengan sadar akan konsekuensinya. Entah kenapa saya tidak peduli dengan konsekuensi yang mungkin akan muncul secara negatif. Tujuan saya hanya ingin menguatkan sahabat-sahabat perempuan yang mungkin punya pengalaman yang sama atau masih mempunyai dendam pada laki-laki yang pernah menyakiti mereka. Saya ditelepon oleh beberapa teman yang bekerja keras untuk memperindah desain bukunya; mereka terus menanyakan tentang kesiapan saya terhadap konsekuensi negatifnya.

Saya berharap kawan-kawan bisa mendukung saya dalam situasi yang mungkin sulit, sebagai dampak dari publikasi. Terima kasih.

Salam,

Me.

Maka segera saya pun mendownload naskah tersebut dan membacanya dengan seksama. Beberapa kali saya tersentak, menahan napas, bahkan mulai dari tengah tulisan sampai ke akhir, saya menangis.

Sayangnya, (tapi tentu saja) saya tidak boleh mengcopy-paste tulisan itu di sini. :)

Tidak,tulisan ini bukan tulisan berbahasa puitis berbunga-bunga, ini adalah sebuah tulisan mengenai transformasi perjalanan hidupnya, dari kecil hingga ia dewasa. Bahasa yang ia gunakan pun lugas dan diceritakan dengan tegar. Saya tidak menyangka bahwa di usia 5 tahun, Me pernah mengalami perkosaan yang dilakukan oleh keluarga dekatnya sendiri. Hal ini memaksanya untuk harus bolak-balik ke rumah sakit umum dan kantor polisi. Pengalaman kekerasan seksual itu membuatnya merasa tidak berdaya, rendah diri, malu, sendirian dan tidak berarti.

Read the rest of this entry »

Tantangan Seminggu #tanpainternet? Bisa!

Cuma sayangnya, sejak kecil, cara  belajar kita selalu tidak adil pada otak kanan. Otak kiri saja terus yang dikembangkan….

Tau nggak, jaman dulu, kalau seorang blogger memutuskan untuk berhenti ngupdate blog-nya untuk alasan-alasan tertentu, pasti dia akan membuat posting khusus yang memuat kata hiatus. Entah itu ‘Hiatus dulu ya?’, atau cuma tulisan ‘H.i.a.t.u.s’. Dan ketika mereka memutuskan untuk kembali aktif ngeblog, maka ia akan berkata ‘I am back. Miss me?’

Jadi…

I am back. Miss me?

*halah*

Kalau kalian adalah follower saya di twitter, mungkin kalian sudah tahu bahwa saya memutuskan untuk mengambil tantangan #tanpainternet selama seminggu. Nggak ada kerjaan?

Emang!

Saya cuma mendadak kesal pada diri saya sendiri, ketika seseorang bilang ‘Elu pasti nggak bisa deh hidup tanpa banyak-banyak online.’ lalu benak saya mendadak menyetujui ‘Kayaknya emang nggak bisa.’

Gimana gue tanpa twitter? kalau mau cari data gimana? Dan seterusnya. Pemikiran konyol.

Asli sebal. Saya jadi mikir, masa nggak bisa  sih? Biar pun saya pernah hidup tanpa internet bahkan hp dalam jangka waktu yang panjang, tapi waktu itu memang keadaannya nggak memungkinkan, yah ibaratnya perokok berat, harus hidup di tempat yang sama sekali tidak menyediakan rokok. Ya mau nggak mau kan nginyem dan nerima keadaan itu. Lalu, karena saking jarangnya online, saya jadi terbiasa dengan keadaan tersebut — nggak bersentuhan dengan internet (dan hp) ya bodo amat, nggak ngaruh. Tapi sekarang? Koneksi internet mudah diraih, hanya dua langkah menuju laptop dan modemnya. Bahkan hanya sepanjang rogohan tangan saya ke dalam tas untuk meraih hp. Kecanduan, lah. Pagi, siang, sore, malam, internet. Pfuuh. Nggak bener.

Gara-gara itu saya membulatkan tekad : bisa ah, tanpa banyak-banyak online. Dan saya terimalah tantangan yang mungkin menurut beberapa orang nggak penting. ;-)

Owkay. Gimana rasanya ?

Saya menemukan dua hal : (1) Lebih produktif mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Bayangkan, biasanya saya menyelesaikan pekerjaan rutin saya, selama 7 hari, eh selama seminggu kemarin, bisa saja lho, cuma 3 hari. Ini karena tidak ada distraksi berupa twittering, wikipediaing, googling,browsing, facebooking dan -ing-ing yang lain. Yang ke-dua, ternyata… saya aslinya nggak insomnia! Kalau dipikir-pikir, kenapa saya suka susah tidur di jam yang wajar, ya karena ketika saya membaringkan diri di jam wajar tersebut, bukannya mengosongkan pikiran dan ambil ancang-ancang istirahat, lha kok ya twitteran. Saya nggak bisa tidur, karena ngantuknya keburu hilang.

Anyway, seorang kawan yang baru saja mengikuti satu pelatihan tentang motivasi membawakan ‘oleh-oleh’ tentang apa yang didapatnya selama pelatihan tersebut. Ia menceritakan pengalamannya yang membuat saya memikirkan kembali apa yang saya percayai sejak dulu.

Mungkin banyak yang sudah tidak asing lagi dengan teori otak kiri versus otak kanan, yang walaupun banyak orang protes, karena terkesan begitu menyederhanakan fungsi otak, tapi masih terus dipakai sampai sekarang. Menurut teori ini, dua sisi berbeda otak, atau hemisphere bertanggung jawab pada cara berpikir yang berbeda; otak kiri bertanggung jawab pada cara berpikir logis, rasional, analitis, berdasarkan fakta, obyektif dan melihat bagian per bagian. Sedangkan otak kanan bertanggung jawab pada cara berpikir secara acak, intuitif, holistik, menyeluruh, subyektif. Kalau disederhanakan, otak kiri itu sumber segala sesuatu yang teratur, membatasi, teknis, sedangkan otak kanan, yang liar, nakal, imajinatif.

Read the rest of this entry »

Memanjakan Pria dengan Artificial Virginity Hymen Kit! :)

“Gue bakal ambil  hymen gue trus gue masukin ke dalam wadah air keras, dipitain dan gue kadoin ke cowok itu sambil bilang ‘Situ mau selaput dara? Niiih ambiiil.’ Dan dia gue tinggal.”

Tadi siang, di mobil, saya mendengarkan Nona Ambon Manise ini siaran. Salah satu topik yang dibahas adalah topik yang *kayaknya* lagi banyak dibicarakan :  Artificial Hymen alias selaput dara buatan. Sebenarnya saya sudah mendengar berita ini sejak seminggu yang lalu dari Bapak Isman H Suryaman, beliau  menautkan tweet-nya ke satu artikel di The Jakarta Globe.

Dan atas nama iseng, saya pun memasukkan kata kunci artificial+hymen di google. Keluarlah berderet-deret situs yang memuat kata kunci yang saya masukkan. Atas nama iseng (lagi!) saya telusuri secara acak.

Ada situs gigimo.com, yang ternyata adalah toko tempat menjual sex toy. Artificial Virginity Hymen Kit menjadi salah satu produk yang dijual di sana. Saya tertawa geli membaca deskripsi produknya yang kurang lebih menyatakan bahwa kita (perempuan) tidak perlu kuatir kehilangan keperawanannya, dengan produk ini, kita (perempuan) bisa mendapatkan kembali malam pertamanya kapan saja.

Boook! Berasa kayak pinsil mekanik nggak sih, bisa diisi ulang kalau habis? Atau kalau yang nggak akrab sama pinsil mekanik, kayak air mineral galonan deh. :)) Dan yang bikin saya tambah geli ada petunjuk pemakaiannya : tambahkan erangan dan rintihan — plus gelinjangan lah, biar lengkap istilah bokepnya, maka so called ketidakperawanan kita (perempuan) bisa sukses tak terdeteksi.

Yuk mari.

Lalu, situs selanjutnya adalah situs ini (maaf, saya malas menuliskan nama-nya). Sebenarnya nggak ada hubungannya dengan artificial virginity hymen kit, sih, tapi ini semacam blog penyedia jasa (medis?) perbaikan hymen yang rusak. Kalau di situs gigimo.com saya ketawa-ketawa, di situs/blog ini saya mengernyit-ngernyit, dari posting tentang kenapa operasi perbaikan hymen ini perlu,  bagian testimonial perempuan-perempuan yang katanya pernah memakai jasa perbaikan hymen ini–betapa mereka jadi percaya diri, tidak takut ditinggal pasangan, merasa berharga dan seterusnya. Oh nggak kalah menarik,  sampai ada pendapat ahli agama segala! (ini dan ini). Super konyol. Yang pertama,  kenapa juga masalah ketidakutuhan hymen itu hanya dihubungkan dengan perkara kontak seksual saja?

Saya kira kebanyakan orang sudah ‘melek’ dan tahu bahwa kerusakan hymen dan virginitas tidak bisa selalu dijadikan satu paket. Bahwa bentuk fisik dan kekuatan hymen kita (perempuan) itu berbeda-beda. Ada yang memang sangat rapuh sehingga, ada juga yang super elastis sampai membutuhkan operasi untuk menjebolnya.

Dengan begitu, artinya, rusaknya hymen itu,kan nggak selalu karena kontak seksual?

It can separate when the body is stretched strenuously, as in athletics; it can be separated by inserting a tampon during menstruation or through masturbation; and sometimes it is separated for no apparent reason. (Discovery Health)

Read the rest of this entry »

Good Housekeeping : Bukan Urusan Saya

Artikel saya ada di bonus edisi ulang tahun Good Housekeeping. Kalau masih ada yang bilang ngeblog adalah kerjaan yang buang waktu, sini, sini saya kepret. Kenapa? Karena waktu Mbak Dian menawari saya untuk menulis artikel untuk edisi ulang tahun, kebetulan bertepatan dengan masa-masa ribet saya *gaya*, menulis tidak sempat, Jendral. Cuma, Mbak Dian bilang ‘Perasaan dulu saya pernah baca di blog kamu soal KDRT yang well-written deh, itu aja.”. Baiklah, cari-cari-cari, akhirnya saya menemukannya, dalam bentuk draft yang siap publish. Aneh saja, perasaan saya sudah mempublikasikannya deh. Tapi sudahlah, ngapain juga dipikirin. Saya pun mengeditnya sana-sini dan melakukan perubahan seperlunya. Lalu kirim deh :)

So, blogging adalah tempat penyimpanan tulisan (dan juga ide) — ibarat lemari, kau bisa ambil ‘baju’ lamamu, pintar-pintar memadu-padankan dengan aksesoris tepat, maka… tadaa! ‘Baru’-lah penampilanmu. :) *apa coba?*

Terus, selain artikel saya, ada juga artikelnya Ninit Yunita, Amelia Masniari, Clara Ng, Fira Basuki

Oh ya, di edisi yang sama, buku Lajang dan Nikah : Sama Ribetnya, Sama Enaknya masuk ke rubrik ‘good to know’. Hey, Good Housekeeping, thanks for the early birthday present(s). :)

Menuruti nasihat teman, yang bilang bahwa ‘menyimpan’ tulisan-tulisan yang dimuat di sana-sini itu baik, selain untuk mencegah hilang tak-berbekas-nya tulisan tanpa sempat terdokumentasikan (seperti yang sudah-sudah - dan hanya sedikit yang sempat terselamatkan. Argh!) juga sebagai portfolio (yea yea), maka ini dia.

Good Housekeeping edisi Oktober 2009

Salah seorang mahasiswa saya mengambil topik permasalahan kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga untuk tugas akhirnya.

Dalam salah satu sesi bimbingan tugas akhir beberapa bulan yang lalu, kami sempat membahas, bahwa dalam segala kasus kekerasan dalam rumah tangga, kita sering mengkambing-hitamkan perkara tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah.Seolah-olah, kekerasan dalam rumah tangga hanya dilakukan oleh orang-orang yang masuk dalam tingkat ekonomi dan pendidikan demikian. Lihat saja berita-berita di media massa tentang kekerasan, yang mostly memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan rendah Walaupun beberaoa waktu yang lalu ada juga berita tentang selebriti yang terkena kasus seperti ini; yang tentunya tingkat ekonomi dan pendidikannya bisa dikategorikan tinggi, tapi sepertinya nggak terlalu banyak (diekspos?)

Mahasiswa saya yang satu ini menolak hal tersebut, ia mengemukakan satu hipotesa, bahwa yang menjadi masalah adalah kesalahan konsep setiap individu mengenai anggota keluarganya. Setiap orang selalu memiliki tendensi untuk mengklaim kepemilikan terhadap anggota keluarga.

Anak saya. Istri saya. Suami saya. Pembantu saya, supir saya, tukang kebun saya, satpam saya (pembantu, supir, tukang kebun dan satpam, karena tinggal dalam sebuah keluarga, maka bisa dianggap sebagai bagian anggota keluarga)

Dengan berbagai alasan, setiap individu (sadar/tanpa sadar, berpendidikan tinggi maupun rendah, memiliki tingkat ekonomi tinggi atau rendah) merasa berhak untuk melakukan apapun kepada semua orang yang dimilikinya, termasuk bentuk-bentuk kekerasan,baik itu secara fisik maupun psikologis.

Saya menyetujui hipotesanya, karena dalam sebuah aktivitas sosial yang saya lakukan, saya pernah berhadapan dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Ceritanya seorang gadis remaja mengalami berbagai bentuk kekerasan dari orangtuanya. Ngobrol punya ngobrol, ternyata kedua orangtuanya memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi, sang ayah seorang sarjana hukum, ibunya, seorang sarjana theologia (perpaduan yang sempurna untuk tidak menyakiti sesama, kan? But her mom still does it, anyway).

Read the rest of this entry »