...hidup adalah taman bermain raksasa yang harus dijelajahi. Jadi, bermainlah!

Energi Yang Bertransformasi.

Posted: November 21st, 2008 | Author: sepatumerah | Filed under: catatan kecil, keseharian |

Saya masih ingat, tujuh tahun yang lalu, waktu kami masih sama-sama awal dua puluhan, perempuan ini membuat saya ternganga-nganga karena ia memutuskan untuk menikah. Memang mereka telah berpacaran cukup lama, tapi buat saya yang waktu itu belum memikirkan menikah sama sekali — lumayan membuat terkejut.

“Lo yakin?”

Dan ia pun mengangguk tegas.

“Kenapa?”

Karena, ia bilang, mereka telah ‘berhasil’ melewati sekolah kehidupan lajang dan merasa cukup qualified untuk naik kelas; menikah dan menghadapi ujian demi ujian di jenjang ini. Dengan yakinnya ia bilang, bahwa selama ini energi mereka untuk mempertahankan hubungan telah teruji, tidak pernah habis; jadi ia yakin, akan terus punya energi untuk itu, walau apa pun yang terjadi.

“Lo nggak takut — entar ternyata kenapa-kenapa setelah menikah?” celetuk saya iseng.

“..lagipula, gue dan dia itu sahabat yang nyoulmate banget. Apa sih yang perlu gue takutin dengan tinggal bersama dengan sahabat lo?”

Okay. Saya berhenti berkomentar iseng lagi.

Singkat kata, menikahlah mereka.

Selama ini saya tidak pernah melihat ada masalah yang berarti dalam hubungan mereka. Setahun kemudian mereka punya anak, lalu mereka menyicil rumah, lalu membeli mobil — sedikit demi sedikit mereka membangun kerajaan mungil bertiga.

Manisnya.

Tapi dua minggu yang lalu, ia menceritakan hal yang cukup membuat saya terperangah. Ia sempat berencana untuk bercerai beberapa bulan yang lalu.

“Kami udah nggak cocok lagi.” Itu katanya.

Ah. Saya jadi bingung. Sewaktu awal menikah — ia begitu yakin, bahwa pasangannya adalah ‘sahabat yang nyoulmate banget’.

“Gue udah capek.”

Dan dulu ia juga begitu yakinnya bahwa tidak akan pernah kehabisan energi untuk mempertahankan hubungan mereka. Sekarang kemana energi itu?


Pada akhirnya memang mereka membatalkan rencana mereka, dan sampai sekarang mereka masih bersama.

Kenapa?

Karena, ketika mereka bertanya pada anak satu-satunya yang berusia enam tahun : ‘Kakak, kalau kakak tinggal berdua sama Ayah aja, atau sama Bunda aja, mau nggak?’. Maka sang anak menjawab : ‘Nggak mau. Kakak mau tinggal bertiga, sama ayah dan bunda.”

Saya salut pada mereka — karena mereka pada akhirnya mencoba untuk memperbaiki hubungan, mengesampingkan keinginan pribadi, mendengar keinginan anak mereka.

Tapi saya jadi memikirkan perasaan mereka. Apakah usaha untuk ‘memperbaiki hubungan’ itu berhasil? Kalau berhasil syukurlah. Tapi kalau tetap pahit — dan mereka harus terus bersama karena anaknya menginginkan, apa kabar ya?

Lalu, bagaimana rasanya berada dalam keadaan ‘dipaksa’ untuk tetap mempertahankan hubungan, padahal mereka sama sekali tidak punya energi untuk itu?

Saya pernah memaksakan diri untuk berada dalam satu hubungan yang sebenarnya sudah tidak saya inginkan, baik pasangan saya (waktu itu) dan saya, berusaha untuk menerima masing-masing apa adanya. Kami berusaha mempercayai bahwa tidak ada orang yang sempurna. Tapi, ya itu…ada hal-hal lain yang membuat kami semakin lama semakin pahit dan sakit, sehingga kami kehilangan energi untuk bertahan. Bubarlah kami.

Apa rasanya menjalani hubungan seperti itu?

Duh, bahkan untuk mengingatnya saja saya malas.

Lalu, semalam saya mengobrol dengan seseorang. Ia telah menikah. Dan kami pun membincangkan tentang kehilangan energi untuk mempertahankan hubungan.

Orang tersebut menyanggah, ia bilang, energi untuk mempertahankan hubungan itu tidak hilang; tapi telah bertransformasi dalam bentuk lain.

Kalau dulu mungkin rasa membutuhkan, rasa cinta atau apa lah yang menyek-menyek lain yang menjadi energi. Tapi setelah menikah menjadi tanggung jawab.

Katanya lagi, banyak sekali pasangan, yang mampu bertahan dalam satu hubungan yang menyebalkan sampai menyakitkan, karena mereka ‘terlanjur’ (btw, ia mengatakan ‘terlanjur’nya sambil bercanda kok) masuk dalam institusi yang dilegalkan Negara dan agama — dengan tambahan-tambahan tanggung jawab moral pada keluarga besar ini dan itu, plus anak. Mau keluar, rumit, terlalu banyak pertimbangan.

“Jadi bertahan itu karena kepaksa? Energinya karena energi kepaksa?” Tanya saya sekenanya.
“Karena bertanggung jawab. Energinya tanggung jawab.” Ralatnya.
“Terpaksa…”
“Iya, boleh deh. Buat beberapa orang berlaku juga kok.” Ia terkekeh.
“Jadi, hipotesa gue selama ini tentang menikah, bener dong.”
“Apa hipotesa lo?”
“Bahwa menikah adalah institusi yang penuh pemaksaan. Lo bener-bener diiket dan disuruh diem di sana. Kalau mau keluar, harus ngadepin segala keribetan dulu…” saya terkekeh dan ia menyambut kalimat saya dengan tawa.

“Tapi menikah bagus,kok. Belajar menjadi dewasa dan bertanggung jawab.” Pungkasnya.

Ups, menjadi dewasa dan bertanggung jawab?

Dan saya pun hanya bisa cengengesan.


16 Comments on “Energi Yang Bertransformasi.”

  1. 1 Ade said at 05:30 on November 21st, 2008:

    Lebih seru masuk blog satunya lagi deh Ke.. lebih nyambung :-D

  2. 2 okke said at 11:30 on November 21st, 2008:

    unidede:
    oh… yaolo.. emang maksudnya mu ke sana… tuh kan, siwer :D

  3. 3 indrasaree said at 19:29 on November 22nd, 2008:

    “Belajar jadi dewasa dan bertanggungjawab”, terus buat apa lagi, Kke? Kalo cuma itu aja mah, ngga perlu ngiket diri di pernikahan, kale. Capek, ngga lulus2. :-p

  4. 4 carey said at 20:47 on November 22nd, 2008:

    b’arti banyak ajah orang yang gag dewasa yah dan gag bertanggungjawab.

    secara, kawin cerai lagi cihuy tuh..tuh..
    fiuh…

  5. 5 okke said at 02:26 on November 23rd, 2008:

    indrasaree:
    lah? Nanyanya kok ke gue..salah orang,bu! :))

    carey:
    tidaks ikutans komens! :D

  6. 6 boy said at 12:45 on November 23rd, 2008:

    mungkin energi-nya udah jadi anak?

  7. 7 enon said at 17:14 on November 24th, 2008:

    “Tapi menikah bagus,kok. Belajar menjadi dewasa dan bertanggung jawab.”

    emg gitu ya??bknya utk mnikah btuh kedewasaan plus tggung jwb jg..jadi??

    *nyengir mode on*

  8. 8 Bo Derek said at 17:37 on November 24th, 2008:

    jadi ke? lu mau nikah gak? HUAHUAHAUAHUAHAU

  9. 9 adriansyah ideham said at 10:55 on November 25th, 2008:

    Kalau menikah, apa bisa abadi? Apa bisa bahagia? Apa mampu membesarkan anak? Apa mampu mendidik anak menjadi mandiri? Sejuta ketidakpastian menghadang.
    Kalau tidak menikah, apa tidak kesepian? Teman sejati kan isteri? Bagaimana tanggung jawab sebagai mahluk yang harus melangsungkan kehidupan dengan bereproduksi? Apa tidak malu dikatakan pengecut karena menghindar dari persoalan dan tanggung jawab? Di hari tua, dengan siapa bercanda? Sejuta telunjuk menuding.

  10. 10 adriansyah ideham said at 11:01 on November 25th, 2008:

    Menikah itu menghadang tantangan. Tidak menikah artinya pengecut, tidak berani bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup manusia

  11. 11 okke said at 13:19 on November 25th, 2008:

    boy :
    hm.. :D

    enon:
    mbuh, manalah gw tau… lah yang ngomong bukan gw.. hehehe..

    Bo Derek:
    kita lihat saja nantiii *bernyanyi*, gw bakal dateng ke tempat kerja lo dan bilang “Bo, this is my hubby..” KALAU gue beneran menikah. ;-)

    adriansyah ideham:
    yup, emang semua hal yang di ‘depan’ kita ga bisa ditebak, kalo bisa ditebak mana seru. Semua misteri, termasuk, kita juga ga tau, apa dengan tidak menikah kita kesepian atau tidak. Atau, apa kalo sudah menikah pasti tidak kesepian? Yakin? maksud saya kesepian dan tidak kesepian secara spritual lho, kalo soal ‘ada temen’ macam istri dan rame2 ada cucu mantu, kagak keitung… ;-)

    tapi saya TIDAK SETUJU dengan kalimat anda : “Tidak menikah artinya pengecut, tidak berani bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup manusia”. Semua orang punya alasan sendiri-sendiri untuk TIDAK menikah, TIDAK SEMUA yang tidak menikah itu MENGHINDARI tanggung jawab beranak cucu (yang sebenernya saya bingung, kenapa esensi kehidupan manusia dan nikah kok arahnya ke proses anak-beranak thok ya? Sedangkal itu kah menikah… dan menjadi manusia?). bagaimana dengan yang panggilan hidupnya selibat? bagaimana JUSTRU kalau yang tidak menikah karena belum siap segala hal? Daripada nikah bikin sengsara anak orang dan anak sendiri.. hahah

    Dan ohya, satu lagi, melanjutkan kelangsungan hidup manusia atau melanjutkan klan dari keluarga sendiri untuk alasan-alasan tertentu? Soalnya jumlah manusia yang idup di dunia ini banyak bow, udah penuh. Banyak yang terlantar lagi.:P

    Wiii, tumben bales komen panjang ahahaha… udah ah.

  12. 12 Diki said at 02:22 on November 26th, 2008:

    Hwaduh bahas nikah *cnut-cnut deui*

  13. 13 Bo Derek said at 16:34 on November 26th, 2008:

    huahauhauaha! neng okke, akikah setujju sama komen lu tentang pilihan itu. Memang seperti itulah seharusnya adanya

  14. 14 indah Puspita Rani said at 02:27 on November 27th, 2008:

    sekarang sih gw masih 20 thun.. (muda banget mo ngomongin kawin =p)

    sampai sekarang gw ngeliat nikah itu ribett..
    apalagi keluar dari nikah itu..

    tapi kalo mo dipikirin simpelnyaa..
    nikah ituu..
    buat temen seumur hidup… yahh nemenin di hari tuaa.. itu juga kalo dia dan saya masih hidup disaat umur tebilang tua..

    NIKAH itu RIBET!! ya mo masuk ya mo keluar..

    gak tau ya kalo udah 30 ato 40.. jangan malah menurut gw nikah itu wajib.. hihihihi

  15. 15 cipung said at 13:15 on January 6th, 2009:

    adriansyah ideham:
    yup, emang semua hal yang di ‘depan’ kita ga bisa ditebak, kalo bisa ditebak mana seru. Semua misteri, termasuk, kita juga ga tau, apa dengan tidak menikah kita kesepian atau tidak. Atau, apa kalo sudah menikah pasti tidak kesepian? Yakin? maksud saya kesepian dan tidak kesepian secara spritual lho, kalo soal ‘ada temen’ macam istri dan rame2 ada cucu mantu, kagak keitung… ;-)

    tapi saya TIDAK SETUJU dengan kalimat anda : “Tidak menikah artinya pengecut, tidak berani bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup manusia”. Semua orang punya alasan sendiri-sendiri untuk TIDAK menikah, TIDAK SEMUA yang tidak menikah itu MENGHINDARI tanggung jawab beranak cucu (yang sebenernya saya bingung, kenapa esensi kehidupan manusia dan nikah kok arahnya ke proses anak-beranak thok ya? Sedangkal itu kah menikah… dan menjadi manusia?). bagaimana dengan yang panggilan hidupnya selibat? bagaimana JUSTRU kalau yang tidak menikah karena belum siap segala hal? Daripada nikah bikin sengsara anak orang dan anak sendiri.. hahah

    Dan ohya, satu lagi, melanjutkan kelangsungan hidup manusia atau melanjutkan klan dari keluarga sendiri untuk alasan-alasan tertentu? Soalnya jumlah manusia yang idup di dunia ini banyak bow, udah penuh. Banyak yang terlantar lagi.:P

    Wiii, tumben bales komen panjang ahahaha… udah ah.

    plok plok plok plok… (tepuk tangan)

    YO YO YO..! (angkat tangn sebelah, teriakkan ..)

    HIDUP MBAK OKKE..!!

    HIDUP MBAK OKKE..!! (:D gaya aktifis)

  16. 16 Emakmuno2 said at 09:52 on January 12th, 2009:

    Well….love fades…


Leave a Reply